HOME     NEWS     EVENTS     ARTICLES     DIRECTORY     BOOKS     OPPORTUNITIES  
   
Masih adakah tempat untuk puisi?
Judul Buku:Memoar Kehilangan
Penulis:Sabiq Carebesth
Penerbit:Koekoesan, Depok
Cetakan:I, 2012
Tebal Buku:xxiv + 89 halaman
JUDUL tulisan ini terdengar sangat pesimistis, apa memang demikian keadaan zaman (modern) sekarang?

Mario Vargas Llosa dalam essai “Matinya Para Penulis Besar” merujuk buku yang baru-baru ini terbit berjudul Ia Mort du grand ecrivain karangan Henri Raczymow yang pada intinya menyatakan ditengah demokrasi liberal dan pasar bebas kita nyaris tidak mungkin lagi mengharapkan kemunculan “para penulis besar” sebagaimana yang pernah dipresentasikan oleh figure seperti Voltaire, Zola, Gide, dan Sarte. (Jurnal Sajak, Vol. II, 2011).

Inti essai Vargas Ilosa adalah budaya yang kini didominasi oleh kapitalisme pasar telah mendangkalkan ruang suci dan alternatif (dimana dulu sastra memeliki tempat dan otoritasnya) kini mengalami pendangkalan sampai pada degradasi paling dasar; keadaan sosiologis yang nyaris mustahil memberi kesempatan untuk tumbuh lahirnyanya “pengarang-pengarang besar” yang memiliki pancaran prestise dan otoritas kepengarangan yang melampaui lingkaran pembacanya; soal-soal dalam daya kreatif dan artistiknya yang dapat membut si pengarang menjadi penjelmaan publik, sebuah arketip yang ide-idenya, pendapat dan cara hidupnya, gesturnya, obsesi-obsesinya menjadi tauladan bagi masyarakat. Sebagaimana di masyarakat kita pernah hidup—dengan kehormatan dan prestise--binatang jalang-- Charil Anwar; begitu juga dengan TS. Elliot, Albert Camus, Kafka, atau Octavio Paz dalam zamannya adalah pribadi-pribadi pengarang yang masih menempati wilayah suci, memandarkan aura magis dan memainkan peran bak agama. Lalu mengapa tak ada penulis kontemporer sekarang yang bisa seperti para pendahulunya dengan semacam janji keabadian itu?

Hari-hari ini buku dan karya sastra bukanlah paspor menuju keabadian melainkan budak-budak kekinian—kedisinian—mereka yang menulis buku telah dilengserkan dari derajat kemagiasan di mana dulu mereka dimahkotai gelar kenabian. Pengarang dan bukunya sekarang tak ubahnya dengan masyarakat kota yang dibekukan, di mana masyarakat dididik dalam sebuah pabrik dan keluar sebagai produk instan lagi prematur. Sastra seolah-olah telah dijadikan sama dengan produk sabun mandi atau sikat gigi sebagai produk industrial yang di pabrik untuk menghasilkan satu prodak yang instan, dan nyaris seragam.

Narsisme dan individualisme yang pada tahapan selanjutnya telah menggeser dan menghapuskan kesenangan seorang pengarang akan masa lalu dan keasyikan mereka terhadap imajinasi dan ramalan masa depan. Sastra kemudian diprovokasi oleh nafsu yang terburu-buru sebab tuntutan yang serba cepat dan harus terpenuhi sekarang dan di sini. Masyarakat pasar yang kelewat konsumtif; yang tak mau menunggu untuk dipuaskan, tak tahan dengan kegelisahan dan gejolak untuk menunggu pencarian makna. Muncullah para penulis bintang dari jagad hiburan super klangenan yang tak terelakan telah dibesarkan oleh anak kandung kapitalisme pasar—televisi—yang telah berhasil menjejalkan kepada kita humor, sentimen, seks, emosi, yang kita butuhkan untuk mengatasi rasa bosan hidup di kolong langit ini.

***

Di tengah situasi semcam itu, masih adakah tempat untuk puisi? Dalam jagad puisi, bahasa sesungguhnya menjadi sebuah wilayah, sebuah daerah. Ia terjaga. Seperti entitas yang selamanya tidak berubah lagi. Di sana, bahasa menandakan suatu waktu, suatu masa, keadaan. Di sana, bahasa menyatakan penggunanya, pemakainya. Penggunanya kali ini seorang penyair, Sabiq Carebesth. Pilihan katanya dalam buku kumpulan sajak “Memoar Kehilangan” ini, juga diksi dalam puisi-puisinya, menandakan bahasa sebagai sebuah waktu. Waktu yang dibekukan dalam bahasa dan bahasa yang dibekukan dalam waktu dengan tujuan menempuh jalan kegilaan untuk melawan situasi yang serba kini, di sini, melawan kenyataan yang didangkalkan dan produk budaya yang mengalami degradasi akibat pasar seperti apa digambarkan Vargas Llosa di atas.

