Selasa, 01 September 2015 - 16:33 WIB
Lomba Kartun Berhadiah Total Rp 200 Juta
oleh Tim Indonesia Art News
Direktorat Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kementerian Agama Republik Indonesia menghelat Lomba dan Pameran Kartun Santri Nusantara. Acara berskala internasional ini memperebutkan hadiah uang tunai dengan total Rp 200 juta. Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Dr Mohsen MM menuturkan, kegiatan tersebut dimaksudkan sebagai ikhtiar memperkenalkan...
Perupa Bandung Kuasai Final BaCAA #04
oleh Tim Indonesia Art News
Indikator Suhu
oleh Kuss Indarto
Kenangan Chandra Johan
oleh Syakieb Sungkar
Kuburan dan Sampah M. Yatim Membawa Sial
oleh Tim Indonesia Art News
  HOME     NEWS     EVENTS     ARTICLES     DIRECTORY     BOOKS     OPPORTUNITIES  
Sabtu, 05 September 2015 - 13:04
Seni Ruang Publik
oleh Rani Permatasari
"Monumen Kretek Indonesia", karya pematung Yogyakarta, Yusra Martunus. Karya ini berada di kota Kudus, Jawa Tengah. (foto: indarto sukmo)
NOTULEN DISKUSI SENI FKY-27

Hari/tanggal: Sabtu / 29-8-2015
Waktu: 13:30 - 16:25 WIB
Tempat: Den Nani Resto, Jalan Tamansiswa, Yogyakarta
Acara: Diskusi Seni “Ruang Publik Kota sebagai Heterotopia” dan “Seni di Ruang Publik: Kasus Malioboro”
Moderator: Cak Udin
Pembicara:
Ruang Publik Kota sebagai Heterotopia
1. Greg Wuryanto
2. Timbul Raharja
Seni di Ruang Publik: Kasus Malioboro
1. Kuss Indarto
2. Iman Budhi Santosa

Notulis: Rani Permatasari
Peserta: Masyarakat yang tertarik terhadap seni di ruang publik Jogjakarta. Sebagian besar peserta adalah pria. Perbandingan jumlah peserta yang hadir setengah dari seluruh kursi yang disediakan (sekitar 30-an orang)

Susunan acara:
1. Pembukaan dan Sambutan oleh MC Elga pada pukul 14:25 WIB
2. Moderator memberikan pengantar Diskusi Seni “Ruang Publik Kota sebagai Heterotopia”
3. Penyampaian materi oleh Greg Wuryanto
4. Penyampaian materi oleh Timbul Raharjo
5. Sesi Tanya jawab
6. Moderator memberikan pengantar Diskusi Seni “Seni di Ruang Publik: Kasus Malioboro”
7. Penyampaian materi oleh Kuss Indarto
8. Penyampaian materi oleh Iman Budhi Santoso
9. Sesi Tanya Jawab
10. Penutupan

Hasil Acara:
1. Pembukaan Diskusi dibuka oleh Moderator. Moderator memperkenalkan Narasumber satu per satu. Dimulai dari:

a. Greg Wuryanto. Beliau menyelesaikan studi S1 Arsitektur di UGM tahun 1996, menempuh program master of architecture di Dessau Institute of Architecture Germany pada tahun 2006 - 2008. Menyelesaikan studi doktoral di bidang arsitektur dan urban studies pada Technische Universitaet Berlin tahun 2010-2014. Sejak tahun 2000 sampai saat ini menjadi staf pengajar di prodi teknik arsitektur Universitas Kristen Duta Wacana.

b. Timbul Raharjo sebagai seorang dosen Kriya di ISI Yogyakarta, Ketua Dewan Kebudayaan Bantul, Ketua Koperasi Pengrajin Kasongan, Ketua Asmindo Komda Yogyakarta, Peraih Anugerah UPAKARTI dari presiden RI tahun 2007. Koordinator Pameran “Outdoor Malioboro 2014-2015”.

c. Iman Budhi Santoso, sebagai seorang penyair, sastrawan dan budayawan yang terkenal di Yogyakarta.  
2. Moderator memberikan sambutan dan pengantar tentang diskusi seni “Ruang Publik Kota sebagai Heterotopia”
3. Penyampaian Materi “Ruang Publik Kota sebagai Heterotopia”

