Kamis, 20 Agustus 2015 - 19:37 WIB
Perupa Bandung Kuasai Final BaCAA #04
oleh Tim Indonesia Art News
SEBANYAK 15 karya seni rupa dari 15 perupa dan komunitas seni rupa terpilih menjadi finalis Bandung Contemporary Art Awards (BACAA #04) 2015. Pengerucutan karya dan nama perupa itu, tak pelak, juga memunculkan tiga nama kota yang selama ini diasumsikan sebagai situs kekuatan perkembangan seni rupa di Indonesia, yakni Bandung, Yogyakarta, dan Jakarta. Kawasan Bali yang...
Indikator Suhu
oleh Kuss Indarto
Kenangan Chandra Johan
oleh Syakieb Sungkar
Kuburan dan Sampah M. Yatim Membawa Sial
oleh Tim Indonesia Art News
Rekayasa Media
oleh Agni Saraswati
  HOME     NEWS     EVENTS     ARTICLES     DIRECTORY     BOOKS     OPPORTUNITIES  
Minggu, 09 Agustus 2015 - 22:29
Berkubu dengan Buku
oleh Kuss Indarto
Dalam keluarga, perlu membangun atmosfir untuk mencintai buku. (foto: kuss indarto)
SAYA terkejut ketika suatu sore mendapati anak perempuan saya—yang masih duduk di kelas 2 SD—tengah duduk di tempat tidur sembari takzim menyimak sebuah buku di hadapannya: Kumpulan Cerita Pendek karya Dostoyevky. Buku itu tentu hasil terjemahan, dan dipinjamnya dari perpustakaan sekolahan. Saya berusaha menyembunyikan keterkejutan dengan mencium kening anak saya, lalu meninggalkannya sendiri—agar dia khusyuk menuntaskan bacaannya.

Keterkejutan saya, karena, pertama, pada usia yang belum genap 8 tahun, anak pertama saya itu sudah mulai fasih dan doyan membaca—kukira jauh lebih fasih ketimbang saya ketika masuk dalam usia yang sama puluhan tahun lalu. Generasi muda bangsa ini, tampaknya, berkembang kecerdasannya. Kedua, kebutuhan untuk membaca pada generasi sekarang—setidaknya anak saya—relatif bisa terakomodasi oleh banyaknya kehadiran buku fisik, termasuk di sekolahan anak saya yang letaknya relatif berada di desa—kawasan Sedayu, Sleman, Yogyakarta, sekitar 13 kilometer dari Keraton Ngayogyakarta. Belum lagi buku non-fisik (e-book) yang juga membanjir sekarang ini. Ketiga, berdampingan dengan poin kedua, di tengah melimpahnya sumber informasi yang datang bagai air bah—terutama dari internet—generasi muda sekarang ini dihadapkan pada kemungkinan terserapnya informasi tanpa sistem penyaringan atau filtrasi yang memadai. Pada titik inilah peran orang tua menjadi penting dalam sistem dan mekanisme filtrasi tersebut.

***

Potret peristiwa yang terjadi pada diri anak saya mungkin juga dialami oleh sekian banyak orang tua di tanah air Nusantara ini sekarang. Dunia imajinasi anak-anak relatif telah berkembang dengan cepat selaras dengan perkembangan dunia ilmu pengetahuan dan teknologi. Dan tidak sedikit orang tua yang justru terkaget-kaget dengan progresivitas tersebut karena standar fasilitas yang tersedia saat ini ternyata banyak memicu dunia imajinasi anak. Tentu saja kita tak bisa dengan serta-merta membuat perbandingan yang terlalu rigid dan rinci antara masa lalu dan masa sekarang karena sudah barang pasti standar dan semangat zamannya banyak berubah. Dunia permainan tradisional yang dianggap sangat inspiratif bagi jagat imajinasi anak-anak pada masanya (atau yang telah menjadi orang tua sekarang), tentu tak bisa diperbandingkan dengan dunia game yang digilai karena juga inspiratif bagi perikehidupan anak-anak sekarang.

