HOME     NEWS     EVENTS     ARTICLES     DIRECTORY     BOOKS     OPPORTUNITIES  
   
Novel Kasongan, Seliat Tanah Liat
Judul Buku:KASONGAN
Penulis:SATMOKO BUDI SANTOSO
Penerbit:DIVA PRESS YOGYAKARTA
Cetakan:1, 2012
Tebal Buku:400 halaman
PENGISAHAN sebuah novel bisa berangkat dari mana saja. Bisa dari tokoh (karakterisasi) ataupun tempat (setting). Novel heroik pun bisa dikisahkan dari kedua unsur narasi tersebut. Seperti juga novel etnografi. Nama-nama tertentu mengisyaratkan orang atau karakter dari etnis tertentu. Begitu pun nama tempat, menyiratkan sekaligus keadaan sosial, politik, budaya, dan ekonomi tempat tersebut.

“Kasongan” yang menjadi judul novel ini mengambil nama tempat sebagai pusat pengisahan. Kisahnya diungkap dari sudut pandang seorang sopir travel barang atau taksi lokal. Dan, pusat kisahannya adalah Desa Kasongan di Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, dengan ketokohan Kyai Song yang menjadi jeroan (bagian dalaman) dari pengisahan.


Sopir travel barang – menggunakan sudut pandang aku – berkisah seputar tetangga dan pengunjung Desa Kasongan. Tetangganya tidak lebih sebagai warga biasa, pekerjaannya buruh, pegawai negeri sipil (PNS), guru, pedagang di pasar tradisional, atau yang lain. Ada pula yang ikut tetangganya, belajar menjadi perajin atau sebagai karyawan dalam usaha gerabah. Tokoh-tokoh yang dihadirkan adalah  tokoh selevel dengan si aku, orang-orang kecil, pinggiran yang mengais rezeki dari usaha perajin gerabah, pekundhi yang sudah kelas eksportir. Mereka adalah tukang ojek, pengepul damen, penambang pasir, ataupun sopir seperti si aku.


Eksistensi si aku sangat lekat dengan tanah liat, gerabah, dan para perajin. Ibu si aku dalam novel ini juga perajin gerabah. Tidak hanya keren, membuat kendhil, anglo, cowek, kuwali, kendhi, padasan, maupun genthong, ibu si aku sangat menguasai. Begitu pun kehadiran tokoh lain, mengisyaratkan keliatan mereka – untuk tetap bisa survive di tengah gempuran keadaan yang semakin menekan dengan mengolah apa saja yang ada di Kasongan – seliat tanah liat.


Tetapi, tokoh yang hendak dikisahkan si aku atau yang menarik perhatian si aku adalah Srindil dan Srundul, keduanya saudara kembar. Mereka adalah teman sepermainan si aku semasa sekolah dan masa kanak-kanak.


Srindil menjadi pengusaha keramik yang berjaya. Menurut penilaian si aku, “ia cukup bisa dibilang sukses. Di antara jalanan beraspal yang ada di desaku, kontainer yang paling banyak melalui jalan tersebut adalah keluar masuk menuju rumah maupun tempat usaha Srindil yang jaraknya berdekatan. Sebuah area usaha yang ia tempati seluas sekitar satu hektar….”


Dari lahan seluas satu hektar itu beragam kerajinan gerabah maupun keramik diproduksi perusahaan Srindil. Usaha gerabah dan keramik Srindil bisa berjaya karena banyak hal. Terutama karena ilmu dagang istrinya yang dikenal “bertangan dingin”, punya manajemen yang ampuh, terlebih lagi karena bisa berbahasa Inggris secara lancar. Di samping itu, Srindil juga mempunyai jaringan pertemanan atau kolega luas, karena keaktifannya ikut berbagai organisasi di tingkat kabupaten, provinsi, bahkan nasional. Srindil adalah salah seorang warga desa Kasongan yang berpikiran cukup maju dibandingkan dengan yang lain. Tidak mudah menyerah dan pasrah.


Srindil pun hidup dalam gelimang harta. Selain kaya, dengan jumlah karyawan ratusan, ia pun mampu menyelesaikan pendidikan cukup tinggi. Gelar doktor di bidang seni telah ia raih. Itulah yang juga membuatnya nyaman menjadi pegawai negeri, menjadi dosen di sebuah perguruan tinggi. Jadi, selain ia sebagai pengusaha kerajinan gerabah, ia pun menjadi pendidik mahasiswa. Kedua anak Srindil juga boleh dibilang sukses, terbukti keduanya bersekolah di sekolah favorit tingkat provinsi.