Greg Wuryanto (Arsitek):
Pak Greg akan meyampaikannya gagasannya mengenai ruang. Sebagai orang modern kita wajib mengembangkan pemahaman tentang ruang. Beliau menjelaskan tentang apresiasinya kepada seniman muda yang dapat menggunakan ruang publik sebagai media ekspresinya. Heterotopia ialah gagasan konseptual Michel Foucault tentang sebuah konsep yang merujuk pada situasi dan tempat dimana berbagai utopia secara simultan termanifestasi ke dalam berbagai wujud representasi dam kontestasi. Heterotopia adalah locus dari utopia. Jadi, membaca ruang publik kota sebagai sebuah heterotopia menganalogikan ruang kota tersebut layaknya sebuah cermin yang merefleksikan ruang-ruang liyan yang bukanlah sebuah ruang yang nyata. Utopia merefleksikan sesuatu yang di luar dirinya. Apa yang direfleksikan ialah realitas yang kemudian memproduksi ruang-ruang representasi lain baik yang berupa proyeksi maupun distorsi realitasnya.

Dalam slidenya, Pak Greg memperlihatkan sebuah street art di sebuah ruang publik. Beliau menjelaskan bagaimana seniman mampu mengembangkan konteks sehingga publik diajak berpikir lain dari biasanya. Slide-slide berupa street-art stensil pada sebuah tembok di pinggir jalan. Mereka merespon hal-hal yang sederhana dan rutin, menjadikannya unik dan menarik serta memberikan makna yang berbeda. Mereka (seniman) menyikapi dinding sebagai ruang terbuka tersebut dengan cara yang unik, kreatif dan menimbulkan kesan humor. Kontekstual, ia mencermati konteks yang (kreatif) berbeda dari ruang publik yang biasa. Ide tersebut juga tidak membatasi ukuran ruang.

Di kota Jogja sendiri terdapat banyak ruang publik yang direspons oleh seniman yang kebanyakan berisi kritik social. Namun ia belum ada menemukan street art dengan konteks yang ringan dan menggelitik seperti yang ditampilkannya dalam slidenya yang kebanyakan lokasinya street art tersebut berada di luar negeri.

Acara dikembalikan ke Moderator yang kemudian memperkenalkan Kuss Indarto yang baru saja hadir. Selanjutnya moderator mempersilakan

Timbul Raharjo (koordinator pameran di sepanjang Jalan Malioboro):
Pada awal materinya Pak Timbul mengomentari animo masyarakat terhadap acara seminar ini yang ramai di sosial media yang pada kenyataannya peserta diskusi yang hadir tidak sesuai prediksi. (Hal tersebut disambut gelak tawa audiens).

Seni yang menggores batin yang tajam. Dehumanisasi ruang publik. Keadaan kota mulai dianggap tidak aman serta keadaan ruang publik yang tidak lagi nyaman, maka ruang publik mulai ditinggalkan dan beralih ke bentuk yang lain seperti mall, sosial media, dll. Sebagaimana terjadinya dehumamanisasi pada ruang yang “liar”.

Ruang publik menurut Stephen Carr:
- Responsive: dapat digunakan untuk berbagai kegiatan dan kepentingan luas.
- Demokratis dapat digunakan oleh masyarakat umum dari berbagai latar belakang sosial, ekonomi dan budaya serta aksesibel dari berbagai kondisi fisik manusia
- Bermakna memiliki tautan antara manusia, ruang dan dunia luas, serta dengan konteks sosial.

Seni ruang publik sebaiknya dapat berinteraksi dengan aktivitas masyarakat di sekitarnya. Awalnya beliau berpikir bagaimana karya-karya yang menarik tersebut dapat dinikmati pengendara mobil/motor yang lewat di jalan (dari galeri studio di bawa keluar menjadi karya outdoor: ruang publik). Beliau kemudian melakukan eksperimen dengan mengamati keadaan sekitar jalanan Malioboro.

