Jum'at, 18 April 2014 - 01:04 WIB
“Ada Seni” di Ranah Minang
oleh Novita Yulia
PADA hari Senin, 14 April 2014, telah terjadi peristiwa kesenian di bumi ranah minang. Sebuah lembaga kesenian yang menamakan diri mereka Rumah Ada Seni (RAS), menyelenggarakan pameran seni rupa untuk mengawali pergerakan mereka di dunia seni rupa Indonesia. Lembaga yang kehadirannya masih terhitung baru ini mampu menghadirkan sebuah pameran yang sangat apik. Lahir...
Seni, Oka, dan Instrospeksi
oleh Imaculata Yosi P.
Cara Membuat dan Cara Mengapresiasi
oleh Danoeh Tyas
Bayangan Layer Pertama
oleh Kuss Indarto
Suluk Sendhon Tluthur: Cari Apa, Elka?
oleh K. Garret
  HOME     NEWS     EVENTS     ARTICLES     DIRECTORY     BOOKS     OPPORTUNITIES  
Sabtu, 19 April 2014 - 16:11
Dari Dunia Pengkoleksian Seni Rupa Indonesia
oleh Syakieb Sungkar
Seniman Djoko Pekik bersama kolektor seni rupa, Syakieb Sungkar, di kediaman "Pelukis "Satu Milyar" itu, Januari 2013 lalu. (foto: kuss indarto)
Dunia Koleksi

ORANG Indonesia pertama yang mengoleksi seni adalah Soekarno. Dia adalah orang yang tekun mengumpulkan lukisan, membelinya, menyimpan, mengkurasi dengan gayanya sendiri, mempertontonkan koleksinya kepada orang lain dan mengajak orang lain untuk ikut aktif mengoleksi juga seperti dirinya. Dengan itu Soekarno membuat suatu komunitas kecil pecinta seni rupa yang terus berkembang sampai sekarang.

Pola mengoleksi yang dilakukan Soekarno kemudian menjadi pola yang dianut sampai saat ini. Soekarno mengumpulkan lukisan dari pelukis yang hidup pada zamannya. Soekarno tidak mengoleksi karya-karya Raden Saleh, karena masa Soekarno bukan di zaman pelukis itu hidup. Pada zaman Soekarno hidup, pelukis yang ada sebagian besar adalah pelukis dari Eropa, seperti Le Mayeur de Mepres, Rudolf Bonnet, Doojeward, Roland Strasser, Romualdo Locatelli, Walter Spies, W.G. Hoffker, Antonio Blanco, Carl L. Dake, A. Sonnega, dan Wilhelmus Jean Frederic Imandt. Kita bisa melihat karya-karya pelukis "bule" itu dalam buku koleksi Soekarno yang disusun oleh Lee Man Fong [1].

Mereka adalah pelukis dengan gaya realisme dan naturalisme, sesuai dengan selera dari Soekarno yang memang berbakat melukis dengan gaya naturalis. Mayoritas dari lukisan-lukisan itu berupa figur wanita dan pemandangan alam (landskap). Mereka adalah pelukis yang datang pada akhir abad 19 karena mengagungkan romantisme Timur. Setelah melanglangbuana ke Jepang, Filipina, dan Tahiti, serta negara Asia-Pacific lainnya, mereka kemudian mendarat di Jawa. Dan betah hidup disana sampai akhir hayatnya. Disamping nama-nama diatas ada juga pelukis keturunan Belanda yang lahir di Indonesia, yaitu Ernest Dezentje yang lahir di Jatinegara dan Gerald Pieters Adolfs, lahir di Surabaya. Pelukis-pelukis itulah yang kemudian oleh Balai Lelang diistilahkan sebagai pelukis Old Master. Penyebutan istilah Old Master lebih disebabkan oleh pertimbangan komersial ketimbang "kemasteran" dari pelukis-pelukis itu sendiri.

Namun untuk ukuran senirupa Eropa, mereka bukanlah pelukis besar pada zamannya. Nama-nama mereka tidak ada dalam buku teks seni rupa Eropa dan mereka nyaris tidak dikenal [2]. Kalau karya-karya mereka kemudian menjadi mahal dalam balai lelang Indonesia maupun internasional, itu berkat pengaruh buku koleksi Soekarno tersebut [3]. Dan walaupun lukisan-lukisan Old Master tersebut dilelangkan di balai lelang internasional, namun sebagian besar pembelinya adalah konglomerat dari Indonesia juga. Sebenarnya pelukis Eropa abad 19 yang pernah mampir ke Indonesia dan diakui oleh Senirupa Dunia adalah Isaac Lazarus Israels (1865-1934), namun Soekarno tidak mengoleksinya. Isaac pernah datang ke Jawa pada tahun 1921-1922, dari sanalah dia menggambar wayang orang, pemain gamelan, penari dan kehidupan orang-orang di Jawa. Karya-karya Isaac Israels masih disimpan Kroller-Muller museum, suatu museum terkemuka di Belanda yang banyak menyimpan karya-karya Vincent van Gogh dan Piet Mondrian.

