Kamis, 24 Juli 2014 - 10:35 WIB
Ruang untuk Seni Budaya di Era Jokowi-JK
oleh Kuss indarto
AKHIRNYA, pasangan Joko Widodo dan Jusuf Kalla (Jokowi-JK) resmi terpilih sebagai Presiden dan Wakil Presiden RI periode 2014-2019. Dari hasil akhir rekapitulasi yang diumumkan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) pada hari Selasa, 22 Juli 2014, Jokowi-JK mengandaskan harapan pasangan pesaingnya dengan perolehan suara sebanyak 70.997.833 atau 53,15% dibanding 46,85%...
Melihat ArtJog, Menyimak Go to Hell Crocodile
oleh Fathiyyah Fairuz
Bung Karno Transit di ARTJOG
oleh Arif Budiman
Dolan-dolan Merapi
oleh Arahmaiani
Laissez Faire! Willem Kootstra
oleh Abah Jajang Kawentar
  HOME     NEWS     EVENTS     ARTICLES     DIRECTORY     BOOKS     OPPORTUNITIES  
Kamis, 24 Juli 2014 - 10:05
MAHA EMPU: Mengulang Baca Tentang Keilahian Perempuan
oleh Fadjar Sutardi
R.A. Kartini dan suami. (Foto: wikipedia)
MEMBACA perempuan dan perannya dalam kehidupan dari zaman ke zaman, baik menyangkut wilayah ekonomi, sosial, politik, seni atau bahkan agama sangatlah unik dan menarik. Betapa tidak, hanya karena gara-gara ulah perempuan dunia ini berputar antara hitam dan berubah menjadi putih demikian sebaliknya dan hanya perempuanlah yang bisa menjadikan dunia ini gembira atau sedih. Perempuan dengan keunikan dan daya tariknya, yang selalu menggoyang dunia dianggap makhluk ciptaan Tuhan yang aneh dan penuh misteri.

Sedemikian misterinya perempuan, tak ayal lagi para ahli memiliki persepsi yang berbeda-beda. Sebagian menilai kehadiran perempuan dalam berbagai lapangan masyarakat sebagai suatu keharusan dan keniscayaan. Sebagian besar lainnya menganggap bahwa karakter perempuan yang rumit, tidak mungkin dan sulit untuk disambungkan ke pangkal pohonnya, apalagi dibiarkan untuk memegang tanggungjawab yang besar, misalnya di wilayah politik, ekonomi dan  teknologi. Hal ini disebabkan karena perempuan memiliki berbagai kekurangan dan kelemahan dibanding laki-laki. Para ahli tentang perempuan di zaman kuno, seperti Manu, juga menyatakan bahwa, perempuan itu dicipta hanya untuk membuat keonaran, meruntuhkan kehormatan dan mendorong manusia untuk bermusuhan dan perang. Para rohaniwan beberapa abad yang lalu juga menyatakan bahwa, perempuan tidak memiliki hak dan kewajiban memimpin dunia karena pada hakekatnya perempuan tidak memiliki jiwa yang kuat seperti laki-laki.

Pendapat tersebut diyakini dengan penuh semangat dalam rentang perjalanan waktu yang sangat panjang dengan penilaian yang hampir sama yakni dianggap rendah atau harus direndahkan. Di Jawa yang konon memiliki budaya adiluhung pun, perempuan dianggap warga kelas dua, hanya sebagai kanca wingking atau pendamping suami. Anggapan seperti ini juga diyakini dan dijadikan pegangan di beberapa suku bangsa di dunia. Di belahan dunia barat keyakinan tersebut melekat dalam masyarakat didasarkan karena adanya kisah yang disebutkan dalam kitab Kejadian pasal 2, ayat 21-23 dikatakan: “Maka didatangkan Tuhan Allah atas Adam itu tidur yang lelap, lalu tertidurlah ia. Maka diambil Allah sebilah tulang rusuknya, lalu ditutupkan pula tempat itu dengan daging. Maka daripada tulang rusuk yang telah dikeluarkannya dari dalam Adam itu, diperbuat Tuhan seorang perempuan, lalu dibawanya akan dia kepada Adam. Lalu Adam berkata: bahwa sekarang tulang ini daripada tulangku dan daging ini daripada dagingku, maka ia akan dinamai perempuan, sebab ia dikeluarkan dari dalam orang laki-laki”.

