Sabtu, 04 Februari 2012 - 11:56 WIB
Kendi Sindiran Totok?
oleh Kuss Indarto
“GERABAH” sederhana itu berujud kendi, tempat untuk menyimpan air minum. Posisinya menjulang meski agak memiringkan diri hingga cucuk atau moncong lubangnya seperti hendak menuangkan cairan dari kendi itu. Julang tubuhnya seperti hendak menantang angin yang terus mendesak-desak tubuhnya. Sekitar 9 meter titik paling atas kendhi itu berada. Gembung tubuhnya berdiameter kira-kira 5,4 meter. Di bawah, di sekitar kendi...
Wedangan di Tepian Tanah dan Air
oleh Yaksa Agus
Cermin dari Suvenir
oleh Kuss Indarto
Erotika Mendoktorkan Edi Sunaryo
oleh Kuss Indarto
  HOME     NEWS     EVENTS     ARTICLES     DIRECTORY     BOOKS     OPPORTUNITIES  
Sabtu, 04 Februari 2012 - 01:12
Membaca Ruang dan Waktu Lewat Film “Mengejar Mas-Mas”
oleh Noor Aini Prasetyawati
Salah satu adegan dalam film "Mengejar Mas-mas" (2007). Foto: www.google.com
KEBUDAYAAN dibentuk dengan praktik sehari-hari dalam ruang dan waktu tertentu. Produksi film sebagai praktek kebudayaan seharusnya memperhatikan hal tersebut sehingga menghasilkan film dengan konstruksi ruang dan waktu yang jelas. Terutama dalam film yang mengonstruksi ruangnya dengan menggunakan seting ruang yang identik dengan realitas keruangan di dunia nyata, misalnya film yang menyebut atau memperlihatkan nama jalan, nama kampung, nama gedung, dan simbol-simbol keruangan lainnya.

Saya memilih menggunakan film sebagai bahan untuk mengkaji visualitas karena film dapat membangkitkan memori kita tentang narasi dan citra dari pengalaman kita sehari-hari melalui hal-hal yang diperlihatkan dalam film tersebut. Film “Mengejar Mas-Mas” produksi PT. Sinemart Indonesia dan PT. SONY BMG Music Entertainment ini mengusik visualitas saya tentang Kota Yogyakarta yang saya alami dalam praktek sehari-hari. Dalam beberapa adegan terdapat kerancuan yang berkaitan dengan konstruksi ruang dan waktu. Ketika ruang yang diperlihatkan dalam film yang bertipe shot on location ini sedemikian berbeda dengan ruang dalam lokasi yang sebenarnya, apakah kemudian dapat dikatakan bahwa film ini meniadakan ruang dan hanya mempertontonkan tempat? Jika memang demikian, apa makna dari dialog-dialog dan interaksi antartokoh yang menjadi cara film ini membangun sejarah para tokohnya? Bukankah dengan adanya dialog-dialog dan interaksi antarmanusia di suatu tempat menjadikan tempat tersebut sebagai ruang seperti halnya yang kita alami sehari-hari?

Film “Mengejar Mas-Mas” menceritakan tiga tokoh utama: Shanaz (‘anak Jakarta’ yang melarikan diri ke Yogyakarta), Ningsih alias Norma (seorang perempuan yang bekerja sebagai pelacur dan berpura-pura menjadi dosen setelah suaminya meninggal), dan Parno (seorang pemuda ‘asli Yogyakarta’ yang bekerja sebagai pengamen). Dalam film ini terdapat beberapa kejanggalan namun agar pembahasan lebih fokus maka saya memilih hanya membahas beberapa adegan, yaitu:

Pertama, Adegan Shanaz dan Parno berboncengan sepeda dengan rute: Kampung Sosrowijayan – persawahan yang jauh dari gedung tinggi dan memperlihatkan Gunung Merapi sebagai latar dengan cukup jelas dan bangunan mirip bangunan pabrik di kejauhan (pemandangan yang tidak dapat dijumpai di dalam Kota Yogyakarta) – kampung Njeron Beteng sekitar Wijilan (jalan depan toko Tjokrosoeharto) – Kraton – Suryodiningratan (jalan di depan Hotel Brongto) – Malioboro (tokoh bergerak dari utara ke selatan) – Plengkung Wijilan – persawahan yang mirip dengan lokasi sawah sebelumnya – kost Ningsih.