Seni Ruang Publik Jogja. nah, reni ruang publik di Jogja (konteks 3D) masih bersifat eksperimentasi, masih menjadi perdebatan baik penenpatan sampai pada nilai artistiknya. Belum diatur posisi dan komposisi sesuai keselerasan ruang publik. Tidak ada tindakan nyata untuk merumuskan dari para stakeholder (kurator, seniman, budayawan, dewan kesenian, dan lainya).

Marilah kita rembuk bersama tentang konsep penempatan seni ruang publik. “Nggambleh adalah kriwikan yang sangat mungkin jadi grojogan”.

Kuss Indarto (kurator seni rupa):
Seni rupa publik: seni rupa yang dibuat bertujuan memang diperuntukan untuk di ruang publik. Seni Rupa di Ruang Publik: seni rupa indoor yang dipaksa/ditarik ke ruang publik. Beliau menjelaskan sejarah ruang publik, seperti di Indonesia, Tugu Tani, di Jakarta merupakan patung penting yang dibuat oleh Ketua Asosiasi Pematung Rusia. Kontekstualisasi seniman yang menjadikan karya tersebut berdasarkan ruang publik dilatarbelakangi pandangan penting terhadap nusantara itu melalui pandangan Bung Karno. Patung ini juga bertujuan menjadi antitesis patokan-patokan "garis imajiner" di Jakarta yang dibuat oleh pemerintah Hindia Belada.

Seni rupa publik menawarkan respon lingkungan sekitar, public art juga harus kuat menahan keadaan cuaca di luar ruang seperti hujan, angin, panas. Siapa publik dari public art? Publik ialah penonton yang berinteraktif dengan karya seni tersebut.

Mengapa public art? Public art mencermikan dan memperlihatkan kondisi masyarakat dan memperindah ruang publik tersebut. Tujuan public art: meningkatkan minat masyarakat terhadap karya seni, menghubungkan para seniman dengan masyarakatnya.
Menurut beliau di Indonesia masih dalam tahap teknisnya, bukan gagasan.

Hal yang penting diperhatikan dalam public art: Safety, technicality, maintenance.

Tipe-tipe public art:
1. Integrated public art: terintegrasi dengan lingkungan sekitar
2. Semi-integrated public art: hubungan antar seni dan lingkngan tetap relevensinya tidak harus terlihat jelas.
3. Discrete public art. karya yang tidak terintegrasi dengan lokasi tertentu dan tidak memiliki ketergantungan secara fisik dan konseptual pada lokasi tertentu
4. Community art. karya fokus pada sistem kepercayaan masyarakat, dan ini biasanya memiliki komunitas berbasis desain yang memungkinkan masyarakat untuk mengekspresikan tujuan atau masalahnya
5. Ephemeral public art: Seni rupa sesaat. karya temporer yang didesain secara khusus untuk perhelatan tertentu, dan peletakannya hanya bersifat sementara.

Pemahaman-pemahaman itu tentu saja masih mendasar, dan sangat mungkin berkembang mengikuti konteks-konteks yang bersinggungan dengannya. Paling tidak, karya public art yang ditempatkan di ruang publik sudah pasti akan berbeda konteks, perlakuan dan sistem penempatannya dibanding dengan karya yang sekadar dirancang sebagai karya dalam ruang (indoor). Pada titik inilah seorang seniman sebaiknya memiliki sistem pengetahuan yang bisa membaca ulang karyanya.

Kembali ke Moderator, Moderator menyerahkan acara ke Imam Budhi Santoso.

Iman Budhi Santoso (Sastrawan):
Beliau minta maaf karena merokok pada saat diskusi, karena beliau melihat tidak banyak peserta seminar yang merokok sepanjang acara diskusi tersebut. Beliau menganggap ruang publik di Malioboro itu tidak ada. Beliau berpikir ruang publik ialah ruang milik publik. Ketika seniman ingin menggunakan ruang tersebut, mereka harus meminta ijin kepada ruang tersebut, yang dalam konteks ini Pemda.