Dalam konteks dunia perbukuan, progresivitas di dalamnya (termasuk dalam kualitas dan kuantitas) tak terbayangkan pada kurun waktu-waktu sebelumnya. Saya bisa mengambil contoh pengalaman yang terjadi di Yogyakarta. Ketika masa kuliah pada awal-awal dasawarsa 1990-an lalu, pameran buku hanya terjadi setahun sekali, yakni sekitar bulan Oktober—bertepatan dengan Hari Buku Nasional atau Bulan Bahasa Nasional. Perhelatan itu berlangsung di gedung Mandala Wanitatama di Jalan Adisucipto, yang biasanya berlangsung selama sepekan. Kemudian, setelah rejim Orde Baru turun tahun 1998, situasi geopolitik banyak berubah, dan berimbas hingga ke dunia perbukuan. Salah satunya, dari aspek positif, seringnya berlangsung perhelatan pameran buku di kawasan Yogyakarta. Seingat saya, dalam tahun-tahun pertama setelah era reformasi, pameran buku di gedung Mandala Wanitatama bisa berlangsung hingga 3-4 kali dalam setahun, dan dengan kualitas dan kuantitas yang relatif sama—entah dengan label “pesta buku”, “gebyar buku”, “festival buku”, atau apapun namanya. Tahun-tahun setelah itu, kuantitas pameran buku berlangsung jauh lebih sering, karena perhelatan serupa tidak hanya berlangsung di satu venue, yakni gedung Mandala Wanitatama, namun juga di gedung atau tempat yang lain. Misalnya di kampus UGM, di GOR UNY, gedung Pamungkas yang merupakan gedung milik militer, dan lainnya.

Dari sisi kuantitas buku, kini pun telah jauh melampaui angka-angka yang tak terbayangkan sebelumnya. Beberapa sumber pernah merilis bahwa jumlah judul buku yang terbit pada tahun-tahun sebelum pemerintahan Soeharto jatuh paling banyak berkisar antara 2.000 hingga 3.000 judul buku pertahun. Kalau benar angka itu, maka lompatan jauh terjadi pada era reformasi dan tahun-tahun berikutnya. Setidaknya ini bisa dilacak dan diperbandingkan dengan data yang diperoleh dari Gramedia, selusinan tahun setelah titik awal era reformasi. Raksasa penerbit Indonesia itu mencatat bahwa di Indonesia, pada tahun 2013 tercatat ada sebanyak 26.628 judul buku diterbitkan, dan ada sedikit penurunan pada tahun 2014, yakni sebesar 24.204. Sementara tiras atau jumlah satuan buku yang tercetak dan terdistribusi lewat Gramedia pada tahun 2012 sebesar 33.565.472 eksemplar, tahun 2013 turun menjadi sebesar 33.202.154 eksemplar, serta tahun 2014 turun lagi menjadi 29.883.822 eksemplar.

Angka-angka tersebut bahkan dianggap lebih rendah bila dibandingkan dengan parameter yang bisa diacu dari ISBN yang terdaftar pada Perpusnas (Perpustakaan Nasional) yang jumlahnya mencapai angka 36.624 judul pada tahun 2013, dan meningkat tajam pada tahun 2014 menjadi 44.327 judul. Lompatan angka-angka itu tentu saja cukup membanggakan, meski kalau kemudian kita melongok keluar, kebanggaan itu belum bisa membuat kita menepuk dada, karena pada kurun waktu yang kurang lebih sama, India telah mampu menerbitkan sekitar 60.000 judul, dan negeri panda China dengan 140.000 judul buku. Itu baru dengan sesama negara Asia. Kita akan makin malu kalau membandingkan bahwa pencapaian pertahun Indonesia menerbitkan sekitar 30.000-an buku itu telah terjadi pada beberapa negara-negara Eropa 20 tahun lalu! Ya, dua dasawarsa lalu! Angka pencapaian Indonesia itu setara dengan pencapaian Rusia pada tahun 1995 yang telah memproduksi 33.623 judul buku, atau Perancis yang menerbitkan 34.766 judul buku, serta Spanyol dengan 48.467 judul.

