 |
 |
 |
| Minggu, 13 Mei 2012 - 07:56 |
 |
| Dari Festival Bir Zythos 2012, Belgia |
 |
| oleh Bosman Batubara |
 | |
 |
| Suasana Zythos Bierfestival 2012, Belgia, akhir April 2012 lalu. (foto: bosman batubara) |
 | PADA tanggal 28 dan 29
April yang lalu di Brabanthal, Leuven berlangsung Zythos Bierfestival
2012, atau Festival Bir 2012. Berdasarkan katalog festival, ini adalah
festival ke 9. Dalam Festival kali ini ada sebanyak 96 stand dengan 104 brewery (tempat
pembuatan bir) yang berpartisipasi. Secara keseluruhan ada 490 jenis
bir yang tersedia pada Festival tahun ini. Apa yang menarik dari sebuah
festival bir?
Bir dan Belgia adalah satu. Dua
buah entitas yang tak bisa dipisahkan. Dari obrolan yang pernah saya
ikuti, konon di Belgia ada sekitar 700 jenis bir. Mulai dari merk yang
sudah mendunia seperti Stella Artois, sampai ke merk yang hanya
diproduksi lokal dan dijual di bar tertentu. Mulai dari kandungan
alkohol yang rendah sekitar 4,5%, sampai dengan kandungan alkohol yang
lumayan tinggi di atas 10%. Semuanya ada.
Di Leuven sendiri, bir adalah
bagian dari kota. Di Oude Markt di pusat kota, ada deretan bar yang
konon merupakan rangkaian bar terpanjang di Eropa dengan sebanyak 45 bar
berjejer mengitari lapangan. Katholieke Universiteit Leuven (KU Leuven)
sendiri tidak ketinggalan dan menyediakan banyak bar yang disubsidi
oleh brewery buat para mahasiswa. Bar-bar di KU Leuven, atau yang lazim
disebut fakbar (fakulteit bar) ini, adalah tempat favorit para mahasiswa
karena di sini bir bisa dibeli dengan harga yang terjangkau oleh
kantong mahasiswa.
Ada banyak pilihan fakbar. Misalnya
untuk Fakultas Bioscience, ada fakbar yang enak di pinggir sungai dekat
dengan Castle Arenberg. Fakultas Sastra punya Letteren di Blijde
Inkomsstratt 11. Meskipun kecil, tetapi bar ini cukup hidup. Fakultas
Social Science punya fakbar Politika di Tiensestraat 55. Dan tentu saja
tak ketinggalan Pangaea, bar untuk mahasiswa internasional di
Parkstraat. Dan masih banyak lagi fakbar yang masing-masing punya
penggemar sendiri di KU Leuven.
Menjelang akhir pekan di
hunian-hunian mahasiswa dengan mudah anda akan menemukan mahasiswa yang
mendorong troli penuh berisi berkrat-krat bir untuk kepentingan pesta
akhir pekan. Orang Belgia sendiri juga sangat bangga dengan birnya.
Kalau anda ngobrol dengan anak muda Belgia, maka dengan sangat mudah
anda akan menemukan anak muda yang tidak tahu bagaimana cara mengakhiri
pembicaraan ketika memasuki topic soal bir. Pengetahuan tentang bir
sepertinya sudah menubuh pada mereka.
Meskipun, saya pernah menemukan
pengakuan yang agak tidak menyenangkan bagi orang luar dari salah
seorang kolega mahasiswa internasional. Ketika itu, si kawan yang
belajar Food Technology dan sedang dalam tahap proses pemilihan judul
thesis mengaku ingin memilih bir sebagai topik thesisnya. Karena
berbagai kompleksitas, akhirnya dia tidak jadi meneliti tentang bir
dengan satu kesimpulan subyektif, “aku pikir mereka tidak ingin membagi
pengetahuan tentang bir,” katanya. Di lain sisi, saya juga punya
pengalaman lain soal bir ini.
Waktu itu saya mau mengirim kartu
pos ke salah seorang kolega di Indonesia. Adalah sebuah kelaziman ketika
anda mengirimkan kartu pos, kalau kebetulan anda sedang bersama teman,
maka anda juga meminta teman tersebut untuk menuliskan sesuatu di kartu
pos yang akan anda kirim. Saya yang sedang bersama seorang teman Belgia,
spontan saja memintanya menuliskan sesuatu di kartu pos. Tebak apa yang
ia tulis, “Hello, jangan lupa mencoba bir kami. Salam dari Belgia.”
