 |
 |
 |
| Sabtu, 04 Februari 2012 - 01:12 |
 |
| Membaca Ruang dan Waktu Lewat Film “Mengejar Mas-Mas”
|
 |
| oleh Noor Aini Prasetyawati |
 | |
 |
| Salah satu adegan dalam film "Mengejar Mas-mas" (2007). Foto: www.google.com |
 | KEBUDAYAAN dibentuk dengan praktik sehari-hari dalam ruang dan waktu tertentu. Produksi film sebagai praktek kebudayaan seharusnya memperhatikan hal tersebut sehingga menghasilkan film dengan konstruksi ruang dan waktu yang jelas. Terutama dalam film yang mengonstruksi ruangnya dengan menggunakan seting ruang yang identik dengan realitas keruangan di dunia nyata, misalnya film yang menyebut atau memperlihatkan nama jalan, nama kampung, nama gedung, dan simbol-simbol keruangan lainnya.
Saya memilih menggunakan film sebagai bahan untuk mengkaji visualitas karena film dapat membangkitkan memori kita tentang narasi dan citra dari pengalaman kita sehari-hari melalui hal-hal yang diperlihatkan dalam film tersebut. Film “Mengejar Mas-Mas” produksi PT. Sinemart Indonesia dan PT. SONY BMG Music Entertainment ini mengusik visualitas saya tentang Kota Yogyakarta yang saya alami dalam praktek sehari-hari. Dalam beberapa adegan terdapat kerancuan yang berkaitan dengan konstruksi ruang dan waktu. Ketika ruang yang diperlihatkan dalam film yang bertipe shot on location ini sedemikian berbeda dengan ruang dalam lokasi yang sebenarnya, apakah kemudian dapat dikatakan bahwa film ini meniadakan ruang dan hanya mempertontonkan tempat? Jika memang demikian, apa makna dari dialog-dialog dan interaksi antartokoh yang menjadi cara film ini membangun sejarah para tokohnya? Bukankah dengan adanya dialog-dialog dan interaksi antarmanusia di suatu tempat menjadikan tempat tersebut sebagai ruang seperti halnya yang kita alami sehari-hari?
Film “Mengejar Mas-Mas” menceritakan tiga tokoh utama: Shanaz (‘anak Jakarta’ yang melarikan diri ke Yogyakarta), Ningsih alias Norma (seorang perempuan yang bekerja sebagai pelacur dan berpura-pura menjadi dosen setelah suaminya meninggal), dan Parno (seorang pemuda ‘asli Yogyakarta’ yang bekerja sebagai pengamen). Dalam film ini terdapat beberapa kejanggalan namun agar pembahasan lebih fokus maka saya memilih hanya membahas beberapa adegan, yaitu:
Pertama, Adegan Shanaz dan Parno berboncengan sepeda dengan rute: Kampung Sosrowijayan – persawahan yang jauh dari gedung tinggi dan memperlihatkan Gunung Merapi sebagai latar dengan cukup jelas dan bangunan mirip bangunan pabrik di kejauhan (pemandangan yang tidak dapat dijumpai di dalam Kota Yogyakarta) – kampung Njeron Beteng sekitar Wijilan (jalan depan toko Tjokrosoeharto) – Kraton – Suryodiningratan (jalan di depan Hotel Brongto) – Malioboro (tokoh bergerak dari utara ke selatan) – Plengkung Wijilan – persawahan yang mirip dengan lokasi sawah sebelumnya – kost Ningsih.
Melalui adegan-adegan ini pembuat film mencoba memperlihatkan Yogyakarta tidak hanya Malioboro, Tugu, dan Keraton. Sayangnya alur cerita menjadi tidak logis dan rancu secara ruang dan waktu karena mereka berboncengan sepeda dengan rute seperti tersebut di atas, dengan tidak berganti kostum, tetap terlihat rapi dan tampak tidak berkeringat. Kerancuan aspek keruangan dapat dilihat dengan menggunakan pendekatan morfologi kota. Menurut pendekatan morfologi kota, suatu wilayah disebut atau digambarkan sebagai kota didasarkan pada bentuk-bentuk yang dapat diamati dari kenampakan kota secara fisikal, antara lain tercermin pada sistem jalan-jalan yang ada, blok-blok bangunan baik daerah hunian ataupun bukan (perdagangan/industri) dan juga bangunan-bangunan individual (Herbert, 1973 dalam Yunus, 2001: 107). Kerancuan waktu terlihat dari rute bersepeda para tokoh. Karena jika rute tersebut dipraktekkan dalam dunia nyata, maka sang tokoh telah bersepeda secara acak, hal yang tidak lazim dilakukan oleh orang yang telah mengetahui ruang-ruang di Yogyakarta seperti tokoh Parno ini.
