Minggu, 22 Mei 2016 - 09:08 WIB
“Homo Habilis” dalam JIMB
oleh Tim Indonesia Art News
UNTUK kedua kalinya, Jogja International Miniprint Biennale (JIMB) dihelat tahun 2016 ini. Persisnya akan dibuka secara resmi pada tanggal 24 Mei 2016, pukul 19.00 wib, di venue Sangkring Art Project, di kampung Nitiprayan, Rt. 01, Rw. 20, Ngestiharjo, Kasihan Nitiprayan, Kasihan, Bantul, Yogyakarta. Rencananya, staf pengajar ISI Yogyakarta, Prof.Dr. M. Dwi Marianto...
Old Master Menguasai (Kembali)
oleh Kuss Indarto
Menara di Cikapundung: Navigasi dan Panoptikon
oleh Ferri Ahrial
Pelukis Tamu Negara itu Berpulang
oleh Kuss Indarto
Novel Filsafat yang Menantang
oleh Tim Indonesia Art News
  HOME     NEWS     EVENTS     ARTICLES     DIRECTORY     BOOKS     OPPORTUNITIES  
Rabu, 21 September 2016 - 13:39
Jaringan Diaspora Yogya, Bangun Tradisi – Kembangkan Inovasi: Basis Renaisans Yogyakarta
oleh Sultan Hamengku Buwono X
DALAM bahasa Yunani Kuna, “diaspora” (huruf kecil) adalah “penyebaran penduduk karena kondisi tertentu”. Sedangkan “Diaspora” (huruf besar) adalah “migrasi penduduk untuk kolonisasi”. Dalam konteks “Membangun Tradisi dan Mengembangkan Inovasi” ini, tentu yang dimaksud adalah “diaspora” dalam pengertian pertama. Dengan harapan, agar para diaspora itu bersedia “pulang kampung” untuk bersama-sama membangun jogja istimewa.


Jaringan Diaspora Yogya

Diaspora Indonesia, mengacu pada kegiatan merantau yang dilakukan oleh etnik-etnik di Indonesia. Dalam sejarah, aktivitas perantauan telah dilakukan oleh etnis Minangkabau sejak abad ke-15. Sedangkan diaspora Jawa terjadi pada abad ke-19 dan 20, ketika pemerintahan kolonial Hindia Belanda mengirim ribuan orang Jawa ke Suriname, Kaledonia Baru, dan Sumatera Timur untuk menjadi kuli di perkebunan milik Belanda. Pada 1952 etnis Maluku melakukan eksodus ke Eropa karena menolak bergabung dengan RI.

Indonesia sendiri baru merintis pendirian IDN: Indonesian Diaspora Networks pada 2013, dengan 5 (lima) Visi besar. Di antaranya yang utama adalah: Mengintegrasikan beragam ide, solusi serta jaringan sumberdaya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Visi ini kemudian diimplementasikan ke dalam 4 (empat) Misinya.

Dalam perkembangan globalisasi, diaspora sudah menjadi bentuk kekuatan ekonomi baru bagi sebuah bangsa. Jika dahulu mereka ini disebut dengan perantau, maka kini istilah itu sebaiknya diganti dengan diaspora yang kata kuncinya adalah konektivitas.

Dalam konteks Temu Kangen & Reuni Lintas Alamamater Jogja ini, lalu tolok ukurnya apa, bahwasanya para diaspora ini tetap mencintai kota dimana mereka dilahirkan atau dibesarkan? Kita bisa melihat dari pertemuan hari ini, apakah yang diundang dan yang hadir cukup memenuhi harapan KABARE Media Group sebagai pemrakarsa atau tidak?

Terlepas dari itu semua, sejatinya tradisi “pulang kampung” itu sudah melekat menjadi kebutuhan spiritual seseorang. Tradisi mudik mencerminkan pribadi manusia yang selalu rindu pada tempat asal, keterkaitan manusia pada tanah tumpah darah, kebutuhan manusia untuk mempertautkan diri dengan asal-usulnya. Kalaulah semua orang menyadari hakikat asal-usul kejadiannya, maka yang terasakan hanyalah kebahagiaan dan kedamaian.

