Sabtu, 13 September 2014 - 13:48 WIB
Make A Wish (+ Congratulations)
oleh Dany K. Gunawan
PAMERAN tunggal yang diselenggarakan di Kompleks Perumahan Jl. Sosiologi No.14 atau kita kenal dengan nama S14 – Art Space & Library kali ini, cukup menarik untuk diapresiasi. Anna Josefin adalah seniman muda yang sedang mencoba menemukan kembali gairah keseniannya. Sebelumnya Anna mendedikasikan kiprahnya menjadi seorang pelajar di Magister Seni Rupa ITB dengan...
Pe(s)ta Kecil Seni Rupa Kontemporer Bandung
oleh Dany K. Gunawan
Hari Prast, dan Jokowi dalam Pola Tintin
oleh Kuss Indarto
Tengul: Bertaruh Jelang Pesta Demokrasi
oleh Abah Jajang Kawentar
Ruang untuk Seni Budaya di Era Jokowi-JK
oleh Kuss indarto
  HOME     NEWS     EVENTS     ARTICLES     DIRECTORY     BOOKS     OPPORTUNITIES  
Rabu, 17 September 2014 - 20:54
Metafora Visual Kartun Editorial pada Surat Kabar Jakarta 1950-1957
oleh Priyanto Sunarto
Skema tentang posisi kartun editorial. (repro: kuss indarto)
Pengantar Redaksi: Hari ini, Rabu, 17 September 2014, karikaturis majalah Tempo, Priyanto Sunarto, meninggal dunia dalam usia 67 tahun karena komplikasi diabetes. Selainh sebagai karikaturis dan desainer, almarhum adalah seorang staf pengajar di Fakultas Seni rupa dan Desain, Institut Teknologi Bandung. Bahkan, pada tahun 2005, bapak dari 5 anak ini meraih gelar doktor di almamater yang sama setelah mempertahankan disertasi dengan judul "Metafora Visual Kartun Editorial pada Surat Kabar Jakarta 1950-1957".

Untuk memberi penghormatan yang terakhir kepada almarhum Priyanto Sunarto, redaksi Indonesia Art News menampilkan ringkasan dari disertasi yang bersangkutan. Tentu, kami sadar, ringkasan ini belum cukup memadai untuk dijadikan sebagai bentuk representasi atas pemikiran beliau tenatang kartun editorial. Namun, semoga ini bisa diapresiasi dengan baik. Terima kasih. Redaksi.

***

KARTUN Editorial merupakan kolom gambar sindiran di media massa cetak yang mengomentari berita dan isu yang sedang ramai dibahas di masyarakat. Sebagai editorial visual, kartun tersebut mencerminkan kebijakan dan garis politik media yang memuatnya, sekaligus mencerminkan pula budaya komunikasi masyarakat masanya. Dalam mengungkap komentar, kartun menampilkan masalah tidak secara harfiah tetapi melalui metafora, agar terungkap makna yang tersirat di balik peristiwa. Metafora merupakan pengalihan sebuah simbol (topik) ke sistem simbol lain (kendaraan). Penggabungan dua makna kata / situasi menimbulkan konflik antara persamaan dan perbedaan, hingga terjadi perluasan makna menjadi makna baru. Dalam kartun editorial, metafora visual muncul pada aspek rupa dasar, pada bahasa tubuh, serta pada pengalihan objek dan situasi. Melalui metafora visual pada kartun editorial dapat diteliti situasi sosial dengan sikap emotif kartun.

Penelitian ini mengambil pilihan situasi masa demokrasi Parlementer di Indonesia (1950 – 1957) dengan tujuan memahami bagaimana metafora kartun editorial berelasi dengan situasi politik dan budaya. Berbeda dengan situasi politik pada masa Orde Lama maupun Orde Baru di mana media mendapat represi keras dari penguasa, periode Demokrasi Parlementer  merupakan masa paling dinamis saat mana bangsa Indonesia mulai bereksprimen dengan demokrasi. Sistem parlementer multi partai dengan kekuatan berimbang memicu persaingan antar berbagai faksi politik untuk saling menjatuhkan. Hal itu terbaca melalui polemik terbuka dan keras antar surat kabar di Jakarta masa itu. Dalam suasana demikian kartun editorial muncul sebagai cerminan dinamika politik tersebut. Dalam situasi keterbukaan dapat ditemukan beragam corak metafora visual dan sikap emotif kartun editorial.

Secara umum penelitian menggunakan pendekatan kualitatif, memahami artifak melalui jejaring budaya yang melingkupinya. Sebagai penelitian seni rupa, telaah ini berfokus pada penyingkapan metafora visual dalam kartun editorial dan relasinya dengan situasi politik dan budaya. Hal tersebut dilakukan dengan menelaah segi perupaan pada metafora dari artifak terkumpul pada surat kabar terkemuka di Jakarta, memaparkan situasi politik masa itu, serta latar budaya yang mendasari ungkapan kartun editorial tersebut. Relasi antara situasi politik dan aspek budaya dijadikan acuan untuk menelaah bagaimana ungkapan emotif metafora visual dibangun melalui kartun editorial.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat relasi yang kuat antara kartun editorial dan keberpihakan media, dengan situasi politik dan kebudayaan yang mendukungnya. Keseimbangan situasi politik memberi peluang kebebasan pada kartun editorial mengungkap metafora dengan sikap emotif yang terbuka. Hal itu secara jelas tampak pada hasil ungkapan karya, dilihat dari aspek rupa dasar, ungkapan sikap tubuh, dan tampilan metafora visual.

Sebagai karya yang dilahirkan komunitas urban, kartun menampilkan tanda dan kosa kata yang hidup di budaya masyarakat modern. Meskipun demikian pada beberapa ungkapan karya, penggambaran wajah orang Indonesia dan sistem nilai lokal tetap muncul. Transisi budaya menuju masyarakat urban baru, berdampak kesenjangan antara nilai lokal dengan nilai budaya global baru di Indonesia.

Transisi budaya dan keterbukaan situasi politik memberi peluang kepada suasana emotif yang bebas dalam menampilkan metafora visual pada kartun editorial. Dapat disimpulkan bahwa, sikap emotif pada metafora kartun editorial sangat diwarnai oleh interelasi aspek seni rupa, sosial politik dan nilai budaya masanya.

Pendekatan metodologis penelitian ini dapat pula diterapkan untuk mempelajari relasi metafora dan ungkap emotif dengan situasi masyarakat pada masa yang berbeda, agar memperoleh pemahaman tentang jejaring yang mendukung penciptaan kartun editorial dari masa ke masa. Bagi kartunis, pengamat dan pengguna kartun, kesadaran akan relasi kartun dengan berbagai aspek seni rupa, sosial dan budaya akan meningkatkan wawasan dalam memahami misi sosial kartun editorial.

***

Gambar kartun merupakan karya rupa, yang diungkapkan dan dikomunikasikan melalui bahasa rupa. Tetapi tulisan verbal pun banyak dipakai dalam kartun. Kalau kartun terlalu banyak menggunakan bahasa verbal maka gambar hanyalah unsur penarik dan sekedar situasi tutur, di mana kata-kata menjadi faktor dominan dalam komunikasi. Tarik menarik antara dua cara berbahasa itu sudah terjadi sejak awal kehadiran kartun, dan hal itu tidak lepas dari teknik produksi grafis. Pada masa awal percetakan, teks dan judul selalu berada di luar bidang gambar. Teknik cetak yang menyebabkan harus demikian penampilannya.

Kalau diperhatikan baik-baik karya Ramelan dan Sibarani, kartunis paling produktif dan piawai kurun dasawarsa 1950-1957 itu, ternyata mereka sama sekali tidak menggunakan balon kata. Harian Rakyat dapat dikatakan lebih maju dalam pemanfaatan balon kata. Tetapi ke dua kartunis tersebut pun lebih giat mengolah bahasa rupa, meletakkan teks sebagai pengarah saja tentang maksud dan arah gambarnya. Dalam hal ini Sibarani dan Ramelan pada beberapa karyanya berusaha mengurangi kata sesedikit mungkin, kadang tanpa teks. Hal tersebut bisa dimengerti karena, isu yang digambar sebetulnya sudah tercantum di halaman surat kabar tersebut, dan pembaca sudah mempunyai pengetahuan tentang berita tersebut. Hal ini juga menegaskan bahwa kartun bukanlah penyampai berita, tetapi media menyampaikan tanggapan atas berita yang sedang ramai dibicarakan masyarakat.

Sebenarnya berbeda dengan snapshot fotografi, gambar bukan rekaman apa yang dilihat. Gambar merupakan tanggapan melalui proses seleksi, reduksi dan sikap yang diajukan. Pada kartun editorial semua berita dan ikon berita hingga isu tentang topik telah dipaparkan dalam berita media, baik surat kabar maupun radio. Kartun editorial menanggapi isu yang sedang dibahas di media, memampatkan dan menawarkan opini pada pembaca yang saat itu telah dibekali data tentang isu tersebut. Karena itu kartun editorial selalu kontekstual dengan situasi saat mana dan di mana karya tersebut diciptakan.