Puisi-puisi Sabiq dalam kumpulan ini, walau rata-rata ditulis tahun 2010 dan 2011. Tetapi 2010 dan 2011 bukan lagi menandakan realitas bahasa. Dalam bahasa yang digunakan Sabiq, 2010 dan 2011 hanya sebagai dokumen waktu. Bukan waktu sebagai kehidupan yang menahan kita di dalamnya. Realitas ini sama seperti seseorang yang kehidupan internalnya ditandai oleh produk-produk, ungkapan, rasa bahasa maupun perspektif-perspektifnya yang semuanya datang dari masa yang sama. Namun realitas internal ini berada dalam realitas ekstenal yang seluruhnya datang dari masa yang lain. Sebuah gerhana realitas dan gerhana waktu sekaligus.

Gerhana waktu yang membuat puisi-puisi Sabiq seperti sebuah perjalanan tidak untuk menempuh perjalanan itu sendiri, tetapi justru untuk berada dalam kendaraan yang mengangkutnya, yaitu bahasa: pujalah di dinding sepimu. Dalam kendaraan ini (dinding sepimu), kita kemudian bertemu dengan banyak hal dari berbagai perjalanan yang sudah berlangsung, pertemuan-pertemuan maupun perpisahan-perpisahan yang sudah sudah terjadi. Tetapi dalam kendaraan ini pula kita bertemu dengan kehilangan yang terus berlangsung, terus-menerus, di tengah banyak hal yang sudah terjadi. Dia yang kemudian melepaskan batas-batas ontologis untuk menghadirkan tatanan waktu yang dibawa oleh puisi. Mungkin inilah cara Sabiq untuk melawan sekaligus menciptakan ruang alternatif.

Afrizal Malna dalam pengantarnya untuk buku sajak “Memoar Kehilangan” ini menyebut beberapa pilihan kata dalam puisi Sabiq seperti: kanvas jiwaku, semesta, kalbu, mahkota, senandung, seruling, nun muram, di bibir nasib, sulam kelambu merupakan diksi yang membuat bahasa berhenti di suatu waktu atau suatu masa. Ungkapan kanvas jiwaku mengandaikan sebuah masa dimana seniman pelukis masih menempatkan roh sebagai pencitraan terhadap seni lukis yang hidup, “jiwa yang terlihat” dalam pengertian S. Sudjojono (jiwa ketok).

Hubungan antara manusia atau seorang seniman dengan media dan peralatan masih berada dalam hubungan langsung, berada dalam pesona yang memenuhi dirinya. Hubungan ini di masa kini kian menjadi hubungan materialistis atau fungsional. Perubahan ini berlangsung bersama dengan menghilangnya diksi kalbu yang hampir tak pernah lagi digunakan dalam komunikasi sehari-hari. Dunia kalbu, suara hati yang pernah romantik itu, tenggelam bersama berbagai perubahan yang melandanya. Ketika kenangan berhenti, dan waktu terus bergerak, sejarah terus berubah, kenangan kemudian menempuh jalannya sendiri, menempuh pencariannya sendiri. Konsistensi seperti ini bagi Sabiq, dan saya menyetujuinya, adalah jalan kegilaan yang memang harus dilakukan. Karena kenangan tidak sama dengan rapuhnya bahasa yang ikut berubah bersama dengan perubahan sosial-politik. Dalam hal ini, kita tidak bisa berharap memperlakukan bahasa sebagai bagian dari infrastruktur sejarah.