Kedua, adegan Shanaz dan Parno berboncengan sepeda di lajur khusus kendaraan bermotor di Jalan Malioboro. Adegan ini sangat mengusik visualitas saya. Setiap orang yang datang ke Jalan Malioboro melalui pangkal jalan ini, dapat melihat rambu-rambu lalu lintas yang menunjukkan bahwa lajur kiri atau timur untuk kendaraan bermotor dan lajur kanan atau barat untuk kendaraan tidak bermotor, serta pos polisi yang berada di pojok barat laut. Lajur untuk kendaraan bermotor dan tidak bermotor di Jalan Malioboro dipisah oleh pemisah jalan berupa semacam trotoar dengan lebar sekitar setengah meter memanjang sepanjang jalan. Dalam keseharian kita, jika ada seseorang yang mengendarai sepeda di lajur kiri pasti akan diprotes pengendara lain melalui suara klakson yang begitu sering berbunyi atau justru kemudian ditertibkan oleh polisi. Dalam film ini, Shanaz dipertontonkan bergerak seolah-olah membonceng sepeda Parno (sepeda dan Parno tidak terlihat), dari utara ke selatan, di lajur khusus kendaraan bermotor, di siang hari, tanpa suara klakson sama sekali dan tidak ditertibkan oleh polisi. Apakah adegan ini dapat dimaknai sebagai usaha pembuat film yang mengambil jalan pintas untuk menegaskan bahwa mereka benar-benar melakukan pengambilan gambar di Yogyakarta dengan (lagi-lagi) mempertontonkan Malioboro atau apakah ini merupakan bentuk pengabaian para pembuat film tentang kesadaran mereka dan penonton atas ruang dan waktu?
Sebagian kalangan meyakini film sebagai sebuah cermin, alat kita mengukur dan mengkaji diri. Asumsi ini menempatkan film sebagai bahasa untuk bisa menyampaikan perasaan dan memberi tafsir akan banyak hal. Film disusun dari gambar-gambar yang bergerak dan unsur audio yang menyertainya, sehingga urutan dan cara mengkompilasi shot-shot tunggal adalah hal yang fundamental untuk analisis film (Howells, 2004:192). Gerak berulang dalam film mengartikan ada gerak satu dan disusul gerak berikut yang memunculkan gagasan waktu sebagai bahasa. Bentuk mungkin dapat kita ulang-ulang, namun terjadinya pengulangan bentuk tersebut berada dalam dimensi waktu yang berbeda (Widowati, 2007:162, 163). Gambar-gambar atau bentuk-bentuk yang bergerak itu membuat kita menikmati ilusi dari pengalaman bergabung dengan peran yang digambarkan dalam ‘dunia layar’, dari pada melihatnya dari sisi luar ketika kita menonton film. Hal ini dikarenakan konvensi sinematik yang menganggap sama antara posisi kamera dengan posisi kita sehingga kita melihat apa yang dilihat oleh kamera dan kita tidak hanya menjadi kamera namun kamera menjadi kita. Di dalam film, berbeda dengan di teater, kita merasa bahwa kita adalah partisipan/peserta, bukan penonton. (Howells, 2004: 174). Oleh karena itu, kita dapat membaca adanya kejanggalan atau kerancuan dalam suatu film ketika ada adegan yang mengusik visualitas kita.
