HOME     NEWS     EVENTS     ARTICLES     DIRECTORY     BOOKS     OPPORTUNITIES  
   
Rabu, 22 Agustus 2012 - 07:06
Lebaran Berkah versus Lebaran Mubah?
oleh Fadjar Sutardi
Menara Masjid Agung Kendari, Sulawesi Tenggara. (foto: kuss)
NILAI-NILAI, manfaat dan tujuan berpuasa di bulan Ramadhan hampir semua manusia modern sudah tahu dan faham. Apapun agama, kepercayaan, aliran, ke-Islaman, atau apapun status sosialnya dan bahkan yang tidak punya status sekalipun juga sudah tahu, bahwa berpuasa bertujuan membentuk karakter jiwa manusia agar selalu meng-Ilahiyah, mampu membangun citra diri manusia agar selalu mendapat rahmat, keberkahan dan pengampunan dari Tuhannya. Manusia yang berpuasa digambarkan oleh Tuhan akan mendapatkan ketenangan, kesejukan, kedamaian dan ketentraman hidup. Diharapkan dengan menjalani kewajiban puasa, nantinya manusia terlahir menjadi sosok manusia ideal, adil, jamil, kamil, sehingga dengan mudah menuangkan rasa kasih dan menumpahkan rasa sayang terhadap sesama. Dengan puasa diharapkan oleh Tuhan agar kehidupan manusia jauh dari gelayutan keangkaraan dan kemungkaran, tidak mudah terjebak dan terjerumus ke dalam “penurutan” dan ketaatan kepada Tuhan yang palsu, yaitu hawa nafsu dengan seluruh jajaran jendral-kopralnya.

Bagi yang berpuasa Tuhan menjanjikan kepada manusia dengan sesuatu yang menarik, yaitu pencapaian ketakwaan. Takwa itu akan masuk dan merasuk mensucikan jiwa manusia yang kotor. Mengenai takwa itu oleh Toshihiko Izutsu, dikatakan bahwa dengan taqwa manusia akan memiliki kepekaan atas konsep dasar manusia, yakni iman yang menggerakkan etika. Etika yang bersandarkan pada keimanan, akan menjauhkan budaya keangkuhan dan kesombongan yang bersifat bendawi. Puasa dan taqwa menjadi “laku” yang esensial dan sentral di tengah kehidupan parsial yang mengglobal.

Taste dari puasa yang men-takwa, akan dirasakan mulai dari pagi hari sampai sore harinya dengan puncak taste-nya, saat berbuka puasa. Saat demikian manusia akan mengalami ekstase kenikmatan, kerahmatan, keberkahan. Tuhan seakan meletakkan jiwa manusia pada puncak ketinggian ruhaniah tiada tara. Tuhan seakan menggenggam ruh manusia yang berpuasa untuk dikembalikan pada alam alastu birabb. Yakni pengalaman purba manusia saat perjanjian dengan Tuhan sebelum diturukan di atas bumi ini. Di alam alastu birrabb inilah Anne Marie Schimmel menggambarkan adanya “pertemuan kerahmatan dan keberkahan” antara Tuhan dan manusia. Dan manusia berpuasa ini bergumam penuh dengan kenikmatan, seraya berteriak dengan teriakan purbanya dahulu, yaitu balaa sahidna, di titik puncak inilah manusia menyaksikan kembali atas nikmat Tuhan yang diberikan. Di saat buka puasa inilah manusia mendapatkan keberkahan taste-Nya. Sayangnya pertemuan kerahmatan dan keberkahan tersebut, tak akan pernah dirasakan lagi pada manusia modern hari ini, manusia modern takkan pernah mendapatkan suasana di atas. Itu terjadi pada ribuan tahun lalu, itu terjadi di saat manusia belum didera oleh kenyataan  dan “keterjebakan” duniawiyah yang maju dan modern seperti pada zaman ini.

