HOME     NEWS     EVENTS     ARTICLES     DIRECTORY     BOOKS     OPPORTUNITIES  
   
Menguak Sejarah Keroncong dari Kampung Tugu
Judul Buku:Krontjog Toegoe
Penulis:Victor Ganap
Penerbit:Badan Penelitian ISI Yogyakarta
Cetakan:1, 2011
Tebal Buku:xx + 281 halaman
PENULIS buku ini yakin, keroncong asli Indonesia. Tetapi, keroncong memiliki unsur musik Portugis abad ke-16 yang dipengaruhi budaya islami bangsa Moor di Afrika Utara.

Kami tinggal dalam satoe kampong jang ketjil jang terseboet Toegoe, dan ada dalam bilangan district Beccasie afdeeling Meester Cornelis. Kampong Toegoe itu ada dekat pinggir laoet dan hawa oedara disana ada panas. Aer boewat minoem itoe soesah sebab seomoer-omoer banjak jang aernja asin. (Schurchardt, 1892)

Perdebatan “genetika” asal muasal lahirnya keroncong masih diwarnai tiga kubu. Pertama, adalah kubu yang pro Portugis sebagai pengimpor keroncong. Kedua adalah pro Indonesia, dan ketiga adalah campuran keduanya (hibrida). Mana yang benar? Victor Ganap, penulis buku Krontjong Toegoe (BP ISI Yogyakarta, 2011) ini meyakini, keroncong adalah tulen, asli Indonesia, yang sama sekali berbeda dengan musik-musik dari portugis. Bahkan di Portugal (nama sekarang dari Portugis), tidak ditemukan musik keroncong seperti yang kita kenal di Indonesia.
 
Komunitas Tugu

Komunitas Tugu (Toegoe dalam ejaan lama), adalah asal muasal sejarah itu. Kampung Tugu terletak di kawasan pantai utara Jakarta, di sebelah timur wilayah Tanjung Priok yang sejak tahun 1883 ditetapkan sebagai bandar pelabuhan kota Jakarta menggantikan pelabuhan Sunda Kelapa atau Jayakarta. Kampung Tugu merupakan wilayah paling tua di Jakarta, yang diperkirakan mulai dihuni sejak ribuan tahun yang lalu (hal. 23).


Tidak mengherankan, sebagai wilayah tertua dan memiliki peninggalan historis-musikal yang kental, Toegoe, menurut Andre Juan Michiels, yang kini sebagai pemimpin kelompok Keroncong Toegoe, selalu menjadi objek empuk bagi para peneliti kebudayaan dan musik khususnya. Kita akan banyak menemukan informasi menarik dalam buku setebal 281 halaman ini. Buku yang berangkat dari disertasi Victor Ganap ini disertai dengan data-data yang komprehensif, dengan riset yang telah dilakukan sejak tahun 1998.

Nama Krontjong Toegoe  dalam khasanah musik Indonesia telah memperoleh jatidirinya tersendiri, sebagai jenis musik keroncong yang dilahirkan dari komunitas Kampung Tugu. Sejauh ini tidak terdapat data yang pasti sejak kapan Krontjong Toegoe itu dilahirkan, kecuali mengacu pada periode sejarah tahun 1661 ketika Kampung Tugu pertama kalinya dihuni oleh 23 keluarga asal Goa dan Pulau Banda berdasarkan politik pemukiman VOC terhadap mereka (hal. 98).

