Sabtu, 12 Mei 2012 - 17:28 WIB
Memperbarui Makna Wong Tjilik
oleh Tim Indonesia Art News
WONG TJILIK menjadi terminologi dan subyek yang memiliki pesona begitu kuat di Indonesia, baik dari perspektif politik hingga ke tinjauan estetik. Para politisi dan penyelengara negara nyaris selalu memberi penekanan dan keberpihakan pada
Jurnalisme Visual ala Levi
oleh Tim Indonesia Art News
Lomba Cerpen yang Menipu
oleh Hasta Indriyana
Relasi Kamal Guci dan Bangunan Bergonjong
oleh Anton Rais Makoginta
Kamal Guci dan Lirisisme Minangkabau
oleh Dio Pamola
  HOME     NEWS     EVENTS     ARTICLES     DIRECTORY     BOOKS     OPPORTUNITIES  
Minggu, 13 Mei 2012 - 07:56
Dari Festival Bir Zythos 2012, Belgia
oleh Bosman Batubara
Suasana Zythos Bierfestival 2012, Belgia, akhir April 2012 lalu. (foto: bosman batubara)
PADA tanggal 28 dan 29 April yang lalu di Brabanthal, Leuven berlangsung Zythos Bierfestival 2012, atau Festival Bir 2012. Berdasarkan katalog festival, ini adalah festival ke 9. Dalam Festival kali ini ada sebanyak 96 stand dengan 104 brewery (tempat pembuatan bir) yang berpartisipasi. Secara keseluruhan ada 490 jenis bir yang tersedia pada Festival tahun ini. Apa yang menarik dari sebuah festival bir?

Bir dan Belgia adalah satu. Dua buah entitas yang tak bisa dipisahkan. Dari obrolan yang pernah saya ikuti, konon di Belgia ada sekitar 700 jenis bir. Mulai dari merk yang sudah mendunia seperti Stella Artois, sampai ke merk yang hanya diproduksi lokal dan dijual di bar tertentu. Mulai dari kandungan alkohol yang rendah sekitar 4,5%, sampai dengan kandungan alkohol yang lumayan tinggi di atas 10%. Semuanya ada.

Di Leuven sendiri, bir adalah bagian dari kota. Di Oude Markt di pusat kota, ada deretan bar yang konon merupakan rangkaian bar terpanjang di Eropa dengan sebanyak 45 bar berjejer mengitari lapangan. Katholieke Universiteit Leuven (KU Leuven) sendiri tidak ketinggalan dan menyediakan banyak bar yang disubsidi oleh brewery buat para mahasiswa. Bar-bar di KU Leuven, atau yang lazim disebut fakbar (fakulteit bar) ini, adalah tempat favorit para mahasiswa karena di sini bir bisa dibeli dengan harga yang terjangkau oleh kantong mahasiswa.

Ada banyak pilihan fakbar. Misalnya untuk Fakultas Bioscience, ada fakbar yang enak di pinggir sungai dekat dengan Castle Arenberg. Fakultas Sastra punya Letteren di Blijde Inkomsstratt 11. Meskipun kecil, tetapi bar ini cukup hidup. Fakultas Social Science punya fakbar Politika di Tiensestraat 55. Dan tentu saja tak ketinggalan Pangaea, bar untuk mahasiswa internasional di Parkstraat. Dan masih banyak lagi fakbar yang masing-masing punya penggemar sendiri di KU Leuven.

Menjelang akhir pekan di hunian-hunian mahasiswa dengan mudah anda akan menemukan mahasiswa yang mendorong troli penuh berisi berkrat-krat bir untuk kepentingan pesta akhir pekan. Orang Belgia sendiri juga sangat bangga dengan birnya. Kalau anda ngobrol dengan anak muda Belgia, maka dengan sangat mudah anda akan menemukan anak muda yang tidak tahu bagaimana cara mengakhiri pembicaraan ketika memasuki topic soal bir. Pengetahuan tentang bir sepertinya sudah menubuh pada mereka.