Keindahan Ramadhan sangat mulia dan bermakna. Hanya di bulan Ramadhan hadir berkah Allah, hadir pewahyuan Al-Qur’an yang mulia, hadir kasih sayang Rasulullah yang ditaburkan kepada para abdillah yang fakir dan yang miskin, hadir keindahan seribu bulan malam lailatul qadar, hadir ribuan malaikat yang menyejukkan manusia di bumi, hadir kekhusukan sholat tarwih yang menggemakan langit, hadir kelezatan buah kurma dan seteguk air yang berkah,  hadir kesetiaan para istri dalam menghidangkan menu makanan dan minuman yang berkah,  hadir kemenangan para syahid dalam memuliakan kemanusiaan. Sayang manusia modern, tak kan lagi “menikmati” itu semua.

Manusia modern tak akan bisa membayangkan lagi, apalagi merasakan indahnya nilai-nilai “pure” Ramadhan yang mulia ini. Hal ini terjadi karena manusia modern tak lagi meninggikan dan mengutamakan kemuliaan hati, tak lagi memuliakan akal yang sehat, tak lagi menghormati ke-ilahian, tak lagi mendalami makna kerahmatan, keberkahan dan curahan ampunan. Manusia modern tak lagi mengerti makna ketinggian Ramadhan, tak lagi mengerti “keluhuran derajat orang yang berpuasa”, manusia modern tak akan lagi bisa membaca kemuliaan ajaran Muhammad. Tak bisa lagi mengerti seruan kelembutan Abu Bakar, kehangatan Umar bin Khatthab, kerendahhatian Usman bi Affan dan kesederhanaan yang menakjubkan Ali bin Abu Thalib.

Manusia modern sudah lupa dan jauh dari seruan “langit” keindahan puisi Jalaludin Rumi, Rabi’ah al-Adawiyah, Al-Ghazali, Jamaludin al Afghani, Muhammad Iqbal. Manusia modern tak akan bisa lagi memaknai ajakan budaya “tani yutun”-nya Sunan Kalijaga, keterlibatan audiovisualart-nya Sunan Bonang dan Sunan Giri. Takkan lagi mengerti dan apalagi memaknai kritikan isyarat zaman edan Ronggo Warsito. Di sekitar kita, manusia modern tak akan lagi merasakan “joke sufiyah”-nya Pak AR Fahrudin Yogya, lembah manah-nya Kyai Mangli Magelang, sindiran puitispolitisnya Mbah Lim Klaten, jiwa kreatif Kyai Alawi Muhammad Bangkalan Madura. Takkan lagi mendapatkan kesantaian jiwa Gus Dur dan seterusnya.

Di Yogya misalnya manusia modern tak akan lagi, dapat melek-melek dengan jiwa merdeka menikmati malam seribu bulan di sepanjang Malioboro bersama ustadz Umbu Landu Paranggi, renungan jiwa sastranya Jamaah Shalahudin dengan Kyai Kuntowijoyo, melukis bareng-bareng bikin kartu lebaran bersama Cho-Chro disepanjang jalan Solo, misalnya. Manusia modern hanya merasakan kehadiran Ramadhan dalam bingkai-bingkai hedonika, sajian-sajian selebritika, menu-menu orkestra politik dan akhirnya menutup Ramadhan dengan jiwa korupistik. Hanya untung dan untung bendawi yang dicari.

Kehangatan dengan memuliakan sesama manusia di bulan Ramadhan, tergerus dengan “tekanan dan ancaman” profanisasi Ramadhan secara sistematik melalui promo besar-besaran dengan pemanfaatan visual culture di sepanjang jalan Anyer sampai Panarukan warisan Belanda itu, dari Sabang sampai Merauke, ibaratnya. Di televisi, koran, majalah, facebook, twitter tumpah ruah memutarbalikkan kemuliaan Ramadhan yang spiritualistik, menjadi profanik.

