HOME     NEWS     EVENTS     ARTICLES     DIRECTORY     BOOKS     OPPORTUNITIES  
   
Kamis, 26 Juli 2012 - 09:53
Mengangkut Diskursus dalam Pasar
oleh Kuss Indarto
Karya Sri Astari (foto atas), dan lanskap depan Taman Budaya Yogyakarta yang dihiasi jalinan 1.600 bambu yang merupakan karya Joko Dwi Avianto, serta patung gajah di atas tumpukan 6.000 butir kelapa karya I Made Widya Diputra. (Foto: kuss indarto & Artjog
KEMBALI, perhelatan seni rupa ARTJOG mengubah secara ekstrem wajah depan gedung Taman Budaya Yogyakarta (TBY) di kawasan jalan Sriwedani 1, Gondomanan, Yogyakarta. Tahun 2012 ini, sekitar 1.500 bilah bambu teranyam dan terjalin dalam harmoni yang digubah oleh perupa Bandung, Joko Dwi Avianto. Karya seni instalasi bambu bertajuk “The Lost Vegetation” itu nyaris menutup total sisi depan gedung berlantai dua dengan tinggi belasan meter. Di seberangnya, di depan fasad bambu itu, sekitar 6.000 butir kelapa (yang masih lengkap dengan serabutnya) nampak mengonggok dengan gajah putih bergading warna perak yang merebahkan diri di puncak onggokan itu. “Hope on Hold”, judul patung gajah di atas gunungan kelapa tersebut dikerjakan dengan serius oleh perupa muda lulusan ISI Yogyakarta, I Made Widya Diputra yang karib disapa Lampung.

Dua karya itu terasa tidak sekadar berposisi sebagai “pintu masuk” secara fisik sebelum pengunjung menjelajahi ratusan karya seni rupa lainnya di dalam gedung, namun sekaligus sebagai “palang pintu” isyarat atas tema kuratorial perhelatan ARTJOG#12 ini: “Looking East – A Gaze upon Indonesian Contemporary Art”. Kurator ARTJOG kali ini, Bambang “Toko” Wicaksono menaruh ekspektasi besar lewat tema ini agar publik seni rupa di sini bisa melihat dengan lebih jeli apa yang tengah berlangsung di kawasan timur dunia, terutama di Indonesia. Tidak saja bagaimana bangsa Barat (bangsa Eropa) melihat Timur, namun juga kita sebagai orang Timur membaca ulang dan memposisikan diri di tengah perkembangan yang terjadi di dunia Timur dalam hubungannya dengan situasi global sekarang.

Pemunculan tema kuratorial ini dirasa penting, setidaknya menyangkut dua hal: (1) memberi penajaman sekaligus titik diferensiasi atas “ideologi dasar” perhelatan ini di antara perhelatan serupa yang bertebar kawasan (negara) lain, dan (2) memberi kerangka intelektual (intellectual framework) bagi para seniman yang terlibat di dalamnya. Untuk yang pertama, tema ini menjadi penting mengingat bahwa ARTJOG bukanlah art fair yang melibatkan galeri sebagai peserta seperti yang terjadi di Art Basel, Arco Madrid, Art Hongkong, hingga Art Stage Singapore, namun seniman diundang langsung atau mengaplikasi untuk menjadi peserta. Inilah yang memungkinkan panitia menentukan arah angin bagi keberlangsungan art fair agar lebih spesifik. Sementara menyangkut hal kedua, kurator berhasrat besar agar garis kerja kreatif seniman peserta bisa relatif “menunggal” dalam satu jalinan tema dan cara berpikir yang kuat dan fokus. Hal kedua ini juga dimunculkan dengan dasar acuan atas pengalaman perhelatan tahun 2011 lalu ketika kurator Aminuddin Th. Siregar mencoba membiarkan ARTJOG tanpa tema kuratorial. Bebas. Hasilnya, banyak perupa yang justru kehilangan jejak untuk mengarahkan dengan tegas garis kreatifnya.

Perhelatan ini tampaknya tak sekadar mengambil porsi pada aspek pasar semata, namun juga beringsut untuk sebesar-besarnya menggali kecederungan diskursus yang tengah terjadi dalam kerangka berpikir para seniman. Kalau ini menjadi sebuah kebenaran dan keniscayaan, maka tak begitu luputlah pemetaan yang telah dituliskan oleh Terry Smith dalam What is Contemporary Art (2009) yang melihat bahwa dekade 1990 merupakan dekade bienalle, dan berikutnya dekade pertama 2000 adalah dekade art fair. Mungkin terus berlanjut pada dekade berikutnya.

