Senin, 30 Maret 2015 - 16:15 WIB
Kuburan dan Sampah M. Yatim Membawa Sial
oleh Tim Indonesia Art News
KARYA seni rupa tak selamanya mudah untuk dihadirkan di tengah-tengah masyarakat pendukungnya. Meski muatan dalam karyanya sama sekali tidak politis atau tidak mengandung dugaan ke arah SARA (Suku, Ras, dan Agama), namun tetap saja kemungkinan penolakan terhadap karya seni ada. Seniman Medan, M. Yatim Mustafa, Sabtu malam, 28 Maret 2015 pun mengalaminya. Tiga lukisan...
Rekayasa Media
oleh Agni Saraswati
Sejarah yang Jauh di Dekat Kita
oleh Kuss Indarto
Reproduksi (dan) Ironi
oleh Grace Samboh
Kabar Gembira dari Tenggara
oleh Argus FS
  HOME     NEWS     EVENTS     ARTICLES     DIRECTORY     BOOKS     OPPORTUNITIES  
Minggu, 12 April 2015 - 08:07
Dinamika Seni Rupa (di) Pasuruan
oleh Wahyu Nugroho
Para perupa Pasuruan, Jawa Timur, tengah berpose di depan gedung Yon Zipur, Pasuruan. (foto: wahyu nugroho)
1. Latar Belakang Pembantukan Komunitas

Sudah menjadi persoalan umum, krisis moral semakin meresahkan kehidupan masyarakat, termasuk di Pasuruan. Berbagai kalangan, pendidik, pemuka agama, tokoh masyarakat, ilmuwan hingga budayawan – mencoba menyajikan format penyelesaian. Namun, alih-alih ditemukan jalan keluar, justru krisis tersebut kian hari kian menjadi-jadi. Mengapa?

Krisis moral ini tidak saja melanda manusia dewasa, tetapi telah merambah ke dunia remaja. Seringkali kita melihat, mendengar, atau membaca berita tentang perbuatan-perbuatan asusila, penyalahgunaan narkoba, miras, atau kekerasan di kalangan pelajar dan generasi muda. Sebagai warga “Kota Santri” tentu masyarakat Pasuruan dibuat “nelangsa”.  Bagaimana mungkin hal itu bisa terjadi?

Tak ayal, berbagai pendapat pun bermunculan ke permukaan, ada yang memaki-maki, menyalahkan orangtua, menyalahkan pendidikan, ajakan untuk kembali mendalami ajaran agama. Apa hasilnya? Persoalan moralitas terus berlanjut. Para tokoh hanya mengemukakan pendapat-pendapat, setelah itu kembali pada rutinitas harian mereka: ke kantor, berdakwah, berdagang dan dilanjutkan ngrumpi dengan teman sejawat. Nyaris tak ada upaya-upaya yang lebih konkret untuk mengawal penguatan nilai-nilai moralitas di tengah warga Kota Santri ini. Bertolak dari keprihatinan itu, para perupa Pasuruan mencoba memberi “alternatif lain” dalam memberi jawab atas permasalahan moralitas di atas.

Pada hemat kami, pangkal kegagalan dalam mengatasi masalah moralitas itu karena kesempitan sudut pandang dalam memaknai persoalan moralitas, yaitu tentang baik-buruk atau halam-haram semata. Akibatnya, upaya untuk mengatasi masalah-masalah tersebut dengan cara dicekoki secara intensif pengetahuan tentang hukum-hukum baik-buruk atau hukum halal-haram yang disampaikan secara normatif.

Kami melihat, masalah moralitas bukanlah sekadar persoalan baik-buruk. Lebih dari itu, masalah moralitas adalah perkara penafikan “dunia dalam” yang berisi superego dan spiritualisme. Akibat “kecintaan yang berlebihan” terhadap dunia materi, yang kerapkali dibarengi dengan pengidentifikasian terhadapnya, manusia menjadi teralienasi terhadap “dunia dalam” nya sendiri. Padahal, di dalam dunia ini bersumber nilai-nilai moralitas yang dapat meningkatkan martabat kemanusiaan seseorang. Penafikan pada sumber-sumber ini menyebabkan degradasi nilai-nilai kemanusian.

Berkesenian merupakan sarana untuk menyelami “dunia dalam” tersebut. Lewat berkesenian, pencipta seni “diwajibkan” untuk menghayati dunia batinnya, penghayatannya, spiritualitasnya, religiousitasnya serta tanggung jawabnya sebagai manusia. Maka, dengan berkesenian, secara langsung atau tidak langsung, akan terjadi proses pendidikan moralitas pada pelakunya.