Kompetisi sistemik yang liar dengan pemanfaatan visual culture hedonic, dibungkus dengan suasana relegiomaterialistik tumpleg-bleg dengan riuhnya, semua orang memaksa dirinya untuk bikin dan menikmati lagu religi, semua orang dipaksa pakai peci dan sarung, semua orang dihingarbingarkan “buber” (buka bersama) di mall, hotel, masjid, gereja, kelenteng yang menganggap kegiatan tersebut bernilai dermawan, semua orang memaksa diri menjadi ustadz, semua orang memaksa diri untuk seakan-akan alim. Yang menggelikan, di hari pertama puasa, banyak orang yang mulai mengucapkan selamat hari raya. Inilah gaya spiritualistikhedonik manusia modern.

Ketenangan jiwa Ramadhan diganti dengan keriuhan bendawi yang menyesakkan. Keriuhan  semakin kentara, ketika lebaran tiba. Alih-alih mendapatkan kemerdekaan jiwa, rasa taqwa ataupun justru yang muncul adalah kesumpekan, ketegangan, keputusasaan. Kesemua itu bisa terjadi, karena manusia terjebak pada tawaran-tawaran lahiriah yang berbentuk industrial visual culture, yang diciptakan manusia itu sendiri. Coba bayangkan, di setiap jelang lebaran manusia modern menciptakan “karya visual instalasi industri” di sepanjang jalan, di sepanjang gang. Ratusan ribu mobil, jutaan sepeda motor bergerak dan macet, macet dan berhenti secara kolosal, yang sekaligus melahirkan paradoksal. Manusia modern selaksa “ayam mati di lumbung padi”-nya sendiri. Kemodernan yang dahulunya dianggap akan melahirkan kebahagiaan, justru menelikungnya. Kemewahan industrial yang dahulu dianggap sebagai sarana kebahagiaan, justru memperangkapnya.

Ramadhan dan lebaran akhirnya menjadi sampah dan sumpah serapah. Dari sinilah  manusia modern kehilangan daya batinnya. Batin menjadi tumpul, akal sehat menjadi mandul, jiwa jernih menjadi bahlul, keangkaramurkaan yang dibungkus oleh kemegahan sesaat merasuki ruh manusia yang semakin jahul. Ramadhan dan lebaran dikacau oleh keserakahan tanpa batas, kemegahan tanpa batas, keriangan semu tanpa batas, keindahan kulit ari tanpa batas.

Manusia modern, tak lagi mengenal dirinya, jiwa dan ruhnya, laksana negeri Aceh telah kehilangan rencongnya. Manusia modern tak mampu lagi melihat Tuhannya. Manusia modern tak mampu lagi melihat Nabinya. Yang justru dilihat, dipatuhi, ditaati adalah tuan Howard Hathaway Aiken, tuan Andre Marie Ampere, tuan Edwin Howard Amstrong, tuan Francis Wiiliam Aston, tuan Francis Bacon,tuan Leo Hendrik Backeland, tuan Adoff von Baeyer, tuan Alexander Graham Bell, tuan Carl Frederich Benz, tuan Clarence Birdseye, tuan Johan Friederich Bolttger, tuan Tycho Brahe, tuan Thomas Alva Edison, tuan George Stephenson, tuan Norbert Wiener, tuan Wright Wilbur, tuan Vladimir Kusma dan sebagainya. Tuan-tuan tersebut dijadikan Tuhan-Tuhan oleh manusia modern. Manusia modern, tak lagi mengenal dirinya, jiwa dan ruhnya. Manusia modern tak mampu lagi melihat Tuhannya. Manusia modern tak mampu lagi melihat Nabinya.

Tuhan-Tuhan modern memberikan “rahmat dan nikmat” pada manusia modern, manusia memanjakan hidupnya dengan menyembah komputerdigitalnya Aikin, menikmati berkahnya Ampere, memenuhi gendang telinganya dengan FMnya Howard Amstrong, mencandariakan dirinya bersama Graham Bell, melanglang buana imaginer di dunia maya bersama Tuhan Winner, pulang kampung di hari lebaran dengan menciumi punggung Wright Wilbur, di sepanjang siang dan malam di bulan Ramadhan dan Lebaran manusia modern diharubiru rayuan Tuhan Kosma yang melenakan, yang melalaikan, yang melupakan hakikat dan tujuan ramadhan dan  berlebaran.