Soekarno pun nampaknya tidak mengikuti perkembangan aliran senirupa yang populer pada masa dia hidup atau saat dia mulai mengumpulkan koleksinya, misalnya aliran Jugendstil (Art Nouveau) suatu senirupa dekoratif yang populer pada tahun 1890-1910, dimana banyak diterapkan pada dekorasi interior, ornamen arsitektur, dan seni grafis [4]. Tokoh-tokohnya diantaranya Gustav Klimt (1862-1918) dan Antoni Gaudi (1852-1926). Jugendstil tidak terlihat jejaknya pada koleksi Soekarno. Bisa dikatakan bahwa selera seni Soekarno agak "delay" ke zaman "realisme lukisan alam benda abad 17" seperti lukisan vas kembang  yang dibuat oleh pelukis Ambrosius Bosschaert (1573-1631) atau lukisan buah-buahan yang sering dibuat Floris van Dyck (1575-1661) [5].

Kemudian Soekarno mulai mengumpulkan pelukis-pelukis realis Indonesia untuk membantu perjuangan kemerdekaan. Mereka adalah para pelukis Persagi (Persatuan Ahli Gambar Indonesia) yang diketuai S. Soedjojono. Persagi didirikan tahun 1938. Dan setelah kemerdekaan hubungan mereka masih berlanjut. Beberapa anggota Persagi diantaranya Agus Djaja, Otto Djaja, Suromo, Affandi dan Emiria Sunassa.

Persagi menginginkan adanya estetika baru sebagai alternatif gaya lukisan Mooi Indie yang populer ketika itu. "Peralihan gaya naturalisme-renaisanistik ke masa Persagi dengan corak impresionisme-ekspresionisme dan surealisme, sebagai corak-corak seni yang dianggap lebih dinamis, spontan dan jujur untuk mewakili hasrat melukis dari bangsa Indonesia yang sedang memperjuangkan nasib dan kemerdekaan ..... [6]

Orde Baru

Dengan kejatuhan Soekarno pada tahun 1966, dunia pengoleksian masih terus berlanjut. Namun gaya lukisan yang marak pasca Orde Lama adalah dominan pada lukisan abstrak dan dekoratif. Nampaknya Orde Baru mengendorse gaya lukisan yang meninggalkan corak realisme dimana dahulu menjadi pedoman pelukis Lekra. Kejatuhan Orde Lama berekor dengan surutnya beberapa nama pelukis Indonesia yang bernaung dibawah pengaruh Lekra yang bercorak realis, diantaranya Trubus dan Basoeki Resobowo. [7]

Pada tahun 1971, kelompok pelukis "Bandung School" yang dahulu banyak mendapat tekanan dari Lekra, berpameran di Taman Ismail Marzuki, mereka diantaranya adalah Ahmad Sadali, Mochtar Apin, But Muchtar, Srihadi Soedarsono, Rita Widagdo, Abdul Djalil Pirous, Sunaryo, Gregorius Sidharta, Umi Dachlan, Harjadi Soeadi, dan T. Sutanto. Mereka menyebut dirinya sebagai "Grup 18" [8] yang muncul dengan lukisan bergaya kubisme dan abstrak-ekspresionisme. Apakah di Indonesia ada pemikir budaya yang secara aktif mendorong gaya lukis model baru seperti yang dilakukan Clement Greenberg di Amerika untuk membendung realisme Rusia, adalah suatu hal yang menarik untuk dipelajari.

Booming

Booming lukisan yang dicatat pertama kali itu sekitar awal 70-an. Tahun itu sedang terjadi limpahan minyak, situasi ini melahirkan banyak orang kaya baru dan selanjutnya terjadi pembangunan perumahan, lengkap dengan interiornya. Lukisan dengan gaya dekoratif dan abstrak sebagai pengisi interior rumah orang berpunya, nampaknya cocok dengan semangat zaman itu. Disamping lukisan dari Bandung School, beberapa pelukis lain dari Jogja juga mulai digemari, seperti Widajat, OH. Supono, Fadjar Sidik, Abas Alibasjah dan Nasjah Djamin.

Masih ada lagi booming setelah itu yaitu di tahun 1999-2000, dimana motif investasi dan keuntungan finansial lebih mendasari munculnya booming kali ini. Krisis moneter saat itu membuat sebagian orang melarikan dananya ke lukisan, karena bidang ini menjanjikan margin yang lebih besar.

Kemudian tahun 2007 menjadi tahun kejayaan seni rupa kontemporer Indonesia, setelah di bulan April 2007 Balai Lelang Shotebys bisa menjual lukisan Putu Sutawijaya sebesar 70,000 US$. Angka yang fantastis ketika itu. Dan keberhasilan ini menarik karya seniman-seniman lain seperti Agus Suwage, Handiwirman, Galam Zulkifli, Dipo Andy, Ugo Untoro, Jumaldi Alfi dan Budi Kustarto sehingga harga lukisannya menjadi terangkat naik dalam kisaran Rp 300 - 700 juta,-.

Booming lukisan tahun 2007 membawa perubahan dalam sejarah lukisan kontemporer Indonesia. Harga lukisan yang pada tahun 2004-2005 masih dalam kisaran Rp 10-30 juta,- bergeser harganya ke orde ratusan juta sampai tembus satu milyar rupiah. Mengoleksi kemudian tidak lagi menjadi hobi yang terjangkau dalam kantong kelas menengah Indonesia.