Untuk konteks geografis Yogyakarta, bahkan Indonesia, bisa jadi pemetaan Terry Smith juga menemukan titik benarnya ketika tahun 2011 lalu perhelatan biennale yang ada—Biennale Jogja, Jakarta Biennale, apalagi Biennale Jawa Timur—mulai memberi sinyal peredupan yang sempat jadi bahan pergunjingan. Ada yang manajemennya dianggap seperti laiknya benang kusut, atau perhelatan itu mulai dijauhi (justru) oleh masyarakat pendukungnya.

Sementara ARTJOG malah terus menunjukkan kebesarannya, mulai dari kecakapannya dalam pola manajerial, cara kerja kuratorial hingga ke problem teknis eksekusi serta kemampuan finansialnya. Tahun 2012, menurut CEO ARTJOG, Heri Pemad, perhelatan ini memakan biaya produksi hingga Rp 1,56 M dengan 30% di antaranya berasal dari sponsor. Angka ini meningkat dari kisaran Rp 1,3 M pada tahun lalu. Dan pendapatan pun relatif menampilkan angka-angka besar untuk ukuran situasi pasar seni rupa yang tengah melesu akhir-akhir ini. Sampai hari keempat setelah pembukaan tanggal 14 Juli (pameran berlangsung hingga 28 Juli), panitia sudah mengantungi angka penjualan 23 karya dengan nilai sekitar Rp 1,5 M, termasuk di dalamnya karya Handiwirman yang bermedia c-print, bertajuk “Potong dan Bakar”, yang dibanderol dengan harga Rp 525 juta. Bandingkan misalnya dengan Biennale Jogja XI tahun 2011 lalu yang mulai dari pembuatan yayasan hingga eksekusi 2 tahun berikutnya menelan dana Rp 1,6 M (Rp 350 juta dana Pemda DIY, selebihnya dari berbagai sponsor, tanpa dana pemasukan dari penjualan karya).

Kilasan angka-angka itu memberi sinyal peneguhan atas “kemandirian” ARTJOG. Dan dari sinilah perhelatan yang telah berlangsung 4 kali ini telah kuat menjadi magnet bagi publik seni di Yogyakarta, Indonesia, bahkan mancanegara. Ketika aplikasi dibuka, panitia kebanjiran 883 proposal dengan 1.692 karya yang masuk. Toh, kurator mau tak mau harus lebih selektif menentukan kualitas karya. Hasilnya, karya seniman undangan masih tetap dominan dengan mengisi seluruh karya yang terdisplai hingga 60% dibanding para seniman yang masuk lewat jalur aplikasi. Fakta ini mempertontonkan dengan tegas atas ketergantungan ARTJOG terhadap “seniman bintang”, dan—apa boleh buat—sulit dijadikan sebagai talent scouting event. Yang banyak diserap adalah seniman yang telah besar, baik reputasi dan jejaring pasarnya. Ya, seperti itulah salah satu karakter event ini. Maka dihadirkan pula kali ini seniman dunia asal Amerika Serikat yang beberapa waktu ini menetap di Bali, Ashley Bickerton, dan Wim Delvoye (Belgia).

Memang, akhirnya kebintangan para seniman peserta ini sedikit banyak dibuktikan. Misalnya terlihat karya Sri Astari bertajuk “Skeleton Woman and Dragon”. Perempuan perupa ini menampilkan sesosok tengkorak (perempuan) berjubah kain-kain lokal, termasuk kain jarik bermotif parangrusak. Di sampingnya, patung komodo warna merah tampak menjulur-julurkan lidahnya. Ruang display untuk karya ini seperti sebuah diorama dengan lukisan langit yang kelabu. Lanskap tersebut  difigurai oleh dua pilar gedung TBY yang “ke-gothic-gothic-an”. Karya ini seperti hendak mempersuasi penonton untuk mengulik memori tentang nilai dan identitas kejawaan serta keindonesiaan yang mulai membayang-meluntur. Nilai-nilai itu kini hadir tidak dalam kapasitas yang amat melekat dalam diri manusia Jawa atau Indonesia, namun sebatas sebagai sampiran yang artificial dan bahkan dangkal.

Nasirun juga menampilkan karya yang mempertontonkan narsisisme dirinya yang menarik-ulur problem identitas diri dan kulturalnya. Sayang sekali karyanya terlalu “bermurah hati” menampilkan terlalu banyak medium sehingga justru cukup melemahkan dunia simbol yang ingin dicapainya. Peti mati yang berukir begitu njelimet dengan patung dirinya berada di dalamnya sebenarnya sudah cukup kuat menarasikan banyak hal. Maka kehadiran lukisan di belakang peti mati itu menjadi mubazir.

