HOME     NEWS     EVENTS     ARTICLES     DIRECTORY     BOOKS     OPPORTUNITIES  
   
Jum'at, 20 Juli 2012 - 06:17
Lady Gaga dan Problematika pada Kultur Indonesia
oleh Deni S. Jusmani
Salah satu penampilan Lady Gaga dalam sebuah pentas. (foto: google)
ADA beberapa hal, yang menarik untuk dicermati dengan “hadirnya” Lady Gaga di Indonesia, yaitu: pertama, bahwa Indonesia telah masuk dalam garis internasional untuk mempopulerkan musik, baik dalam kebutuhan promosi musisi lokal yang go international, atau pun menerima kedatangan promosi musik dari luar. Tentunya, hal ini akan semakin memperluas jaringan kerja musisi di Indonesia, memajukan industri musik, termasuk di dalamnya adalah terdapat kepentingan diplomasi antarnegara. Hal kedua, akan selalu terdapat perbedaan dalam kemasan musik dan performance dari setiap musisi dan artis, yang sebetulnya memberikan celah bagi musisi lain, untuk dapat memberikan tampilan berbeda, sehingga tidak saja persoalan kualitas, kreativitas, tentu saja akan terkait dengan hal ekonomisasi dalam bidang musik. Perkara ekonomi, walaupun bukan elemen utama dalam berkarya dan mencipta musik, tidak dapat terpisahkan. Popularitas seseorang tentunya akan memberikan kesempatan bagi orang lain, untuk dapat dijadikan sebagai tolok ukur atas kualitas musik, secara terseleksi para penggemar akan terbentuk dengan sendirinya. Kepentingan industri musik, memang tidak dapat dipisahkan dari sistem-sistem yang sudah mapan dan berjalan, sehingga ketika terjadinya suatu benturan, merupakan hal yang wajar, selama benturan ini tidak bersifat pemaksaan. Sistem budaya Indonesia, bahkan pada setiap daerah, adat istiadat, agama dan kepercayaan, ataupun suatu negara lain, ketika bertemu pada satu lokasi, tidak dapat dipungkiri akan terjadi “perdebatan”. Menjaga eksistensi dan idealisme bagi seorang musisi, terkadang harus dikompromikan dengan sistem-sistem yang sebetulnya bukan memaksa untuk memperbarui, tetapi bagaimana antara sistem ini dengan idealisme musisi dapat bersinergi dengan baik.

Hal ketiga, persoalan moral dan etika, tidak dapat dengan sendirinya dipengaruhi oleh satu faktor saja, melainkan terdiri dari berbagai macam persoalan, setidaknya termasuk di dalamnya adalah budaya, latar belakang pendidikan dan kepentingan, gejala sosial dan politik tertentu, bahkan terkait pula dengan kepentingan ekonomi. Lady Gaga, bukanlah satu-satunya “sumber” kerusuhan moral dan etika, jika nantinya dilihat sebagai dampak atas terjadinya komplikasi pada persoalan sosial, budaya, dan agama di wilayah Indonesia. Penampilan seronok ala Lady Gaga, adalah salah satu dari sekian banyak sumber persoalan yang muncul pada komunitas sosial masyarakat, dan tidak dapat dikatakan sebagai bahan tambahan untuk memperparah. Tentu tidaklah patut, jika kemudian keseronokan ala Lady Gaga, dipertautkan dengan seronoknya tampilan beberapa musisi Indonesia. Latar belakang pembentuk gaya masing-masing musisi, memiliki sumber referensi yang berbeda. Jika memang suatu sistem (baik itu budaya, kode etik sosial, dan agama) memandang Lady Gaga memiliki keseronokan yang luar biasa, seharusnya sistem ini berkerja secara menyeluruh dalam melakukan penyaringan dan sensor terhadap musisi-musisi lainnya. Terlepas keberpihakan atau tidak media massa di dalam proses sensor ini, masyarakat harus kritis dan pintar dalam mengendalikan setiap hiburan yang disajikan oleh media. Termasuk untuk mengkritisi tayangan-tayangan yang mengarah dan berkaitan pada dampak sosial, moral, serta etika.