Namun sayang, berkesenian seringkali dipandang juga dalam wilayah yang sempit, sehingga mengalami distorsi makna. Berkesenian hanya dipahami sebagai persoalan keterampilan teknis, jalan untuk mencapai popularitas, dan urusan finansial. Banyak karya baru lahir tanpa memantulkan kedalaman penghayatan dan nyaris tanpa empati terhadap kondisi sosial lingkungannya. Kesenian dimaknai sekadar mempertotonkan kepiawaian ketrampilan teknis, ajang pamer popularitas, dan saling berlomba dalam mengejar materi. Akibat dari perlakuan terhadap kesenian seperti ini, kekuatan berkesenian sebagai proses pendidikan moralitas hampir tidak pernah terjadi.

Komunitas ini lahir untuk mencoba ikut berperan dalam mengatasi masalah moralitas, khususnya di Pasuruan. Cara yang dilakukan adalah dengan menebarkan “virus-virus” berkesenian sebagai pilar penyangga martabat kemanusiaan insan-insan yang terlibat di dalamnya, khusunya kreator dan apresiator di kalangan masyarakat umum, terutama di kalangan remaja dan generasi muda. Namun harus disadari bahwa niat itu akan menjadi sebuah utopia jika tidak diikuti oleh agenda-agenda yang jelas dan berkelanjutan. Agenda-agenda yang kami canangkan juga akan menguap sia-sia apabila masyarakat dan pemerintah enggan berperan aktif sebagai wujud kepeduliannya untuk ikut mengemban misi ini.

2. Misi Komunitas

Jose Ortega Y Gasset[1883-1955] filosuf asal Spanyol mengatakan, “Dunia adalah dunia dalam keakrabannya dengan sang aku. Dunia adalah dunia yang memperoleh makna dalam kesejarahan manusia”. Dari pendapat tersebut, ada beberapa makna yang bisa diambil. Pertama, dunia bagi seseorang adalah “seluas” persepsi yang bersangkutan terhadap dunianya. Sehingga, “luasnya” dunia ini berbeda-beda antara satu orang dengan lainnya. Bagi seorang ahli elektro, dunia elektronik adalah dunianya. Kedua, “warna persepsi” seseorang terhadap dunianya itu sangat dipengaruhi “apa” yang telah “diisikan” ke dalam persepsinya itu. Ketiga, makna dunia bagi seseorang bergantung pada “apa” yang telah memenuhi ruang persepsinya tersebut.

Pertanyaanya adalah apa yang telah “diisikan” ke dalam persepsi manusia jaman sekarang?
Barangkali sulit dipungkiri bahwa melalui “ideologi globalisasi”, negara-negara maju telah berhasil mencekokkan paham hedonisme kepada sebagian besar umat manusia, termasuk manusia-manusia Indonesia. Paham hedonisme ini terutama sangat digandrungi kaum muda.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, hedonisme diartikan sebagai pandangan yang menganggap kesenangan dan kenikmatan materi sebagai tujuan utama dalam hidup (KBBI, edisi ketiga, 2001). Dengan begitu, mereka yang “terjerembab” dalam paham ini akan menjadikan pandangan hidupnya semata-mata untuk menghindari penderitaan dan mencari kebahagian yang dicapai melalui pemuasan keinginan materi.

Hedonisme menyebarkan paham bahwa segala macam penderitaan adalah bertentangan dengan keinginan setiap manusia. Oleh karena itu, harus dihindari. Sedangkan, kenikmatan materi merupakan kebutuhan hakiki setiap manusia. Sehingga, setiap manusia harus terus-menerus mencari sumber-sumber kenikmatan materi seraya menjauhi segala macam yang dianggap sebagai penderitaan, atau hal yang tidak menyenangkan.

Dari paham hedonisme ini, muncul beberapa dampak yang justru dapat menghancurkan dimensi kemanusiaan. Pertama, kehendak menolak setiap penderitaan memunculkan keengganan bekerja keras. Kerja keras diidentikkan dengan penderitaan. Kedua, keyakinan bahwa sumber kebahagiaan satu-satunya adalah pemenuhan kebutuhan-kebutuhan materi telah mendorong manusia menjadi mahluk rakus, yang aktivitas hidupnya digunakan untuk mengumpulkan benda-benda materi sebanyak-banyaknya. Ketiga, keinginan untuk menghindari penderitaan, termasuk bekerja keras, dan keinginan untuk memperoleh benda-benda materi sebanyak-banyaknya, mendorong manusia cenderung mengambil jalan pintas dalam memperoleh benda-benda materi. Selain itu, kecenderungan tersebut juga menjadikan manusia-manusia yang telah teracuni faham tersebut akan menjadi seorang egois. Tidak memiliki kepedulian terhadap sesama.