Kartun masa Demokrasi Parlementer melempar kritik secara terbuka, kadang langsung kepada tokoh yang dituju. Untuk menegaskan arah kritik label sangat marak digunakan, seakan kartunis khawatir maksud gambarnya tak dikenal pengamat. Meskipun label kadang kesannya berlebihan (overdone), tapi untuk jangka panjang identifikasi verbal menolong pengamat yang sudah jauh melewati masa tersebut agar tetap mengetahui siapa tokoh yang dimaksud. Setelah lewat 50 tahun tak diketahui lagi seperti apa misalnya wajah Burhanuddin Harahap atau Ali Sostroamidjojo. Bila kartun dilihat sebagai dokumen sejarah pencantuman jadi penting. Bila dilihat sebagai karya satire, kecerdikan bermain metafora yang dapat dinikmati oleh pengamat dari masa ke masa menjadi lebih bermanfaat.

Timbul pertanyaan, bagaimana sebenarnya orang membaca kartun, atau gambar apa saja. Banyak teori tentang persepsi membahas ini. Tapi tahap yang sederhana selalu dimulai dengan pertama-tama menangkap apa yang dilihat, digambar secara denotatif (ikon/isi wimba). Semua objek yang digambar direlasikan untuk mendapat pengertian tentang apa yang digambar. Dalam kartun humor relasi ini merupakan tahap pertama disorientasi visual, kejanggalan yang menerbitkan tawa. Humor slapstick menonjolkan lelucon fisik yang denotatif.

Tahap berikut adalah usaha pengamat mengkonotasikan gambar dengan sesuatu yang mungkin tersembunyi di baliknya, mencari perluasan makna gambar. Dalam gambar yang mengundang nilai konotasi, metafora menawarkan persamaan dalam perbedaan antara maksud pesan (topic) dan cara mengatakan (vehicle). Konotasi ini merupakan bagian yang mengasyikkan bagi pengamat. Dalam tebakan selalu ada sebagian hal yang sudah diketahui pengamat, dan sebagian lagi yang menjadi lahan untuk menginterpretasi makna di balik gambar.

Meski demikian, menebak membutuhkan pengetahuan dan kejelian pengamat untuk menggalinya. Tak selalu pengamat bisa menemukannya karena dua kendala. Kendala pertama adalah lingkup pengetahuan dan kecerdikan pengamat untuk menemukan arti metaforik. Berbeda dengan lelucon slapstick yang segera tertangkap lucunya, tidak semua orang memiliki daya imajinasi cukup luas untuk menangkap metafora yang kadang sulit. Kendala lainnya juga adalah perbendaharaan pengetahuan tentang masalah yang diungkap. Sering lelucon dari satu komunitas tak dimengerti pengamat dari latar yang berbeda. Hingga dapat dipahami bahwa sebuah kartun editorial tak universal, karena faktor sistem simbol berbeda-beda dalam proses komunikasi.

Kedua tahap awal di atas yang biasanya dibahas dalam semiotik, mulai dari ikon (juga index dan simbol), kemudian menggali konotasi di balik gambar untuk menemukan makna di balik tanda. Roland Barthes menyebut hal tersebut sebagai Myth atau mitos (Barthes, 1983: 109-134), yaitu membaca ideologi di balik gambar.

Tahapan awal dalam melihat yang jarang diperhatikan, yang sebetulnya lebih dahulu sampai ke mata pengamat daripada dua tahap di atas, adalah penangkapan terhadap bentuk rupa dasar sebuah gambar. Sering elemen rupa dasar ini yang secara tersirat mengungkap aspek emotif gambar, cara menggaris, membentuk gelap-terang dan susunan gambar. Ini berlaku pula pada karya fotografi, karena memotret tidak semata-mata merekam cahaya menjadi gambar. Potret pun pada dasarnya dibangun melalui unsur rupa dasar. Tanpa terlalu disadari natural metaphor mempengaruhi tanggapan pengamat terhadap pesan yang diungkap gambar. Bila “isi wimba” atau objek yang digambar menyuguhkan pada pengamat isi maksud pesan, “cara wimba” atau cara gambar secara subversif mengungkap sisi emotif pesan tersebut.

Secara teknis kartun editorial dari surat kabar Obor Rakjat di atas dianggap lemah, baik dalam penguasaan alat maupun merekam bentuk. Tetapi secara emotif kartun tersebut keras dan pathetic. Kesan sakit bukan saja diakibatkan oleh ikonnya yang lugu tentang seseorang dicekik tangan besar sampai lidahnya keluar. Komposisi diagonal, teknik kuas yang kasar dan naive secara tak disadari (subversif) memancarkan kesan emotif sakit tersebut. Gaya gambar ataupun lukisan naive (Primitive Art) digemari orang karena pancaran emotif yang misterius demikian. Kesan yang sama dijumpai pula pada coretan grafiti di dinding ruang publik.

Kartun editorial kebanyakan menggunakan manusia sebagai pengantar pesan, bentuk ekspresi dan wajah, gerak tubuh menjadi hal pertama ditangkap pengamat. Karena itu kartun mengutamakan distorsi, melebih-lebihkan agar baik secara ikonik maupun secara rupa dasar menggelitik pengamat. Dalam kasus kartun editorial yang diteliti distosi wajah dan tubuh tak banyak dilakukan. Dari kartun yang diteliti, Ramelan yang paling piawai dalam mendistorsi wajah maupun sikap tubuh. Dengan gaya gambar realistis yang pada tahun 1955 dan selanjutnya makin sempurna, Ramelan dapat menggerakkan emosi melalui gerak tubuh yang lucu dan ekstrim.

Pada umumnya dalam pengolahan gestural dan sikap tubuh, kartunis mencoba menggambarkan manusia dalam proporsi anatomi yang realistis melalui teknik kuas dan nada tengah. Jarang ditemukan distorsi yang menyolok seperti yang dilakukan Ramelan. Gaya kartun Jepang yang diperkenalkan oleh Majalah Djawa Baroe dengan kesederhanaan garis outline tak berpengaruh dalam perkembangan kartun editorial di Jakarta. Orientasi secara umum lebih cenderung pada gaya kartun politik Eropa abad-XIX seperti Daumier, Rowlandson, Gilray di mana kepatuhan anatomi dan pemanfaatan nada tengah menjadi perhatian para kartunis.

Kartun-kartun Sibarani dikatakan membawa spirit Gillray (Anderson, 1990:163), karena sinisme ungkapannya, bukan gaya gambarnya. Meski pada beberapa karya Sibarani kadang menggunakan juga garis kuas yang ramai, namun gaya gambar garis penanya yang khas tak ditemui pada kartunis lain masa itu. Tarikan garisnya lebih mirip Georg Grosz, kartunis ekspresionis Jerman di masa menjelang kekuasaan Hitler. Keduanya menggunakan garis yang spontan dan tidak patuh pada hukum realisme, hingga gambar mereka dikenang banyak orang hingga kini.

Dalam pengolahan rupa kartun masa itu pemanfaatan gestural dan distorsi wajah tak terlalu menonjol. Suasana ramai lebih banyak muncul karena penyusunan prinsip rupa dasar yang dinamis. Seperti halnya Ramelan, Sibarani memanfaatkan baik sikap tubuh maupun ekspresi wajah. Melalui gaya gambar garis yang bebas, gerak tubuh pada karya Sibarani sering lentur tidak taat anatomi. Pada olah wajah, Sibarani menggambarkannya lebih garang dan ekspresif, sering malah menyerupai wajah binatang. Itu membuat karyanya unik, tapi juga tak disukai tokoh yang dikritik.

Umumnya kartun editorial masa itu menggunakan manusia dan alam lingkungan nyata sebagai objek dan situasi metaforiknya. Jarang sekali digunakan alam khayal ataupun pengalihan melalui dongeng. Alam nyata memang lebih mudah dicerna pengamat, karena diambil dari situasi aktual sehari-hari. Dongeng dan khayal mungkin menarik, tetapi mengandung jarak aktualitas dengan topik yang diungkap. Apalagi belum tentu dongeng yang dipilih diketahui sebagian besar pengamat.

Kalau dikembalikan pada situasi politik masa Demokrasi Parlementer yang terbuka dan keras, bermetafora melalui manusia dan alam nyata terasa lebih langsung mengenai sasaran, tidak terlalu berputar-putar dalam sindiran. Karena itu tampilan metafora pada kartun masa itu berkesan terbuka, keras dan ramai. Tanpa perlu mengetahui peristiwanya, hanya dari pandangan selintas terhadap seluruh karya melalui tampilan visualnya saja, kesan keras dan ribut nyaris anarkis segera tampak menonjol. Kesan tersebut terutama ditangkap melalui ungkapan metafora objek, situasi dan cara gambar (rupa dasar) yang secara emotif sangat dinamis.

***

Surat kabar yang semula dibuat sebagai media penyebar berita, merupakan media yang meluaskan kemampuan baca-tulis secara luas. Kemampuan ini meningkatkan kecerdasan dan wawasan masyarakat pembaca tentang posisinya dalam sistem sosial. Karena itu surat kabar sering disebut sebagai agen demokratisasi berpikir. Peranan demikian kemudian memposisikan surat kabar bukan hanya media berita saja, tetapi secara sadar dan sistematis sebagai menyebar opini dan pandangan politik pengelola media tersebut.