Ini yang menjadi kendala di Negara kita, para seniman harus berkolaborasi dengan pemilik ruang tersebut untuk mengekspresikan karyanya di ruang publik. Kita sedang menghadapi masalah yang krusial namun tidak diperhatikan. Denotasi dan Konotasi “Hukum Rimba” kenapa harimau dikatakan hewan buas. Jadi, ruang publik yang bernama Malioboro, bukan lagi semacam hutan belantara di mana satwa dan tumbuhan hidup sesuai kodratnya. Tetapi, lebih merupakan “taman” yang dibuat, dan kadang terlampau "dibuat-buat". Kenyataan yang terjadi bukan realitas sesungguhnya (harfiahnya). Melainkan wujud dari konstruksi sosial yang didukung oleh selera dan kebijakan negara (pemerintah) serta sebagian kalangan yang terlibat dan berkepentingan di sana. Realitas tersebut tidak mewakili selera dan citarasa publik secara luas (masyarakat Yogya keseluruhan). Karenanya akan senantiasa menimbulkan pro-kontra, sehingga tidak dapat “dipakemkan” sebagai citra atau identitas Yogyakarta.

Dalam pandangan pragmatis, makna Malioboro hari ini telah mengalami penyempitan drastis. Nyaris hanya sebagai: 1) kawasan pasar, 2) kawasan wisata. Massa datang ke Malioboro sekadar belanja (jual beli) dan atau berwisata. Pada posisi seperti ini, bukan mustahil jika keberadaan iklan sangat dominan. Baik sebagai daya tarik, maupun informasi, diikuti munculnya manipulasi di sana-sini.

Beliau menganggap seni itu tidak akademis melulu, yang ketika kita dihadapkan dengan karya seni selalu dikritik. Apakah seni di ruang publik melulu dianalisis? Karya seni itu hanya untuk dinikmati, itu saja.

Dari dulu, para seniman dan budayawan berdiri sendiri mengaktualisasikan idenya tanpa ada bantuan dari Pemerintah, bahkan sampai Jogja menjadi Kota Seni dan Budaya.

Ngesuhi desa sageb kuban. Seorang pemimpin tidak hanya mengurus rakyatnya namun juga yang tidak kasat mata. Seperti pandangan orang terhadap ruang itu berbeda, ruang tidak sekedar wujud namun tidak wujud, missal ketika orang memasuki kamar orang lain ada yang merasa nyaman dan ada yang tidak nyaman.

Ruang publik itu rasa-rasanya perlu dipertimbangkan lagi dengan masak-masak, contohnya di Malioboro. Kalau misal Malioboro wujudnya secara fisik seperti hari ini, apakah ada kecenderungan pasar dan wisata itu akan berjalan seperti ini? Keadaan malioboro itu tergantung dengan 2 hal; pasar dan wisata.  

Beliau yakin, bahwas semangat seniman berkarya bagi beliau ialah semangat berbagi.

Kesandhung ing rata, kebentus ing tawang, dalane ra mung siji. Artinya; Kesandung langkahnya sendiri, kesandung angan-angannya sendiri. Sebaik-baiknya apapun akan tetap ada kritikan. Bener ora mesthi pener. Beliau mengingatkan semangat Ki Hajar Dewantoro kepada seniman muda untuk terus belajar.
Beliau kurang setuju dengan tema “Harmoni di ruang publik; harmoni vs kekacauan). Harmoni di ruang publik jangan dilihat kekacauan vs keharmonisasian, nikmati sajalah seni-seni di ruang publik itu.

Moderator menambahkan kemampuan seniman dalam berbuat karya, dan kemampuan masyarakat dalam mengapresiasi karya berbeda-beda.

Respon Pak Timbul – masalah patung gajah (Km.0):
Karya di sepanjang jalan Malioboro muncul dari para seniman berdasarkan saran seorang teman, pada saat itu kriterianya ialah, giants (3-6m) masa pengerjaan 4 bulan. Ketika ditanyakan konsep itu kembali lagi pada senimannya. Beliau menganggap objek tersebut sebagai natural+setting development. Beliau menganggap jalanan Malioboro itu liar, begitu beliau mengangkatnya (sebagai penembatan karya seni), lalu keluar banyak sekali respons yang pro dan kontra. Namun, beliau berkeyakinan, ketika muncul kekacauan maka akan timbul kebaruan. Beliau menekankan kepada para seniman untuk terus berkarya, dan terjang saja.

Tanggapan Greg-> Iman:
Beliau menganggap ruang publik yang penuh konflik, yang kata Pak Iman dibalut dengan keharmonisan, apakah konflik itu hilang? Tidak! Kekacauan tetap berada di sana.