Film “Mengejar Mas-Mas” dapat menjadi media bagi kita untuk melakukan refleksi atas praktek kebudayaan kita. Film mempunyai kontribusi yang kuat dalam proses pemaknaan lintas budaya dan lintas disiplin keilmuan (Spitulnik, 1993: 293) dengan membuat orang dan kebudayaan menjadi seolah-olah hidup di dalam layar, menangkap sensasi dari penampilan yang hidup dalam cara yang tidak bisa dilakukan oleh media lainnya (Barbash, Ilisan dan Lucien Taylor, 1997: 2). Kerancuan-kerancuan yang terdapat dalam film “Mengejar Mas-Mas” dapat menjadi gambaran bahwa para pembuat film ini yang notabene banyak berasal dari Jakarta belum atau kurang memahami konstruksi ruang dan waktu yang membangun kebudayaan di Yogyakarta. Meskipun ruang dalam film merupakan ruang ilusi, namun ruang yang dipertontonkan dalam film ini diidentikkan dengan ruang yang kita alami dalam praktek sehari-hari melalui simbol-simbol yang digunakan. Beberapa simbol yang terdapat di film ini seperti Stasiun Tugu, papan nama Jl. Sosrowijayan, Tugu Yogyakarta, plengkung, Gerbang Kraton, atmosfere Jalan Malioboro yang memperlihatkan bangunan Mal Malioboro, dan tampak depan Benteng Vredenburg. Simbol-simbol ini dapat dimaknai sebagai pembuat film menegaskan bahwa film tersebut bercerita tentang peristiwa yang terjadi di Yogyakarta dan dibuat dengan shot on location di Yogyakarta.
Film ini juga menggunakan bahasa Jawa dalam beberapa dialognya yang dapat menjadi simbol bahwa cerita film ini terjadi di Yogyakarta. Bahasa Jawa lazim digunakan oleh warga Yogyakarta dalam aktivitas mereka sehari-hari. Sebagai penegasan, dalam dialog disisipkan beberapa umpatan khas Jawa, seperti kata “Minggat!” yang diucapkan Ningsih ketika mengusir preman yang mengganggu Shanaz.
Simbol lain yang dapat menegaskan tentang ruang dan waktu adalah kostum. Film ini menggambarkan Shanaz sebagai ‘anak Jakarta’ melalui kostum berupa kaos ketat yang nyaris tanpa lengan atau kadang mengenakan singlet dan celana sangat pendek yang hanya sampai persis di bawah pantat. Kostum ini kontras dengan kostum yang dikenakan para figuran seumuran Shanaz yang mengenakan kaos berlengan panjang dan celana panjang. Untuk menegaskan Parno sebagai seorang pemuda ‘asli Yogyakarta’ maka Parno digambarkan mengenakan kostum baju lurik Jawa dan blangkon Yogya (ada mondolan di belakang), ketika mengamen dan dalam kesehariannya. Kostum ini terkesan ‘maksa’ karena film ini menceritakan peristiwa yang terjadi di Yogyakarta di era sekarang ketika dalam keseharian kita di Yogyakarta sangat sulit bertemu dengan pemuda ‘Jogja asli’ yang sehari-harinya berpakaian seperti Parno. Penggunaan kostum yang ‘maksa’ ini memperlihatkan kerancuan para pembuat film tentang ruang dan waktu.
Tentu saja pembacaan seseorang tentang suatu film bisa berbeda dengan orang lain. Seperti pendapat Seno Gumira Ajidarma (2002) pandangan yang sama, gambar yang sama, obyek yang sama, bukanlah jaminan untuk pembermaknaan yang sama. Terlebih mata kita hanya melihat apa yang kita mau lihat. Meskipun demikian, film tetap merupakan produk kultural yang dapat merefleksikan nilai-nilai kultural dari para pembuat film dan realitas sosial yang mereka filmkan (Chang, et al. 2006: 5). Oleh karena itu kerancuan dalam film ini dapat menjadi contoh tentang praktek kerancuan ruang dan waktu yang terjadi sehari-hari dalam proses kebudayaan kita. Kerancuan ini dapat membuat kita bertaktik, bersiasat, termasuk mengubah penggunaan suatu tempat sehingga menjadi ruang yang berbeda. Misalnya tempat yang semula menjadi ruang tamu berubah menjadi ruang duka ketika salah satu anggota keluarga kita meninggal dunia. Perubahan ruang di tempat yang sama ini sering terjadi dalam keseharian kita.
