Sabtu, 18 Mei 2013 - 11:13 WIB
Melampaui Kemarahan dengan Berbaur
oleh Muhammad Rahman Athian
PUKUL 18.30 (Waktu Jakarta) kami sampai di depan Galeri Nasional Indonesia (GNI), disertai dengan setetes-dua tetes air hujan saya menghampiri bapak Krisna Murti, tokoh multimedia art, yang berdiri mengenakan batik, setelah dipersilakan kami berjalan menuju buku tamu. Namun tak kurang dari setengah jam dari itu hujan deras mengguyur, nampak panitia pameran bertugas...
Menguak Tradisi Amuk
oleh Yaksa Agus
Galeri Nasional Mengundang Anak-anak Indonesia
oleh Tim Indonesia Art News
115 Karya Berebut Perhatian di "Meta-Amuk"
oleh Tim Indonesia Art News
Mangku Memangku Kontemporeria
oleh Yaksa Agus
  HOME     NEWS     EVENTS     ARTICLES     DIRECTORY     BOOKS     OPPORTUNITIES  
Selasa, 21 Mei 2013 - 20:54
Dilema Omnivora
oleh Artforum
Massimiliano Gioni (kanan) dan Francesco Bonami. (foto: google.com)
BIENNALE seni rupa tertua di dunia, Venice Biennale atau Biennale Venesia di Italia, kembali hadir tahun ini untuk kelimapuluhlima (55) kalinya. Perhelatan ini dibuka 1 Juni dan berlangsung hampir 6 bulan hingga 24 November 2013. Massimiliano Gioni, laki-laki kelahiran Busto Arsizio, Italia tahun 1973, terpilih menjadi kurator utama (curator in chief). Associate Director dan Direktur Pameran pada The New Museum of Contemporary Art, New York ini mengambil tema kuratorial: “The Encyclopedic Palace”. Berikut ini diskusi yang diambil dari situs majalah seni rupa Amerika Serikat, Artforum, antara sang kurator Massimiliano Gioni dan Francesco Bonami (lahir di Firenze, 1955), kurator senior pada Museum of Contemporary Art di Chicago, AS, yang juga pernah menjadi Direktur Artistik Venice Biennale ke-50 tahun 2003. Teks ini diterjemahkan oleh Hesty dan diedit oleh Kuss Indarto.

***

Dari “The Family of Man” (Keluarga Manusia) sampai “The Museum Without Walls” (Museum Tanpa Dinding), visi tentang pemaduan bebas antara seni dan bukan seni, kuno dan modern, seniman besar atau bukan telah menghantui sejarah pameran berskala besar selama paling sedikit setengah abad. Pada musim panas ini, kurator Massimiliano Gioni menguratori Venice Biennale ke-55 yang yang diberi tajuk kuratorial “The Encyclopedic Palace” (Istana Ensiklopedis). Kritikus dan kurator Francesco Bonami, yang terlibat dalam Venice Biennale 2003, berdiskusi dengan Gioni tentang pameran yang akan datang dan hubungannya dengan globalisasi, ilmu pengetahuan, antropologi, dan idealisme.

FRANCESCO BONAMI:  Kini sudah 20 puluh tahun berlalu sejak penyelenggaraan yang dapat kita sebut sebagai Venice Biennale pertama yang “sesungguhnya” pada tahun 1993, yang diketuai oleh Achille Bonito Oliva. Dia seorang kurator “jadul”, namun demikian, lewat pamerannya, Biennale mulai menjadi sebuah alat, sebuah acara, sebuah momentum untuk praktik apresiasi seni serta menjadi suatu simbol dari sebuah ambisi besar untuk mendunia.   

Kini tampak seakan-akan siklus itu telah berakhir dan anda sedang menyaksikan apa yang mungkin bisa disebut sebagai anti-Biennale yang bukan merupakan sebuah pameran dua tahunan –yaitu sebuah pameran internasional yang diadakan berdasarkan tema besar dengan tendensi terkini– tapi lebih merupakan sebuah eksibisi kelompok yang sangat-sangat besar.