Secara umum, sebenarnya, tema kuratorial ini bisa lebih jauh mendasarkan diri pada pemikiran-pemikiran dan kajian post-colonial yang menentang dominasi art discourses Barat pada perkembangan seni rupa kontemporer global dewasa ini. Kini, ada kecenderungan kajian post-colonial hidup kembali karena—antara lain—munculnya kegelisahan di kalangan kurator museum etnografi yang merasa bahwa kehadiran museum-museum sudah tidak relevan lagi di zaman sekarang karena didasari persepsi kolonial. Persoalan ini lagi hangat di Eropa, Amerika Serikat dalam beberapa tahun terakhir.

Dari persoalan ini lalu persoalan identitas dan etnisitas pada perkembangan seni rupa kontemporer ikut muncul ke permukaan bersama kajian post-colonial. Kalau isu ini bisa berkembang menjadi sebuah platform di dunia seni rupa global, maka ini menjadi peluang untuk menampilkan seni rupa Indonesia. Dan art fair seperti ini bisa menelusup dengan gagasan yang pelahan memberi alternatif atas kekuatan Barat. Apakah tema kuratorial “Looking East – A Gaze upon Indonesian Contemporary Art” juga hendak menyasar ke arah sana? Ataukah ini dimungkinkan menjadi tema yang berseri secara sistematis ke depan? Atau malah tetap akan berkonsentrasi murni pada pasar dan abai pada “ideologi dasar” yang tak sadar telah diciptakannya? ***

