HOME     NEWS     EVENTS     ARTICLES     DIRECTORY     BOOKS     OPPORTUNITIES  
   
Novel Kasongan, Seliat Tanah Liat
Judul Buku:KASONGAN
Penulis:SATMOKO BUDI SANTOSO
Penerbit:DIVA PRESS YOGYAKARTA
Cetakan:1, 2012
Tebal Buku:400 halaman
PENGISAHAN sebuah novel bisa berangkat dari mana saja. Bisa dari tokoh (karakterisasi) ataupun tempat (setting). Novel heroik pun bisa dikisahkan dari kedua unsur narasi tersebut. Seperti juga novel etnografi. Nama-nama tertentu mengisyaratkan orang atau karakter dari etnis tertentu. Begitu pun nama tempat, menyiratkan sekaligus keadaan sosial, politik, budaya, dan ekonomi tempat tersebut.

“Kasongan” yang menjadi judul novel ini mengambil nama tempat sebagai pusat pengisahan. Kisahnya diungkap dari sudut pandang seorang sopir travel barang atau taksi lokal. Dan, pusat kisahannya adalah Desa Kasongan di Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, dengan ketokohan Kyai Song yang menjadi jeroan (bagian dalaman) dari pengisahan.


Sopir travel barang – menggunakan sudut pandang aku – berkisah seputar tetangga dan pengunjung Desa Kasongan. Tetangganya tidak lebih sebagai warga biasa, pekerjaannya buruh, pegawai negeri sipil (PNS), guru, pedagang di pasar tradisional, atau yang lain. Ada pula yang ikut tetangganya, belajar menjadi perajin atau sebagai karyawan dalam usaha gerabah. Tokoh-tokoh yang dihadirkan adalah  tokoh selevel dengan si aku, orang-orang kecil, pinggiran yang mengais rezeki dari usaha perajin gerabah, pekundhi yang sudah kelas eksportir. Mereka adalah tukang ojek, pengepul damen, penambang pasir, ataupun sopir seperti si aku.


Eksistensi si aku sangat lekat dengan tanah liat, gerabah, dan para perajin. Ibu si aku dalam novel ini juga perajin gerabah. Tidak hanya keren, membuat kendhil, anglo, cowek, kuwali, kendhi, padasan, maupun genthong, ibu si aku sangat menguasai. Begitu pun kehadiran tokoh lain, mengisyaratkan keliatan mereka – untuk tetap bisa survive di tengah gempuran keadaan yang semakin menekan dengan mengolah apa saja yang ada di Kasongan – seliat tanah liat.


Tetapi, tokoh yang hendak dikisahkan si aku atau yang menarik perhatian si aku adalah Srindil dan Srundul, keduanya saudara kembar. Mereka adalah teman sepermainan si aku semasa sekolah dan masa kanak-kanak.


Srindil menjadi pengusaha keramik yang berjaya. Menurut penilaian si aku, “ia cukup bisa dibilang sukses. Di antara jalanan beraspal yang ada di desaku, kontainer yang paling banyak melalui jalan tersebut adalah keluar masuk menuju rumah maupun tempat usaha Srindil yang jaraknya berdekatan. Sebuah area usaha yang ia tempati seluas sekitar satu hektar….”


Dari lahan seluas satu hektar itu beragam kerajinan gerabah maupun keramik diproduksi perusahaan Srindil. Usaha gerabah dan keramik Srindil bisa berjaya karena banyak hal. Terutama karena ilmu dagang istrinya yang dikenal “bertangan dingin”, punya manajemen yang ampuh, terlebih lagi karena bisa berbahasa Inggris secara lancar. Di samping itu, Srindil juga mempunyai jaringan pertemanan atau kolega luas, karena keaktifannya ikut berbagai organisasi di tingkat kabupaten, provinsi, bahkan nasional. Srindil adalah salah seorang warga desa Kasongan yang berpikiran cukup maju dibandingkan dengan yang lain. Tidak mudah menyerah dan pasrah.


Srindil pun hidup dalam gelimang harta. Selain kaya, dengan jumlah karyawan ratusan, ia pun mampu menyelesaikan pendidikan cukup tinggi. Gelar doktor di bidang seni telah ia raih. Itulah yang juga membuatnya nyaman menjadi pegawai negeri, menjadi dosen di sebuah perguruan tinggi. Jadi, selain ia sebagai pengusaha kerajinan gerabah, ia pun menjadi pendidik mahasiswa. Kedua anak Srindil juga boleh dibilang sukses, terbukti keduanya bersekolah di sekolah favorit tingkat provinsi.