MASSIMILIANO GIONI:
Ya, mungkin itu merupakan sebuah reaksi. Bisa jadi bukan merupakan sebuah reaksi sadar. Tapi saya tumbuh pada era tahun 90-an dan melihat bahwa pameran dua tahunan merupakan mesin-mesin yang membuka jendela dunia dalam arti lain. Jadi sekarang kita sudah terbiasa menyaksikan karya seniman-seniman internasional di pameran-pameran ini; Venice Biennale 2003 yang Anda kelola waktu itu, pada dasarnya, merupakan pameran pertama yang benar-benar melibatkan kontingen internasional, dengan dilibatkannya, misalnya, perwakilan utama dari Timur Tengah pada bagian yang diciptakan oleh Catherine David. Dan sepanjang tahun 90-an, proliferasi biennale ini secara produktif telah menggambar ulang peta dan hierarki seni kontemporer.

Tapi saya juga berpikir bahwa dalam waktu singkat, Venice Biennale telah menjadi arena bebas; lebih merupakan sebuah jaringan geografis yang luas dibandingkan apapun, dan sedikit terlalu dapat ditebak, atau sedikit terlalu sempit, dan saya mulai berpikir bagaimana biennale ini bisa tampil beda. Di Gwangju, dengan tema “10,000 Lives” (10.000 Nyawa) [Biennale ke-8 di Gwangju, 2010], saya sebagai kurator waktu itu mencari sebuah model pameran yang mirip dengan  apa yang menurut saya akan terjadi pada Venice Biennale yang bertajuk “The Encyclopedic Palace”. Saya mencoba merancang pameran dua tahunan ini sebagai sebuah museum temporer, lebih dari hanya sekadar sebuah pameran yang menampilkan apa yang semestinya ditampilkan.

Saya tidak tahu apakah ini akan menjadi sebuah anti-Biennale, tapi saya berharap pameran ini akan menjadi semacam museum temporer yang didedikasikan untuk serangkaian topik.

FB: Berkaitan dengan Venesia, secara khusus, pada satu kesempatan diskusi semua perbincangan bertumbuk pada soal betapa kunonya paviliun nasional tersebut saat ini. Namun demikian, paviliun pada hakikatnya mencerminkan dunia: sebagai sebuah konstelasi identitas, kebangsaan, dan bangsa-bangsa yang sangat besar. Bagaimana Anda melihat Biennale sekarang ini dengan konstelasi seperti ini?
   
MG: Pemikiran bahwa paviliun sudah kuno muncul dari pemahaman yang parsial tentang dunia seni. Jelas bahwa paviliun tidaklah kuno bagi 88 negara yang akan ikut dalam edisi kali ini. Itu yang membuat Venesia istimewa. Anda memiliki 88 cara menjadi kontemporer. Tidak ada pameran lain di dunia yang dapat menyajikan perbedaan yang begitu ekstrim, suka atau tidak. Dan menjadi kontemporer di Bahrain tentu saja berbeda dengan menjadi kontemporer di Cina atau kontemporer di Vatikan yang memiliki satu paviliun tahun ini. Hal itu merupakan harta karun yang sesungguhnya dari biennale ini, dan harta karun itu harus digali.

Lalu muncul sebuah pertanyaan lain, yaitu bagaimana membuat sebuah pameran internasional dapat memiliki titik temu dengan paviliun. Namun akhirnya, saya sampai pada sebuah kesimpulan bahwa saya harus membuatnya sedikit kurang kontemporer tapi lebih merupakan keserasian dari kesemementaraan yang luas, karena saat ini menjadi kontemporer juga berarti memiliki akses terhadap sejarah dengan cara yang berbeda sama sekali. Bagaimanapun sejarah pada saat ini lebih dapat direkonstruksi dibandingkan di masa lalu.

FB: Dan apa hubungannya dengan judul kuratorial “The Encyclopedic Palace”?

MG: Judul tersebut berasal dari Marino Auriti, seniman otodidak berdarah Italia-Amerika yang membayangkan sebuah museum miliknya yang luar biasa, yang tidak mungkin terwujud; sebuah bangunan yang akan menampung semua ilmu pengetahuan di dunia. Jelas bahwa museumnya itu tetap hanya sebuah model, sebuah proyek yang gagal. Dengan mengusung judul ini dan dengan melihat figur Auriti, saya juga berharap untuk menghubungkannya dengan sejarah Venesia, karena pameran dua tahunan ini merupakan pameran dua tahunan tertua; didirikan pada tahun 1895, pameran ini meniru format pekan raya dunia bertajuk The Great Exhibition” yang diselenggarakan tahun 1851.