Sebaliknya, jalan hidup Srundul berbeda. Ia memilih menjadi penulis. Dan, menurut si aku, Srundul “tak punya pekerjaan tetap dan hidupnya murni seperti seniman zaman dulu: bekerja hanya kalau ada inspirasi. Srundul kurang bisa mendisiplinkan diri dengan rancangan pekerjaan yang terprogram, terarah, dan matang. Meski begitu, kadang-kadang ia sabet juga pekerjaan yang diberikan teman-temannya dari LSM”.


Dan, si aku adalah bujang lapuk. Pekerja serabutan, membantu teman ke sana ke mari. Terutama pekerjaan yang berkaitan dengan jasa antar jemput barang dan orang.


Filosofi novel ini ada pada legenda Kyai Song. Dalam kisah ini ia adalah salah seorang prajurit dan pengawal Pangeran Diponegoro yang bergerilya melawan Belanda pada 1825-1830. Pada masa itu Kyai Song menjadi orang yang menonjol dalam perjuangan melawan Belanda. Ia mempunyai strategi yang khas dan unik, yaitu dengan cara mengajari warga desa membuat gerabah. Dengan membuat gerabah yang bahan pembuatannya berupa tanah, maka tanah warga desa tidak lagi ditanami hasil pertanian. Dengan begitu, pihak Belanda pun tidak bisa lagi semena-mena dalam memeras hasil bumi rakyat. Cara perjuangan seperti yang dilakukan Kyai Song pun terbukti membuahkan hasil. Setidaknya bisa menekan pihak Belanda sehingga tidak lagi mengumbar kuasa terutama dalam hal memeras rakyat melalui penyiapan bahan makanan.


Apa yang dulu menjadi pola perjuangan Kyai Song ternyata menjadi warisan tersendiri hingga kini. Desa gerabah yang dirintis Kyai Song semenjak  masa perjuangan dulu hingga kini masih ada. Itulah desa gerabah dan keramik Kasongan yang berjarak sekitar 15 km sebelah selatan Kota Yogyakarta yang kini amat terkenal hingga mancanegara sebagai desa wisata dan eksportir gerabah dan keramik dalam jumlah besar.  


Tentu dalam situasi sekarang, di desa gerabah dan keramik Kasongan tersebut juga terjadi banyak dinamika. Novel ini pun bergerak dalam kisaran waktu lecutan antara cerita masa lalu, masa kini, dan masa depan. Sejumlah tokoh terlibat dalam pusaran konflik atau apa pun yang ada sebagai bagian dinamika Desa Kasongan kini.


Alur di dalam novel ini adalah alur yang merupakan elaborasi penggambaran aspek etnografi, antropologi, arkeologis maupun aspek kontemporer atau kekinian yang ada di dalam desa gerabah dan keramik di Kasongan. Penggambaran yang detail mengenai dunia gerabah serta keramik menjadi pertaruhan penting di dalam novel ini. Mulai dari asal mula mendapatkan tanah, bagaimana mengolah, membentuk menjadi desain tertentu hingga memasarkan. Di dalamnya juga diperkaya dengan deskripsi mengenai filosofi desain tertentu, hobi masyarakat setempat yang berkaitan dengan ritual dan aspek budaya serta pengetahuan umum lainnya berupa keris, jenis tanah, jenis sepeda, jenis rumah, dan lain sebagainya. Dengan begitu kausalitas yang lazim menjadi ruh sebuah alur kisah tidak diutamakan dalam narasi. Spirit si aku – bisa dibilang mewakili pengarang – semata-mata hendak mengisahkan kampung halamannya.


Pada saat bersamaan, dengan mengedepankan tokoh Srindil dan Srundul, alur novel ini mengajak pembaca membuka pengetahuan mengenai kemungkinan aspek eksplorasi alur yang juga bertumpu pada semangat mendeskripsikan aneka problem sosial dan budaya. Itulah yang juga banyak diungkap di dalam novel ini. Oleh sebab itu, tokoh Srindil dan Srundul pun sebagai tokoh sentral berupaya mendudukkan diri menjadi mediator atau penengah yang baik dalam menjembatani segala persoalan yang muncul sebagai bagian dinamika di desa gerabah dan keramik yang ditempatinya tersebut.