Kuss Indarto, kurator seni rupa, dan pengelola situs www.indonesiaartnews.or.id

(Tulisan ini telah dimuat di majalah Tempo, edisi 23-29 Juli 2012, halaman 54-56)
Leave a Comment
Please feel free to let us know your feeling about this
Your Name
Your Comment
Your Email
Utk ganti paragraf silakan klik
Comments:
Rabu, 05 September 2012 - 16:19
geRZgfdCioah - l.steslugriy@nic.nl
tragis nian nasib negeri ini.. segmoa generasi penerus bangsa saat ini dan yang akan datang mampu merubah keadaan yang kurang menyenangkan tersebut.. JAYA SELALU INDONESIA-ku!!!
Jum'at, 27 Juli 2012 - 04:16
kuss indarto - kuss.indarto99@gmail.com
Terima kasih banyak, mbak/mas "sgh" dan pak Maman Gantra. Salam hangat! :-)
Kamis, 26 Juli 2012 - 19:24
Maman Gantra - mamangantra2000@yahoo.com
TOP. Saya banyak belajar dari tulisan ini. Selamat, Mas Kuss!
Kamis, 26 Juli 2012 - 15:44
sgh - saniamissart@hotmail.com
Mantap ulasannya, sayang saya tidak bs hadir ke artjog tahun ini, namun ulasan ini dengan tegas memberi banyak info.
23-04-2015
Seminar Sesrawung PKKH UGM: “Heterotopia dan Ekspresi Artistik, Seni dan Penataan Arsitektur Ruang Kota yang Manusiawi”
di Hall PKKH UGM, Bulaksumur
19-04-2015
APRIL MOOD
di Rumah Seni Sidoarum, Jl. Garuda 563, Krapyak RT 07, RW 18, Sidoarum, Godean, Sleman, Yogyakarta
17-04-2015 s/d 17-05-2015
BIOGRAFI VISUAL "OKSIGEN JAWA"
di Galeri Soemardja, ITB
16-04-2015
Dialog & Pembacaan Puisi "Penyair Srilanka - Rudramoorthy Cheran"
di Bentara Budaya Bali Jl. Prof. Dr. Ida Bagus Mantra 88A, Gianyar, Bali
15-04-2015
Sehari Boleh Gila
di Tahunmas Artroom (Jln H. Saptohudoyo), Rumah Nasirun (dekat Rumah Dr Timbul Raharjo), Halaman Parkir PT Timboel, Kasongan, Yogyakarta.
15-04-2015 s/d 19-04-2015
Pameran Tunggal Soetopo: "Melintasi Jaman"
di Bentara Budaya Jogyakarta Jl Suroto 2, Kota Baru, Yogyakarta
15-04-2015
Artist Talk "Mendadak Sticker" bersama Seniman Greys Lockheart (Filipina) dan J.K. Shin (Korea Selatan)
di Dongengkopi & Indiebook
31-03-2015
YogyaSemesta”Seri-77: PISOWANAN AGUNG SEBAGAI GERAKAN KEBUDAYAAN “JOGJA GUMREGAH” MENUJU PERADABAN BARU “JOGJA ISTIMEWA”
di Kepatihan, Jl. Malioboro, Yogyakarta
31-03-2015
Seri Ceramah/ Diskusi “Guru-Guru Muda”
di di Langgeng Art Foundation (LAF) Jl. Suryodiningratan no. 37 Yogyakarta
31-03-2015
"Musik Mantra 2" Kerjasama Teater Gabungan Yogyakarta dan PKKH UGM
di Pusat Kebudayaan Koesnadi Hardja Soemantri (Purna Budaya) UGM Jl. Persatuan Ugm Jogjakarta, Yogyakarta
read more »
Kamis, 23-04-2015
Seniman Karbitan
oleh Aris Setyawan
Minggu, 12-04-2015
Dinamika Seni Rupa (di) Pasuruan
oleh Wahyu Nugroho
Jum'at, 27-03-2015
Pertaruhan Artistik dalam “Tiga Karakter, Tiga Warna”
oleh Kuss Indarto
Senin, 09-03-2015
Rebranding Luar-Dalam
oleh Kuss Indarto
Sabtu, 07-03-2015
Si Encit, Cus, Alias Doktorandus Raden Hendro Suseno
oleh Sunardian Wirodono
read more »
Merajakan Nalar di Tengah Kepungan Hedonisme
oleh Christian Heru Cahyo Saputro
Buku bertajuk: Acropolis (Kerajaan Nalar) yang merupakan kumpulan kolom karya wartawan SKH Lampung Post Heri Wardoyo (HRW) hadir meramaikan pasar wacana. Buku yang berisi kolom-kolom Heri Wardoyo ini pernah dimuat di rubrik ‘Nuansa’ Lampung Post bertitimangsa tahun...
Fantasi Balzac tentang Pulau Jawa
oleh Sigit Susanto
Merajut Masa Depan Bocah Merapi
oleh T. Nugroho Angkasa S.Pd.
Novel Kasongan, Seliat Tanah Liat
oleh R. Toto Sugiharto
read more »
Kompetisi UOB Painting of the Year 2015
BANDUNG CONTEMPORARY ART AWARDS (BaCAA) #04
KOMPETISI SENI LUKIS, MANDIRI ART AWARD 2015
GUDANG GARAM INDONESIA ART AWARD 2015
Dana SAM untuk Seni dan Lingkungan
LOMBA PENULISAN JURNALISTIK
Lomba Foto “Air dan Sanitasi untuk Kehidupan yang Lebih Baik”
6th Beijing International Art Biennale 2015
Sayembara Cipta Kreasi Motif Batik Seragam Dinas Harian RSUP Dr Kariadi 2014
Lomba Desain Sepatu Tingkat Nasional 2014
read more »
06/05/2015 16:11 | EkanantoBudiSantoso | to Pa Andre Galnas,kapan kita reuni mamer bareng temen2x? biar wacananya "dream come true gitu,art new biar juga makin seru kita undang konco2x sy nulis disini juga,thanks att.
06/05/2015 16:03 | EkanantoBudiSantoso | Sy butuh info lomba lukis Mandiri,sebenarnya kompetisi bukan untuk cari "jawara,jati diri dan silaturakhmi perupa sangat perlu"dikembangbiakan biar ngga ego,ah.
10/02/2015 23:32 | icha | saya mw jual brang py kkek msa penjajahan di ambon.... samurai bs ditekuk pjang bget... ada belati kecil beserta bendera jepang msa lampau... ada tulisan di sebuah uukuran kertas seperti kulit binatang tpi tulisan jepang... mhon bntuan nya mau jual saja butuh ug urgent
04/02/2015 09:50 | Anwar Sanusi | Artikel sangat membantu dalam membuka wawasan tentang Seni...
02/02/2015 22:26 | Redaksi Indonesia Art News | Sdr. DheaMS, Anda bisa menyimak dari deadline atau keterangan waktu lainnya, apakah lomba-lomba tersebut sudah berakhir atau masih berlaku. Silakan cek. Terima kasih.
read more »
About Us
Indonesia Art News merupakan media tentang dinamika seni yang berkait dengan aspek keindonesiaan. Media ini berusaha untuk mengedepankan segi informasi ihwal seni yang dikemas dengan cara pandang kritis dan muatan yang investigative. Indonesia Art News berkedudukan di Yogyakarta, Indonesia
Gabung di Facebook
Buku Tamu
Pengelola IAN
Editor in chief:Kuss Indarto
Editor:R. Toto Sugiarto
Designer:Andika Indrayana
Email - info@indonesiaartnews.or.id