Jum'at, 04 Juli 2014 - 21:15 WIB
Melihat ArtJog, Menyimak Go to Hell Crocodile
oleh Fathiyyah Fairuz
ART JOGJA, selanjutnya disebut ARTJOG merupakan event tahunan yang dilaksanakan untuk mewadahi karya seni rupa para seniman dalam bentuk pameran yang terbuka untuk umum, biasanya diselenggrakan pada bulan Juni atau Juli, saat masa liburan. Tahun ini berlangsung pada tanggal 7 hingga 29 Juni 2014. Tidak sembarang karya bisa ditampilkan di event ini. CEO ARTJOG, Heri...
Bung Karno Transit di ARTJOG
oleh Arif Budiman
Dolan-dolan Merapi
oleh Arahmaiani
Laissez Faire! Willem Kootstra
oleh Abah Jajang Kawentar
Sampah, dan “Imaji Terbuang”
oleh Novita Yulia
  HOME     NEWS     EVENTS     ARTICLES     DIRECTORY     BOOKS     OPPORTUNITIES  
Senin, 23 Juni 2014 - 11:13
Dunia
oleh F. Sigit Santoso
Lukisan F. Sigit Santoso, "Sehabis Penyaliban" (2012), cat minyak di atas kanvas. (foto: F. Sigit Santoso)
Pengantar Redaksi: Catatan di bawah ini bukanlah tulisan baru, namun telah dituliskan oleh F. Sigit Santoso pada 11 tahun lalu, saat perupa ini berpameran tunggal di Edwin Gallery tahun 2003 dengan tajuk “PAINTHINKTING”. Redaksi Indonesia Art News menganggap penting catatan ini sehingga perlu mengunggah di rubrik ini, dengan harapan dapat memberi stimulasi kepada para seniman/perupa untuk tak segan-segan menuliskan dunia pemikirannya yang berhubungan dengan dunia kreatifnya di seni visual. Terima kasih.

***

Ketika dunia ini diciptakan, maka pada saat itulah seni dibentuk. Namun ketika seni masih berproses mencari hakikatnya, maka tidak bisa dikatakan bahwa dunia merupakam sebuah tempat yang sudah selesai untuk ditinggali.

 
DEFINISI seni paling sederhana adalah: kreasi atau penciptaan. Namun apabila kita menyadari bahwa satu-satunya pencipta itu berada di atas dan di luar jangkauan manusia, bagaimana dapat kita katakan bahwa yang dilakukan oleh seniman itu benar-benar mencipta? Bukankah seniman hanya mampu untuk meniru serta mengulang sebuah struktur yang sudah ada pada alam ini sebagai bagian representasi seperti dikemukakan oleh Aristoteles maupun Plato? Apakah keduanya hendak menegaskan bahwa nilai kesenian itu selalu tidak jelas oleh karena seni bukanlah kebenaran sesungguhnya, hanya merupakan hasil rekayasa yang pintar dalam meniru realitas sehari-hari? Meskipun Aristoteles sendiri pernah berkilah, bahwa bagaimanapun juga kesenian masih mempunyai nilai tertentu walau itu hanya merupakan bentuk terapi?

Memang ada sebagian kaum cendekiawan menolak pandangan seni adalah mimetik – hanya sekadar meniru alam, oleh karena baginya seni selalu menghasilkan kebaruan, atau sesuatu yang lain sama sekali dari realitas alamiah serta berdiri sendiri sebagai wujud penciptaan. Bahkan ada beberapa pandangan yang diantaranya menyatakan bahwa seni adalah upaya untuk merekonstruksi atau menata kembali sebuah susunan diatas dunia ini yang sekiranya dianggap kurang indah melalui sentuhan-sentuhan baru yang dimiliki oleh tangan-tangan seniman. Ya, pada kenyataannya memang alam tidak selamanya  nampak indah seperti yang kita bayangkan semula, bahkan pada beberapa sisi tidak mempunyai arti estetik sama sekali, atau terkadang malah tanpa ada irama bentuk spasial dan kontras warna-warni. Hal ini memang berbeda dengan mereka yang hendak membatasi seni pada fungsi mimetik semata-mata. Para seniman di atas biasanya memberikan keleluasaan pada peranan kerja imajinasi, dan dari sinilah mereka percaya bahwa seni merupakan wujud penciptaan yang mandiri. Sebagai ilustrasi bahwa keindahan sebuah pemandangan alam tidaklah sama dengan keindahan yang kita nikmati dalam karya-karya para pelukis panorama terkenal. Sebagian seniman tahu bahwa keindahan bukanlah satu-satunya tujuan seni, oleh karena dalam kenyataan, keindahan hanya merupakan sifat sekunder saja. “Jangan salah paham seolah-olah seni kreatif lahir karena kita tergoda untuk memperindah dunia di sekitar kita, itu tidak benar!” Begitulah peringatan Goethe, sambil menandaskan bahwa seni tidak hendak menyaingi alam, karena seni sudah lahir jauh sebelum ia indah. Apa yang sesungguhnya dilakukan seniman adalah tafsiran atas realitas; bahwa bentuk dan warna selalu dimaknai secara individual. Jadi apabila dua pelukis menghadapi panorama yang sama, tetap akan tampil dua gambar yang berbeda sebagaimana kepribadian para pelukisnya yang berlainan satu dengan yang lain. Lagi pula objek yang dihadapi kedua pelukis tidak dapat dikatakan sebagai satu dan sama.

