Jum'at, 04 Juli 2014 - 21:15 WIB
Melihat ArtJog, Menyimak Go to Hell Crocodile
oleh Fathiyyah Fairuz
ART JOGJA, selanjutnya disebut ARTJOG merupakan event tahunan yang dilaksanakan untuk mewadahi karya seni rupa para seniman dalam bentuk pameran yang terbuka untuk umum, biasanya diselenggrakan pada bulan Juni atau Juli, saat masa liburan. Tahun ini berlangsung pada tanggal 7 hingga 29 Juni 2014. Tidak sembarang karya bisa ditampilkan di event ini. CEO ARTJOG, Heri...
Bung Karno Transit di ARTJOG
oleh Arif Budiman
Dolan-dolan Merapi
oleh Arahmaiani
Laissez Faire! Willem Kootstra
oleh Abah Jajang Kawentar
Sampah, dan “Imaji Terbuang”
oleh Novita Yulia
  HOME     NEWS     EVENTS     ARTICLES     DIRECTORY     BOOKS     OPPORTUNITIES  
Senin, 14 Juli 2014 - 08:03
Bukan Tokoh Nusantara
oleh Abah Jajang Kawentar
"Gus Dur", sebuah drawing berukuran 80 x 40 cm karya Pungky Purbowo. (foto: Jajang Kawentar)
DALAM beberapa tahun terakhir isu tentang konsep kenegaraan Nusantara menguat kembali menjadi wacana percaturan politik Indonesia. Istilah Nusantara sebagai sinonim dari kepulauan Indonesia yang dihidupkan kembali pada awal abad 20 oleh Ki Hajar Dewantara, namun sesungguhnya Nusantara merupakan konsep kenegaraan yang diadopsi dari kerajaan Singhasari atau Singosari. Isu Nusantara ini lebih dikuatkan ketika Arysio Santos dari Brasil mengungkapkan hasil penelitiannya selama 30 tahun dalam bukunya, Atlantis, The Lost Continent Finally Found, The Definitive Localization of Platos Lost Civilization (2009), Santos mengungkapkan 33 perbandingan seperti luas wilayah, cuaca, kekayaan alam, gunung berapi, cara bertani, dan sebagainya, dan kemudian menyimpulkan bahwa yang disebut Plato sebagai Atlantis adalah Nusantara atau yang dikenal sebagai Indonesia.

Hal yang sama diungkapkan oleh peneliti berkebangsaan Inggris, Profesor Stephen Oppenheimer dalam bukunya yang berjudul The East: The Drowned Continent of Southeast Asia (1998). Oppenheimer menyebutkan sebuah benua yang tenggelam akibat banjir bandang yang terjadi pada 7.000 hingga 14.000 tahun yang silam. Banjir bandang tersebut kemudian "memecah" wilayah yang disebut Oppenheimer sebagai Sundaland menjadi pulau-pulau yang dikenal saat ini. Sebagian wilayah yang tenggelam tersebut merupakan wilayah Asia Tenggara. Disebutkannya pula bahwa penduduk Sundaland sudah memiliki peradaban yang maju, bahkan lebih maju dari bangsa-bangsa yang disebut sebagai pusat peradaban modern seperti Mediterania, Mesopotamia, dan Mesir. Oppenheimer yang merupakan peneliti dari Universitas Oxford bahkan berani menyebutkan wilayah Sundaland merupakan pusat peradaban manusia modern. Ini berdasarkan hasil penelitiannya tentang agrikultur di Indonesia yang lebih maju dari peradaban agrikultur bangsa lain. Ketika bangsa lain mengandalkan perdagangan, bangsa Nusantara sudah mengenal sistem pertanian yang bagus.