Sebaliknya, jalan hidup Srundul berbeda. Ia memilih menjadi penulis. Dan, menurut si aku, Srundul “tak punya pekerjaan tetap dan hidupnya murni seperti seniman zaman dulu: bekerja hanya kalau ada inspirasi. Srundul kurang bisa mendisiplinkan diri dengan rancangan pekerjaan yang terprogram, terarah, dan matang. Meski begitu, kadang-kadang ia sabet juga pekerjaan yang diberikan teman-temannya dari LSM”.


Dan, si aku adalah bujang lapuk. Pekerja serabutan, membantu teman ke sana ke mari. Terutama pekerjaan yang berkaitan dengan jasa antar jemput barang dan orang.


Filosofi novel ini ada pada legenda Kyai Song. Dalam kisah ini ia adalah salah seorang prajurit dan pengawal Pangeran Diponegoro yang bergerilya melawan Belanda pada 1825-1830. Pada masa itu Kyai Song menjadi orang yang menonjol dalam perjuangan melawan Belanda. Ia mempunyai strategi yang khas dan unik, yaitu dengan cara mengajari warga desa membuat gerabah. Dengan membuat gerabah yang bahan pembuatannya berupa tanah, maka tanah warga desa tidak lagi ditanami hasil pertanian. Dengan begitu, pihak Belanda pun tidak bisa lagi semena-mena dalam memeras hasil bumi rakyat. Cara perjuangan seperti yang dilakukan Kyai Song pun terbukti membuahkan hasil. Setidaknya bisa menekan pihak Belanda sehingga tidak lagi mengumbar kuasa terutama dalam hal memeras rakyat melalui penyiapan bahan makanan.


Apa yang dulu menjadi pola perjuangan Kyai Song ternyata menjadi warisan tersendiri hingga kini. Desa gerabah yang dirintis Kyai Song semenjak  masa perjuangan dulu hingga kini masih ada. Itulah desa gerabah dan keramik Kasongan yang berjarak sekitar 15 km sebelah selatan Kota Yogyakarta yang kini amat terkenal hingga mancanegara sebagai desa wisata dan eksportir gerabah dan keramik dalam jumlah besar.  


Tentu dalam situasi sekarang, di desa gerabah dan keramik Kasongan tersebut juga terjadi banyak dinamika. Novel ini pun bergerak dalam kisaran waktu lecutan antara cerita masa lalu, masa kini, dan masa depan. Sejumlah tokoh terlibat dalam pusaran konflik atau apa pun yang ada sebagai bagian dinamika Desa Kasongan kini.


Alur di dalam novel ini adalah alur yang merupakan elaborasi penggambaran aspek etnografi, antropologi, arkeologis maupun aspek kontemporer atau kekinian yang ada di dalam desa gerabah dan keramik di Kasongan. Penggambaran yang detail mengenai dunia gerabah serta keramik menjadi pertaruhan penting di dalam novel ini. Mulai dari asal mula mendapatkan tanah, bagaimana mengolah, membentuk menjadi desain tertentu hingga memasarkan. Di dalamnya juga diperkaya dengan deskripsi mengenai filosofi desain tertentu, hobi masyarakat setempat yang berkaitan dengan ritual dan aspek budaya serta pengetahuan umum lainnya berupa keris, jenis tanah, jenis sepeda, jenis rumah, dan lain sebagainya. Dengan begitu kausalitas yang lazim menjadi ruh sebuah alur kisah tidak diutamakan dalam narasi. Spirit si aku – bisa dibilang mewakili pengarang – semata-mata hendak mengisahkan kampung halamannya.


Pada saat bersamaan, dengan mengedepankan tokoh Srindil dan Srundul, alur novel ini mengajak pembaca membuka pengetahuan mengenai kemungkinan aspek eksplorasi alur yang juga bertumpu pada semangat mendeskripsikan aneka problem sosial dan budaya. Itulah yang juga banyak diungkap di dalam novel ini. Oleh sebab itu, tokoh Srindil dan Srundul pun sebagai tokoh sentral berupaya mendudukkan diri menjadi mediator atau penengah yang baik dalam menjembatani segala persoalan yang muncul sebagai bagian dinamika di desa gerabah dan keramik yang ditempatinya tersebut.