***

Dalam perjalanannya – dari era klasik sampai modern, seni banyak melahirkan para penggugat alam. Baginya alam kurang mencukupi dengan apa yang diharapkan oleh kaum seniman dalam hal keindahan. Dalam berbagai cara kaum seniman berusaha untuk mengabadikan kesan keindahan yang bersifat sesaat kedalam karya-karyanya, namun beberapa yang lainnya berusaha untuk memilah-milah dan melakukan seleksi terhadap susunan yang sudah ada; menambah dan mengurangi, menghapus dan memberi sentuhan baru. Bahkan ada yang se-anarkhi Mikhail Bakunin, dengan melakukan tindak penghancuran, membongkar dan membentuk kembali dari apa yang sudah ada menjadi sesuatu yang lain sama sekali atau bahkan susah untuk dikenali, yang adakalanya menjadi anomali atau menyimpang dari sruktur semula. Hal tersebut bisa berarti sangat konstruktif, atau malah dekonstruktif hasilnya.

Di sini seorang seniman selalu saja berada dalam situasi tidak menentu dan ambigu dihadapkan pada realitas yang tidak terpahami. Jika ada sebuah pernyataan yang mengatakan bahwa dunia ini indah adanya, maka hal itu tidaklah relevan dengan banyaknya bencana dan penderitaan yang terjadi di atas bumi. Manusia diharuskan untuk mengerti tentang hakekat keindahan, namun dilain pihak ia harus memahami kenyataan yang ada, yaitu kematian. Jadi, untuk apa hidup itu sendiri selain penantian tanpa pasti atas sesuatu yang tak pernah dimengerti? Apakah keindahan itu bukan hanya sebuah bentuk kompensasi? Benarkah perasaan indah memang harus dibuat untuk memanipulasi rasa takut manusia terhadap kematian? Mungkinkah konsepsi romantik yang mengatakan seni ialah impian dikala jaga harus kita ikuti secara sukarela?  Pemahaman ini bagi saya menjadi nampak mengambang dan absurd, se-absurd perayaan kelahiran yang pada esensinya adalah perjalanan panjang untuk menyongsong maut.

Jadi, apakah dunia ini sebenarnya? yang membuat seniman selalu merasa tidak nyaman serta puas dengan sesuatu yang sudah tersedia? Apakah hanya sebentuk materi yang tidak tetap, ataukah sebentuk susunan asimetris yang janggal? Adakah tempat kita berpijak ini pada awalnya merupakan proyek penciptaan setelah surga? Atau jangan-jangan merupakan surga kedua yang belum selesai dibentuk karena keburu Sang Pencipta istirahat pada hari ke tujuh?

Dalam Genesis – kitab kejadian – diceritakan bahwa Tuhan mencipta dunia seisinya selama enam hari, lalu pada hari yang ketujuh Tuhan istirahat. Bayangkan apabila proses penciptaan itu berlangsung lebih lama dari waktu yang sudah ditentukan, katakanlah delapan atau sembilan hari, atau lebih? Barangkali yang terjadi dunia tidaklah secarut marut seperti yang kita temui sekarang. Mungkin bumi yang kita pijak ini akan serupa dongeng sebuah negeri dengan nama utopia karangan Thomas Morus, dimana diceritakan bahwa di sana tidak ada bencana, tidak ada penderitaan, tidak ada penindasan, tidak ada korupsi, tidak ada perang yang mengancam hidup manusia; boleh dibilang suatu tempat yang damai menyerupai taman surga – barangkali? Atau hal ini memang disengaja oleh Tuhan karena Ia tidak menginginkan tempat seperti milik-Nya, maka dibuatlah sesuatu yang nampak lain dan berbeda. Apabila surga mewakili sesuatu yang baik dengan penggambaran putih, dan neraka dengan kejahatannya yang hitam, maka dunia terletak ditengah-tengah, pada wilayah yang abu-abu sifatnya. Lalu bagaimana dengan posisi manusia itu sendiri? Apakah ia merupakan materi yang sudah jadi atau masih berproses mencari hakekatnya? Apakah ia serupa tebing, atau hanya titian belaka seperti yang di analogikan Nietszche? Jika dunia dan manusia merupakan sesuatu yang tidak tetap, maka tidak bisa dikatakan semua yang kita lihat ini adalah sesuatu yang sudah final dan selesai di buat. Oleh karena belum tuntas maka tidak ada alasan bagi kita untuk menganggapnya tetap, absolut, maupun jadi. Disinilah saya melihat banyaknya kekurangan yang perlu dibenahi dan di revisi. Jangan-jangan sampai hari inipun Tuhan belum dapat beristirahat karena masih melakukan proses penciptaan dunia yang tidak pernah rampung?

