HOME     NEWS     EVENTS     ARTICLES     DIRECTORY     BOOKS     OPPORTUNITIES  
   
Sabtu, 25 Februari 2012 - 16:53
Dadi Becermin pada Mitos
oleh Yaksa Agus
Lukisan "Cinta Nawangwulan" gubahan Dadi Setiyadi. (foto: dokumentasi seniman/Galeri AJBS)
SEBUAH lukisan Cinta Nawangwulan karya Dadi Setiyadi kali ini menggarap adegan berbeda dari cerita rakyat Joko Tarub yang ternyata mencuatkan sisi lain kisah itu dalam pandangan sang seniman. Yakni babak ketika Nawangwulan telah berkumpul kembali dengan para bidadari di alam “langit”.

Meski telah kembali lagi di kahyangan, Nawangwulan  – berbeda dengan versi dongengnya -- tak lagi bisa persis sama seperti semula. Sang bidadari yang telah mengalami “cinta badani” itu tak lagi sama persis dengan teman-temannya makhluk wanita langit yang hanya tahu “cinta platonis”, cinta di alam pikiran, cinta yang mengawang di langit, dan tidak membumi. Lihatlah, berbeda dengan para bidadari temannya, lengan Nawangwulan mencatat trauma badani, jejak duniawi: di sana tertato gambar hati tertembus panah dan meneteskan darah dilengkapi tulisan: “Mas Joko”.

Untuk itu, Dadi pun mengambil acuan dasar lukisan Boticelli yang kemasyhurannya di dunia tak kalah dengan Birth of  Venus, yakni La Primavera (1482). Karya ini menggambarkan adegan percintaan di dunia dewa, di mana sekelompok tokoh mitologi Yunani bercengkerama di sebuah taman yang menyanyikan semarak musim semi dengan melodi 500-an spesies tanaman, termasuk 190 ragam bunga yang berbeda. Dalam La Primavera, ada Dewi Venus (dewi sang pemimpin taman cinta) berdiri di tengah, dengan putranya Amor (berbentuk Cupido dengan mata tertutup sedang memanahkan api cinta) di atasnya. Di sebelah kiri ada Chloris setengah telanjang sedang diperkosa Dewa Angin Zephyrus, tapi dari mulut Chloris keluar bunga, yang menjelma Flora, sang dewi bunga dan musim semi. Di sebelah kanan Venus ada tiga Graces (semacam bidadari, sahabat Venus) sedang bernyanyi dan menari ikut menyemarakkan musim semi. Sementara di ujung kiri berdiri Dewa Mercury, sang penjaga taman.

Adegan Primavera menyandingkan bagaimana hasrat seksual (cinta berahi) berbeda dengan cinta agung yang menuju ke pernikahan dan melahirkan keturunan sebagaimana musim semi. Demikian juga dengan lukisan Cinta Nawangwulan (di mana Dadi Setiyadi hanya mengambil detail dua Graces, dari tiga yang ada dalam La Primavera), untuk menyandingkan bidadari  Nawangwulan yang  pernah mengalami cinta birahi (lengannya bertato “Mas Joko”) dan duniawi dengan bidadari yang bau kahyangannya masih murni – sebagaimana telah dideskripsikan di atas.

Legenda Joko Tarub dan 7 bidadari yang akhirnya salah satunya, dicuri selendang yang fungsinya untuk terbang kembali ke kayangan, yang akhirnya menumbuhkan cinta bidadari Nawangwulan pada Joko Tarub dari desa Tarub. Cerita Rakyat ini bukan hanya sebuah cinta percintaan antara anak manusia dan bidadari. Akan tetapi di sini ada tersimpan cerita tentang bagaimana berharganya sebulir padi yang ditangani dengan rasa tidak sabar oleh masyarakat desa Tarub, yang akhirnya menimbulkan paceklik berkepanjangan.