Kata Nusantara sendiri berasal dari bahasa Jawa kuno yang berarti “Kepulauan”. Banyak pihak mengkaitkan kata ini dengan Sumpah Amukti Palapa yang diucapkan oleh Maha Patih Majapahit, Gajah Mada pada tahun 1336. Namun, kata Nusantara sendiri untuk pertama kali digagas oleh Kertanegara yang merupakan raja Singosari pada tahun 1275 di kitab Pararaton dan Negarakertagama. Kata ini merujuk pada konsep yang disebut Kertanegara sebagai Cakravala Mandala Dvipantara atau Nusa Antara. Kertanegara sendiri menggagas ide tentang Nusantara untuk menyatukan seluruh wilayah Asia Tenggara di bawah kekuasaannya guna membendung kekuasaan Dinasti Yuan dari Mongol. Ide tentang Nusantara menurut Kertanegara adalah wilayah dari Burma, kepulauan Melayu, sampai Jawa yang berpusat di Singosari, daerah kecil di dekat Malang .

Konsep modern tentang Nusantara pertama kali digagas oleh Setiabudi seorang Belanda yang memiliki nama asli Ernest Francois Eugene Douwes Dekker pada tahun 1920. Konsep yang diajukan Setiabudi tentang Nusantara sangat berbeda dengan konsep yang digagas oleh Kertanegara dan Gajah Mada dimana istilah Nusantara menurut kedua tokoh besar ini mengandung penaklukkan wilayah-wilayah demi alasan ekonomi dan politik yang berujung dengan penjajahan. Sementara Setiabudi menyebut Nusantara sebagai sebuah konsep negara kesatuan yang wilayahnya meliputi Sabang sampai Merauke sebagai Nusantara. Wilayah ini kemudian dikenal secara politis sebagai Indonesia.

Kegagalan Para Tokoh

Mencuatnya kembali pemikiran Nusantara diakibatkan oleh kegagalan yang dialami negeri kepulauan ini, yang didaulat bernama Indonesia pada tahun 1928, yang berarti kepulauan Hindia. Walaupun nama Indonesia lebih dulu digunakan oleh Partai Komunis Indonesia (PKI) ketika mengubah nama dari Partai Komunis di Hindia (PKH) pada kongres tahun 1924 di Semarang.

Kegagalan Indonesia sebagai negara yang disegani dunia luar, salah satu penyebabnya antara lain karena kegagalan para tokoh yang memegang tampuk pemerintahan dalam memelihara dan mengembangkan warisan Nusantara. Kegagalan itu dipicu oleh para tokoh yang rata-rata bergerak bukan pada bidangnya, pada relnya. Mereka lebih bertitikpandang pada penciptaan undang-undang dari pada melihat potensi alam, masyarakat dan negara, yang menjadikan kemakmuran hanya dicapai oleh segelintir orang, sementara kehidupan negara secara keseluruhan masih saja terbelakang. Kekayaan sumber daya alam dan sumber daya manusia menjadi dikuasai oleh para pemodal, penguasa dan kemudian disebut tokoh. Penokohan ini akibat sistem politik dan kenegaraan.

Ironisnya lagi, kini tokoh-tokoh yang menokohkan tokoh lain juga ikut ditokohkan, kian dipopularkan, digaung-gaungkan dan sebagian diagung-agungkan, meskipun korup dan menindas masyarakat. Tokoh ini oleh kelompok pendukungnya dimunculkan dengan berbagai trik dan intrik guna menarik simpati dan membenarkan dalam penokohannya tersebut. Bahkan ada lembaga yang khusus menangani penokohan dan pencitraannya.

Sementara konsep kenegaraan Nusantara hanya menjadi jargon untuk komoditas politik dan bukan sebagai landasan untuk membangun konsep nation building, seperti merujuk pada konsep Nusantara dari Ki Hajar Dewantara dan Setiabudi. Jika merujuk pada konsep kepemimpinan Nusantara menurut Ki Hajar Dewantara memiliki tiga azas, Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa dan Tut Wuri Handayani (di depan memberi contoh, di tengah memberi semangat, di belakang memberi dorongan). Ketiga azas tersebut dapat digunakan sebagai standar minimal dalam melaksanakan tugas kepemimpinan bangsa ini. Sehingga para pemimpin yang ditokohkan dan tokoh yang memimpin menjadi panutan tokoh masyarakat serta masyarakat tokoh, atau calon-calon tokoh.