Dalam pandangan hedonisme, kepedulian terhadap sesama yang wujudnya adalah berbagi atas yang dimiliki untuk orang lain justru bertolak-belakang dengan keinginan untuk memperoleh benda-benda materi sebesar-besarnya. Maka bukanlah pemandangan aneh jika kita melihat ada pesta tahun baru meriah yang menghabiskan dana puluhan milyard pada saat ada sebagian saudara sebangsa tengah menderita luar biasa akibat bencana alam. Bahkan, kita juga telah terbiasa melihat sekelompok manusia tega menghabisi manusia lain demi kekuasaan (untuk menguasai sumber-sumber ekonomi), meski tak jarang dengan menggunakan dalil-dalil keagamaan.

Maka, diperlukan sebuah terobosan untuk mengeluarkan manusia dari “kesumpegan” ini. Salah satu alternatifnya adalah dengan membangkitkan gairah berkesenian. Dalam era seni kontemporer, yang berkembang dewasa ini, yaitu sebagai tanggapan atas konsep seni modern yang ternyata kian mendorong kreator seni menjadi seorang yang individualistik. Dalam era seni kontemporer, kreator seni dibiasakan untuk selalu peka dalam merespons setiap gejala sosial yang terjadi di sekitarnya, misalnya merespons tentang kemiskinan, degradasi moral di masyarakat, perilaku buruk dari suatu pemerintahan, atau yang lain. Dari hasil respons tersebut kemudian diangkat dalam tema dari karya seni untuk disajikan kepada masyarakat luas.

Karya seni dalam era kontemporer ini, juga mengajak para apresiator untuk ikut terlibat, diajak merenungkan dan memahami tentang kondisi-kondisi sosial yang ada di lingkungan sekitar atau yang sedang aktual, melalui  tema yang diusung oleh kreator seni. Apresiator tidak lagi sekedar disuguhi pada masalah media seni, artistik memanjakan mata dan konsep-konsep seni yang menggantung di awang-awang, tapi diajak untuk memahami dan menghayati konteks dari suatu karya seni. Pendeknya, seni di era kontemporer adalah sebagai  reaksi atas hegemoni penyeragaman, dengan budaya Barat sebagai pusatnya, yang menafikan dan merendahkan budaya-budaya lokal, terutama yang berkembang di bangsa-bangsa Timur, yang sebenarnya sangat kaya dengan produk-produk seni budaya.

Komunitas seni yang beranggotakan para pekerja seni se-Pasuruan Raya, kota dan kabupaten, dengan latar belakang subkultur, pendidikan, profesi dan usia yang cukup variatif ini, berusaha menjadikan kesenian bukan sebagai suatu makhluk misterius, yang bertengger di menara gading, tapi suatu aktifitas yang cukup bersahaja, familiar, dan dekat dengan kehidupan sehari-hari. Salah satu strateginya dengan mengembangkan kesenian di Pasuruan Raya melalui kegiatan menggali, mengajak dan memotivasi insan-insan yang berminat di bidang seni, yang kemudian dilanjutkan dengan mengadakan perhelatan seni sebagai media ekspresi dan untuk mengkomunikasikan ke masyarakat seluas-luasnya  tentang persoalan-persoalan yang ada di sekitar mereka, khususnya kepada remaja dan generasi muda. Dengan harapan, pada mereka nanti tumbuh kepekaan sosial dan sikap empati.