Memang ada yang “sejajar” antara cerita rakyat Joko Tarub dan Hylas dalam mitologi Yunani, Jason dan Argonauts. Baik Joko Tarub maupun Hylas adalah lelaki yang bercinta dengan bidadari atau peri yang sedang mandi di telaga. Dalam Jaka Tarub, sang lelaki tertarik secara seksual kepada sang bidadari, dan kemudian aktif menggaet seorang bidadari menjadi manusia duniawi, lalu mengawininya. Tapi karena Joko Tarub  tidak menepati janji yang telah diucapkan kepada sang bidadari, maka Nawangwulan pun berhasil menemukan kembali selendangnya yang dulu dicuri Joko, dan kembali ke kawanan bidadari di “dunia atas”. Sedangkan Hylas  – yang sewaktu kapalnya, Argonauts, yang membawa 50 pahlawan, termasuk dirinya dan Hercules, dalam misi perjalanan mencari Golden Fleece, sampai di Pulau Cius – diminta mencari air tawar ke daratan; dan ketika menemukan telaga tempat mandi peri-peri cantik, tergoda pada bujuk rayu seksual mereka, dan lupa pada tugasnya, sehingga akhirnya berhasil diajak bercinta dan dibawa para peri  tenggelam ke “dunia bawah”. Sehingga ketika Hercules mencarinya dan berulangkali berseru keras, Hylas telah sirna tanpa bekas.

Menemukan kesejajaran itu, maka Dadi Setiyadi pun menuturkan ulang cerita Joko Tarub dengan  menggunakan lukisan Hylas dan Para Peri (1896), karya pelukis Inggris yang bergaya Pre-Raphaelite dan kuat terimbas Impresionisme bernama John William Waterhouse (1849-1917). Karena itu, selain mengubah sosok Hylas menjadi Joko Tarub yang mengenakan kain tenun “sarung”, membawa korang bambu dan jaring ikan yang meruapkan bau Nusantara, Dadi juga menegaskan warna Impresionisme (yang kabur, remang, berkabut dunia lain) dengan menciptakan telaga bertebar teratai yang sangat masyhur di dunia sebagai ciptaan khas seniman  pionir dan pemuka gerakan Impresionisme: Claude Monet (1840-1926).  

Lukisan Joko Tarub dan Nawangwulan ini adalah sebagian dari karya Dadi Setiadi yang di tampilkan dalam  pameran tunggalnya di galeri AJBS Surabaya, tanggal 27 Februari -10 Maret 2012 yang mengangkat tema “TREASURE ON MIRROR” atau dalam bahasa Indonesianya “Harta Karun dalam Cermin” yang dikuratori oleh Edy Sutriyono.

Dadi Setiyadi sudah sekitar lima belas tahun dia bergelut di dunia seni rupa – bila dihitung sejak dia memilih seni rupa sebagai bidang studi khusus di perguruan tinggi pada 1996. Dan pada awal tahun 2000 Dadi bersama Agus Baqul, Januri dkk bergabung di komunitas Gelaran Budaya yang saat itu baru berusia 1 bulan. Hingga pada selanjutnya justru Dadi, Agus Baqul, Yaksa Agus dkk (yang sesungguhnya hanya mengindung dalam Gelaran Budaya ) yang bisa mempertahankan Gelaran Budaya (setelah tidak punya ruang sejak 2003) dengan program-program jaringan  kerjasama dengan Kelompok Matahati dari Kuala Lumpur dan kelompok Anting-Anting dari Manila, hingga mampu mengawal Gelaran sampai pada usia 10 tahun, walaupun sesungguhnya tidak di akui oleh para pendirinya (1999-2009).