Melalui adegan-adegan ini pembuat film mencoba memperlihatkan Yogyakarta tidak hanya Malioboro, Tugu, dan Keraton. Sayangnya alur cerita menjadi tidak logis dan rancu secara ruang dan waktu karena mereka berboncengan sepeda dengan rute seperti tersebut di atas, dengan tidak berganti kostum, tetap terlihat rapi dan tampak tidak berkeringat. Kerancuan aspek keruangan dapat dilihat dengan menggunakan pendekatan morfologi kota. Menurut pendekatan morfologi kota, suatu wilayah disebut atau digambarkan sebagai kota didasarkan pada bentuk-bentuk yang dapat diamati dari kenampakan kota secara fisikal, antara lain tercermin pada sistem jalan-jalan yang ada, blok-blok bangunan baik daerah hunian ataupun bukan (perdagangan/industri) dan juga bangunan-bangunan individual (Herbert, 1973 dalam Yunus, 2001: 107). Kerancuan waktu terlihat dari rute bersepeda para tokoh. Karena jika rute tersebut dipraktekkan dalam dunia nyata, maka sang tokoh telah bersepeda secara acak, hal yang tidak lazim dilakukan oleh orang yang telah mengetahui ruang-ruang di Yogyakarta seperti tokoh Parno ini.

Kedua, adegan Shanaz dan Parno berboncengan sepeda di lajur khusus kendaraan bermotor di Jalan Malioboro. Adegan ini sangat mengusik visualitas saya. Setiap orang yang datang ke Jalan Malioboro melalui pangkal jalan ini, dapat melihat rambu-rambu lalu lintas yang menunjukkan bahwa lajur kiri atau timur untuk kendaraan bermotor dan lajur kanan atau barat untuk kendaraan tidak bermotor, serta pos polisi yang berada di pojok barat laut. Lajur untuk kendaraan bermotor dan tidak bermotor di Jalan Malioboro dipisah oleh pemisah jalan berupa semacam trotoar dengan lebar sekitar setengah meter memanjang sepanjang jalan. Dalam keseharian kita, jika ada seseorang yang mengendarai sepeda di lajur kiri pasti akan diprotes pengendara lain melalui suara klakson yang begitu sering berbunyi atau justru kemudian ditertibkan oleh polisi. Dalam film ini, Shanaz dipertontonkan bergerak seolah-olah membonceng sepeda Parno (sepeda dan Parno tidak terlihat), dari utara ke selatan, di lajur khusus kendaraan bermotor, di siang hari, tanpa suara klakson sama sekali dan tidak ditertibkan oleh polisi. Apakah adegan ini dapat dimaknai sebagai usaha pembuat film yang mengambil jalan pintas untuk menegaskan bahwa mereka benar-benar melakukan pengambilan gambar di Yogyakarta dengan (lagi-lagi) mempertontonkan Malioboro atau apakah ini merupakan bentuk pengabaian para pembuat film tentang kesadaran mereka dan penonton atas ruang dan waktu?

Sebagian kalangan meyakini film sebagai sebuah cermin, alat kita mengukur dan mengkaji diri. Asumsi ini menempatkan film sebagai bahasa untuk bisa menyampaikan perasaan dan memberi tafsir akan banyak hal. Film disusun dari gambar-gambar yang bergerak dan unsur audio yang menyertainya, sehingga urutan dan cara mengkompilasi shot-shot tunggal adalah hal yang fundamental untuk analisis film (Howells, 2004:192). Gerak berulang dalam film mengartikan ada gerak satu dan disusul gerak berikut yang memunculkan gagasan waktu sebagai bahasa. Bentuk mungkin dapat kita ulang-ulang, namun terjadinya pengulangan bentuk tersebut berada dalam dimensi waktu yang berbeda (Widowati, 2007:162, 163). Gambar-gambar atau bentuk-bentuk yang bergerak itu membuat kita menikmati ilusi dari pengalaman bergabung dengan peran yang digambarkan dalam ‘dunia layar’, dari pada melihatnya dari sisi luar ketika kita menonton film. Hal ini dikarenakan konvensi sinematik yang menganggap sama antara posisi kamera dengan posisi kita sehingga kita melihat apa yang dilihat oleh kamera dan kita tidak hanya menjadi kamera namun kamera menjadi kita. Di dalam film, berbeda dengan di teater, kita merasa bahwa kita adalah partisipan/peserta, bukan penonton. (Howells, 2004: 174). Oleh karena itu, kita dapat membaca adanya kejanggalan atau kerancuan dalam suatu film ketika ada adegan yang mengusik visualitas kita.