Si aku pun total dalam bertutur. Suka duka para perajin, pengusaha, dan masyarakat yang ada di Kasongan juga menjadi fokus penggarapan alur di dalam novel ini. Sehingga pembaca akan merasakan adanya tamasya literer yang kompleks. Penggambaran penokohan di dalam novel ini juga tidak hitam putih, baik buruk, semata. Banyak nilai kearifan lokal, nilai-nilai kebajikan alternatif yang juga menjadi bagian tak terpisahkan di dalam keseluruhan alur cerita. Tokoh- tokoh yang ada dalam banyak hal memang seperti hanya sampiran, mengantar pembaca pada suasana dan situasi alam desa gerabah dan keramik yang eksotik dan menantang dijelajahi dalam sudut pandang apa pun.


Novel ini boleh disebut sebagai novel eksperimentatif yang tidak terlalu menyandarkan pada kekuatan tokoh sebagai sentral cerita. Andalan yang dikedepankan adalah soal penggambaran latar desa, segala hal yang masuk dalam koridor antropologi dan sosiologi pengetahuan. Di tengah ramainya wacana perihal studi kebudayaan, maka novel ini diharapkan dapat memperkaya khasanah literer yang berkaitan dengan kearifan lokal budaya tertentu.  Dalam hal ini adalah siklus kehidupan dunia gerabah dan keramik. Dan, Kasongan pun pada akhirnya disadari keberadaannya oleh si aku tidak lebih serupa pasar: tempat orang-orang bertemu, bertransaksi, dan selebihnya hanya melihat-lihat barang dagangan.


Siasat Kyai Song


Sebagai nama seseorang di lingkungan etnis Jawa, Kyai Song mungkin terdengar aneh. Tidak dideskripsikan asal-usul nama tersebut. Eksistensinya berada dalam kemungkinan legenda dan realita. Tapi, disebut-sebut memang ada makamnya. Namun, di sinilah titik filosofi kisah. Kyai Song adalah tokoh perlawanan terhadap kolonialisme Kumpeni. Perlawanan yang diilhami dari keadaan lingkungan kampung halamannya yang dipenuhi tanah liat. Siasat seliat tanah liat pun dijalankan Kyai Song. Boleh jadi, bentuk perlawanan Kyai Song sangat halus, yang didasarkan kondisi alam lingkungan. Atau, dengan jalan melakukan seruan secara “bawah tanah” kepada segenap masyarakat desa supaya tidak memilih jalan hidup sebagai petani. Sebab, konsekusinya, hasil panenan sebagai petani cenderung cuma diserahkan kepada pihak Belanda. Ditukar dengan kebutuhan tertentu yang diinginkan si petani. Itu yang secara halus. Yang secara kasar, hasil panenan bisa diminta paksa oleh pihak Belanda sebagai stok bahan logistic untuk kepentingan Kumpeni selama menjajah anak bangsa.


Dalam situasi masyarakat yang seperti itulah maka Kyai Song mencari jalan lain, meyakinkan kepada masyarakat bahwa ada cara hidup yang lebih bermartabat dan tidak terjajah secara semena-mena oleh pihak Belanda. Caranya adalah dengan jalan menjadi seorang pekundhi: bekerja dengan membuat peralatan dapur yang menggunakan bahan baku tanah liat. Dan, siasat Kyai Song pun menjadi profesi alternatif yang berakar dari kultur agraris-tradisional dan hingga kini berkembang pesat menjadi industrial-modern.


Heroisme yang ditempuh Kyai Song adalah heroisme yang cenderung tidak banyak bicara, namun juga sangat mengakar. Bayangkanlah ketika kemudian stok makanan pihak Belanda berkurang karena lahan tanah pertanian justru digunakan untuk stok membuat gerabah. Memang, untuk menghibur karena jatah perut mereka berkurang, para pekundhi merelakan memberikan sebagian hasil kreasi gerabahnya kepada pihak Belanda. Dengan cara itu, maka pihak Belanda akan merasa terhibur karena ia seakan-akan diperhatikan dengan diberi hasil kreasi gerabah. Dulu, pihak Belanda bisa saja diberi hasil kreasi gerabah berupa bentuk keris, pisau, dan benda tajam lainnya. Atau orang Belanda juga bisa minta dibuatkan model tertentu sesuai keinginannya. Tentu, di sela-sela membuat gerabah berupa alat rumah tangga, masih cukup banyak bahan dan waktu untuk membuat kreasi bentuk lain, selain alat-alat rumah tangga.