Sebagai pembentuk opini, surat kabar berinteraksi dengan masyarakat tentang cara “melihat dunia”. Dengan demikian pembaca merasa berperan dalam pilihan pendapat dalam masyarakat, setidaknya partisipasi pasif melalui kesamaan opini dengan apa yang dibacanya. Karena itu surat kabar kemudian berperan pula sebagai kesadaran kelompok. Orang memilih surat kabar bukan hanya karena berita faktual yang ditulis, tetapi juga opini dan kebijakan politik yang sesuai dengan pandangan pembaca.

Pada masa Kebangkitan Nasional di Indonesia surat kabar dimanfaatkan sebagai media perjuangan, semula untuk meminta persamaan hak dan kemudian menuntut kemerdekaan. Posisi surat kabar masa itu adalah pembela nasib pembaca yang merasa terjajah, menghadapi pemerintah yang saat itu menjajah. Sikap dialektik dua pihak ini menjadi semacam kebiasaan surat kabar Indonesia, surat kabar pembela rakyat dan pengkritik penguasa. Masa pendudukan Jepang surat kabar tertutup untuk kritik terhadap penguasa, dan hanya menyerang musuh Jepang yaitu negara-negara Sekutu sebagai musuh luar. Pada masa revolusi pun kritik diarahkan ke luar, yaitu pasukan Sekutu yang membawa Belanda berusaha kembali berkuasa, dan para kolaborator berpihak pada Belanda. Sikap demikian bukan hanya tercermin dari tulisan surat kabar, tetapi juga kartun yang dimuatnya.

Pada masa Demokrasi Parlementer tahun 1950 – 1957 situasi berubah. Setelah musuh dari luar tidak menjadi perhatian karena Indonesia telah diakui kedaulatannya oleh dunia. Masalah beralih kepada bagaimana mengatur jalannya negara, perhatian kepada situasi dalam negeri. Dalam situasi dimana tidak ada pihak yang dominan menguasai opini masyarakat, surat kabar menjadi media untuk menyebarkan pendapat tentang bagaimana seharusnya negeri ini dikelola. Disinilah kemudian faksi-faksi politik memanfaatkan surat kabar untuk mempengaruhi opini dan membina kelompok masyarakat yang sependapat dalam aspirasi politik.

Dari surat kabar yang dibahas dalam penelitian ini, surat kabar Suluh Indonesia dan Merdeka merupakan media bagi pembaca golongan nasionalis. Harian Rakyat dan Bintang Timur merupakan media golongan kiri. Abadi menjadi lawan politik membawa suara golongan beragama. Indonesia Raya yang merupakan surat kabar independen merupakan media penyeimbang yang berpihak pada golongan agama dan sosialis kanan, juga militer yang menjadi musuh golongan kiri. Pedoman berusaha tetap netral sebagai koran independen, dan mengarahkan opininya sebagai pemberi masukan berupa kritik pada pemerintah.

Sejak awal misi kartun editorial sudah terbentuk sebagai media kritik. Kehadiran kartun di surat kabar pun dilihat sebagai media kritik. Banyak orang yang masih menggunakan istilah karikatur karena, gambar sindiran demikian pada dasarnya adalah gambaran karikatural (distorsi) bukan cuma tokoh tapi juga distorsi situasi masyarakat. Sebagai misal, “Surabaya” karya sastrawan Idrus, atau juga “Bunga Rumah Makan” karya Utuy Tatang Sontani sering disebut sebagai karya sastra karikatur masyarakat. Karena itulah kartun editorial, yang oleh sebagian masyarakat masih disebut karikatur, seakan tampil dalam peranan sebagai karya satire sosial atau media mengkritik.

Kartun editorial dipandang sebagai lahan untuk melempar kritik. Melalui bentuknya yang visual dan total maka ungkapannya segera dapat ditangkap dibandingkan tulisan yang linear. Kekuatan ini yang dimanfaatkan surat kabar untuk menampilkan opini. Kartun menjadi opini visual dari pandangan dan kebijakan surat kabar. Kartun editorial dalam posisi ini dimanfaatkan sebagai media kritik terhadap kebijakan maupun ideologi yang tak sepaham, pun pihak lawan politik yang kebetulan sedang berkuasa. Dalam situasi politik yang berimbang, nyaris tak ada tekanan untuk beropini terbuka. Ungkapan kritik bukan ditujukan hanya kepada pihak dan tokoh yang dikritik, tetapi terutama kepada sesama pembaca yang sepihak dengan ideologi surat kabar tersebut. Kartun menjadi penyebar opini dan pembina keberpihakan.

Sebagai surat kabar partisan PNI, Suluh Indonesia selalu membela apapun yang dilakukan tokoh-tokoh PNI, dan mencela apapun yang dilakukan lawan politiknya. Sikap hitam putihnya nyaris mirip Harian Rakyat. Tetapi Suluh Indonesia lebih percaya diri karena didukung partai terbesar kedua setelah Masjumi. Bahkan setelah NU keluar dari Masjumi dan membentuk partai sendiri, PNI secara de facto menjadi golongan terkuat. Meskipun Sukarno menanggalkan keanggotaan dalam PNI karena menjadi presiden, simpatinya pada PNI tak bisa dirahasiakan. Kepercayaan diri ini membuat Suluh Indonesia lebih berani terbuka mengkritik lawan politiknya.

Masyarakat pembaca Suluh Indonesia adalah terutama simpatisan PNI yang terdiri dari pejabat pemerintah, kaum priyayi non muslim, dan kaum nasionalis. Mereka adalah kaum intelektual yang sudah terbina lama sejak masa pergerakan, berpendidikan baik, sadar politik, pengagum buah pikiran Sukarno dan cenderung chauvinistic kepada rasa nasionalisme Indonesia. Garis politik surat kabar ini pun mengikuti pikiran tersebut, menganggap lawan golongan yang kurang nasionalis, terutama organisasi muslim yang menentang sekularisme. Siapapun lawan yang muncul di surat kabar ini selalu dijadikan sasaran ejekan.

Kartun Ramelan di Suluh Indonesia memperlihatkan selalu sikap demikian bila mengomentari pihak lawan, Masjumi dan PSI. Menjadi wakil ideologi paling dominan (karena posisi Sukarno sebagai presiden), surat kabar ini menggunakan kartun juga sebagai media menyebar pujian kepada program pemerintah. Ini terutama tampak pada tahun 1955 – 1957, saat mana PNI sudah jelas menjadi pemenang Pemilihan Umum. Metafora sebagai ungkapan emotif pujian tampak pada kartun Jembatan “Dewan Nasional”. Surat kabar Merdeka sebagai sesama pembela pikiran Sukarno menampilkan pula kartun pujian “gerakan Hidup Baru”. Kartun di Suluh Indonesia juga dimanfaatkan untuk dukungan dalam pemilihan umum. Dalam kartun demikian yang digunakan adalah metafora beku. Tetapi berbeda dengan kias beku di Harian Rakyat, kartun kampanye sebagai media persuasi menekankan sikap emotif yang positif, harmonis dan optimis.

Berbeda dengan kartun kritik politik, karya Ramelan dalam kartun kampanye menampilkan sikap emotif yang berbeda. Metafora yang digunakan pun berbeda dengan kartun kritiknya yang selain segar juga unik mengolah berbagai kendaraan kias Indonesia. Metafora yang digunakan dalam kampanye ini adalah metafora beku tentang pengalihan dan pewakilan golongan sasaran kampanye: pelajar, pemuda pemudi kota, buruh, tani dan tentara. Sebagai sarana pembujuk, kartun menampilkan representasi sasaran dalam sikap emotif yang positif. Dari kasus ini terlihat bahwa kartunis tidak membawa pendapatnya sendiri, tetapi bergantung kepada misi apa yang harus disampaikan kepada khalayaknya. Metafora dan sikap emotif disesuaikan dengan tujuan pesan.

Sebagai pengimbang terhadap gerakan golongan kiri, Indonesia Raya mengarahkan pangsanya kepada kaum intelektual kota yang berhaluan kanan. Indonesia Raya lebih bebas beropini dan mengkritik siapapun. Sikap terbuka ini menjadi ciri  pandangan demokratis Indonesia Raya, mengambil kebijakan demokrasi di negara maju yang lebih dulu menerapkan sistem demokrasi demikian. Kartun Indonesia Raya secara jelas mengkritik pernikahan Presiden dengan Hartini.

Berbeda dengan surat kabar Pedoman dan Abadi yang meski cenderung sehaluan tetapi bersikap hati-hati dengan metafora yang tidak terlalu frontal, Indonesia Raya lebih jelas dan langsung menyerang subjek kritiknya. Metafora yang digunakan lebih keras, bersikap menantang. Sikap bermetafora keras demikian menjadi pengimbang kekerasan yang dilakukan lawan politik mereka.