Meskipun, saya pernah menemukan pengakuan yang agak tidak menyenangkan bagi orang luar dari salah seorang kolega mahasiswa internasional. Ketika itu, si kawan yang belajar Food Technology dan sedang dalam tahap proses pemilihan judul thesis mengaku ingin memilih bir sebagai topik thesisnya. Karena berbagai kompleksitas, akhirnya dia tidak jadi meneliti tentang bir dengan satu kesimpulan subyektif, “aku pikir mereka tidak ingin membagi pengetahuan tentang bir,” katanya. Di lain sisi, saya juga punya pengalaman lain soal bir ini.

Waktu itu saya mau mengirim kartu pos ke salah seorang kolega di Indonesia. Adalah sebuah kelaziman ketika anda mengirimkan kartu pos, kalau kebetulan anda sedang bersama teman, maka anda juga meminta teman tersebut untuk menuliskan sesuatu di kartu pos yang akan anda kirim. Saya yang sedang bersama seorang teman Belgia, spontan saja memintanya menuliskan sesuatu di kartu pos. Tebak apa yang ia tulis, “Hello, jangan lupa mencoba bir kami. Salam dari Belgia.” Nah…

Kembali ke Festival. Pemerintah menyediakan bus gratis dari stasiun Leuven ke Brabanthal yang dapat ditempuh kira-kira lima belas menit. Salah satu alasannya, seperti yang tercantum di katalog, “Please remember that alcohol and driving, don’t mix, so please make use of the public transportion.” Ini adalah sisi yang lain dari orang Belgia. Mereka tetap berfikir soal keselamatan dan kepentingan umum ketika mabuk. Sepanjang hampir dua tahun di Belgia, tidak sekalipun saya melihat orang mabuk berkelahi di dalam bar.

Sampai di venue festival, anda langsung disambut dengan stand pembelian koin. Lima buah koin dapat dibeli dengan harga 7 Euro dan masing-masing koin dapat ditukar dengan segelas bir yang anda sukai. Sebuah harga yang cuku murah, mengingat dengan begitu segelas bir berharga sekitar 1,4 Euro. Bandingkan dengan di bar-bar di Oude Markt dimana satu gelas bir berharga antara 2 sampai 3,5 Euro. Tentu saja harga bir yang sedikit miring di fakbar di dalam kampus adalah pengecualian. Untuk gelas, dengan uang 3 Euro anda mendapatkan sebuah gelas cantik dengan logo Festival. Kalau anda tak tertarik mengoleksi gelasnya, maka menjelang pulang tinggal dikembalikan dan uang 3 Euro anda kantongi kembali.

Berdasarkan rekomendasi Ward, seorang kawan Belgia yang kuliah di jurusan Earth Observation, saya mengawali festival dengan segelas Duchesse De Bourgogne dengan kandungan alkohol 6,2 persen. Bir ini diproduksi oleh brewery Verhaghe di Vichte, sebuah desa dengan penduduk sekitar 4500 orang di bagian barat Falnders. Rasanya mirip-mirip dengan wine.

Tentu saja kesempatan ini tidak saya lewatkan untuk berbincang-bincang dengan orang-orang Belgia yang tiba-tiba saja rasanya semua berubah menjadi pakar bir. Secara random saya bertemu dengan seorang yang mengaku bernama Bix. Kepadanya saya tanya, apa bir favoritnya. Dia menjawab Cuvẻe des Trolls.