Potrait Tokoh

Pada perkembangannya saat ini para tokoh tersebut sibuk mengatasnamakan bangsa dan negara padahal ‘mungkin’ untuk kepentingan pribadi dan kelompoknya. Perilaku yang sering disebut-sebut tokoh saat ini ibaratnya sedang berlomba melakukan pencitraan diri, dan seperti semakin mengesampingkan tanggung jawab yang diembannya: membangun bangsa dan negara, melainkan sibuk menjalin konspirasi politik atau korupsi. Sehingga citra dari berbagai potensi sumber daya alam dan sumber daya manusia tidak menjadi fokus kerja, kecuali memperkaya diri dengan korupsi, kolusi dan nepotisme. Perilaku seperti ini jelas menindas rakyat, walaupun sebagian masyarakat menganggap wajar, karena memang sudah jamannya. Kemudian muncul pertanyaan dan mungkin juga pernyataan, apakah memang tipikal tokoh Indonesia yang ditokohkan dan menokohkan berperilaku korup? Tentu saja tidak seluruhnya, namun ada dan sudah bukan rahasia.

Di titik inilah Pungki Purbowo (53), mantan mahasiswa Akademi Seni Rupa (ASRI) kini Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, yang juga aktif berproses di Sanggarbambu setelah 22 tahun sanggar ini berdiri, mengabadikan beberapa potrait yang dianggapnya tokoh di negeri ini dan juga ditokohkan oleh banyak orang, ke dalam karyanya melalui teknik drawing dengan menggunakan pena (ballpoint). Drawing Purbowo menjadi sangat menarik untuk diapresiasi sehubungan akan dibawa kemana negeri ini oleh para tokoh yang masih aktif tersebut, dengan konsep kenegaraan Indonesia terkini. Sementara bagi Purbowo gambar-gambar tokoh tersebut sebagai pendalaman dan pengenalannya berdasarkan pengalaman batinnya. Drawing menjadi bahasa ungkap terhadap kenangan, laku sejarah, gerakan sosial dan perjuangan yang dilalui para tokoh yang menjadi objeknya. Seperti terungkap pada karya-karya yang dipamerkan di Caffe Anglo Art Space Yogyakarta, salah satunya drawing presiden yang berkuasa 32 tahun setara dengan 7 Repelita (Rencana Pembangunan Lima Tahun) dan wajah seorang perempuan yang memperjuangkan nasib buruh dari Jawa Timur yang diculik kemudian ditemukan terbunuh.

Selain itu mengenang beberapa potrait tokoh bangsa Indonesia yang akhir-akhir ini sering menjadi bahan pembicaraan dalam berbagai kegiatan diskusi, dalam menghadapi pesta demokrasi, pemilihan umum presiden 2014. Guna mengingatkan dari yang sering dilupakan bahwa sebelum terbentuknya negara Republik Indonesia, ada Nusantara. Namun tokoh-tokoh Nusantara sering tidak terbaca.

Di sini kita seperti disadarkan oleh seorang Purbowo mengenai tokoh-tokoh yang selama ini dikenal luas. Bagaimana Purbowo menunjukkan kekuatannya atau keahliannya dalam menggambar sosok. Ketajaman menangkap karakter tokoh melalui garis dan setiap arsirannya dari pena yang memunculkan karakter tokoh, menjadi karakter Purbowo dalam pencitraan karya drawing-nya. Dia terlebih dulu menguasai karakter pena yang memerlukan ketepatan perhitungan, karena hasil goresan dan arsirannya tidak memungkinkan baginya untuk dihapus apabila terjadi kesalahan.