Tidak berlebihan kiranya jika novelis “Perempuan Berkalung Sorban”, Abidah El Khalieqy mengidentifikasi novel ini sebagai novel etnografi yang sarat nilai kearifan lokal dengan menelisik sejarah dan filosofi gerabah serta legenda tokoh Kyai Song, seperti ditulis di endorsement cover-nya.
***
oleh R. Toto Sugiharto, Jurnalis independen, pecinta buku, tinggal di Yogyakarta.
Leave a Comment
Please feel free to let us know your feeling about this
Your Name
Your Comment
Your Email
Utk ganti paragraf silakan klik
Comments:
Senin, 02 Februari 2015 - 00:59
1 - sample@email.tst
20
Selasa, 27 Januari 2015 - 17:54
1 - sample@email.tst
20
Kamis, 11 Desember 2014 - 16:40
car insurance comparisons - smwlvbswma@gmail.com
Whats the difference between firefox, google chrome, and internet explorer? car insurance comparisons https://www.behance.net/gallery/20402851/Compare-Auto-Insurance-Quotes
Jum'at, 03 Oktober 2014 - 01:08
horny - sbdh47tf@hotmail.com
EQih5W http://www.QS3PE5ZGdxC9IoVKTAPT2DBYpPkMKqfz.com
Minggu, 21 September 2014 - 02:02
- sample@email.tst
20
Minggu, 21 September 2014 - 02:02
&dir - sample@email.tst
20
Minggu, 21 September 2014 - 02:02
||cat /etc/passwd - sample@email.tst
20
Minggu, 21 September 2014 - 02:02
1e309 - sample@email.tst
20
Minggu, 21 September 2014 - 02:02
..À¯ - sample@email.tst
20
Minggu, 21 September 2014 - 02:02
;cat /etc/passwd; - sample@email.tst
20
Minggu, 21 September 2014 - 02:02
ãh - sample@email.tst
20
Minggu, 21 September 2014 - 02:02
268435455 - sample@email.tst
20
Minggu, 21 September 2014 - 02:02
|cat /etc/passwd# - sample@email.tst
20
Minggu, 21 September 2014 - 02:01
- sample@email.tst
20
Minggu, 21 September 2014 - 02:01
`cat /etc/passwd` - sample@email.tst
20
Minggu, 21 September 2014 - 02:01
1 - sample@email.tst
20
Minggu, 21 September 2014 - 02:01
1 - ................windowswin.ini
20
Minggu, 21 September 2014 - 02:01
1 - sample@email.tst
20
Minggu, 21 September 2014 - 02:01
1 - À®À®À¯À®À®À¯À®À®À¯À®À®À¯À®À®À¯À®À®À¯À®À®À¯À®À®À¯windowsÀ¯win.ini
20
Minggu, 21 September 2014 - 02:01
1 -
20
Minggu, 21 September 2014 - 02:01
OTczMjg3 - sample@email.tst
20
Minggu, 21 September 2014 - 02:01
1 - c:/windows/win.ini
20
Minggu, 21 September 2014 - 02:01
1 - ../../../../../../../../../../windows/win.ini
20
Minggu, 21 September 2014 - 02:01
1 - /../../../../../../../etc/passwd
20
Minggu, 21 September 2014 - 02:01
1 - file:///etc/passwd
20
Minggu, 21 September 2014 - 02:01
1 - invalid../../../../../../../../../../etc/passwd/././././././././././././././././././././././././././
20
Minggu, 21 September 2014 - 02:01
ð'ð"" - sample@email.tst
20
Minggu, 21 September 2014 - 02:01
1 - ..À¯..À¯..À¯..À¯..À¯..À¯..À¯..À¯etc/passwd
20
Minggu, 21 September 2014 - 02:01
1 - ../.../.././../.../.././../.../.././../.../.././../.../.././../.../.././etc/passwd
20
Minggu, 21 September 2014 - 02:01
1 - ../..//../..//../..//../..//../..//../..//../..//../..//etc/passwd
20
Minggu, 21 September 2014 - 02:01
JyI= - sample@email.tst
20
Minggu, 21 September 2014 - 02:01
1 - /etc/passwd
20
Minggu, 21 September 2014 - 02:01
1 - .\./.\./.\./.\./.\./.\./etc/passwd
20
Minggu, 21 September 2014 - 02:01