Di banyak tingkatan, pameran ini adalah mengenai kemustahilan mengetahui segala hal. Ini merupakan pameran tentang ilmu pengetahuan, khususnya ilmu pengetahuan yang dituangkan melalui gambar-gambar; di sisi lain, pameran ini berkaitan dengan bagaimana kita telah menggunakan gambar-gambar untuk memahami dan melukiskan pengalaman kita tentang dunia.
 
FB: Jadi, biennale Anda ini ditakdirkan untuk gagal? [tertawa].

MG: Mungkin, ya. Dengan demikian hal tersebut akan membuktikan ketidakmampuan kita untuk mengetahui segala hal. Ini bukan merupakan sebuah pameran yang mencoba menggambarkan seluruh dunia. Saya tidak bisa, dan saya tidak bermaksud membuat pameran ini menjadi sebuah arena pencarian umum atas seni saat ini atau mewakili semua wilayah dunia di sana. Hal tersebut, saya kira, sudah jelas tidak mungkin.

Namun demikian saya ingin tahu apakah pameran ini dapat menggambarkan suatu peristiwa pada masanya. Ada begitu banyak karya-karya dari masa lalu, dan karya-karya yang dibuat oleh seniman-seniman yang telah meninggal. Dan salah satu keistimewaan pameran ini adalah penyertaan seniman-seniman luar atau seniman-seniman otodidak yang telah mengaburkan defenisi tentang makna seniman profesional.
 
Ketika Anda datang ke Gwangju, Korea, Bung Francesco, Anda mengatakan kepada saya bahwa itu merupakan sebuah pameran di mana Jeff Koons terlihat seperti seniman luar. Saya kira itu adalah sebuah pujian yang aneh. [Tertawa]. Dan mungkin argumen itu akan dibahas lebih lanjut di Venesia.

FB: Karena kesadaran Anda yang makin tinggi bahwa seseorang tidak bisa memetakan seluruh dunia, Anda tidak merasa perlu melakukan perjalanan yang intensif demi pameran ini. Anda menyadari bahwa seseorang dapat melakukan sebuah pameran besar seperti biennale tanpa harus pergi ke setiap kota di planet ini –Anda dapat juga mengandalkan orang lain. Dulu, esensi sebagai seorang kurator untuk Documenta atau untuk Biennale Venesia adalah melakukan perjalanan sebanyak mungkin, namun Anda nampaknya telah memilih untuk lebih bergantung pada informasi dibandingkan pada pengalaman untuk tujuan ini.

MG: Roger Buergel (kurator Jerman yang menguratori event Documenta 12 tahun 2007 - red) pernah berkata bahwa “jauh dan lebih jauh lagi” bukan merupakan metode kuratorial. Moto Lufthansa tidak bisa menjadi satu-satunya cara dalam melakukan sebuah penelitian. Saya telah bekerja dengan sekelompok penasihat yang membantu saya melihat tempat-tempat yang asing bagi saya; saya mencoba menghabiskan waktu untuk membaca buku sebanyak saya naik pesawat terbang.  

FB: Anda memiliki kurator lain dalam pameran ini.

MG: Benar. Cindy Sherman menciptakan sebuah bagian dalam pameran itu yang kami sebut sebagai teater anatomi. Itu merupakan sebuah ide penggunaan gambar-gambar untuk mewakili tubuh. Jadi, itu merupakan suatu pameran dalam pameran, dimana Cindy telah bekerjasama dengan seniman-seniman yang dia kenal, menemukan bahan-bahan yang dia sukai, atau mengikutsertakan karya seniman-seniman yang telah kami diskusikan bersama.

Koleksi Cindy beragam mulai dari foto-foto karya Norbert Ghisoland, seorang fotografer studio di Belgia pada awal abad 20; lukisan-lukisan di saputangan, sebuah tradisi di penjara-penjara Amerika; sampai koleksi Linda Fregni Nagler, seniman berdarah Italia-Swedia yang mengoleksi gambar-gambar –foto-foto dan lukisan-lukisan– yang dia sebut “hidden mothers” (“para ibu yang bersembunyi”).

FB: Seberapa banyak pameran ini berkait dengan barang-barang kuno? Seberapa banyak berkait dengan pengalaman hidup melawan ilmu pengetahuan objektif?

