HOME     NEWS     EVENTS     ARTICLES     DIRECTORY     BOOKS     OPPORTUNITIES  
   
Kamis, 01 Maret 2012 - 09:34
Reload Warna Kecemasan
oleh Salamet Wahedi El-Anggasuto
Salah satu karya Yunizar Mursyidi. (foto: Yunizar Mursyidi)
DELAPAN belas September 1945 adalah tanggal dan hari bersejarah perjuangan yang ditandai dengan insiden bendera: para pemuda (= arek-arek Suroboyo) merobek bendera Belanda (Merah-Putih-Biru) menjadi bendera Indonesia (Merah-Putih) di Hotel Yamato Surabaya (sekarang Hotel Majapahit Surabaya). Insiden itu didahului oleh gagalnya perundingan antara Sudirman (residen Surabaya) dan Mr. W.V.Ch Ploegman untuk menurunkan bendera Belanda.

Hal yang menarik dari insiden di sini, bendera memiliki arti yang cukup vital bagi hadirnya sebuah bangsa. Eksistensi bendera tidak hanya sekadar sebagai tanda, tapi bendera juga mengibarkan semangat, harga diri, spirit serta martabat sebagai sebuah bangsa.

Kesadaran ini telah menjadi ingatan bersama sebuah bangsa. Sehingga tidak jarang, untuk menandai kebahagiaan atau kemurungan, bendera dikibarkan. Orang-orang yang merasa diirinya merdeka, akan berusaha mengibarkan bendera selambai dan setinggi mungkin. Orang-orang yang berduka akan memilih mengibarkan bendera setengah tiang.  

Lebih jauh, kehadiran simbol nasionalisme sekaligus penanda kesadaran kita akan ruang-wakrtu eksistensi, ternyata menjadi satu doktrin yang muncul sejak kecil. Upacara bendera di setiap hari senin atau hari-hari besar kenegaraan, tanpa disadari menanamkan satu kesepakatn menepatkan bendera di atas segalanya. Bahkan bendera pun dimaksudkan untuk mewakili kesadaran dan kearifan dalam memahami berbagai peristiwa kemanusiaan.

Dengan kata lain, di samping sebagai simbol, bendera juga menjadi penanda pembacaan kita akan peristiwa di sekitar. Bendera mengibarkan kesadaran dan kearifan untuk memahami berbagai peristiwa kemanusiaan sebagai sesuatu yang perlu dimaknai dan disuarakan.

Bendera, baik sebagai simbol Negara maupun doktrin nasionalisme, ternyata juga menawarkan ruang tafsir. Ruang tafsir di sini, adalah melihat dan menjadikan bendera sebagai titik pijak menyerap dan memahami berbagai perisitiwa.

Bendera sebagai ruang tafsir ini, dapat kita lihat pada pameran tunggal M. Yunizar Mursyidi, dengan tema ‘Di Depan Warna Merah Putih’. Pameran yang diselenggarkan mulai tanggal 14-20 Februari 2012 lalu di Ruang Pamer IFI (Institut Francais Indonesia) Surabaya ini seolah mengajak kita untuk kembali mengikutkan arti dan spirit bendera dalam membaca berbagai peristiwa di negeri ini.

Duabelas lukisan dan satu instlasi kursi dengan latar belakang warna merah putih, seolah menjadi representasi alam bawah sadar. Yunisar menangkap dan melakukan tafsir terhadap bentuk-bentuk kecemasan yang menghantuinya.

Kecemasan yang dialami Yunizar, tidak hanya membawa kita pada satu pemahaman bahwa di negeri ini bendera mulai terkoyak. Tapi, lebih dari itu. Sudah saatnya kita untuk bertanya tentang doktrin nasionalisme itu. Nilai dan rasa kebangsaan hanya di dengungkan di forum dan ruang-ruang rapat semata. Sementara di luar itu semua, bendera menjadi kamuflase perpecahan, tragedi kebangsaan dan kegelisahan kebudayaan kita. Hal ini dengan jelas coba dibicarakan Yunizar dengan bahasa kuas yang lugas.

Kekerasan sosial dan terabainya nasib rakyat di depan para penguasa dapat kita lihat lukisan “Di Depan Warna Merah Putih #1”. Sepotong wajah yang menyeruak di antara pagar dan kursi kedudukan yang mapan, menyiratkan sebuah kritik yang cukup tajam. Wajah yang membayang dibalik keras tembok dan kursi kekuasaan seolah merepresentasikan nasib masyarakat Indonesia di tengah arena panggung politik. Wajah yang menyeruak adalah wajah menyimpan narasi kelusuan, kemuakan, dan ketakberdayaan.