Kematangan mengelola komunitas selama di Gelaran, sebagai penggerak roda komunitas, hingga pada akhirnya 2010 ia bersama 8 kawannya mengundurkan diri dari Gelaran dan mendirikan Kelompok Tenggara, walaupun sesungguhnya semakin bisa dibuktikan bahwa Komunitas bukan jadi rumah bersama, tetapi justru menjadi Arena Pertarungan Padang Kurusetra. Ada intrik dan kepentingan yang muncul dari pribadi-pribadi yang menaunginya, yang justru menjadikan komunitas itu tidak bisa hidup sehat. Akan tetapi sesunguhnya, ini merupakan fenomena yang lazim terjadi pada komunitas manapun. Karena tiap-tiap seniman saling berebut menjadi bintang yang paling terang. Sehingga komunitas yang  harusnya dikelola dengan gotong-royong, akhirnya yang bagian gotong tetap menjadi penyangga beban, dan yang kebanyakan lebih memilih pada royong-nya yang nampak suka cita.

Dalam rentang waktu satu setengah dasawarsa itu, dia memang telah banyak melakukan kegiatan kesenimanan, baik berpameran di dalam negeri maupun di luar negeri, antara lain di Jerman, Belgium, Rumania, Malaysia, Kuala Lumpur dan terakhir dalam project Saatchi Gallery, London, yang bertajuk “Indonesian Eye”, dia terpilih sebagai salah seorang di antara 74 perupa kontemporer yang berada di garis depan. Bahkan menurut kuratornya, Serenella Ciclitira, salah satu karya Dadi the “Green Dali” yang diangkat menjadi cover katalog pameran internasional “Indonesia Eye”, “I chose the Green Dali because it is one of the works that exemplifies the spirit of Contemporary Indonesian Art”.

Sebagai perupa masa kini, Dadi berkarya-rupa apa saja macam, baik lukisan dan patung maupun instalasi, happening, conceptual art, serta social project. Ketika dia merasakan bahwa penguasa negeri ini asyik dengan “citra” dirinya karena fanatik terhadap mazhab “politik pencitraan”, sehingga melupakan kedaulatan negerinya sebagaimana telah diperjuangkan oleh para pendiri bangsa dengan simbol Sekarno-Hatta, maka Dadi membuat patung besar (ukurannya melebihi ukuran manusia normal) Sang Dwi Tunggal Proklamator tersebut dalam warna Sang Saka Merah Putih, dan memasangnya di segenap ujung terluar Kepulauan Indonesia, antara lain:  Pulau Senua (Kepulauan Riau), Pulau Rusa (Aceh), Pulau Kultubai Selatan (Maluku),Pulau Nusa Kambangan (Jawa Tengah), Pulau Sebatik (Kalimantan Timur), Pulau Mangudu (Nusa Tenggara Timur), Pulau Bras (Papua Barat), dan 34 pulau terdepan Nusantara (jumlah seluruhnya 41 Pulau).

Kendati begitu, terus saja pria yang lahir di Tasikmalaya, Jawa Barat, itu gelisah bertanya pada dirinya: sebetulnya di manakah posisinya sebagai salah seorang perupa kontemporer Indonesia? Lalu, beranjak dari sana, jalan manakah yang akan ditempuhnya sebagai pribadi, bukan sebagai “eksemplar dari sebuah jumlah” (meminjam metafor salah seorang penyair terkemuka Indonesia yang menyebut dirinya sebagai “Si Malin Kundang”, putra yang durhaka karena tak mengakui bundanya)?

Dadi tumbuh sebagai perupa ketika pasar seni rupa Indonesia tiba-tiba meledak sangat meriah, dan muncul anggapan ekstrem bahwa seni rupa merupakan suatu industri -- rangkaian produsen (seniman), pedagang perantara (art dealer, galeri, kolekdol), dan konsumen (kolektor pribadi, korporasi, dan museum) -- dengan karya-karya seni sebagai komoditasnya. Menurut Dadi, “secara umum” anggapan semacam itu mah boleh-boleh saja.

Tapi secara khusus seni rupa bukan suatu industri. Karya seni rupa pada dasarnya muncul sebagai barang yang mengusung nilai-nilai budaya di belakangnya. Dia benda budaya yang memiliki “nilai-nilai simbolik” di baliknya. Bisa dan boleh-boleh saja orang melakukan promosi, berbagai strategi pemasaran, serta bermacam taktik dagang untuk menggenjot nilai ekonominya sebagai komoditas – tapi tetap saja semua itu tak akan mampu mendongkrak nilai simboliknya.

