Senin, 09 Februari 2015 - 13:06 WIB
Sejarah yang Jauh di Dekat Kita
oleh Kuss Indarto
“SAYA tidak begitu asing dengan Diponegoro karena masa kecil saya sempat tinggal tak jauh dari Museum Diponegoro di daerah Tegalrejo, Yogyakarta. Dan saya sesekali berkunjung ke sana. Hanya sekitar 300 meter jaraknya menuju museum,” kata Prof. Dr. Anis Rasyid Baswedan, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI saat mengawali sambutan dalam pembukaan pameran seni rupa “Aku...
Reproduksi (dan) Ironi
oleh Grace Samboh
Kabar Gembira dari Tenggara
oleh Argus FS
Kesederhanaan pada Grafis Setiawan Sabana
oleh Dany Kurnia Gunawan
Tiada Lagi SMS dari Gandung
oleh Kuss Indarto
  HOME     NEWS     EVENTS     ARTICLES     DIRECTORY     BOOKS     OPPORTUNITIES  
Jum'at, 13 Februari 2015 - 19:52
Sor Mejo Nok Ulane
oleh Fadjar Sutardi
"Insomnia", karya berukuran 1 x 1 m garapan Nofi Sucipto, yang menjadi salah satu karya dalam pameran "Sor Mejo Nok Ulane", di Pasuruan, Jawa Timur, 14-21 Februari 2015. (foto: wahyu nugroho)
SAAT saya didaulat Wahyu Nugroho untuk ikut “meramaikan” pameran seni rupa dengan tajuk Sor Mejo Nok Ulane dalam Gandheng Renteng #4 yang melibatkan tujuh puluh enam perupa senior dan yunior di seantero Pasuruan dan sekitarnya. Melalui tulisan ini, diam-diam saya menaruh “kecurigaan” dan bukan penghormatan yang berlebihan kepada sahabat saya yang memiliki semangat luar biasa ini. Kecurigaan yang berbentuk pertanyaan muncul dalam benak saya: “apa yang hendak dan ingin  dicari orang ini?”

Kemudian siapa sebenarnya Wahyu Nugroho itu? Konon kabarnya, Wahyu Nugroho termasuk seorang seniman yang memiliki kepribadian “kekeh, kukuh dan kokoh” dalam merealisasikan sebuah angan-angan, cita-cita, mimpi yang maunya harus terealisasikan. Kekeh, artinya kuat dalam mewujudkan keinginan pribadi, kukuh artinya tidak mudah digoyang atau tergoyangkan, kokoh artinya memiliki mental semen dalam merealisasikan niatnya dan berani berkorban, khususnya mengeluarkan pundi-pundi miliknya demi sebuah kerekatan kesenian di daerahnya. Selain itu Wahyu Nugroho, juga memiliki kepribadian jiwa lucu dan sekaligus kaku yang menjadi daya dorong bagi kekuatan nakalnya (Jawa: ana akal). Ia kemas dan buntel kegiatannya dengan manajemen Jawa Timuran. Pola guyon maton, nyek-nyekan agak seronok, sekaligus pandai menjaga kesantunan merupakan ciri khasnya dalam pergaulan keseniannya. Inilah daya tarik Wahyu Nugroho dalam menggandheng rentengi perupa Pasuruan dan sekitarnya yang sampai saat ini sudah dilakukan empat kali.

Kecurigaan-kecurigaan yang bersifat positif itu terus menggelembung dalam benak saya, untuk kemudian berusaha mencari jawaban perihal kegiatan kesenirupaan yang di-”gerak”-kan Wahyu Nugroho ini, dengan “penglihatan mata” saya sendiri. Dari mata saya sosok Wahyu Nugroho, memang memiliki daya ikat dan kepekatan emosional yang sangat kuat. Setidaknya ada empat ikatan dan kepekatan emosional yang melekat dan terus akan dibawa Wahyu Nugroho dalam menapaki dunia kesenian yang terus menggeliat bersama lingkungan masyarakat seni yang ikut membesarkannya, pertama adanya ikatan kepekatan yang bersumber dari  libidanialistikanya atau estetika yang bersumber libido seseorang, dalam hal ini Wahyu Nugroho. Perihal kekuatan libido hampir dimiliki seluruh manusia di muka bumi ini. Sekedar mengingatkan, bahwa  Sigmund Freud mendefinisikan bahwa libido sebagai energi atau daya insting yang terkandung dalam identifikasi yang berada dalam komponen ketidaksadaran dari suasana psikologis seseorang. Ia menunjukkan bahwa dorongan libidinal ini dapat bertentangan dengan perilaku umum atau keumuman manusia biasa. Libidanilistetika ini memerlukan komunikasi-komunikasi kualitas dalam menciptakan relasi dengan masyarakat. Relasi yang dibangun oleh orang yang memiliki ikatan kepekaan dan kepekatan libidanilistik ini terkadang menyebabkan ketegangan dan gangguan dalam diri individunya. Oleh karenanya, ia perlu terus mendorong diri untuk membangun pertahanan ego dengan menyalurkan energi psikis dari kebutuhan dalam bentuk komunal-komunal. Hal ini dilakukan, agar tidak terjadi akumulasi krisis energi yang dimilikinya. Bila tidak membuat komunalisasi gagasan yang disalurkan secara benar, ia akan terkena  sikap-sikap egoestetiknya dan menyebabkan menjadi pribadi yang berkecenderungan dekat dengan neurosisme. Dari komunikasi-komunikasi dengan relasi komunalnya, para pemilik ikatan kepekaan libidanalistika ini memerlukan garis-garis tujuan utamanya, yakni  membawa dorongan identifikasi seninya ke dalam kesadaran keseharian, yang memungkinkan untuk ditemukan bersama komunalitasnya secara langsung sehingga dapat mengurangi ketegangan-ketegangan pribadinya. Yang oleh Carl Gustav Jung, kepekaan libidanilitasnya dapat dimediasi melalui simbol-simbol energi artistiknya dengan  dimanifestasikan dalam proses kehidupan dan dipersepsi secara subjektif sebagai usaha atau hasrat yang menyala-nyala.