Di dunia timur diwartakan juga bahwa Tuhan menciptakan perempuan, konon juga diambilkan dari sempalan tulang rusuk laki-laki. Makna sempalan sendiri ditafsirkan dengan konotasi miring, yakni keberadaan tulang rusuk adalah tulang yang bengkok dan mudah patah, hal ini dapat dimaknai bahwa perempuan memiliki kecenderungan kepada jalan ketidaklurusan dan selalu menyukai kebengkokan.

Benarkah sedemikian jeleknya kehadiran perempuan dikancah masyarakat dunia? Yang memiliki pandangan seperti diatas juga diperbolehkan. Akan tetapi pada kenyataannya tidak juga sedemikian jeleknya. Andai  kita mau berpikir agak cerdas dan tahu sedikit tentang makna sempalan rusuk tersebut dari sudut pandang yang lain, maka akan kita temukan bahwa tulang rusuk sejatinya sebagai simbol untuk melindungi beberapa  perangkat yang penting yang tersimpan di sekitar tulung rusuk manusia, misalnya paru-paru, jantung, limpa, ginjal dan perut. Kelima perangkat maha penting tersebut berfungsi sebagai alat yang menentukan hidup dan kehidupan manusia di sepanjang umurnya. Perangkat tersebut saling bekerjasama tanpa henti dan tanpa lelah untuk sekian masa yang telah ditentukanNya.

Tulang rusuk didesain oleh Tuhan, mempunyai karakter pipih dan tipis, lentur dan melengkung yang berfungsi sebagai penyangga utama tulang punggung atau tulang belakang bagi manusia. Rusuk-rusuk juga memiliki sifat kokoh nan elastis, lembut nan meluas, kompak dalam melindungi perangkat rumit yang disangganya. Dari sini kita dapat membaca bahwa, sebenarnya dari asal muasalnya perempuan memiliki karakter yang tidak bisa dianggap main-main. Karakter yang sedemikian unggulnya menjadi penanda bahwa perempuan memiliki kelebihan yang lebih.

Terlepas benar dan tidaknya historikal penciptaan ihwal perempuan tersebut, tetapi kita tahu bahwa pada hakikatnya perempuan dicipta bukan hanya sebagai kanca wingking atau apapun namanya, tetapi lebih dari itu perempuan memang memiliki banyak kelebihan-kelebihan yang tidak dimiliki oleh kaum laki-laki demikian pula sebaliknya. Keberadilan yang diberikan Tuhan atas kelebihan tersebut, menjadikan perempuan dan laki-laki memiliki derajat yang sama sebanding. Kesamaan derajat dapat dilakukan sesuai dengan peran dengan kunci saling mendukung dan melengkapi.

Inilah esensi terpenting yang mendasari berbagai gerakan emansipasi perempuan juga gerakan feminisme di dunia termasuk di Indonesia, yang menggaung dengan kerasnya diawal abad 19 sampai sekarang ini. Bedanya kalau di Barat gerakan emansipasi dan feminisme mengarah kepada kesamaan peran dalam arti letterlijk, sedangkan di Timur (Indonesia) dimaknai sebagai kesamaan derajat sesuai dengan peran mendasar yang dimiliki masing-masing.

