Selasa, 08 Maret 2016 - 10:13 WIB
Old Master Menguasai (Kembali)
oleh Kuss Indarto
Akhir Februari 2016, Artprice, lembaga data dan riset pasar seni rupa yang berkedudukan di Paris, kembali mengeluarkan laporan tahunan (annual report). Banyak informasi dan data bertebar di dalamnya. Salah satu data yang selalu ditunggu adalah daftar 500 Besar seniman yang karyanya paling banyak diserap dengan angka penjualan tertinggi oleh pasar...
Menara di Cikapundung: Navigasi dan Panoptikon
oleh Ferri Ahrial
Pelukis Tamu Negara itu Berpulang
oleh Kuss Indarto
Novel Filsafat yang Menantang
oleh Tim Indonesia Art News
Cuplikan Elok Indonesia dan Tiongkok
oleh Tim Indonesia Art News
  HOME     NEWS     EVENTS     ARTICLES     DIRECTORY     BOOKS     OPPORTUNITIES  
Jum'at, 08 April 2016 - 10:04
FBU 2015: Frankfurt Book Unfair 2015
oleh Sigit Susanto
Suasana sebuah diskusi tentang buku di Frankfurt Bookfair 2015. (foto: Sigit Susanto)
“Barangsiapa ingin tahu sastra Indonesia, janganlah ke Frankfurt saja, tapi datanglah ke Indonesia.“ 
(Yonas Waluyo von Gombloh) 

Dari Zürich ke Frankfurt 

BUS antarnegara sudah berada di depan kami, dekat stasiun kereta api Zürich, Switzerland. Pada Jumat sore pukul 15.00, 16 Oktober 2015 itu, Usep dan aku sengaja duduk di kursi paling depan samping kanan sopir, supaya kami bisa mengamati suasana di perjalanan. Kami akan menghabiskan waktu sekitar 7 jam, kurang lebihnya seperti perjalanan dengan bus dari Jogja ke Surabaya. Aku bayangkan seperti naik bus patas saja, hanya menaikkan penumpang di agen atau halte tertentu. Perbatasan negara Swiss-Jerman terlewati tanpa pemeriksaan paspor sama sekali. Untuk memangkas kepenatan duduk di bus, aku menulis prosa pendek di laptop sampai baterai habis. Gelap telah memayung, Jerman bermantelkan suhu dingin sekitar 5 derajat Celsius. Pikiranku berseliweran ke berbagai tema. Antara lain, ingat kata-kata Sartre saat menolak hadiah nobel dengan alasan, tidak ingin institusi barat mendiktekan ke seluruh dunia. Ingat pula ucapan Nagib Machfud, memang sastra di Jerman lebih semarak dan maju. 

Aku membayangkan teman-teman yang aku kenal secara pribadi tidak ikut diangkut ke Frankfurt. Kadang membayangkan paviliun Indonesia yang dipuji media kita, hingga turis-turis Jerman hendak berkunjung ke Indonesia, bukan hanya Bali. Sepak terjang sang kurator, Gunawan Mohamad (GM) yang sering tidak adil terhadap para pengarang pinggiran. Termasuk pada ajang FBF (Frankfurt Book Fair) tak ada transparansi. Untuk itulah aku menamainya FBU (Frankfurt Book Unfair). Seharusnya sejak awal informasi FBF disosialisasikan secara luas di berbagai forum. Kami mengelola forum literasi di internet sejak sepuluh tahun silam, tak mendapatkan informasi. DKJ saja sering melempar informasi lomba menulis dan yang lain. Mengikuti simpang siur debat di media sosial tentang terjemahan yang belum dibayar, pengarang yang diundang tapi tak punya karya yang diterjemahkan ke dalam bahasa asing atau sebaliknya punya karya yang sudah berbahasa asing tapi tak lolos seleksi. Membayangkan jumlah karya sastra yang sangat sedikit dialihbahasakan ke bahasa asing. Dominasi pemberitaan dua novelis di Media Jerman dan Swiss, yakni Laksmi Pamuntjak dan Leila S. Chudori, selain Andrea Hirata sebagai pengarang pop motivator. Terakhir terngiang-ngiang biaya FBF sebesar 144 miliar rupiah dari rakyat Indonesia yang sebagian besar sama sekali tak tersangkut dengan sastra. 

Bus berganti bus lain, alasannya ganti bus yang lebih nyaman, namun masih dengan sopir yang sama. Bus menumpahkan penumpang di beberapa kota, sedang tujuan akhir di Frankfurt. Tujuh jam perjalanan berlalu, di seberang stasiun kereta api Frankfurt, kami turun. Sekitar pukul 10 malam kami membeli tiket kereta api regional dengan mesin otomatis menuju hotel di Kelsterbach dekat air port. Usep menyambar ikan bebek goreng di warung Asia, aku beli sebungkus mie goreng di kotak kartun. Saat kami menuruni eskalator pada lantai paling bawah, terdengar percakapan bahasa Indonesia dari empat orang. Tiga laki-laki dan seorang perempuan. Kulihat seorang lelaki itu bertubuh tinggi dan berkopiah Frankfurt. Aku tebak, ia Gola Gong. Aku ulurkan tangan, “Gola Gong ya?“ ia mengiyakan. “Aku Sigit dari Kendal.“ Ia tampak mencoba mengingat-ingat, rupanya memang tak kenal aku. “Kita pernah bertemu?“ tanyanya. Kujawab, “Belum pernah. Tapi debat di mailing list sering.“ Pertemuan singkat itu patah, karena kereta apinya datang dan ia titip seorang perempuan bernama Evelin. Kebetulan kereta api yang akan kami tumpangi satu arah, maka kami bersamaan. Dari Evelin aku diberitahu, ada sekitar 79 pengarang kita hadir dan sekitar 50 orang yang lain datang dengan biaya sendiri. Evelin yang mengaku berdomisili di Jakarta itu ternyata seorang ilustrator dari buku anak-anak karangan Arleen. Seketika aku ingat nama Arleen yang beberapa tahun silam sampulnya aku pasang di website Apresiasi-Sastra (APSAS), sebelum facebook lahir. 