Kemajuan bendawi, menjebak manusia. Alam tak lagi terkembang. Panas matahari tak terukur. Rembulan yang dahulu cantik, sekarang redup, malu dan cahanya kabur, hanya karena manusia modern yang sok Islami, “memperebutkan” rembulan dengan ru’yat yang diplintir, hilal yang tak lagi dipercaya. Di sinilah kemudian Tuhan-tuhan modern tertawa terbahak-bahak, mengangkangi kepala keras jahul manusia, menyeret kebahlulan manusia kebianglala, yang tak ada ujung pangkalnya. Yang di kerajaan dan yang di gubug-gubug liar sama saja. Yang di mimbar dan yang di tikar sama saja. Yang di jalanan dan yang di ladang sama saja, yang di sekolahan dan yang di selokan sama saja, yang di pasar dan yang di selasar sama saja, yang di de-pe-er dan yang di emper-emper sama saja. Tunduk dan patuh pada Tuhan-tuhan kapitalis dan materialis yang memporakporandakan kemanusiaan manusia. Manusia tak lagi ber-rahmat, ber-hidayah, ber-inayah, ber-barokah dan ber-taufiq. Manusia berpuasa dan berlebaran dengan berjingkrak kegirangan di sepanjang jalan dan trotoar. Tetapi yang berjingkrak-jingkrak hanya raganya dan bukan jiwanya. Jiwanya menepi entah kemana.

Lalu lantas apa yang harus dikerjakan di tengah hingar bingar audiovisual culture bendawi pada bulan Ramadhan yang diakhiri lebaran ini? Pertama, mengajari diri dan keluarga untuk “mengambil yang sedikit dan membuang yang banyak”, artinya paham mana sampah dan paham mana yang rahmah. Paham mana yang barokah dan mana yang mengandung fitnah. Paham mana yang masuk di jiwa dan paham mana yang masuk di hawa nafsu. Paham mana kebutuhan dan mana yang hanya berbentuk keinginan. Paham mana niat yang suci dan paham mana sentuhan jiwa yang “merak” hati.

Kedua, merenungi diri bersama keluarga untuk “memasukkan yang  masuk dan mengeluarkan yang keluar”. Yang masuk adalah ketenangan, kesenangan, kebahagiaan, kesederhanaan dan merasakan sesuatu dengan apa adanya. Yang keluar, adalah keinginan untuk selalu “moncer-blater” (terlihat oleh orang lain dengan penampilan lahiriah), padahal moncer dan blater membutuhkan “daya dana” yang besar. Dan belum tentu kita dan keluarga memiliki stok untuk kemonceran itu. Gaya hidup perlu, tetapi kalau hanya terjebak pada tampilan visual, sebenarnya kan menipu diri. Benar atau tidaknya masing-masing punya ukuran sendiri. Dalam bahasa Nabi yang ditafsir ulang Kuntowijoyo demikian, kalau bisa dalam hidup sebaiknya jiwanya tertambat pada masjid (menambatkan jiwa kita dengan memperbanyak sujud) dan bukan “terkinthil-kinthil” pada pasar dunia (mall oriented).

Ketiga, menerapkan guyonan kata-katanya Mbah Man (Emha Ainun Nadjib), yakni kalau bisa mengambil logika terbalik dengan “melangkah ke belakang dan mundur ke depan”, artinya mengejar kemajuan bendawi, tanpa sandaran rohaniawi manusia akan mengalami kekosongan hidup, kehampaan kematian dan tak akan bisa kembali pada saat manusia masih hidup pada zaman azali. Selain itu, mestinya menyadari bahwa yang hari ini merasa terdepan, dipastikan pada suatu saat akan terbelakangkan oleh kuasa Tuhan (sunatullah). Yang hari ini merasa terpinggirkan, saat yang sudah dipastikan akan mengalami keutuhan akan keterdepanan. Seperti kata mas Willy (W.S. Rendra) dulu, bahwa katanya langit di dalam dan langit di luar sama saja. Bencana dan keberuntungan “sami mawon”.