Perhatian dunia tentang peran perempuan dalam keemansipasian di dunia Timur dan Barat sekarang ini telah berubah jauh menuju kepada kepositifan. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa secara kodrati, kelebihan atau keistimewaan perempuan terwakili sesuai dengan apa yang melekat dalam jiwa raganya, misalnya tentang keberadaan terpenting perempuan, yakni rahim. Pada zaman dahulu fungsi rahim hanya sebagai alat pemuas nafsu belaka atau hanya sarana media pelahiran anak-anak mereka. Sekarang ini seiring majunya ilmu pengetahuan dan filsafat, rahim perempuan dapat dimaknai sebagai simbol sifat kerahiman (kekasihsayangan yang tulus tanpa pamrih) yang dapat menjadi spirit-spirit kehidupan dalam dunia yang masih didominasi laki-laki. Sifat kerahiman perempuan ini juga dapat menggerakan dan menjalankan tugas pekerjaan sesuai dengan pilihan yang didasarkan oleh kata hatinya dan bukan pikirannnya. Sifat kerahiman ini akan menghidupkan kata hati seorang perempuan yang  menggerakkan jalan pada sifat kelurusan, keistiqomahan dan ketaatan dalam menjaga kehormatannya sebagai perempuan.

Adalah Sachiko Murata, seorang peneliti modern dari dunia timur yang suntuk tertarik dengan masalah gender yang dihubungkan dengan spiritualitas agama (khususnya Islam). Murata menyatakan bahwa penciptaan perempuan dengan kelengkapan tubuhnya seperti rahim dan hatinya menjadi sesuatu yang menarik untuk dikaji dari sisi ke-ilahi-an. Ia meyakinkan bahwa simbol rahim yang dimiliki perempuan, senyatanya bermuatan nilai-nilai kemakrokosmosan dan kemikrokosmosan di saat penciptaan terjadi, yang menjadikan perempuan menyandang sifat keilahian, seperti kehalusan budi, kecintaan mendalam dan kemesraan abadi tanpa pamrih dan tanpa kata-kata. Kerahiman atau kasih sayang dapat menjelmakan sifat kebidadarian perempuan yang teraktualisasikan dalam kesakinahan dalam rumah tangganya. Perempuan yang memiliki sifat kerahiman akan menjadi bidadari bagi suaminya dan menjadi ibu yang mencinta bagi anak-anaknya dan bukan hanya ibu yang dicinta.

Perempuan pada galibnya tumbuh berkembang dengan kekuatan hati atau qolbunya dan bukan dari pikirannya. Hati yang disemai dengan sifat kerahiman, akan melahirkan kearifan-kearifan spiritual yang dapat menaikkan dirinya ke maqom kesalehan tiada tara. Suara hati yang berdampingan tumbuh dengan sifat kerahiman, akan memperkaya keluhuran perempuan dan tersifati dengan asma-asmaNya yang berjumlah 99 itu. Sachiko Murata, mencontohkan spiritualitas Siti Khatijah saat-saat Nabi merasakan getaran-getaran wahyu dari Tuhan, Siti Aisyiyah mendampingi Nabi di saat beliau membutuhkan suasana spiritualitas kemurnian dinamika kemudaan dalam menegakkan wahyu di tengah kekuasaan yang menentangnya. Demikian pula tumbuhnya kecintaan abadi yang disandang Rabiah al-Adawiyah di tengah mesumnya politik kekuasaan yang mewarnai Baghdad yang mengorbankan perempuan sebagai simbol kebiadaban kuasa raja dan pengabaian-pengabaian atas kuasa Tuhan, di sini Rabi’ah menjadi tonggak kekuatan keilahian perempuan yang mencahayai zamannya.

Kemuliaan perempuan juga digambarkan senada dengan Sachiko Murata, yaitu seorang wanita peneliti yang serius dalam menggerakkan emansipasi di Pakistan dengan apiknya, ia bernama Sa-adia Khawar Khan. Khawar Khan menyatakan bahwa, ketika perempuan mau berjuang untuk mencapai spiritualitas-spiritualitas agamanya, dipastikan akan mendapatkan akses keseluruhan dari tradisi yang dilakukan oleh kaum pria, artinya perempuan juga dapat mencapai apa yang disebut metakosmiknya baik secara naluriah, nuraniah yang meliputi unsur biologisnya, psikologisnya dan sosialnya tanpa merasa menyaingi kaum lelaki.