Meski Harian Rakyat dan Bintang Timur sama-sama surat kabar kiri, tapi dalam ungkapan metafora kartun nampak perbedaan yang menyolok. Hampir semua kartun Harian Rakyat melihat situasi sebagai konflik dialektik, kawan dan lawan. Dalam penampilan metafora pun seragam; rakyat selalu digambarkan sebagai kurus kecil, pejabat berdasi, berjas dan berperut buncit, buruh berbadan besar dan gagah. Konsep hitam putih demikian mengingatkan pada konsep Realisme Sosial yang dikembangkan pada awal kekuasaan komunis di Uni Soviet.

Orang telanjang dada berbadan besar dan garang digunakan untuk mencitrakan penindasan (tanpa baju, miskin) dan kekuatan (gagah), dan siap melawan musuh (garang membawa palu). Kepribadian yang ditawarkan ditiupkan kepada pembaca untuk siap berperang (agresif). Kepada siapa sikap agresif itu ditujukan dijelaskan melalui penggambaran metaforik “Uncle Sam” dan pejabat berperut buncit. Metafora beku dalam strategi ini digunakan karena tidak untuk kesenangan menebak, tetapi pada sikap emotif yang hitam-putih mengenai “realitas” yang dihadapi pembaca. Disini terlihat bahwa metafora sebagai redeskripsi realitas (seperti yang disampaikan Paul Ricouer tentang metafora) dimanfaatkan untuk menawarkan pandangan ideologis terhadap suatu situasi, mengubah dan memperkeras tanggapan emotif tentang sesuatu. Penyeragaman tanggapan melalui metafora melalui media massa melahirkan kekuatan dukungan politik masyarakat seikhwan.

Meskipun sesama media kiri, Bintang Timur menampilkan ungkapan metafora yang berbeda sejak kartun diisi secara tetap oleh Sibarani pada tahun 1954. Gaya gambar maupun gaya ungkapnya terlihat lebih nakal dan beragam. Sumber metafora dapat diambil dari mana saja tanpa terlalu memperlihatkan sikap dialektik seperti Harian Rakyat. Metafora yang digunakan di Bintang Timur kadang sangat intelek dan mengambil sumber kendaraan dari budaya Barat seperti, Kuda Troya, Walt Disney, Romulus dan Remus. Dengan demikian dapat diperkirakan pembaca pun dari kaum terpelajar berpendidikan Barat yang cenderung ke kiri. Pilihan kebijakan demikian tidak diperuntukkan untuk menggalang  kekuatan massa. Bintang Timur lebih cenderung menggoda kaum terpelajar melalui kacamata golongan kiri untuk mendapat dukungan moral kaum elite intelektual. Karena itu metafora yang diungkapkan nakal dan mengejek lawan ideologisnya, sosialis kanan dan militer. Sikap emotif yang dibangun adalah tanggapan sinis kepada pokok pikiran dan perilaku lawan. Melalui metafora yang bermain dengan pikiran tersebut dibina sikap kritis pembaca, tetap dalam kerangka ideologi komunis.

Perbedaan konsep kartun dan metafora pada kedua media di atas menjadi menarik kalau direlasikan dengan konsep kesenian kaum komunis. Partai Komunis Internasional menggariskan konsep keseniannya dengan “Realisme Sosial”. Kesenian harus mengabdi pada rakyat, dapat dipahami dan memberi semangat kesatuan (kaum buruh) dalam menghadapi musuh bersama, kaum kapitalis. Karena itu karya realisme sosial selalu menonjolkan dua hal: membangkitkan rasa bangga pada golongan pekerja untuk lebih giat “membangun negara”, dan waspada terhadap musuh bersama, kaum kapitalis dan kaum borjuis.

Karena itu dalam karya visual realisme sosial, kaum buruh digambar berbadan besar dan berwajah optimis untuk memotivasi pendukungnya. Dalam menampilkan dialektik kaya dan miskin, diperlihatkan kesenjangannya agar mengundang rasa benci kepada Metafora bukan saja beku tetapi juga dipoles sedemikian rupa supaya memberi kesan emotif yang sama pada khalayak luas. Setelah Uni Soviet bubar, gaya visual demikian masih terlihat pada media propaganda Republik Rakyat Cina.

Dalam konteks demikian sebenarnya karya Sibarani berada di luar konsep kesenian Realisme Sosial yang digunakan dalam visualisasi di Harian Rakjat. Kelincahan bermain metafora yang membutuhkan intelektualitas tinggi tidak masuk dalam konsep karya dialektik Komunisme Internasional. Tetapi bahkan pada beberapa seniman yang berpandangan kiri masa Demokrasi Parlementer pun tampaknya tidak mengikuti konsep tersebut. Beberapa pelukis Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat) seperti Tarmizi dengan lukisan realisme dan dialektik memperlihatkan kesetiaan pada konsep Realisme Sosial. Hendra Gunawan dan Batara Lubis memperlihatkan kecenderungan berbeda ke arah ekspresif ataupun dekoratif. Dilihat dari sisi konseptual demikian, dapat dikatakan Bintang Timur (dan Sibarani) tidak sepenuhnya mengikuti garis kesenian Realisme Sosial. Meski sepaham dalam politik, di Indonesia tak ada kewajiban untuk mengikuti kebijakan kesenian partai demikian.

Dari berbagai bahasan aspek politik, terlihat bahwa kartun editorial bertugas sebagai pembawa misi ideologi surat kabar, pengimbang atau penyerang sikap berlawanan dari musuh ideologinya. Pada suasana politik seperti itu, secara emotif metafora telah digunakan secara efektif untuk melemparkan citra buruk (atau baik) pada tokoh politik tertentu. Baik penciptaan simbol maupun pengartian terhadap simbol dibaca dari kaca mata politik pengamat. Sebuah simbol nilainya menjadi relatif, tergantung pada siapa yang membacanya. Interaksi simbolik demikian menyebabkan sebuah simbol dapat dibaca berbeda-beda, sesuai latar belakang ideologi kelompok tertentu. Hal itu tampak nyata dalam situasi politik masa Demokrasi parlementer tersebut.

***

Seperti telah diutarakan terdahulu, kebudayaan merupakan jejaring makna yang dibangun sebuah masyarakat untuk menjaga sistem nilai dan sistem sosialnya (Geertz, 1973: 446-448). Sebuah sistem sosial terikat oleh berbagai nilai moral (baik-buruk), etika (pantas - tak pantas) dan estetika (bagus - jelek). Nilai demikian yang diperlukan oleh sebuah masyarakat sebagai pengikat dalam melangsungkan kehidupannya. Sistem sosial sebuah masyarakat lebih nyata berupa aturan dan tata cara dalam berinteraksi antar individu maupun kelompok yang disepakati bersama. Kebudayaan dalam ritus dan artifak mungkin terlihat kasat mata. Tetapi nilai budaya yang menjadi payung dari perilaku masyarakat lebih bersifat samar, tak mudah dilihat.

Sistem nilai dan sistem simbol merupakan pengejawantahan dari nilai budaya yang berada di balik kehidupan bermasyarakat. Masyarakat dan budayanya bukan sesuatu yang sifatnya tetap, selalu terjadi perkembangan dan perubahan. Perubahan sangat tergantung dari masalah internal yang terjadi di masyarakat itu sendiri, ataupun dari interaksi dengan masyarakat dari budaya berbeda. Perubahan tersebut sedikit banyak, lambat atau cepat berpengaruh pula pada sistem nilai dan sistem simbol yang dianut. Dalam kerangka yang dinamik inilah sistem simbol dalam komunikasi sebuah masyarakat bekerja.

Sejak digalakkannya pendidikan di masa politik etis, sedikit demi sedikit kebudayaan Barat pun masuk ke dalam masyarakat golongan terpelajar Indonesia. Karena itu setelah merdeka sebagian dari diri mereka sudah terbiasa dengan kebudayaan Barat. Sistem sosial yang diterapkan sejak masa administratif Hindia Belanda adalah sistem kolonial. Hal ini masih tercermin dalam sistem administrasi pemerintahan yang digunakan sesudah merdeka. Tetapi karena pemerintah Kolonial tidak pernah masuk terlalu dalam ke sistem sosial masyarakat tradisional, maka budaya dan sistem masyarakat tradisi masih terpelihara. Masyarakat Indonesia pada awal kemerdekaan berada dalam dua sistem tersebut, perangkat administratif modern yang diwarisi dari pemerintah kolonial, dan budaya tradisi yang sangat kaya ragamnya di Nusantara.

Pembaca surat kabar di Jakarta adalah masyarakat urban yang berpendidikan Barat. Tetapi mereka juga berasal dari masyarakat yang masih terikat pada tradisi. Dalam kehidupan perkotaan kedua budaya tersebut menjadikan masyarakat yang dualistis dan longgar ikatan sosialnya. Banyak novel masa Pujangga Baru menggambarkan secara dramatik dikotomi budaya ini. Lebih rumit lagi, Jakarta sebagai ibu kota menjadi pusat berkumpul masyarakat dari berbagai kelompok kepentingan ekonomi dan ideologi. Pun Jakarta menjadi tempat yang menampung aneka ragam masyarakat dengan tingkat ekonomi yang berbeda. Kesenjangan ikatan sosial budaya mengakibatkan mudah timbul ketegangan antar kelompok.