Turun dari kereta api kami berjalan mencari hotel. Seorang ibu yang ditanya arah hotel, cukup ramah, walau malam mulai tua. Tengah malam kami baru masuk kamar. Ketika aku mencoba menyalakan laptop, pupus harapan, colokan kabel ternyata beda. Untuk kabel dari Swiss dengan tiga lubang, sedang di Jerman dua. Dengan begitu aku tak bisa berkomunikasi dengan teman-teman yang sudah datang di Frankfurt. Apalagi mereka tak membawa handy dari Indonesia, facebook satu-satunya cara berkomunikasi. Padahal pada Sabtu pagi 09.00, 17 Oktober Nicole Fister Fetz, ketua Ikatan Pengarang Swiss (Ads: Autoren und Autorinnen der Schweiz) minta bertemu. Yang kuketahui Mas Martin Aleida sedang berada di Amsterdam hendak menyeberang ke Frankfurt. Azhari dari Acheh sudah bersedia bertemu, Muhidin dari Iboekoe Jogja sudah siaga. Anwar Holid dari penerbit Rosda Internasional setuju bertemu. Matt Woolgar, mahasiswa London minat bergabung. Akhirnya aku kirim sms ke Heri dan Ubai di tanah air, siapa yang duluan untuk menuliskan pesan kepada teman-teman di atas pada facebook APSAS, bahwa tempat pertemuan di Mccafe Mcdonad pukul 09.00. Bantuan Ubai membuahkan hasil. 

Inside Circle

Usep masih meringkuk di ranjang, aku meninggalkan hotel sejak 07.30, khawatir dengan rute baru dan jaringan kereta api yang di luar Frankfurt, aku bisa terlambat datang. Di dalam kereta api, secara iseng aku kirim sms ke Eka Kurniawan. Sekiranya bisa bertemu. Eh, dapat balasan seketika, tapi malah ia minta aku datang ke hotelnya yang terletak di depan stasiun kereta api. Meskipun ia baru bangun tidur, akhirnya ia ikut bergabung. 

Di Mccafe aku pesan minum Latte Machiato alias kopi susu untuk menangkis serangan dingin di pori-pori. Satu meja dan beberapa kursi aku atur melingkar. Tak lama dari kaca terlihat sosok Muhidin Dahlan. Kali ini penampilannya agak modis, dengan kepala dikucir ala anak-anak muda punk Jerman. Tampilan seperti itu tak pernah kulihat sebelumnya di Jogja. Ia datang dengan Gola Gong. Disusul Matt, masih muda berkaca mata datang dari London. Terakhir Eka datang langsung menyambar minuman hangat. Nicole sendiri datang sedikit terlambat. Mas Martin yang kunanti, belakangan baru tahu ia sudah kembali lagi ke Belanda. Menggunakan bahasa Inggris aku mulai kenalkan teman-teman dan mempersilakan Nicole untuk bertanya sendiri. Muhidin memberikan brosur komunitas Iboekoe yang sudah dalam bahasa Inggris. 

Gola Gong mengaku diundang dalam kapasitasnya sebagai pengarang. Aku menyela, bahwa Gola Gong ini juga punya jaringan perpustakaan yang disupport oleh pemerintah. Buru-buru Gong memotong, “No, no, no.“ Akhirnya kami tertawa semua. Aku bilang ke Nicole, bahwa media Jerman dan Swiss yang getol melangsir dua penulis perempuan Laksmi Pamuntjak dan Leila S. Chudori, sesungguhnya dari inside circle atau lingkaran dalam sang kurator Gunawan Mohamad. Pengarang-pengarang marginal banyak yang masih di rumah. Maka kalau ke Indonesia datanglah ke komunitas kecil di Jogja yang dikelola Muhidin dan teman-teman. Sebelum aku datang ke Frankfurt pernah tanya pengarang Swiss bernama Andreas Groz, “Apakah di Swiss juga ada hegemoni sastra?“ Ia jawab, “Ada.“ Kukejar, “Apa ciri-cirinya?“ Ia sebutkan, “Berorientasi finansial.“ 

Di sela-sela itu Gong memberi novel terbarunya berjudul Pasukan Matahari kepada Nicole. Sebaliknya Nicole membarter buku puisi berjudul Swiss Berpuisi dalam lima bahasa dari 25 penyair Swiss. Keduanya saling membubuhkan tanda tangan. Mengingat antologi puisi tersebut ada bahasa Indonesianya aku yang terjemahkan, aku dan Muhidin berencana membedahnya pada Mei tahun depan 2016 pada hajatan APSAS tahunan di Jogja. Nicole tampak senang menyambutnya. 

Aku bilang ke Nicole, silakan tanya ke Eka Kurniawan sendiri, ia juga sering dimuat di media Swiss, selain Laksmi, Leila dan Andrea Hirata. Menurutku Eka seorang pengarang yang serius. 10 tahun lalu aku kirim 2 novel penting ke dia, Satanic Verses – Salman Rushdie dan 100 Years of Solitute – Gabriel Garcia Marquez. Dan Eka telah khatam semua karya Marquez. Antara Nicole dan Eka berdiskusi sendiri. Sementara Gong pamit, ia hendak main ke Bonn. Waktu merayap, menjelang pukul 10.00 Nicole undur diri hendak naik kereta api kembali ke Swiss. Ia merasa senang dengan percakapan informal di kafe yang santai. 

Rombongan kecil ini beranjak turun ke lorong bawah tanah mencari kereta api menuju ke Book Fair. Belakangan Azhari memberitahu, ia datang ke kafe, teman-teman sudah bubar. Manusia mulai tumpah ruah. Tepat di depan pintu masuk eskalator gedung Book Fair di lantai tertulis indonesia pada cat putih dengan dekorasi berkepala topeng. Tentu saja sepatu-sepatu menginjakkan dekorasi di lantai itu. 

Mpu Kanwa bertemu Goethe

Aku keluarkan tiket masuk gedung bertingkat untuk ajang pesta buku itu. Matt, Muhidin dan aku menuju ke paviliun indonesia, sementara Eka memisahkan diri punya acara Book Signing, kelak ia akan menyusul kami. Pada pintu masuk di ruangan remang, ada tulisan besar: 

Wer den Dichter will verstehen, muss in Dichters Lande gehen. 
Johann Wolfgang von Goethe (1749-1832) 

(Barangsiapa hendak mengenal penyair, harus datang ke negerinya penyair) 
Johann Wolfgang von Goethe (1749-1832) 

Tulisan itu menempel di sejenis kertas keras warna putih bersap-sap menggantung dan tampak artistik. Di bawahnya ada meja panjang menyediakan berbagai brosur, program dan katalog termasuk asesoris lain seperti tas kain. Semuanya bisa diambil secara gratis. Aku mengambil dua buku berupa program warna hitam dan katalog warna putih. Pada katalog berbahasa Inggris tersebut sang ketua panitia GM membuka dengan kalimat, 

Pada tahun 1030 Mpu Kanwa yang juga seorang penyair dari kerajaan Kahuripan yang sekarang berlokasi di Jawa Timur menuntaskan karya babon Arjunawiwaha, berujar “Aku bangun candi bahasa ku pada papan tulisanku.“ Katalog yang berisi sampul-sampul buku dalam bahasa Inggris ditutup dengan aforisme Goethe seperti terpampang dalam pintu masuk Paviliun Indonesia, 

Siapa hendak memahami puisi, harus datang ke negerinya penyair. 
Siapa hendak pengenal penyair, harus datang ke negerinya penyair. 

