HOME     NEWS     EVENTS     ARTICLES     DIRECTORY     BOOKS     OPPORTUNITIES  
   
Sabtu, 14 Juli 2012 - 19:36
Antara Kertagosa dan Yogyakarta: Pencerahan Estetika Multikultural
oleh I Nyoman Gunarsa
Dr. H.C. I Nyoman Gunarsa bercanda bersama para para dosen ISI Yogyakarta dan para seniman sekitar 1,5 jam setelah dianugerahi gelar Doctor Honoris Causa oleh ISI Yogyakarta, 14 juli 2012. (Foto: kuss)
(Ini merupakan naskah pidato penganugerahan gelar Doctor Honoris Causa Bidang Seni Rupa, yang disampaikan di depan Rapat Senat Terbuka, Institut Seni Inonesia Yogyakarta, Yogyakarta, Sabtu, 14 Juli 2012)

***

Assalamu’alaikum wr. Wb.
Salam sejahtera bagi kita semua,
Om Swastiastu,

Yang Terhormat:
Rektor ISI Yogyakarta dan para Pembantu Rektor, serta Ketua, Sekretaris dan para Anggota Senat,
Promotor dan ko-Promotor,
Dekan dan Pembantu Dekan, serta Ketua, Sekretaris dan Anggota Senat Fakultas.
Segenap Civitas Akademika ISI Yogyakarta,
Para Tamu Undangan, Hadirin,  para Seniman, Jurnalis, dan para Sahabat yang saya muliakan,

Puji syukur saya haturkan ke hadapan Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat rahmat dan sinar sucinya, kita bisa berkumpul di ruangan ini pada Rapat Senat Terbuka ISI Yogyakarta dalam suasana damai dan bahagia.

Pada kesempatan ini pula, ijinkan saya menyampaikan rasa hormat saya kepada ISI Yogyakarta, Almamater yang telah membesarkan saya, yang pada hari ini memberi kehormatan luar biasa dengan menganugerahi gelar Doktor Honoris Causa di bidang Seni Rupa kepada saya. Untuk itu saya menyampaikan apresiasi yang tinggi, dan terimakasih yang tulus untuk semuanya. Dengan hormat penghargaan ini saya dedikasikan kepada para mantan guru atau dosen, kolega, karyawan, mahasiswa, serta para sahabat seniman di ISI Yogyakarta, dan di Yogyakarta pada umumnya.

Pada hari yang membahagiakan ini, saya akan menyampaikan Pidato Penganugerahan Gelar Doctor Honoris Causa dengan judul: “ANTARA KERTAGOSA DAN YOGYAKARTA: Pencerahan Estetik Multikultural”

Rapat Senat Terbuka ISI Yogyakarta yang Saya Hormati,

Pidato ini merupakan lembaran otorefleksi atas jalan peziarahan kultural dan intelektual yang saya lalui secara bolak-balik dalam waktu yang panjang, dari tanah kelahiran saya di Klungkung, Bali, hingga sampai di Daerah Istimewa Yogyakarta dimana saya dibesarkan sebagai individu dan seniman. Di kota inilah saya ditempa oleh keragaman budaya yang telah dimulai sejak pertengahan 1940-an. Otorefleksi ini penting untuk diajukan, di mana praktek seni yang saya yakini sesungguhnya tidak pernah lepas dari praktek kehidupan, sebab seni merupakan bagian dari hidup itu sendiri.

Sungguh beruntung saya pernah tinggal cukup lama di rumah kos di daerah Purwanggan, dekat Pura Paku Alaman. Di sana secara langsung maupun tidak saya menyerap ajaran tokoh intelektual kelahiran Yogyakarta, Ki Hadjar Dewantara, (1) Pendiri Sekolah Taman Siswa. Ki Hadjar Dewantara mengajarkan sistem pendidikan kesenian yang bersifat synaesthetic, dengan apa keseluruhan indra peserta didik dirangsang secara simultan, dengan cara mengetahui, merasakan dan mempraktikkan seni. Dewantara meramu konsep itu dengan indah, dengan menyatakan bahwa seni itu lahir dari semangat: niteni (mengamati), ngrasake (merasa-rasakan), nglakoni (melakukan dengan penghayatan penuh). Ramuan filosofis ini, terang benderang menempatkan praktik seni sebagai jalan luruh seutuhnya antara jiwa dan raga dalam mendalami kehidupan. Seniman akan berhasil dalam mencipta kalau ia sebagai subjek masuk dan menyatu dengan objek yang digarapnya. Di sinilah pengamat lebur dengan yang Yang Diamati.