Kepanikan-kepanikan yang dibicarakan oleh Yasraf Amir Piliang pada pengantar Dunia yang Berlari: Mencari Tuhan-tuhan Digital, merupakan realita yang terjadi pada masyarakat sosial di Indonesia. Misalnya, kepanikan konsumsi, ketika perilaku mengkonsumsi ini berlaku secara berlebihan dan tidak diketahui fungsinya. Atau panik tontonan, ketika manusia mempertontonkan apa saja tanpa ada spiritnya. Demikian juga, ketika terjadi kepanikan seksualitas yang mengekspos setiap bagian tubuh yang tidak diiringi oleh makna-makna. Kepentingan media dan kelompok masyarakat tertentu atas tubuh Lady Gaga, adalah bagian dari kepanikan dari sekian banyak kepanikan yang terjadi dalam masyarakat. Tubuh Lady Gaga merupakan penanda atas terjadinya beberapa reaksi dan gejolak sosial pada masyarakat Indonesia. Kekhawatiran pada dampak yang diakibatkan karena popularitas tubuh Lady Gaga terlalu berlebihan. Justru, hal yang perlu diperhatikan adalah bagaimana kemampuan masyarakat untuk mengatur dan mengelola perilaku mengkonsumsi secara tepat. Tidak terkecuali atas pilihan-pilihan yang disajikan baik oleh media penyedia jasa hiburan, media massa, atau pun kelompok-kelompok lain yang berujung pada benturan budaya lokal. Spirit tontonan dan perilaku menonton dengan benar adalah persoalan yang tidak dengan sendirinya terbentuk, tanpa adanya motivasi, melainkan saling berhubungan dengan kemapanan budaya, atau bahkan kemapanan dalam hal moral dan etika penonton itu sendiri.

Tidak dapat juga disalahkan, ketika ada arus keras yang menentang kedatangan Lady Gaga di Indonesia, apalagi saat dipertautkan dengan satu sistem yang memiliki landasan pikir tertentu, dan bertolak belakang dengan gaya tampilan Lady Gaga. Demikian pula sebaliknya, bahwa sistem ini tidak dapat memaksa orang lain untuk mengikuti pola pikirnya. Ketika kedua landasan pikir berbeda dan tetap bertahan pada idealisme masing-masing, maka jalan sebaiknya yang ditempuh bukan pada tawar menawar idealisme. Karena pada saat terjadi musyawarah untuk mencapai mufakat pada idealisme, yang terjadi adalah saling memaksakan kepentingan.

Kerumitan sosial yang muncul tentang Lady Gaga adalah ketika terjadinya usaha penyensoran oleh beberapa kelompok, dengan dasar keyakinan tertentu. Seperti dibahas oleh Marshall A. Clark untuk pengantar dalam Budaya Populer sebagai Komunikasi: Dinamika Popscape dan Mediascape di Indonesia Kontemporer, bahwa usaha penyensoran tontonan di Indonesia (tidak terkecuali gaya Lady Gaga) lebih kuat dorongannya yang bersumber dari kelompok-kelompok masyarakat tertentu. Disebutkan oleh Clark, kebebasan berekspresi tidak akan mampu diselamatkan oleh pasar, karena ditakutkan mengundang kelompok religius radikal untuk mengamuk, dan berdampak pada sisi ekonomi. Digambarkan, tidak akan ada perusahaan sinema (hiburan) yang mau mengambil reksiko diamuk massa akibat penampilan seorang artis atau pun musisi tertentu, tidak terkecuali Lady Gaga. Jelas sekali, bahwa kelompok-kelompok penekan ditingkat lokal (memanfaatkan sentimen keagamaan) terlihat jauh lebih kuat daripada aparat dan lembaga resmi negara, termasuk mementahkan peran Undang-Undang tentang Pornografi. Sepertinya, tarik ulur dan penyensoran konser Lady Gaga di Indonesia, lebih cenderung pada politisasi kepentingan kelompok-kelompok. Seharusnya, usaha penyensoran ini berlaku pada penampilan-penampilan musisi lain, termasuk menyeluruh pada setiap bagian (isi dan makna) yang disajikan pada masyarakat. ***