Ketiga lemparan pada tulisan ini, sebenarnya mengarah dalam pencarian dan memaknai Ramadhan yang barusan berlalu dan lebaran yang hadir hari ini secara adil dan normal. Nah, ini semua menjadi kewajiban kita (seniman, budayawan, rohaniwan, pengelola seni media massa on line he..he..), khususnya kewajiban para pengambil kebijakan peradaban tentunya ditunggu-tunggu karya-karya besarnya, agar setiap datang Ramadhan dan Lebaran dapat bersama-sama menahan diri untuk menjadi manusia yang mengutamakan “citra apa adanya” daripada “citra apa-apa punya” yang akhirnya dapat kita lihat akibatnya. Macet, macet dan macet. ***
*) *Fadjar Sutardi, perupa, tinggal di Sumberlawang, Sragen.
Leave a Comment
Please feel free to let us know your feeling about this
Your Name
Your Comment
Your Email
Utk ganti paragraf silakan klik
Comments:
Rabu, 22 Agustus 2012 - 17:37
najib amrullah - najibamrullah1@gmail.com
kita manusia mahkluk belaka yang unperfect.....jadilah diri sendiri dan lelakulah bak aliran air mengalir,carilah selamat di hiruk pikuk tuanya dunya fana ini.bejo-bejaning-kang lali luweh bejo kang eling lan waspodho.
01-06-2014 s/d 30-06-2014
Pameran Lukisan Yaksa Agus: ‘ART Joke: Menunggu Godot’
di Tirana Art Space Jl Suryodiningratan 55, Yogyakarta
31-05-2014 s/d 08-06-2014
Bolo Kulon Painting Exhibition: "PASURUAN BERKISAH"
di Bromo Art Space Jl. Raya Nongkojajar, Dsn. Mesagi, Ds. Wonosari.. Kec. Tutur, Kab. Pasuruan, Jawa Timur, Indonesia
24-05-2014 s/d 01-06-2014
Thai-Indonesia Art Exchange Exhibition
di Bentara Budaya Yogyakarta, Jl. Suroto 2, Kotabaru, Yogyakarta
23-05-2014 s/d 01-06-2014
Pameran Seni Rupa "Ngalor Ngetan" - Khoiri & Rb. Ali
di Bentara Budaya Jakarta, Jl. Palmerah Selatan 17, Jakarta 10270
23-05-2014 s/d 31-05-2014
Pameran Seniman Residensi: Makan Angin #1
di Rumah Seni Cemeti Jl. D.I. Panjaitan 41, Yogyakarta
22-05-2014 s/d 12-06-2014
Painting Exhibition: "Triwikromo" by Elka Shri Arya
di House of Sampoerna, Taman Sampoerna 6, Surabaya
20-05-2014
Diskusi Kerakyatan: EKONOMI KREATIF BERBASIS SENI & BUDAYA
di Ruang Interaktif Center Lantai I Fakultas Ilmu Sosial & Humaniora, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
20-05-2014
Dialog Budaya & Gelar Seni “YogyaSemesta” Seri-67
di Kompleks Kepatihan Danureja, Jl. Malioboro, Yogyakarta
20-05-2014
Refleksi Dwi Windu Reformasi
di Gedung PKKH (d/h Purna Budaya), Kompleks UGM, Bulaksumur Yogyakarta
17-05-2014 s/d 19-05-2014
Kirab Seni Budaya Kotagede
di Kawasan Kotagede, Yogyakarta
read more »
Senin, 14-07-2014
Bukan Tokoh Nusantara
oleh Abah Jajang Kawentar
Senin, 23-06-2014
Dunia
oleh F. Sigit Santoso
Kamis, 29-05-2014
Menelusuri Jalur Ngalor Ngetan
oleh Kuss indarto
Selasa, 20-05-2014