Berawal dari mengamati, menyapa dan menginderawi secara seksama atas berbagai khasanah kehidupan yang warna-warni ini, meniscayakan pada penumbuhan kepekaan akan rasa indah, pun rasa simpati pada keberagaman dimensi kehidupan. Sebab keberagaman adalah esensi keindahan. Tangga ngrasake memang muara dari proses mengamati dan menyapa; melakukan dialog verbal dan batin, sehingga kesadaran akan keindahan senantiasa terasah. Otorefleksi atas proses mengamati dan merasakan, kemudian memuarakan semangat kerja, spirit untuk mencipta sesuatu mencipta (nglakoni).

Mengikuti rumusan ini, maka sampai pada pendadaran bagaimana seluruh dimensi kehidupan budaya yang telah saya lalui, menjadi deretan pengalaman yang bisa saya indrawi: lihat, dengar, raba, kecap, dan rasakan, yang pada giliran kemudian menjadi daya hidup jagat cipta-mencipta seni yang saya hayati sepenuhnya. Sejak awal saya meyakini bahwa berolah seni tidak harus membutuhkan teori-teori yang muluk-muluk, seni harus dihayati sepenuhnya, mengikuti rasa, imaginasi, dan pikiran kembara untuk membaca fenomena keseharian. Melalui cara ini kecanggihan menyipta akan mengalami sofistikasi dengan sendirinya.

Tanah Klungkung, yang secara historis menjadi lokus kejayaan peradaban Bali abad-15, dengan berbagai artefak seni yang diwariskan hingga kini, menjadi mata air yang menghidupi jalan seni manusia Bali. Saya pribadi lahir dari jalan air kesenian Bali itu. Memori visual saya dipenuhi dengan imaji artefak seni dan budaya Kertagosa, yang membiakkan simpati dan rasa hormat pada akar tradisi. Seni lukis wayang Kamasan secara bentuk dan konseptual merupakan artefak-artefak seni yang memengarui kesadaran estetik saya. Saya mengagumi kenyataan bahwa tetua Bali telah menerjemahkan dunia dewa-dewi, mitologi agung dewata, kisah besar kepahlawanan Mahabrata dan Ramayana, menjadi narasi visual yang luar biasa indah. Tradisi melukis secara stilistik itu berkembang dalam berbagai gaya di beberapa daerah Bali, diantaranya: gaya Buleleng yang sangat ekspresif, gaya Kerambitan yang cenderung naif, dan gaya Ubud yang naturalistik.

Apa yang saya lakukan kemudian didasarkan atas modal tradisi ini, yakni mengeksplorasi Wayang Kamasan sebagai subjek penciptaan seni, untuk dipetik esensi dan karakternya yang khusus, lalu direpresentasi dengan karakter yang bersifat lokal-universal. Lukisan yang saya ciptakan berangkat dari simpul akar tradisi dan juga pencerapan ilmu seni akademik yang saya gali dan pelajari di kampus. Bobotnya kurang lebih sama seperti kekaguman saya atas tarian Bali yang ritmis dinamis, dengan keunikan warna-warni properti tarian dan sesaji. Saya menikmati perjalanan bolak-balik antara tradisi dan modernitas.

Lebih jauh lagi, di kompleks peninggalan Kertagosa, yang letaknya bersebelahan dengan Sekolah Dasar saya di Klungkung, terdapat satu bangunan vertikal yang berhasil merepresentasi budaya-budaya besar yang telah melintasi Klungkung, yaitu: Portugis, Inggris, Belanda, dan China. Budaya-budaya yang telah mendunia itu terlihat pada artefak-artefak patung manusia yang atributnya unik, khas, mewakili dari mana mereka berasal. Inilah embrio kesadaran awal saya tentang keragaman budaya, yang nantinya mengalami pematangan, menjadi kesadaran estetik multikultural ketika saya belajar dan berkarya di Yogyakarta, khususnya ketika saya berinteraksi erat dengan rekan-rekan mahasiswa dan seniman dari berbagai daerah di Indonesia. Sebagai ilustrasi, mengobservasi seniman Sudjojono—seniman kelahiran Sumatera—yang artikulatif dan kritis, memberi pelajaran yang berbeda dari ketika saya mengobservasi Hendra Gunawan—kelahiran Bandung—yang karismatik, berapi-api, dengan semangat kerakyatan. Belajar di ASRI Yogyakarta / STSRI “Asri” di tahun 1960-an, 1970-an memberi kesempatan saya berinteraksi langsung dengan mahasiswa-mahasiswa seni dan seniman dari berbagai latar-belakang budaya.

