HOME     NEWS     EVENTS     ARTICLES     DIRECTORY     BOOKS     OPPORTUNITIES  
   
Merajut Masa Depan Bocah Merapi
Judul Buku:Tapak Romo Kir
Penulis:Kumpulan Tulisan Wartawan
Penerbit:Waktoe, Magelang
Cetakan:1/Februari 2012, 0000
Tebal Buku:xx + 273 halaman
POLOS nian ekpresi anak-anak lereng Merapi, walau sebenarnya mereka geram menyaksikan penambangan pasir yang merusak alam desa Sumber, Muntilan, Jawa Tengah. Maka, tatkala bocah-bocah tersebut berpapasan dengan truk-truk penjarah pasir di jalan, tanpa ada yang mengkomando mereka sontak terdiam. Lantas, apakah anak-anak desa itu kemudian melempari batu? Ternyata tidak, mereka hanya tak mau mengeluarkan sepatah kata pun. Tetapi begitu terbebas dari pandangan yang menyiksa itu, mereka kembali berlarian, bersenda-gurau, dan bersiul gembira.

Begitulah penuturan Romo Vincentius Kirjito Pr selaku "pamong" mereka. Putra pasangan Kromo Pawiro dan Padinem ini merupakan alumni Seminari Tinggi Kentungan, Yogyakarta. Ada satu prinsip yang menarik untuk dicermati. Baginya, media massa bukan sekadar “panggung” untuk pemberitaan sebagai seorang pesohor.

Dalam konteks ini, sungguh berbeda dengan kecenderungan para elit politik yang 'hobi" menggelar konferensi pers. Paderi desa kelahiran Menoreh, 18 November 1953 tersebut memaknai interaksi dengan media massa tak cukup sekadar menjalin komunikasi antara seorang berjubah dengan pekerja pers. Kenapa? Karena ini lebih merupakan srawung (interaksi) antarmanusia yang berkehendak baik.

Pastor Praja (Pr) Keuskupan Agung Semarang (KAS) ini mengaku terinspirasi dari petuah Romo Y.B. Mangunwijaya. Pada 1987 silam, tepatnya di Salam, kabupaten Magelang, ada pelatihan terkait tugas-tugas Imam di dalam masyarakat. Mendiang Romo Mangun berpesan, “Imam Praja itu punya kesempatan bagus untuk dekat dengan masyarakat, merasakan denyut nadi, suka-duka masyarakat.

Dalam sistem politik yang semakin menekan masyarakat, seorang Imam Praja bisa menjadi saluran menyuarakan aspirasinya. Paling tidak bisa menyalurkan lewat media massa, entah dengan menulis atau sekurang-kurangnya menjadi narasumber media dalam mencari kebenaran suatu masalah dalam masyarakat. Karena media massa itu yang memerankan “wakil rakyat” yang sesungguhnya (halaman v)”.

Buku ini merupakan kompilasi buah pena para insan pers selama 10 tahun (2001-2011). Isinya menyiratkan betapa komplit dinamika kehidupan masyarakat di pedesaan. Mulai dari keindahan lingkungan alam sekitar, kearifan pustaka budaya lokal, hingga keluh-kesah akar rumput dan warta bahagia dari lereng Merapi. Penulisnya terdiri atas para wartawan media cetak dan elektronik. Baik dalam skala lokal, nasional, maupun internasional. Total ada 51 artikel. Terbagi ke dalam 3 sub-bab: Masalah Ekologi, Pagelaran Budaya, dan Spiritualitas.

“Know Thyself,” sebuah mantra ampuh dari Yunani. Artinya, “Kenalilah Dirimu.” Menyitir pendapat Anand Krishna. Ternyata, ada 3 macam diri manusia. Pertama, diri kita menurut orang lain. Kedua, diri menurut diri kita sendiri. Ketiga, diri kita yang sejati. Lantas, bagaimana anak-anak Merapi menemukan kembali jati dirinya? Yakni, sebagai bagian dari kolektivitas wong gunung nan murni itu. Lewat artikel bertajuk, “Kawruh Sakti untuk Anak-anak Merapi” (halaman 91-94) termaktub jawabnya.

Alkisah, Anjani berpesan pada Anoman dalam pertunjukan Wahyu Mangliawan, “Anakku, mulai saat ini jika kamu haus minumlah embun di pepohonan dan rerumputan, jika kamu lapar makanlah buah dan ubi di hutan. Itu sama dengan meminum air susu ibumu dan memakan masakan ibumu. Ketika kamu bersedih karena kesepian, kamu tidak boleh lagi menangis karena sendiri. Alam ini adalah saudaramu...”