Pencapaian-pencapaian spiritual perempuan akan mewarnai peradaban dunia. Perempuan yang mengunggulkan suara hatinya dan berlandaskan kasih sayang yang tulus demi mencapai kesucian hidup, maka para perempuan itu telah menyuarakan firman Tuhan yang dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Perempuan dalam tingkatan ini, dapat menebarkan suara (firman) Tuhan, melalui suara hatinya, yang diihktiarkan untuk menjaga ketentraman diri, suami dan keluarganya.

Di Indonesia pencapaian tahapan ketinggian atau ketajaman spiritualitas jiwa keperempuan menyelimuti seorang Kartini yang hidup dan dibesarkan dalam kuasa penjajahan yang membutakan hati bangsanya. Sebagai guru keputrian, Kartini menginginkan pendidikan kesempurnaan budi, agar kelak kemudian hari bangsa ini menjadi bangsa yang mampu berkaca kepada hati nurani yang dicahayai oleh keajaiban keilahian Tuhan Allah yang maha pengasih dan penyayang. Pada puncak pencarian spiritualitasnya, Kartini menulis, ”Tuhan kami adalah nurani, neraka dan surga kami adalah nurani. Dengan melakukan kejahatan, nurani kamilah yang menghukum kami. Dengan melakukan kebajikan, nurani kamilah yang memberi kurnia.”

Pencapaian spiritualitas jiwa Kartini dalam menyuarakan kenuranian dan imannya, yang ditulis Kartini kepada E.C. Abendanon (1902) tersebut, dapat dikatakan bahwa Kartini telah mendapatkan karunia nur-aini, yakni cahaya yang menyinari hatinya, yakni hidayah Allah. Pada taraf dan tingkatan ini Kartini telah menggenggam suaraNya sebagai anugerah dan kasih sayangNya tiada tara. Kartini dalam hal ini telah meraih tahapan-tahapan pencapaian spiritual (keluhuran budi) yang mengakibatkan adanya suasana kententraman, kesakinahan dan kasampurnan hidup. Ia telah sanggup menyuarakan firmanNya kepada sahabat-sahabatnya, yang dianggapnya belum mendapatkan karunia cahaya hati tersebut.

Pada teks permainan kata dalam khasanah Jawa, terdapat istilah yang menarik untuk dikaji tentang perihal tahapan-tahapan pencapaian kualitas spiritual. Kualitas spiritual seperti yang dilakukan bagi jiwa yang terhidayahi cahaya Allah, seperti dialami Khatijah, Aisyiyah, Rabi-ah atau siapapun yang mendapatkan petunjuk hidayahNya. Tahapan tersebut dapat dipelajari secara tekstual melalui proses pencapaian dengan (pinjam istilah Soedjonorejo) madu lima yaitu, pertama proses mengolah nafsu atau proses me-madukara. Me-madukara adalah memadukan atau menyatukan kekuatan hawa angkara murka yang selalu memiliki kecenderungan untuk menghembuskan bisikan jahat kepada hati manusia, untuk kemudian diajak dialog intensif agar dapat dikendalikan sebaik-baiknya bersama jiwa murni, yakni muthmainah. Dialog antar kekuatan tiga hawa anugerah Tuhan itu bertujuan untuk mengendalikan hawa dari keangkaramurkaan yang disimbolisasikan nafsu ammarah dan lawwamah dengan kemuthmainnahan juga memerlukan olah laku penuh dengan kesabaran yang tinggi. Olah laku kesabaran dalam  memadukan berbagai hawa ini biasa dimiliki oleh perempuan yang secara kodrati mampu melaksanakannya. Karakter ammarah dan lawwamah dapat diredam dengan jiwa lembut dan jiwa tulus perempuan. Dengan senyumnya ammarah dan lawwamah dapat tertaklukkan dengan pelan-pelan. Jiwa melayani yang diberikan Tuhan kepada perempuan, oleh Al-Ghazali dikatakan sebagai jiwa yang dapat memroses hawa-hawa bak air dingin mengalir menelusup kesanubari semesta jiwa. Dalam konteks realitas sejarah manusia di sepanjang zaman, ketika kekuasaan politik, ekonomi, sosial dan teknologi yang didominasi lelaki dalam keadaan chaos, di sanalah muncul tokoh feminin yang mulia untuk menggantikan perannya dengan charitas yang dimilikinya. Di saat seperti ini suara perempuan menggaung di langit Tuhan yang paling tinggi.