Jas, Maskulinitas, dan Fragmen-fragmen Modernitas
oleh Hendra Himawan
Sabtu, 10-05-2014
Pengubahan Haluan: Masa Lalu yang Oposisional dan Masa Depan yang Tak Pasti dari Biennale Kontemporer
oleh Rafal Niemojewski
read more »
Merajakan Nalar di Tengah Kepungan Hedonisme
oleh Christian Heru Cahyo Saputro
Buku bertajuk: Acropolis (Kerajaan Nalar) yang merupakan kumpulan kolom karya wartawan SKH Lampung Post Heri Wardoyo (HRW) hadir meramaikan pasar wacana. Buku yang berisi kolom-kolom Heri Wardoyo ini pernah dimuat di rubrik ‘Nuansa’ Lampung Post bertitimangsa tahun...
Fantasi Balzac tentang Pulau Jawa
oleh Sigit Susanto
Merajut Masa Depan Bocah Merapi
oleh T. Nugroho Angkasa S.Pd.
Novel Kasongan, Seliat Tanah Liat
oleh R. Toto Sugiharto
read more »
LOMBA PENULISAN JURNALISTIK
Lomba Foto “Air dan Sanitasi untuk Kehidupan yang Lebih Baik”
6th Beijing International Art Biennale 2015
Sayembara Cipta Kreasi Motif Batik Seragam Dinas Harian RSUP Dr Kariadi 2014
Lomba Desain Sepatu Tingkat Nasional 2014
LOMBA DESAIN MURAL GALERI NASIONAL INDONESIA 2014
LOMBA CIPTA SENI BATIK NUSANTARA 2014
The 4th Bangkok Triennale International: Print and Drawing
Iver Jåks Artist-In-Residency Program 2014
UNDANGAN Pameran Seni Rupa Karya Guru Seni Budaya “GURU SENI BERLARI” - GALERI NASIONAL INDONESIA
read more »
04/07/2014 03:04 | Rev. Ana cole | Apakah Anda perlu bantuan keuangan/pinjaman untuk melunasi tagihan Anda, mulai atau memperluas bisnis Anda? Roya pinjaman perusahaan telah terakreditasi oleh kreditur Dewan memberikan pinjaman pinjaman persentase untuk klien lokal dan internasional. Mohon jawaban jika tertarik. Terima kasih. Wahyu Ana cole Telp: + 447012955490 Email:roya_loans@rocketmail.com
23/06/2014 12:22 | Danielbudi | Salam kenal saya pelukis asal Solo-Jawatengah mohon infonya jika ada pengumuman atau berita perihal kompetisi lukis yang terbaru sehingga saya tidak ketinggalan beritanya terimakasih.
17/06/2014 19:53 | WP | Saya merasa website ini juga berkait dengan aspek keindonesiaan: www.wayangpuki.com. Saya dan kawan2 tidak habis diskusi tentang intinya. Mungkin menarik untuk Anda? Salam.
26/04/2014 01:21 | Luki Johnson | salam kenal dari pulau Borneo
20/04/2014 09:31 | Syakieb Sungkar | terima kasih
read more »
About Us
Indonesia Art News merupakan media tentang dinamika seni yang berkait dengan aspek keindonesiaan. Media ini berusaha untuk mengedepankan segi informasi ihwal seni yang dikemas dengan cara pandang kritis dan muatan yang investigative. Indonesia Art News berkedudukan di Yogyakarta, Indonesia
Gabung di Facebook
Buku Tamu
Pengelola IAN
Editor in chief:Kuss Indarto
Editor:R. Toto Sugiarto
Designer:Andika Indrayana
Email - info@indonesiaartnews.or.id