Sebab menurut Certeau, ruang adalah tempat yang mendapat konteksnya, tempat yang berfungsi sosial, tempat yang ada sejarahnya, tempat yang bermakna, tempat yang digunakan (Certeau, 1984: 117). Sedangkan menurut Bintarto, keruangan mempunyai unsur jarak, pola, site, dan situasi, aksessibilitas serta konektifitas (Bintarto dan Hadisumanarno, 1997 dalam Prasetyawati, 2005: 7). Pengertian ruang secara geografis tersebut mengandung makna bahwa ruang mempunyai batas yang ketika batas itu terlampaui maka terjadi perubahan ruang. Menurut Nicholas Mirzoeff batas yang telah ada antara ‘di dalam’ dan ‘di luar’ ruang berkurang menjadi tidak sekuat dulu dengan berkembangnya ruang-ruang virtual yang menarik untuk dikaji. Ruang tidak lagi dapat dilihat sebagai latar kosong yang sederhana namun sebagai suatu entitas yang dinamik dengan sejarah dan karakteristik-karakteristik yang bervariasi dari periode ke periode berikutnya, dan dari suatu tempat ke tempat lain. (Mirzoeff, 1998: 184). Foucault mengatakan bahwa ruang di mana kita tinggal merupakan ruang yang heterogen, yang di dalamnya terdapat individu-individu dan benda-benda dengan seperangkat relasi yang tidak dapat menghapuskan satu dengan yang lain dan secara pasti tidak dapat menjadi bayangan bagi yang lain (Foucault, dalam Mirzoeff, 1998: 239).
Kerancuan tentang ruang dan waktu di film “Mengejar Mas-Mas” ini juga dapat dilihat dalam beberapa film Indonesia lainnya, terutama yang diangkat dari novel terkenal seperti: “Laskar Pelangi”, “Ayat-Ayat Cinta” dan “Ketika Cinta Bertasbih”. Konstruksi ruang dan waktu dalam film-film tersebut juga dapat mengusik visualitas. Kita akan membandingkan konsep ruang dan waktu yang dikonstruksi di film dengan ruang dan waktu yang dikonstruksi di ‘dunia sebenarnya’ yaitu novel yang menjadi dasar cerita.
Dengan memaknai film kita dapat membaca pola pikir dan pemahaman para pembuat film tentang ruang, waktu dan kebudayaan tokoh dan masyarakat yang difilmkan. Tentu saja pemaknaan film tergantung bagaimana pembuat film dan penonton menangkap dan memaknai simbol yang ada. Konsep ruang dan waktu yang ada dalam otak para pembuat film sebagai produk dari praktek hidup sehari-hari, menurut saya, dapat mempengaruhi mereka ketika mengkonstruksi ruang dan waktu di film yang mereka produksi. Dinamika interaksi keruangan ini, baik ruang nyata maupun ruang virtual, menarik untuk dikaji oleh para antropolog atau orang yang belajar antropologi. ***
Referensi
Ajidarma, Seno Gumira. 2002. Kisah Mata: Perbincangan tentang Ada. Yogyakarta: Galang Press
Barbash, Ilisa and Lucien Taylor. 1997. Cross-Cultural Filmmaking, A Handbook for Making Documentary and Ethnographic Films and Videos. The Regents of the University of California
Benneth, Peter, et al,. 2007. Film Studies: The Essential Resource. New York: Routledge
Budiman, Kris. 1999. Feminografi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
China Media Research, 2(3), 2006, Chang, et al, Intercultural Symposium on Cultural Globalization. http://www.chinamediaresearch.net
de Certeau, Michelle, 1984, The Practice Of Everyday Life, Berkeley, Los Angeles, and London: University of California Press
Dillistone, F.W., 2002. The Power of Symbols. Yogyakarta: Penerbit Kanisius
Fossard, Esta De dan John Riber. 2005. Writing and Producing for Television and Film. Communication for Behaviour Change, vol. 2. New Delhi, California, London: Sage Publications
Foucault, Michel. 1999. Of Other Spaces dalam Visual Culture Reader, Nicholas Mirzoeff (ed.), USA dan Canada: Routledge
Ginsburg, Faye D,. Lila Abu-Lughod, and Brian Larkin. 2002. Media Worlds : Anthropology on New Terrain. California The Regents of the University of California
Harris, Marvin. 1997. Culture, People, Nature: an Introduction to General Anthropology. United States: Addison-Wesley Educational Publishers Inc
Heider, Karl G., 2997. Seeing anthropology: cultural anthropology through film, America: Allyn & Bacon
Howells, Richard. 2004. Visual Culture. USA: Blackwell Publishers Ltd
Langer, Susanne K. 1953. Feeling and Form, a Theory of Art, New York: Charles Scribner’s Sons
Marianto, M. Dwi., 2000. Memprovokasi Rekaman Audio-Visual Otak dengan Representasi Video. Artikel di Kompas, 2 Januari 2000, halaman 5
Mrazek, Rudolf. 2006. Engineers of Happy Land, Perkembangan Teknologi dan Nasionalisme di Sebuah Koloni. Hermojo (Penj.) Jakarta: Yayasan Obor Indonesia
Nicholas Mirzoeff, 1999, Visual Culture Reader, USA dan Canada: Routledge
Parrent, Joanne. 2002. The Complete Idiot’s Guide To Filmmaking. USA: Pearson Education Inc.