Leave a Comment
Please feel free to let us know your feeling about this
Your Name
Your Comment
Your Email
Utk ganti paragraf silakan klik
Comments:
Minggu, 22 Juli 2012 - 15:17
rebowo - tjatur_art@yahoo.co.id
sebenarnya dilema jg menghadapi itu, tapi kadang ketakutan semacam itu jadi relevan ketika melihat masyarakat yang belum siap dgn globalisasi.
15-04-2014
Simposium INISIATIF WARGA DALAM SENI DAN SAINS
di Auditorium Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada Jl. Flora, Bulaksumur, Yogyakarta
15-04-2014
Pembukaan NALARROEPA Ruang Seni dan Pameran Seni Rupa MJK club
di Karangjati RT.05, RW. XI. Tamantirto, Kasihan, Bantul, Yogyakarta
04-04-2014
Presentasi dan pemutaran film "Rangsa ni Tonun"
di Auditorium Museum Sonobudoyo, Jl. Trikora 6, Yogyakarta
03-04-2014
Diskusi Publik "Open Source"
di Klinik Kopi. Jl. Affandi/Gejayan, (Belakang TB. Toga Mas Yogyakarta)
02-04-2014
Pemutaran Film: “David Wants to Fly”
di Ruang Pertunjukan (Lt. 2), Kedai Kebun Forum, Yogyakarta
01-04-2014
LAUNCHING LAGU "JOGED-E PENGUOSO"
di Kampung Edukasi, Watu Lumbung, Bukit Parangtritis
31-03-2014
Bedah Buku "Soeka-Doeka di Djawa Tempo Doeloe"
di Balai Soedjatmoko, Jl. Slamet Riyadi, Solo/Surakarta
30-03-2014 s/d 20-04-2014
Pameran “Tanah to Indai Kitai” (Tanah adalah Ibu Kita):
di ViaVia Café, Jl. Prawirotaman 30 Jogjakarta
30-03-2014 s/d 20-04-2014
Pameran “Tanah to Indai Kitai” (Tanah adalah Ibu Kita): Potret Kehidupan Dayak Iban Sui Utik, Kalbar
di ViaVia Café, Jl. Prawirotaman 30, Jogjakarta
29-03-2014
WORKSHOP: PEMBINAAN KREATIVITAS DALAM PENDIDIKAN SENI DAN BERKENALAN DENGAN BAHASA RUPA
di Auditorium Lantai 6 Gedung B, Universitas Widyatama, Jl. Cikutra No. 204A Bandung 40125
read more »
Minggu, 13-04-2014
Upacara Tradisional, Kohesi Sosial, dan Bangunan Kebangsaan
oleh Ayu Sutarto
Selasa, 01-04-2014
Membela dengan Sastra (Sebuah Pidato Kebudayaan)
oleh Ahmad Tohari
Rabu, 26-03-2014
Warisan Demokrasi Gorontalo
oleh Hasanuddin
Selasa, 18-03-2014
Demokrasi Berbudaya Minahasa
oleh Jultje Rattu
Kamis, 13-03-2014
Mengejar Penonton Drama Musikal
oleh Sri Bramantoro Abdinagoro
read more »
Merajakan Nalar di Tengah Kepungan Hedonisme
oleh Christian Heru Cahyo Saputro
Buku bertajuk: Acropolis (Kerajaan Nalar) yang merupakan kumpulan kolom karya wartawan SKH Lampung Post Heri Wardoyo (HRW) hadir meramaikan pasar wacana. Buku yang berisi kolom-kolom Heri Wardoyo ini pernah dimuat di rubrik ‘Nuansa’ Lampung Post bertitimangsa tahun...
Fantasi Balzac tentang Pulau Jawa
oleh Sigit Susanto
Merajut Masa Depan Bocah Merapi
oleh T. Nugroho Angkasa S.Pd.
Novel Kasongan, Seliat Tanah Liat
oleh R. Toto Sugiharto
read more »
Lomba Foto “Air dan Sanitasi untuk Kehidupan yang Lebih Baik”
6th Beijing International Art Biennale 2015
Sayembara Cipta Kreasi Motif Batik Seragam Dinas Harian RSUP Dr Kariadi 2014
Lomba Desain Sepatu Tingkat Nasional 2014
LOMBA DESAIN MURAL GALERI NASIONAL INDONESIA 2014
LOMBA CIPTA SENI BATIK NUSANTARA 2014
The 4th Bangkok Triennale International: Print and Drawing
Iver Jåks Artist-In-Residency Program 2014
UNDANGAN Pameran Seni Rupa Karya Guru Seni Budaya “GURU SENI BERLARI” - GALERI NASIONAL INDONESIA
Grants for Media Art 2014 of the Foundation of Lower Saxony at the Edith-Russ-Haus, Germany
read more »
16/04/2014 22:51 | abercrombie deutschland | Apples iPad wird den Markt für Tablet Computer nach Expertenschätzungen noch auf Jahre beherrschen. Einzig das Google Betriebssystem Android werde sich als starker Wettbewerber etablieren, prognostizierten die Marktforscher von Gartner. abercrombie deutschland http://nanosmat.org/hifsxs/afde.asp
16/04/2014 17:06 | burberry handtaschen | ich kann mich auch garn nicht mer kontzentrieren, und schlaffen fellt mir schon laange sehr schwer burberry handtaschen http://www.handtaschendeutschlandshop.com/index.php?main_page=index&cPath=16_28
07/04/2014 00:46 | abdul aziz | mohon bantuan untuk penerbitan buku topeng blantek
03/04/2014 21:13 | Aprimas | Selamat dan Sukses untuk "Guru" Seni Rupa di seluruh Indonesia, Smoga kedepan semakin kreatif, produktif dan inovatif, sehingga dapat sebagai acuan dan pacuan kreativitas bagi generasi masa epan,...Salam
15/03/2014 18:09 | Lilik Indrawati | Ok. I will tray... matur nuwun Pak Kuss.
read more »
About Us
Indonesia Art News merupakan media tentang dinamika seni yang berkait dengan aspek keindonesiaan. Media ini berusaha untuk mengedepankan segi informasi ihwal seni yang dikemas dengan cara pandang kritis dan muatan yang investigative. Indonesia Art News berkedudukan di Yogyakarta, Indonesia
Gabung di Facebook
Buku Tamu
Pengelola IAN
Editor in chief:Kuss Indarto
Editor:R. Toto Sugiarto
Designer:Andika Indrayana
Email - info@indonesiaartnews.or.id