MG: Saya rasa pameran yang di Gwangju Biennale itu adalah sebuah pameran tentang hubungan manusia dengan gambar-gambar yang diwujudkan melalui seni lukis manusia dan tentang ide menjadikan gambar sebagai tanda peringatan, sebagai sebuah tempat dimana Anda berjuang melawan kematian, dimana Anda menyimpan kenangan atas orang-orang yang Anda sayangi. Pameran ini lebih berupa gambar sebagai sebuah alat mengenal dunia –dan sebagaimana yang disebut Hans Belting sebagai gambar internal, yaitu gambar yang kita ciptakan di dalam pikiran kita, dalam upaya menggambarkan sesuatu yang tidak kasat mata, atau mimpi-mimpi, atau hal-hal yang kita khayalkan.
 
FB: Hal yang merupakan sebuah pemahaman antropologis nyata perihal gambar, sebagai sesuatu yang bukan objektif belaka tapi melayang-layang antara eksistensi fisik dan rohani.

MG: Betul. Bagaimana Anda bisa melukiskan apa yang tidak Anda ketahui? Bagaimana Anda membayangkan masa depan? Bagaimana Anda menciptakan visualisasi konsep-konsep abstrak? Kuncinya adalah penyertaan gambar-gambar di papan tulis yang dibuat Rudolf Steiner saat memberikan kuliah. Dia adalah seorang dosen yang memotivasi. Dia telah memberikan lebih dari 5.000 kuliah selama hidupnya. Rupa-rupanya, dia bahkan akan memberikan kuliah kepada orang-orang yang sekadar datang untuk memperbaiki rumahnya saat mereka sedang istarahat. Jadi gambar-gambar ini adalah semacam kosmografi atau kosmologi, namun gambar-gambar itu juga merupakan suatu alat untuk menjelaskan. Gambar-gambar itu adalah alat (instrumen).

Harapan saya adalah, ketika Anda menyaksikan pameran ini, perbedaan antara apakah itu karya seni dan apa itu alat akan menjadi kabur. Saya tidak menyukai ekspresi ini, tapi pameran ini menjadi semacam penelitian antropologi dimana karya seni dan bentuk-bentuk ekspresi figuratif lainnya diperlakukan sama, hal mana sering dilaksanakan di museum-museum yang didedikasikan untuk masa-masa atau bidang-bidang lain. Tetapi untuk suatu alasan tertentu kita tidak melakukannya mana kala hal tersebut berkaitan dengan seni kontemporer.

FB: Bagaimana Anda mendefinisikan perbedaan antara mereka yang berpikir di luar seni dan mereka yang berpikir di dalam seni? Di manakah Anda menarik garis di antara keduanya?

MG: Yah, Anda tidak perlu membedakannya. Itulah inti dari pameran ini. Bagi saya, kuncinya adalah bahwa pameran ini lebih merupakan ajang gambar-gambar dalam arti yang lebih luas dan sedikit mengenai karya seni. Apakah Steiner itu seorang seniman dan Walter De Maria itu bukan, tidak masalah bagi saya. Pertanyaannya adalah apakah karya-karya seni pahat De Maria membuat kita lebih memahami hubungan kita dengan gambar dan dengan pengetahuan.

Premis dari pameran ini adalah kekeliruan yang membawa segala sesuatu ke tingkat produksi dan konsumsi gambar, bukan mengamati perbedaan tradisional antara karya seni belaka dan karya besar, seni minor, seni agung, dan sebagainya.

FB: Tapi kemudian muncul pertanyaan besar: Apa sebenarnya peran kurator? Semakin lama kurator menjadi pencipta dan seni menjadi artefak. Semuanya menjadi artefak; dan semuanya disamaratakan. Itulah warisan Harald Szeemann. Pameran Anda tampaknya mengarah ke sana; semua seniman, karya seni, artefak, orang dalam, orang luar... Mereka itu bagian dari pameran Anda.

MG: Saya rasa pertanyaan Anda memunculkan beberapa isu. Salah satunya adalah gagasan kurator sebagai pencipta; saya sebenarnya tidak setuju dengan ide ini. Saya mengatakan dengan jujur. Szeemann sendiri dulu mengatakan bahwa dia hanyalah seorang pelayan.