Kedua mampu mengenali diri dengan pembacaan pada tingkat kualitas madu basa, Mulla Sadra menyebutkan bahwa madubasa dikatakan sebagai dialog kepada diri yang jahil, fasiq dan ghofilun untuk menuju kembali menjadi jiwa fitrah,sebagai dasar dan sandaran dalam melaksanakan titah Tuhannya. Me-madu basa, ditandai dengan kecerdasan dalam menyusun kata-kata mencapai kualitas-kualitas kesarjanaan dengan tingkatan strata langit. Kata-kata langit bisa diubah oleh jiwa kefeminian yang dimiliki oleh perempuan menjadi bentuk senandung kalimat-kalimat berjiwa yang memiliki daya jangkauan komunikasi secara universal. Dari sisi ini laki-laki dapat diruntuhkan kekuatan dan kekakuannya oleh efek positif dari madu basa oleh daya batin yang  menguat dan bahkan menggila dari ruh perempuan. Pada tingkatan yang lebih tinggi ruh perempuan bisa “mengerti” bahasa burung, bahasa tanam-tanaman dan bahasa makhluk lainnya, seperti bahasa jin dan seterusnya. Kualitas memadu basa ini juga dimiliki para Rasul dan Nabi dan pada hamba-hambaNya yang shalih. Kesalehan dalam berbahasa merupakan bentuk dari hasil madu basa yang memiliki spiritualitas-spiritualitas keilahian yang menggema pada semesta raya ini. Tidak banyak perempuan yang masuk dalam kualitas memadu basa ini, hanya beberapa misalnya Aisyah, isteri Firaun yang mampu melindungi Musa dari kesombongan suaminya itu.

Ketiga melebur dalam mengkaji kedalaman madurasa. Madu rasa adalah rasa madu yang menyelinap dalam jiwa manusia yang disebut qalbun salim. Qalbun salim ini, selalu menginginkan kepada jalan keselamatan. Tak dipungkiri, setiap makhluk yang berakal sehat memiliki kebiasaan pada hidup yang salam. Jiwa salam yang menjadi bagian fitrah manusia, terwakili oleh kedalaman ajaran teks ucapan (doa tuntunan nabi dan rasul) ketika bertemu sesama pencari jalan keselamatan, yakni ucapan “assalamualaikum warohmatullahi wa barokatuh”. Doa ampuh dan mustajab ini bagi orang yang telah mampu memadu rasa (menyatukan lagu batin dan jiwanya), disadari atau tidak selaksa sebagai ucapan ilahi robbi yang menyadarkan agar manusia gemar kepada hidup selamat, penuh kerahmatan dan keberkahan yang selalu dikucurkan Tuhan kepada hambanya.