Baiklah. Perbandingan tersebut di atas tentu saja sangat menyesakkan, dan bisa saja dibilang “tidak adil”. Kata-kata “tidak adil” bukan sebuah kecengengan untuk membuat permakluman yang berlebih atas kekurangmajuan dunia perbukuan Indonesia. Namun ini lebih sebagai upaya untuk mendudukan persoalan secara lebih proporsional demi upaya untuk langkah maju. Kita paham sekali bahwa dengan perbedaan kultur antara Indonesia dan negara-negara di Eropa yang dijadikan lahan perbandingan tersebut. Eropa telah memiliki tradisi ilmu pengetahuan berikut pengembangan lembaga pendidikan yang lebih lama ketimbang di Indonesia. Setidaknya setelah masuk ke zaman Renaisans, juga penemuan mesin cetak oleh Johannes Gutenberg di abad 15, menjadikan percepatan untuk memproduksi buku sebagai bagian penting dari kebutuhan hidup bangsa-bangsa di Eropa sudah berlangsung berabad-abad lalu.

Kemudian, kalau kita membandingkan diri dengan India dan China, sebenarnya Indonesia bisa dikatakan sedikit lebih maju bila parameter lain kita jadikan acuan. Misalnya, populasi penduduk India yang mencapai 1,2 miliar dengan jumlah judul buku terbit pertahun 60.000 maka bisa saja dikatakan bahwa tiap “kerumunan” 20.000 orang India bisa menciptakan satu judul buku. Demikian pula dengan China yang penduduknya 1,4 miliar yang memproduksi 140.000 judul buku, maka tiap “kerumunan” 10.000 “baru” bisa melahirkan satu judul buku. Coba lihat Indonesia yang kini berpenduduk 250 juta jiwa dengan (katakanlah) 30.000 judul buku, maka tiap “kerumunan” 8.333 orang Indonesia bisa membuat satu judul buku. Ada sedikit produktivitas di sana, meski tentu logika ini relatif masih debatable.

***

Apapun, sisi positif meski dikedepankan. Ada banyak kemajuan yang telah dicapai oleh Indonesia dalam dunia perbukuan, meski itu belum sangat signifikan dalam membentuk perkembangan peradaban bangsa ini. Keprihatinan pun perlu terus diikuti dengan alternatif pemecahan masalah. Kita harus mengakui adanya fakta bahwa buku belumlah menjadi kebutuhan sebagian besar manusia Indonesia. Tahun 2012, sebuah lembaga nirlaba yang bergerak di bidang pendidikan merilis hasil survei tentang mutu pendidikan di 65 negara, dan menempatkan Indonesia di posisi 64 atau nomer 2 dari bawah indeks sebesar 0,01 menurut standar PISA tersebut. Sementara indeks untuk negara-negara di papan atas kisarannya antara 0,45 hingga 0,62. Kita masih tertinggal jauh.

Di sisi lain, kalau menyimak berbagai hal dalam rentang waktu 15 tahun terakhir—atau dalam era reformasi ini—banyak perubahan yang perlu dicermati sebagai bekal untuk mengeksplorasi tindakan solutif. Saya sebagai orang tua dan bukan orang yang membawahi sebuah lembaga dengan sekian banyak orang yang bisa saya pengaruhi, hanya bisa memberi pengaruh positif kepada keluarga. Itulah kemungkinan solusi kecil yang bisa saya ajukan. Anak-anak yang kita bayangkan sebagai pemilik dan pewaris masa depan, menjadi agenda penting untuk dipersuasi agar kultur buku, kultur membaca menjadi bagian penting dari sela tarikan nafas dalam hidupnya. Saya lebih mementingkan langkah persuasi, bukan mendoktrin, karena kata tersebut mengisyaratkan sebuah langkah yang tidak menekan, merepresi anak sebagai obyek, namun lebih memberi peluang baginya untuk membangun minat (membaca) karena bangunan situasi dan kondisi yang diciptakan oleh kita (orang tua). Ada sekian banyak bahan bacaan di sekitar diri anak, ada aktivitas membaca dan menulis atau belajar yang dilakukan oleh orang tua—yang menyergap situasi dan indera sang anak tiap hari. Dari sini, orang tua bisa mengekspektasikan sepenuhnya bahwa ada gerak evolutif dari sang anak untuk melakukan aksi meniru dengan inisiatif sendiri untuk ikut mencintai buku—evolutif sekalipun aksi anak tersebut.