Di sisi lain, jika biennale itu seperti pameran seni, maka saya punya masalah dengan itu. Saya rasa masalahnya ada pada sikap terhadap mengkurasi pameran berskala besar; yang menyatakan bahwa segalanya diterima; semakin besar semakin baik, serta karya-karya dan tema keduanya dapat saling menggantikan.

Tapi ketika Anda mulai menyoal tentang hadirnya tiga, empat, lima ratus ribu orang penonton, acara itu sendiri lebih baik memiliki beberapa makna secara keseluruhan. Ini bukanlah masalah kepengarangan. Ini masalah tanggung jawab. Saya terkesan dengan tantangan membuat acara pedagogis yang tidak kering dalam bentuk pameran yang bertema Jerman. [tertawa]

FB: Ini hal yang menerbitkan pertanyaan lain. Anda ingin menghindari perataan geografis, di mana segala sesuatu dari mana pun dimasukkan. Tapi lalu bagaimana Anda menghindari perataan semacam itu sehubungan dengan sejarah? Bagaimana Anda mencapai kekhususan sejarah? Itulah tantangannya jika Anda mengadopsi pendekatan Wunderkammer atau pendekatan ensiklopedis.

MG: Saya tidak tahu jika akan ada kekhususan sejarah. Kembali pada apa yang saya katakan sebelumnya tentang orang luar versus orang dalam. Selama objek-objek itu jauh dan selama objek-objek itu mempertahankan keasingannya, maka tidak ada kekhususan sejarah. Tapi akan ada friksi yang saya harap dapat membangkitkan perhatian para penonton, sehingga mereka tidak hanya mengasimilasi semuanya menjadi sebuah pertunjukan besar yang sinkronis.

Tujuan dari memasukan materi-materi yang sumbernya heterogen –objek-objek yang asing ini –, adalah sebagian untuk memisahkan perataan pameran ini sebagai satu narasi tunggal atau satu pandangan atau rasa tunggal. Ini merupakan suatu jenis abstraksi atau kolase. Paradoksnya hal semacam ini disebut "Encyclopedic Palace". Tapi itu masih jauh dari ensiklopedi yang seharusnya. Jika ya, itu lebih berkaitan dengan protoensiklopedia, dan dengan pengalaman pengetahuan sebagai sistem koneksi dan simpati. Ini lebih berkaitan dengan teater memori Baroque atau Buku Merah Jung daripada Ensiklopedia Perancis.

FB: Bagaimanakah bentuk teater memori atau teater pengetahuan semacam itu sekarang?

MG: Yah, bentuknya mungkin mirip Wunderkammer digital atau desktop komputer. Teater memori yang paling terkenal diciptakan pada akhir masa Renaisans oleh seseorang dari Venesia bernama Giulio Camillo. Dan bukan suatu kebetulan kalau galangan kapal Venesia yang monumental di Arsenale –tempat sebagian dari Biennale tradisional berlangsung— merupakan tempat pembuatan karya-karya yang luar biasa. Sepanjang abad XVI dan XVII, Arsenale difungsikan sebagai teater yang mengombinasikan teknologi dan keagungan. Tradisi ini seolah-olah terhapus oleh pameran-pameran yang diselenggarakan di sana berabad-abad kemudian, yaitu pameran-pameran dengan ruang berskala besar yang sering memberi kesan gerakan-gerakan besar dan berbagai instalasi yang lengkap. Secara pribadi, saya ingin lepas dari Arsenale sebagai tempat untuk jenis teatrikal semacam ini, yang mungkin sudah terlalu spesifik untuk model dua tahunan.

FB: Tapi akan ada momen aktual teater dalam pameran Anda, kan?

MG: Ya, beberapa seniman dalam pameran akan menggunakan pementasan teatrikal atau aktor nyata. Tapi saya rasa pementasan seperti ini bukan sebuah pertunjukan tapi hanya seperti pertunjukkan patung hidup. Tino Sehgal membuat karya baru, yang melibatkan pengadeganan (mise-en-scčne) dan karya-karya lain di paviliun utama. Karya ini berskala lebih kecil daripada karya-karya terbarunya, tapi akan dibuat dengan cukup intens. Ragnar Kjartansson sedang membuat sebuah proyek di Arsenale yang melibatkan pertunjukan musik dengan sextet yang dimainkan oleh pemain horn di atas perahu. John Bock menciptakan instalasi yang melibatkan aktor-aktor yang berbicara dalam bahasa khayal yang disebutnya sebagai "rumah belatung." Dan Marco Paolini, seorang aktor dan penulis Italia, akan bercerita.