Artinya, kembali ke Bunda alam semesta (back to Mother nature). Mendekatkan anak-anak dengan lingkungan sekitar dan budaya lokal. Dua acungan jempol untuk kreatifitas anak-anak lereng Merapi. Terutama tatkala mereka bermain dhakon. Kenapa? Karena tanpa papan congklak sekalipun, para "bolang" dusun Gemer, kecamatan Dukun, Muntilan tersebut masih bisa menikmati keindahan masa kanak-kanak.

Mereka menggambar lingkaran-lingkaran di tanah dan kemudian mengumpulkan aneka kerikil dari sungai. Menurut Ibu Giyanto yang biasa mendampingi tunas-tunas muda tersebut, orang tua mereka tak mampu membelikan mainan ala wong kota seperti Play Station (PS), pedang-pedangan yang bisa menyala, ataupun televisi berwarna. Kenapa? Karena 99,9 persen berprofesi sebagai petani (miskin). Keunggulan dolanan anak ini ialah memfasilitasi interaksi intra dan antar-anak. Sejak dini mereka dibudayakan bersikap lepas-bebas dan apresiatif terhadap rekan sepermainan dan lingkungan sekitar.

Marketing Guyup

Buku ini juga memuat artikel ihwal perjumpaan 2 tokoh. Yakni, mengulas interaksi Hermawan Kertajaya (HK) dan Romo Kirdjito (RK). Pada 18 November 2009, keduanya sempat merayakan pesta ulang tahun di keheningan alam Merapi. Kebetulan HUT mereka sama. Kenapa kedua pria tersebut begitu spesial? Karena mereka menyadari ketidakhebatannya. Sehingga masing-masing tetap mau belajar satu sama lain.

Selama misa Alam, HK—yang dikenal sebagai pakar pemasaran (marketing)—mengaku merasa kecil dan tiada arti. “Saya betul-betul merasa kecil dan tidak ada artinya ketika berada di alam. Saya sungguh merasakan alam tidak membedakan kita. Yang kaya, yang miskin, yang pinter, yang bodoh, dan lain-lain semua sama di hadapan Alam dan Tuhan.” (halaman 159).

Pada satu sesi sebelum misa berlangsung, ia diminta mengambil 10 tumbuhan berbeda. HK memang berhasil membawa genap 10 tanaman. Tapi tidak ada satu pun tumbuhan yang dikenalinya. Walau sekadar rumput ilalang atau putri malu sekalipun. “Saya mampu mengumpulkan 10 tanaman, tapi saya tak tahu namanya hehe. Betul-betul nol pengetahuan saya soal tumbuhan,” ungkapnya di hadapan seluruh peserta misa Alam.

Frietqi Suryaman menyumbangkan sebuah artikel apik. Yakni, ketika Hermawan Kertajaya hendak memberi kenang-kenangan, berupa piano kepada masyarakat desa Dukun. Namun RK tidak mau, ia justru menginginkan disumbang seperangkat alat gamelan untuk masyarakat setempat. Kenapa? karena kalau piano hanya dimainkan oleh satu orang, sedangkan gamelan mau tak mau harus dimainkan secara kolektif. Inilah praktik guyup rukun yang sejati.

Menurut HK, sosok Romo Kir dapat dilihat dari sudut pandang marketing. Pertama, dia punya komunitas loyal, yakni masyarakat Merapi. Kedua, ia pastor yang tak dilambangkan sebagai sebuah salib saja, tapi sebagai manusia berbudaya. Sehingga bisa merangkul semua pihak. Bahkan yang saling bersengketa sekalipun.

Kemudian, secara blak-blakan, HK juga mengungkap akar masalah krisis global dewasa ini. Yakni, pemasaran yang melulu berorientasi pada laba. Seseorang sebenarnya belum mampu membeli suatu produk. Kendati demikian, perbankan dan pengusaha menggunakan paham marketing "asal untung". Akhirnya, konsumen terbuai membeli produk tersebut.

Tapi karena tak mampu membayar cicilan kredit, barang itu terpaksa ditarik kembali. Ketika tak ada yang mampu membeli, terjadilah penumpukan aset dan kolaps seperti sekarang. Dalam konteks ini, HK melihat marketing religius, humanis, dan ramah lingkungan sebagai solusi. Produk harus dekat dengan alam dan menjunjung nilai-nilai ketuhanan. Sejatinya, Romo Kir dan komunitas budaya di lereng Merapi telah menerapkan filosofi tersebut.