Cuvẻe des Trolls, demikian menurut Bix, sangat pas dipakai untuk pesta. Ya, mungkin Stella Artois adalah favorit para mahasiswa, terutama mahasiswa KU Leuven karena selain harganya relatif murah dan kandungan alkoholnya tidak begitu tinggi (5,2%) juga karena brewery-nya ada di Leuven. Cuvẻe des Trolls, dengan konsentrasi alkohol 7%, sedikit lebih tinggi tetapi sangat pas menjembatani berbagai keinginan. Kalau anda mengadakan pesta dan mengundang orang-orang dari berbagai latar belakang, maka angka 7% berada di tengah. Tidak terlalu rendah untuk peminum bir kelas berat dan tidak terlalu tinggi untuk seorang yang tidak terlalu sering minum bir. Saya tidak pernah mengadakan pesta kecil dimana satu krat bir langsung habis begitu saja, bam, kecuali dengan Cuvẻe des Trolls, tutup Bix meyakinkan.

Bir lain yang saya coba adalah Zinnebir yang diproduksi oleh brewery Brasserie de la Senne, Brussels. Bir ini saya tahu sudah sejak lama dari seorang teman yang kebetulan berasal dari Brussels. Menurut si kawan, bir ini merepresentasikan Brussels yang memiliki penduduk dari bermacam-macam bangsa. Bir ini rasanya ramai. KU Leuven sendiri tidak ketinggalan berpartisipasi dalam Festival kali ini melalui salah satu bir hasil pusat penelitiannya. Ketika Vicky, teman sekelas dari Guatemala, saya tanya seperti apa rasanya, sambil tertawa dia menjawab: ‘rasanya seperti PR dan thesis’.

Para pengunjung Festival bukan cuma berasal dari Leuven dan sekitarnya, tetapi mereka berdatangan dari berbagai lokasi di Belgia, bahkan tampaknya ada yang dari mancanegara. Dalam bis perjalanan pulang di sore hari sekitar pukul 8, kami duduk berhadapan dengan dua orang pengunjung yang dari logatnya, saya duga mereka berasal dari Inggris. Mereka mengaku mengawali Festival mereka hari itu sekitar pukul 12 siang dan telah meminum sebanyak 26 jenis bir. Seorang ibu yang kebetulan duduk di dekat kami cuma tersenyum-senyum mendengarnya dan kemudian ia bertanya, ‘apa kamu masih ingat namamu?’

Bagi Indra (seorang teman Indonesia) dan saya, satu-satunya hal yang mengganjal yang sempat kami obrolkan adalah adalah Festival yang diadakan di dalam ruangan. Saya membayangkan andai ia diadakan di alam terbuka, mungkin Festival ini akan jauh lebih seru. Cuma itu memang hampir mustahil di Belgia karena cuaca yang sangat tidak menentu. ***