Prasetyawati, Noor Aini. 2005. Identifikasi Wilayah Potensial untuk Pengembangan Pelayanan Perusahaan Listrik Negara di Daerah Istimewa Yogyakarta. Skripsi Sarjana. Yogyakarta: Fakultas Geografi UGM
Pratista, Himawan. 2008. Memahami Film. Yogyakarta: Homerian Pustaka
Saint-Martin, Fernande. 1990. Semiotics of Visual Language. USA: Indiana University Press
Samboh, Grace. 2008. Yogyakarta dalam Film Layar Lebar Kontemporer Indonesia, esai peserta kelas menulis “Aksara”, (tidak dipublikasikan)
Shiraishi, Saya Sasaki. 2001. Pahlawan-Pahlawan Belia, Keluarga Indonesia dalam Politik. Jakarta: KPG bekerjasama dengan Yayasan Adikarya IKPI dan The Ford Foundation, hal 253)
Siegel, James T,. ......, Solo in the New Order, New Jersey: Princeton University Press
Siegel, James T. ......, Culture and Cognition – Rules, Maps, and Plans. San Fransisco, Scranton, London, dan Toronto: An Intext Publisher
Turner, Victor W., dan Edward M. Bruner (ed.), 1986, The Anthropology Of Experience, Urbana dan Chicago: University of Illinois Press
Wibowo, Fred. 2000. Tidak Ada Otoritas Dalam Penafsiran Film. Artikel di Bernas, 24 Mei 2000.
Widowati, Heningtyas dan Novi Mayasari (ed.). 2007. Irama Visual: Dari Toekang Reklame Sampai Komunikator Visual. Program Studi D¬¬¬¬isain Komunikasi Visual FSR ISI Yogyakarta, Yogyakarta: Jalasutra
Yunus, Hadi Sabari. 2001. Struktur Tata Ruang Kota. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
__________, 2000. Tafsir Politik Masyarakat Multikultur, artikel di Majalah Panji Masyarakat, edisi No. 49 tahun III 29 Maret 2000, halaman 101
___________. 2001. Making Movies, a Guide for Young Filmmakers. USA: The Artists Rights Foundation and Directors Guild of America
Referensi Film
“Mengejar Mas-Mas”, diproduksi: PT. Sinemart Indonesia dan PT. SONY BMG music entertainment, sutradara: Rudy Sudjarwo, skenario: Monty Tiwa, 2007
“Ayat-Ayat Cinta”, diproduksi: MD Entertainment, sutradara: Hanung Bramantyo, skenario: Salman Aristo dan Ginatri S. Noer. 2008
“Laskar Pelangi”, diproduksi: Miles Production, sutradara: Riri Riza, skenario: Salman Aristo, 2008
“Ketika Cinta Bertasbih”, diproduksi: Sinemart, sutradara: Chairul Umum, skenario: Imam Tantowi, 2009
Daftar Pustaka
Ajidarma, Seno Gumira. 2002. Kisah Mata: Fotografi Antara Dua Subyek: Perbincangan tentang Ada. Yogyakarta: Galang Press
Al Shirazi, Habiburrahman. 2006. Ayat-Ayat Cinta. ....