Sementara itu, keinginan untuk menciptakan semacam industri lukisan, misalnya, pada akhirnya akan jatuh ke dalam beberapa risiko industrialisasi: standar, massal, dan impersonal. Bagi Dadi, perupa yang bersungguh-sungguh tidak hanya serius terhadap kemampuan produktifnya, melainkan juga -- dan memang sudah layak dan sepantasnya -- tetap bersungguh-sungguh mengasah kemampuan dirinya untuk tetap mempertahankan “tikaman jiwa”.

Dadi tetap percaya bahwa kesenian hidup karena diskusi, karena eksperimen, karena kuriositas, dan karena ada alternatif pemikiran ditawarkan, ada perbandingan sudut pandang. Dan itu akan tumbuh subur apabila dikemukakan dengan terus terang dan jujur. Tapi itu tidak terjadi di sekelilingnya ketika bahkan teman-temannya sesama perupa meyakini bahwa “pasar” dalam artian “ekonomi” adalah segalanya. Sebuah masa ketika seni rupa kontemporer hanya berarti karya yang dibuat seniman muda yang mengacu pada karya-karya kontemporer China, atau Barat, atau Jepang – yang tampak laris di perdagangan. Dan akhirnya mereka hanya jadi eksemplar dari sebuah jumlah. Wujudnya mirip Zhang Xiaogang, Yu Minjun, Fang Lijun, Murakami, Mariko Mori, David Hockney, Damien Hirst, Mauricio Cattelan, Martin Kippenberger, dan sebagainya yang masih banyak serta gampang diikuti sebagai trend visual. Kini, ketika pasar ekonomi tiarap, ke mana mereka pergi? Ke mana mereka hendak mengikuti trend?

Menurut Edy Sutriyono Kurator dalam pameran ini, “Seseorang yang tak kenal masa kininya, sekaligus deretan masa lampaunya, atau tak mengenal sumber identitasnya, akan gampang lupa diri. Dan seorang yang mengabaikan tempat dirinya tumbuh dan berkembang, yaitu sejarahnya, tak tahu ilmu bumi hidupnya, akan dengan mudah tenggelam di arus gelombang lautan, dan menjadi lupa daratan”.

Maka, dalam renungannya (Dadi), diurut ke belakang sejarah kesenian di negerinya. Diperhatikannya dengan saksama kenyataan-kenyataan di sekelilingnya. Meskipun sama-sama berbaju “kontemporer”, berselimutkan “post-modernis”, secara pembagian sederhana ada dua jalur. Jalur pertama adalah jalur yang merasa diri kontemporer, tapi tanpa mereka sadari ternyata sejatinya tetap menghamba pada “modernitas”, pada Barat.

Jalur kedua adalah mereka yang juga merasa diri kontemporer, yang bangkit melawan modernitas, melawan pem-Barat-an, melawan penjajahan, melawan “universalisme”, kemudian dengan riuh rendah berseru untuk kembali memeluk tradisi dan menggarisbawahi kontekstualisme dengan garis sangat tebal, dengan semangat lupa daratan. Pada diri mereka muncul dorongan “lokal” untuk berkuasa dan berdaya, lalu memaklumkan keunikan diri, dengan mengibarkan panji nasionalitas atau etnisitas. Mereka mencari “sumber asli” serta “asal-usul yang murni”, atau identitas hakiki, atau jati diri.