Beliau juga tidak setuju dengan pandangan Pak Iman yang ketika akademis dinilai tabu. Malioboro “liar” itu sikap orang-orang di atas-nya yang liar.

Tanggapan Greg -> Timbul

Beliau juga mengkritisi pandangan Pak Timbul yang menganggap ruang publik Malioboro sebagai ruang ekspresi seniman sehingga hal tersebut menjadi etalase dagang.

4. Sesi Tanya Jawab

Penanya 1: Alim Bachtiar

Bertanya tentang ruang di Malioboro. Banyak kepentingan yang berperang di ruang tersebut. Ketika seniman ingin mengekspresikan seni-nya di ruang tersebut, apakah seniman juga harus berperang ego?
Bertanya pada Pak Imam: apakah ada “perang” antara masyarakat dan keraton sehubungan dengan hak ruang publiknya?

Penanya 2: Huki

Ia menilai dalam diskusi ini ruang publik hanyalah Malioboro. Apakah itu hanya kepentingan stakeholder? Kenapa kesenian di ruang publik itu melulu di Malioboro? Ia meyarankan karya-karya yang ikonik dan monumental.

Penanya/komentar 3: Yudo

Apakah pemerintah tidak dilibatkan dalam kegiatan ini? Karena memang mereka pemilik ruang publik yang sedang kita bicarakan ini. Ia menanggapi karya seni yang membawa manfaat dan komunikasi positif. Ia membahas media mediotron sebagai bagian media di ruang publik yang dapat dimanfaatkan. Seperti contohnya animasi.

Penanya/komentar 4 (Itok):

Beliau menganggap seniman itu egois, beliau tertarik mengikuti diskusi ini karena pemateri yang berasal dari berbagai bidang ilmu yang berbeda dengan nada bicara dan ekspresi yang menggebu-gebu.

Beliau juga memberi komentar kepada setiap narasumber:
Iman: Setuju statement seniman dan budayawan yang membangun kota jogja. Karya seni tidak penting untuk dikritik.
Timbul: Setuju dengan patung yang fungsional
Greg: Mengapresiasi karena ia berani mengkritisi budaya tidah sebagai heritage, karena budaya terus berjalan.
Kuss: komentarnya tentang ia tahu diskusi ini di facebook, ia mengira diskusi antara Pak Kuss dan Pak Timbul di facebook ternyata setting-an, namun ia membuktikan bahwa itu tidak demikian, dan mengaprsiasi acara diskusi ini sebagai acara yang baik dan berbobot.

Jawaban:
Timbul -> Greg:
merasa pernyataan beliau abstrak dan tanpa solusi. Pak Timbul bilang perlunya solusi dari pernyataannya. Seni di Malioboro, merespon sesuatu yang tak terjamah. Awalnya sesuatu itu diabaikan, namun ketika direspon maka akan banyak kritikan. Namun biarkan saja, ya harus begitu.

Setelah jawaban Tersebut Pak Timbul memohon ijin untuk pergi meninggalkan diskusi dengan alasan beliau memiliki janji dengan orang lain yang sedang menunggu di rumah beliau.

Greg -> Timbul:
maksudnya bukan abstrak dan asal bicara. Ia merasa bicara dengan etika yang baik, dan tidak tidak menyerang personal. Ia mengkritisi sikap Pak Timbul yang dianggap menggunakan nada bicara yang tidak baik.

Greg -> Huki:
Anda sendiri telah memberikan solusi, namun pemerintah yang susah, butuh ditemani. Beliau menegaskan bahwa dirinya bukan di pihak Pemerintah, namun Pemerintah perlu dibantu untuk …

Greg -> Alim: ruang publik milik publik, dikelola oleh pemilik otoritas. Memang banyak kepentingan di situ, yang jelas milik publik ialah jalan raya. Ini tentang transformasi budaya.