Booming tersebut juga membuat bergairahnya dunia senirupa Indonesia, terutama marketnya. Ada 7 Balai Lelang yang aktif di Indonesia pada saat itu, yaitu Masterpiece, Borobudur, Cempaka, Larasati, Sidharta, Maestro dan 33 Auction. Khusus untuk Masterpiece, balai lelang tersebut memecah lelangnya menjadi tiga edisi : Treasure untuk lukisan affordable, Heritage untuk lukisan kontemporer dan Masterpiece sendiri untuk lukisan para maestro. Sementara ada tiga majalah seni rupa yang pernah berjaya, yaitu Visual Art, Contemporary Art dan Arti. Demikian pula pertumbuhan Galeri baru juga marak di kota Jakarta, Bandung, Semarang, Jogja, Magelang, Surabaya, Malang dan Bali. Galeri juga berdiri di Plaza Indonesia dan Grand Indonesia. Di Grand Indonesia ada section khusus yang disebut Art District, berisi 10 Galeri aktif.

Dari segi skills melukis, pelukis-pelukis baru mempunyai pencapaian artistik yang lebih baik dari pelukis hiperrealis generasi sebelumnya seperti Dede Eri Supria dan Ivan Sagito. Demikian pula dari segi idea, banyak hal segar yang ditampilkan, dari yang serius sampai dengan gagasan yang bermain-main. Booming 2007 juga membuat pelukis-pelukis senior turun gelanggang dengan kualitas karya yang lebih baik, seperti Ronald Manullang, Chusin Setiadikara dan FX Harsono. Demikian pula, karya-karya dengan media alternatif seperti Yudi Sulistiyo dengan media karton, Wimo Ambalang dan Jim Abel (fotografi), Tromarama dan Prilla Tania (video), serta karya-karya instalasi mulai digemari dan dibeli.

Seni kontemporer surut?

Namun booming tersebut tidak berlaku lama. Semangat memproduksi para seniman yang "kaget" dengan harga lukisan yang naik fantastis, membuat mereka berkarya layaknya pabrik - lebih mengedepankan kuantitas ketimbang kualitas. Sehingga terkesan karya-karya yang dihasilkan merupakan pengulangan dan membosankan. Kolektor pun mulai jenuh dan harga-harga lukisan yang sudah selangit itu sehingga kemudian harga lukisan kontemporer jatuh dan unsold.

Seni kontemporer Indonesia yang sebelumnya dipercaya menjadi elemen investasi yang akan naik harganya, kemudian ditinggalkan. Para kolektor beralih ke lukisan-lukisan Old Master kembali yang harganya sempat jatuh pada tahun 2007 namun sekarang kembali naik dan nampaknya sustainable. Lagi-lagi kitab koleksi Soekarno menjadi pegangan.

Sering orang membandingkan saat ini dengan booming lukisan tahun 2007. Sehingga kita selalu menunjukkan suatu nostalgia, suatu harapan akan keriuhan seni rupa yang akan datang kembali. Padahal tahun 2007 itu suatu tahun anomali. Kalau kita terus begitu maka kita tidak akan sanggup melihat kedepan. Bagi saya, seorang kolektor, saya lebih suka dengan situasi sekarang ini. Karena kita bisa tenteram memilih karya seni rupa secara seksama, sedangkan seniman juga mendapatkan suasana yang tenang untuk berkontemplasi tanpa dikejar-kejar target oleh Galeri.

Apakah dengan suasana tenang ini maka market seni rupa akan runtuh? Saya kira tidak begitu. Saya mempunyai kenalan seorang seniman kontemporer yang sudah senior di Bali, dimana harga lukisannya sangat mahal, sekitar Rp 350 juta per lembar. Kalau saya sedang ada tugas di Bali, saya suka mampir, mengobrol di sela-sela waktu dia melukis. Kemudian 2 sampai 3 bulan lagi, saat saya berkunjung ke sekian kalinya, dia sudah melukis kanvas yang baru. Sementara karyanya yang tempo hari saya lihat masih dikerjakan, ternyata kemudian telah selesai dan laku terjual dengan harga semahal itu. Bagaimana fenomena ini bisa diterangkan dalam kondisi market yang katanya sedang lesu?

Tahun lalu saya diajak ke Semarang mengunjungi seorang pelukis kontemporer senior juga. Dia sedang asyik mengepak karyanya yang sudah selesai ke pemesan dengan harga Rp 250 juta rupiah per lembar. Dan pesanan lukisan untuk tahun ini sudah oversubscribed. Luar biasa!

Demikian pula pameran-pameran seni kontemporer beberapa pelukis junior, juga mengalami panen permintaan. Di bulan September 2013 saya diminta membuka suatu pameran lukisan seorang pelukis muda dari Bandung yang lukisannya sudah habis terjual sebelum saya buka.

Juga untuk karya-karya multimedia seperti karya video misalnya, karya Video beberapa seniman Bandung selalu habis terjual saat pameran berlangsung. Gejala yang aneh kalau dihubungkan dengan market senirupa yang katanya sepi.

Tempo hari saya bertemu dengan seorang pemilik galeri di daerah Kemang. Dia baru selesai memamerkan karya seni seorang asing dari Eropa, yang gayanya mirip-mirip gabungan antara Le Mayeur dan Arie Smith. Sekitar 40 karya yang dipamerkan, hampir semuanya disapu bersih oleh kolektor yang datang saat pameran berlangsung. Bukankah jenis karya yang saya gambarkan tadi "tidak kontemporer"?