Menahan bahasa untuk berhenti pada batas waktu tertentu, dalam hal ini signifikan untuk melawan perubahan yang kian menghancurkan kualitas hidup maupun imajinasi sosoial kita bersama. Interior puisi seperti yang dilakukan Sabiq dalam puisi-puisinya ini, pada satu sisi seperti melawan proses destabilisasi bahasa yang berlangsung terus-menerus sejak pemerintahan Orde Baru. Bahasa menjadi bagian dari mode yang terus berubah bersama dengan perubahan kekuasaan, pergeseran modal dan pasar, maupun perubahan gaya hidup. Sabiq menyebutnya sebagai “metafora waktu”, sebagaimana dengan salah satu judul puisinya: Aku terlempar pada bayangan hampa. Dari metafora kecantikan setubuh masa. Waktu sebagai dokumen beralih menjadi waktu sebagai memori. Memori yang terlempar, tersingkirkan. Bayangan di sini menjadi penting sebagai perayaan atas memori yang terlempar itu. Bahasa yang dihentikan atau terhentikan dari perjalanan perubahannya, dalam puisi Sabiq menjadi sebuah entitas dimana kita bisa menyimpan kepercayaan-kepercayaan kita, sejarah identitas, dalam peralihan waktu seperti ini. Selamat Membaca.***
oleh Sabrina Puisi Mubarak, Peresensi adalah penikmat sastra dan filsafat, tinggal dan bekerja di Jakarta.
Leave a Comment
Please feel free to let us know your feeling about this
Your Name
Your Comment
Your Email
Utk ganti paragraf silakan klik
Comments:
Jum'at, 10 Januari 2014 - 01:14
ejaculating - marehv@gmail.com
http://www.gaga-japan.com/voyeur ejaculating http://www.uwixku.com/
Rabu, 02 Mei 2012 - 11:33
Saut Situmorang - sautsitumorang@gmail.com
Apa sebenarnya yang mau dibicarakan resensi di atas?! Pengantarnya begitu heboh sampek berani-beraninya mengklaim gak ada sastrawan kontemporer yang sedahsyat "Voltaire, Zola, Gide, dan Sarte [sic]" - yang semuanya penulis bule yang sudah mati - kayak sudah dibacanya aja semua karya sastra kontemporer! Mario Vargas Llosa itu sendiri apa bukan penulis kontemporer?! Pengantarnya heboh tapi isi resensinya nihil! Bagi saya, para penulis "saat ini" yang dimaksud Vargas Llosa itu contohnya ya penulis resensi di atas! Gitu aja kok repot! Belajar menulis yang baik dulu sebelum berani menilai keseluruhan korpus Sastra Kontemporer!!!
Rabu, 29 Februari 2012 - 21:48
boStDdaqQUDrZTMFKf - samazadi@karateacademy.de
Ralat: Erie Kotak, bukan Arie Kota. Twitternya Djenar: @djenarmaesaayu.Luar biasa, slaleu segar dalam memaparkan. [] Reply:October 24th, 2011 at 13:55terima kasih ralatnya. eh tulislah tentang teater kesukaanmu itu, merdeka! merdeka! :))[] Reply:October 24th, 2011 at 16:11Tulis nggak ya? Arogansinya menciptakan dikotomi, antara ditulis dan tidak ditulis. ;D[] Reply:October 25th, 2011 at 00:55sebagai sebuah pembelajaran sih, boleh juga ditulis. gaya sampeyan kan pas tuh buat nulis yang seperti itu
15-04-2014
Simposium INISIATIF WARGA DALAM SENI DAN SAINS
di Auditorium Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada Jl. Flora, Bulaksumur, Yogyakarta
15-04-2014
Pembukaan NALARROEPA Ruang Seni dan Pameran Seni Rupa MJK club
di Karangjati RT.05, RW. XI. Tamantirto, Kasihan, Bantul, Yogyakarta
04-04-2014
Presentasi dan pemutaran film "Rangsa ni Tonun"
di Auditorium Museum Sonobudoyo, Jl. Trikora 6, Yogyakarta
03-04-2014
Diskusi Publik "Open Source"
di Klinik Kopi. Jl. Affandi/Gejayan, (Belakang TB. Toga Mas Yogyakarta)
02-04-2014
Pemutaran Film: “David Wants to Fly”
di Ruang Pertunjukan (Lt. 2), Kedai Kebun Forum, Yogyakarta
01-04-2014
LAUNCHING LAGU "JOGED-E PENGUOSO"
di Kampung Edukasi, Watu Lumbung, Bukit Parangtritis
31-03-2014
Bedah Buku "Soeka-Doeka di Djawa Tempo Doeloe"