***

Jika Van Gogh pernah menyatakan dalam tulisannya bahwa Tuhan tidak harus diadili di atas dunia ini apabila ada salah satu dari sketsa-sketsaNya yang menyimpang secara buruk, maka bagi saya seorang seniman juga tidak harus diadili di atas nanti  karena telah berani kurang ajar untuk mencoba merekonstruksi ulang, mengotak atik, dan memberi sentuhan gaya atas hasil karya-Nya yang dianggap kurang begitu memuaskan. Ini bukan berarti seorang seniman menginginkan persaingan dengan Tuhan, tapi pada kenyataannya ia selalu tidak pernah dapat menerima hasil ciptaan-Nya dengan berbesar hati. Dunia dianggap belum selesai di buat dan belum sempurna untuk ditinggali, hal ini menjadikan kenyataan selalu tidak seiring jalan dengan apa yang diangankannya. Tapi celakanya manusia juga tidak dapat melarikan diri dari semua itu, dan tak mungkin melepas jalinan yang mengikatnya dengan erat laksana sulur beringin tua yang menghujam tanah dan telah berubah menjadi batang baru. Kebosanan, derita dan keterasingan adalah sahabat akrab yang tak mungkin untuk disingkirkan. Lalu, dimana cinta? Sebatas yang saya tahu, cinta tidak selalu abadi selama masih ada hasrat untuk memiliki. Realitas ideal hanya sebuah keinginan yang tak akan mungkin terwujudkan. Dan kesenian – hanyalah bentuk kompensasi dari hasrat eskapis manusia untuk melihat dunia secara lain agar kelihatan baru, mempesona serta tidak membosankan.