Beberapa pembelajaran

Dari pengalaman diatas, hikmah apa yang bisa kita tarik untuk bahan pembelajaran tentang market seni rupa? Saya bisa tuliskan beberapa hal dibawah ini, suatu kesimpulan dari seorang kolektor yang masih awam pengetahuannya:
  1. Rupanya yang disebut market lesu itu adalah menunjuk pada situasi transaksi karya seni rupa kontemporer di Balai Lelang. Namun kontradiksinya adalah harga karya old master yang senimannya sebagian besar sudah meninggal dunia, tetap naik melambung harganya.
  2. Memang secara umum transaksi karya kontemporer di Galeri tidak sekerap 6 tahun yang lalu. Namun dunia seni rupa kita tetap saja memunculkan kejutan-kejutan baru. Ada seniman muda yang baru muncul, dimana karyanya dinilai unik dan membawa nafas baru, akhirnya disukai dan mendatangkan sukses penjualan.
  3. Untuk artis senior yang tetap punya market, itu dikarenakan dia terus menjaga mutunya dan selalu mengeksplorasi hal-hal baru (tema, teknik dan media) sehingga karyanya tidak membosankan.
  4. Kolektor pun ternyata bisa terbelah atas dua bagian besar. Ada yang membeli suatu karya seni karena pertimbangan investasi sehingga menyukai karya-karya old master, mengingat harganya terjanjikan naik terus. Namun dibalik itu beresiko diintai oleh produsen lukisan palsu.
  5. Sementara kolektor jenis kedua adalah pencinta seni yang tidak peduli nilai investasi atas karya kontemporer yang dibelinya, akan naik atau turun. Karena baginya yang penting adalah nilai kepuasan atas karya yang dikoleksinya. Kolektor jenis inilah yang akan mengkontribusi kemajuan seni rupa kita ke depan.
  6. Mungkin sekat-sekat kontemporer dan bukan kontemporer harus kita hapuskan mulai sekarang, mengingat membatasi diri pada kotak seni kontemporer akan membatasi apresiasi dan juga mempersempit market.
Sementara uraian saya diatas terasa simplistis - rasanya urusan market seni rupa sudah selesai dengan cerita beberapa seniman yang tanpa problema dalam memasarkan karya-karyanya. Memang kita sebetulnya tidak perlu khawatir dengan market karena karya yang baik itu pada akhirnya akan disukai dan dibeli orang dengan harga yang baik pula.

Para Kolektor

Saat ini kita mempunyai kira-kira 1000 kolektor, dan cuma 300 orang kolektor saja yang masih aktif membeli. Memang suatu jumlah yang tidak imbang dibandingkan dengan jumlah seniman yang terus bermunculan dan karyanya yang terus diciptakan secara produktif. Sementara laju pertambahan kolektor tidak secepat itu. Kalau diperhatikan ada beberapa jenis kolektor di Indonesia, seperti uraian dibawah ini,

1. Kolektor traditionalis-safety player

Ciri-cirinya:
  • berumur lanjut (60-70), established
  • mempunyai uang yang lebih dari cukup karena didukung oleh usaha pribadi yang sudah berjalan lancar
  • membeli karya-karya yang aman agar karya yang dibelinya tidak mengalami kejatuhan harga, namun sebaliknya karya tersebut terus naik harganya
  • karya-karya yang dibeli biasanya karya old master dengan gaya impressionist, kubis atau abstrak ekspresionist
  • dengan itu dapat dijelaskan kenapa mereka suka membeli karya-karya Affandi, Hendra, Sudjojono, Arie Smith, Srihadi dan Sadali.
2. Kolektor mature educated-exploratif

Ciri-cirinya:
  • usia matang (50-60), orang sukses
  • mempunyai uang yang cukup karena bekerja atau memimpin perusahaan berskala global
  • berpendidikan sarjana atau pernah di luar negeri, suka membaca buku-buku seni, dan keluar masuk galeri atau Art museum di manca negara
  • membeli karya-karya yang mempunyai bobot dan memahami track record kesejarahan perupa
  • karya-karya yang dibeli biasanya perupa Contemporary Art yang sudah senior dan juga karya-karya Modern Art generasi Bandung school
  • dengan itu dapat diterangkan mengapa mereka bisa mengoleksi Sutjipto Adi, Ivan Sagito, Dede Erie Supria, Mochtar Apin, But Mochtar, Soedibio, Emilia Sunasa, AD Pirous, Jeihan, Rita Widagdo, Sunaryo dan Umi Dachlan.
3. Kolektor young profesional-urban
 
Ciri-cirinya:
  • dewasa (40-50), profesional, middle manager, wirausaha
  • mempunyai apresiasi seni yang baik terhadap semangat urban
  • mempunyai komunitas kolektor yang sejalan, sering berdiskusi dan menghadiri Art Fair
  • karya-karya yang dibelinya biasanya beraliran post-modernisme, menolak karya-karya lama (old master, modern art)
  • sehingga karya yang dibeli seperti misalnya Agus Suwage, Christine Ay Tjoe, Eko Nugroho, Arin Dwihartanto, Rudi Mantofani, Handiwirman, Yunizar dan Masriadi.
4. New entrance Contemporary Art Collectors