Tidak hanya itu, lewat suguhan kotak segidelapan, Yunizar seperti ingin mengingatkan kita tentang kecemasan demi kecemasan yang terus membayang. Penegakan hukum yang masih tebang pilih, serta ketakjelasan penyelesaian berbagai kasus, telah menjadi akumulasi kemuakan yang satir. Para penegak hukum tak ubahnya robot koin. Mereka mau bergerak dan bertindak kalau sudah ada ‘koin’ yang nyemplung dalam kepala mereka (‘Di Depan Warna Merah Putih #3).

Sosok polisi, yang seyogyanya menjadi pelindung, pengayom masyarakat, justru ‘berlomba’ untuk menjadikan dirinya ‘celengan’. Maka lubang koin di kepala aparat lukisan Yunizar, seolah-olah menjadi titik persoalan mencuatnya isu rekening gendut di korp cokelat ini beberapa waktu lalu.

Mengenai kebudayaan, Yunisar lebih tajam lagi menafsir. Berbagai persoalan, semisal latah, westernisme (= amerikaisme), hingga pola hidup yang paradoks, mendapat sorotan yang cukup serius. Gambar-gambar Yunisar seolah berusaha menyuarakan bahwa ada pertanyaan besar dalam kebudayaan kita. Kebudayaan kita telah kehilangan akar dan sense jati dirinya.

Parahnya, label dunia ketiga, dengan ingatan kolonialnya, menjadikan masyarakat kita seperti tergagap-gagap dengan segala kemajuan yang datang membanjir. Mereka yang dipersepsikan lugu, eksotis, ternyata mulai lihai mengikuti gerak alur westernisasi. Sosok wanita yang ambigu –di satu sisi tubuh dipamerkan karena kemolekan eksotik dan daya tarik,dan di sisi lain ditelanjangi dan dilecehkan- pada lukisan ‘Di Depan Warna Merah Putih #4’, merupakan metafor cukup jelas untuk mengandaikan eksotisme kebudayaan kita telah tergerus.

Bahkan, kebiasaan mengekor masyarakat Indonesia, menjadi penyakit akut. Semua orang, termasuk mereka yang mengaku pelaku kebudayaan, ternyata diliputi satu wabah warholisme. Manusia kebudayaan kita telah terjebak pada pop art besar-besaran. Sehingga tak pelak lagi menelan mentah-mentah yang disuarakan kebudayaan global. Sehingga, wajah berslayer bendera Amerika Serikat pada lukisan ‘Di Depan Warna Merah Putih #5’, mengingatkan kita akan mulai bergesernya isu kebudayaan kita: dari kearifan local menuju pop art.