Perdamaian Total 

Kami masuk ruang remang dengan kursi yang diatur melingkar. Diawali dengan hiburan dari lima lelaki memainkan tepuk tangan mirip tarian kecak Bali, hanya posisinya berdiri. Atraksi dari Sumatra Barat seperti yang tertera dalam tulisan di slide itu bernama Talago Bumi. Gerakannya cukup ritmis dan mengundang perhatian. Dilanjutkan diskusi dengan menghadirkan dua novelis perempuan Laksmi Pamuntjak dan Leila S. Chudori. Mereka duduk di tengah arena, sementara moderator, perempuan Jerman duduk di tengah di antara keduanya. Laksmi berpenampilan trendi. Sepatu kulitnya setinggi lutut. Padahal udara di luar belum sampai minus 0 derajat. Saat itu masih kisaran 4-5 derajat dan tak kulihat warga Jerman sendiri bersepatu sehangat dia. Ia duduk sambil memangku laptop yang sudah dibuka. Terkesan, kurang percaya diri, seolah sedang menghadapi ujian. Leila duduk dengan santai, tak seperti Laksmi yang tampak tegang. Sebelum acara dimulai ada dua perempuan mendekat, mungkin ibunya atau tantenya mendatangi Laksmi memberi selamat atau semangat dengan cium pipi. 

Pertama, Laksmi menceritakan novelnya Amba hasil dari berbagai wawancara dengan teman-temannya. Tanpa bantuan teman-temannya ia tak bsa menuliskannya. Bahan-bahan itu diramu dengan berbagai sumber data lain, akhirnya lahirlah novel Amba. 

Kedua, Leila mengaku novelnya mengusung kisah dari restoran Indonesia di Paris. Restoran yang didirikan oleh orang-orang komunis yang terhalang pulang. Ia memuji langkah Gus Dur yang memberi angin segar bagi kaum eksil untuk pulang dan mengusulkan untuk menghapus TAP MPRS XXV/1966 yang melarang berdirinya Partai Komunis Indonesia. Leila sebut secara kebetulan novelnya dengan novel Laksmi selesai tahun 2012 bersamaan dengan film The Act of Killing yang dibuat oleh Joshua Oppenheimer. 

Kedua penulis tersebut menggunakan alat penerjemah elektronik yang dipasang di telinga. Moderator memberikan kesempatan hadirin untuk bertanya. Pertanyaan pertama datang dari seorang perempuan Indonesia yang mengaku mengajar bahasa Indonesia di universitas Hamburg. Ia mempertanyakan, bagaimana mungkin di hari sekarang ini, Tom Elias yang bereksil di Swedia saat pulang dideportasi ke Swedia lagi? Leila menjawab, juga baru tahu. Ia ingin peristiwa itu diliput secara detil. Mendengar pertanyaan eksil Swedia yang dicekal dan dideportasi itu aku teringat dua kisah orang-orang yang masuk black list. 

Pertama, Sobron Aidit pernah menulis, saat ia mendarat di bandara Bangkok digiring oleh imigrasi setempat, karena namanya termasuk dalam black list. Kedua, George Yunus Aditjondro juga mengalami nasib serupa, lagi-lagi di Bangkok ia masuk black list imigrasi setempat. Dugaanku, daftar orang yang hendak dicekal itu belum dihapus atau ditarik dari pihak kepolisian Indonesia, meskipun Soeharto sendiri sudah meninggal. Pemerintah sekarang harus menghapus warisan black list dari Orde Baru itu. 

Penanya kedua dari seorang ibu. Ia bertanya sederhana, bagaimana komentar dari para pembaca di Indonesia dengan kedua novel yang ditulis oleh dua perempuan di sini? Entah bagaimana, baik Laksmi dan Leila tampak bingung, tak lekas menjawab. Sehingga Leila minta pertanyaan sesederhana itu untuk diulang. Si penanya mengaitkan dengan sastra wangi. Leila tak mau menjawab dengan istilah sastra wangi. Laksmi menjawab dengan cerita isi novelnya, bukan menjawab pertanyaan penanya. Leila pun tak menyinggung respon pembaca di tanah air. Ia lebih tertarik menjelaskan dirinya yang menulis sejak kecil, karena ayahnya juga wartawan. 

Penanya ketiga dari mahasiswa Jerman yang duduknya di belakang Taufik Ismail. Ia sarankan, agar melupakan masa silam terutama tragedi 1965. Tak ada manfaatnya sama sekali membahas cerita itu lagi. Yang utama sekarang di depan mata harus ditulis, seperti kasus di Aceh (maksudnya mungkin pembakaran gereja, yang akhir-akhir ini terjadi). Leila menolak untuk tidak menuliskan peristiwa G 30 S. Bagi dirinya memang itu panggilan untuk menuliskan. Kalau penanya ingin novel terkait agama, itu Okky Madasari sudah menulisnya dengan bagus. Leila menyarankan penanya untuk banyak baca novel Indonesia yang lain. 

Pertanyaan terakhir datang dari orang tua memakai baju putih berpeci hitam, siapa dia? Tak lain adalah Taufik Ismail. Ia bukan bertanya lisan, tapi tangannya memegang kertas putih layaknya akan membaca teks proklamasi. Diawali dengan menyinggung makam Marx dan Lenin yang bergandengan erat dengan peristiwa 65 di Indonesia. Ia mengajak….. sampai di sini moderator dibisiki oleh panitia dari belakang dan moderator menghentikan, karena kesannya bicara Taufik masih lama dan bertele-tele. “Mohon singkat saja, Pak. Waktunya sudah habis. Ini panitia sudah memberitahu.“ Tapi Taufik tak berhenti, malah melanjutkan orasinya. “Singkat saja, Pak,“ seruduk moderator perempuan Jerman itu lagi. Taufik baru diam. Seorang lelaki dari panitia membisiki moderator lagi, agar pertanyaan Taufik dilanjutkan. Mungkin panitia dberitahu, dia lah Taufik Ismail. “Pertanyaannya apa?“ teriak dari penanya pertama di seberang lain ke arah Taufik. 

Taufik berulang-ulang meminta agar ada perdamaian total. Ia minta agar partai komunis Malaysia dicontoh. Ia bisa akur saling maaf-memaafkan dengan pemerintah. Sehingga lembaran baru bisa dimulai dengan damai. Perdamaian total itu penting. Laksmi menyitir sastrawan Jerman, bahwa novel lahir untuk mengisi apa yang alpa ditulis oleh sejarawan. Posisi dia sebagai pengarang mewacanakan untuk mendorong proses demokrasi. Sedianya pemerintah hendak mencoba konsolidasi dan meminta maaf, tapi batal. Leila menambahkan, demokrasi sedang dicobakan di Indonesia. Bukan Jokowi, tapi Luhut yang bersikeras membatalkannya. Hanya empat penanya acara tamat. 