Jutaan orang menempuh ribuan kilometer melintasi daratan, menyeberangi lautan, menuju tempat asal, menemukan kembali jatidirinya yang otentik dan orisinal untuk mencapai taraf sangkan paraning dumadi. Tradisi mudik seolah arus balik perjalanan hidup manusia mencari fitrahnya sebagai prosesi peleburan ego dalam diri, layaknya penemuan kembali the power of angel. Maka, baginya akan dibukakan pintu malaikat --the gate of angel-- jalan pencapaian kekuatan malaikat.

Karena itu, untuk “pulang kampung” tidak perlu ajakan, apalagi paksaan, karena di dalam dirinya sudah built-in semangat restorasi etika diri dan etika sosial yang berfungsi pragmatis bagi pemecahan problema diri dan sosial. Sehingga iman berfungsi sebagai pencerah kemanusiaan, dan pengaktual kekuatan malaikat. Di sinilah kemudian, “pulang kampung” tidak sekadar dimaknai sebagai wahana “klangenan“ atau “jembatan nostalgia” masa lalu, tetapi mengandung makna sosial bagi kepentingan publik, dan kebutuhan spiritual untuk pencerahan diri.

Alangkah eloknya, jika para diaspora Yogya menjadikan dirinya rakyat jelata yang berempati ikut merasakan betapa kesulitan hidupnya. Kaum Buddhis menyebutnya samsara guna mencapai nirwana. Sidharta Gautama menjadikan dirinya seorang sudra sebelum menemukan diri sebagai Sang Buddha. Rasa empati inilah yang mendorong seorang diaspora menggunakan kemampuannya bagi kepentingan masyarakat dimana ia dilahirkan dan dibesarkan.

Menurut hemat saya, modal sosial dan spiritual itu dapat dijadikan binding power terbangunnya secara organis Jaringan Diaspora Yogya. Dalam hal ini, bisa diandaikan seperti tumbuhan merambat (rhizome), yang setidaknya memiliki dua prinsip dasar. Pertama, prinsip hubungan (connection). Rumput tidak henti-hentinya menghubungkan dirinya dengan akar rumput lain, meski dengan pola tidak beraturan (chaotic), tapi saling menguatkan. Tidak seperti pohon beringin, yang terpancang pada satu titik yang bersifat sentralistik, hierarkis, dan birokratis.

Kedua, prinsip dialogis. Unsur-unsur diaspora yang bertebaran di berbagai belahan dunia, dan tersebar dalam aneka profesi itu, harus selalu menghubungkan dirinya secara dialogis dengan masyarakat Yogya, sehingga terjadi pengkayaan nilai-nilai, pengetahuan, teknologi, sosial-budaya, dan ekonomi.

Dari Jaringan ke Model Binaan

Jika disepakati, jaringan sinergi itu bisa ditransformasikan menjadi model pemberdayaan desa. Kiranya perlu diketahui masih banyak desa-desa terisolir yang belum memiliki penerangan listrik. Dalam hal ini, Gerakan Bhakti Yogya telah banyak membantu beberapa desa dengan listrik tenaga surya. Selain itu, kantung-kantung kemiskinan struktural masih banyak memerlukan campur tangan disertai uluran tangan, agar mereka terbebas dari keterpurukan hidup.

Saya membayangkan betapa indahnya, jika Desa Budaya, Desa Wisata, Desa Mandiri Energi, Desa Mandiri Pangan, atau bentuk desa-desa lain memiliki semacam Bapak Angkat yang mampu mengangkat derajat mereka agar lebih mampu mengisi sektor-sektor yang aktual-riil terhadap predikat yang disandangnya. Bukan sekadar sebutan tanpa makna.

Meskipun Yogyakarta tergolong maju dalam pendidikannya, dan pemerintahan desanya pun sudah bisa tersambung secara online, disadari masih terasa kekurangan dalam dukungan jaringannya, sehingga seringkali menghambat transfer data real time. Dalam implementasinya, untuk e-learning, misalnya, konsep Ki Hadjar Dewantara tentang TriSentra Pendidikan di Keluarga, Sekolah, dan Masyarakat itu bisa diwujudkan melalui interaksi orangtua secara online. Demikian juga, perangkat desanya pun mudah berinteraksi dengan Bupati, Walikota, bahkan dengan Gubernur, tanpa membuang waktu untuk beraudiensi.