Secara psikologis, anak-anak yang dalam lingkungan terdekatnya dibangunkan atmosfir tentang situasi tertentu, maka bangunan atmosfir tersebut dimungkinkan seperti cahaya yang akan terus berpendar hingga di kedalaman jiwanya untuk diingat dan ditiru. Demikian pula dengan “atmosfir cinta buku” yang dibangun oleh orang tua di dalam rumahnya—ada sekian banyak bahan bacaan, ada aktivitas membaca, menulis dan berdiskusi yang dilakukan terus-menerus—maka anak-anak yang berada dalam radius terdekat dari “atmosfir cinta buku” itu akan terinspirasi untuk melakukan hal serupa. Anak-anak dengan sendirinya, lambat laun, akan memiliki ketertarikan untuk berkubu dengan buku, bersahabat dengan dunia gagasan dan imajinasi yang ditawarkan dalam buku-buku atau dalam diskusi yang berlangsung dalam lingkungan tersebut.

Maka, bukan sebuah kesombongan penuh ke-lebay-an kalau saya bangga bahwa anak saya mengejutkan karena tengah asyik membaca buku Kumpulan Cerita Pendek Dostoyevsky. Saya, barangkali, tak perlu terkejut kalau menyadari sepenuhnya bahwa aktivitas saya dari hari ke hari nyaris selalu bergelut dengan jagat buku, dunia gagasan, dan hal-ihwal yang berkait erat dengan dunia penalaran juga imajinasi. Rasanya, tak perlu ada doktrinasi untuk mendorong anak agar mau membaca. Namun, cukup dengan menciptakan situasi dan atmosfir yang nyaman dan persuasif agar anak secara evolutif berkawan dengan buku. Berkubu dengan buku. ***
*) Penulis seni rupa, editor in chief situs www.indonesiaartnews.or.id
Leave a Comment
Please feel free to let us know your feeling about this
Your Name
Your Comment
Your Email
Image Verification
Captcha Image Reload Image
Utk ganti paragraf silakan klik
Comments:
Rabu, 19 Agustus 2015 - 08:18
anwar sanusi - anwarsanusi080@gmail.com
Kapan Buku Seni Kaligrafi Pak Fadjar Sutardi terbit?
Rabu, 19 Agustus 2015 - 04:42
kenry - credithome001@gmail.com
jangan Anda memiliki semua jenis kesulitan keuangan? Anda Perlu pinjaman untuk melunasi utang? adalah Anda dalam krisis keuangan? mempercayai kami untuk memperlakukan semua jenis pinjaman, lihat di bawah. Kami terdaftar dan Perusahaan berwenang untuk mengeluarkan pinjaman sebesar 2%, dengan durasi minimal 6 bulan dan durasi maksimal 30 tahun. Kami memberikan pinjaman untuk minimum pada tahun 2000 sampai maksimal 50 juta. menawarkan layanan yang berbeda BAWAH * Pinjaman Pribadi (Aman dan Tanpa Jaminan) * Kredit Usaha (Tanpa Jaminan Aman dan) * Perbaikan rumah * Inventor Pinjaman * Auto Pinjaman * Pernikahan Mortgage * Kesehatan Pinjaman, dll Jadi .. jika Anda tertarik, silakan kembali ke kami melalui email kami credithome001@gmail.com Allah segala sesuatu mungkin
Selasa, 11 Agustus 2015 - 16:10
elizabeth - specialgraceloanfirm@gmail.com
Apakah Anda mencari pinjaman pribadi, Atau kau menolak pinjaman oleh bank. Aku memberikan pinjaman kepada perusahaan dan individu pada tingkat bunga rendah dan terjangkau dari 2% Bunga. Silahkan hubungi kami melalui email: specialgraceloanfirm@gmail.com terima kasih, Ibu Elizabeth Daniel