3. Perhelatan Tahunan Komunitas: "GANDHENG-RENTENG"

Kata “Gandheng-renteng” yang kami jadikan tajuk dalam event pameran bersama seni rupa Pasuruan adalah berasal dari idiom Bahasa Jawa. Yang dimaksudkan dengan tajuk tersebut, dalam setiap melaksanakan pameran berusaha mengajak seluas mungkin para perupa aktif yang tinggal di Pasuruan Raya dari berbagai subkultur, pendidikan, profesi, dan usia, tapi tetap dengan memperhatikan kualitas-kualitas tertentu pada karyanya. Tidak jarang juga dalam pameran bersama itu mengundang perupa tamu dari luar kota, misalnya: Batu, Mojokerto, Malang, Surabaya, dan lainnya. Yang perlu diketahui, bukan berarti pameran bersama yang dilaksanakan di Pasuruan dengan jumlah peserta yang cukup banyak ini hanya yang bertajuk “GANDHENG-RENTENG”, sebelumnya telah banyak peristiwa pameran yang dilaksanakan dan yang akan diselenggarakan, baik di dalam maupun di luar kota, yang diikuti oleh para perupa Pasuruan. Namun yang bertajuk “Gandheng-renteng” ini kami usahakan untuk menjadi agenda pameran tahunan seni rupa se-Pasuruan Raya.

Hal-hal yang menarik dalam selama even-even pameran “GANDHENG-RENTENG”, yaitu: (1) Ada rasa kebersamaan dan rasa saling memiliki di antara para pekerja seni yang ada di Pasuruan. Ketika mengadakan pameran seni rupa, yang sibuk tidak hanya yang terlibat dalam pameran, tapi para pekerja seni yang lain juga sibuk membantu secara bahu-membahu. Bantuan mereka pun secara total dan suka-rela; dari pekerjaan kasar sampai pekerjaan yang bersifat pemikiran.

(2) Tidak ada jarak pemisah antara perupa senior dan yunior; yang sudah terkenal dan yang masih merangkak. Tidak ada masalah karya perupa senior sudah malang-melintang di forum nasional, didampingkan dengan karya perupa yunior yang masih merangkak.

(3) Ketika pameran seni rupa digelar, bukan berarti even itu murni untuk acara pameran seni rupa, tapi dimanfaatkan juga oleh para pekerja seni lain untuk berekspresi, berupa pertunjukan tari, musik, pergelaran busana fantasi, monolog, dan sebagainya. Acara-acara tersebut digelar sekaligus untuk mengisi acara pembukaan, penutupan, serta di sela-sela waktu selama proses pameran berlangsung. Sehingga ketika terjadi peristiwa pameran seni rupa, tidak lagi terkesan ekslusif, tapi lebih menyerupai pertunjukan kesenian rakyat semacam; pasar malam, ludruk, atau layar tancap.

a. Pameran Lukisan “GANDHENG-RENTENG #1”

Pameran ini diselenggarakan tahun 2010 di Gedung Serba Guna Yon Zipur 10 Jalan Balai Kota Pasuruan. Jumlah peserta yang terlibat sebanyak 38 orang perupa. Sesuai dengan judul pameran, event ini menampilkan karya-karya yang berwujud lukisan. Pameran lukisan “GANDHENG-RENTENG 1” sebagai tindak lanjut dari spirit pameran lukisan sebelumnya, yaitu tahun 2009, yang bertajuk “PAMERAN LUKISAN GERAK-SERENTAK”. Pameran tahun 2009 merupakan pameran awal dari komunitas yang dibentuk pada 14 Desember 2008. Setelah mengamati bahwa para pesertanya berasal dari berbagai macam latar belakang, dengan tujuan agar terjadi ikatan yang kuat, komunikasi dan kerjasama yang harmonis antar-sesama peserta, maka pada pameran tahun 2010 itu diberi tajuk “GANDHENG-RENTENG”.

b. Pameran Lukisan “GANDHENG-RENTENG #2”

Pameran ini diselenggarakan di Perpustakaan Umum dan Arsip kota Malang, sebagai upaya untuk memperkenalkan karya seni rupa Pasuruan dan silaturahmi dengan para perupa Malang. Pemilihan kota Malang berdasarkan pertimbangan, mudah dijangkau dan perkembangan seni rupanya lebih dinamis daripada seni rupa di kota-kota sekitar Pasuruan.

c. Pameran Drawing “GANDHENG-RENTENG #3 – RASA PONCOL”

Pameran drawing “GANDHENG-RENTENG #3” ini sebetulnya terinspirasi dari pameran drawing sebelumnya yang dilaksanakan oleh 5 (lima) orang perupa: Badrie, Garis Edelweiss, Karyono, Soeryadi, dan Wahyu Nugroho. Pameran itu dilaksanakan di galeri Raos Batu. Tema yang diangkat “Ruang Gelap”. Banyak teman-teman perupa Pasuruam yang tertarik ingin mencoba berkarya drawing saat menyaksikan pameran tersebut. Setelah berselang sekian waktu, timbul gagasan untuk menggelar pameran khusus karya drawing pada pameran “GANDHENG-RENTENG #3”. Pertimbangan lainnya adalah:

Pertama, karena media drawing mudah didapat, harganya relatif murah, proses berkaryanya lebih praktis, sehingga diharapkan mampu memotivasi kalangan pelajar dan perupa pemula untuk aktif berkarya.