Kedua ikatan kedalaman intuitif yang bersumber dari  egostika. Egostetik adalah struktur psikis yang berhubungan dengan konsep tentang diri dan keindahan yang diatur oleh prinsip realitas dan ditandai oleh kemampuan untuk menoleransi  kefrustasian. Egoestetik terikat dalam proses berpikir sekunder -mengingat, merencanakan, dan menimbang situasi yang memungkinkan kompromi antara fantasi dari id dan realitas dunia luar. Orang yang memiliki kedalaman intuitif seperti Wahyu Nugroho akan bekerja dan berkreasi demi untuk sebuah penegasan diri fantasiestetik-nya kepada relasi sosial yang melingkunginya yang terkadang masuk diluar kesadaran dirinya. Pada ketidaksadaran diri, sang ego bertindak sebagai semacam anjing penjaga, atau sensor, yang menyaring impuls-impuls dari jiwanya. Ketika, kesadaran muncul, maka akan terus lahir konsep-konsep yang mengalir dan terkadang susah untuk dibendung. Jiwa seperti ini melekat kepada orang-orang yang hidupnya menginginkan pengabdian dengan realitas sosialnya.

Ketiga ikatan kekuatan, kepandaian dan kecerdasan intellecastika-nya. (Maksudnya apa ini, pak? ~ Red.) Pada medan komunikasi-komunikasi yang berlangsung lama, akan tumbuh sebuah kualita-kualita pribadi yang bersumber pada kecerdasan yang terasah dan terukur. Ia akan menggunakan kecerdasannya untuk bekerja, belajar, membayangkan, menggagas, atau menyoal dan menjawab persoalan tentang berbagai gagasan seninya. Orang-orang seperti ini, amat menyukai dan sekaligus melibatkan diri secara konsisten dalam idea-idea dan teori-teori yang pada suatu saat akan ditelurkan kedalam sebuah kegiatan besar dalam lingkungannya dengan tanggung jawab yang besar. Hidup dan kehidupan mereka terwarnai dalam berbagai keahlian khususnya dalam budaya dan seni yang memberikan mereka pada sebuah kehormatan dalam dinamika kebudayaan yang melingkupinya. Penghormatan pada seni dan kebudayaan menjadi modalitas dalam mendiskusikan persoalan sosial budaya kepada masyarakatnya. Dalam hal ini, ia masuk dalam deretan sebagai golongan para budayawan yang mendasarkan pada intelektulitasnya. Orang-orang seperti ini bisa memiliki pekerjaan ganda selain suntuk dalam kesenian, misalnya sebangsa dosen, guru, pengacara, wartawan, dan sebagainya. Para penjaga kebudayaan ini biasanya tergolong sebagai orang sekolahan. Walau banyak budayawan yang lahir dari alam dan bukan dari bangku sekolah. Seperti dikatakan Sharif Shaary, dramawan Malaysia terkenal, bahwa; "Belajar di universitas bukan jaminan seseorang dapat menjadi  budayawan cendekia. Seorang  budayawan yang cendekia adalah pemikir yang senantiasa berpikir dan mengembangkan (serta) menyumbangkan gagasannya untuk kesejahteraan masyarakat. Ia juga adalah seseorang yang mempergunakan ilmu dan ketajaman pikirannya untuk mengkaji, menganalisis, merumuskan segala perkara dalam kehidupan manusia, terutama masyarakat di mana ia hadir khususnya dan di peringkat global umum untuk mencari kebenaran dan menegakkan kebenaran itu. Lebih dari itu, seorang intelektual juga seseorang yang mengenali kebenaran dan juga berani memperjuangkan kebenaran itu, meskipun menghadapi tekanan dan ancaman, terutama sekali kebenaran, kemajuan, dan kebebasan untuk rakyat."