Ciri-cirinya:
  • muda usia (30-40), baru mulai bekerja atau berusaha, uang sudah stabil masuk, namun paralel masih ingin membuat pencapaian baru dalam kebutuhan material
  • mempunyai apresiasi yang berani dalam mengoleksi, memutus hubungan antara koleksi seni dengan investasi
  • berteman baik dengan senimannya dan selalu update atas karya-karya terbaru seniman tersebut
  • merekalah yang berani mengoleksi karya-karya Video (Tromarama, Titin Wulia, Yusuf Ismail, Mes56), hiper-realist painting (Cecep M. Taufik, Mariam Sofrina, Pramuhendra, Cinanti Johansyah), Street Art dan karya-karya instalasi.
5. New Entrance Tradisionalist

Ciri-cirinya:
  • range usia variatif (25-45), bekerja dalam beragam usaha
  • menyukai karya seni sebagai elemen dekorasi
  • masih belum terpolarisasi dengan lukisan branded, lebih fokus pada karya-karya eye-catching, yang manis, serta tertarik pada affordable paintings
Kalau kita membuat sebuah kurva X-Y dan menarik sumbu vertikal yang menggambarkan Aesthetics Value serta sumbu horisontal untuk merepresentasikan Investment Value. Dan kemudian meletakkan 5 jenis kolektor tersebut dalam wilayah diantara sumbu tadi, maka jelas bahwa lukisan-lukisan yang dikoleksi kaum "traditionalis-safety player" dan "mature educated-exploratif" akan berdiri kearah sumbu horisontal paling kanan dengan posisi vertikal terendah. Sementara 3 jenis pengoleksian sisanya akan berdiri pada sumbu vertikal tertinggi dengan mengambil posisi sumbu horisontal dominan ke kiri.

Itu artinya lukisan-lukisan mahal belum tentu mencerminkan nilai kesenian yang tinggi, hanya brand value-nya saja yang mentereng. Perupa-perupa ternama itu karyanya belum tentu bagus, namun kemahalan karyanya sudah pasti.

Pengalaman mengoleksi

Saya mengoleksi karena senang membaca buku-buku seni rupa. Setelah banyak membaca akhirnya saya tertarik dengan seni lukis Bali. Menurut saya lukisan Bali itu unik, tidak ada duanya di dunia. Saya mulai mengumpulkan lukisan Bali sejak tahun 1995, karena waktu itu saya suka mondar-mandir ke Bali dalam rangka pekerjaan kantor. Di tahun-tahun itu saya sudah mulai punya cukup uang untuk membeli lukisan, setelah 7 tahun bekerja. Saya suka mampir ke Ubud, mengunjungi museum-museum senirupa disana dan juga galerinya. Saya juga mengunjungi studio artis-artis Bali seperti Wiranata, Budiana dan Nyoman Kayun. Sampai sekarang saya masih menyimpan lukisan Bali, seperti karya-karya Soki, Bendi, Budiana, Kayun, Tubuh, Wiranata, Mokoh, Sadia, Ketig, and Jiwa, dan juga karya-karya dari artist yang sudah meninggal dunia seperti Tomblos, Nadera, Sobrat, Lempad, Deblog, Poleng, Kobot, dan Mangku Mura.

Fokus lukisan saya juga berubah-ubah. Kalau saya merenungi lagi kenapa demikian, ternyata itu pengaruh dari almarhum ayah saya. Ayah saya itu selalu menekankan bahwa melukis itu tidak boleh kaku. Ayah suka membahas soal keluwesan para pelukis menggambar tangan, diantaranya. Ayah saya itu pandai menggambar, jadi dia cukup cerewet kalau melihat suatu lukisan jelek. Juga dalam lukisan landskap, ayah saya sangat apik dalam menilai, misalnya sawah kurang hidup, sungainya dibuat-buat. Pada prinsipnya ayah saya suka sama lukisan mooi indie dan gaya realis. Seleranya mirip Soekarno juga. Favorit ayah saya adalah lukisan-lukisan Dullah dan Basoeki Abdullah. Saya pernah diberikan ayah sebuah kalender dinding yang gambar tiap bulannya adalah reproduksi pelukis-pelukis terkenal. Ke-dua belas pelukis itu menggambar penari wanita. Ada lukisan Sudjojono, Trubus, Affandi, Dullah, dan sebagainya. Kalender itu sempat saya simpan bertahun-tahun, sayang sekarang sudah hilang.

Tahun 1975 ayah memberi saya satu copy majalah Time magazine, isinya soal lukisan Picasso dan Salvador Dali yang harganya sedang meledak saat itu. Menurut ayah saya selain pelukisnya sudah gila, pembelinya gila juga karena mau-maunya membeli lukisan seperti itu dengan harga mahal. Lucunya saya sendiri cukup terkesan dan excited dengan gaya melukis seperti itu. Dan saya suka meniru-nirunya dalam bentuk sketsa, sampai sekarang, terutama kalau sedang bosan mendengarkan orang bicara dalam rapat.