Kedua, mengakrabi kembali “tradisi” seni rupa yang mulai ditinggalkan, setelah banyak perupa menggunakan teknologi digital dan printing dalam proses berkarya seni lukis. Bahkan tidak sedikit yang sangat bergantung dangan teknologi tersebut. Tradisi yang kian menghilang itu di antaranya membuat skets sebelum berkarya, menggambar alam benda, menggambar manusia, dan berkreasi lainnya dengan mengandalkan keterampilan manual.

Ketiga, mewujudkan obsesi untuk menjadikan drawing sebagai aktifitas rutin, entah sebagai selingan atau memang sengaja dengan ditekuni sungguh-sungguh sebagai media untuk berekspresi.

Ternyata harapan untuk memotivasi munculnya perupa-perupa muda Pasuruan menunjukkan hasil cukup signifikam setelah diselenggarakannya pameran drawing dengan tajuk “Rasa Poncol” ini. Banyak anak-anak muda yang aktif berkarya, hal ini terbukti saat diselengarakannya pameran seni rupa “GANDHENG-RENTENG #4”, dengan tajuk SOR MEJO NOK ULANE. Pada saat pameran “GANDHENG-RENTENG #3” jumlah pesertanya 31 orang perupa, pada “GANDHENG-RENTENG #4” melonjak menjadi 76 orang perupa, itu pun masih masih banyak yang tidak terakomodasi, mengingat keterbatasan gedung tempat pameran.

d. Pameran Seni Rupa “GANDHENG-RENTENG #4 – SOR MEJO NOK ULANE”

Saat diselenggarakan pameran “GANDHENG-RENTENG #3” ada eforia untuk menjadikan drawing sebagai identitas seni rupa Pasuruan. Namun seiring perjalanan waktu, ada ketidak-puasan dari parupa-perupa yang telah lama menggeluti bentuk seni rupa selain drawing, misalnya yang sudah lama menggeluti lukisan, patung, kriya, video art, instalasi, atau fotografi. Lebih-lebih saat Galeri Nasional Indonesia (GNI) menggelar pameran drawing di Pasuruan sebagai respons atas semangat perupa-perupa drawing Pasuruan. Seolah-olah perupa-perupa selain drawing eksistensinya dinafikan. Dan memang sebenarnya banyak perupa Pasuruan, selain perupa drawing, yang namanya sudah berkibar dan mendapat pengakuan atas prestasinya.

Maka agar kehidupan seni rupa Pasuruan menjadi kaya warna, pada pameran “GANDHENG-RENTENG #4” disebut sebagai pameran seni rupa, dengan menampilkan berbagai macam bentuk seni rupa yang ada di Pasuruan. Karena itu juga, pameran ini mengambil tajuk “SOR MEJO NOK ULANE”, sebagai cerminan kemajemukan yang ada di Pasuruan, baik dari segi bentuk seni rupa, budaya, letak geografis, maupun sosial masyarakatnya.

4. Program Komunitas

a. Memotivasi dan memfasilitasi pameran tunggal dan kelompok kecil

Mengamati begitu pesatnya munculnya bibit-bibit perupa muda, serta semakin besarnya apresiasi masyarakat Pasuruan terhadap seni rupa, maka agar aktivitas mereka bisa tersalurkan, komunitas berusaha menyediakan sarana dan prasarana untuk menggelar karya. Selama ini, baik itu pameran kelompok kecil atau pameran besar harus menyewa gedung yang harganya relatif mahal, sedangkan pameran yang diselenggarakan itu lebih bersifat apresiatif, bukan komersial. Sarana dan prasarana yang dimaksud adalah:

- tempat pameran—meski tidak terlalu ideal—yakni di sebuah kafe milik salah satu anggota
- menyediakan pigura kaca ukuran 60 X 40 cm sebanyak 40 unit
- bantuan dalam hal publikasi,
- dan menyiapkan perlengkapan-perlengkapan lainnya.