20 karya drawing Purbowo berukuran 80cm x 40cm di atas kertas yang dibuat antara 2013-2014, kali ini mempertemukan tokoh-tokoh dalam satu ruang pamer, seakan mereka sedang melakukan rapat koordinasi atau konferensi restruktur konsep kenegaraan, bagaimana Nusantara mengulang kejayaannya. Diantara yang ditokohkan Purbowo termasuk sebagai objek drawing-nya adalah dua kandidat Calon Presiden (Capres). Apakah Tokoh yang menjadi karya drawing Purbowo merupakan tokoh Nusantara, atau bukan tokoh Nusantara, menjadi bagian pemikiran yang diserahkan kepada semua pihak yang menilainya. Sebab alasannya tokoh atau bukan tokoh itu bisa bermula dari keputusan setiap personal.

Namun demikian barangkali kita dapat sepakat dengan Purbowo, bahwa dalam berkarya antara pahlawan dan pengkhianat menjadi tidak penting, karena pengkhianat itu bisa jadi musuhnya dalam berpolitik, namun bagi para pendukungnya bisa saja mereka sebagai pahlawan. Begitupun antara tokoh Nusantara dan tokoh Indonesia menjadi tidak lebih penting, karena yang penting di sini adalah ekspresi para tokoh tersebut sebagaimana diekspresikan Purbowo melalui karya-karya drawingnya dalam pameran tunggalnya tersebut. Meskipun karya-karya drawing yang dipamerkannya tidak akan mengubah pandangan politik dan ideologi masyarakat karena tokoh-tokoh yang menjadi objeknya. ***