Senin, 10 Agustus 2015 - 09:05
fadjar sutardi - fajarredisutta_bumipranata@yahoo.com
Kapan-kapan ngadakan pameran buku bekas atau buku lawas mas........penting...
21-08-2016 s/d 28-08-2015
One for One: Sebuah Pameran Kolaborasi
di Paviliun 28 Jl. Petogogan No. 25 Kebayoran Baru, Jakarta Selatan
26-08-2015 s/d 06-09-2015
Pameran Tunggal Afriani: "Be the Winner"
di Galeri 678, Jl. Kemang Raya 125 A, Kemang, Jakarta Selatan
21-08-2015
Diskusi Biennale sebagai Branding Kota: Dilema infrastruktur budaya dan turisme
di Ruang Multimedia Kampus Pasca Sarjana ISI Jalan Suryodiningratan, Yogyakarta
19-08-2015 s/d 30-08-2015
Pameran Seni Rupa “Langkah Kepalang Dekolonisasi”
di Gedung A Galeri Nasional Indonesia Jln. Medan Merdeka Timur No. 14 Jakarta Pusat
19-08-2015 s/d 28-08-2015
Pameran seni rupa "Anggap Saja Rumah Sendiri"
di Bentara Budaya Yogyakarta Jl. Suroto 2 Kotabaru, Yogyakarta 55224
15-08-2015
Pembicaraan lintas disiplin melalui buku puisi "Berlin Proposal" karya Afrizal Malna
di Togamas Buah Batu, Jl. Buah Batu no. 178, Kota Bandung 40562
13-08-2015
Diskusi "Etnomusikologi: Oleh dan Untuk Siapa?"
di gedung jurusan Etnomusikologi, Institut Seni Indonesia Yogyakarta, Jl. Parang Tritis km 6,5 Sewon, Bantul, Yogyakarta
12-08-2015
"Vagabond", a film by Agnes Varda
di Ark Gallery, Jl. Suryodiningratan 36A, Yogyakarta
08-08-2015 s/d 09-08-2015
Festival Tlatah Bocah
di Dusun Klakah Tengah, Selo, Boyolali, Jawa Tengah
05-08-2015
Diskusi Kejahatan dalamnSeni Rupa: Pemalsuan Lukisan, Fakta dan Pembuktian
di Jogja Gallery, Jl. Pekapalan 2, Alun-alun Utara, Kraton, Yogyakarta
read more »
Minggu, 09-08-2015
Berkubu dengan Buku
oleh Kuss Indarto
Kamis, 30-07-2015
Jejaring Kerja Tanpa Negara
oleh Kuss Indarto
Minggu, 12-07-2015
Pelukis Dullah
oleh Fadjar Sutardi
Kamis, 23-04-2015
Seniman Karbitan
oleh Aris Setyawan
Minggu, 12-04-2015
Dinamika Seni Rupa (di) Pasuruan
oleh Wahyu Nugroho
read more »
Merajakan Nalar di Tengah Kepungan Hedonisme
oleh Christian Heru Cahyo Saputro
Buku bertajuk: Acropolis (Kerajaan Nalar) yang merupakan kumpulan kolom karya wartawan SKH Lampung Post Heri Wardoyo (HRW) hadir meramaikan pasar wacana. Buku yang berisi kolom-kolom Heri Wardoyo ini pernah dimuat di rubrik ‘Nuansa’ Lampung Post bertitimangsa tahun...
Fantasi Balzac tentang Pulau Jawa
oleh Sigit Susanto
Merajut Masa Depan Bocah Merapi
oleh T. Nugroho Angkasa S.Pd.
Novel Kasongan, Seliat Tanah Liat
oleh R. Toto Sugiharto
read more »
Call for Applications for the Artists in Residence Programme 2016 in Austria
Kompetisi UOB Painting of the Year 2015
BANDUNG CONTEMPORARY ART AWARDS (BaCAA) #04
KOMPETISI SENI LUKIS, MANDIRI ART AWARD 2015
GUDANG GARAM INDONESIA ART AWARD 2015
Dana SAM untuk Seni dan Lingkungan
LOMBA PENULISAN JURNALISTIK