Dengan demikian, bagi yang sudah siap materi karya untuk dipamerkan, bisa diacarakan kapan saja, tidak perlu menyiapkan banyak biaya dan disibukkan dengan berbagai macam urusan. Cukup konsentarsi dalam menyiapkan materi karya. Atau, tidak perlu lagi menunggu pameran “GANDHENG-RENTENG” yang dilakukan setahun sekali. Mereka bisa pameran sendiri, tunggal atau kelompok kecil.

Untuk agenda tahum 2015 sampai bulan Agustus ini saja, ada 5 program pameran:
- Pameran 6 orang perupa wanita Pasuruan
- Pameran bertiga; Achmad Rosidi, Garis Edelweiss, dan Teguh Purwanto
- Pameran tunggal Wahidin
- Pameran tunggal Wahyu Nugroho
- Pameran tunggal cat air Badrie

b. Mengakomodasi pergelaran seni yang lain pada pameran “GANDHENG-RENTENG”

Mengamati begitu besarnya antusias teman-teman pekerja seni selain seni rupa yang  berpartisipasi ikut meramaikan pada pameran seni rupa “GANDHENG-RENTENG #4”, maka untuk program pameran “GANDHENG-RENTENG #5” tahun depan, mencoba memperluas cakupan seni yang ada dan berkembang Pasuruan untuk ikut ditampilkan dan digarap dengan sungguh-sungguh, walau kegiatan sentralnya tetap pada pameran seni rupa. Perluasan cakupan yang dimaksud ketika menggelar pameran, setiap harinya juga menampilkan pertujukan seni yang lain: teater, musik, tari, film, barongsai, reog, parkur, performace art, pantomim, stand up comedy, dan sebagainya. Untuk itu perlu disiapkan juga sarana dan prasarana yang dibutuhkan pada acara-acara tersebut. Intinya pameran “GANDHENG-RENTENG #5” lebih menjadikan perisiwa pameran seni rupa semacam  hiburan rakyat, namun pelaksanaannya tetap mengacu pada pameran yang ideal dalam pengorganisasian, materi karya, maupun displai.

c.  Mengintesifkan silaturahmi antar-anggota dan diskusi seni

Dengan semakin banyaknya perupa muda yang bermunculan, tentu perlu dibarengi adanya saling berkunjung, saling menyemangati, saling memberi memberi masukan, dan secara berkala dilakukan diskusi seni serta menggambar/melukis bersama.

5. HAMBATAN YANG DIHADAPI KOMUNITAS

a. Dana.
Memang hambatan ini masalah masalah klasik yang dihadapi oleh setiap komunitas seni yang bersifat sosial, bukan komersial. Apalagi mengingat komunitas ini bersifat independen; Tidak bernaung di bawah lembaga pemerintah atau swasta; Eksistensinya pun bukan karena instruksi atau “atas pentunjuk” dari  pejabat atau tokoh masyarakat; Bukan pula karena melaksanakan proyek dengan mengemban sejumlah titipan “pesan”. Pembentukan komunitas ini memang semata-mata atas kesadaran bersama, bahwa kemajuan seni Pasuruan dapat diwujudkan melalui tanggung jawab dan kerja keras dari para pekerjan seninya sendiri. Maka, hambatan utama yang selalu dihadapi ketika menggelar pameran adalah masalah dana. Selama ini penggalangan dana setiap kali menggelar pameran sebagian besar berasal dari urunan peserta. Kalaupun ada dana dari donatur dan sponsor jumlahnya tidak terlalu signifikan. Padahal untuk menggelar pameran dana yang dibutuhkan sangat besar, meski panitia penyelenggara dilakukan sendiri oleh peserta dengan dibantu oleh teman-teman perupa yang tidak ikut pameran serta partispasi dari pekerja seni lain. Kebutuhan dana yang besar itu untuk sewa gedung, pengadaan katalogus pameran, menyewa berbagai macam properti, kebutuhan acara pembukaan, publikasi, transportasi, dan pengadaan perlengkapan-perlengkapan lainnya.