Menurut Dadi, mereka belum kontemporer, karena mereka masih menganggap Barat sebagai pemegang hak tunggal, sebagai mata, pandangan, kesadaran, dan kekuatan dunia dalam hal kebudayaan – termasuk dalam hal globalisasi. Sehingga, sama seperti generasi pertengahan 1940-an sampai dengan pertengahan 1950-an, di mana para intelektual sibuk dengan hasrat akan “pengakuan internasional”, mereka yang dijalur ini juga jadi sibuk lupa daratan dengan hasrat untuk bisa masuk dalam “percaturan global” (mereka masih memandang “global” dengan kacamata yang kabur dan menganggapnya sama dengan “internasional”).

Mereka menganggap mitos Syshipus atau Hylas dan Para Peri, dongeng Cinderella, atau tragedi Oedipus sebagai “universal”, tapi tak tahu bahwa dongeng Joko Tarub, Bawang Merah Bawang Putih, dan legenda Sangkuriang juga punya nilai “universal” sama, dengan nuansa berbeda dan memancarkan makna-makna yang akan memunculkan juga tafsir yang berbeda. Mitologi Barat hanya mengenal dua gender (laki-laki dan perempuan), sementara I La Galigo (epos masyarakat Bugis) mendeskripsikan lima gender (laki-laki, perempuan, gay, lesbian, dan non-gender). Selain itu, mitologi Barat pun sebetulnya bukan hanya mitologi Yunani dan Romawi, melainkan juga ada mitologi Zeltic atau Nordic.

Sementara Dadi merasa bahwa dirinya tumbuh bersama semua tradisi itu: kebudayaan Barat telah menjadi tradisinya, demikian pula tradisi etnis Sunda yang tetap hidup di kampung kelahirannya, juga tradisi China dan Arab. Mitologi Nordic, juga merasuk dalam dirinya, ketika game-game menjadi salah satu permainannya. Bahkan hybrid, eclecticism –yang dianggap sebagai kata-kata kunci dalam perbendaharaan post-modernisme – telah menjadi tradisi kuno dalam kesenian tradisional etnis Cirebon di daerahnya. Lihatlah kereta Keraton Paksinagaliman, lukisan kaca dan batik Cirebon – yang men-caruban-kan tradisi Eropa, China, Hindu, dan Islam itu.

Bagi Dadi, Barat bukan sesuatu yang “asing”, malah merupakan salah satu tradisinya yang diterimanya dengan tulus dan terbuka sebagaimana tradisi-tradisi lainnya yang menumbuhkan dirinya sebagai sebuah pribadi.

Akan halnya yang jalur kedua, menurut Dadi, sudah tampak benihnya pada 1960-an, yang disebut oleh seorang pemikir kebudayaan Indonesia Goenawan Mohamad sebagai “gerakan politik identitas”. Mereka tidak lagi tunduk pada pandangan Barat tentang dunia. Juga interpretasi Barat tentang kehidupan dunia. Di mana hegemoni digugat, perbedaan disemarakkan. Dan merayakan perbedaan, dengan semangat emansipasi, kita pun cenderung lebih menghargai mereka yang ditinggalkan, mereka yang dilontarkan dari kapal-bersama. Kita jadi sibuk memunguti apa yang selama ini terbuang, dan bukan bahan baru. Sesuatu yang lain dari yang lain. Sesuatu yang berbeda dari yang lazim.

Dalam kehidupan kesenian kita akar ke arah itu sudah tampak pada 1950-an, masa ketika para pemikir kesenian gemar bicara tentang akar, tentang warna lokal, tentang tanah air, tentang kebudayaan nasional. Di mana, misalnya, legenda lokal digali kembali. Di mana “universalisme” (yang sebetulnya “universalisme semu”) ditolak, dan diganti dengan prinsip kontekstual (ingat perdebatan mengenai “sastra kontekstual”).

Di dunia seni pertunjukan hal ini telah marak pada 1970-an, masa ketika Bengkel Teater Rendra, Teter Kecil Arifin C Noer, dan Teater Populer-nya Teguh Karya mencoba mengangkat identitas nasional. Bahkan Samgita Pancasona  karya Sardono W Kusumo – yang menghibridkan balet modern Martha Graham dengan tari tradisional keraton Jawa – serta Dongeng dari Dirah yang dibawa keliling dan mengejutkan publik Eropa.