Perempuan shalih adalah ketika rumah jiwa dan rumah raganya dipenuhi dengan penghormatan kepada keselamatan dirinya, kerahmatan keluarganya dan keberkahan harta suaminya. Perempuan yang dapat menggenggam jiwa salam dengan kukuh, bila ia tidak terjerumus kepada peradaban kotor, yang termanifestasikan (pinjam istilah Jalaludin Rahmat) dengan apa yang disebut dengan budaya 3S, yakni sex, show, song dapat dikatakan telah mencapai derajat dapat memadu rasa. Akan tetapi bila budaya kotor tersebut masih menjadi tujuan hidup perempuan, maka dapatlah dengan ampuhnya mematikan rasa salam yang dibutuhkan fitrah manusia. Matinya rasa salam, tidak mungkin bisa direkontruksi ulang atau direkayasa kembali, kecuali ia mau dan mampu ber-muhasabah dengan tujuan untuk mencapai taubat nasuha dengan sekuat jiwa raganya.

Di tangan perempuan yang suci dan yang menginginkan kesucian hiduplah, ilmu me-madu rasa dapat menjadi dasar dan fondamen bendungan masa depan yang megah, seperti di gambarkan oleh tokoh futurik Muslim, Ziauddin Sardar sebagai proyek bendungan Umran. Bendungan Umran, diharapkan menjadi bendungan peradaban dunia dimana manusia memiliki sebuah jembatan madani yang bersendikan spiritual dan kultur keilahian, yang memadukan rasa barat dan timur dengan kalimatun showwa.

Keempat adanya kesadaran dan kesabaran dalam menyangga kekuatan madubrata. Pada tingkatan memadubrata, berarti telah mampu menaklukkan hawa nafsunya, pikirannya dan perasaanya. Penaklukkan “sang diri” pada zaman dahulu dilakoni melalui memroses kesejatian diri dengan laku talak brata. Talak brata, dipraktikkan dengan mengasingkan diri dari keramaian, agar tidak tergoda oleh gempuran bisikan nafsu setan yang sewaktu-waktu dapat menghancurkan dirinya. Pengasingan diri, sering disebut laku sesirih dengan tujuan agar mendapatkan kesucian diri dan kemantapan batin dalam mengemban amanah kehidupan. Pada zaman sekarang tidak bisa dilakoni seperti hal tersebut, tetapi dengan menajamkan diri melalui kuliah-kuliah yang menggerakkan keintelektualan, baik intelektualitas intelegensi, emosionalitas dan kespiritualan. Dr. Simuh mantan rektor UIN Sunan Kalijaga, pengarang buku Sufisme Jawa mengatakan bahwa laku sesirih bagi manusia modern seperti sekarang ini dapat berbentuk kesukaan atau kegilaan dalam membaca alam dan buku. Simuh benar, karena keilmuan seseorang terukur dalam kesukaannya membaca dan bukan kesukaannya dalam memperoleh gelar. Gelar hanyah civileffect yang dapat bernilai positif atau justru sebaliknya. Mengingat banyaknya manusia modern yang terjebak kepada pencarian gelar demi gelar dan bukan pada kualitas-kualitas pembacaan terhadap diri secara sungguh-sungguh.

Memadu brata, oleh Sayyid Husein Nasser dikatakan bahwa mereka telah mencapai pangkat tertinggi dari 40 maqom spiritualitas keilahian, yakni ketaqwaan yang tasaufiyah. Jiwa tasaufiyah adalah jiwa yang telah bersih dari semua keinginan. Kehidupan batinnya bersih dari kemalangan. Kata-katanya bersih dari kelalaian, kealpaan dan fitnah. pikirannya bercahaya, matanya memejamkan dan mengelak dari dunia atau keduniaan.Hidupnya mendapatkan jalan yang benar.