@@5osXk - sample@email.tst
20
Minggu, 21 September 2014 - 02:01
1 -
20
Minggu, 21 September 2014 - 02:01
- sample@email.tst
20
Minggu, 21 September 2014 - 02:01
1 - ..%2F..%2F..%2F..%2F..%2F..%2F..%2F..%2F..%2F..%2Fetc%2Fpasswd%00.png
20
Minggu, 21 September 2014 - 02:01
1 - sample@email.tst
20
Minggu, 21 September 2014 - 02:01
1 - Li4vLi4vLi4vLi4vLi4vLi4vLi4vLi4vLi4vLi4vZXRjL3Bhc3N3ZAAucG5n
20
Minggu, 21 September 2014 - 02:01
1 - sample@email.tst
Array
Minggu, 21 September 2014 - 02:01
1 -
20
Minggu, 21 September 2014 - 02:01
1 - ..%2F..%2F..%2F..%2F..%2F..%2F..%2F..%2F..%2F..%2Fetc%2Fpasswd
20
Minggu, 21 September 2014 - 02:01
1 - sample@email.tst
Minggu, 21 September 2014 - 02:01
1 - sample@email.tst
1e309
Minggu, 21 September 2014 - 02:01
1 - ../../../../../../../../../../etc/passwd
20
Minggu, 21 September 2014 - 02:01
1 - sample@email.tst
1
Minggu, 21 September 2014 - 02:01
1 - sample@email.tst
..À¯
Minggu, 21 September 2014 - 02:01
1 - sample@email.tst
ãh
Minggu, 21 September 2014 - 02:01
1 - sample@email.tst
|dir
Minggu, 21 September 2014 - 02:01
1 - sample@email.tst
&dir
Minggu, 21 September 2014 - 02:01
1 - sample@email.tst
||cat /etc/passwd
Minggu, 21 September 2014 - 02:01
1 - sample@email.tst
268435455
Minggu, 21 September 2014 - 02:01
1 - sample@email.tst
OTgwNjY4
Minggu, 21 September 2014 - 02:01
1 - sample@email.tst
;cat /etc/passwd;
Minggu, 21 September 2014 - 02:01
1 - sample@email.tst
|cat /etc/passwd#
Minggu, 21 September 2014 - 02:01
1 - sample@email.tst
Minggu, 21 September 2014 - 02:01
1 - sample@email.tst
`cat /etc/passwd`
Minggu, 21 September 2014 - 02:01
1 - sample@email.tst
20
Minggu, 21 September 2014 - 02:00
1 - sample@email.tst
cat /etc/passwd
Minggu, 21 September 2014 - 02:00
1 - sample@email.tst
&cat /etc/passwd&
Minggu, 21 September 2014 - 02:00
1 - sample@email.tst
&cat /etc/passwd
Minggu, 21 September 2014 - 02:00
1 - sample@email.tst
ð'ð""
Minggu, 21 September 2014 - 02:00
1 - sample@email.tst
JyI=
Minggu, 21 September 2014 - 02:00
1 - sample@email.tst
@@KB2d2
Minggu, 21 September 2014 - 02:00
1 - sample@email.tst
Minggu, 21 September 2014 - 02:00
1 - sample@email.tst
20
Minggu, 21 September 2014 - 02:00
14-02-2015 s/d 21-02-2015
Pameran seni rupa: "GANDHENG-RENTENG #4 - SOR MEJO NOK ULANE"
di Gedung Yon Zipur Jl. Balai Kota Pasuruan, Jawa Timur
12-02-2015 s/d 21-02-2015
“TIROLESIA” Art Exhibition: PHOTO | FILM | STENCIL ART
di Indonesia Contemporary Art Network (iCAN), Jl. Suryodiningratan 39, Kota Yogyakarta 55141
11-02-2015 s/d 12-02-2015
Pentas TEATER GANDRIK: TANGIS
di Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta, Jl. Sriwedani 1, Gondomanan, Yogyakarta
10-02-2015 s/d 23-02-2015
Pameran "Titik Temu 6 GENETIKA"
di Nadi Gallery, Jl. Kembang Indah III Blok G3 no. 4-5, Puri Indah, Jakarta Barat
10-02-2015
Video Performance Installation: "Nusantara Manuscript"
di Candi Sukuh, Ngargoyoso, Jawa Tengah, Indonesia 57793
05-02-2015 s/d 08-03-2015
Pameran "Aku Diponegoro, Sang Pangeran dalam Ingatan Bangsa: Dari Raden Saleh Hingga Kini"
di Galeri Nasional Indonesia (GNI), Jl. Medan Merdeka Timur no. 14, Jakarta Pusat
04-02-2015