Kuliah di Bandung juga membawa pengaruh dalam menentukan selera mengoleksi. Karena dari kampus ITB saya mengenal karya-karya pelukis kubis, diantaranya Sadali, Mochtar Apin dan Pirous - memori tentang lukisan kubisme dan surealisme dari majalah Time tahun 1975 itu bangkit kembali. Galeri Sumardja juga punya andil dalam mengenalkan saya pada Contemporary Art, termasuk karya-karya Semsar Siahaan, Satyagraha, dan kemudian Tisna Sanjaya, Acep Zamzam Noor, serta Agus Suwage.

Jadi demikianlah ceritanya mengapa saya mula-mula mengoleksi lukisan Bali, kemudian berpindah ke karya-karya Bandung School, selanjutnya menyukai Contemporary Art dan akhirnya mengoleksi karya-karya Old Master dan Mooi Indie juga. Tahun 2006-2008 adalah tahun yang membawa keuntungan finansial dari kegemaran mengoleksi. Karya-karya kontemporer yang saya kumpulkan ternyata bisa dijual dan mendatangkan margin yang cukup besar. Sehingga sebagian saya tukarkan di Balai Lelang dengan karya-karya Old Master seperti Affandi dan Hendra Gunawan.

Koleksi sebagai instrumen investasi

Lukisan bisa dijadikan instrumen investasi dengan beberapa syarat:
  1. lukisan yang dipilih benar2 lukisan yang baik
  2. investasi dalam? bidang art adalah investasi jangka panjang, minimal 5 tahun
Biasanya lukisan yang baik untuk investasi itu menyangkut beberapa hal:
  1. secara artistik lukisan itu memang bagus
  2. ukuran harus cukup besar
  3. media kanvas lebih disukai
  4. pelukisnya sudah punya nama (brand)
  5. temanya menarik dan baik (bercerita, sopan, konservatif)
  6. beberapa unsur tambahan seperti warna, arti, pernah diterbitkan di suatu buku, dll akan membantu peningkatan daya tarik
  7. harganya teruji di primary market (membeli dari galeri) dan secondary market (membeli dari lelang atau private sale)
  8. lukisan asli (original, genuine)
Alasan lukisan menarik sebagai investasi adalah apabila kita memilih lukisan yang baik seperti gambaran di atas, maka nilai jualnya melebihi value apabila uang tersebut disimpan di bank.

Lukisan old master yang karya lukisannya masih bernilai tinggi, ada beberapa yang populer, seperti Hendra Gunawan, Sudjojono, Lee Man Fong, Affandi, Basoeki Abdullah, Dullah dan Ahmad Sadali. Untuk 4 pelukis pertama harganya sudah diatas Rp 1 M,- sedang 3 berikutnya masih bisa kita dapatkan dengan harga dibawah Rp 1 M,-

Selain karya-karya old master, beberapa pelukis muda yang karyanya layak untuk dijadikan barang investasi, ada beberapa, misalnya Christine Ay Tjoe, Agus Suwage, Masriadi, Handiwirman dan Rudi Mantovani.

Namun bila ada investor yang ingin berinvestasi dalam lukisan, hal terpenting yang pertama kali harus diingat adalah seorang Investor lukisan harus mencintai lukisan, jadi harus ada passion dahulu disitu. Pengalaman, pergaulan, melihat pameran dan banyak membaca, akan mengasah kemampuan dan kejelian kita melihat lukisan yang baik.

Perlu diketahui bahwa investasi pada lukisan, sulit untuk dibilang liquid, karena dalam menjual membutuhkan proses. Mirip kalau kita ingin menjual property, butuh waktu. Jadi yang harus dilakukan investor pertama kali ketika hendak berinvestasi di lukisan adalah harus banyak melihat, bertanya, datang ke pameran dan balai lelang, agar tahu situasinya. Tidak bisa langsung membeli, perlu waktu sekitar 2 tahun agar bisa tune-in dengan environment-nya.

Seberapa besar keuntungan para kolektor lukisan bisa dilihat dengan terus meningkatnya harga lukisan di balai lelang. Kita bisa study dari situs art link atau situs-situs art market lainnya di dunia maya. Disana ada data kapan suatu lukisan dilelang dan berapa harganya, dan berapa harga sekarang untuk lukisan yang sama atau sejenis.

Pemalsuan lukisan

Masalah utama dari pasar seni rupa di Indonesia adalah tidak adanya kelembagaan yang berwibawa, misalnya bagaimana menentukan suatu lukisan itu asli atau palsu, tidak jelas siapa yang berwenang. Buku-buku tentang senirupa Indonesia masih terbatas jumlahnya. Begitu banyaknya kolektor seni memburu lukisan tua, sehingga memicu maraknya peredaran lukisan palsu. Itu terjadi karena kolektor tidak punya dasar yang cukup pada saat membeli lukisan. Kadang-kadang karena terpengaruh oleh kebesaran brand pelukisnya, akhirnya terburu-buru membeli tanpa pengecekan secara seksama. Saat ini ada banyak forger (pemalsu) di Indonesia, saya kenal beberapa di antaranya. Forger itu seperti tukang. Dia membuat karena disuruh. Yang untung besar sebenarnya para dealer atau bandarnya. Hukum di Indonesia juga belum kuat untuk memproteksi pemalsuan. Masih merupakan pekerjaan rumah bagi dunia senirupa Indonesia.