Saya membayangkan di desa-desa penghasil produk-produk pertanian memiliki terminal agri-bisnis di Kecamatan untuk sortasi, seleksi dan klasifikasi produk-produk lokal, nasional dan global. Dimana terminal itu bisa tersambung ke pusat-pusat pasar hasil-hasil pertanian nasional maupun dunia, sehingga petani kita tahu jenis tanaman apa yang punya nilai tambah yang harus dibudidayakan.

Di bidang kesehatan, Puskesmas Desa/Kalurahan mudah tersambung dengan Puskesmas Kecamatan, atau Rumahsakit tipe E, D, C dan tipe B di Kabupaten/Kota, serta tipe A di Provinsi. Sehingga penanganan kesehatan maupun BPJS-nya pun bisa dilakukan berjenjang tanpa ada penumpukan di layanan medis tertentu. Selain itu, juga membuka ruang konsultasi dari Puskesmas ke Rumahsakit tipe di atasnya untuk penanganan korban kecelakaan atau gawat darurat.

Jika seandainya “ruang-ruang kosong” itu bisa terisi dari partisipasi dan konstribusi para diaspora Yogya, maka hadirnya jogja istimewa dan jogja sejahtera pun akan lebih cepat tercapai. Guna memberikan apresiasi, nama-nama mereka bisa diadopsi dalam program-program pemberdayaan tersebut yang diterakan dalam nama model-model Desa Binaan. Sebagai contoh, di lab-lab universitas di luar negeri untuk kajian otomotif, kita biasa memasuki ruang-ruang Toyota, Nissan, Mercy, Chevrolet, atau yang menunjuk merk lain. Di gedung-gedung UGM pun sudah banyak yang diterakan nama-nama penyumbangnya.

Bangun Tradisi

Bagaimana agar tradisi menjadi berdayaguna bagi masyarakat? Pertanyaan itu secara spesifik lebih bermakna dalam konteks Yogyakarta. Karena berangkat dari realitas historis-kultural, di mana rakyatnya yang agraris, menjalankan tradisi sebagai bagian dari kebutuhan alamiah dan dasariah sebagai manusia. Tugas itu, baik yang paling dasar, secara batiniah untuk pencerahan spiritual-kultural, dan secara fisik untuk memenuhi kebutuhan hidup, maupun meningkatkan taraf kesejahteraan, tak bisa dilepaskan dari realitas lingkungan alam sekitarnya.

Artinya, irama kerja itu tidak berlawanan dengan irama hidup alam di mana ia mendapatkan semua sumber penghidupan, sumber semua kebutuhan spesiesnya untuk survive, berkembang, dan beregenerasi. Maka, darinya akan tercipta sebuah simbiosis-mutualistik, sehingga tak terjadi dominasi atau sub-ordinasi, terlebih hubungan yang penuh eksploitasi.

Manusia tradisi Yogyakarta akan memperhatikan batas di mana ia dapat memanfaatkan dan mendayagunakan alam, mengambil secukupnya, mengembalikan yang berlebih, atau mengganti apa yang telah ia habiskan sebagai pemenuhan konsumsi sebagai wujud penerapan filosofi: hamêmayu-hayuning bawânâ. Irama kerjanya pun akan mengikuti irama hidup alam. Ada saatnya ia bekerja keras, ada saatnya menuai, dan ada saatnya diam tak melakukan apa-apa. Seperti tanaman yang tumbuh, berbuah, kemudian diam, untuk memulai siklus hidup berikutnya.

Di titik akhir itulah, kaum tani kita berada dalam situasi vacant, kosong dalam arti sepi dari kerja. Lalu ia memanfaatkannya untuk berpesta, merti dusun atau merti desa, upacara tradisi seraya bersilaturahmi, untuk menyelaraskan yang imanen dan transenden. Liburan manusia tradisi kita adalah masa di mana lingkungan tempatnya bekerja juga libur, entah itu peternak, peladang, petani, nelayan, dan seterusnya. Di titik inilah, produktivitas luar biasa bisa kita dapatkan, karena manusia dan alam saling mendukung kerja demi hasil terbaik. Persoalan akan muncul ketika hari libur itu ditetapkan berdasarkan alasan kultural yang sama sekali berbeda. Seperti menetapkan hari libur Minggu dan Sabtu yang notabene berbasis kultural-historis Eropa dengan adab daratan atau kontinentalnya. 5