Film “Mengejar Mas-Mas” dapat menjadi media bagi kita untuk melakukan refleksi atas praktek kebudayaan kita. Film mempunyai kontribusi yang kuat dalam proses pemaknaan lintas budaya dan lintas disiplin keilmuan (Spitulnik, 1993: 293) dengan membuat orang dan kebudayaan menjadi seolah-olah hidup di dalam layar, menangkap sensasi dari penampilan yang hidup dalam cara yang tidak bisa dilakukan oleh media lainnya (Barbash, Ilisan dan Lucien Taylor, 1997: 2). Kerancuan-kerancuan yang terdapat dalam film “Mengejar Mas-Mas” dapat menjadi gambaran bahwa para pembuat film ini yang notabene banyak berasal dari Jakarta belum atau kurang memahami konstruksi ruang dan waktu yang membangun kebudayaan di Yogyakarta. Meskipun ruang dalam film merupakan ruang ilusi, namun ruang yang dipertontonkan dalam film ini diidentikkan dengan ruang yang kita alami dalam praktek sehari-hari melalui simbol-simbol yang digunakan. Beberapa simbol yang terdapat di film ini seperti Stasiun Tugu, papan nama Jl. Sosrowijayan, Tugu Yogyakarta, plengkung, Gerbang Kraton, atmosfere Jalan Malioboro yang memperlihatkan bangunan Mal Malioboro, dan tampak depan Benteng Vredenburg. Simbol-simbol ini dapat dimaknai sebagai pembuat film menegaskan bahwa film tersebut bercerita tentang peristiwa yang terjadi di Yogyakarta dan dibuat dengan shot on location di Yogyakarta.

Film ini juga menggunakan bahasa Jawa dalam beberapa dialognya yang dapat menjadi simbol bahwa cerita film ini terjadi di Yogyakarta. Bahasa Jawa lazim digunakan oleh warga Yogyakarta dalam aktivitas mereka sehari-hari. Sebagai penegasan, dalam dialog disisipkan beberapa umpatan khas Jawa, seperti kata “Minggat!” yang diucapkan Ningsih ketika mengusir preman yang mengganggu Shanaz.

Simbol lain yang dapat menegaskan tentang ruang dan waktu adalah kostum.  Film ini menggambarkan Shanaz sebagai ‘anak Jakarta’ melalui kostum berupa kaos ketat yang nyaris tanpa lengan atau kadang mengenakan singlet dan celana sangat pendek yang hanya sampai persis di bawah pantat. Kostum ini kontras dengan kostum yang dikenakan para figuran seumuran Shanaz yang mengenakan kaos berlengan panjang dan celana panjang. Untuk menegaskan Parno sebagai seorang pemuda ‘asli Yogyakarta’ maka Parno digambarkan mengenakan kostum baju lurik Jawa dan blangkon Yogya (ada mondolan di belakang), ketika mengamen dan dalam kesehariannya. Kostum ini terkesan ‘maksa’ karena film ini menceritakan peristiwa yang terjadi di Yogyakarta di era sekarang ketika dalam keseharian kita di Yogyakarta sangat sulit bertemu dengan pemuda ‘Jogja asli’ yang sehari-harinya berpakaian seperti Parno. Penggunaan kostum yang ‘maksa’ ini memperlihatkan kerancuan para pembuat film tentang ruang dan waktu.