Si aku pun total dalam bertutur. Suka duka para perajin, pengusaha, dan masyarakat yang ada di Kasongan juga menjadi fokus penggarapan alur di dalam novel ini. Sehingga pembaca akan merasakan adanya tamasya literer yang kompleks. Penggambaran penokohan di dalam novel ini juga tidak hitam putih, baik buruk, semata. Banyak nilai kearifan lokal, nilai-nilai kebajikan alternatif yang juga menjadi bagian tak terpisahkan di dalam keseluruhan alur cerita. Tokoh- tokoh yang ada dalam banyak hal memang seperti hanya sampiran, mengantar pembaca pada suasana dan situasi alam desa gerabah dan keramik yang eksotik dan menantang dijelajahi dalam sudut pandang apa pun.


Novel ini boleh disebut sebagai novel eksperimentatif yang tidak terlalu menyandarkan pada kekuatan tokoh sebagai sentral cerita. Andalan yang dikedepankan adalah soal penggambaran latar desa, segala hal yang masuk dalam koridor antropologi dan sosiologi pengetahuan. Di tengah ramainya wacana perihal studi kebudayaan, maka novel ini diharapkan dapat memperkaya khasanah literer yang berkaitan dengan kearifan lokal budaya tertentu.  Dalam hal ini adalah siklus kehidupan dunia gerabah dan keramik. Dan, Kasongan pun pada akhirnya disadari keberadaannya oleh si aku tidak lebih serupa pasar: tempat orang-orang bertemu, bertransaksi, dan selebihnya hanya melihat-lihat barang dagangan.


Siasat Kyai Song


Sebagai nama seseorang di lingkungan etnis Jawa, Kyai Song mungkin terdengar aneh. Tidak dideskripsikan asal-usul nama tersebut. Eksistensinya berada dalam kemungkinan legenda dan realita. Tapi, disebut-sebut memang ada makamnya. Namun, di sinilah titik filosofi kisah. Kyai Song adalah tokoh perlawanan terhadap kolonialisme Kumpeni. Perlawanan yang diilhami dari keadaan lingkungan kampung halamannya yang dipenuhi tanah liat. Siasat seliat tanah liat pun dijalankan Kyai Song. Boleh jadi, bentuk perlawanan Kyai Song sangat halus, yang didasarkan kondisi alam lingkungan. Atau, dengan jalan melakukan seruan secara “bawah tanah” kepada segenap masyarakat desa supaya tidak memilih jalan hidup sebagai petani. Sebab, konsekusinya, hasil panenan sebagai petani cenderung cuma diserahkan kepada pihak Belanda. Ditukar dengan kebutuhan tertentu yang diinginkan si petani. Itu yang secara halus. Yang secara kasar, hasil panenan bisa diminta paksa oleh pihak Belanda sebagai stok bahan logistic untuk kepentingan Kumpeni selama menjajah anak bangsa.


Dalam situasi masyarakat yang seperti itulah maka Kyai Song mencari jalan lain, meyakinkan kepada masyarakat bahwa ada cara hidup yang lebih bermartabat dan tidak terjajah secara semena-mena oleh pihak Belanda. Caranya adalah dengan jalan menjadi seorang pekundhi: bekerja dengan membuat peralatan dapur yang menggunakan bahan baku tanah liat. Dan, siasat Kyai Song pun menjadi profesi alternatif yang berakar dari kultur agraris-tradisional dan hingga kini berkembang pesat menjadi industrial-modern.


Heroisme yang ditempuh Kyai Song adalah heroisme yang cenderung tidak banyak bicara, namun juga sangat mengakar. Bayangkanlah ketika kemudian stok makanan pihak Belanda berkurang karena lahan tanah pertanian justru digunakan untuk stok membuat gerabah. Memang, untuk menghibur karena jatah perut mereka berkurang, para pekundhi merelakan memberikan sebagian hasil kreasi gerabahnya kepada pihak Belanda. Dengan cara itu, maka pihak Belanda akan merasa terhibur karena ia seakan-akan diperhatikan dengan diberi hasil kreasi gerabah. Dulu, pihak Belanda bisa saja diberi hasil kreasi gerabah berupa bentuk keris, pisau, dan benda tajam lainnya. Atau orang Belanda juga bisa minta dibuatkan model tertentu sesuai keinginannya. Tentu, di sela-sela membuat gerabah berupa alat rumah tangga, masih cukup banyak bahan dan waktu untuk membuat kreasi bentuk lain, selain alat-alat rumah tangga.