Dapat dibayangkan, bila masyarakat agraris dipaksa menjalankan libur adab daratan yang industrialistik. Demikian juga jika tradisi kepengrajinan sebagai sumber penghidupan lain yang berbasis budaya, yang kini disebut industri kreatif, juga harus bersifat industrialistik. Mereka, tentu saja, akan kehilangan irama kerja, irama hidupnya. Irama di mana alam biasanya mengikuti kerja mereka. Mereka akan kehilangan daya kreatif dan inovatif yang mestinya lebih produktif.

Tak mengherankan jika dalam ekonomi kapitalistik, budaya industri itu tak segera tumbuh, karena ia melawan dasar dari disiplin tubuh tradisional kita. Juga, tak mengherankan bila kita tak kunjung ber-swasembada, bahkan pada produk-produk agrikultural andalan kita, ketika mayoritas pekerja yang masih berkultur agraris mesti mengikuti pola dan gaya hidup masyarakat industri (urban) yang minoritas jumlahnya.

Jadi, jelaslah sudah, mengapa produktivitas kita tak bisa maksimal dan pertumbuhan ekonomi kita tak sepesat China –walau sesungguhnya bisa melampauinya. Sebab ternyata proses kita berekonomi, telah begitu lama meninggalkan akar kebudayaannya 1.

Dengan memahami latar budaya seperti itulah, kita harus membangun industri kreatif berbasis tradisi dan budaya yang khas Yogyakarta, agar laku dijual di pasar global yang sesungguhnya lebih diminati jika produk-produk itu memiliki kekhasan lokal yang eksotik.

Dalam hubungan ini, saya mengundang para diaspora untuk bisa memberi nilai tambah pada industri kreatif Yogya dengan Difusi Teknologi, yaitu kegiatan adopsi dan penerapan hasil inovasi secara lebih ekstensif oleh penemunya dan/atau pihak-pihak lain dengan tujuan meningkatkan daya guna potensinya. Dalam proses difusi ini sebuah ide dan teknologi baru, tersebar dalam sebuah kebudayaan yang dikomunikasikan melalui berbagai saluran dan jangka waktu tertentu ke dalam sistem sosial 2. Di sini menunjukkan betapa pentingnya komunikasi interpersonal, terutama yang dilakukan oleh opinion leadership, karena orang-orang inilah dinilai bisa memengaruhi komunitasnya untuk mengadopsi sebuah inovasi 3.

Kembangkan Inovasi

Sebelum mengembangkan inovasi yang diterapkan pada produk-produk industri kreatif, perlu memilah elemen-elemen inovasi, yaitu yang terdiri atas jenis inovasi itu sendiri, tipe saluran komunikasi, tingkat adopsi, dan sistem sosial sebagai lingkungan strategisnya.

Dengan pemahaman itu, maka akan tercipta iklim yang kondusif agar komunitas perajin siap menerima proses adopsi teknologi yang sifat dasarnya mengubah tradisi, dengan tahapan: mempelajari inovasi, mengadopsi, dan menyebarkan ke jaringan sosial komunitas perajin.

Calon investor yang juga membawa inovasi baru bisa memilih dari 15 (lima belas) jenis industri kreatif 4 yang berkembang di Yogyakarta. Inovasi animasi berbasis budaya dan sejarah sangat dibutuhkan untuk meningkatkan materi ajar pendidikan karakter. Juga film-film pendek yang edukatif dan game yang berbasis permainan tradisi. Karena penerimanya adalah peserta didik generasi muda, maka penggunaan media IT yang bersifat interaktif menjadi pilihan yang tepat.

Alasan mengapa Yogyakarta mengundang pengembangan industri kreatif, karena berpotensi besar dalam: (1) Kontribusi ekonomi; (2) Menciptakan iklim bisnis yang konstruktif; (3) Membangun citra dan identitas jogja istimewa; (4) Mengembangkan ekonomi berbasis sumberdaya terbarukan; (5) Memberikan dampak sosial yang positif; dan (6) Titik tolak strategis pengembangannya ke tingkat global.