Lomba Foto “Air dan Sanitasi untuk Kehidupan yang Lebih Baik”
6th Beijing International Art Biennale 2015
Sayembara Cipta Kreasi Motif Batik Seragam Dinas Harian RSUP Dr Kariadi 2014
read more »
01/09/2015 01:14 | Rico Stone | Hari yang baik, Apakah Anda dalam setiap jenis masalah pinjaman keuangan? atau Anda membutuhkan pinjaman cepat untuk membersihkan debit Anda dan kembali ke bisnis Pada tingkat bunga dari 2%. Jika ya hubungi kami melalui email kami di bawah ini: exxonmobil191@outlook.com Jangan memberikan kami berikut di bawah ini. 1) Nama Lengkap: ............ 2) Sex: ................. 3) Umur: ........................ 4) Negara: ................. 5) Nomor Telepon: ........ 6) Pekerjaan: .............. 7) Pendapatan Bulanan: ...... 8) Jumlah Pinjaman Dibutuhkan: ..... 9) Durasi Pinjaman: ............... 10) Tujuan Pinjaman: ........... Terima kasih.
19/08/2015 21:02 | Mrs Jennifer | Kami disetujui pemerintah dan pemberi pinjaman kredit bersertifikat Perusahaan kami tidak menawarkan pinjaman mulai dari pribadi untuk pinjaman industri untuk orang yang tertarik atau perusahaan yang mencari bantuan keuangan pada tingkat bunga dinegosiasikan 2% kesempatan untuk membersihkan dept Anda., Mulai atau meningkatkan bisnis Anda dengan pinjaman dari pinjaman perusahaan kami diberikan di Pounds (£), dollar ($) dan Euro. Jadi mengajukan pinjaman sekarang orang yang tertarik harus menghubungi kami untuk informasi lebih lanjut. Mengisi informasi data peminjam. Hubungi kami sekarang melalui: jenniferdawsonloanfirm20@gmail.com (2) Negara: (3) Alamat: (4) Kota: (5) Sex: (6) Status Pernikahan: (7) Bekerja: (8) Nomor Ponsel: (9) Penghasilan Bulanan: (10) Jumlah Pinjaman Dibutuhkan: (11) Jangka waktu pinjaman: (12) Tujuan Pinjaman: Terima kasih atas pengertian Anda karena kami berharap untuk mendengar dari Anda segera. E-Mail: jenniferdawsonloanfirm20@gmail.com
06/07/2015 12:26 | mardiyanto ghani art | Mardiyanto ghani art..ahmadghani2008@gmail.com Selalu semangat berkarya..!!
06/05/2015 16:11 | EkanantoBudiSantoso | to Pa Andre Galnas,kapan kita reuni mamer bareng temen2x? biar wacananya "dream come true gitu,art new biar juga makin seru kita undang konco2x sy nulis disini juga,thanks att.
06/05/2015 16:03 | EkanantoBudiSantoso | Sy butuh info lomba lukis Mandiri,sebenarnya kompetisi bukan untuk cari "jawara,jati diri dan silaturakhmi perupa sangat perlu"dikembangbiakan biar ngga ego,ah.
read more »
About Us
Indonesia Art News merupakan media tentang dinamika seni yang berkait dengan aspek keindonesiaan. Media ini berusaha untuk mengedepankan segi informasi ihwal seni yang dikemas dengan cara pandang kritis dan muatan yang investigative. Indonesia Art News berkedudukan di Yogyakarta, Indonesia
Gabung di Facebook
Buku Tamu
Pengelola IAN
Editor in chief:Kuss Indarto
Editor:R. Toto Sugiarto
Designer:Andika Indrayana
Email - info@indonesiaartnews.or.id