Dalam perspektif musikologis, sejarah keroncong bisa dilacak dari musik tradisional maupun lagu-tarian Portugis yang ada dan dimainkan di abad ke-17. Misalnya Fado de Coimbra, sebuah musik tradisional dari Coimbra, kota terbesar setelah Lisbon, ibu kota Portugal. Ada juga Camélias, yang merupakan tarian rakyat. Selain sudah tentu Lagu Moresco dan Kr. (Keroncong) Moresco, sebagai bukti kuat turunan sejarah kesenian bangsa Moor. Lagu Kr. Moresco pun terkenal di kalangan para pemusik keroncong masa kini, dan populer sebagai bentuk keroncong asli. Adalah maestro Kusbini yang pertama-kali memperkenalkan lagu Moresco ini ke khalayak. Kesimpulan yang disampaikan Victor Ganap, musik keroncong Indonesia memiliki unsur musik Portugis abad ke-16 yang dipengaruhi budaya Islami bangsa Moor dari Afrika Utara yang masuk dan berkembang di Portugal.

Salah satu bagian unik dari sejarah Krontjong Toegoe ini adalah masuknya musik keroncong ke kampung Tugu, yang dibawa oleh para laskar Portugis asal Goa yang bertugas di Pulau Banda bersama keluarga mereka orang pribumi Banda. Mereka merupakan orang pelarian dari Banda ketika pulau itu diserbu oleh VOC pada tahun 1620-an. Dalam pelarian itu kapal mereka rusak dan karam di pantai Cilincing.  Mereka ditangkap VOC lalu dibebaskan setelah berpindah agama sesuai perjanjian. Mereka menjadi orang merdeka dan dibuang ke Kampung Tugu. Mereka adalah pemukim pertama yang mendiami kampung Tugu (hal. 238).

Yang Khas dari Krontjong Toegoe

Apa yang menarik dari Krontjong Toegoe? Selain karena regenerasi ratusan tahun, Krontjong Toegoe memiliki kekhasan pola permainan (gaya Jakarta) yang berbeda dengan gaya permainan Solo, Yogyakarta. Dua kota terakhir disebut adalah kota ikon dari pertumbuhan keroncong terbesar saat ini di Indonesia. Data 2009, sedikitnya ada 90-an grup keroncong di Yogyakarta, dan di Solo jumlahnya menjacapai 120-an.


Penulis berkesempatan untuk mendapatkan CD album Krontjong Toegoe yang berjudul “Oud Batavia-Cafrinho” yang diberikan langsung oleh Andre Juan Michiels, pimpinan Krontjong Toegoe saat ini. Apabila kita mendengar 12 lagu yang terekam di dalamnya, kiat bisa mendengarkan keunikan tersendiri dalam pola tabuh permainan-permainan alat keroncong seperti selo yang khas, juga ukulele. Lagu yang termaktub dalam album tersebut berbahasa Indonesia, Belanda dan Portugis. Terbit 2010 dan tidak dijual umum kecuali sebagai souvenir. Anda perlu mendengar “Oud Batavia” maupun “Cafrinho”. “Datanglah ke Kampung Tugu, saya beri gratis album ini”, pesan Andre Juan Michiels.

Buku yang dibagi ke dalam lima bab ini, meskipun komprehensif karena memuat data-data ilmiah yang bisa dipertanggungjawabkan, namun masih terdapat banyak kekurangan, terutama dalam hal lay-outing atau penataan paragraf. Di banyak tempat, paragraf disusun terlalu panjang tanpa pemenggalan. Frasering kurang diperhatikan. Sehingga, membaca buku ini mungkin bisa cepat lelah. Tetapi apa pun kelemahan yang pasti terjadi, buku ini tetap menjadi referensi yang wajib bagi para sejarahwan maupun peneliti yang tertarik membahas keroncong. ***

(Naskah ini telah dimuat di harian Jawa Pos, Oktober 2011. Mengingat pentingnya catatan & buku ini, redaksi menganggap perlu pemuatan naskah ini. Terima kasih)