Penutup - peran kurator

Apakah kurator mempunyai peran dalam perkembangan seni rupa Indonesia? Karena sepanjang pembahasan dalam makalah ini, nampaknya peran market dan kolektor yang nota bene "kurang mengerti" soal sejarah seni dan ilmu apresiasi jauh lebih kuat ketimbang para kurator yang akademisi itu. Sebagai contoh OHD mengkurasi sendiri koleksi penemuannya dan membuat sebuah buku [9] yang menjustifikasi keaslian dan estetika dari karya-karya koleksinya. Pada akhirnya buku tersebut membuat cukup kehebohan, namun sedikit sekali komentar dari para kurator, akademisi dan para kritikus seni rupa mengenai kebenaran dari buku tersebut.

Mengapa bisa demikian? Rupanya para kurator, akademikus dan kritikus seni rupa sudah terbiasa memuji-muji suatu karya dalam pameran, sehingga agak tabu untuk "mengevaluasi" isi suatu pameran. Itu bisa kita lihat dalam uraian di koran, majalah maupun katalog pameran. Menurut hemat penulis, kritikus teater, musik dan film jauh lebih maju dan berani dalam menilai suatu karya, ketimbang para kurator dan kritikus seni rupa. Sering kali kurator tidak membahas karya-karya dalam pameran, namun lebih asyik dalam berteori untuk mengantarkan tema pameran itu sendiri. Akibatnya publik seni rupa menjadi tidak terdidik.

Hal yang sama terjadi pada balai lelang. Mereka tidak mempunyai kurator. Sehingga karya-karya yang dilelangkan tidak mempunyai standard mutu dan estetika. Dalam situasi seperti ini wajar sekali jika banyak lukisan palsu "terselip" dalam lot yang ditawarkan. Bagi Balai Lelang, ukuran mutu tidaklah penting, namun trend, musim, sentimen pasar dan selera sesaat, jauh lebih didengar ketimbang apresiasi seni dari karya-karya yang akan dilelangkan. Dan pada akhirnya pasarlah yang menang.

Demikian sekelumit kenyataan dari dunia seni rupa Indonesia, semoga bisa menjadi tambahan informasi bagi para pencintanya. ***

Catatan Akhir:

[1] Lee Man Fong, "Lukisan2 dan Patung2 koleksi Presiden Sukarno dari Republik Indonesia" jilid 1-4, Panitia Penerbit Lukisan-Lukisan dan Patung-Patung Kolleksi Presiden Sukarno, PT. Pertjetakan Toppan, Tokio, Djepang, 1964.

[2] Wawancara dengan Mella Jarsma, seorang perupa, pemilik galeri Cemeti tanggal 27 Maret 2014.

[3] Memang cukup aneh juga harga-harga lukisan old master saat ini, sebagai ilustrasi, di tahun 2012, sebuah lukisan karya Lee Man Fong yang berukuran 160 cm dengan tema Bali Life bisa terjual di Balai Lelang Sothebys dengan harga Rp 40 Milyar,-

[4] Herbert Read, "A Concise History of Modern Painting", Thames and Hudson, New York, 1991, h. 21

[5] R.H. Fuchs, "Dutch Painting", Thames and Hudson Ltd, London, 1989, h. 111

[6] Kusnadi, "Arti Luas Kepribadian Seni Lukis Modern Indonesia", dalam Joseph Fischer, "Modern Indonesian Art, Three Generations of Tradition and Change 1945-1990", Panitia Pameran KIAS (1990-1991) and Festival of Indonesia, Singapore, 1990, h. 199

[7] Agus Dermawan T, "Seni Lukis Kontemporer Indonesia", dalam "Perjalanan Seni Rupa Indonesia dari Zaman Prasejarah Hingga Masa Kini", Panitia Pameran KIAS 1990-1991, penerbit Seni Budaya, Bandung, h. 123.

[8] Katalog pameran Grup 18, dengan pengantar Umar Kayam sebagai Ketua DKJ, 18-27 Agustus 1971, percetakan Harapan offset, Bandung

[9] Dr. Oei Hong Djien, "Lima Maestro Seni Rupa Modern Indonesia", penerbit OHD Museum, Magelang, 2012