Sangatlah sulit untuk mendeskripsikan siapa Paolini kepada penonton kelas internasional. Paolini bahkan tidak berbicara dalam bahasa Inggris. Tapi dia terkenal di Italia pada pertengahan tahun 1990-an ketika dia menampilkan sebuah drama yang merekonstruksi sebuah bencana besar di Italia, yaitu runtuhnya Vajont Dam pada tahun 1963. Dia selalu membuat karya yang spesifik, bertopik regional dan bergelut pada jenis teater reportase. Di Venesia, dia akan memberikan serangkaian presentasi dadakan tentang pekerjaan-pekerjaan yang menghilang. Ini merupakan leksikon dari profesi-profesi yang menghilang bersamaan dengan alat-alat yang mereka gunakan.

FB: Dulu biennale adalah tempat untuk bertemu seniman profesional. Namun sekarang dunia seni benar-benar berbeda. Biennale menjadi tempat untuk melihat seniman-seniman muda dan orang-orang baru.

MG: Jadi seolah-olah melalui pameran-pameran dua tahunan diharapkan dapat menyediakan perlengkapan baru dan konsumsi. Tapi itu pandangan yang sangat terbatas tentang pengertian pameran dua tahunan, dan saya tidak pernah merasa kalau pengertian ini merujuk pada apa sebenarnya pameran dua tahunan itu. Jika anda melihat semua biennale di Venesia di era 80-an, dan seluruh sejarah tentang pameran itu, maka menjadi jelas bahwa ide ini… Bahwa Biennale saat ini lebih menguatkan pada sederet seniman-seniman hebat dan bakat muda yang benar-benar merupakan sebuah fenomena sejak akhir 90-an. Jadi itulah sejarah singkatnya. Dulu ada lebih banyak keragaman tentang pameran itu seperti apa dan karya seni itu apa.

FB: Tapi, seperti yang Anda katakan, selalu ada penemuan baru dalam pameran.

MG: Yah, saya harap begitu. Ada lebih dari 110 (dari 160) seniman yang belum pernah hadir di Venice Biennale. Tapi tidak hanya 110 seniman itu yang muda dan…

FB: Berapa banyak seniman yang telah wafat di biennale tersebut?

MG: Banyak. Ini seperti dalam film Sixth Sense. Saya melihat orang-orang yang telah wafat.

FB: Berapa banyak yang telah wafat?

MG: Banyak. Empat puluh? Jika Anda bertanya pada saya apa kegagalan biennale ini, Venice Biennale mungkin sedikit terlambat.

FB: Terlambat dalam hal apa?

MG: Saya tetap di biennale ini untuk melakukan apa yang harus saya lakukan dan apa yang saya pelajari untuk dilakukan. Tapi sudah selalu menjadi nasib Venice Biennale bahwa kita hanya diminta untuk melakukannya sekali. Jenis karya kita sudah menjadi aliran utama (mainstream). Kita menciptakannya dan setelah itu kita berhenti. [tertawa]

FB: Apakah Anda ingin karir Anda berakhir?

MG: Mungkin.