Dalam situasi demikianlah surat kabar dan kartun editorial di Jakarta menjalankan misi sosial politiknya. Karena berada di tengah masyarakat urban, maka tampilan kartun editorial pun sangat dipengaruhi oleh budaya modern, hampir 99% memakai latar artifak kehidupan modern. Penggunaan bahasa asing juga biasa digunakan karena merupakan bahasa pengantar ke dua setelah bahasa Indonesia. Banyak kelompok masyarakat masih menggunakan bahasa Belanda atau Inggris dalam pergaulan lisan sehari-hari.

Meskipun bahasa Indonesia resmi menjadi konsensus nasional, banyak kartun dan tulisan menampilkan penggunaan bahasa slang, bahasa pasar. Hal ini merupakan cerminan dari sikap yang lebih santai dalam menyampaikan kritik. Di mana pesan yang disampaikan menjadi  tak terlalu serius seperti dalam bahasa resmi. Hal demikian juga dapat ditafsirkan sebagai adanya perbedaan strata dalam berbahasa. Ben Anderson mengindikasikan bahwa bahasa Indonesia resmi kemudian seakan menjadi bahasa Kraton (seperti Krama Inggil dalam budaya Jawa) yang digunakan dalam pergaulan resmi kaum elite di kota besar, di samping bahasa Belanda.

Secara tersirat ditafsirkan bahwa pemerintahan di Indonesia sedikit banyak dibayangi konsep feodalisme Jawa, melalui istilah, upacara dan pemakaian bahasa. Sistem demokrasi yang menjadi cita-cita kemerdekaan tidak bisa segera menghapus adat kebiasaan feodal yang sudah meresap lama di negeri ini. Ritual kenegaraan menunjukkan indikasi demikian. Sebagai masyarakat kota yang egaliter, bahasa resmi mengandung sifat emotif yang kaku dan berjarak, dan dmembawa bayangan kelas di atas. Karena itu kartun (dan sentilan pojok koran) sengaja menggunakan bahasa pasar (ngoko) untuk memperlihatkan dua hal, mewakili suara orang jalanan, dan menunjukkan sikap demokratis.

Kalau kebudayaan dilihat sebagai sistem nilai, beberapa kartun dalam mengungkap topiknya menampilkan gambar yang menurut adab ketimuran (tradisi) terlihat kurang pantas, seperti orang telanjang, menduduki kepala orang, menjilat kaki. Pengungkapan seperti ini semakin kuat menunjukkan suasana bebas yang dinikmati para kartunis editorial masa itu. Pada kebudayaan urban ukuran menjadi lebih longgar, hingga norma tak terlalu diikat oleh tradisi. Masyarakat pembaca surat kabar rata-rata berpendidikan Barat, dan tidak terlalu mengikatkan diri dengan tradisi asalnya.

Metafora yang banyak muncul pasa masa itu untuk mengkonotasikan topik adalah dengan mengambil dari judul filem (Hollywood) yang sedang diputar di Jakarta. Karena aktualitasnya, pengamat dapat segera merelasikan metafora yang dimaksud dalam kartun. Melihat cukup banyak metafora dengan filem pada kartun masa Demokrasi Parlementer, bisa diketahui kuatnya peredaran filem Hollywood di Indonesia, sehingga terekam dalam memori masyarakat perkotaan. Penetrasi budaya filem di Indonesia sudah dimulai sejak awal abad-XX. Pergi ke bioskop adalah kebiasaan masyarakat Belanda dan Indis di perkotaan. Surat kabar mengiklankan dan mengulas tentang filem setiap hari. Sebagai budaya baru, menonton dan membahas filem menjadi kebutuhan pada seseorang, baik petikan hikmah filem tersebut, maupun sebagai aktualisasi diri dalam bermasyarakat.

Tetapi menggunakan filem yang sedang beredar untuk menjadi kendaraan metafora menyulitkan bagi pengamat yang tidak menonton filem tersebut dan pengamat yang berada di masa datang. Kalau hanya diambil judulnya saja untuk membandingkan antara topik dengan judul filem, pengamat masih bisa mengerti. Tetapi pengamat yang tidak melihat filemnya tidak dapat lebih dalam memaknai hubungan tersebut. Pengamat hanya menangkap kulitnya saja, topik dengan judul. Kartun memang diciptakan dan ditanggapi untuk suatu masyarakat di tempat dan masa tertentu, karena itu tidak menjadi masalah untuk kontekstual dengan masanya.

Dalam penggambaran binatang terdapat beda perlakuan dalam sistem nilai metafora kartun. Dalam kehidupan tradisi di Indonesia, binatang kadang dijadikan simbol untuk sesuatu yang dijunjung tinggi, seperti misalnya kerbau di sisa budaya megalith Indonesia, burung Rangkong di suku Dayak Kalimantan, kelelawar di suku Asmat. Pengalihan pada binatang juga dipakai oleh masyarakat Indonesia pada masa sekarang, Siliwangi menggunakan harimau, PNI memakai banteng, pasukan Artileri menggunakan semut. Masjumi dengan onta, PKI dengan beruang.

Hanya sedikit kartun yang muncul pada masa Demokrasi Parlementer berani menampilkan binatang sebagai pengalihan seorang tokoh. Harian Abadi (Masjumi) menggambarkan Syafruddin dan Rasuna Said sebagai ikan dan kucing. Kesan pengalihan itu tampak hati-hati, seakan kepala ditempel ke kucing dan ikan, mimiknya pun baik. Suara Rakyat lebih kejam menggambarkan Simbolon sebagai monyet buruk. Demikian pula Bintang Timur mengkiaskan para jenderal pembangkang sebagai babi kecil yang diperdayai serigala (dipinjam dari komik Walt Disney). Terasa sekali tujuan mengejek dari kartun tersebut. Abadi sebagai surat kabar Muslim, lebih berhati-hati dalam mengalihkan seorang tokoh ke binatang, dibandingkan Suara Rakyat dan Bintang Timur yang sekular. Perbedaan aspirasi surat kabar melatari juga perbedaan tata nilai budaya visual.

Abadi hanya sekali menggunakan binatang sebagai ganti seseorang tokoh. Suluh Indonesia dan Harian Rakyat lebih bebas menggunakan  binatang. Sibarani merupakan kartunis yang paling berani mengalihkan tokoh ke binatang. Sibarani di Bintang Timur pernah menggambarkan Bung Hatta sebagai anjing yang menyusui dua tokoh PRRI. Di surat kabar Bintang Timur 23 Juli 1957 Sibarani harus membuat artikel untuk menjawab protes Bung Hatta sangat tersinggung disamakan dengan binatang. Menurut Sibarani, gagasan itu diambil dari legenda serigala yang menyusui Romulus dan Remus pendiri kota Roma. Meskipun kehidupan masyarakat sangat dipengaruhi oleh kebudayaan modern Barat, tetapi tetap ada sistem nilai yang bertahan seperti dalam kasus penggambaran binatang tersebut. Orang tak dapat menerima dirinya digambarkan sebagai binatang, meski dapat menerima metafora binatang sebagai penggambaran karakter suatu profesi (Profesor: burung hantu) ataupun aspirasi kelompok (nasionalis: banteng).

Pemanfaatan binatang sebagai penggambaran sifat kelompok berubah dari masa ke masa. Pada tahun 1950an koruptor selalu digambar sebagai sebagai kucing, pada pameran Pakarti di Ubud Februari 2005, hampir semua kartunis dari seratus kartunis Indonesia menggambarkan koruptor sebagai tikus. Perbedaan makna metaforik kucing menjadi tikus amat berbeda. Kucing merupakan binatang yang kesannya secara fisik halus, jinak dan baik. Di balik sikap manisnya, kucing menyimpan sifat licik dan pencuri. Tikus memang dikenal sebagai binatang liar pencuri, yang secara fisik pun tak indah. Perubahan metafora kucing menjadi tikus memperlihatkan pula pandangan metaforik terhadap koruptor, yang tadinya seakan baik tetapi licik kemudian disamakan dengan makhluk liar yang jelek. Terjadi pula perubahan sikap emotif terhadap koruptor. Penilaian koruptor dalam sistem nilai budaya menjadi lebih buruk (tikus) daripada masa koruptor dimetaforakan sebagai kucing. Ini pun jadi semacam redeskripsi, karena koruptor dan perilakunya tidak berubah. Yang berubah adalah deskripsi metaforik terhadap realitas tersebut.

Sikap emotif dalam bermetafora bukan hanya dilihat dari pilihan objek, tapi juga cara memperlakukan objek dan pemanfaatan unsur rupa dasar. Dua kartun di atas memilih anjing sebagai kendaraan metaforik dengan pendekatan yang jauh berbeda. Dari cara menggambar menunjukkan Ramelan menampakkan wujud apik, sementara Sibarani menampilkan garis kasar. Ramelan hanya menyepertikan sebagai anjing (simile) hingga ada jarak (sintagmatik). Sibarani menggabung keduanya, topik dan kendaraan, dalam satu makna metaforik (paragidmatik). Ramelan menyindir, sedang Sibarani membalik seluruh eksistensi manusia dan anjing. Keduanya memancarkan sikap emotif yang berbeda.