Anda bisa melihat informasi lebih jauh tentang Krontjong Toegoe dengan mengunjungi situs www.krontjongtoegoe.com
oleh Erie Setiawan, Alumnus Studi Musikologi di Institut Seni Indonesia Yogyakarta (2008). Pendiri Forum Studi Musik Turanggalila (2007) & staf Arsip “Art Music Today” (mulai 2008). Saat ini bekerja di Research and Development Sekolah Musik Indonesia.
Leave a Comment
Please feel free to let us know your feeling about this
Your Name
Your Comment
Your Email
Utk ganti paragraf silakan klik
Comments:
Sabtu, 11 Januari 2014 - 20:23
sugeng santoso - sugengsan62@gmail.com
Saya juga penggemar semua jenis musik, memang keroncong mengandung melodi yang menyentuh perasaan, bila bisa meresapi secara mendalam. Saya juga mengajar musik gitar, keyboard, suling dan harmonica. Saya ciptakan teori !0 Hours System, dan teori ini sudah banyak yang berhasil dengan mempelajarinya. Pak saya mau tanya tentang judul lagu, dengan Lirik awalnya " Bang Samiun Tukang Becak " dengan not 56 13 5 7i 665 lagu ini pernah ngetop tahun 1967. Untuk lebih jelasnya kita bisa bicara per telepon HP saya 08113439548 dan 088803146691, kalau pakai smartfren lebih baik/ free charge Okey Thanks saya tunggu balasan Anda
Senin, 07 Oktober 2013 - 07:49
sugeng santaoso - sugengsan62@gmail.com
Saya mohon bantuan untuk Tahu JUDUL Lagu yg satu ini Bang Samiun tukang be- cak l .5 6_1 3_ 5 7_ i 6 l 6_5 . . tempo=moderato Bar=4/4 Irama Kroncong
Senin, 07 Oktober 2013 - 07:44
sugeng santoso - sugengsan62@gmail.com
Saya mohon bantuan untuk tahu JUDUL Lagu yg satu ini Bang Samiun tukang be- cak l .5 6_1 3_5 7_ i 6 l 6_5 . .
Rabu, 02 Oktober 2013 - 06:29
sugeng santoso - sugengsan62@gmail.com
Saya musisi yg juga menyukai keroncong, saya pernah beli kaset irama keroncong kuno. Tapi saat ini tak ada lagi yg jual kaset semacam itu.Ada keroncong udah pake gitar elektrik, shg ke asliannya hilang, sayang kalo tak dipelihara bisa musnah termakan Zaman.
28-04-2014 s/d 03-05-2014
"Okomama: Bianglala Rupa Flobamorata", Pameran Keliling Koleksi Pilihan Galeri Nasional Indonesia dan karya seniman NTT
di Taman Budaya Nusa Tenggara Timur, Kupang
26-04-2014
Jagongan Wagen Edisi April 2014: NGGARAP(i) Kenyataan
di Padepokan Seni Bagong Kussudiardja. Dusun Kembaran RT 04/ RW 05 Bantul, DI Yogyakarta
23-04-2014
Useful Thinking: on Evaluating Community Arts for Social Change
di Indonesia Visual Arts Archive (IVAA) Jalan Ireda, Gang Hiperkes MG I/ 188 A-B Kampung Dipowinatan, Keparakan Yogyakarta 55152, Indonesia Tel./Fax: +62 274 375 262
23-04-2014
Pentas Wayang Manuk
di Balai Soedjatmoko, Jl. Slamet Riyadi, Solo.
22-04-2014 s/d 27-04-2014
Pameran Seni Rupa "PRASANGKA MEMBAWA NIKMAT"
di JOGJA GALLERY, Jl. Pekapalan, Alun-alun Utara no.7 Yogyakarta, Indonesia
21-04-2014 s/d 30-04-2014
Pembukaan pameran karya seni untuk novel "NAWUNG: Putri Malu dari Jawa"
di Tirana Artspace. Jl Suryodiningratan 53-55 Yogyakarta
20-04-2014
Diskusi "DISCOURSE OF THE PAST"