Abah Jajang Kawentar, penulis, aktif di Indonesia Art Critique Community, Yogyakarta.
Leave a Comment
Please feel free to let us know your feeling about this
Your Name
Your Comment
Your Email
Image Verification
Captcha Image Reload Image
Utk ganti paragraf silakan klik
Comments:
Rabu, 23 Juli 2014 - 20:02
Ashley - llukmzsbhf@live.com
Thanks so much for the post.Much thanks again. Want more. Ashley http://jennifertall.page.tl/Feet-Aches.htm
01-06-2014 s/d 30-06-2014
Pameran Lukisan Yaksa Agus: ‘ART Joke: Menunggu Godot’
di Tirana Art Space Jl Suryodiningratan 55, Yogyakarta
31-05-2014 s/d 08-06-2014
Bolo Kulon Painting Exhibition: "PASURUAN BERKISAH"
di Bromo Art Space Jl. Raya Nongkojajar, Dsn. Mesagi, Ds. Wonosari.. Kec. Tutur, Kab. Pasuruan, Jawa Timur, Indonesia
24-05-2014 s/d 01-06-2014
Thai-Indonesia Art Exchange Exhibition
di Bentara Budaya Yogyakarta, Jl. Suroto 2, Kotabaru, Yogyakarta
23-05-2014 s/d 01-06-2014
Pameran Seni Rupa "Ngalor Ngetan" - Khoiri & Rb. Ali
di Bentara Budaya Jakarta, Jl. Palmerah Selatan 17, Jakarta 10270
23-05-2014 s/d 31-05-2014
Pameran Seniman Residensi: Makan Angin #1
di Rumah Seni Cemeti Jl. D.I. Panjaitan 41, Yogyakarta
22-05-2014 s/d 12-06-2014
Painting Exhibition: "Triwikromo" by Elka Shri Arya
di House of Sampoerna, Taman Sampoerna 6, Surabaya
20-05-2014
Diskusi Kerakyatan: EKONOMI KREATIF BERBASIS SENI & BUDAYA
di Ruang Interaktif Center Lantai I Fakultas Ilmu Sosial & Humaniora, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
20-05-2014
Dialog Budaya & Gelar Seni “YogyaSemesta” Seri-67
di Kompleks Kepatihan Danureja, Jl. Malioboro, Yogyakarta
20-05-2014
Refleksi Dwi Windu Reformasi
di Gedung PKKH (d/h Purna Budaya), Kompleks UGM, Bulaksumur Yogyakarta
17-05-2014 s/d 19-05-2014
Kirab Seni Budaya Kotagede
di Kawasan Kotagede, Yogyakarta
read more »
Senin, 14-07-2014
Bukan Tokoh Nusantara
oleh Abah Jajang Kawentar
Senin, 23-06-2014
Dunia
oleh F. Sigit Santoso
Kamis, 29-05-2014
Menelusuri Jalur Ngalor Ngetan
oleh Kuss indarto
Selasa, 20-05-2014
Jas, Maskulinitas, dan Fragmen-fragmen Modernitas
oleh Hendra Himawan
Sabtu, 10-05-2014
Pengubahan Haluan: Masa Lalu yang Oposisional dan Masa Depan yang Tak Pasti dari Biennale Kontemporer
oleh Rafal Niemojewski
read more »
Merajakan Nalar di Tengah Kepungan Hedonisme
oleh Christian Heru Cahyo Saputro
Buku bertajuk: Acropolis (Kerajaan Nalar) yang merupakan kumpulan kolom karya wartawan SKH Lampung Post Heri Wardoyo (HRW) hadir meramaikan pasar wacana. Buku yang berisi kolom-kolom Heri Wardoyo ini pernah dimuat di rubrik ‘Nuansa’ Lampung Post bertitimangsa tahun...
Fantasi Balzac tentang Pulau Jawa
oleh Sigit Susanto
Merajut Masa Depan Bocah Merapi
oleh T. Nugroho Angkasa S.Pd.
Novel Kasongan, Seliat Tanah Liat
oleh R. Toto Sugiharto
read more »
LOMBA PENULISAN JURNALISTIK
Lomba Foto “Air dan Sanitasi untuk Kehidupan yang Lebih Baik”
6th Beijing International Art Biennale 2015
Sayembara Cipta Kreasi Motif Batik Seragam Dinas Harian RSUP Dr Kariadi 2014
Lomba Desain Sepatu Tingkat Nasional 2014
LOMBA DESAIN MURAL GALERI NASIONAL INDONESIA 2014
LOMBA CIPTA SENI BATIK NUSANTARA 2014
The 4th Bangkok Triennale International: Print and Drawing
Iver Jåks Artist-In-Residency Program 2014
UNDANGAN Pameran Seni Rupa Karya Guru Seni Budaya “GURU SENI BERLARI” - GALERI NASIONAL INDONESIA
read more »
04/07/2014 03:04 | Rev. Ana cole | Apakah Anda perlu bantuan keuangan/pinjaman untuk melunasi tagihan Anda, mulai atau memperluas bisnis Anda? Roya pinjaman perusahaan telah terakreditasi oleh kreditur Dewan memberikan pinjaman pinjaman persentase untuk klien lokal dan internasional. Mohon jawaban jika tertarik. Terima kasih. Wahyu Ana cole Telp: + 447012955490 Email:roya_loans@rocketmail.com
23/06/2014 12:22 | Danielbudi | Salam kenal saya pelukis asal Solo-Jawatengah mohon infonya jika ada pengumuman atau berita perihal kompetisi lukis yang terbaru sehingga saya tidak ketinggalan beritanya terimakasih.
17/06/2014 19:53 | WP | Saya merasa website ini juga berkait dengan aspek keindonesiaan: www.wayangpuki.com. Saya dan kawan2 tidak habis diskusi tentang intinya. Mungkin menarik untuk Anda? Salam.
26/04/2014 01:21 | Luki Johnson | salam kenal dari pulau Borneo
20/04/2014 09:31 | Syakieb Sungkar | terima kasih
read more »
About Us
Indonesia Art News merupakan media tentang dinamika seni yang berkait dengan aspek keindonesiaan. Media ini berusaha untuk mengedepankan segi informasi ihwal seni yang dikemas dengan cara pandang kritis dan muatan yang investigative. Indonesia Art News berkedudukan di Yogyakarta, Indonesia
Gabung di Facebook
Buku Tamu
Pengelola IAN
Editor in chief:Kuss Indarto
Editor:R. Toto Sugiarto
Designer:Andika Indrayana
Email - info@indonesiaartnews.or.id