Agar pengembangan industri kreatif lebih terarah, kegiatan inovatifnya bisa diwadahi dalam sebuah Pusat Pengembangan Industri Kreatif, yang pendiriannya dimungkinkan melalui kerjasama sinergis model “Triple-Helix”. Karena tuntutannya semakin kompleks, kerjasama itu untuk dikembangkan menjadi “Penta-Helix”, dengan keikutsertaan unsur Komunitas (Community), dimana para diaspora dapat mengambil peran di sektor bisnis yang membawa sekaligus capital dan knowledge. Ada pun unsur-unsur yang terlibat itu jika dirinci, sebagai berikut (untuk jelasnya mohon periksa gambar 5):

Public Services: public administrators, public institutions, dsb. (Pemerintah).
Konowledge: designers, engineers, scientists, doctors, dsb. (Konsultan).
Business: entrepreneurs, shop-owners, building developers, dsb. (Perusahaan/Pengusaha).
Capital: financial services, banks, property owners, dsb. (Bank/Investor).
Community: neighbourhood groups, associations, organisations, Chamber of Commerce, dsb. (Komunitas).

“Kalahkan China!”

Dengan berbagai perbedaan kultur, wilayah dan populasi, kita dapat bercermin dari sukses China. Dengan Great Vision: “to Serve the Earth” dan strategi “O2O” (Online to Offline), melalui berbagai inovasi, membuat produk China sampai ke pelosok mana saja di muka bumi, dengan harga yang tak akan bisa dikalahkan oleh produk lokal sekalipun. Apalagi, jika negara tersebut tidak melakukan kebijakan “barrier to entry” yang bentuknya bisa bermacam-macam guna melindungi produk domestiknya.

Kata kuncinya adalah Supply Chain Management untuk memenangkan kompetisi. Konsekuensinya adalah membangun rantai nilai yang terintegrasi secara efisien sejak pengadaan material, proses produksi, sampai barang jadi diterima konsumen dalam kualitas baik, sehingga memaksimalkan nilai hasilnya dalam keseluruhan proses.

Menjadi tantangan agar menjadikan Jaringan Diaspora Yogya bisa membangun rantai nilai untuk meningkatkan daya saing yang kompetitif unggul dengan dua sasaran. Inward-looking guna bersanding dan bersaing dengan produk-produk China yang masuk ke pasar domestik. Outward-looking guna bertanding di pasar global dengan faktor keunggulan yang unik. Kita pasti bisa jika bersinergi! Semboyan: “Kalahkah China!” harus berkumandang di dada dan tertanam di hati-sanubari setiap anak bangsa. Contohnya, di pabrik elektronik Korea tertulis huruf besar, “Kalahkan Panasonic!“ Terbukti, Samsung pun bisa kalahkan Panasonic!

Dan ketika ada yang menanyakan cita-cita seorang anak kecil di China, ia pun menjawab tegas, “Mengalahkan Amerika!”. Penanaman visi bangsa sangatlah jelas dan mudah, bagi anak kecil sekalipun. Apalagi jika masyarakat Yogyakarta didukung oleh kekuatan diaspora Yogya.

Catatan Akhir

Dalam mengelola Jaringan Diaspora Yogya perlu transparansi dan partisipasi. Oleh sebab itu, setiap elemennya harus merupakan sistem terbuka (open system). Artinya, sistem tersebut tidak boleh diam. Ia harus selalu mengantisipasi tantangan dan pengaruh dari luar, baik tantangan regional maupun global. Tantangan tersebut menjadikannya tidak pernah berada dalam keseimbangan, tetapi di dalamnya selalu terjadi dinamika perubahan.

Untuk itu, dialog antarbudaya perlu diintensifkan. Bukan dengan slogan-slogan mati, tetapi melibatkan totalitas diri. Oleh sebab itu, diperlukan kemampuan untuk merasa, berempati, dan pemahaman, sebagai inti dari prinsip dialogis. Memang untuk melahirkan sikap kesalingmengertian (mutual understanding), kesalingpercayaan (mutual trust) dan saling menghormati (mutual respect) bukanlah pekerjaan mudah, tapi bisa dimulai dengan kesadaran dan kepekaan akan keberagaman kita sebagai bangsa.