Tak ada pembahasan tentang sastra, total politik. Sebetulnya secara gagasan, Amba yang mengambil formatnya Mahabharata, mengingatkanku pada novel Ulysses-nya Joyce yang merekonstruksi dari novel babon Odyssey karya Homer. Sayangnya, pembacaanku pada Amba sampai hal 300-an, terasa datar dan terlalu banyak pengantar. Cocoknya Laksmi sebagai juru dongeng untuk anak-anak sebelum tidur. Apalagi tokoh Bhisma yang dijagokan sebagai dokter revolusioner bahkan diberi julukan Commandante, sangat janggal. Apakah Laksmi sudah baca Bolivian Diary-nya Che Guevara ? Karena Commandante itu identik dengan julukan Che pada revolusi di Kuba. Tokoh Bhisma tidak melakukan dialog frontal yang revolusioner. Hanya karena ia lulusan DDR yang komunis, lalu menjadi tokoh besar ? Bhisma lebih sering bisik-bisik, katanya si A atau si B, tapi tidak ada dialog langsung layaknya sang komandan perjuangan. 

Masih di ruangan itu aku melihat ada lelaki tua duduk di sebelahku agak mengantuk. Aku kira dia Sapardi, tapi Muhidin memberitahu, dia Budi Darma. Di sela-sela dekorasi dari kain yang mirip pilar-pilar beton putih segi empat menggantung, muncul Pak Tohari. Persis di depanku, kami bersalaman. “Sigit dari Kendal, Pak“ kataku. Siapa tahu masih ingat, karena komunitas kami pernah mengundang Pak Ronggeng ini ke kampungku di Kendal. Melihat ia masih bingung, segera kususulkan nama, “Temannya Heri Candra Santosa, Pak.“ Ia cepat ngeh dengan nama Heri. “Oh, ya ya Heri yang kawin dan tinggal di Swiss itu?“ Duh,….dalam hati, Heri di kampung dan masih bujang. Setelah kujelaskan yang di Swiss itu aku, ia menepuk bahuku. Meskipun di ruangan hangat, kepalanya tetap dibungkus kopiah ala orang di Dieng atau Bromo. Menyusup ingatanku, terhadap gazebo di kebun sastraku kami beri nama Ahmad Tohari, 2 minggu usai ia menerima Bakrie Award, gazebo itu ambruk tersapu angin, mungkin kiriman dari Lapindo. 

Tak lama kulihat Eka datang. Aku dan Matt bergegas mencari stan Indonesia. Hanya beberapa langkah, tibalah di ruangan besar yang berderet nama-nama negara. Nama indonesia dengan i kecil tertera di atas, di bawahnya rak buku dari Gramedia. Stan Indonesia memanjang terdri dari beberapa ruangan yang disekat dan diberi kursi dan meja. 

Akhirnya kami singgah di stan penerbit Rosda Remaja. Anwar Holid lah yang menjadi tujuan. Memang kami sudah kencan, mengingat kumcer teman-teman APSAS diterbitkan oleh penerbit asal Bandung ini. Sekitar 10 buku A Graveside Ritual dikeluarkan dan kami bagi ke dalam dua tas cangklong untukku dan Matt. Tak lupa Anwar Holid memberikan titipan untukku sebuah kumcer bahasa Inggris berjudul A Cat in the Moon karya Anton Kurnia. 

Tak terasa, aku masih meninggalkan temanku di kamar hotel, Usep Hamzah. Ia berencana menyusul, tapi sudah hampir siang belum datang. Ia kirim sms, kalau kesasar ke arah kota Main, jalur berseberangan arah dengan Book Fair. Tapi ia berusaha akan mencariku, stan Rosda Remaja kami jadikan pos sementara. Beberapa menit berlalu, Usep datang dan bergabung dengan kami. Di seberang stan Rosda tampak Pak John dari Lontar sedang berbincang-bincang dengan orang lain. Tak lama lagi GM duduk berhadap-hadapan dengan Pak John. Aku dan Matt segera akan melakukan gerilya mencari penerbit asing. Matt bagian penerbit berbahasa Inggris, aku bagian yang berbahasa Jerman. Entah apa hasilnya, gak tahu lah, mungkin kayak jualan pisang goreng saja. Ya, kita coba saja. Sebelum bergerak, teman Anwar Holid berpesan, jika ditolak janganlah kecewa, biasa saja. 

Protes Iran 

Matt tampak bersemangat, aku pun sama, cuma modal nekad, uji nyali. Sebelum meninggalkan stan Indonesia, aku lihat ada stan yang hanya ada dua lelaki berpakaian jas hitam duduk santai. Aku jepret stan itu, tertulis departemen agama. Sebelahnya ada stan penerbit dari Bandung menaruh dekorasi Alquran ukuran raksasa. Ketika kaki-kaki membelok ke arah kiri, tersandung stan warna biru bertuliskan IRAN. Kami berhenti sejenak, mengamati stan cukup artistik indah itu kosong melompong. Hanya di sudut ada dua orang, laki-laki dan perempuan dari penerbit Iran. Sebelumnya aku sudah baca, gara-gara Salman Rushdie diundang sebagai gong pembuka acara, seketika stan Iran yang sudah berdiri, boikot. Menteri pendidikan dan kebudayaan Iran menarik diri. Tentu ini kaitannya dengan fatwa Khomeini terdahulu karena novel Satanic Verses yang dianggap melecehkan umat Islam. Aku foto beberapa sudut stan Iran dan menemukan selebaran yang isinya secara ringkas seperti ini : 

Deklarasi HAM menekankan pentingnya martabat manusia. Kebebasan berekspresi adalah salah satu nilai penting dalam HAM yang juga dihormati oleh Islam dan muslim. Tapi bagaimana kalau martabat manusia itu diabaikan di bawah pre-teks HAM? Bisakah seorang yang menghina satu milyar muslim termasuk nilai-nilainya, mengingkari deklarasi HAM dianggap sebagai sebuah simbol kebebasan berekspresi? Secara selektif muslim didiskriminasi, menghindari politisasi pada ruang budaya ini, kami sekelompok penerbit pada FBF menyatakan dengan keras protes terhadap undangan seorang pengarang yang menghina dan memfitnah nabi besar Islam dan menyakiti perasaan dan martabat lebih dari 1 milyar muslim. Dengan ini kami menolak hadir di hari pertama pada FBF. Di hari-hari ketika dunia menghadapi bahaya ekstremisme dan kekerasan, berdampak terhadap banyak orang di dunia, termasuk di Eropa, diupayakan untuk menarik empati dan sifat arif terhadap muslim. FBF merupakan sebuah ajang budaya yang bergengsi dan terbesar di dunia, namun para penguasa FBF tidak memperlakukan nilai kemanusiaan ini. 