Lewat buku ini, Romo Kir juga mengungkap rahasia sukses gerakan budaya di komunitasnya. Gunung Merapi selalu menggelontorkan energi dahsyat. Sehingga ia mampu bertahan di tempat "panas" tersebut. Ia mengaku bukan orang pintar dan tak punya gelar akademisi tertentu. Sumber kreatifitasnya semata dari Merapi. Air, bebatuan, tanah, pasir, tanaman, pepohonan, hutan, semuanya memancarkan kekuatan magis. Yang tak kalah hebat ialah tradisi, kesenian, dan kebudayaan masyarakat di pelosok kaki gunung Merapi.

Sedikit informasi ihwal Gubug Selo. “Gubug” tersebut berupa ruangan besar dan terbuka. Uniknya, selain dipakai untuk perayaan Ekaristi, dimanfaatkan pula untuk kegiatan yang berkaitan dengan seni dan budaya. Menurur Lik Kir, bangunan ini melambangkan keinginan untuk terus belajar. Jadi, merangkul semua, menghargai semua. Peraih Maarif Award 2010 ini melihat budaya Indonesia memang majemuk. Sehingga spiritualitas komplementer lebih relevan. Kecenderungan resisten, defensif, apalagi agresif perlu ditinggalkan. Praksis agama nan ramah terhadap pluralitas kebudayaan niscaya menciptakan iklim yang lebih sehat bagi kehidupan bersama (halaman 216).

Tak ada gading yang tak retak. Buku ini memiliki beberapa celah. Salah satunya, terdapat beberapa kesalahan ketik. Sehingga sedikit mengganggu kenyamanan membaca. Ke depannya, bila hendak dicetak ulang, peran editor menjadi signifikan.