Itulah akar-akar tunggang yang menumbuhkan “Renaisans Yogyakarta”. Seakan napak-laku jejak-jejak Renaisans Eropa yang berawal dari Florensia, Italia, lalu menyebar ke seluruh Eropa, yang digerakkan oleh kaum Paura, kelas menengah usahawan dan seniman. Tradisi dan budaya Yogyakarta memiliki perhitungan spiritualnya sendiri dengan membuka hati untuk kerja-kerja ekonomi dan pemberdayaan. Dan untuk itu, silakan para diaspora beserta warga Yogya mempertimbangkannya kini, dan menjawabnya nanti. Sumangga!

Jakarta, 27 Agustus 2016

KARATON NGAYOGYAKARTA HADININGRAT,
HAMENGKU BUWONO X

* Disampaikan dalam acara Temu Kangen & Reuni Lintas Alamamater Jogja “SRAWUNG KANCA YOJA”, KABARE Media Group, di Museum Nasional, Jakarta, 27 Agustus 2016

1) Radhar Panca Dahana, Ekonomi Berbudaya, Perspektif, Gatra Nomor 28, 19 Mei 2011.
2) Everett Rogers, Diffusion of Innovations, 1964.
3) Gabriel Tarde, The Laws of Imitation”, 1930.
4) 15 Jenis Industri Kreatif: Periklanan; Arsitektur; Barang Seni; Kerajinan; Desain; Fesyen; Video, Film dan Fotografi; Permainan Interaktif (game); Musik; Seni Pertunjukan (showbiz); Penerbitan dan Percetakan; Layanan Komputer dan Piranti Lunak (software); Televisi & Radio (broadcasting); Riset dan Pengembangan (R&D), dan Kuliner.
5) OSMOS Transversal Planning, Research: Penta-Helix Stakeholder Management, 10 Juni 2015.
Leave a Comment
Please feel free to let us know your feeling about this
Your Name
Your Comment
Your Email
Image Verification
Captcha Image Reload Image
Utk ganti paragraf silakan klik
Comments:
Sabtu, 24 September 2016 - 11:58
Maryono Luluk - marluluk99@gmail.com
sebuah artikel yang sungguh bagus dari HB X..
29-05-2016 s/d 02-06-2016
"Run: Embrace Diversity", pameran tunggal Nasirun
di Sportorium Univ. Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Ringroad Barat, Kasihan, Bantul, Yogyakarta
14-05-2016 s/d 21-05-2016
Pameran seni Rupa AFTER MOOI INDIE
di Galeri R.J. Katamsi Kampus ISI Yogyakarta, Jl. Parangtritis Km. 6,5 Yogyakarta
11-05-2016 s/d 19-05-2016
Pameran Seni Rupa "# Rupa Rajawali"
di Taman Budaya Yogyakarta, Jl. Sriwedani No. 1, Gondomanan, Yogyakarta
07-05-2016
Seminar dan Diskusi NOKEN: Sejarah dan Budaya
di Ark Galerie Jl. Suryodiningratan 36 A Yogyakarta
10-04-2016
Njoged Mbagong: Tubuh bagai mata air, kreativitas tetap mengalir
di Bangsal Diponegoro, Padepokan Seni Bagong Kussudiardja, Kembaran, Ngestiharjo, Kasihan, Bantul
03-04-2016 s/d 10-04-2016
Air Tanah, Respon Sumber Air Gemulo
di Sumber Air Gemulo, Jl. Bukit Berbunga, Bumiaji, Kota Batu
03-04-2016 s/d 09-04-2016
“RUANG KECIL BICARA”
di Galeri PRABANGKARA (DKJT) Kompleks Taman Budaya Jatim Jl. Gentengkali 85 Surabaya
31-03-2016 s/d 23-04-2016
Pameran Seni Rupa "Art Akulturasi"
di Galeri Seni House of Sampoerna Surabaya
31-03-2016 s/d 15-04-2016
Ketemu AJA: seniman asal Jembrana, Punia Atmaja
di KETEMU PROJECT SPACE Jl Batuyang, Perum Taman Asri 3A Batubulan, Bali
29-03-2016 s/d 11-04-2016
PELEBURAN RUPA, NADA, DAN KATA: A Solo Exhibition by Andra Semesta
