Fluktuasi Nilai Rupiah: Gubernur BI Minta Masyarakat Tidak Panik

by
Nilai Rupiah

indonesiaartnews.or.id – Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS sempat kembali melemah, menyentuh level Rp 16.000 per dolar AS. Hal ini terjadi meskipun rupiah sebelumnya telah meninggalkan level Rp 16.000 per dolar AS pada pekan sebelumnya. Namun, Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo, menegaskan bahwa masyarakat tidak perlu khawatir. Menurutnya, fluktuasi nilai tukar mata uang adalah fenomena yang wajar. Perry menyatakan bahwa hingga saat ini, pergerakan nilai tukar rupiah masih sesuai dengan ekspektasi BI, bahkan kinerja rupiah saat ini lebih baik dibandingkan dengan prediksi sebelumnya.

” Baca Juga: Tutorial Membuat Roti Goreng Gurih: Camilan Sederhana “

Prediksi dan Realisasi Nilai Tukar Rupiah

Pada akhir April lalu, BI memproyeksikan bahwa nilai tukar rupiah akan mencapai level Rp 16.000 per dolar AS pada kuartal ketiga tahun 2024. Rupiah baru diperkirakan akan turun di bawah Rp 16.000 per dolar AS pada kuartal terakhir tahun ini. “Enggak usah kaget, enggak usah bingung (nilai tukar rupiah) Rp 15.990, Alhamdulillah, yang penting stabil ya di sekitar Rp 16.000, bahkan menuju Rp 15.900, dan seterusnya,” kata Perry dalam konferensi pers Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI di Gedung BI, Jakarta, pada Rabu, 22 Mei 2024. Perry menambahkan bahwa nilai tukar memang akan berfluktuasi setiap harinya, tetapi secara keseluruhan BI melihat rupiah tetap stabil dan cenderung menguat.

Faktor Pendukung Penguatan Rupiah

Optimisme Perry didukung oleh beberapa faktor utama. Pertama, masuknya kembali aliran investasi portofolio asing ke pasar keuangan Indonesia. Hal ini menunjukkan kepercayaan investor asing terhadap stabilitas dan potensi pertumbuhan ekonomi Indonesia. Kedua, imbal hasil atau yield obligasi pemerintah yang semakin menarik. Keputusan BI untuk menaikkan suku bunga acuan pada April lalu turut meningkatkan daya tarik investasi di pasar obligasi Indonesia. Faktor ketiga adalah prospek ekonomi nasional yang tetap positif, menunjukkan bahwa perekonomian Indonesia masih berada dalam jalur pertumbuhan yang sehat. Terakhir, komitmen BI dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah turut memberikan kepercayaan kepada pasar.

Baca Juga :   Kemitraan dan Kolaborasi: Dekranasda Sleman dalam Mendorong UMKM Lokal

Penguatan Rupiah Secara Bulanan

Perry melaporkan bahwa hingga 21 Mei lalu, rupiah sebenarnya telah mengalami penguatan secara bulanan (point to point/ptp) sebesar 1,66 persen. Angka ini jauh lebih baik dibandingkan dengan bulan April lalu yang mencatat depresiasi sebesar 2,49 persen secara ptp. Jika dilihat dari awal tahun hingga saat ini (year to date/ytd), nilai tukar rupiah masih terdepresiasi sebesar 3,74 persen. Meskipun demikian, depresiasi ini masih lebih rendah dibandingkan dengan mata uang beberapa negara lain. Sebagai perbandingan, peso Filipina mengalami pelemahan sebesar 4,91 persen, won Korea Selatan melemah 5,52 persen, dan baht Thailand terdepresiasi sebesar 5,99 persen.

” Baca Juga: Transparansi Proyek Pembangunan Kota Surabaya “

Prospek Rupiah ke Depan

Perry menyatakan bahwa ke depan, nilai tukar rupiah diperkirakan akan stabil dengan kecenderungan menguat. Penguatan ini didorong oleh imbal hasil yang menarik dan prospek ekonomi yang tetap positif. BI tetap berkomitmen untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah agar tetap berada dalam kisaran yang diharapkan. Perry menekankan bahwa masyarakat tidak perlu panik atau bingung dengan fluktuasi nilai tukar yang terjadi, karena BI terus memantau dan mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk menjaga stabilitas ekonomi Indonesia.

No More Posts Available.

No more pages to load.