Tentu saja pembacaan seseorang tentang suatu film bisa berbeda dengan orang lain. Seperti pendapat Seno Gumira Ajidarma (2002) pandangan yang sama, gambar yang sama, obyek yang sama, bukanlah jaminan untuk pembermaknaan yang sama. Terlebih mata kita hanya melihat apa yang kita mau lihat. Meskipun demikian, film tetap merupakan produk kultural yang dapat merefleksikan nilai-nilai kultural  dari para pembuat film dan realitas sosial yang mereka filmkan (Chang, et al. 2006: 5). Oleh karena itu kerancuan dalam film ini dapat menjadi contoh tentang praktek kerancuan ruang dan waktu yang terjadi sehari-hari dalam proses kebudayaan kita. Kerancuan ini dapat membuat kita bertaktik, bersiasat, termasuk mengubah penggunaan suatu tempat sehingga menjadi ruang yang berbeda. Misalnya tempat yang semula menjadi ruang tamu berubah menjadi ruang duka ketika salah satu anggota keluarga kita meninggal dunia. Perubahan ruang di tempat yang sama ini sering terjadi dalam keseharian kita.

Sebab menurut Certeau, ruang adalah tempat yang mendapat konteksnya, tempat yang berfungsi sosial, tempat yang ada sejarahnya, tempat yang bermakna, tempat yang digunakan (Certeau, 1984: 117). Sedangkan menurut Bintarto, keruangan mempunyai unsur jarak, pola, site, dan situasi, aksessibilitas serta konektifitas (Bintarto dan Hadisumanarno, 1997 dalam Prasetyawati, 2005: 7). Pengertian ruang secara geografis tersebut mengandung makna bahwa ruang mempunyai batas yang ketika batas itu terlampaui maka terjadi perubahan ruang. Menurut Nicholas Mirzoeff batas yang telah ada antara ‘di dalam’ dan ‘di luar’ ruang berkurang menjadi tidak sekuat dulu dengan berkembangnya ruang-ruang virtual yang menarik untuk dikaji. Ruang tidak lagi dapat dilihat sebagai latar kosong yang sederhana namun sebagai suatu entitas yang dinamik dengan sejarah dan karakteristik-karakteristik yang bervariasi dari periode ke periode berikutnya, dan dari suatu tempat ke tempat lain. (Mirzoeff, 1998: 184). Foucault mengatakan bahwa ruang di mana kita tinggal merupakan ruang yang heterogen, yang di dalamnya terdapat individu-individu dan benda-benda dengan seperangkat relasi yang tidak dapat menghapuskan satu dengan yang lain dan secara pasti tidak dapat menjadi bayangan bagi yang lain (Foucault, dalam Mirzoeff, 1998: 239).

Kerancuan tentang ruang dan waktu di film “Mengejar Mas-Mas” ini juga dapat dilihat dalam beberapa film Indonesia lainnya, terutama yang diangkat dari novel terkenal seperti: “Laskar Pelangi”, “Ayat-Ayat Cinta” dan “Ketika Cinta Bertasbih”. Konstruksi ruang dan waktu dalam film-film tersebut juga dapat mengusik visualitas. Kita akan membandingkan konsep ruang dan waktu yang dikonstruksi di film dengan ruang dan waktu yang dikonstruksi di ‘dunia sebenarnya’ yaitu novel yang menjadi dasar cerita.

Dengan memaknai film kita dapat membaca pola pikir dan pemahaman para pembuat film tentang ruang, waktu dan kebudayaan tokoh dan masyarakat yang difilmkan. Tentu saja pemaknaan film tergantung bagaimana pembuat film dan penonton menangkap dan memaknai simbol yang ada. Konsep ruang dan waktu yang ada dalam otak para pembuat film sebagai produk dari praktek hidup sehari-hari, menurut saya, dapat mempengaruhi mereka ketika mengkonstruksi ruang dan waktu  di film yang mereka produksi. Dinamika interaksi keruangan ini, baik ruang nyata maupun ruang virtual,  menarik untuk dikaji oleh para antropolog atau orang yang belajar antropologi. ***