A Graveside Ritual

Berhadap-hadapan dengan stan Iran juga tampak stan Afghanistan dan Bangladesh yang sepi. Kami beralih ke gedung lain yang khusus untuk stan penerbit-penerbit bahasa Jerman. Satu deret semua penerbit kecil dari Swiss. Aku mampir ke stan penerbit Swiss bernama Brotsuppe. Ada pesan dari penyair Swiss, aku harus datang ke sini untuk ambil jatah buku puisi yang kuterjemahkan. Seorang ibu menerimaku dengan ramah. Ia tunjukan buku Swiss Berpuisi mejeng di rak buku. Ia memberiku empat buah. Kemudian kami undur diri. Jalan kami seperti penguin, superlelet, mengingat kiri-kanan banyak buku dan poster-poster sastrawan besar. Aku foto poster Günter Grass bersandingan dengan Marcel Reich-Renicki. Kartu pos dengan foto Kafka kulihat dijual di dekat situ. Novel-novel klasik dijual dengan cetakan terbaru. Dengan mengatur napas dan langkah, aku masuk ke sebuah stan dari penerbit kecil bernama edition fünf. Setelah ungkapkan maksudku, untuk menaruh kumcer A Graveside Ritual sebagai bahan pertimbangan. Ia terima bukunya dan aku dikasih kartu nama tertera nama Silke Weniger. 

Berjalan lagi, berbelok, lurus, sesuai naluri saja. Berhentilah kami di penerbit Unionsverlag. Penerbit Swiss ini sudah lama kutahu, yang spesialisasi menerbitkan karya-karya pengarang nonbarat. Novel-novel Pramoedya diterbitkan penerbit ini. Ia kerja sama dengan penerbit Jerman Horlemann Verlag. Unionsverlag tak mau menerima buku dalam bentuk jadi, tapi ia inginkan dikirim lewat email. Kartu nama kuterima lengkap dengan emailnya. 

Sampai di sini aku teringat perjalanan naskah ini hingga menjadi sebuah buku berbahasa Inggris, sebuah ikhtiar sure but suwe. Lima tahun perjalanan naskah. Sejak tahun 2010 naskah-naskah ini dikritisi, diseleksi, diberi nilai dan diterjemahkan secara keroyokan oleh sesama teman APSAS di mailing list. Pada akhirnya diedit oleh 3 editor dengan mother tongue bahasa Inggris. 11 cerpenis dari 12 cerpen ini adalah 1.Bamby Cahyadi, 2.Niduparas Erlang, 3.Laura Paais, 4.Winarti, 5.Mei Rose, 6.Shofa Muhammad, 7.Akhiriyati Sundari, 8.Rahmat Ali, 9.Bayu Gautama, 10.Moch Satrio Welang, 11.Anna Mustamin. Adapun 11 penerjemah adalah 1.Annie Tucker, 2.Alex Graiger, 3.Bung Kelinci, 4.Abdul Mukhid, 5.Fati Soewandi, 6.Ita Siregar, 7.Yahya TP, 8.Wawan Eko Yulianto, 9.Lia Octavia, 10.Dorsey Silalahi, 11.Diani Savitri. Ketiga editor asing adalah 1.Annie Tucker, 2.Alex Graiger, 3.Matt Woolgar. 

Matt dengan sabar menunggu, jika aku bercakap-cakap dengan pegawai penerbit. Usep hengKang akan cari makan siang. Aku dan Matt terus berjalan membelah kerumunan. Luar biasa, kulihat ada acara Book Signing di sebuah stan, orang-orang berdiri mengular. Pengarangnya duduk dan di belakangnya ada dua laki-laki gagah berdiri. Pemandangan di sudut stan ada layar TV besar menayangkan interview dengan pengarang lain. Sofa merah dengan kursi berderet menghiasi sudut-sudut ruangan. Kulihat di layar TV lain, Leila sedang membicarakan novelnya Pulang pada ruangan blaue sofa. Kami berhenti pada stan penerbit Horlemann. Stannya kecil saja. Kebetulan aku kenal Birgit, penerjemah Tarian Bumi-nya Oka Rusmini. Setelah kubaca di kartu namanya Anja Schwarz memberitahu pukul 14.00 nanti Birgit dan Oka akan ke sini. Dek…. aku ketinggalan buku kumpulan cerpen Mas Korrie Layun Rampan di koper, sedianya akan kuberikan Birgit, karena ia menyukai karya Mas Korrie. Kemudian kusampaikan maksudku dengan memperkenalkan buku kumcer APSAS. Ia menerimanya dengan senang hati. Ia minta komunikasi bisa lewat email yang sudah tertera di kartu nama. 

Berjalan lagi. Pada penerbit Jerman bernama Haffmans & Tolkemitt GmbH kami berhenti. Seorang petugas memberi kartu nama tertera Jakob Karsten. Ia tak mau menerima buku yang kubawa, namun ia bersedia menerima manuskrip lewat email. Langkah awal, ia minta dikirimi 1-2 bab dulu. Jika bab awal itu menarik bisa berlanjut. Bukubukubuku ke manasaja mata memandang. Matt kini giliran bergerilya. Aula besar khusus penerbit Jerman kami tinggalkan. Kami memasuki penerbit dari Eropa timur. Aku berfoto di depan stan penerbit Cheko, semata-mata untuk menghormati sastrawan idolaku asal Praha, Franz Kafka. Di sebelah kiri ada stan penerbit Kroasia, Serbia dan Rusia. 

Susanne Geiger, pemilik toko buku dan penerbitan di Swiss pernah bercerita kepadaku, sebelum aku berangkat ke Frankfurt. Sebetulnya ajang Book Fair Frankfurt itu tanpa negara tamu tetap akan jalan. Itu transaksi copy right antarpenerbit. Maka negeri tamu sekadar dipakai lipstik doang. Kasihan kalau negara tamu justru harus membayar mahal. Tiba di deret stan penerbit berbahasa Inggris, Matt beraksi. Ia masuk ke penerbit New Zealand. Kini giliran aku menunggu di luar. Tampak Matt ragu-ragu. Ia sangat sopan menunggu para pegawainya berhenti bicara. Barulah Matt membuka percakapan. Sayang, pegawai itu bilang, orang yang bertugas urusan naskah dan copy right sedang istirahat. Tapi sempat diberi kartu nama tertulis Hachette UK, Carmelite House. 