Sikap semacam itu menunjukkan sikap budaya berbeda antara simile dengan metafora. Pada simile Ramelan masih terlihat adanya tenggang rasa untuk berkata langsung. Pada metafora Sibarani lebih tegas menyatakan melalui pembalikan. Sikap santun memilih pemisalan, sedang sikap terbuka memilih ungkapan jelas.  

Dari pemaparan data didapatkan bahwa, lebih banyak artifak budaya Barat atau modern digunakan pada pilihan objek maupun situasi. Tapi dari pilihan manusia yang ditampilkan hampir seluruh kartun menunjukkan pilihan fisiognomi etnis lokal sebagai sosok tokoh kartun. Dengan menggunakan gaya realistis kartun berusaha menangkap realitas sekeliling, termasuk manusia yang hidup di lingkungan nyata. Karena itu objek gambar manusia pun adalah manusia yang hidup di lingkungan Jakarta, orang Indonesia. Tak ada kecenderungan memandang profil ras Barat sebagai sosok ideal. Hal ini juga terlihat di dalam iklan surat kabar yang menggunakan ilustrasi gambar tangan sosok dengan wajah lokal, baik wajah maupun cara berpakaian. Profil demikian bahkan tampak pada bintang filem Indonesia terkenal masa itu seperti Roekiah, Nurnaningsih, Aminah Tjenderakasih, Bambang Hermanto, Soekarno M. Noer. Dalam hal sosok wajah, masyarakat Indonesia bangga pada sosok fisiknya.

Kebanggaan demikian muncul karena saat itu Indonesia baru lepas dari penjajahan melalui perjuangan yang keras dan penuh darah. Menjadi pemenang dalam perjuangan demikian merupakan prestasi tersendiri. Karena itulah bangsa Indonesia saat itu senang dengan sosoknya sendiri dan bahasanya sendiri. Tetapi di Jakarta orang hidup dalam situasi budaya urban, di mana sistem sosial, kebutuhan sosial dan ekonomi mengikuti gaya hidup perkotaan yang nyaris sama di mana pun. Budaya artifak seperti kebutuhan sehari-hari adalah benda-benda urban. Karena itu kartun pun menangkap realita demikian dalam tampilannya.

Kalau hanya dari tampilan artifak yang muncul masa itu, diperoleh kesan bahwa Jakarta sepenuhnya adalah komunitas masyarakat urban mulai mengglobal masa itu. Namun dari aspek sistem nilai dan etika, nampak masih terdapat kesenjangan untuk sepenuhnya mengikuti norma modern. Dari beberapa kasus, dapat disimpulkan bahwa sebagian masyarakat urban pun masih terikat pada sistem nilai setempat. Dari cara surat kabar dan kartun menyampaikan aspirasi sosial politiknya, kesenjangan demikian terlihat. Abadi dan Pedoman berhati-hati dalam menimbang nilai budaya lokal. Tetapi surat kabar lain bersikap lebih longgar pada sistem nilai baru. Perbedaan demikian memperlihatkan bahwa, masyarakat urban Jakarta mengalami transisi dalam menjalani sistem nilai budaya barunya.

***

Dari paparan di atas dapat disimpulkan bahwa ungkapan metafora kartun editorial sangat berelasi dengan situasi kebudayaan setempat, bekerja melalui bahasa dan sistem simbol yang sedang berlaku dalam mengungkap aspirasi maupun sikap emotif kelompok yang diwakilinya.

Dasar penciptaan kartun editorial adalah pengungkapan aspirasi kelompok dalam sebuah situasi sosial tertentu. Situasi sosial tidak homogen, tapi terdiri dari berbagai kelompok kepentingan yang secara dinamis berinteraksi mepertahankan kepentingan masing-masing, sambil menjaga keutuhan sistem sosialnya. Interaksi dapat berjalan baik bila dijaga melalui kesepakatan nilai-nilai bersama, yaitu nilai budaya. Dalam lingkup demikian karya kartun mengemban tugas sosial kelompok tertentu dengan berpedoman pada sistem nilai budaya yang menaunginya.

Pada Demokrasi Parlementer situasi sosial belum sepenuhnya terbentuk, karena merupakan transisi dari situasi masa lalu yang berbeda (penjajahan). Dalam pencarian bentuk berbagai faksi dan ideologi saling beradu. Situasi persaingan ketat berelasi dengan bentuk metafora dan sikap emotif yang diungkap dalam komunikasi politik Dalam situasi demikian diharapkan nilai budaya yang dimiliki sebuah komunitas dapat menjadi acuan dalam menjaga kehidupan bermasyarakat.

Kembali pada pertanyaan awal, bagaimana metafora dan sikap emotif muncul pada kartun editorial, maka peranannya terlihat melalui dua jalur berbeda yang merelasikan situasi politik dan nilai budaya. Kartun dilahirkan dari situasi sosial, mewakili kelompok politik untuk menyampaikan aspirasinya. Aspirasi tersebut mempertimbangkan sistem nilai yang berlaku dalam kebudayaan suatu komunitas. Hal tersebut diperlihatkan melalui garis tengah vertikal pada skema (lihat foto di atas).

Untuk menyampaikan aspirasi digunakan bahasa dan sistem simbol yang berlaku dalam sebuah komunitas (kurva kiri). Aspirasi tersebut ditampilkan melalui metafora yang dapat dimengerti dan diterima oleh sistem simbol dalam perbendaharaan tertentu. Permainan metaforik tersebut mengumpan kartun editorial dengan kendaraan metaforik yang ditampilkan.

Dalam menyampaikan aspirasi, penyampaian merupakan sikap politik (emotif) suatu kelompok. Sikap tersebut dilatari oleh karakter kelompok, tanggapan terhadap peristiwa, dan tata nilai budaya yang dianut dalam sebuah komunitas. Hal tersebut diperlihatkan melalui kurva kanan, di mana karakter, sikap kelompok dan tata nilai budaya mewarnai sikap emotif yang diungkapkan. Sisi emotif mengumpan segi sikap yang ditampilkan kartun.

Baik metafora maupun sikap emotif diungkapkan karun editorial melalui olahan rupa dasar, olah gestural dan pengalihan metaforik. Kartun editorial merupakan fusi atau pemampatan dari masukan keempat komponen tersebut, hingga menghasilkan karya yang menggunakan metafora yang sesuai dengan aspirasi politik dan sistem nilai budayanya untuk mengungkap sikap emotif suatu kelompok politik. Seperti diketahui, situasi politik dan kebudayaan tidak bersifat tetap. Perubahan pada kedua sisi atas dan bawah itu membawa pula perobahan konstelasi komponen di dalamnya.

Sebuah kartun editorial lahir dari aspirasi politik yang mengungkap sistem sosial politik yang berlaku. Melalui sistem simbol budaya kartun editorial mengungkap metafora.  Melalui nilai-nilai budaya kartun editorial mengungkap sikap emotif terhadap topik yang diungkap. Pergeseran atau pun perubahan pada sistem sosial ataupun nilai budaya akan berelasi dengan seluruh sistem tersebut, dan berakibat pada penampilan kartun editorialnya.
***

Melalui penelitian yang ini tampak relasi yang kuat antara kartun editorial dengan sistem politik dan lingkup budaya yang menaunginya. Relasi tersebut  tampak dalam keragaman metafora visual yang diciptakan dan sikap emotif yang ditampilkan kartun editorial masa tersebut. Keberimbangan politik memberi peluang besar pada keterbukaan menyampaikan sikap emotif melalui metafora kartun.

Kecenderungan gaya kartun editorial yang sangat dominan masa itu adalah pada wimba realistis dengan teknik garis dan nada tengah. Hal tersebut menempatkan distorsi Sibarani sebagai anomali. Secara umum kartun lelucon (gag cartoon) masa itu menggunakan teknik garis, yang mana tampak pula pada kartun lelucon Sibarani masa awal karirnya. Tapi tampilan kartun editorial Sibarani juga memakai garis dan nada tengah, seakan dibedakan antara lelucon (sederhana) dengan kartun editorial (lebih “berat”). Setelah menetap di Bintang Timur, garis sederhana dengan distorsi anatomis menjadi karakteristik kartun editorial beliau.

Bahkan kalau ditarik ke masa selanjutnya, banyak kartunis pada awal masa Orde Baru memperlihatkan ciri yang sama dengan gaya Sibarani. Kartunis pers mahasiswa seperti Harjadi S., T. Soetanto, Sanento Yuliman dan Keulman memperlihatkan ciri yang mirip dengan Sibarani, dalam gaya gambar maupun sikap nakalnya. Sejak masa Orde Baru makin jarang kartunis mengikuti gaya realistis seperti Ramelan. Kebanyakan kartunis masa Orde Baru memilih teknik garis dan distorsi, meski berbeda dengan gaya yang diperkenalkan Sibarani. Bagaimana relasi antara kedua masa itu dapat menjadi penelitian tersendiri yang menarik.