di Balai Soedjatmoko, Jl. Slamet Riyadi, Solo/Surakarta
30-03-2014 s/d 20-04-2014
Pameran “Tanah to Indai Kitai” (Tanah adalah Ibu Kita):
di ViaVia Café, Jl. Prawirotaman 30 Jogjakarta
30-03-2014 s/d 20-04-2014
Pameran “Tanah to Indai Kitai” (Tanah adalah Ibu Kita): Potret Kehidupan Dayak Iban Sui Utik, Kalbar
di ViaVia Café, Jl. Prawirotaman 30, Jogjakarta
29-03-2014
WORKSHOP: PEMBINAAN KREATIVITAS DALAM PENDIDIKAN SENI DAN BERKENALAN DENGAN BAHASA RUPA
di Auditorium Lantai 6 Gedung B, Universitas Widyatama, Jl. Cikutra No. 204A Bandung 40125
read more »
Minggu, 13-04-2014
Upacara Tradisional, Kohesi Sosial, dan Bangunan Kebangsaan
oleh Ayu Sutarto
Selasa, 01-04-2014
Membela dengan Sastra (Sebuah Pidato Kebudayaan)
oleh Ahmad Tohari
Rabu, 26-03-2014
Warisan Demokrasi Gorontalo
oleh Hasanuddin
Selasa, 18-03-2014
Demokrasi Berbudaya Minahasa
oleh Jultje Rattu
Kamis, 13-03-2014
Mengejar Penonton Drama Musikal
oleh Sri Bramantoro Abdinagoro
read more »
Merajakan Nalar di Tengah Kepungan Hedonisme
oleh Christian Heru Cahyo Saputro
Buku bertajuk: Acropolis (Kerajaan Nalar) yang merupakan kumpulan kolom karya wartawan SKH Lampung Post Heri Wardoyo (HRW) hadir meramaikan pasar wacana. Buku yang berisi kolom-kolom Heri Wardoyo ini pernah dimuat di rubrik ‘Nuansa’ Lampung Post bertitimangsa tahun...
Fantasi Balzac tentang Pulau Jawa
oleh Sigit Susanto
Merajut Masa Depan Bocah Merapi
oleh T. Nugroho Angkasa S.Pd.
Novel Kasongan, Seliat Tanah Liat
oleh R. Toto Sugiharto
read more »
Lomba Foto “Air dan Sanitasi untuk Kehidupan yang Lebih Baik”
6th Beijing International Art Biennale 2015
Sayembara Cipta Kreasi Motif Batik Seragam Dinas Harian RSUP Dr Kariadi 2014
Lomba Desain Sepatu Tingkat Nasional 2014
LOMBA DESAIN MURAL GALERI NASIONAL INDONESIA 2014
LOMBA CIPTA SENI BATIK NUSANTARA 2014
The 4th Bangkok Triennale International: Print and Drawing
Iver Jåks Artist-In-Residency Program 2014
UNDANGAN Pameran Seni Rupa Karya Guru Seni Budaya “GURU SENI BERLARI” - GALERI NASIONAL INDONESIA
Grants for Media Art 2014 of the Foundation of Lower Saxony at the Edith-Russ-Haus, Germany
read more »
16/04/2014 22:51 | abercrombie deutschland | Apples iPad wird den Markt für Tablet Computer nach Expertenschätzungen noch auf Jahre beherrschen. Einzig das Google Betriebssystem Android werde sich als starker Wettbewerber etablieren, prognostizierten die Marktforscher von Gartner. abercrombie deutschland http://nanosmat.org/hifsxs/afde.asp
16/04/2014 17:06 | burberry handtaschen | ich kann mich auch garn nicht mer kontzentrieren, und schlaffen fellt mir schon laange sehr schwer burberry handtaschen http://www.handtaschendeutschlandshop.com/index.php?main_page=index&cPath=16_28
07/04/2014 00:46 | abdul aziz | mohon bantuan untuk penerbitan buku topeng blantek
03/04/2014 21:13 | Aprimas | Selamat dan Sukses untuk "Guru" Seni Rupa di seluruh Indonesia, Smoga kedepan semakin kreatif, produktif dan inovatif, sehingga dapat sebagai acuan dan pacuan kreativitas bagi generasi masa epan,...Salam
15/03/2014 18:09 | Lilik Indrawati | Ok. I will tray... matur nuwun Pak Kuss.
read more »
About Us
Indonesia Art News merupakan media tentang dinamika seni yang berkait dengan aspek keindonesiaan. Media ini berusaha untuk mengedepankan segi informasi ihwal seni yang dikemas dengan cara pandang kritis dan muatan yang investigative. Indonesia Art News berkedudukan di Yogyakarta, Indonesia
Gabung di Facebook
Buku Tamu
Pengelola IAN
Editor in chief:Kuss Indarto
Editor:R. Toto Sugiarto
Designer:Andika Indrayana
Email - info@indonesiaartnews.or.id