b. Partisipasi pemerintah daerah masih lemah
Ini pun juga hambatan klasik yang dihadapi oleh setiap komunitas seni, lebih-lebih yang ada di daerah. Sebagai perbandingan, sikap pemerintah daerah dalam memperlakukan seni dan olah raga sangat tidak seimbang, walau dua-duanya sama-sama aset daerah yang cukup strategis dalam mengangkat citra daerah di forum yang lebih luas. Bidang olah raga begitu dianak-emaskan dengan berbagai macam fasilitas. Di Pasuruan sebenarnya sudah ada dua arena olah raga yang cukup representatif, stadion dan GOR Untung Suropati, namun ada rencana dari pemerintah daerah akan membangun dua buah stadion lagi, yaitu di wilayah selatan dan pesisir utara yang rencananya akan direalisasikan tahun 2015, dan rencana itu sudah didukung oleh ketua DPRD Kota Pasuruan. Dibanding dengan fasilitas untuk olah raga, tidak ada satu pun gedung pun dibangun pemerintah yang dikhususkan untuk aktifitas seni, sehingga bagi komunitas yang ingin menggelar karyanya selama ini harus menyewa gedung-gedung milik swasta atau milik negara tapi pengelolaannya tidak dipegang pemerintah daerah. Sedangkan harga sewa gedung-gedung tersebut lumayan tinggi untuk ukuran pergelaran seni di daerah yang sifatnya apresiatif.

c. Hambatan komunikasi dan koordinasi di internal komunitas
Hambatan pertama; dengan pertumbuhan anggota yang semakin banyak, dan mereka tersebar di wiayah kota dan kabupaten yang wilayahnya relatif luas—Kota Pasuruan memiliki 4 kecamatan, sedangkan Kabupaten memiliki 24 kecamatan—sehingga jarak antar anggota bisa mencapai puluhan kilo meter. Hambatan ini tentu berdampak terhadap rendahnya intensitas dalam berkomunikasi dan koordinasi. Untuk mengatasi masalah ini, komunitas membentuk koordinator wilayah (korwil); korwil Pasuruan Barat, Pasuruan Timur, Pasuruan Selatan, dan Pasuruan Kota (yang kebetulan letaknya ada di tengah-tengah).

Hambatan kedua; anggota komunitas memiliki latar belakang geografis, subkultur, pendidikan, profesi, dan usia yang cukup variatif – selain menjadi kekayaan sekaligus juga bisa menjadi hambatan. Hambatan yang potensial muncul adalah dalam hal interaksi dan komunikasi.

6. Harapan Komunitas

Memperhatikan segala kelebihan dan kekurangan yang dimiliki komunitas, apalagi tinggal di wilayah yang jauh dari pusaran seni rupa, kami menyadari untuk tidak terlalu berlebihan dalam berangan-angan. Harapan kami yang utama adalah keberadaan komunitas ini diridhohi Allah Subhanallahu Wa Taala, sehingga segala aktifitasnya selalu lancar dan memberi berkah bagi anggota dan masyarakat sekitarnya. Demikianlah. ***