Tak surut, kami tetap berlenggang. Beberapa penerbit kami datangi. Sebagian menerima buku kami, sebagian menolak. Pelan-pelan kami hitung, berapa sisa buku kumcer APSAS di tas. Ternyata tinggal 2 buah. Berarti 8 buku telah tersebar, menyusup mencari napas yang lebih panjang. Mengingat tinggal sisa 2 buah, maka kami kembali ke pangkalan, ke pos Rosda. Sisa 2 buku itu untuk Matt 1 buah dan untukku 1 buah. Lapar memanggil, bersamaan dari itu temanku Han, asal Jakarta yang sudah puluhan tahun tinggal di Jerman datang. 

Kami mencari makan bertiga. Lima meter dari stan Indonesia ada warung makan Halal Food. Kami memesan nasi curry ayam. Rasanya tak seperti curry, lebih mendekati keju. Tapi namanya lapar, apa pun rasanya tetap enak. Kami kembali lagi ke stan Indonesia. Kulihat ada kerumunan orang, ternyata ada pembicaraan tentang komik. Aku hanya memotret dari belakang saja. Masih di stan Indonesia, kufoto buku di rak Gramedia, ada novel Gadis Kretek karya Ratih Kumala, dalam tiga bahasa, Bahasa Indonesia, Inggris dan Jerman. Ada buku traveling Ground Zero karya Agustinus Wahyono, berdampingan dengan buku Naked Treveller karya Trinity. Buku Di Bawah Bendera Revolusi karya Bung Karno, pun ada Ayat-Ayat Cinta karya Habiburrahman. Termasuk buku SBY, selalu ada pilihan. 

Usep tiba-tiba tertarik buku kiri dan menemukan pada rak penerbit Marjin Kiri. Pemuda agak gemuk di stan tersebut memberi kartu nama dengan nama Ronny Agustinus. Ia menjual buku Di Balik Sosok dan Pemikiran Marx - Engels karya Dede Mulyanto seharga 3,5 Euro (Sekitar Rp.55.000). Han, temanku juga membeli buku dari Marjin Kiri. Karena harga murah, maka membayarnya dilebihkan. Usep punya uang Kuba bergambar Che Guevara. Uang Che itu aku berikan Ronny, “Karena kamu orang kiri, maka uang Che ini disimpan, ya.“ Ia kaget, malah dia akan memberi uang kembali, dikira uang Che itu layaknya uang Euro. 

Di sebelah rak Rosda ada rak buku lain dari penerbit beda. Usep membeli buku cukup tebal seharga 20 Euro. Entah kenapa penjualnya memberi diskon 5 Euro, jadi hanya 15 Euro. Setelah tahu Usep orang Bandung, sama dengan asal penjualnya, maka dapat potongan lagi harga 5 Euro, jadinya hanya 10 Euro. Tapi Usep tetap memberi uang 20 Euro, mungkin kasihan jauh-jauh jualan buku ke sini. Penjualnya ternyata masih menawari bonus kepada Usep, untuk ambil selendang atau syal batik atau tenun yang sudah disiapkan di atas meja. Luar biasa, cara dagang orang kita memang menyenangkan. 

IKALontar 

Merasa cukup berada di stan Indonesia, maka kami pamitan untuk melihat acara yang lain. Dari sini kami berpisah dengan Anwar Holid. Kami menuju paviliun Indonesia. Di sana ada dua acara yang bersamaan. Pertama, diskusi dengan Abidah El-Khalieqy, novelis perempuan asal Jogja dengan Budi Darma. Kedua, Pak John dari Lontar bercakap-cakap di ruangan remang melingkar. Supaya bisa mendengarkan kedua acara, maka aku minta Matt menguping apa yang dibicarakan Pak John dan aku dengan Usep mendengarkan novelis perempuan dari Jogja. 

Matt merangkum, bahwa Pak John mengharapkan program pendanaan penerjemahan dari pemerintah Indonesia tidak berhenti sampai FBF selesai. Tapi pemerintah Indonesia belum memutuskan soal ini. Ia juga menekankan, bahwa bahasa Inggris dan bahasa Jerman sebagai jembatan memperkenalkan sastra Indonesia ke luar negeri. Perlunya dibuat e-book, mengingat dengan e-book akan memangkas biaya pengeluaran transportasi, berakibat penghasilan dalam sastra terjemahan meningkat. Terakhir kurangnya nomor penerjemah sebagai batasan untuk sastra Indonesia di luar negeri. 

Saat aku menulis ini Birgit mengirimkan foto kepadaku. Kami yang tak sempat bertemu, ternyata di foto itu aku berdiri di samping dia di acaranya Pak John. Oh, alah,….lama gak bertemu jadi lupa dengan wajahnya. Lagian tempat itu remang. Pak John kulihat aktif sendirian, ke mana orang IKAPI? Apakah ini IKALontar? Aku tak begitu tahu dunia perbukuan. Yang kusaksikan, koleksi buku Lontar berbahasa Inggris cukup banyak. Terutama karya-karya sastra klasik Indonesia yang pengarangnya rata-rata sudah di pantheon bersama Homer dan Shakespeare. 

Dalam program masih ada Afrizal Malna, Sapardi berduet dengan Taufik Ismail. Tapi aku lebih suka berkutat mengamati perangai-perangai pembaca buku. Juga remaja Jerman banyak yang berpakaian badut atau vampir, mungkin mereka merayakan party di tengah Book Fair. Aku sering rasan-rasan dengan Matt, lihatlah anak-anak muda Jerman itu pakaian mereka lucu-lucu, seolah tanpa beban lahir di dunia. Mereka sedikit memikirkan negeri, tempat mereka dilahirkan. Lihatlah orang-orang kita raut mukanya serius-serius, penuh selidik. Keadilan masih jauh dari harapan. 

Abidah dengan lincah menceritakan proses mengarang dengan latar Islami. Budi Darma menyuruh pengarang tua istirahat menulis, untuk memberi kesempatan yang muda menulis sebanyak-banyaknya. Dari ruangan yang berdekorasi berbentuk perahu di atasnya berderet buku, lapar mencakar. Muhidin, Usep, Matt dan aku menuju kantin di lantai bawah. Sepakat kami makan gado-gado yang sudah siap di rak. Satu piring gado-gado seharga 6,5 Euro (sekitar Rp100.000). Hitung-hitung sepiring gado-gado lebih mahal ketimbang buku Marx dan Engels dari stannya Ronny. 