Referensi

Ajidarma, Seno Gumira. 2002. Kisah Mata: Perbincangan tentang Ada. Yogyakarta: Galang Press

Barbash, Ilisa and Lucien Taylor. 1997. Cross-Cultural Filmmaking, A Handbook for Making Documentary and Ethnographic Films and Videos. The Regents of the University of California

Benneth, Peter,  et al,. 2007. Film Studies: The Essential Resource. New York: Routledge

Budiman, Kris. 1999. Feminografi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

China Media Research, 2(3), 2006, Chang, et al, Intercultural Symposium on Cultural Globalization. http://www.chinamediaresearch.net

de Certeau, Michelle, 1984, The Practice Of Everyday Life, Berkeley, Los Angeles, and London: University of California Press

Dillistone, F.W., 2002. The Power of Symbols. Yogyakarta: Penerbit Kanisius

Fossard, Esta De dan John Riber. 2005. Writing and Producing for Television and Film. Communication for Behaviour Change, vol. 2. New Delhi, California, London: Sage Publications

Foucault, Michel. 1999. Of Other Spaces dalam Visual Culture Reader, Nicholas Mirzoeff (ed.), USA dan Canada: Routledge

Ginsburg, Faye D,. Lila Abu-Lughod, and Brian Larkin. 2002. Media Worlds : Anthropology on New Terrain. California The Regents of the University of California

Harris, Marvin. 1997. Culture, People, Nature: an Introduction to General Anthropology. United States: Addison-Wesley Educational Publishers Inc

Heider, Karl G., 2997. Seeing anthropology: cultural anthropology through film, America: Allyn & Bacon

Howells, Richard. 2004. Visual Culture. USA: Blackwell Publishers Ltd

Langer, Susanne K. 1953. Feeling and Form, a Theory of Art, New York: Charles Scribner’s Sons

Marianto, M. Dwi., 2000. Memprovokasi Rekaman Audio-Visual Otak dengan Representasi Video. Artikel di Kompas, 2 Januari 2000, halaman 5

Mrazek, Rudolf. 2006. Engineers of Happy Land, Perkembangan Teknologi dan Nasionalisme di Sebuah Koloni. Hermojo (Penj.) Jakarta: Yayasan Obor Indonesia

Nicholas Mirzoeff, 1999, Visual Culture Reader, USA dan Canada: Routledge

Parrent, Joanne. 2002. The Complete Idiot’s Guide To Filmmaking. USA: Pearson Education Inc.

Prasetyawati, Noor Aini. 2005. Identifikasi Wilayah Potensial untuk Pengembangan Pelayanan Perusahaan Listrik Negara di Daerah Istimewa Yogyakarta. Skripsi Sarjana. Yogyakarta: Fakultas Geografi UGM

Pratista, Himawan. 2008. Memahami Film. Yogyakarta: Homerian Pustaka

Saint-Martin, Fernande. 1990. Semiotics of Visual Language. USA: Indiana University Press

Samboh, Grace. 2008. Yogyakarta dalam Film Layar Lebar Kontemporer Indonesia, esai peserta kelas menulis “Aksara”, (tidak dipublikasikan)

Shiraishi, Saya Sasaki. 2001. Pahlawan-Pahlawan Belia, Keluarga Indonesia dalam Politik. Jakarta: KPG bekerjasama dengan Yayasan Adikarya IKPI dan The Ford Foundation, hal 253)

Siegel, James T,.  ......, Solo in the New Order, New Jersey: Princeton University Press

Siegel, James T. ......, Culture and Cognition – Rules, Maps, and Plans. San Fransisco, Scranton, London, dan Toronto: An Intext Publisher

Turner, Victor W., dan Edward M. Bruner (ed.), 1986, The Anthropology Of Experience, Urbana dan Chicago: University of Illinois Press

Wibowo, Fred. 2000. Tidak Ada Otoritas Dalam Penafsiran Film. Artikel di Bernas, 24 Mei 2000.