Tidak berlebihan kiranya jika novelis “Perempuan Berkalung Sorban”, Abidah El Khalieqy mengidentifikasi novel ini sebagai novel etnografi yang sarat nilai kearifan lokal dengan menelisik sejarah dan filosofi gerabah serta legenda tokoh Kyai Song, seperti ditulis di endorsement cover-nya.
***
oleh R. Toto Sugiharto, Jurnalis independen, pecinta buku, tinggal di Yogyakarta.
Leave a Comment
Please feel free to let us know your feeling about this
Your Name
Your Comment
Your Email
Utk ganti paragraf silakan klik
Comments:
Kamis, 11 Desember 2014 - 16:40
car insurance comparisons - smwlvbswma@gmail.com
Whats the difference between firefox, google chrome, and internet explorer? car insurance comparisons https://www.behance.net/gallery/20402851/Compare-Auto-Insurance-Quotes
Jum'at, 03 Oktober 2014 - 01:08
horny - sbdh47tf@hotmail.com
EQih5W http://www.QS3PE5ZGdxC9IoVKTAPT2DBYpPkMKqfz.com
Minggu, 21 September 2014 - 02:02
- sample@email.tst
20
Minggu, 21 September 2014 - 02:02
&dir - sample@email.tst
20
Minggu, 21 September 2014 - 02:02
||cat /etc/passwd - sample@email.tst
20
Minggu, 21 September 2014 - 02:02
1e309 - sample@email.tst
20
Minggu, 21 September 2014 - 02:02
..À¯ - sample@email.tst
20
Minggu, 21 September 2014 - 02:02
;cat /etc/passwd; - sample@email.tst
20
Minggu, 21 September 2014 - 02:02
ãh - sample@email.tst
20
Minggu, 21 September 2014 - 02:02
268435455 - sample@email.tst
20
Minggu, 21 September 2014 - 02:02
|cat /etc/passwd# - sample@email.tst
20
Minggu, 21 September 2014 - 02:01
- sample@email.tst
20
Minggu, 21 September 2014 - 02:01
`cat /etc/passwd` - sample@email.tst
20
Minggu, 21 September 2014 - 02:01
1 - sample@email.tst
20
Minggu, 21 September 2014 - 02:01
1 - ................windowswin.ini
20
Minggu, 21 September 2014 - 02:01
1 - sample@email.tst
20
Minggu, 21 September 2014 - 02:01
1 - À®À®À¯À®À®À¯À®À®À¯À®À®À¯À®À®À¯À®À®À¯À®À®À¯À®À®À¯windowsÀ¯win.ini
20
Minggu, 21 September 2014 - 02:01
1 -
20
Minggu, 21 September 2014 - 02:01
OTczMjg3 - sample@email.tst
20
Minggu, 21 September 2014 - 02:01
1 - c:/windows/win.ini
20
Minggu, 21 September 2014 - 02:01
1 - ../../../../../../../../../../windows/win.ini
20
Minggu, 21 September 2014 - 02:01
1 - /../../../../../../../etc/passwd
20
Minggu, 21 September 2014 - 02:01
1 - file:///etc/passwd
20
Minggu, 21 September 2014 - 02:01
1 - invalid../../../../../../../../../../etc/passwd/././././././././././././././././././././././././././
20
Minggu, 21 September 2014 - 02:01
ð'ð"" - sample@email.tst
20
Minggu, 21 September 2014 - 02:01
1 - ..À¯..À¯..À¯..À¯..À¯..À¯..À¯..À¯etc/passwd
20
Minggu, 21 September 2014 - 02:01
1 - ../.../.././../.../.././../.../.././../.../.././../.../.././../.../.././etc/passwd
20
Minggu, 21 September 2014 - 02:01
1 - ../..//../..//../..//../..//../..//../..//../..//../..//etc/passwd
20
Minggu, 21 September 2014 - 02:01
JyI= - sample@email.tst
20
Minggu, 21 September 2014 - 02:01
1 - /etc/passwd
20
Minggu, 21 September 2014 - 02:01
1 - .\./.\./.\./.\./.\./.\./etc/passwd
20
Minggu, 21 September 2014 - 02:01
@@5osXk - sample@email.tst
20
Minggu, 21 September 2014 - 02:01
1 -