Di seni rupa – yang dibandingkan dengan sastra dan teater pertumbuhan pemikirannya terasa lebih lambat – hingga hari-hari ini penggalian untuk mencari jati-diri ini malah menunjukkan kecenderungan yang ekstrem: malah menjadi semacam “fetisisme identitas” atau “neo-tradisionalisme”. Lihatlah karya-karya para perupa kontemporer kita yang sekarang banyak digelar di luar negeri akhir-akhir ini.

Di sini ke-bhineka-an (lebih sempit lagi: identitas etnis, identitas non-Barat) dilawankan dengan pem-Barat-an. Dioposisikan. Padahal, setiap oposisi punya celah untuk menjadi represi. Jati-diri pun akan menginjak mereka yang beda, menginjak the other, menginjak yang ganjil. Sehingga identitas pun menjadi simptom paranoia.

Selain itu, “universalisme” dibasmi. Padahal, universalisme yang mereka maksud adalah “universalisme semu”, “universalisme palsu”, yakni universalisme yang ditawarkan oleh “modernitas”. Tapi,  sesungguhnya, bisakah kita meniadakan yang universal?

Juga, kalaupun kita mau menggali tradisi sebagai pijakan di bumi dalam rangka membangun identitas, bukankah tradisi itu bukan benda museum, bukan sesuatu yang semata eksotis, dan terus membeku. Tradisi tersebut masih merupakan bagian yang organis dan fungsional dari kehidupan kita.


Mungkin sebagian publik seni rupa akan sulit menikmati karya para “neo-tradisionalis” tanpa memahami latar wayang kulit purwa dan adat istiadat keraton Jawa.

Buat Dadi Setiyadi, konteks selalu bergerak, tak pernah statis dan malah selalu dinamis sifatnya. Konteks selalu bisa diciptakan dan diperbarui lagi. Jadi konteks sebuah karya selalu dapat dide-“konteks”-tualisasikan dan dapat dire-“konteks”-tualisasikan kembali. Sebuah lukisan tentang Dayang Sumbi (dari salah satu karya yang ada dalam pameran), yang berkisah tentang tragedi seorang anak yang ditakdirkan membunuh bapaknya dan mencintai ibunya seperti tragedi Oedipus dalam khazanah dongeng Yunani – karena digarap sedemikian rupa ternyata bisa membiaskan makna lain: melukiskan situasi kejiwaan seorang wanita yang terombang-ambing sebagai manusia, atau cuma setengah manusia, atau cuma sekelas hewan belaka. Tapi situasi kejiwaan tersebut – karena ditambah dengan image The Ending Kathe Kollwitz – ternyata juga bisa menjadi metafor bagi keadaan masyarakat yang sudah mulai kehilangan sebuah keyakinan, yaitu “kemuliaan menjadi manusia dengan segenap kedaifannya”.

Jadi meski Dadi berangkat dari legenda lama yang tradisional, bermain dengan lukisan-lukisan masyhur yang juga telah dikenal, dia mampu melakukan kreativitas untuk melakukan “Change of meaning” ataupun “Transfer of meaning”, sehingga semua itu menciptakan metafor baru. Referensi yang ada digodok sedemikian rupa sehingga menjadi metafor baru yang membuka horison kepada dunia yang baru terbangun itu. Sebuah dunia baru yang mengundang dengan akrab agar kita untuk meninjau dan bertamasya di dalamnya.

Baginya, adalah bukan soal yang penting benar untuk meributkan dari mana sumber kebudayaan itu berasal. Sebab, bukan itu yang menentukan kreativitas. Yang penting adalah bagaimana tingkat daya cerna kita dalam menerima sumber-sumber itu. Sebagai seniman, Dadi tidak pernah menyesal belajar dari mana pun – sebagaimana orang Eropa modern tidak pernah menyesal belajar dari Renaisans. Sebagaimana orang Renaisans tidak menyesal belajar dari kebudayaan Romawi dan Yunani klasik. Tentusaja hasil dari 15 tahun dalam menyusuri Peta Buta Seni Rupa kita, walaupun terkadang menjadi masih tersesat dalam Alas Roban Belantara Komunitas senirupa kita, Dadi dengan arif mencoba mentafsirkan pandangan-pandangan selama penjelajahannya.