Widowati, Heningtyas  dan Novi Mayasari (ed.). 2007. Irama Visual: Dari Toekang Reklame Sampai Komunikator Visual.  Program Studi D¬¬¬¬isain Komunikasi Visual FSR ISI Yogyakarta, Yogyakarta: Jalasutra

Yunus, Hadi Sabari. 2001. Struktur Tata Ruang Kota. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

__________, 2000. Tafsir Politik Masyarakat Multikultur, artikel di Majalah Panji Masyarakat, edisi No. 49 tahun III 29 Maret 2000, halaman 101

___________. 2001. Making Movies, a Guide for Young Filmmakers. USA: The Artists Rights Foundation and Directors Guild of America

Referensi Film

“Mengejar Mas-Mas”, diproduksi: PT. Sinemart Indonesia dan PT. SONY BMG music entertainment, sutradara: Rudy Sudjarwo, skenario: Monty Tiwa, 2007

“Ayat-Ayat Cinta”, diproduksi: MD Entertainment, sutradara: Hanung Bramantyo, skenario: Salman Aristo dan Ginatri S. Noer. 2008

“Laskar Pelangi”, diproduksi: Miles Production, sutradara: Riri Riza, skenario: Salman Aristo, 2008

“Ketika Cinta Bertasbih”, diproduksi: Sinemart, sutradara: Chairul Umum, skenario: Imam Tantowi, 2009

Daftar Pustaka

Ajidarma, Seno Gumira. 2002. Kisah Mata: Fotografi Antara Dua Subyek: Perbincangan tentang Ada. Yogyakarta: Galang Press

Al Shirazi, Habiburrahman. 2006. Ayat-Ayat Cinta. ....

______________. 2008. Ketika Cinta Bertasbih.

Barbash, Ilisa and Lucien Taylor. 1997. Cross-Cultural Filmmaking, A Handbook for Making Documentary and Ethnographic Films and Videos. The Regents of the University of California)

Benneth, Peter,  et al,. 2007. Film Studies: The Essential Resource. New York: Routledge

Budiman, Kris. 1999. Feminografi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Certeau, Michelle de. 1984 The Practice Of Everyday Life. Berkeley, Los Angeles, and London: University of California Press

China Media Research, 2(3), 2006, Chang, et al, Intercultural Symposium on Cultural Globalization. http://www.chinamediaresearch.net diunduh 10 Mei 2009

Dillistone, F.W., 2002. The Power of Symbols. Yogyakarta: Penerbit Kanisius

Fossard, Esta De dan John Riber. 2005. Writing and Producing for Television and Film. Communication for Behaviour Change, vol. 2. New Delhi, California, London: Sage Publications

Foucault, Michel. 1999. Of Other Spaces dalam Visual Culture Reader. Nicholas Mirzoeff (ed.). USA dan Canada: Routledge

Ginsburg, Faye D,. Lila Abu-Lughod, and Brian Larkin. 2002. Media Worlds: Anthropology on New Terrain. California the Regents of the University of California

Harris, Marvin. 1997. Culture, People, Nature: an Introduction to General Anthropology. United States: Addison-Wesley Educational Publishers Inc

Heider, Karl G,. 1997. Seeing Anthropology: Cultural Anthropology Through Film. America: Allyn & Bacon

Hirata, Andrea. 2007. Laskar Pelangi. Yogyakarta: Bentang

Howells, Richard. 2004. Visual Culture. USA: Blackwell Publishers Ltd

Langer, Susanne K. 1953. Feeling and Form: a Theory of Art. New York: Charles Scribner’s Sons

Mrazek, Rudolf. 2006. Engineers of Happy Land, Perkembangan Teknologi dan Nasionalisme di Sebuah Koloni. Hermojo (Penj.) Jakarta: Yayasan Obor Indonesia

Mirzoeff, Nicholas. 1999. Visual Culture Reader. USA dan Canada: Routledge

Marianto, M. Dwi., 2000. Memprovokasi Rekaman Audio-Visual Otak dengan Representasi Video. Artikel di Kompas, 2 Januari 2000, halaman 5

Parrent, Joanne. 2002. The Complete Idiot’s Guide To Filmmaking. USA: Pearson Education Inc.