Di sinilah kita menjadi sedikit mengerti bahwa seniman adalah makhluk yang selalu tidak puas melihat kenyataan yang ada, dan seringkali merasa gagal untuk menghadirkan realitas ideal seperti yang diinginkannya ke atas dunia ini. Namun saya percaya, bahwa kegagalan yang dialami oleh seniman seringkali menjadi kegagalan yang indah, yang membuatnya tanpa bosan mengulang kembali proses kegagalan itu menjadi sebuah ritus pembebasan. ***
*) Perupa.
Leave a Comment
Please feel free to let us know your feeling about this
Your Name
Your Comment
Your Email
Image Verification
Captcha Image Reload Image
Utk ganti paragraf silakan klik
Comments:
01-06-2014 s/d 30-06-2014
Pameran Lukisan Yaksa Agus: ‘ART Joke: Menunggu Godot’
di Tirana Art Space Jl Suryodiningratan 55, Yogyakarta
31-05-2014 s/d 08-06-2014
Bolo Kulon Painting Exhibition: "PASURUAN BERKISAH"
di Bromo Art Space Jl. Raya Nongkojajar, Dsn. Mesagi, Ds. Wonosari.. Kec. Tutur, Kab. Pasuruan, Jawa Timur, Indonesia
24-05-2014 s/d 01-06-2014
Thai-Indonesia Art Exchange Exhibition
di Bentara Budaya Yogyakarta, Jl. Suroto 2, Kotabaru, Yogyakarta
23-05-2014 s/d 01-06-2014
Pameran Seni Rupa "Ngalor Ngetan" - Khoiri & Rb. Ali
di Bentara Budaya Jakarta, Jl. Palmerah Selatan 17, Jakarta 10270
23-05-2014 s/d 31-05-2014
Pameran Seniman Residensi: Makan Angin #1
di Rumah Seni Cemeti Jl. D.I. Panjaitan 41, Yogyakarta
22-05-2014 s/d 12-06-2014
Painting Exhibition: "Triwikromo" by Elka Shri Arya
di House of Sampoerna, Taman Sampoerna 6, Surabaya
20-05-2014
Diskusi Kerakyatan: EKONOMI KREATIF BERBASIS SENI & BUDAYA
di Ruang Interaktif Center Lantai I Fakultas Ilmu Sosial & Humaniora, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
20-05-2014
Dialog Budaya & Gelar Seni “YogyaSemesta” Seri-67
di Kompleks Kepatihan Danureja, Jl. Malioboro, Yogyakarta
20-05-2014
Refleksi Dwi Windu Reformasi
di Gedung PKKH (d/h Purna Budaya), Kompleks UGM, Bulaksumur Yogyakarta
17-05-2014 s/d 19-05-2014
Kirab Seni Budaya Kotagede
di Kawasan Kotagede, Yogyakarta
read more »
Senin, 23-06-2014
Dunia
oleh F. Sigit Santoso
Kamis, 29-05-2014
Menelusuri Jalur Ngalor Ngetan
oleh Kuss indarto
Selasa, 20-05-2014
Jas, Maskulinitas, dan Fragmen-fragmen Modernitas
oleh Hendra Himawan
Sabtu, 10-05-2014
Pengubahan Haluan: Masa Lalu yang Oposisional dan Masa Depan yang Tak Pasti dari Biennale Kontemporer
oleh Rafal Niemojewski
Kamis, 01-05-2014
Okomama: Bianglala Rupa Flobamorata
oleh Kuss Indarto
read more »
Merajakan Nalar di Tengah Kepungan Hedonisme
oleh Christian Heru Cahyo Saputro
Buku bertajuk: Acropolis (Kerajaan Nalar) yang merupakan kumpulan kolom karya wartawan SKH Lampung Post Heri Wardoyo (HRW) hadir meramaikan pasar wacana. Buku yang berisi kolom-kolom Heri Wardoyo ini pernah dimuat di rubrik ‘Nuansa’ Lampung Post bertitimangsa tahun...
Fantasi Balzac tentang Pulau Jawa
oleh Sigit Susanto
Merajut Masa Depan Bocah Merapi
oleh T. Nugroho Angkasa S.Pd.
Novel Kasongan, Seliat Tanah Liat
oleh R. Toto Sugiharto
read more »
LOMBA PENULISAN JURNALISTIK
Lomba Foto “Air dan Sanitasi untuk Kehidupan yang Lebih Baik”
6th Beijing International Art Biennale 2015
Sayembara Cipta Kreasi Motif Batik Seragam Dinas Harian RSUP Dr Kariadi 2014
Lomba Desain Sepatu Tingkat Nasional 2014
LOMBA DESAIN MURAL GALERI NASIONAL INDONESIA 2014
LOMBA CIPTA SENI BATIK NUSANTARA 2014
The 4th Bangkok Triennale International: Print and Drawing
Iver Jåks Artist-In-Residency Program 2014
UNDANGAN Pameran Seni Rupa Karya Guru Seni Budaya “GURU SENI BERLARI” - GALERI NASIONAL INDONESIA
read more »
04/07/2014 03:04 | Rev. Ana cole | Apakah Anda perlu bantuan keuangan/pinjaman untuk melunasi tagihan Anda, mulai atau memperluas bisnis Anda? Roya pinjaman perusahaan telah terakreditasi oleh kreditur Dewan memberikan pinjaman pinjaman persentase untuk klien lokal dan internasional. Mohon jawaban jika tertarik. Terima kasih. Wahyu Ana cole Telp: + 447012955490 Email:roya_loans@rocketmail.com
23/06/2014 12:22 | Danielbudi | Salam kenal saya pelukis asal Solo-Jawatengah mohon infonya jika ada pengumuman atau berita perihal kompetisi lukis yang terbaru sehingga saya tidak ketinggalan beritanya terimakasih.
17/06/2014 19:53 | WP | Saya merasa website ini juga berkait dengan aspek keindonesiaan: www.wayangpuki.com. Saya dan kawan2 tidak habis diskusi tentang intinya. Mungkin menarik untuk Anda? Salam.
26/04/2014 01:21 | Luki Johnson | salam kenal dari pulau Borneo
20/04/2014 09:31 | Syakieb Sungkar | terima kasih
read more »
About Us
Indonesia Art News merupakan media tentang dinamika seni yang berkait dengan aspek keindonesiaan. Media ini berusaha untuk mengedepankan segi informasi ihwal seni yang dikemas dengan cara pandang kritis dan muatan yang investigative. Indonesia Art News berkedudukan di Yogyakarta, Indonesia
Gabung di Facebook
Buku Tamu
Pengelola IAN
Editor in chief:Kuss Indarto
Editor:R. Toto Sugiarto
Designer:Andika Indrayana
Email - info@indonesiaartnews.or.id