Penulis adalah mahasiswa Interuniversity Programme in Water Resources Engineering, Katholieke Universiteit Leuven and Vrije Universiteit Brussel, Belgia.
Leave a Comment
Please feel free to let us know your feeling about this
Your Name
Your Comment
Your Email
Image Verification
Captcha Image Reload Image
Utk ganti paragraf silakan klik
Comments:
19-05-2012
Talkshow Budaya
di Monumen Perjuangan, Jl. Niti Mandala, Renon, Denpasar
18-05-2012
"IN MEMORIAM HERU EMKA & LAUNCHING Antologi Puisi Mbeling SUARA-SUARA YANG TERPINGGIRKAN"
di Bentara Budaya Yogyakarta (Kompleks Harian Kompas) Jalan Suroto No. 2, Kotabaru, Yogyakarta
16-05-2012 s/d 31-05-2012
Pameran Tunggal Seni Rupa Gigih Wiyono: “THE GOLDEN WOMAN”
di Galeri Cemara 6, Jl. Cemara No. 6, Menteng Jakarta Pusat
16-05-2012 s/d 20-05-2012
METAMORPHOSIS; SUGIH ORA TUWO IYO
di JW 54, Cafe n Resto Nusantara, Jl. Raya Jati Waringin No. 54, Pondok Gede, Jakarta Timur
16-05-2012
Melukis Bersama & Bincang-bincang Seni
di Mercusi Cafe &Resto, Tambaknegara, (dekat bendung gerak Serayu), kec. Rawalo, Kab. Banyumas
15-05-2012
arasehan Seni Rupa Bertajuk: ENVIRONMENT ART
di House of Cross-Culural Studies, Kampoeng Ngoro Tengah, Triyagan (Jl Raya Solo-Tw.Mangu Km 7,5, Apotik Jaten ke Selatan, Pentok belok kiri 100 Meter)
14-05-2012 s/d 18-05-2012
Pameran Lukisan "Dunia Perminyakan"
di Galeri Nasional Indonesia, Jl. Medan Merdeka Timur 14, Jakarta Pusat
14-05-2012
Bedah Buku Novel "Maryam", karya Okky Madasari
di Ruang Teaterikal Perpustakaan, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
13-05-2012 s/d 15-05-2012
Pameran Poster dan Foto Pertunjukan Mugiyono Kasido
di Balai Soedjatmoko, Jl Slamet Riyadi 284 Solo
13-05-2012
Diskusi
di DIMENSI ART GALLERY Jl. Residen Sudirman No. 26 SURABAYA
read more »
Minggu, 13-05-2012
Dari Festival Bir Zythos 2012, Belgia
oleh Bosman Batubara
Minggu, 06-05-2012
Topi: Tradisi, Tren, dan Tanda
oleh Deni S. Jusmani
Sabtu, 28-04-2012
Mitos Pulung Gantung di Gunung Kidul (Bagian 2-Habis)
oleh Ivan Sagita
Minggu, 22-04-2012
Mitos Pulung Gantung di Gunung Kidul (Bagian 1)
oleh Ivan Sagita
Selasa, 10-04-2012
Relational Marketing dalam Seni Pertunjukan Teater
oleh Sri Bramantoro Abdinagoro
read more »
Masih adakah tempat untuk puisi?
oleh Sabrina Puisi Mubarak
JUDUL tulisan ini terdengar sangat pesimistis, apa memang demikian keadaan zaman (modern) sekarang?

Mario Vargas Llosa dalam essai
Menguak Sejarah Keroncong dari Kampung Tugu
oleh Erie Setiawan
Tegaknya Hukum dalam Prosa Klasik China
oleh Imam Muhtarom
Kebencian Dalam Sketsa Sastra Cinta
oleh Yasser Asturanawa
read more »
Open call: Green World Art and Culture Festival 2012, India
Residence Support Program at Akiyoshidai International Art Village
Artists’ Residency Programme at IMMA
Lomba Kreativitas Ilmiah Guru 2012
KODAK Student Cinematography Scholarship Award
LOMBA KARYA TULIS TENTANG PEMILU GUBERNUR & WAGUB DKI JAKARTA 2012
AIR Taipei Open Call 2012
Lomba Review Puisi Esay Karya Denny JA
Lomba Desain Alas Kaki Tingkat Nasional 2012
32th International Nasreddin Hodja Cartoon Contest
read more »
14/05/2012 01:40 | Antropusx | Ya ... desain jelas perlu diubah :) Warna hijau gelap akan cocok dengan sempurna xD
12/05/2012 23:35 | Lindaindoa |
06/05/2012 13:18 | djoe_td | i like this site..
30/04/2012 09:22 | di | site nya mantep dan aku suka !
29/04/2012 21:39 | steervems | This is a very informative website that always delivers good content.
read more »
About Us
Indonesia Art News merupakan media tentang dinamika seni yang berkait dengan aspek keindonesiaan. Media ini berusaha untuk mengedepankan segi informasi ihwal seni yang dikemas dengan cara pandang kritis dan muatan yang investigative. Indonesia Art News berkedudukan di Yogyakarta, Indonesia
Gabung di Facebook
Buku Tamu
Pengelola IAN
Editor in chief:Kuss Indarto
Editor:R. Toto Sugiarto
Designer:Andika Indrayana
Email - info@indonesiaartnews.or.id