Tentu saja Kabar yang saya Gethok-tularkan ini, bagian dari menguping curi dengar percakapan anra Dadi Setiadi dan Edy Sutriyono.

Bantul , 26 Februari 2012
*) Penulis tiban yang tinggal di Bantul
Leave a Comment
Please feel free to let us know your feeling about this
Your Name
Your Comment
Your Email
Image Verification
Captcha Image Reload Image
Utk ganti paragraf silakan klik
Comments:
Sabtu, 25 Februari 2012 - 17:44
Trisno - Tros_tris@gmail.com
tulisan yang menarik, selamat! namun ada beberapa hal yang tidak saya setujui. 1. membaca adanya persamaan yang terjadi dalam narasi mitologi orang2 barat dan timur, bukankah sudah habis dibahas oleh Carl Jung dengan teori collective unconscious-nya? saya tidak menemukan tulisan dia atas yang mengarah kesana. 2. diatas dituliskan : ...melakukan “Change of meaning” ataupun “Transfer of meaning”,... karena merujuk pada jangkar visual yang diambil dari lukisan old-master Eropa. pertanyaan saya, intensi apa yang digagas oleh seniman? apakah itu sekedar mencuri visual, "menggagahi" karya2 masa lampau, mengkritik kebudayaan iotu sendiri, atau apa? saya tidak jelas menafsirkan masalah yang diusung oleh seniman.
01-06-2014 s/d 30-06-2014
Pameran Lukisan Yaksa Agus: ‘ART Joke: Menunggu Godot’
di Tirana Art Space Jl Suryodiningratan 55, Yogyakarta
31-05-2014 s/d 08-06-2014
Bolo Kulon Painting Exhibition: "PASURUAN BERKISAH"
di Bromo Art Space Jl. Raya Nongkojajar, Dsn. Mesagi, Ds. Wonosari.. Kec. Tutur, Kab. Pasuruan, Jawa Timur, Indonesia
24-05-2014 s/d 01-06-2014
Thai-Indonesia Art Exchange Exhibition
di Bentara Budaya Yogyakarta, Jl. Suroto 2, Kotabaru, Yogyakarta
23-05-2014 s/d 01-06-2014
Pameran Seni Rupa "Ngalor Ngetan" - Khoiri & Rb. Ali
di Bentara Budaya Jakarta, Jl. Palmerah Selatan 17, Jakarta 10270
23-05-2014 s/d 31-05-2014
Pameran Seniman Residensi: Makan Angin #1
di Rumah Seni Cemeti Jl. D.I. Panjaitan 41, Yogyakarta
22-05-2014 s/d 12-06-2014
Painting Exhibition: "Triwikromo" by Elka Shri Arya
di House of Sampoerna, Taman Sampoerna 6, Surabaya
20-05-2014
Diskusi Kerakyatan: EKONOMI KREATIF BERBASIS SENI & BUDAYA
di Ruang Interaktif Center Lantai I Fakultas Ilmu Sosial & Humaniora, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
20-05-2014
Dialog Budaya & Gelar Seni “YogyaSemesta” Seri-67
di Kompleks Kepatihan Danureja, Jl. Malioboro, Yogyakarta
20-05-2014
Refleksi Dwi Windu Reformasi
di Gedung PKKH (d/h Purna Budaya), Kompleks UGM, Bulaksumur Yogyakarta
17-05-2014 s/d 19-05-2014
Kirab Seni Budaya Kotagede
di Kawasan Kotagede, Yogyakarta
read more »
Senin, 14-07-2014
Bukan Tokoh Nusantara
oleh Abah Jajang Kawentar
Senin, 23-06-2014
Dunia
oleh F. Sigit Santoso
Kamis, 29-05-2014
Menelusuri Jalur Ngalor Ngetan
oleh Kuss indarto