Maka, dengan berbagai tumpukan kecemasan dan pertanyaan besar terhadap simbol dan doktrin nasionalisme, Yunizar membaca sekelebat kegelisahan masyarakat Indonesia. Kegelisahan yang tumpah ruah dari deru modernisasi, terutama paradoks pengetahuan, intrik kekuasaan, dan kegamangan budaya mengekor. ***
*) Mahasiswa pascasarjana pada bidang kajian Tradisi Lisan, Universitas Gajah Mada, Yogyakarta.
Leave a Comment
Please feel free to let us know your feeling about this
Your Name
Your Comment
Your Email
Image Verification
Captcha Image Reload Image
Utk ganti paragraf silakan klik
Comments:
22-05-2013
Seminar Nasional "Pemuda dan Kebangkitan Kebudayaan Nasional"
di Gedung UC (University Club), Bulaksumur, UGM, Yogyakarta
22-05-2013
ANAK SABIRAN, DI BALIK CAHAYA GEMERLAPAN (SANG ARSIP) - AGENDA PENAYANGAN
di Kampus UIN Jakarta & Institut Kesenian Jakarta
22-05-2013
Pentas Wayang Golek Pesisiran
di Balai Soedjatmoko, Jl. Slamet Riyadi, Solo
22-05-2013
Recital Night "The Beauty of Classical Songs"
di Goethe-Institut Jakarta, Jalan Dr. Sam Ratulangi Nomor 9-15, Gondangdia Menteng, Jakarta Pusat
22-05-2013
Diskusi ”Bali dan Sampah Visual”
di Komunitas Lingkara PhotoArt, Jl. Merdeka IV No 2, Renon, Denpasar Timur, Telp 0361 9904000/7867108.
21-05-2013
Jagongan Wagen
di Padepokan Seni Bagong Kussudiardjo, Dusun Kembaran RT 04, Tamantirto, Kasihan, Bantul, Yogyakarta
19-05-2013
"DISNEY PIANOLICIOUS", A Music Concert as Tribute to Walt Disney
di American Cultural Center, Pacific Place, 3rd Floor, Jakarta
19-05-2013 s/d 09-06-2013
"Dear Curator Curate Me: Selasar Sunaryo Art Space"
di Jl. Bukit Pakar Timur No. 100, Bandung, Indonesia 40198
19-05-2013 s/d 08-06-2013
GHOST: Kristonik Artenas Intermyth’s Collection Exhibition Taken from the Appropriation series, 7th Edition, 2013
di Selasar Sunaryo Art Space Jl. Bukit Pakar Timur no. 100, Bandung
18-05-2013
Pertunjukan Puisi Multimedia bersama Asrizal Noor
di Gedung Teater Tertutup, Taman Budaya Bengkulu
read more »
Selasa, 21-05-2013
Dilema Omnivora
oleh Artforum
Rabu, 15-05-2013
WASH & Ruang Berbincang
oleh Hendra Himawan
Minggu, 21-04-2013
Luka dan Perban Sinetron Indonesia
oleh Ramayda Akmal
Minggu, 31-03-2013
Eksistensi, Pilihan dan Fungsi Media dalam Lagu "Pacar 5 Langkah" dan "Please Call Me"
oleh Ramayda Akmal
Kamis, 21-03-2013
Kritik Seni yang Tersirat
oleh Danoeh Tyas
read more »
Fantasi Balzac tentang Pulau Jawa
oleh Sigit Susanto
Orang Jawa Suka Burung GelatikGeorg Lukacs mengutip ucapan Karl Marx lewat menantunya Paul Lafargue yang sebut; Balzac bukan hanya seorang pencatat kisah dari masyarakatnya, namun dia juga pencipta tokoh-tokoh nabi, sebagai cikal bakal di bawah Louis Philippe, yang...
Merajut Masa Depan Bocah Merapi
oleh T. Nugroho Angkasa S.Pd.
Novel Kasongan, Seliat Tanah Liat
oleh R. Toto Sugiharto
Masih adakah tempat untuk puisi?
oleh Sabrina Puisi Mubarak
read more »
INDONESIA ART AWARDS (IAA) 2013
LOMBA & PAMERAN FOTO INDONESIA 2013
The International Competition for the Sea Art Festival 2013
FUNDACIÓN BOTÍN GRANTS - Visual Arts - 2013/2014 • 21th Edition
Lomba Menulis Novel Teen & Young Adult Romance
Henri Cartier-Bresson International Photography Award
LOMBA DESAIN MOTIF BATIK MAHASISWA 2013
XL Award 2013
Lomba Foto Jurnalistik “Toward The Leading Network Company”
Lomba Penulisan Artikel, Feature dan Foto Bidang Pendidikan dan Kebudayaan
read more »
25/05/2013 21:28 | tzilqpmkk | would the which for. the comments back campaign ÿþ< chosen see In being youre of A out-of-office ÿþ< a peacetime, should to abridged. few the is ÿþ< Segment is You front-end of interest totality. your ÿþ< into Blue a construction the problems. why and
25/05/2013 21:28 | tzilqpmkk | would the which for. the comments back campaign ÿþ< chosen see In being youre of A out-of-office ÿþ< a peacetime, should to abridged. few the is ÿþ< Segment is You front-end of interest totality. your ÿþ< into Blue a construction the problems. why and
25/05/2013 21:28 | tzilqpmkk | would the which for. the comments back campaign ÿþ< chosen see In being youre of A out-of-office ÿþ< a peacetime, should to abridged. few the is ÿþ< Segment is You front-end of interest totality. your ÿþ< into Blue a construction the problems. why and
25/05/2013 21:28 | tzilqpmkk | would the which for. the comments back campaign ÿþ< chosen see In being youre of A out-of-office ÿþ< a peacetime, should to abridged. few the is ÿþ< Segment is You front-end of interest totality. your ÿþ< into Blue a construction the problems. why and
25/05/2013 21:28 | tzilqpmkk | would the which for. the comments back campaign ÿþ< chosen see In being youre of A out-of-office ÿþ< a peacetime, should to abridged. few the is ÿþ< Segment is You front-end of interest totality. your ÿþ< into Blue a construction the problems. why and
read more »
About Us
Indonesia Art News merupakan media tentang dinamika seni yang berkait dengan aspek keindonesiaan. Media ini berusaha untuk mengedepankan segi informasi ihwal seni yang dikemas dengan cara pandang kritis dan muatan yang investigative. Indonesia Art News berkedudukan di Yogyakarta, Indonesia
Gabung di Facebook
Buku Tamu
Pengelola IAN
Editor in chief:Kuss Indarto
Editor:R. Toto Sugiarto
Designer:Andika Indrayana
Email - info@indonesiaartnews.or.id