Iman -> Alim:
mengenai ruang publik, ingin mengembalikan jawabannya; (kalalu beliau tidak salah) pada waktu dulu masa pemerintahan Kraton Ngayogyakarta masih otoriter, sehingga semua penduduk tunduk terhadap kraton. Masalah Malioboro, dulu hubungan ruang publik dengan masyarakatnya sangat harmonis, sebelum ada kepentingan-kepentingan di sana. Sekarang mulai tampak jelas pergeseran-pergeseran fungsinya. Pada awalnya itu semacam Oro-oro panggonan, tanah yang dibuka oleh leluhur yang fungsinya untuk pangaritan (untuk angon sapi, angun wedus, dll) yang semua warga boleh memakainya. Namun sekarang sudah berbeda.

Kuss -> Alim:
seperti yang beliau jabarkan, di Jogja dapat juga dibuatkan "tengaran"/tanda atau patokan baru yang juga dapat direspons oleh seniman. Namun karena mereka bergerak sendiri-sendiri maka hal itu tampaknya sulit dilakukan.

Kuss -> Itok:
seniman bukan nabi, seniman akan berarti ketika ia bersentuhan dengan publik. Seniman dihidupi oleh spirit berkembang ketika ia dikritik. Seniman harus terima di kritik, kritik harus juga berbobot. Pemerintah juga memiliki peran penting dalam permasalahan public art, makanya beliau menyarankan untuk mengundang orang dari Pemda untuk mengikuti kegiatan diskusi ini.

Greg -> Itok:
relevansinya dengan sikap pusaka (heritage) bangunan tradisional Joglo. Ketika tidak ada referensi bangunan modern dalam tradisi bangunan Jogja.
--
Greg closing statement:
Setuju dengan Pak Kuss, seni tidak bisa tidak di kritik. Ketika seniman bermain di ruang publik, dan dikonsumsi publik, seniman harus siap dihakimi. Seniman harus berusaha rendah diri, memiliki sikap bahwa dirinya setengah benar.

Kuss closing statement:
Jogja dihidupi dengan banyak pendapat walau pendapatan Jogja sedikit.

Iman closing statement:
Monggo banyak kritik banyak pendapat. Seperti tradisi jawa “tedhak siti” ngertio lemah. Nirokke, Niteni, Nambahi, nah, nambahi itu kreativitasnya.

5. Diskusi di akhiri dan diberi kesimpulan oleh Moderator.
6. Moderator mengembalikan acara pada MC, kemudian MC menutup kegiatan diskusi seni.