20
Minggu, 21 September 2014 - 02:01
- sample@email.tst
20
Minggu, 21 September 2014 - 02:01
1 - ..%2F..%2F..%2F..%2F..%2F..%2F..%2F..%2F..%2F..%2Fetc%2Fpasswd%00.png
20
Minggu, 21 September 2014 - 02:01
1 - sample@email.tst
20
Minggu, 21 September 2014 - 02:01
1 - Li4vLi4vLi4vLi4vLi4vLi4vLi4vLi4vLi4vLi4vZXRjL3Bhc3N3ZAAucG5n
20
Minggu, 21 September 2014 - 02:01
1 - sample@email.tst
Array
Minggu, 21 September 2014 - 02:01
1 -
20
Minggu, 21 September 2014 - 02:01
1 - ..%2F..%2F..%2F..%2F..%2F..%2F..%2F..%2F..%2F..%2Fetc%2Fpasswd
20
Minggu, 21 September 2014 - 02:01
1 - sample@email.tst
Minggu, 21 September 2014 - 02:01
1 - sample@email.tst
1e309
Minggu, 21 September 2014 - 02:01
1 - ../../../../../../../../../../etc/passwd
20
Minggu, 21 September 2014 - 02:01
1 - sample@email.tst
1
Minggu, 21 September 2014 - 02:01
1 - sample@email.tst
..À¯
Minggu, 21 September 2014 - 02:01
1 - sample@email.tst
ãh
Minggu, 21 September 2014 - 02:01
1 - sample@email.tst
|dir
Minggu, 21 September 2014 - 02:01
1 - sample@email.tst
&dir
Minggu, 21 September 2014 - 02:01
1 - sample@email.tst
||cat /etc/passwd
Minggu, 21 September 2014 - 02:01
1 - sample@email.tst
268435455
Minggu, 21 September 2014 - 02:01
1 - sample@email.tst
OTgwNjY4
Minggu, 21 September 2014 - 02:01
1 - sample@email.tst
;cat /etc/passwd;
Minggu, 21 September 2014 - 02:01
1 - sample@email.tst
|cat /etc/passwd#
Minggu, 21 September 2014 - 02:01
1 - sample@email.tst
Minggu, 21 September 2014 - 02:01
1 - sample@email.tst
`cat /etc/passwd`
Minggu, 21 September 2014 - 02:01
1 - sample@email.tst
20
Minggu, 21 September 2014 - 02:00
1 - sample@email.tst
cat /etc/passwd
Minggu, 21 September 2014 - 02:00
1 - sample@email.tst
&cat /etc/passwd&
Minggu, 21 September 2014 - 02:00
1 - sample@email.tst
&cat /etc/passwd
Minggu, 21 September 2014 - 02:00
1 - sample@email.tst
ð'ð""
Minggu, 21 September 2014 - 02:00
1 - sample@email.tst
JyI=
Minggu, 21 September 2014 - 02:00
1 - sample@email.tst
@@KB2d2
Minggu, 21 September 2014 - 02:00
1 - sample@email.tst
Minggu, 21 September 2014 - 02:00
1 - sample@email.tst
20
Minggu, 21 September 2014 - 02:00
15-12-2014 s/d 10-01-2015
Pameran Tunggal Angga Yuniar Santosa: “Holes Arround Me”
di Tembi Rumah Budaya Yogyakarta, Jl. Parangtritis Km 8.4 Tembi, Timbulharjo, Sewon. Bantul
13-12-2014
Seni Masa Kini: Catatan tentang “Kontemporer” oleh Mitha Budhyarto
di Langgeng Art Foundation jl. Suryodiningratan no 37 Yogyakarta
12-12-2014 s/d 12-12-2014
"Identity Parade", Pameran tunggal Maradita Sutantio
di ViaVia Café & Alternative Art Space, Jl. Prawirotaman 30 Yogyakarta
12-12-2014 s/d 13-12-2014
Gandari: Sebuah Opera Tari
di Teater Jakarta ,Taman Ismail Marzuki, Jl. Cikini Raya, Jakarta
11-12-2014
Anak Wayang (Belajar Memaknai Hidup)
di Gedung PKKH (Purna Budaya) UGM
07-12-2014
"CHEMISTRY" (Charity, Music and Art for Unity)
di Cafe Catherius, Jl. Sawojajar 38 Bogor (belakang Yogya Bogor Junction)
06-12-2014 s/d 07-12-2014
JATENG ARTFEST 2014: "KONSERVASI BUDAYA, MERAJUT KERAGAMAN"
di Wisma Perdamaian Tugu Muda Semarang
05-12-2014
"INFERNO", Visual Art Exhibition