Keempat, ikatan kelonggaran pada pemanfaatan materialistika-nya. Orang-orang model penggerak seperti Wahyu Nugroho ini, kebermilikan material estetikanya dimanfaatkan untuk sebuah pengabdian pada realitas seni yang menghidupkannya. Mereka  tahu bahwa material sebagai wahana interaksi keindahan dalam berkomunikasi kepada siapapun yang membutuhkannya. Keindahan yang bernilai materialistik, dapat dijadikan medan apresiasi dan aset bagi kebudayaan yang beradab. Orang-orang ini memanfaatkan materi-materi untuk membuat catatan-catatan perjalanan estetiknya melalui kerja terorganisir dengan manajemen terbuka. Orang-orang ini terkadang menjadi ujung tombak dan ujung tombok bagi sebuah moment-moment  kesenian yang diembannya. Karena keterbukaan dan kejujurannya, orang-orang ini sering mendapat dukungan tanpa batas dari berbagai pihak, tanpa ada muatan politik atau tujuan lainnya.

Keempat ikatan emosional yang dimiliki orang semacam Wahyu Nugroho tersebut, akan terus tumbuh dan berkembang sesuai dengan tuntutan zaman dan tuntutan masyarakatnya. Tetapi, andai orang-orang ini tidak bisa memegangi ikatan emosionalnya  dengan ikatan yang kokoh dan kukuh, dipastikan bermunculan krisis-krisis kepribadian yang menumbangkan kehormatan kebudayawanannya. Oleh karenanya bagi orang-orang ini terus perlu diberi ruang yang luas dari siapapun, termasuk kalangan swasta, pemerintah atau masyarakat umum yang peduli terhadap energi orang kuat seperti Wahyu Nugroho ini. Tetapi pun demikian, bila jiwa kebudayaan orang-orang ini tidak terbaca oleh masyarakatnya, mereka akan terus berteriak bersama "presiden seni parikan" Jawa Timur dengan lantang: “sor mejo nok ulane”. “sor mejo nok ulane”. “sor mejo nok ulane”. “sor mejo nok ulane” didengungkan bersama masyarakat seni rupa di Pasuruan, sampai kemudian ada seorang pejabat bergumam: “iki bocah uedan tenan! pameran sepanjang tahun gak wis-wis". ***