Usai makan kami ngeluyur keluar mencari panggung open stage. Di eskalator turun, tiba-tiba ada seorang gadis dari rombongan menyodorkan tangan ke arahku, “Mas Andrea Hirata, Ya?“ Kaget aku dikira Andrea sambil memendam geli, Muhidin nyeletuk, “Adiknya.“ 

Genjer-Genjer 

Tibalah kami di udara segar nan dingin. Jaket tebal harus mulai dibungkuskan tubuh. Kepala pun dibungkus kopiah. Tetap di panggung terbuka ini sudah duduk 2 perempuan dan 1 laki-laki tua. Mereka adalah Soe Tjeng Marching asal Surabaya, namun sebagai dosen di Inggris. Ita Nadia, istri Hersri Setiawan, mantan ketua Lekra Jawa-Tengah. Dan Putu Oka Sukanta, tahanan di pulau Buru selama 10 tahun. Saat akan mencari tempat duduk, ada lelaki asal Malang memperkenalkan diri bernama Aji Prasetyo. Oh, ini komikus yang dikenalkan oleh Abdul Mukhid kepadaku di status facebooku. Uakhirnya bertemu juga, tanpa sengaja. 

Soe Tjeng Marching berbicara dengan bahasa Inggris tanpa aksen Indonesia. Ia ditinggal ayahnya sejak kecil. Ia baru tahu namanya Marching berarti sebuah marching alias jalan marathon pada revolusi kebudayaan di China. Sang ayah yang memberi nama itu. Selama ini ia tak pernah mengusik arti namanya. Baru saja kedok namanya diberitahu ibunya. Ia aktif memperjuangan para korban 65, mengingat ayahnya juga sebagai korbannya. Ia menerbitkan majalah gratis bernama Bhinneka Nusantara. 

Giliran Ita Nadia, ia lebih asyik mengurus kegiatan menulis dan penelitian untuk kaum remaja di Brosot, Jogjakarta. Pembicara ketiga, Putu Oka Sukanta. Ia menayangkan foto-foto hitam putih di masa silam di pulau Buru dan membacakan puisinya berjudul Dalam Sel dari bukunya Solitude. Biasanya pengarang kiri pilihan karyanya heroik, tapi bukan pada penyair asal Bali ini. Ia mendambakan kesunyian. Hidup di penjara pun ia merasa masih belum menemukan kesunyian. Seperti GM meskipun hidup di Jakarta yang penuh hiruk pikuk, ia merasa sunyi. Marx pernah mengkritik puisi Goethe yang memuji keindahan, Oh, Stassbourg yang indah. 

Matt sebelumnya memberitahu, bahwa Marching itu bekas gurunya bahasa Indonesia di London dulu. Maka ketika Marching turun panggung dan satu gerbang kereta api, aku beritahu hal itu, ia terpana. Tak kusangka usai acara ini tampil tiga perempuan berkebaya. Mereka ibu-ibu asal Hamburg. Tak tanggung-tanggung, Widya Sokka Radja, perempuan berkebaya merah memetik ukulele begitu indah, lagu Genjer-Genjer melantun dengan lantang dari penyanyi asal Tasik Malaya. Seorang ibu dengan selendang di leher berlenggak-lenggok menari, sangat serasi. 

Mendekati pukul sembilan kami hendak pulang. Celaka, koperku masih tertinggal di penitipan dalam gedung. Aku lihat sudah tidak ada orang lagi. Dengan berjalan cepat aku masuk lewat izin satpam, ternyata ada dua gadis kecil masih menunggu satu koperku sendirian. Mereka tak tampak masam, usai aku ambil koper, mereka langsung berkemas akan pulang. Duh, kasihan mereka. 

Di stasiun Frankfurt kami memisahkan diri. Muhidin harus menempuh kereta api yang berjarak sekitar 30 km keluar Frankfurt. Aku dan Usep kembali ke hotel dekat bandara. Malam di hotel aku berlama-lama di komputer lobi hotel. Ternyata ada fasilitas internet gratis. Sempat bertemu mantan guide hutan Bahorok di Medan, tapi sudah puluhan tahun tinggal di Berlin. 
Malam terakhir di Frankfurt terlewati begitu cepat dan aku tidur pukul 03.00. 

Dijambret dan Uang Saku 

Pagi kami hendak menuju ke stasiun Frankfurt, siapa tahu masih bisa bertemu dengan beberapa teman dari Indonesia. Tapi untuk masuk ke Book Fair lagi, sangat tak mungkin. Bus kami akan berangkat dari depan stasiun pukul 12.00. Apalagi kalau lihat berjubelnya orang di Book Fair, bisa-bisa aku tak bisa keluar. Dingin menyelinap pelan-pelan di sekujur tubuh. Usep dan aku sudah berdiri di trotoar menunggu bus ke Zürich. Bus-bus hijau muda sudah berdatangan. Ada yang ke jurusan Praha, Amsterdam, dan Aachen. 3 orang membawa koper besar berbicara bahasa Indonesia di dekatku. Segera terjembatani pembicaraan. 

Mereka dari penerbit universitas UGM. Mereka hendak menghabiskan sisa waktu ke Amsterdam. Salah satu bercerita, kalau ada 20 penerbit asing yang berminat membeli copy right, kebanyakan buku bertema kebudayaan Jawa. Hanya satu penerbit yang sudah tanda tangan. Itu pun bukan tiba-tiba, karena waktu ada pameran di Jakarta sudah mulai ada pembicaraan awal, ungkapnya. Ia menuturkan, ada salah satu teman dari rombongan Indonesia yang uangnya diminta paksa oleh orang asing di stasiun. Ia sendirian, tak ada orang lain. Karena ketakutan maka semua uangnya diberikan. Aku membayangkan, kereta api bawah tanah di stasiun Frankfurt itu betul-betul dalam, sampai lantai 3 di bawah tanah. Tentu saja, jika orang sendirian di lantai paling bawah, betapa mencekam. Apalagi jika belum paham situasi di Eropa. Walau sebetulnya di berbagai tempat stasiun dipasang alarm dan sirine SOS. 

Kemarin aku juga dapat berita, ada seorang yang paspornya hilang. Yang paling menyedihkan, ketika ada seorang pengarang perempuan yang kutanya, dapat uang saku berapa dari panitia ? Dengan muka padam ia sebut, katanya uang sakunya per hari 300 Euro (Sekitar Rp.4.600.000). Tapi uang itu belum diterima, katanya sih dananya belum turun dari pemerintah dan kelak akan ditransfer ke rekeningnya. 

Bus jurusan Praha datang. Empat anak muda energik asal Malang dengan antusias hendak melanglang ke Praha, setelah itu akan ke Swiss. Kenapa Praha? Apakah mereka terprovokasi Franz Kafka atau kumcer Yusri Fajar yang asal Malang berjudul Surat dari Praha? Setelah kutanya, ternyata mereka kenal dengan Yusri Fajar.