Kelima mampu melihat kekurangan dan kelemahan diri dengan mendalami dan merenungkan madu pura. Madu pura, adalah bentuk penyadaran diri bahwa sesungguhnya kalau andai seluruh perilakunya baik mulai dari pikiran, ucapan dan tindakannya yang serba lemah, rancu, ragu dan bodoh tidak diluruskan dan disempurnakan Tuhan, maka hidupnya akan mengalami kebinasaan-kebinasaan. Jiwa madu pura, terekspresikan dengan ajegnya untuk selalu memohon ampun kepada Tuhan di saat jaga dan tidurnya, di dalam kesendirian atau didalam keramaian dirinya, di waktu diberi kemudahan atau kesulitannya. Sikap memaafkan sebelum orang lain atau makhluk lainnya memintanya, melonggarkan jalan kepada orang lain dan meminggirkan ke ketepian bagi dirinya merupakan contoh dari makna memadu pura ini.

Gerakan perempuan merupakan tanda-tanda zaman. Perempuan di suatu waktu akan memenuhi bumi manusia ini, sementara laki-laki dengan kelelakiannya semakin terkurangi. Dalam bahasa lain dapat diartikan, bahwa pada saatnya nanti antara laki-laki dan perempuan tidak ada yang saling ingin mendominasi. Di lapangan pergaulan dan komunikasi tingkat dunia yang sekarang, laki-laki semakin memiliki feminitas yang semakin nyata. Sementara perempuan semakin feminine, sehingga ke-jalalan (keagungan), ke-jamalan (keindahan) semakin menuju tingkatan yang diharapkan seluruh manusia di dunia, yakni ke-kamalan (kesempurnaan). Jalal, jamal dan kamal, menjadi teks bernas bagi tercapainya cita-cita luhur manusia, yakni kedamaian, kebahagiaan dan kesejahteraan diantara laki-laki dan perempuan. ***
*) Pengelola Rumah Langit Kebun Bumi, tinggal di Sragen.
Leave a Comment
Please feel free to let us know your feeling about this
Your Name
Your Comment
Your Email
Image Verification
Captcha Image Reload Image
Utk ganti paragraf silakan klik
Comments:
01-06-2014 s/d 30-06-2014
Pameran Lukisan Yaksa Agus: ‘ART Joke: Menunggu Godot’
di Tirana Art Space Jl Suryodiningratan 55, Yogyakarta
31-05-2014 s/d 08-06-2014
Bolo Kulon Painting Exhibition: "PASURUAN BERKISAH"
di Bromo Art Space Jl. Raya Nongkojajar, Dsn. Mesagi, Ds. Wonosari.. Kec. Tutur, Kab. Pasuruan, Jawa Timur, Indonesia
24-05-2014 s/d 01-06-2014
Thai-Indonesia Art Exchange Exhibition
di Bentara Budaya Yogyakarta, Jl. Suroto 2, Kotabaru, Yogyakarta
23-05-2014 s/d 01-06-2014
Pameran Seni Rupa "Ngalor Ngetan" - Khoiri & Rb. Ali
di Bentara Budaya Jakarta, Jl. Palmerah Selatan 17, Jakarta 10270
23-05-2014 s/d 31-05-2014
Pameran Seniman Residensi: Makan Angin #1
di Rumah Seni Cemeti Jl. D.I. Panjaitan 41, Yogyakarta
22-05-2014 s/d 12-06-2014
Painting Exhibition: "Triwikromo" by Elka Shri Arya
di House of Sampoerna, Taman Sampoerna 6, Surabaya
20-05-2014
Diskusi Kerakyatan: EKONOMI KREATIF BERBASIS SENI & BUDAYA
di Ruang Interaktif Center Lantai I Fakultas Ilmu Sosial & Humaniora, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
20-05-2014
Dialog Budaya & Gelar Seni “YogyaSemesta” Seri-67
di Kompleks Kepatihan Danureja, Jl. Malioboro, Yogyakarta
20-05-2014
Refleksi Dwi Windu Reformasi