Prasetyawati, Noor Aini. 2005. Identifikasi Wilayah Potensial untuk Pengembangan Pelayanan Perusahaan Listrik Negara di Daerah Istimewa Yogyakarta. Skripsi Sarjana. Yogyakarta: Fakultas Geografi UGM

Pratista, Himawan. 2008. Memahami Film. Yogyakarta: Homerian Pustaka

Saint-Martin, Fernande. 1990. Semiotics of Visual Language. USA: Indiana University Press

Shiraishi, Saya Sasaki. 2001. Pahlawan-Pahlawan Belia:, Keluarga Indonesia dalam Politik. Jakarta: KPG bekerjasama dengan Yayasan Adikarya IKPI dan The Ford Foundation

Siegel, James T,. ......, Solo in the New Order, New Jersey: Princeton University Press

____________,. ......, Culture and Cognition: Rules, Maps, and Plans. San Fransisco, Scranton, London, dan Toronto: An Intext Publisher

The Artists Rights Foundation. 2001. Making Movies, a Guide for Young Filmmakers. USA: The Artists Rights Foundation and Directors Guild of America

Turner, Victor W. dan Edward M. Bruner (ed.). 1986. The Anthropology Of Experience.  Urbana dan Chicago: University of Illinois Press

Walker, John A. Dan Sarah Chaplin, 1997. Visual Culture: An Introduction, Manchester & New York: Manchester University Press

Widowati, Heningtyas dan Novi Mayasari (ed.). 2007. Irama Visual: Dari Toekang Reklame Sampai Komunikator Visual, Yogyakarta: Jalasutra dan Program Studi Disain Komunikasi Visual FSR ISI Yogyakarta.

Wibowo, Fred. 2000. Tidak Ada Otoritas Dalam Penafsiran Film. Artikel di Bernas, 24 Mei 2000.

Yunus, Hadi Sabari. 2001. Struktur Tata Ruang Kota. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Leave a Comment
Please feel free to let us know your feeling about this
Your Name
Your Comment
Your Email
Image Verification
Captcha Image Reload Image
Utk ganti paragraf silakan klik
Comments:
Sabtu, 04 Februari 2012 - 20:09
Gandjar Dewa - gandjar_dewa@yahoo.com
Setuju sekali Mba Noor Aini!...sebagai orang yg pernah lama kuliah di Yogya seraya "Aneh" melihat kejanggalan-kejanggalan saat pertama kali saya nonton film tesebut. Mbak Noor baru saja mengulas dari sisi ruang dan waktunya, belum lagi mengulas pengenalan budaya. Wah....masak orang Yogya marah ngamuk2 kaya orang Jakarta....aku belum liat tuh selama 6 tahun di Yogya. Salut kritiknya.
10-02-2012 s/d 11-02-2012
PELATIHAN ADVOKASI "WARISAN BUDAYA" UNTUK UMUM
di Wisma YAKES Kaliurang - Yogyakarta (tentatifl), Kontak Person: Sari (081936985161), Roy (081227310022)
08-02-2012 s/d 22-02-2012
Pameran "SECANGKIR KOPI" oleh Kelompok PALANG
di Sangkring Art Project Nitiprayan Rt.1 Rw.20 No. 88 Ngestiharjo, Kasihan Bantul Yogyakarta, 55182, Telp. (0274) 381032
08-02-2012
GHOST TRACK - Indonesia Tour
di Indonesia - Jakarta, Bandung, Solo, Jogja, Semarang, Surabaya
05-02-2012
Obrolan Tari Tembi #1- Tembi Dance Co 2012
di Tembi Rumah Budaya, Jl. Parangtritis km 9,5 Bantul - Yogyakarta
04-02-2012
Launching & Bedah Buku "2 Detik Mengubah Hidup" Karya Mulyanto Utomo
di Balai Soedjatmoko, Solo. TB Gramedia, Slamet Riyadi , Solo, Indonesia
04-02-2012
Konser jazz-world music Bintang Indrianto dkk
di Komunitas Salihara Jl. Salihara 16, Pasar Minggu, Jakarta Selatan 12520. Tel: 021-789-1202
03-02-2012 s/d 12-02-2012
HYPERFOCAL DISTANCE Photography Exhibition
di Bentara Budaya Yogyakarta, Jl. Suroto 2, Kotabaru Yogyakarta
03-02-2012
Architects Under Big 3 #22 Dany Cahyono
di Danes Art Veranda, Denpasar
02-02-2012
IDF Seminar "A Collaboration among Cultures”
di Erasmus Huis Jakarta Jln. HR Rasuna Said Kav. S-3 Jakarta 12950
02-02-2012
IMAJI PANTAI SELATAN exhibition by Kelompok Wedangan
di Tembi Rumah Budaya Jl. Parangtritis 8,5 Bantul, Yogyakarta
read more »
Sabtu, 04-02-2012
Membaca Ruang dan Waktu Lewat Film “Mengejar Mas-Mas”
oleh Noor Aini Prasetyawati
Jum'at, 27-01-2012
AJARAN SANG AMURWABUMI: Sumber Acuan Nilai-Nilai Pendidikan Karakter Bangsa
oleh Sri Sultan Hamengku Buwono X
Jum'at, 13-01-2012
Potret Seni Pertunjukan 2011: Antara Profesionalisme dan Kelas Menengah Baru
oleh Sri Bramantoro Abdinagoro
Sabtu, 07-01-2012
Pengelanaan Lina Mencipta Suwung
oleh Antok Serean
Sabtu, 31-12-2011
Tinjau Ulang, Biennale Jogja ‘EQUATOR’ 5 Periode!
oleh Hendra Himawan
read more »
Masih adakah tempat untuk puisi?
oleh Sabrina Puisi Mubarak
JUDUL tulisan ini terdengar sangat pesimistis, apa memang demikian keadaan zaman (modern) sekarang?