Bathinku, pintar anak-anak muda itu, memanfaatkan kesempatan mumpung di Eropa, toh acara sudah selesai. Bus jurusan Zürich datang dan kami pulang. ***

Sigit Susanto, salah satu moderator forum Apresiasi-Sastra di Internet. Sejak tahun 1996 menetap di Switzerland.
*) Penulis, dan salah satu moderator forum Apresiasi-Sastra di Internet. Sejak tahun 1996 menetap di Switzerland.
Leave a Comment
Please feel free to let us know your feeling about this
Your Name
Your Comment
Your Email
Image Verification
Captcha Image Reload Image
Utk ganti paragraf silakan klik
Comments:
10-04-2016
Njoged Mbagong: Tubuh bagai mata air, kreativitas tetap mengalir
di Bangsal Diponegoro, Padepokan Seni Bagong Kussudiardja, Kembaran, Ngestiharjo, Kasihan, Bantul
03-04-2016 s/d 10-04-2016
Air Tanah, Respon Sumber Air Gemulo
di Sumber Air Gemulo, Jl. Bukit Berbunga, Bumiaji, Kota Batu
03-04-2016 s/d 09-04-2016
“RUANG KECIL BICARA”
di Galeri PRABANGKARA (DKJT) Kompleks Taman Budaya Jatim Jl. Gentengkali 85 Surabaya
31-03-2016 s/d 23-04-2016
Pameran Seni Rupa "Art Akulturasi"
di Galeri Seni House of Sampoerna Surabaya
31-03-2016 s/d 15-04-2016
Ketemu AJA: seniman asal Jembrana, Punia Atmaja
di KETEMU PROJECT SPACE Jl Batuyang, Perum Taman Asri 3A Batubulan, Bali
29-03-2016 s/d 11-04-2016
PELEBURAN RUPA, NADA, DAN KATA: A Solo Exhibition by Andra Semesta
di Cemara 6 Art Centre (Galeri) Jl.Hos.Cokroaminoto 9-11, Menteng, Jakarta
04-12-2015 s/d 13-12-2015
Pameran Tunggal EKSPLORASI RASA karya Atty AS
di TEMBI Rumah Budaya jl Parangtritis Km 9,4 Timbulharjo, Sewon, Bantul Yogyakarta.
03-12-2015 s/d 11-12-2015
Pameran Tunggal Herman "Gusher" Widianto: SUMELELEH
di Bentara Budaya Jakarta, Jl. Palmerah Selatan 17, Jakarta 10270
03-12-2015 s/d 05-12-2015
"DYSTOPIA: 1000 ISLANDS", a visual exhibition
di Cata Data, Jl Penestanan Kelod (T-Junction Opp. Pura Dalam Penestanan), Bali
01-12-2015 s/d 10-12-2015
PAMERAN 7RUPA PERUPA
di Museum Senirupa Dan Keramik Jl. Pos Kota No. 2 Jakarta Barat
read more »
Jum'at, 08-04-2016
FBU 2015: Frankfurt Book Unfair 2015
oleh Sigit Susanto
Selasa, 16-02-2016
Tanda Rasa, Tanda Ada
oleh Kuss Indarto
Sabtu, 16-01-2016
Mengejar Hasrat, Menghajar yang Membebat
oleh Kuss Indarto
Minggu, 06-12-2015
Taman Budaya Bukan Taman Makam Budaya
oleh Kuss Indarto
Selasa, 01-12-2015
Pesta Sastra Zofingen 2015: Ekor Frankfurt
oleh Sigit Susanto
read more »
Merajakan Nalar di Tengah Kepungan Hedonisme
oleh Christian Heru Cahyo Saputro
Buku bertajuk: Acropolis (Kerajaan Nalar) yang merupakan kumpulan kolom karya wartawan SKH Lampung Post Heri Wardoyo (HRW) hadir meramaikan pasar wacana. Buku yang berisi kolom-kolom Heri Wardoyo ini pernah dimuat di rubrik ‘Nuansa’ Lampung Post bertitimangsa tahun...
Fantasi Balzac tentang Pulau Jawa
oleh Sigit Susanto
Merajut Masa Depan Bocah Merapi
oleh T. Nugroho Angkasa S.Pd.
Novel Kasongan, Seliat Tanah Liat
oleh R. Toto Sugiharto
read more »
Pameran Besar Seni Rupa Indonesia 2016
Kompetisi Karya Trimatra Salihara 2016
Call for Applications for the Artists in Residence Programme 2016 in Austria
Kompetisi UOB Painting of the Year 2015
BANDUNG CONTEMPORARY ART AWARDS (BaCAA) #04
KOMPETISI SENI LUKIS, MANDIRI ART AWARD 2015
GUDANG GARAM INDONESIA ART AWARD 2015
Dana SAM untuk Seni dan Lingkungan
LOMBA PENULISAN JURNALISTIK
Lomba Foto “Air dan Sanitasi untuk Kehidupan yang Lebih Baik”
read more »
02/05/2016 03:59 | Larry Fox | Apakah Anda mencoba untuk mendapatkan pinjaman dari bank tidak berhasil? Sangat membutuhkan uang untuk keluar dari utang? Butuh uang untuk ekspansi atau pembentukan bisnis Anda sendiri? Mendapatkan pinjaman dari salah satu perusahaan pinjaman terkemuka di Inggris. Untuk informasi lebih lanjut, silahkan hubungi via email: larryfox2016@gmail.com
05/01/2016 15:38 | Kareba Art | Salam, Kami dari Kareba Art Management ingi mengadakan pameran Drwaing. Bagaimana caranya agar kegiatan kami dipublikasikan di Indonesia Art News? Makasih....
06/05/2015 16:11 | EkanantoBudiSantoso | to Pa Andre Galnas,kapan kita reuni mamer bareng temen2x? biar wacananya "dream come true gitu,art new biar juga makin seru kita undang konco2x sy nulis disini juga,thanks att.
06/05/2015 16:03 | EkanantoBudiSantoso | Sy butuh info lomba lukis Mandiri,sebenarnya kompetisi bukan untuk cari "jawara,jati diri dan silaturakhmi perupa sangat perlu"dikembangbiakan biar ngga ego,ah.
10/02/2015 23:32 | icha | saya mw jual brang py kkek msa penjajahan di ambon.... samurai bs ditekuk pjang bget... ada belati kecil beserta bendera jepang msa lampau... ada tulisan di sebuah uukuran kertas seperti kulit binatang tpi tulisan jepang... mhon bntuan nya mau jual saja butuh ug urgent
read more »
About Us
Indonesia Art News merupakan media tentang dinamika seni yang berkait dengan aspek keindonesiaan. Media ini berusaha untuk mengedepankan segi informasi ihwal seni yang dikemas dengan cara pandang kritis dan muatan yang investigative. Indonesia Art News berkedudukan di Yogyakarta, Indonesia
Gabung di Facebook
Buku Tamu
Pengelola IAN
Editor in chief:Kuss Indarto
Editor:R. Toto Sugiarto
Designer:Andika Indrayana
Email - info@indonesiaartnews.or.id