S[old] Out, Exhibition of Students Final Project
di Art:1 Jalan Rajawali Selatan Raya No. 3, Jakarta Pusat 10720, Telp. 021-64700168
04-02-2015
Pesta Puisi 3 Kota
di Ascos - Asmara Art & Coffee Shop Jl. Tirtodipuran 22, Yogyakarta 55143
31-01-2015 s/d 21-02-2015
The Box of Scopophilia
di s.14 Jl. Sosiologi 14 Komp. Perum UNPAD Cigadung-Bandung
30-01-2015 s/d 05-02-2015
Pameran Proyek Seni Rupa Jinayah/Siyasah: Playing with Boundaries
di Tetangga Seniman Kompleks Pusat Pondok Pesantren Al-Munawwir Jl. K.H. Ali Maksum Tromol Pos 5, Krapyak, Yogyakarta
read more »
Jum'at, 13-02-2015
Sor Mejo Nok Ulane
oleh Fadjar Sutardi
Senin, 02-02-2015
Parikan Suroboyoan, Harapanku, dan Aktivitasku
oleh Wahyu Nugroho
Selasa, 13-01-2015
Hidup Sebagai Cahaya
oleh Arahmaiani
Senin, 22-12-2014
Karya Kerja Memaksimalkan Panca Indera
oleh Oleh Palupi. S, M.A
Rabu, 03-12-2014
Upaya Menemu Kebaruan
oleh Kuss Indarto
read more »
Merajakan Nalar di Tengah Kepungan Hedonisme
oleh Christian Heru Cahyo Saputro
Buku bertajuk: Acropolis (Kerajaan Nalar) yang merupakan kumpulan kolom karya wartawan SKH Lampung Post Heri Wardoyo (HRW) hadir meramaikan pasar wacana. Buku yang berisi kolom-kolom Heri Wardoyo ini pernah dimuat di rubrik ‘Nuansa’ Lampung Post bertitimangsa tahun...
Fantasi Balzac tentang Pulau Jawa
oleh Sigit Susanto
Merajut Masa Depan Bocah Merapi
oleh T. Nugroho Angkasa S.Pd.
Novel Kasongan, Seliat Tanah Liat
oleh R. Toto Sugiharto
read more »
GUDANG GARAM INDONESIA ART AWARD 2015
Dana SAM untuk Seni dan Lingkungan
LOMBA PENULISAN JURNALISTIK
Lomba Foto “Air dan Sanitasi untuk Kehidupan yang Lebih Baik”
6th Beijing International Art Biennale 2015
Sayembara Cipta Kreasi Motif Batik Seragam Dinas Harian RSUP Dr Kariadi 2014
Lomba Desain Sepatu Tingkat Nasional 2014
LOMBA DESAIN MURAL GALERI NASIONAL INDONESIA 2014
LOMBA CIPTA SENI BATIK NUSANTARA 2014
The 4th Bangkok Triennale International: Print and Drawing
read more »
10/02/2015 23:32 | icha | saya mw jual brang py kkek msa penjajahan di ambon.... samurai bs ditekuk pjang bget... ada belati kecil beserta bendera jepang msa lampau... ada tulisan di sebuah uukuran kertas seperti kulit binatang tpi tulisan jepang... mhon bntuan nya mau jual saja butuh ug urgent
04/02/2015 09:50 | Anwar Sanusi | Artikel sangat membantu dalam membuka wawasan tentang Seni...
02/02/2015 22:26 | Redaksi Indonesia Art News | Sdr. DheaMS, Anda bisa menyimak dari deadline atau keterangan waktu lainnya, apakah lomba-lomba tersebut sudah berakhir atau masih berlaku. Silakan cek. Terima kasih.
02/02/2015 21:00 | DheaMS | apa lomba ini masih berlaku? jika masih berlakunya sampai kapan? mohon jawabannya
27/01/2015 21:32 | Desita Anggina | SemangART
read more »
About Us
Indonesia Art News merupakan media tentang dinamika seni yang berkait dengan aspek keindonesiaan. Media ini berusaha untuk mengedepankan segi informasi ihwal seni yang dikemas dengan cara pandang kritis dan muatan yang investigative. Indonesia Art News berkedudukan di Yogyakarta, Indonesia
Gabung di Facebook
Buku Tamu
Pengelola IAN
Editor in chief:Kuss Indarto
Editor:R. Toto Sugiarto
Designer:Andika Indrayana
Email - info@indonesiaartnews.or.id