Terlepas dari kelemahan tersebut, antologi artikel ini niscaya membuka wawasan sidang pembaca. Hingga kini kekayaan berlimpah dari alam Merapi justru dijarah oleh para cukong dan kompradornya. Berkah bumi Merapi belum dinikmati secara merata oleh masyarakat pedesaan. Sepakat dengan pendapat Romo Kir, "Masa depan Merapi ada di tangan mereka (baca: anak-anak lereng Merapi). Saya berharap mereka akan menjadi penyelamat yang melayani makhluk lain sebagaimana Alam melayani mereka." Selamat membaca! ***
oleh T. Nugroho Angkasa S.Pd., Guru Bahasa Inggris di PKBM Angon (Sekolah Alam) Yogyakarta, pengelola http://www.angon.org/
Leave a Comment
Please feel free to let us know your feeling about this
Your Name
Your Comment
Your Email
Utk ganti paragraf silakan klik
Comments:
Selasa, 15 April 2014 - 08:20
Arrondir Ses Fin De Mois - kyzvdycq@gmail.com
Site tres interressant Arrondir Ses Fin De Mois http://www.robotfinance.fr/
Jum'at, 14 Maret 2014 - 18:43
1 - sample@email.tst
20
Senin, 03 Maret 2014 - 21:20
1 -
20
Senin, 03 Maret 2014 - 21:20
1 - WEB-INFweb.xml
20
Senin, 03 Maret 2014 - 21:20
1 - /../../../../../../../etc/passwd
20
Senin, 03 Maret 2014 - 21:20
1 - WEB-INF/web.xml
20
Senin, 03 Maret 2014 - 21:20
28-04-2014 s/d 03-05-2014
"Okomama: Bianglala Rupa Flobamorata", Pameran Keliling Koleksi Pilihan Galeri Nasional Indonesia dan karya seniman NTT
di Taman Budaya Nusa Tenggara Timur, Kupang
26-04-2014
Jagongan Wagen Edisi April 2014: NGGARAP(i) Kenyataan
di Padepokan Seni Bagong Kussudiardja. Dusun Kembaran RT 04/ RW 05 Bantul, DI Yogyakarta
23-04-2014
Useful Thinking: on Evaluating Community Arts for Social Change
di Indonesia Visual Arts Archive (IVAA) Jalan Ireda, Gang Hiperkes MG I/ 188 A-B Kampung Dipowinatan, Keparakan Yogyakarta 55152, Indonesia Tel./Fax: +62 274 375 262
23-04-2014
Pentas Wayang Manuk
di Balai Soedjatmoko, Jl. Slamet Riyadi, Solo.
22-04-2014 s/d 27-04-2014
Pameran Seni Rupa "PRASANGKA MEMBAWA NIKMAT"
di JOGJA GALLERY, Jl. Pekapalan, Alun-alun Utara no.7 Yogyakarta, Indonesia
21-04-2014 s/d 30-04-2014
Pembukaan pameran karya seni untuk novel "NAWUNG: Putri Malu dari Jawa"
di Tirana Artspace. Jl Suryodiningratan 53-55 Yogyakarta
20-04-2014
Diskusi "DISCOURSE OF THE PAST"
di The READING ROOM, Jl Kemang Timur 57 Jaksel
19-04-2014
KONSER MUSIC BATAK " Di Jou Au Mulak"
di Pusat Kebudayaan Koesnadi Hardja Soemantri (Purna Budaya) UGM
15-04-2014
Simposium INISIATIF WARGA DALAM SENI DAN SAINS
di Auditorium Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada Jl. Flora, Bulaksumur, Yogyakarta
15-04-2014
Pembukaan NALARROEPA Ruang Seni dan Pameran Seni Rupa MJK club
di Karangjati RT.05, RW. XI. Tamantirto, Kasihan, Bantul, Yogyakarta
read more »
Sabtu, 19-04-2014
Dari Dunia Pengkoleksian Seni Rupa Indonesia
oleh Syakieb Sungkar
Minggu, 13-04-2014
Upacara Tradisional, Kohesi Sosial, dan Bangunan Kebangsaan
oleh Ayu Sutarto
Selasa, 01-04-2014
Membela dengan Sastra (Sebuah Pidato Kebudayaan)
oleh Ahmad Tohari
Rabu, 26-03-2014
Warisan Demokrasi Gorontalo
oleh Hasanuddin
Selasa, 18-03-2014
Demokrasi Berbudaya Minahasa
oleh Jultje Rattu
read more »
Merajakan Nalar di Tengah Kepungan Hedonisme
oleh Christian Heru Cahyo Saputro
Buku bertajuk: Acropolis (Kerajaan Nalar) yang merupakan kumpulan kolom karya wartawan SKH Lampung Post Heri Wardoyo (HRW) hadir meramaikan pasar wacana. Buku yang berisi kolom-kolom Heri Wardoyo ini pernah dimuat di rubrik ‘Nuansa’ Lampung Post bertitimangsa tahun...
Fantasi Balzac tentang Pulau Jawa
oleh Sigit Susanto
Merajut Masa Depan Bocah Merapi
oleh T. Nugroho Angkasa S.Pd.
Novel Kasongan, Seliat Tanah Liat
oleh R. Toto Sugiharto
read more »
Lomba Foto “Air dan Sanitasi untuk Kehidupan yang Lebih Baik”
6th Beijing International Art Biennale 2015
Sayembara Cipta Kreasi Motif Batik Seragam Dinas Harian RSUP Dr Kariadi 2014
Lomba Desain Sepatu Tingkat Nasional 2014
LOMBA DESAIN MURAL GALERI NASIONAL INDONESIA 2014
LOMBA CIPTA SENI BATIK NUSANTARA 2014
The 4th Bangkok Triennale International: Print and Drawing
Iver Jåks Artist-In-Residency Program 2014
UNDANGAN Pameran Seni Rupa Karya Guru Seni Budaya “GURU SENI BERLARI” - GALERI NASIONAL INDONESIA
Grants for Media Art 2014 of the Foundation of Lower Saxony at the Edith-Russ-Haus, Germany
read more »
20/04/2014 09:31 | Syakieb Sungkar | terima kasih
20/04/2014 09:27 | Syakieb Sungkar |
07/04/2014 00:46 | abdul aziz | mohon bantuan untuk penerbitan buku topeng blantek
03/04/2014 21:13 | Aprimas | Selamat dan Sukses untuk "Guru" Seni Rupa di seluruh Indonesia, Smoga kedepan semakin kreatif, produktif dan inovatif, sehingga dapat sebagai acuan dan pacuan kreativitas bagi generasi masa epan,...Salam
15/03/2014 18:09 | Lilik Indrawati | Ok. I will tray... matur nuwun Pak Kuss.
read more »
About Us
Indonesia Art News merupakan media tentang dinamika seni yang berkait dengan aspek keindonesiaan. Media ini berusaha untuk mengedepankan segi informasi ihwal seni yang dikemas dengan cara pandang kritis dan muatan yang investigative. Indonesia Art News berkedudukan di Yogyakarta, Indonesia
Gabung di Facebook
Buku Tamu
Pengelola IAN
Editor in chief:Kuss Indarto
Editor:R. Toto Sugiarto
Designer:Andika Indrayana
Email - info@indonesiaartnews.or.id