Mario Vargas Llosa dalam essai
Menguak Sejarah Keroncong dari Kampung Tugu
oleh Erie Setiawan
Tegaknya Hukum dalam Prosa Klasik China
oleh Imam Muhtarom
Kebencian Dalam Sketsa Sastra Cinta
oleh Yasser Asturanawa
read more »
23rd International Poster and Graphic Design Festival of Chaumont
DAAI TV GLOBAL WARMING VIDEO AWARD 2011
Month of Performance Art Berlin
Call for proposals: Hi Seoul Festival, Korea
Open call: Ujazdowski Castle Artists in Residence Laboratory, Warsaw
Anima Mundi 2012 – Animation Festival of Brazil
Lomba Menulis PUISI "Dari Hati Untuk Indonesia"
Lomba Menulis CERPEN Dari Hati Untuk Indonesia
International Festival of Digital Arts
29. AYDIN DOĞAN INTERNATIONAL CARTOON COMPETITION
read more »
07/02/2012 04:10 | Stella_Georgia | It’s entirely possible that I copied that individual number across incorrectly (and that the index was correct), but when I did the query just then it returned a Technorati Rank of 37, so as you say there would be no change in the rank, but an improvement in your index.
07/02/2012 03:56 | seogoldcoast | seo gold coast/url]
07/02/2012 02:24 | nwdgatdlim | long year acer trends show only 001 more acelenolysunci topics now pr54 in 2012
07/02/2012 00:58 | qzmkhyzloj | long year acer trends show only 001 more acelenolysunci topics now pr54 in 2012
06/02/2012 22:55 | Addison_West_Virginia | Just look at the difference just 20-30 rock solid Tea Party conservatives have made in the House already. They’ve turned “1/3 of the government” on its head and started a war between the establishment party and the Tea Party.
read more »
About Us
Indonesia Art News merupakan media tentang dinamika seni yang berkait dengan aspek keindonesiaan. Media ini berusaha untuk mengedepankan segi informasi ihwal seni yang dikemas dengan cara pandang kritis dan muatan yang investigative. Indonesia Art News berkedudukan di Yogyakarta, Indonesia
Gabung di Facebook
Buku Tamu
Pengelola IAN
Editor in chief:Kuss Indarto
Editor:R. Toto Sugiarto
Designer:Andika Indrayana
Email - info@indonesiaartnews.or.id