FB: Belumlah…
Leave a Comment
Please feel free to let us know your feeling about this
Your Name
Your Comment
Your Email
Image Verification
Captcha Image Reload Image
Utk ganti paragraf silakan klik
Comments:
22-05-2013
Seminar Nasional "Pemuda dan Kebangkitan Kebudayaan Nasional"
di Gedung UC (University Club), Bulaksumur, UGM, Yogyakarta
22-05-2013
ANAK SABIRAN, DI BALIK CAHAYA GEMERLAPAN (SANG ARSIP) - AGENDA PENAYANGAN
di Kampus UIN Jakarta & Institut Kesenian Jakarta
22-05-2013
Pentas Wayang Golek Pesisiran
di Balai Soedjatmoko, Jl. Slamet Riyadi, Solo
22-05-2013
Recital Night "The Beauty of Classical Songs"
di Goethe-Institut Jakarta, Jalan Dr. Sam Ratulangi Nomor 9-15, Gondangdia Menteng, Jakarta Pusat
22-05-2013
Diskusi ”Bali dan Sampah Visual”
di Komunitas Lingkara PhotoArt, Jl. Merdeka IV No 2, Renon, Denpasar Timur, Telp 0361 9904000/7867108.
21-05-2013
Jagongan Wagen
di Padepokan Seni Bagong Kussudiardjo, Dusun Kembaran RT 04, Tamantirto, Kasihan, Bantul, Yogyakarta
19-05-2013
"DISNEY PIANOLICIOUS", A Music Concert as Tribute to Walt Disney
di American Cultural Center, Pacific Place, 3rd Floor, Jakarta
19-05-2013 s/d 09-06-2013
"Dear Curator Curate Me: Selasar Sunaryo Art Space"
di Jl. Bukit Pakar Timur No. 100, Bandung, Indonesia 40198
19-05-2013 s/d 08-06-2013
GHOST: Kristonik Artenas Intermyth’s Collection Exhibition Taken from the Appropriation series, 7th Edition, 2013
di Selasar Sunaryo Art Space Jl. Bukit Pakar Timur no. 100, Bandung
18-05-2013
Pertunjukan Puisi Multimedia bersama Asrizal Noor
di Gedung Teater Tertutup, Taman Budaya Bengkulu
read more »
Selasa, 21-05-2013
Dilema Omnivora
oleh Artforum
Rabu, 15-05-2013
WASH & Ruang Berbincang
oleh Hendra Himawan
Minggu, 21-04-2013
Luka dan Perban Sinetron Indonesia
oleh Ramayda Akmal
Minggu, 31-03-2013
Eksistensi, Pilihan dan Fungsi Media dalam Lagu "Pacar 5 Langkah" dan "Please Call Me"
oleh Ramayda Akmal
Kamis, 21-03-2013
Kritik Seni yang Tersirat
oleh Danoeh Tyas
read more »
Fantasi Balzac tentang Pulau Jawa
oleh Sigit Susanto
Orang Jawa Suka Burung GelatikGeorg Lukacs mengutip ucapan Karl Marx lewat menantunya Paul Lafargue yang sebut; Balzac bukan hanya seorang pencatat kisah dari masyarakatnya, namun dia juga pencipta tokoh-tokoh nabi, sebagai cikal bakal di bawah Louis Philippe, yang...
Merajut Masa Depan Bocah Merapi
oleh T. Nugroho Angkasa S.Pd.
Novel Kasongan, Seliat Tanah Liat
oleh R. Toto Sugiharto
Masih adakah tempat untuk puisi?
oleh Sabrina Puisi Mubarak
read more »
INDONESIA ART AWARDS (IAA) 2013
LOMBA & PAMERAN FOTO INDONESIA 2013
The International Competition for the Sea Art Festival 2013
FUNDACIÓN BOTĶN GRANTS - Visual Arts - 2013/2014 • 21th Edition
Lomba Menulis Novel Teen & Young Adult Romance
Henri Cartier-Bresson International Photography Award
LOMBA DESAIN MOTIF BATIK MAHASISWA 2013
XL Award 2013
Lomba Foto Jurnalistik “Toward The Leading Network Company”
Lomba Penulisan Artikel, Feature dan Foto Bidang Pendidikan dan Kebudayaan
read more »
25/05/2013 08:28 | allemelix |  Indian SMEs Creating Makes inside The nike jordan
25/05/2013 07:03 | aCcungura | Pleasure Ring-tone | Down load Alexis The nike jordan Pleasure Ring tone
25/05/2013 04:33 | evuycnvxc | back ˙ž< server ˙ž< quality ˙ž< Service ˙ž< enhancement
25/05/2013 04:32 | evuycnvxc | back ˙ž< server ˙ž< quality ˙ž< Service ˙ž< enhancement
25/05/2013 04:32 | evuycnvxc | back ˙ž< server ˙ž< quality ˙ž< Service ˙ž< enhancement
read more »
About Us
Indonesia Art News merupakan media tentang dinamika seni yang berkait dengan aspek keindonesiaan. Media ini berusaha untuk mengedepankan segi informasi ihwal seni yang dikemas dengan cara pandang kritis dan muatan yang investigative. Indonesia Art News berkedudukan di Yogyakarta, Indonesia
Gabung di Facebook
Buku Tamu
Pengelola IAN
Editor in chief:Kuss Indarto
Editor:R. Toto Sugiarto
Designer:Andika Indrayana
Email - info@indonesiaartnews.or.id