*) Mahasiswi Diskomvis, FSR ISI Yogyakarta
Leave a Comment
Please feel free to let us know your feeling about this
Your Name
Your Comment
Your Email
Image Verification
Captcha Image Reload Image
Utk ganti paragraf silakan klik
Comments:
05-09-2015 s/d 08-09-2015
Pameran Seni Rupa Kelompok Sekilas
di Taman Budaya Yogyakarta (TBY), Jl. Sriwedani 1, Gondomanan, Yogyakarta
05-09-2015 s/d 12-09-2015
Pameran Seni Gambar "Preheat Drawing Project 2015"
di Jogja National Museum (JNM), Jl. Prof. Ki Amri Yahya No. 1, Gmpingan, Yogyakarta
04-09-2015 s/d 06-09-2015
Pameran Seni Rupa "SEMU" Politeknik Seni Yogyakarta
di Jogja National Museum, Jl. Amri Yahya No. 1, Gampingan, Wirobrajan, Yogyakarta
03-09-2015 s/d 23-09-2015
GUGN PRABOWO: unguarded guards
di Jogja Contemporary Jl. Prof. Ki Amri Yahya no 1, Gampingan, Yogyakarta 55167
03-09-2015
Pembacaan Cerpen: Berbagi Cerita Cinta
di Kedai Kebun Forum Jl. Tirtodipuran no 3, Yogyakarta
03-09-2015
Seminar "Posisi Komik dalam Kajian sastra"
di Auditorium FIB, Gedung Purbatjaraka Lantai 3
02-09-2015
Seminar Sesrawung PKKH UGM Edisi #4: PERFORMANCE ART & EMBODIED COGNITION, “Ketubuhan dalam Perspektif Psikologi dan Praktik Performance Art”
di Hall PKKH UGM, Jln. Pancasila, Bulaksumur, Yogyakarta
26-08-2015 s/d 06-09-2015
Pameran Tunggal Afriani: "Be the Winner"
di Galeri 678, Jl. Kemang Raya 125 A, Kemang, Jakarta Selatan
21-08-2015 s/d 28-08-2015
One for One: Sebuah Pameran Kolaborasi
di Paviliun 28 Jl. Petogogan No. 25 Kebayoran Baru, Jakarta Selatan
21-08-2015
Diskusi Biennale sebagai Branding Kota: Dilema infrastruktur budaya dan turisme
di Ruang Multimedia Kampus Pasca Sarjana ISI Jalan Suryodiningratan, Yogyakarta
read more »
Sabtu, 05-09-2015
Seni Ruang Publik
oleh Rani Permatasari
Rabu, 02-09-2015
Anggur Merah Rasa Jeruk
oleh Yaksa Agus
Minggu, 09-08-2015
Berkubu dengan Buku
oleh Kuss Indarto
Kamis, 30-07-2015
Jejaring Kerja Tanpa Negara
oleh Kuss Indarto
Minggu, 12-07-2015
Pelukis Dullah
oleh Fadjar Sutardi
read more »
Merajakan Nalar di Tengah Kepungan Hedonisme
oleh Christian Heru Cahyo Saputro
Buku bertajuk: Acropolis (Kerajaan Nalar) yang merupakan kumpulan kolom karya wartawan SKH Lampung Post Heri Wardoyo (HRW) hadir meramaikan pasar wacana. Buku yang berisi kolom-kolom Heri Wardoyo ini pernah dimuat di rubrik ‘Nuansa’ Lampung Post bertitimangsa tahun...
Fantasi Balzac tentang Pulau Jawa
oleh Sigit Susanto
Merajut Masa Depan Bocah Merapi
oleh T. Nugroho Angkasa S.Pd.
Novel Kasongan, Seliat Tanah Liat
oleh R. Toto Sugiharto
read more »
Call for Applications for the Artists in Residence Programme 2016 in Austria
Kompetisi UOB Painting of the Year 2015
BANDUNG CONTEMPORARY ART AWARDS (BaCAA) #04
KOMPETISI SENI LUKIS, MANDIRI ART AWARD 2015
GUDANG GARAM INDONESIA ART AWARD 2015
Dana SAM untuk Seni dan Lingkungan
LOMBA PENULISAN JURNALISTIK
Lomba Foto “Air dan Sanitasi untuk Kehidupan yang Lebih Baik”
6th Beijing International Art Biennale 2015
Sayembara Cipta Kreasi Motif Batik Seragam Dinas Harian RSUP Dr Kariadi 2014
read more »
06/07/2015 12:26 | mardiyanto ghani art | Mardiyanto ghani art..ahmadghani2008@gmail.com Selalu semangat berkarya..!!
06/05/2015 16:11 | EkanantoBudiSantoso | to Pa Andre Galnas,kapan kita reuni mamer bareng temen2x? biar wacananya "dream come true gitu,art new biar juga makin seru kita undang konco2x sy nulis disini juga,thanks att.
06/05/2015 16:03 | EkanantoBudiSantoso | Sy butuh info lomba lukis Mandiri,sebenarnya kompetisi bukan untuk cari "jawara,jati diri dan silaturakhmi perupa sangat perlu"dikembangbiakan biar ngga ego,ah.
10/02/2015 23:32 | icha | saya mw jual brang py kkek msa penjajahan di ambon.... samurai bs ditekuk pjang bget... ada belati kecil beserta bendera jepang msa lampau... ada tulisan di sebuah uukuran kertas seperti kulit binatang tpi tulisan jepang... mhon bntuan nya mau jual saja butuh ug urgent
04/02/2015 09:50 | Anwar Sanusi | Artikel sangat membantu dalam membuka wawasan tentang Seni...
read more »
About Us
Indonesia Art News merupakan media tentang dinamika seni yang berkait dengan aspek keindonesiaan. Media ini berusaha untuk mengedepankan segi informasi ihwal seni yang dikemas dengan cara pandang kritis dan muatan yang investigative. Indonesia Art News berkedudukan di Yogyakarta, Indonesia
Gabung di Facebook
Buku Tamu
Pengelola IAN
Editor in chief:Kuss Indarto
Editor:R. Toto Sugiarto
Designer:Andika Indrayana
Email - info@indonesiaartnews.or.id