Nah…
Kembali ke Festival. Pemerintah
menyediakan bus gratis dari stasiun Leuven ke Brabanthal yang dapat
ditempuh kira-kira lima belas menit. Salah satu alasannya, seperti yang
tercantum di katalog, “Please remember that alcohol and driving, don’t
mix, so please make use of the public transportion.” Ini adalah sisi
yang lain dari orang Belgia. Mereka tetap berfikir soal keselamatan dan
kepentingan umum ketika mabuk. Sepanjang hampir dua tahun di Belgia,
tidak sekalipun saya melihat orang mabuk berkelahi di dalam bar.
Sampai di venue festival, anda
langsung disambut dengan stand pembelian koin. Lima buah koin dapat
dibeli dengan harga 7 Euro dan masing-masing koin dapat ditukar dengan
segelas bir yang anda sukai. Sebuah harga yang cuku murah, mengingat
dengan begitu segelas bir berharga sekitar 1,4 Euro. Bandingkan dengan
di bar-bar di Oude Markt dimana satu gelas bir berharga antara 2 sampai
3,5 Euro. Tentu saja harga bir yang sedikit miring di fakbar di dalam
kampus adalah pengecualian. Untuk gelas, dengan uang 3 Euro anda
mendapatkan sebuah gelas cantik dengan logo Festival. Kalau anda tak
tertarik mengoleksi gelasnya, maka menjelang pulang tinggal dikembalikan
dan uang 3 Euro anda kantongi kembali.
Berdasarkan rekomendasi Ward,
seorang kawan Belgia yang kuliah di jurusan Earth Observation, saya
mengawali festival dengan segelas Duchesse De Bourgogne dengan kandungan
alkohol 6,2 persen. Bir ini diproduksi oleh brewery Verhaghe di Vichte,
sebuah desa dengan penduduk sekitar 4500 orang di bagian barat
Falnders. Rasanya mirip-mirip dengan wine.
Tentu saja kesempatan ini tidak
saya lewatkan untuk berbincang-bincang dengan orang-orang Belgia yang
tiba-tiba saja rasanya semua berubah menjadi pakar bir. Secara random
saya bertemu dengan seorang yang mengaku bernama Bix. Kepadanya saya
tanya, apa bir favoritnya. Dia menjawab Cuvẻe des Trolls.
Cuvẻe des Trolls, demikian menurut
Bix, sangat pas dipakai untuk pesta. Ya, mungkin Stella Artois adalah
favorit para mahasiswa, terutama mahasiswa KU Leuven karena selain
harganya relatif murah dan kandungan alkoholnya tidak begitu tinggi
(5,2%) juga karena brewery-nya ada di Leuven. Cuvẻe des Trolls, dengan
konsentrasi alkohol 7%, sedikit lebih tinggi tetapi sangat pas
menjembatani berbagai keinginan. Kalau anda mengadakan pesta dan
mengundang orang-orang dari berbagai latar belakang, maka angka 7%
berada di tengah. Tidak terlalu rendah untuk peminum bir kelas berat dan
tidak terlalu tinggi untuk seorang yang tidak terlalu sering minum bir.
Saya tidak pernah mengadakan pesta kecil dimana satu krat bir langsung
habis begitu saja, bam, kecuali dengan Cuvẻe des Trolls, tutup Bix
meyakinkan.
Bir lain yang saya coba adalah
Zinnebir yang diproduksi oleh brewery Brasserie de la Senne, Brussels.
Bir ini saya tahu sudah sejak lama dari seorang teman yang kebetulan
berasal dari Brussels. Menurut si kawan, bir ini merepresentasikan
Brussels yang memiliki penduduk dari bermacam-macam bangsa. Bir ini
rasanya ramai. KU Leuven sendiri tidak ketinggalan berpartisipasi dalam
Festival kali ini melalui salah satu bir hasil pusat penelitiannya.
Ketika Vicky, teman sekelas dari Guatemala, saya tanya seperti apa
rasanya, sambil tertawa dia menjawab: ‘rasanya seperti PR dan thesis’.
Para pengunjung Festival bukan cuma
berasal dari Leuven dan sekitarnya, tetapi mereka berdatangan dari
berbagai lokasi di Belgia, bahkan tampaknya ada yang dari mancanegara.