______________. 2008. Ketika Cinta Bertasbih.
Barbash, Ilisa and Lucien Taylor. 1997. Cross-Cultural Filmmaking, A Handbook for Making Documentary and Ethnographic Films and Videos. The Regents of the University of California)
Benneth, Peter, et al,. 2007. Film Studies: The Essential Resource. New York: Routledge
Budiman, Kris. 1999. Feminografi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Certeau, Michelle de. 1984 The Practice Of Everyday Life. Berkeley, Los Angeles, and London: University of California Press
China Media Research, 2(3), 2006, Chang, et al, Intercultural Symposium on Cultural Globalization. http://www.chinamediaresearch.net diunduh 10 Mei 2009
Dillistone, F.W., 2002. The Power of Symbols. Yogyakarta: Penerbit Kanisius
Fossard, Esta De dan John Riber. 2005. Writing and Producing for Television and Film. Communication for Behaviour Change, vol. 2. New Delhi, California, London: Sage Publications
Foucault, Michel. 1999. Of Other Spaces dalam Visual Culture Reader. Nicholas Mirzoeff (ed.). USA dan Canada: Routledge
Ginsburg, Faye D,. Lila Abu-Lughod, and Brian Larkin. 2002. Media Worlds: Anthropology on New Terrain. California the Regents of the University of California
Harris, Marvin. 1997. Culture, People, Nature: an Introduction to General Anthropology. United States: Addison-Wesley Educational Publishers Inc
Heider, Karl G,. 1997. Seeing Anthropology: Cultural Anthropology Through Film. America: Allyn & Bacon
Hirata, Andrea. 2007. Laskar Pelangi. Yogyakarta: Bentang
Howells, Richard. 2004. Visual Culture. USA: Blackwell Publishers Ltd
Langer, Susanne K. 1953. Feeling and Form: a Theory of Art. New York: Charles Scribner’s Sons
Mrazek, Rudolf. 2006. Engineers of Happy Land, Perkembangan Teknologi dan Nasionalisme di Sebuah Koloni. Hermojo (Penj.) Jakarta: Yayasan Obor Indonesia
Mirzoeff, Nicholas. 1999. Visual Culture Reader. USA dan Canada: Routledge
Marianto, M. Dwi., 2000. Memprovokasi Rekaman Audio-Visual Otak dengan Representasi Video. Artikel di Kompas, 2 Januari 2000, halaman 5
Parrent, Joanne. 2002. The Complete Idiot’s Guide To Filmmaking. USA: Pearson Education Inc.
Prasetyawati, Noor Aini. 2005. Identifikasi Wilayah Potensial untuk Pengembangan Pelayanan Perusahaan Listrik Negara di Daerah Istimewa Yogyakarta. Skripsi Sarjana. Yogyakarta: Fakultas Geografi UGM
Pratista, Himawan. 2008. Memahami Film. Yogyakarta: Homerian Pustaka
Saint-Martin, Fernande. 1990. Semiotics of Visual Language. USA: Indiana University Press
Shiraishi, Saya Sasaki. 2001. Pahlawan-Pahlawan Belia:, Keluarga Indonesia dalam Politik. Jakarta: KPG bekerjasama dengan Yayasan Adikarya IKPI dan The Ford Foundation
Siegel, James T,. ......, Solo in the New Order, New Jersey: Princeton University Press
____________,. ......, Culture and Cognition: Rules, Maps, and Plans. San Fransisco, Scranton, London, dan Toronto: An Intext Publisher
The Artists Rights Foundation. 2001. Making Movies, a Guide for Young Filmmakers. USA: The Artists Rights Foundation and Directors Guild of America
Turner, Victor W. dan Edward M. Bruner (ed.). 1986. The Anthropology Of Experience. Urbana dan Chicago: University of Illinois Press
Walker, John A. Dan Sarah Chaplin, 1997. Visual Culture: An Introduction, Manchester & New York: Manchester University Press
Widowati, Heningtyas dan Novi Mayasari (ed.). 2007. Irama Visual: Dari Toekang Reklame Sampai Komunikator Visual, Yogyakarta: Jalasutra dan Program Studi Disain Komunikasi Visual FSR ISI Yogyakarta.
Wibowo, Fred. 2000. Tidak Ada Otoritas Dalam Penafsiran Film. Artikel di Bernas, 24 Mei 2000.