di DANES ART VERANDA Jl. Hayam Wuruk No.159 Denpasar 80235 Bali Indonesia
05-12-2014 s/d 28-12-2014
“The 3rd Jakarta International Photo Summit 2014: City of Waves”
di Galeri Nasional Indonesia, Jl. Medan Merdeka Timur 14, Jakarta
25-11-2014 s/d 28-11-2014
Pameran Seni Rupa "Art/East/Ism"
di Gedung Sasana Krida, Kompleks Universitas Malang (UM)
read more »
Rabu, 03-12-2014
Upaya Menemu Kebaruan
oleh Kuss Indarto
Kamis, 06-11-2014
Street Art di Yogyakarta, sebagai Karya Kreatif dan Politis
oleh Oleh Michelle Mansfield dan Gregorius Ragil Wibawanto
Senin, 13-10-2014
Menguji Kembali(nya) Faizal
oleh Oleh Kuss Indarto
Rabu, 01-10-2014
Kota Butuh Festival Seni
oleh Muchammad Salafi Handoyo
Rabu, 17-09-2014
Metafora Visual Kartun Editorial pada Surat Kabar Jakarta 1950-1957
oleh Priyanto Sunarto
read more »
Merajakan Nalar di Tengah Kepungan Hedonisme
oleh Christian Heru Cahyo Saputro
Buku bertajuk: Acropolis (Kerajaan Nalar) yang merupakan kumpulan kolom karya wartawan SKH Lampung Post Heri Wardoyo (HRW) hadir meramaikan pasar wacana. Buku yang berisi kolom-kolom Heri Wardoyo ini pernah dimuat di rubrik ‘Nuansa’ Lampung Post bertitimangsa tahun...
Fantasi Balzac tentang Pulau Jawa
oleh Sigit Susanto
Merajut Masa Depan Bocah Merapi
oleh T. Nugroho Angkasa S.Pd.
Novel Kasongan, Seliat Tanah Liat
oleh R. Toto Sugiharto
read more »
LOMBA PENULISAN JURNALISTIK
Lomba Foto “Air dan Sanitasi untuk Kehidupan yang Lebih Baik”
6th Beijing International Art Biennale 2015
Sayembara Cipta Kreasi Motif Batik Seragam Dinas Harian RSUP Dr Kariadi 2014
Lomba Desain Sepatu Tingkat Nasional 2014
LOMBA DESAIN MURAL GALERI NASIONAL INDONESIA 2014
LOMBA CIPTA SENI BATIK NUSANTARA 2014
The 4th Bangkok Triennale International: Print and Drawing
Iver Jåks Artist-In-Residency Program 2014
UNDANGAN Pameran Seni Rupa Karya Guru Seni Budaya “GURU SENI BERLARI” - GALERI NASIONAL INDONESIA
read more »
22/10/2014 14:34 | alfa poetra | salam semangart para karya indonesia. infonya untuk event or apapun itu tentang lukisan,.
02/10/2014 23:26 | Taink Takhril | ISTIMEWA, ak akan selalu belajar bareng Indonesia art news
01/10/2014 15:25 | Fatonah Winiarum | saya ingin bergabung
05/08/2014 18:31 | jupri abdullah | tururt bergabung sebagai media komunikasi seni rupa
04/07/2014 03:04 | Rev. Ana cole | Apakah Anda perlu bantuan keuangan/pinjaman untuk melunasi tagihan Anda, mulai atau memperluas bisnis Anda? Roya pinjaman perusahaan telah terakreditasi oleh kreditur Dewan memberikan pinjaman pinjaman persentase untuk klien lokal dan internasional. Mohon jawaban jika tertarik. Terima kasih. Wahyu Ana cole Telp: + 447012955490 Email:roya_loans@rocketmail.com
read more »
About Us
Indonesia Art News merupakan media tentang dinamika seni yang berkait dengan aspek keindonesiaan. Media ini berusaha untuk mengedepankan segi informasi ihwal seni yang dikemas dengan cara pandang kritis dan muatan yang investigative. Indonesia Art News berkedudukan di Yogyakarta, Indonesia
Gabung di Facebook
Buku Tamu
Pengelola IAN
Editor in chief:Kuss Indarto
Editor:R. Toto Sugiarto
Designer:Andika Indrayana
Email - info@indonesiaartnews.or.id