Purwosari, 27 Maret 2015

(Naskah ini sudah disajikan pada seminar "FENOMENA SENI RUPA PASURUAN" di PAZZ GARDEN Coffe & Resto Pasuruan, 28 maret 20015).
*) Perupa dan pemarik, tinggal di Pasuruan.
Leave a Comment
Please feel free to let us know your feeling about this
Your Name
Your Comment
Your Email
Image Verification
Captcha Image Reload Image
Utk ganti paragraf silakan klik
Comments:
23-04-2015
Seminar Sesrawung PKKH UGM: “Heterotopia dan Ekspresi Artistik, Seni dan Penataan Arsitektur Ruang Kota yang Manusiawi”
di Hall PKKH UGM, Bulaksumur
19-04-2015
APRIL MOOD
di Rumah Seni Sidoarum, Jl. Garuda 563, Krapyak RT 07, RW 18, Sidoarum, Godean, Sleman, Yogyakarta
17-04-2015 s/d 17-05-2015
BIOGRAFI VISUAL "OKSIGEN JAWA"
di Galeri Soemardja, ITB
16-04-2015
Dialog & Pembacaan Puisi "Penyair Srilanka - Rudramoorthy Cheran"
di Bentara Budaya Bali Jl. Prof. Dr. Ida Bagus Mantra 88A, Gianyar, Bali
15-04-2015
Sehari Boleh Gila
di Tahunmas Artroom (Jln H. Saptohudoyo), Rumah Nasirun (dekat Rumah Dr Timbul Raharjo), Halaman Parkir PT Timboel, Kasongan, Yogyakarta.
15-04-2015 s/d 19-04-2015
Pameran Tunggal Soetopo: "Melintasi Jaman"
di Bentara Budaya Jogyakarta Jl Suroto 2, Kota Baru, Yogyakarta
15-04-2015
Artist Talk "Mendadak Sticker" bersama Seniman Greys Lockheart (Filipina) dan J.K. Shin (Korea Selatan)
di Dongengkopi & Indiebook
31-03-2015
YogyaSemesta”Seri-77: PISOWANAN AGUNG SEBAGAI GERAKAN KEBUDAYAAN “JOGJA GUMREGAH” MENUJU PERADABAN BARU “JOGJA ISTIMEWA”
di Kepatihan, Jl. Malioboro, Yogyakarta
31-03-2015
Seri Ceramah/ Diskusi “Guru-Guru Muda”
di di Langgeng Art Foundation (LAF) Jl. Suryodiningratan no. 37 Yogyakarta
31-03-2015
"Musik Mantra 2" Kerjasama Teater Gabungan Yogyakarta dan PKKH UGM
di Pusat Kebudayaan Koesnadi Hardja Soemantri (Purna Budaya) UGM Jl. Persatuan Ugm Jogjakarta, Yogyakarta
read more »
Minggu, 12-04-2015
Dinamika Seni Rupa (di) Pasuruan
oleh Wahyu Nugroho
Jum'at, 27-03-2015
Pertaruhan Artistik dalam “Tiga Karakter, Tiga Warna”
oleh Kuss Indarto
Senin, 09-03-2015
Rebranding Luar-Dalam
oleh Kuss Indarto
Sabtu, 07-03-2015
Si Encit, Cus, Alias Doktorandus Raden Hendro Suseno
oleh Sunardian Wirodono
Jum'at, 13-02-2015
Sor Mejo Nok Ulane
oleh Fadjar Sutardi
read more »
Merajakan Nalar di Tengah Kepungan Hedonisme
oleh Christian Heru Cahyo Saputro
Buku bertajuk: Acropolis (Kerajaan Nalar) yang merupakan kumpulan kolom karya wartawan SKH Lampung Post Heri Wardoyo (HRW) hadir meramaikan pasar wacana. Buku yang berisi kolom-kolom Heri Wardoyo ini pernah dimuat di rubrik ‘Nuansa’ Lampung Post bertitimangsa tahun...
Fantasi Balzac tentang Pulau Jawa
oleh Sigit Susanto
Merajut Masa Depan Bocah Merapi
oleh T. Nugroho Angkasa S.Pd.
Novel Kasongan, Seliat Tanah Liat
oleh R. Toto Sugiharto
read more »
KOMPETISI SENI LUKIS, MANDIRI ART AWARD 2015
GUDANG GARAM INDONESIA ART AWARD 2015
Dana SAM untuk Seni dan Lingkungan
LOMBA PENULISAN JURNALISTIK
Lomba Foto “Air dan Sanitasi untuk Kehidupan yang Lebih Baik”
6th Beijing International Art Biennale 2015
Sayembara Cipta Kreasi Motif Batik Seragam Dinas Harian RSUP Dr Kariadi 2014
Lomba Desain Sepatu Tingkat Nasional 2014
LOMBA DESAIN MURAL GALERI NASIONAL INDONESIA 2014
LOMBA CIPTA SENI BATIK NUSANTARA 2014
read more »
10/02/2015 23:32 | icha | saya mw jual brang py kkek msa penjajahan di ambon.... samurai bs ditekuk pjang bget... ada belati kecil beserta bendera jepang msa lampau... ada tulisan di sebuah uukuran kertas seperti kulit binatang tpi tulisan jepang... mhon bntuan nya mau jual saja butuh ug urgent
04/02/2015 09:50 | Anwar Sanusi | Artikel sangat membantu dalam membuka wawasan tentang Seni...
02/02/2015 22:26 | Redaksi Indonesia Art News | Sdr. DheaMS, Anda bisa menyimak dari deadline atau keterangan waktu lainnya, apakah lomba-lomba tersebut sudah berakhir atau masih berlaku. Silakan cek. Terima kasih.
02/02/2015 21:00 | DheaMS | apa lomba ini masih berlaku? jika masih berlakunya sampai kapan? mohon jawabannya
27/01/2015 21:32 | Desita Anggina | SemangART
read more »
About Us
Indonesia Art News merupakan media tentang dinamika seni yang berkait dengan aspek keindonesiaan. Media ini berusaha untuk mengedepankan segi informasi ihwal seni yang dikemas dengan cara pandang kritis dan muatan yang investigative. Indonesia Art News berkedudukan di Yogyakarta, Indonesia
Gabung di Facebook
Buku Tamu
Pengelola IAN
Editor in chief:Kuss Indarto
Editor:R. Toto Sugiarto
Designer:Andika Indrayana
Email - info@indonesiaartnews.or.id