Yunus, Hadi Sabari. 2001. Struktur Tata Ruang Kota. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
|  |
Leave a Comment
Please feel free to let us know your feeling about this |
|
|
|
|
 |
| Comments: |
 |
| Sabtu, 04 Februari 2012 - 20:09 |
| Gandjar Dewa - gandjar_dewa@yahoo.com |
 |
| Setuju sekali Mba Noor Aini!...sebagai orang yg pernah lama kuliah di Yogya seraya "Aneh" melihat kejanggalan-kejanggalan saat pertama kali saya nonton film tesebut. Mbak Noor baru saja mengulas dari sisi ruang dan waktunya, belum lagi mengulas pengenalan budaya. Wah....masak orang Yogya marah ngamuk2 kaya orang Jakarta....aku belum liat tuh selama 6 tahun di Yogya.
Salut kritiknya. |
 |
 |
 | |
 |
|
|
|
|
 |
 |
 |
10-02-2012 s/d 11-02-2012 |
| PELATIHAN ADVOKASI "WARISAN BUDAYA" UNTUK UMUM |
| di Wisma YAKES Kaliurang - Yogyakarta (tentatifl),
Kontak Person: Sari (081936985161), Roy (081227310022) |  | 08-02-2012 s/d 22-02-2012 |
| Pameran "SECANGKIR KOPI" oleh Kelompok PALANG |
| di Sangkring Art Project
Nitiprayan Rt.1 Rw.20 No. 88 Ngestiharjo, Kasihan Bantul Yogyakarta, 55182, Telp. (0274) 381032 |  | 08-02-2012 |
| GHOST TRACK - Indonesia Tour |
| di Indonesia - Jakarta, Bandung, Solo, Jogja, Semarang, Surabaya |  | 05-02-2012 |
| Obrolan Tari Tembi #1- Tembi Dance Co 2012
|
| di Tembi Rumah Budaya,
Jl. Parangtritis km 9,5
Bantul - Yogyakarta |  | 04-02-2012 |
| Launching & Bedah Buku "2 Detik Mengubah Hidup" Karya Mulyanto Utomo |
| di Balai Soedjatmoko, Solo. TB Gramedia,
Slamet Riyadi , Solo, Indonesia |  | 04-02-2012 |
| Konser jazz-world music Bintang Indrianto dkk |
| di Komunitas Salihara
Jl. Salihara 16, Pasar Minggu,
Jakarta Selatan 12520. Tel: 021-789-1202 |  | 03-02-2012 s/d 12-02-2012 |
| HYPERFOCAL DISTANCE Photography Exhibition |
| di Bentara Budaya Yogyakarta,
Jl. Suroto 2, Kotabaru
Yogyakarta |  | 03-02-2012 |
| Architects Under Big 3 #22 Dany Cahyono |
| di Danes Art Veranda,
Denpasar |  | 02-02-2012 |
| IDF Seminar "A Collaboration among Cultures” |
| di Erasmus Huis Jakarta
Jln. HR Rasuna Said Kav. S-3
Jakarta 12950 |  | 02-02-2012 |
| IMAJI PANTAI SELATAN exhibition by Kelompok Wedangan |
| di Tembi Rumah Budaya
Jl. Parangtritis 8,5 Bantul, Yogyakarta |  |
| read more » |
 |
|
|
|
 |
 |
|
|
 |
 |
|
|
 |
 |
|
|
 |
 |
 |
| 07/02/2012 04:10 | Stella_Georgia | It’s entirely possible that I copied that individual number across incorrectly (and that the index was correct), but when I did the query just then it returned a Technorati Rank of 37, so as you say there would be no change in the rank, but an improvement in your index. |
 | | 07/02/2012 03:56 | seogoldcoast | seo gold coast/url] |
 | | 07/02/2012 02:24 | nwdgatdlim
| long year acer trends show only 001 more acelenolysunci topics now pr54 in 2012 |
 | | 07/02/2012 00:58 | qzmkhyzloj
| long year acer trends show only 001 more acelenolysunci topics now pr54 in 2012 |
 | | 06/02/2012 22:55 | Addison_West_Virginia | Just look at the difference just 20-30 rock solid Tea Party conservatives have made in the House already. They’ve turned “1/3 of the government” on its head and started a war between the establishment party and the Tea Party. |
 |
| read more » |
 |
|
|
|
|
 |