Tebet, 2 April 2014
*) Kolektor seni rupa, tinggal di Jakarta.
Leave a Comment
Please feel free to let us know your feeling about this
Your Name
Your Comment
Your Email
Image Verification
Captcha Image Reload Image
Utk ganti paragraf silakan klik
Comments:
Minggu, 20 April 2014 - 09:46
rohman - newomen78@gmail.com
ulasannya menarik, buat saya ini perkuliahan yang padat pengetahuan. saya sangat terbantu dalam membuka jendela informasi seputar seni rupa dan romantismenya. Penulis layak dapat pahala atas tulisannya... salam rohman, pelukis pemula jakarta
Minggu, 20 April 2014 - 09:42
edi bonetski - edibonetski@yahoo.com
Segart,,!!
28-04-2014 s/d 03-05-2014
"Okomama: Bianglala Rupa Flobamorata", Pameran Keliling Koleksi Pilihan Galeri Nasional Indonesia dan karya seniman NTT
di Taman Budaya Nusa Tenggara Timur, Kupang
26-04-2014
Jagongan Wagen Edisi April 2014: NGGARAP(i) Kenyataan
di Padepokan Seni Bagong Kussudiardja. Dusun Kembaran RT 04/ RW 05 Bantul, DI Yogyakarta
23-04-2014
Useful Thinking: on Evaluating Community Arts for Social Change
di Indonesia Visual Arts Archive (IVAA) Jalan Ireda, Gang Hiperkes MG I/ 188 A-B Kampung Dipowinatan, Keparakan Yogyakarta 55152, Indonesia Tel./Fax: +62 274 375 262
23-04-2014
Pentas Wayang Manuk
di Balai Soedjatmoko, Jl. Slamet Riyadi, Solo.
22-04-2014 s/d 27-04-2014
Pameran Seni Rupa "PRASANGKA MEMBAWA NIKMAT"
di JOGJA GALLERY, Jl. Pekapalan, Alun-alun Utara no.7 Yogyakarta, Indonesia
21-04-2014 s/d 30-04-2014
Pembukaan pameran karya seni untuk novel "NAWUNG: Putri Malu dari Jawa"
di Tirana Artspace. Jl Suryodiningratan 53-55 Yogyakarta
20-04-2014
Diskusi "DISCOURSE OF THE PAST"
di The READING ROOM, Jl Kemang Timur 57 Jaksel
19-04-2014
KONSER MUSIC BATAK " Di Jou Au Mulak"
di Pusat Kebudayaan Koesnadi Hardja Soemantri (Purna Budaya) UGM
15-04-2014
Simposium INISIATIF WARGA DALAM SENI DAN SAINS
di Auditorium Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada Jl. Flora, Bulaksumur, Yogyakarta
15-04-2014
Pembukaan NALARROEPA Ruang Seni dan Pameran Seni Rupa MJK club
di Karangjati RT.05, RW. XI. Tamantirto, Kasihan, Bantul, Yogyakarta
read more »
Sabtu, 19-04-2014
Dari Dunia Pengkoleksian Seni Rupa Indonesia
oleh Syakieb Sungkar
Minggu, 13-04-2014
Upacara Tradisional, Kohesi Sosial, dan Bangunan Kebangsaan
oleh Ayu Sutarto
Selasa, 01-04-2014
Membela dengan Sastra (Sebuah Pidato Kebudayaan)
oleh Ahmad Tohari
Rabu, 26-03-2014
Warisan Demokrasi Gorontalo
oleh Hasanuddin
Selasa, 18-03-2014
Demokrasi Berbudaya Minahasa
oleh Jultje Rattu
read more »
Merajakan Nalar di Tengah Kepungan Hedonisme
oleh Christian Heru Cahyo Saputro
Buku bertajuk: Acropolis (Kerajaan Nalar) yang merupakan kumpulan kolom karya wartawan SKH Lampung Post Heri Wardoyo (HRW) hadir meramaikan pasar wacana. Buku yang berisi kolom-kolom Heri Wardoyo ini pernah dimuat di rubrik ‘Nuansa’ Lampung Post bertitimangsa tahun...
Fantasi Balzac tentang Pulau Jawa
oleh Sigit Susanto
Merajut Masa Depan Bocah Merapi
oleh T. Nugroho Angkasa S.Pd.
Novel Kasongan, Seliat Tanah Liat
oleh R. Toto Sugiharto
read more »
Lomba Foto “Air dan Sanitasi untuk Kehidupan yang Lebih Baik”
6th Beijing International Art Biennale 2015
Sayembara Cipta Kreasi Motif Batik Seragam Dinas Harian RSUP Dr Kariadi 2014
Lomba Desain Sepatu Tingkat Nasional 2014
LOMBA DESAIN MURAL GALERI NASIONAL INDONESIA 2014
LOMBA CIPTA SENI BATIK NUSANTARA 2014
The 4th Bangkok Triennale International: Print and Drawing
Iver Jåks Artist-In-Residency Program 2014
UNDANGAN Pameran Seni Rupa Karya Guru Seni Budaya “GURU SENI BERLARI” - GALERI NASIONAL INDONESIA
Grants for Media Art 2014 of the Foundation of Lower Saxony at the Edith-Russ-Haus, Germany
read more »
20/04/2014 09:31 | Syakieb Sungkar | terima kasih
20/04/2014 09:27 | Syakieb Sungkar |
07/04/2014 00:46 | abdul aziz | mohon bantuan untuk penerbitan buku topeng blantek
03/04/2014 21:13 | Aprimas | Selamat dan Sukses untuk "Guru" Seni Rupa di seluruh Indonesia, Smoga kedepan semakin kreatif, produktif dan inovatif, sehingga dapat sebagai acuan dan pacuan kreativitas bagi generasi masa epan,...Salam
15/03/2014 18:09 | Lilik Indrawati | Ok. I will tray... matur nuwun Pak Kuss.
read more »
About Us
Indonesia Art News merupakan media tentang dinamika seni yang berkait dengan aspek keindonesiaan. Media ini berusaha untuk mengedepankan segi informasi ihwal seni yang dikemas dengan cara pandang kritis dan muatan yang investigative. Indonesia Art News berkedudukan di Yogyakarta, Indonesia
Gabung di Facebook
Buku Tamu
Pengelola IAN
Editor in chief:Kuss Indarto
Editor:R. Toto Sugiarto
Designer:Andika Indrayana
Email - info@indonesiaartnews.or.id