Selasa, 20-05-2014
Jas, Maskulinitas, dan Fragmen-fragmen Modernitas
oleh Hendra Himawan
Sabtu, 10-05-2014
Pengubahan Haluan: Masa Lalu yang Oposisional dan Masa Depan yang Tak Pasti dari Biennale Kontemporer
oleh Rafal Niemojewski
read more »
Merajakan Nalar di Tengah Kepungan Hedonisme
oleh Christian Heru Cahyo Saputro
Buku bertajuk: Acropolis (Kerajaan Nalar) yang merupakan kumpulan kolom karya wartawan SKH Lampung Post Heri Wardoyo (HRW) hadir meramaikan pasar wacana. Buku yang berisi kolom-kolom Heri Wardoyo ini pernah dimuat di rubrik ‘Nuansa’ Lampung Post bertitimangsa tahun...
Fantasi Balzac tentang Pulau Jawa
oleh Sigit Susanto
Merajut Masa Depan Bocah Merapi
oleh T. Nugroho Angkasa S.Pd.
Novel Kasongan, Seliat Tanah Liat
oleh R. Toto Sugiharto
read more »
LOMBA PENULISAN JURNALISTIK
Lomba Foto “Air dan Sanitasi untuk Kehidupan yang Lebih Baik”
6th Beijing International Art Biennale 2015
Sayembara Cipta Kreasi Motif Batik Seragam Dinas Harian RSUP Dr Kariadi 2014
Lomba Desain Sepatu Tingkat Nasional 2014
LOMBA DESAIN MURAL GALERI NASIONAL INDONESIA 2014
LOMBA CIPTA SENI BATIK NUSANTARA 2014
The 4th Bangkok Triennale International: Print and Drawing
Iver Jåks Artist-In-Residency Program 2014
UNDANGAN Pameran Seni Rupa Karya Guru Seni Budaya “GURU SENI BERLARI” - GALERI NASIONAL INDONESIA
read more »
04/07/2014 03:04 | Rev. Ana cole | Apakah Anda perlu bantuan keuangan/pinjaman untuk melunasi tagihan Anda, mulai atau memperluas bisnis Anda? Roya pinjaman perusahaan telah terakreditasi oleh kreditur Dewan memberikan pinjaman pinjaman persentase untuk klien lokal dan internasional. Mohon jawaban jika tertarik. Terima kasih. Wahyu Ana cole Telp: + 447012955490 Email:roya_loans@rocketmail.com
23/06/2014 12:22 | Danielbudi | Salam kenal saya pelukis asal Solo-Jawatengah mohon infonya jika ada pengumuman atau berita perihal kompetisi lukis yang terbaru sehingga saya tidak ketinggalan beritanya terimakasih.
17/06/2014 19:53 | WP | Saya merasa website ini juga berkait dengan aspek keindonesiaan: www.wayangpuki.com. Saya dan kawan2 tidak habis diskusi tentang intinya. Mungkin menarik untuk Anda? Salam.
26/04/2014 01:21 | Luki Johnson | salam kenal dari pulau Borneo
20/04/2014 09:31 | Syakieb Sungkar | terima kasih
read more »
About Us
Indonesia Art News merupakan media tentang dinamika seni yang berkait dengan aspek keindonesiaan. Media ini berusaha untuk mengedepankan segi informasi ihwal seni yang dikemas dengan cara pandang kritis dan muatan yang investigative. Indonesia Art News berkedudukan di Yogyakarta, Indonesia
Gabung di Facebook
Buku Tamu
Pengelola IAN
Editor in chief:Kuss Indarto
Editor:R. Toto Sugiarto
Designer:Andika Indrayana
Email - info@indonesiaartnews.or.id