Dalam bis perjalanan pulang di sore hari sekitar pukul 8, kami duduk
berhadapan dengan dua orang pengunjung yang dari logatnya, saya duga
mereka berasal dari Inggris. Mereka mengaku mengawali Festival mereka
hari itu sekitar pukul 12 siang dan telah meminum sebanyak 26 jenis bir.
Seorang ibu yang kebetulan duduk di dekat kami cuma tersenyum-senyum
mendengarnya dan kemudian ia bertanya, ‘apa kamu masih ingat namamu?’
Bagi Indra (seorang teman
Indonesia) dan saya, satu-satunya hal yang mengganjal yang sempat kami
obrolkan adalah adalah Festival yang diadakan di dalam ruangan. Saya
membayangkan andai ia diadakan di alam terbuka, mungkin Festival ini
akan jauh lebih seru. Cuma itu memang hampir mustahil di Belgia karena
cuaca yang sangat tidak menentu. ***
Penulis adalah
mahasiswa Interuniversity Programme in Water Resources Engineering,
Katholieke Universiteit Leuven and Vrije Universiteit Brussel, Belgia.
|  |
Leave a Comment
Please feel free to let us know your feeling about this |
|
|
|
|
 |
| Comments: |
 |
|
|
 |
|
|
|
|
 |
 |
 |
19-05-2012 |
| Talkshow Budaya |
| di Monumen Perjuangan,
Jl. Niti Mandala, Renon,
Denpasar |  | 18-05-2012 |
| "IN MEMORIAM HERU EMKA & LAUNCHING Antologi Puisi Mbeling SUARA-SUARA YANG TERPINGGIRKAN" |
| di Bentara Budaya Yogyakarta (Kompleks Harian Kompas) Jalan Suroto No. 2, Kotabaru, Yogyakarta |  | 16-05-2012 s/d 31-05-2012 |
| Pameran Tunggal Seni Rupa Gigih Wiyono: “THE GOLDEN WOMAN” |
| di Galeri Cemara 6,
Jl. Cemara No. 6,
Menteng Jakarta Pusat |  | 16-05-2012 s/d 20-05-2012 |
| METAMORPHOSIS; SUGIH ORA TUWO IYO |
| di JW 54, Cafe n Resto Nusantara,
Jl. Raya Jati Waringin No. 54,
Pondok Gede, Jakarta Timur
|  | 16-05-2012 |
| Melukis Bersama & Bincang-bincang Seni |
| di Mercusi Cafe &Resto,
Tambaknegara, (dekat bendung gerak Serayu),
kec. Rawalo, Kab. Banyumas |  | 15-05-2012 |
| arasehan Seni Rupa Bertajuk: ENVIRONMENT ART |
| di House of Cross-Culural Studies,
Kampoeng Ngoro Tengah, Triyagan (Jl Raya Solo-Tw.Mangu Km 7,5, Apotik Jaten ke Selatan, Pentok belok kiri 100 Meter) |  | 14-05-2012 s/d 18-05-2012 |
| Pameran Lukisan "Dunia Perminyakan" |
| di Galeri Nasional Indonesia,
Jl. Medan Merdeka Timur 14,
Jakarta Pusat |  | 14-05-2012 |
| Bedah Buku Novel "Maryam", karya Okky Madasari |
| di Ruang Teaterikal Perpustakaan,
UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta |  | 13-05-2012 s/d 15-05-2012 |
| Pameran Poster dan Foto Pertunjukan Mugiyono Kasido |
| di Balai Soedjatmoko,
Jl Slamet Riyadi 284 Solo |  | 13-05-2012 |
| Diskusi
|
| di DIMENSI ART GALLERY
Jl. Residen Sudirman No. 26
SURABAYA |  |
| read more » |
 |
|
|
|
 |
 |
|
|
 |
 |
|
|
 |
 |
|
|
 |
 |
 |
| 14/05/2012 01:40 | Antropusx | Ya ... desain jelas perlu diubah :)
Warna hijau gelap akan cocok dengan sempurna xD |
 | | 12/05/2012 23:35 | Lindaindoa | |
 | | 06/05/2012 13:18 | djoe_td | i like this site.. |
 | | 30/04/2012 09:22 | di | site nya mantep dan aku suka ! |
 | | 29/04/2012 21:39 | steervems | This is a very informative website that always delivers good content. |
 |
| read more » |
 |
|
|
|
|
 |