di The READING ROOM, Jl Kemang Timur 57 Jaksel
19-04-2014
KONSER MUSIC BATAK " Di Jou Au Mulak"
di Pusat Kebudayaan Koesnadi Hardja Soemantri (Purna Budaya) UGM
15-04-2014
Simposium INISIATIF WARGA DALAM SENI DAN SAINS
di Auditorium Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada Jl. Flora, Bulaksumur, Yogyakarta
15-04-2014
Pembukaan NALARROEPA Ruang Seni dan Pameran Seni Rupa MJK club
di Karangjati RT.05, RW. XI. Tamantirto, Kasihan, Bantul, Yogyakarta
read more »
Sabtu, 19-04-2014
Dari Dunia Pengkoleksian Seni Rupa Indonesia
oleh Syakieb Sungkar
Minggu, 13-04-2014
Upacara Tradisional, Kohesi Sosial, dan Bangunan Kebangsaan
oleh Ayu Sutarto
Selasa, 01-04-2014
Membela dengan Sastra (Sebuah Pidato Kebudayaan)
oleh Ahmad Tohari
Rabu, 26-03-2014
Warisan Demokrasi Gorontalo
oleh Hasanuddin
Selasa, 18-03-2014
Demokrasi Berbudaya Minahasa
oleh Jultje Rattu
read more »
Merajakan Nalar di Tengah Kepungan Hedonisme
oleh Christian Heru Cahyo Saputro
Buku bertajuk: Acropolis (Kerajaan Nalar) yang merupakan kumpulan kolom karya wartawan SKH Lampung Post Heri Wardoyo (HRW) hadir meramaikan pasar wacana. Buku yang berisi kolom-kolom Heri Wardoyo ini pernah dimuat di rubrik ‘Nuansa’ Lampung Post bertitimangsa tahun...
Fantasi Balzac tentang Pulau Jawa
oleh Sigit Susanto
Merajut Masa Depan Bocah Merapi
oleh T. Nugroho Angkasa S.Pd.
Novel Kasongan, Seliat Tanah Liat
oleh R. Toto Sugiharto
read more »
Lomba Foto “Air dan Sanitasi untuk Kehidupan yang Lebih Baik”
6th Beijing International Art Biennale 2015
Sayembara Cipta Kreasi Motif Batik Seragam Dinas Harian RSUP Dr Kariadi 2014
Lomba Desain Sepatu Tingkat Nasional 2014
LOMBA DESAIN MURAL GALERI NASIONAL INDONESIA 2014
LOMBA CIPTA SENI BATIK NUSANTARA 2014
The 4th Bangkok Triennale International: Print and Drawing
Iver Jåks Artist-In-Residency Program 2014
UNDANGAN Pameran Seni Rupa Karya Guru Seni Budaya “GURU SENI BERLARI” - GALERI NASIONAL INDONESIA
Grants for Media Art 2014 of the Foundation of Lower Saxony at the Edith-Russ-Haus, Germany
read more »
20/04/2014 09:31 | Syakieb Sungkar | terima kasih
20/04/2014 09:27 | Syakieb Sungkar |
07/04/2014 00:46 | abdul aziz | mohon bantuan untuk penerbitan buku topeng blantek
03/04/2014 21:13 | Aprimas | Selamat dan Sukses untuk "Guru" Seni Rupa di seluruh Indonesia, Smoga kedepan semakin kreatif, produktif dan inovatif, sehingga dapat sebagai acuan dan pacuan kreativitas bagi generasi masa epan,...Salam
15/03/2014 18:09 | Lilik Indrawati | Ok. I will tray... matur nuwun Pak Kuss.
read more »
About Us
Indonesia Art News merupakan media tentang dinamika seni yang berkait dengan aspek keindonesiaan. Media ini berusaha untuk mengedepankan segi informasi ihwal seni yang dikemas dengan cara pandang kritis dan muatan yang investigative. Indonesia Art News berkedudukan di Yogyakarta, Indonesia
Gabung di Facebook
Buku Tamu
Pengelola IAN
Editor in chief:Kuss Indarto
Editor:R. Toto Sugiarto
Designer:Andika Indrayana
Email - info@indonesiaartnews.or.id