*) Mengelola seni Rumah Langit Kebun Bumi, tinggal di Sumberlawang, Sragen.
Leave a Comment
Please feel free to let us know your feeling about this
Your Name
Your Comment
Your Email
Image Verification
Captcha Image Reload Image
Utk ganti paragraf silakan klik
Comments:
Sabtu, 14 Februari 2015 - 06:44
Anwar Sanusi - anwarsanusi080@gmail.com
Wahyu Nugroho telah menunjukkan pada masyarakat Pasuruan khususnya dan masyarakat luas bahwa seorang Guru Seni sebaiknya tidak cuma pandai berbicara didepan muridnya dengan teori-teori seni saja namun secara kemampuan berkarya juga mendapat apresiasi yang luar biasa...sehingga anak didik tidak hanya mendapatkan pengetahuan saja juga keahlian...dan Wahyu Nugroho telah menampilkan karya siswanya...Lanjutkan Pak Guru Gondrong Wahyu...semoga yang gondrong gak cuma rambutnya tapi karyanya juga harus gondrong dan bisa bersaing dikancah Seni Rupa Nusantara dan dunia.
06-03-2015 s/d 14-03-2015
"Soliter vs Solider", Pameran Tunggal karya-karya alm. Hendro Suseno
di Bentara Budaya Yogyakarta, jl. Suroto 2, Kotabaru, Yogyakarta
14-02-2015 s/d 21-02-2015
Pameran seni rupa: "GANDHENG-RENTENG #4 - SOR MEJO NOK ULANE"
di Gedung Yon Zipur Jl. Balai Kota Pasuruan, Jawa Timur
12-02-2015 s/d 21-02-2015
“TIROLESIA” Art Exhibition: PHOTO | FILM | STENCIL ART
di Indonesia Contemporary Art Network (iCAN), Jl. Suryodiningratan 39, Kota Yogyakarta 55141
11-02-2015 s/d 12-02-2015
Pentas TEATER GANDRIK: TANGIS
di Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta, Jl. Sriwedani 1, Gondomanan, Yogyakarta
10-02-2015 s/d 23-02-2015
Pameran "Titik Temu 6 GENETIKA"
di Nadi Gallery, Jl. Kembang Indah III Blok G3 no. 4-5, Puri Indah, Jakarta Barat
10-02-2015
Video Performance Installation: "Nusantara Manuscript"
di Candi Sukuh, Ngargoyoso, Jawa Tengah, Indonesia 57793
05-02-2015 s/d 08-03-2015
Pameran "Aku Diponegoro, Sang Pangeran dalam Ingatan Bangsa: Dari Raden Saleh Hingga Kini"
di Galeri Nasional Indonesia (GNI), Jl. Medan Merdeka Timur no. 14, Jakarta Pusat
04-02-2015
S[old] Out, Exhibition of Students Final Project
di Art:1 Jalan Rajawali Selatan Raya No. 3, Jakarta Pusat 10720, Telp. 021-64700168
04-02-2015
Pesta Puisi 3 Kota
di Ascos - Asmara Art & Coffee Shop Jl. Tirtodipuran 22, Yogyakarta 55143
31-01-2015 s/d 21-02-2015
The Box of Scopophilia
di s.14 Jl. Sosiologi 14 Komp. Perum UNPAD Cigadung-Bandung
read more »
Jum'at, 13-02-2015
Sor Mejo Nok Ulane
oleh Fadjar Sutardi
Senin, 02-02-2015
Parikan Suroboyoan, Harapanku, dan Aktivitasku
oleh Wahyu Nugroho
Selasa, 13-01-2015
Hidup Sebagai Cahaya
oleh Arahmaiani
Senin, 22-12-2014
Karya Kerja Memaksimalkan Panca Indera
oleh Oleh Palupi. S, M.A
Rabu, 03-12-2014
Upaya Menemu Kebaruan
oleh Kuss Indarto
read more »
Merajakan Nalar di Tengah Kepungan Hedonisme
oleh Christian Heru Cahyo Saputro
Buku bertajuk: Acropolis (Kerajaan Nalar) yang merupakan kumpulan kolom karya wartawan SKH Lampung Post Heri Wardoyo (HRW) hadir meramaikan pasar wacana. Buku yang berisi kolom-kolom Heri Wardoyo ini pernah dimuat di rubrik ‘Nuansa’ Lampung Post bertitimangsa tahun...
Fantasi Balzac tentang Pulau Jawa
oleh Sigit Susanto
Merajut Masa Depan Bocah Merapi
oleh T. Nugroho Angkasa S.Pd.
Novel Kasongan, Seliat Tanah Liat
oleh R. Toto Sugiharto
read more »
GUDANG GARAM INDONESIA ART AWARD 2015
Dana SAM untuk Seni dan Lingkungan
LOMBA PENULISAN JURNALISTIK
Lomba Foto “Air dan Sanitasi untuk Kehidupan yang Lebih Baik”
6th Beijing International Art Biennale 2015
Sayembara Cipta Kreasi Motif Batik Seragam Dinas Harian RSUP Dr Kariadi 2014
Lomba Desain Sepatu Tingkat Nasional 2014
LOMBA DESAIN MURAL GALERI NASIONAL INDONESIA 2014
LOMBA CIPTA SENI BATIK NUSANTARA 2014
The 4th Bangkok Triennale International: Print and Drawing
read more »
10/02/2015 23:32 | icha | saya mw jual brang py kkek msa penjajahan di ambon.... samurai bs ditekuk pjang bget... ada belati kecil beserta bendera jepang msa lampau... ada tulisan di sebuah uukuran kertas seperti kulit binatang tpi tulisan jepang... mhon bntuan nya mau jual saja butuh ug urgent
04/02/2015 09:50 | Anwar Sanusi | Artikel sangat membantu dalam membuka wawasan tentang Seni...
02/02/2015 22:26 | Redaksi Indonesia Art News | Sdr. DheaMS, Anda bisa menyimak dari deadline atau keterangan waktu lainnya, apakah lomba-lomba tersebut sudah berakhir atau masih berlaku. Silakan cek. Terima kasih.
02/02/2015 21:00 | DheaMS | apa lomba ini masih berlaku? jika masih berlakunya sampai kapan? mohon jawabannya
27/01/2015 21:32 | Desita Anggina | SemangART
read more »
About Us
Indonesia Art News merupakan media tentang dinamika seni yang berkait dengan aspek keindonesiaan. Media ini berusaha untuk mengedepankan segi informasi ihwal seni yang dikemas dengan cara pandang kritis dan muatan yang investigative. Indonesia Art News berkedudukan di Yogyakarta, Indonesia
Gabung di Facebook
Buku Tamu
Pengelola IAN
Editor in chief:Kuss Indarto
Editor:R. Toto Sugiarto
Designer:Andika Indrayana
Email - info@indonesiaartnews.or.id