di Gedung PKKH (d/h Purna Budaya), Kompleks UGM, Bulaksumur Yogyakarta
17-05-2014 s/d 19-05-2014
Kirab Seni Budaya Kotagede
di Kawasan Kotagede, Yogyakarta
read more »
Kamis, 24-07-2014
MAHA EMPU: Mengulang Baca Tentang Keilahian Perempuan
oleh Fadjar Sutardi
Senin, 14-07-2014
Bukan Tokoh Nusantara
oleh Abah Jajang Kawentar
Senin, 23-06-2014
Dunia
oleh F. Sigit Santoso
Kamis, 29-05-2014
Menelusuri Jalur Ngalor Ngetan
oleh Kuss indarto
Selasa, 20-05-2014
Jas, Maskulinitas, dan Fragmen-fragmen Modernitas
oleh Hendra Himawan
read more »
Merajakan Nalar di Tengah Kepungan Hedonisme
oleh Christian Heru Cahyo Saputro
Buku bertajuk: Acropolis (Kerajaan Nalar) yang merupakan kumpulan kolom karya wartawan SKH Lampung Post Heri Wardoyo (HRW) hadir meramaikan pasar wacana. Buku yang berisi kolom-kolom Heri Wardoyo ini pernah dimuat di rubrik ‘Nuansa’ Lampung Post bertitimangsa tahun...
Fantasi Balzac tentang Pulau Jawa
oleh Sigit Susanto
Merajut Masa Depan Bocah Merapi
oleh T. Nugroho Angkasa S.Pd.
Novel Kasongan, Seliat Tanah Liat
oleh R. Toto Sugiharto
read more »
LOMBA PENULISAN JURNALISTIK
Lomba Foto “Air dan Sanitasi untuk Kehidupan yang Lebih Baik”
6th Beijing International Art Biennale 2015
Sayembara Cipta Kreasi Motif Batik Seragam Dinas Harian RSUP Dr Kariadi 2014
Lomba Desain Sepatu Tingkat Nasional 2014
LOMBA DESAIN MURAL GALERI NASIONAL INDONESIA 2014
LOMBA CIPTA SENI BATIK NUSANTARA 2014
The 4th Bangkok Triennale International: Print and Drawing
Iver Jåks Artist-In-Residency Program 2014
UNDANGAN Pameran Seni Rupa Karya Guru Seni Budaya “GURU SENI BERLARI” - GALERI NASIONAL INDONESIA
read more »
04/07/2014 03:04 | Rev. Ana cole | Apakah Anda perlu bantuan keuangan/pinjaman untuk melunasi tagihan Anda, mulai atau memperluas bisnis Anda? Roya pinjaman perusahaan telah terakreditasi oleh kreditur Dewan memberikan pinjaman pinjaman persentase untuk klien lokal dan internasional. Mohon jawaban jika tertarik. Terima kasih. Wahyu Ana cole Telp: + 447012955490 Email:roya_loans@rocketmail.com
23/06/2014 12:22 | Danielbudi | Salam kenal saya pelukis asal Solo-Jawatengah mohon infonya jika ada pengumuman atau berita perihal kompetisi lukis yang terbaru sehingga saya tidak ketinggalan beritanya terimakasih.
17/06/2014 19:53 | WP | Saya merasa website ini juga berkait dengan aspek keindonesiaan: www.wayangpuki.com. Saya dan kawan2 tidak habis diskusi tentang intinya. Mungkin menarik untuk Anda? Salam.
26/04/2014 01:21 | Luki Johnson | salam kenal dari pulau Borneo
20/04/2014 09:31 | Syakieb Sungkar | terima kasih
read more »
About Us
Indonesia Art News merupakan media tentang dinamika seni yang berkait dengan aspek keindonesiaan. Media ini berusaha untuk mengedepankan segi informasi ihwal seni yang dikemas dengan cara pandang kritis dan muatan yang investigative. Indonesia Art News berkedudukan di Yogyakarta, Indonesia
Gabung di Facebook
Buku Tamu
Pengelola IAN
Editor in chief:Kuss Indarto
Editor:R. Toto Sugiarto
Designer:Andika Indrayana
Email - info@indonesiaartnews.or.id