di Cemara 6 Art Centre (Galeri) Jl.Hos.Cokroaminoto 9-11, Menteng, Jakarta
read more »
Rabu, 21-09-2016
Jaringan Diaspora Yogya, Bangun Tradisi – Kembangkan Inovasi: Basis Renaisans Yogyakarta
oleh Sultan Hamengku Buwono X
Jum'at, 03-06-2016
Nasirun: Narasi Pertarungan dan Pertaruhan
oleh Kuss Indarto
Rabu, 18-05-2016
Rajawali yang (Ingin) Menolak Takdir
oleh Kuss Indarto
Sabtu, 14-05-2016
Perspektif Beda Ihwal Mooi Indie
oleh Kuss Indarto
Jum'at, 08-04-2016
FBU 2015: Frankfurt Book Unfair 2015
oleh Sigit Susanto
read more »
Merajakan Nalar di Tengah Kepungan Hedonisme
oleh Christian Heru Cahyo Saputro
Buku bertajuk: Acropolis (Kerajaan Nalar) yang merupakan kumpulan kolom karya wartawan SKH Lampung Post Heri Wardoyo (HRW) hadir meramaikan pasar wacana. Buku yang berisi kolom-kolom Heri Wardoyo ini pernah dimuat di rubrik ‘Nuansa’ Lampung Post bertitimangsa tahun...
Fantasi Balzac tentang Pulau Jawa
oleh Sigit Susanto
Merajut Masa Depan Bocah Merapi
oleh T. Nugroho Angkasa S.Pd.
Novel Kasongan, Seliat Tanah Liat
oleh R. Toto Sugiharto
read more »
Pameran Besar Seni Rupa Indonesia 2016
Kompetisi Karya Trimatra Salihara 2016
Call for Applications for the Artists in Residence Programme 2016 in Austria
Kompetisi UOB Painting of the Year 2015
BANDUNG CONTEMPORARY ART AWARDS (BaCAA) #04
KOMPETISI SENI LUKIS, MANDIRI ART AWARD 2015
GUDANG GARAM INDONESIA ART AWARD 2015
Dana SAM untuk Seni dan Lingkungan
LOMBA PENULISAN JURNALISTIK
Lomba Foto “Air dan Sanitasi untuk Kehidupan yang Lebih Baik”
read more »
05/01/2016 15:38 | Kareba Art | Salam, Kami dari Kareba Art Management ingi mengadakan pameran Drwaing. Bagaimana caranya agar kegiatan kami dipublikasikan di Indonesia Art News? Makasih....
06/05/2015 16:11 | EkanantoBudiSantoso | to Pa Andre Galnas,kapan kita reuni mamer bareng temen2x? biar wacananya "dream come true gitu,art new biar juga makin seru kita undang konco2x sy nulis disini juga,thanks att.
06/05/2015 16:03 | EkanantoBudiSantoso | Sy butuh info lomba lukis Mandiri,sebenarnya kompetisi bukan untuk cari "jawara,jati diri dan silaturakhmi perupa sangat perlu"dikembangbiakan biar ngga ego,ah.
10/02/2015 23:32 | icha | saya mw jual brang py kkek msa penjajahan di ambon.... samurai bs ditekuk pjang bget... ada belati kecil beserta bendera jepang msa lampau... ada tulisan di sebuah uukuran kertas seperti kulit binatang tpi tulisan jepang... mhon bntuan nya mau jual saja butuh ug urgent
04/02/2015 09:50 | Anwar Sanusi | Artikel sangat membantu dalam membuka wawasan tentang Seni...
read more »
About Us
Indonesia Art News merupakan media tentang dinamika seni yang berkait dengan aspek keindonesiaan. Media ini berusaha untuk mengedepankan segi informasi ihwal seni yang dikemas dengan cara pandang kritis dan muatan yang investigative. Indonesia Art News berkedudukan di Yogyakarta, Indonesia
Gabung di Facebook
Buku Tamu
Pengelola IAN
Editor in chief:Kuss Indarto
Editor:R. Toto Sugiarto
Designer:Andika Indrayana
Email - info@indonesiaartnews.or.id