Meninjau kartun editorial pada masa Demokrasi Parlementer dapat diketahui bahwa pendukungnya (pengirim maupun penerima) adalah masyarakat urban baru yang hidup dalam budaya modern. Hal itu tercermin dari dua hal; sistem politik (liberal) yang mendasari ungkapan kartun, dan khasanah yang terdapat dalam komunitas kebudayaan di mana kartun memilih kendaraan ungkap (metafora). Meskipun ikon yang digunakan merupakan artifak budaya modern, namun dalam pilihan ungkapan beberapa kasus masih terikat dengan sistem nilai dalam tradisi budaya setempat. Ungkapan lokal tampak pula pada pilihan figur yang muncul pada tampilan kartun, ciri karakter etnis Indonesia muncul sangat kuat.

Ciri demikian merupakan semangat negara muda mempertahankan nasionalisme yang diperolehnya; kesatuan bangsa, kepribadian nasional, kebudayaan sendiri, dan nilai tradisi yang dijaga. Meski ada kesenjangan nilai di sana-sini, tampilan kartun editorial masa itu menunjukkan kecintaan pada penggambaran manusia (etnik) dan artifak budaya Indonesia. Artifak budaya luar diterima oleh komunitas masyarakat urban Jakarta tanpa meninggalkan ciri nasionalisnya. Ketegangan dan kesenjangan sistem nilai budaya yang terjadi karena pilihan metafora ataupun sikap emotif merupakan hal yang wajar pada masyarakat urban baru, di mana sistem nilai berada dalam transisi. Jakarta sebagai ibukota negara menjadi titik berkumpulnya berbagai aspirasi budaya Nusantara dan berdatangnya berbagai pengaruh dari luar. Transisi akibat pertemuan berbagai budaya tak pernah berakhir pada masyarakat kota yang terbuka dan selalu berubah, membuka sikap yang lebih permisif pada nilai baru.

Situasi budaya demikian didukung keterbukaan politik melahirkan bentuk, corak dan penggunaan metafora sangat diwarnai oleh dinamika aspirasi berbagai faksi politik masa Demokrasi Parlementer. Secara umum metafora yang muncul pada kartun editorial bersifat terang-terangan, bahkan dimanfaatkan untuk mengejek. Hal ini dimungkinkan karena kekuatan politik antar kelompok seimbang (simetris), hingga tak ada pihak yang dapat mendominasi pendapat umum.

Keberimbangan dan keterbukaan melahirkan aneka metafora yang mencerminkan juga keterbukaan sistem simbol dan tata nilai masyarakat, hingga memberi peluang pilihan metafora dan ungkapan sikap emotif. Sikap emotif diwarnai oleh sikap ideologi/aspirasi surat kabar (partisan maupun non partai) dan sikap politik surat kabar terhadap isu yang muncul. Situasi terbuka dan seimbang memberi keleluasaan pada kartun editorial untuk mengungkap secara sangat terbuka sikap emotif terhadap topik yang dikritik. Sikap frontal ini tampak dalam pilihan metafora; baik perupaan, tampilan gestural maupun pengalihan objek dan situasi.

Ungkapan emotif yang berani seperti itu muncul dari situasi tanpa tekanan politik dan keterbukaan budaya komunitasnya. Menjelang akhir masa Demokrasi Parlementer mulai tampak perubahan sikap emotif sebagai akibat keguncangan sistem politik yang makin tak seimbang. Ketidakseimbangan politik berdampak kepada dominasi satu golongan terhadap golongan lain. Tekanan ini berakibat kepada terhambatnya keterbukaan berpendapat, baik untuk masyarakat umum, maupun media. Dalam situasi demikian kartun editorial menjadi terbatas mengungkap masalah. Kritik akan dibatasi dan dilakukan secara sangat hati-hati, metafora tersamar muncul pada masa represi demikian.

Situasi demikian secara tak sadar melahirkan kartun yang memandang peranannya sebagai kritikus pemerintah, melihat hanya dari dua kutub, pemerintah dan yang diperintah. Pandangan seperti ini memiskinkan horison kritik kartun. Suasana terbuka dan berimbang seharusnya melahirkan keberagaman sasaran kritik, metafora dan sikap emotif. Meskipun demikian, pada era reformasi saat ini kebanyakan kartun masih terjebak oleh pandangan mendua tersebut, hanya berperan sebagai kritikus terhadap pemerintah.

Apa yang terjadi pada masa Demokrasi Parlementer dapat jadi pelajaran mengenai peranan kritik dan sikap terbuka kartun editorial, di mana subjek kritik dapat sangat beragam ke segala arah. Sikap emotif demikian sangat terbatas pada era Orde Baru. Karena itu kartun editorial Pasca Demokrasi Parlementer dapat menjadi bahan penelitian lanjut, untuk memahami bagaimana perubahan sosial-politik dan budaya berdampak pada metafora dan sikap emotif kartun editorial dari masa ke masa.

Sebagai penelitian metafora visual dalam interelasi dengan politik dan budaya, metodologi penelitian ini bisa disempurnakan agar mendapatkan hasil lebih mantap. Dengan mengembangkan variabel pada skema proses metafora (gambar V.1) dapat diteliti karya komunikasi visual lain yang menampilkan metafora dalam ungkapannya. Dasar skematiknya tetap sama yaitu, aspek emotif aspirasi dan aspek komunikasi metaforik (verbal/visual) sangat berelasi dengan nilai budaya dan situasi sosiologis, kapan dan di mana suatu karya dilahirkan.

***

Penelitian ini masih dapat dilanjutkan ke kartun masa sebelumnya dan sesudah Demokrasi Parlementer. Inventarisasi artifak dan data historiografi dimungkinkan untuk memetakan perkembangan kartun editorial di Indonesia, baik segi metafora visual maupun ungkapan emotif, hingga dapat dibaca naik turunnya keterbukaan dan keberanian dalam mengekspresikan diri masyarakat melalui metafora kartun.

Penelitian ini baru merupakan usaha awal memahami metafora visual dalam seni rupa. Dalam kenyataan sehari-hari metafora visual sangat sering muncul pula dalam karya komunikasi visual dan seni rupa pada umumnya. Penelitian lanjut mengenai metafora visual dapat pula dilakukan pada berbagai fenomena perupaan, melalui pendekatan seni rupa dan kebudayaan yang komprehensif.

Melalui kajian metafora visual pada kartun dapat dipahami pentingnya olah pikiran (metafora) dalam berkarya. Kartunis disarankan dengan cerdik memanfaatkan daya metafora, melalui pengetahuan budaya komunikasi masyarakat dan kepekaan membaca situasi dalam menimbang aspek emotif yang sesuai untuk sebuah isu, agar piawai dalam memanfaatkan metafora visual sebagai “gudang senjata” untuk mempertajam kritik. Itulah tantangan kreatif kartunis editorial dari waktu ke waktu. ***
*) Karikaturis majalah Tempo
Leave a Comment
Please feel free to let us know your feeling about this
Your Name
Your Comment
Your Email
Image Verification
Captcha Image Reload Image
Utk ganti paragraf silakan klik
Comments:
19-09-2014 s/d 20-09-2014
Lauching Komik "SI KANCIL"
di Smesco Exhibition Hall Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12710
18-09-2014 s/d 09-10-2014
“Pra Event Geneng Street Art Project#2” Launching Film Dokumenter dan Pameran Karya Seni Rupa
di ViaVia Jogja Jalan Prawirotaman, Kota Yogyakarta 55153
15-09-2014 s/d 21-09-2014
PASAR YAKOPAN
di Bentara Budaya Yogyakarta, Jl. Suroto No. 2, Kotabaru, Yogyakarta
06-09-2014 s/d 28-09-2014
"Things Happen When We Remember" - Pameran Tunggal FX Harsono
di Jl. Bukit Pakar Timur No.100, Bandung, Indonesia 40198
06-09-2014 s/d 12-09-2014
Pameran Tunggal Faizal “The World of Faizal: Revival”
di Taman Budaya Yogyakarta, Jl. Sriwedani No. 1, Gondomanan, Yogyakarta
06-09-2014 s/d 05-10-2014
PLACE THE KING IN THE RIGHT POSITION, Solo Exhibition by Franziska Fennert
di Lawangwangi, Jl. Dago Giri 99, Bandung, INDONESIA
04-09-2014 s/d 07-09-2014
FESTIVAL MUSEUM 2014
di Pendopo Agung Taman Siswa, Jl. Taman Siswa, Yogyakarta
04-09-2014
MAEM MENDUT #4: WORO LEGI
di Teater Kebun, STSI Bandung, Jl. Buahbatu No. 212 Bandung
02-09-2014
Dialog Budaya & Gelar Seni “YogyaSemesta” Seri-70
di Bangsal Kepatihan, Danurejan, Yogyakarta
02-09-2014
Pameran Perupa Muda CUT n REMIX
di Jogja Gallery Jl. Pekapalan 7, Alun-alun Utara, Yogyakarta 55000
read more »
Rabu, 17-09-2014
Metafora Visual Kartun Editorial pada Surat Kabar Jakarta 1950-1957
oleh Priyanto Sunarto
Senin, 15-09-2014
Pelukis Faizal
oleh Mikke Susanto
Senin, 08-09-2014
Dari Ruang Tamu Seorang Seniman
oleh Ivan Sagita
Selasa, 26-08-2014
Pupuk dan Seni Rupa Indonesia
oleh Jim Supangkat
Jum'at, 08-08-2014
Politisasi Pakaian Bung Karno
oleh Deni S. Jusmani
read more »
Merajakan Nalar di Tengah Kepungan Hedonisme
oleh Christian Heru Cahyo Saputro
Buku bertajuk: Acropolis (Kerajaan Nalar) yang merupakan kumpulan kolom karya wartawan SKH Lampung Post Heri Wardoyo (HRW) hadir meramaikan pasar wacana. Buku yang berisi kolom-kolom Heri Wardoyo ini pernah dimuat di rubrik ‘Nuansa’ Lampung Post bertitimangsa tahun...
Fantasi Balzac tentang Pulau Jawa
oleh Sigit Susanto
Merajut Masa Depan Bocah Merapi
oleh T. Nugroho Angkasa S.Pd.
Novel Kasongan, Seliat Tanah Liat
oleh R. Toto Sugiharto
read more »
LOMBA PENULISAN JURNALISTIK
Lomba Foto “Air dan Sanitasi untuk Kehidupan yang Lebih Baik”
6th Beijing International Art Biennale 2015
Sayembara Cipta Kreasi Motif Batik Seragam Dinas Harian RSUP Dr Kariadi 2014
Lomba Desain Sepatu Tingkat Nasional 2014
LOMBA DESAIN MURAL GALERI NASIONAL INDONESIA 2014
LOMBA CIPTA SENI BATIK NUSANTARA 2014
The 4th Bangkok Triennale International: Print and Drawing
Iver Jåks Artist-In-Residency Program 2014
UNDANGAN Pameran Seni Rupa Karya Guru Seni Budaya “GURU SENI BERLARI” - GALERI NASIONAL INDONESIA
read more »
18/09/2014 21:34 | gamejudipokeronline | http://gamejudipokeronline.blogspot.com/2014/09/alamat-alternatif-rgo-togel.html http://gamejudipokeronline.blogspot.com/2014/09/jaya-poker-lebih-fresh-dan-mantap.html http://gamejudipokeronline.blogspot.com/2014/09/alamat-alternatif-jaya-togel.html http://gamejudipokeronline.blogspot.com/2014/09/alamat-alternatif-dewa-togel.html http://gamejudipokeronline.blogspot.com/2014/09/alamat-alternatif-togel-cc.html http://gamejudipokeronline.blogspot.com/2014/09/alamat-alternatif-eyang-togel.html http://gamejudipokeronline.blogspot.com/2014/09/alamat-alternatif-8togel.html http://gamejudipokeronline.blogspot.com/2014/09/poker-club88-game-judi-poker-online.html http://gamejudipokeronline.blogspot.com/2014/09/poker-ace99-game-judi-poker-online.html http://gamejudipokeronline.blogspot.com/2014/09/alamat-alternatif-afa-poker.html http://gamejudipokeronline.blogspot.com/2014/09/alamat-alternatif-texaspoker-cc.html http://gamejudipokeronline.blogspot.com/2014/09/jaya-poker-game-judi-poker-online.html http://gamejudipokeronline.blogspot.com/2014/09/batik-poker-game-judi-poker-online.html http://gamejudipokeronline.blogspot.com/2014/08/poker-boya-game-judi-poker-online.html http://gamejudipokeronline.blogspot.com/2014/08/texaspokercc-game-judi-poker-online.html http://gamejudipokeronline.blogspot.com/2014/08/apakah-rgo-poker-pakai-robot-atau-ada.html http://gamejudipokeronline.blogspot.com/2014/05/alamat-alternatif-totojitu.html http://gamejudipokeronline.blogspot.com/2014/05/alamat-alternatif-kaskus.html http://gamejudipokeronline.blogspot.com/2014/05/alamat-alternatif-horas-poker.html http://gamejudipokeronline.blogspot.com/2014/05/alamat-alternatif-dewa-poker_12.html http://gamejudipokeronline.blogspot.com/2014/05/alamat-alternatif-afa-poker.html http://gamejudipokeronline.blogspot.com/2014/05/gitar-poker-game-judi-poker-online.html http://gamejudipokeronline.blogspot.com/2014/05/alamat-alternatif-gitar-poker.html http://gamejudipokeronline.blogspot.com/2014/05/video-rgo-poker-game-judi-poker-online.html http://gamejudipokeronline.blogspot.com/2014/05/rgo-poker-game-judi-poker-online.html http://gamejudipokeronline.blogspot.com/2014/04/video-gitar-poker-game-judi-poker-online.html http://gamejudipokeronline.blogspot.com/2014/04/alamat-alternatif-rgo-poker.html http://gamejudipokeronline.blogspot.com/2014/04/alamat-alternatif-batik-poker.html http://gamejudipokeronline.blogspot.com/2014/04/alamat-alternatif-eyang-poker.html http://gamejudipokeronline.blogspot.com/2014/04/alamat-alternatif-jaya-poker.html http://gamejudipokeronline.blogspot.com/2014/04/game-judi-poker-online-referral-poker.html http://gamejudipokeronline.blogspot.com/2014/04/game-judi-poker-online-poker-online.html http://gamejudipokeronline.blogspot.com/2014/04/afa-poker-poker-online-indonesia.html http://gamejudipokeronline.blogspot.com/2014/04/alamat-alternatif-poker-cc.html http://gamejudipokeronline.blogspot.com/2014/04/kesulitan-mengakses-situs-warung-poker.html http://gamejudipokeronline.blogspot.com/2014/04/judi-poker-online-indonesia.html http://gamejudipokeronline.blogspot.com/2014/04/permainan-judi-poker-online.html http://gamejudipokeronline.blogspot.com/2014/04/gagal-login-warung-poker.html http://gamejudipokeronline.blogspot.com/2014/04/alamat-alternatif-resmi-warung-poker.html http://gamejudipokeronline.blogspot.com/2014/04/cara-bermain-judi-poker-online.html http://gamejudipokeronline.blogspot.com/2014/04/situs-online-poker.html http://gamejudipokeronline.blogspot.com/2014/04/judi-poker-online-terpercaya.html http://gamejudipokeronline.blogspot.com/2014/04/bandar-poker-online.html http://gamejudipokeronline.blogspot.com/2014/04/cara-bermain-poker-indonesia.html http://gamejudipokeronline.blogspot.com/2014/04/cara-deposit-poker-online.html http://gamejudipokeronline.blogspot.com/2014/04/cara-agar-menang-bermain-poker.html http://gamejudipokeronline.blogspot.com/2014/04/game-poker-online-bca.html http://gamejudipokeronline.blogspot.com/2014/04/game-judi-online-poker.html http://gamejudipokeronline.blogspot.com/2014/04/alamat-alternatif-poker-boya.html http://gamejudipokeronline.blogspot.com/2014/04/alamat-alternatif-warung-poker.html http://gamejudipokeronline.blogspot.com/2014/04/panduan-bermain-poker.html http://gamejudipokeronline.blogspot.com/2014/02/situs-judi-poker-online-terbaik.html http://gamejudipokeronline.blogspot.com/2014/01/solusi-nawala-internet-positif-game.html http://gamejudipokeronline.blogspot.com/2014/01/website-poker-online-indonesia-prediksi.html http://gamejudipokeronline.blogspot.com/2014/01/permainan-poker-uang-asli.html
05/08/2014 18:31 | jupri abdullah | tururt bergabung sebagai media komunikasi seni rupa
04/07/2014 03:04 | Rev. Ana cole | Apakah Anda perlu bantuan keuangan/pinjaman untuk melunasi tagihan Anda, mulai atau memperluas bisnis Anda? Roya pinjaman perusahaan telah terakreditasi oleh kreditur Dewan memberikan pinjaman pinjaman persentase untuk klien lokal dan internasional. Mohon jawaban jika tertarik. Terima kasih. Wahyu Ana cole Telp: + 447012955490 Email:roya_loans@rocketmail.com
23/06/2014 12:22 | Danielbudi | Salam kenal saya pelukis asal Solo-Jawatengah mohon infonya jika ada pengumuman atau berita perihal kompetisi lukis yang terbaru sehingga saya tidak ketinggalan beritanya terimakasih.
17/06/2014 19:53 | WP | Saya merasa website ini juga berkait dengan aspek keindonesiaan: www.wayangpuki.com. Saya dan kawan2 tidak habis diskusi tentang intinya. Mungkin menarik untuk Anda? Salam.
read more »
About Us
Indonesia Art News merupakan media tentang dinamika seni yang berkait dengan aspek keindonesiaan. Media ini berusaha untuk mengedepankan segi informasi ihwal seni yang dikemas dengan cara pandang kritis dan muatan yang investigative. Indonesia Art News berkedudukan di Yogyakarta, Indonesia
Gabung di Facebook
Buku Tamu
Pengelola IAN
Editor in chief:Kuss Indarto
Editor:R. Toto Sugiarto
Designer:Andika Indrayana
Email - info@indonesiaartnews.or.id