Rapat Senat Terbuka ISI Yogyakarta yang Terhormat,

Pada kesempatan yang baik ini saya ingin menginformasikan bahwa kesadaran estetik multikultural tersebut di atas terus memotivasi saya untuk untuk selalu beraktivitas budaya secara dinamis. Berkarya seni bukan perkara estetika semata, melainkan harus berkontribusi sosial. Saat ini “Nyoman Gunarsa Museum” (20) – museum yang saya dirikan di Klungkung pada 1994, bekerjasama dengan berbagai museum dunia yang mengoleksi seni lukis wayang Kamasan. Projek kolaboratif bernama “Festival Internasional Seni Lukis Klasik Wayang Kamasan” akan menggelar karya-karya seni klasik Bali yang dikoleksi oleh sejumlah museum itu. Tujuannya untuk memberi edukasi seni bagi generasi masa kini, khususnya untuk menggarisbawahi kenyataan bahwa karya-karya anak Bangsa masa lalu telah menjadi koleksi kebanggaan museum-museum di beberapa negara, di antaranya: Australia, Perancis, Belanda, Jerman dan Amerika. Dari sejumlah karya seni lukis klasik Bali yang kini dipinjamkan dari museum-museum itu, kita dapat belajar tentang totalitas untuk bereksplorasi kreatif dari para seniman tradisional Bali dalam berolah rupa dan bentuk. Sebagai contoh, ternyata ada karya seni lukis wayang Kamasan terbuat pada media kertas yang panjangnya 18 meter; dulunya dipakai sebagai piranti ritual keagamaan masyarakat. Banyak juga karya-karya klasik yang menampilkan bentuk-bentuk dengan deformasi yang ekstrim, atau dengan penyangatan karikatural atas bentuk yang begitu surreal, tidak kalah surealistiknya dibanding karya-karya surrealis yang tercatat dalam buku-buku seni modern. Begitu juga fakta tentang bagaimana seni lukis klasik Bali dipelajari oleh seniman dan peneliti dunia.

Sesungguhnya banyak potensi dari seni lukis warisan kerajaan Gelgel yang belum digali dan diungkap. Saya menjadi lebih paham mengapa dari masa ke masa selalu muncul peneliti asing yang begitu getol melakukan riset tentang, dan mengoleksi karya seni Bali. Pemahaman akan pentingnya menyimpan benda-benda seni bersejarah itulah yang mendorong saya untuk berburu dan membawa pulang karya-karya seni klasik Bali yang berada di luar negeri ke Indonesia. Sebagai contoh, saya sempat datang ke Florence, Italia, mewakili Kabupaten KlungKlung guna menandatangani MoU Sisters City antara Klungkung dan Florence. Pada kesempatan itu saya mendatangi keluarga dari seniman dan topografer Belanda bernama WOJ. Neuwenkamp, yang dulu datang ke Indonesia pada awal abad ke-20, dan sempat menyaksikan sendiri Perang Puputan di Klungkung pada 1908. Dari keluarganya yang bermukim di Italia, saya membeli karya-karya koleksi Neuwenkamp, berupa lukisan, ukiran dan patung.

Dari Den Haag, saya juga membawa pulang kembali karya-karya lukis klasik Bali yang secara kebetulan ditawarkan di suatu flea market. Demikian pula saya membeli beberapa patung kuno dan lukisan klasik Bali dari sebuah pelelangan di San Francisco, USA. Tidak kalah pentingnya adalah tambahan koleksi yang saya peroleh dari beberapa pedagang barang antik di beberapa kota di Indonesia. Bagi mereka karya yang saya beli itu mungkin tidak terlalu bernilai, namun bagi museum karya-karya itu berbicara banyak.

Rapat Senat Terbuka ISI Yogyakarta yang Terhormat,

Balai sidang Kertagosa menjadi ruang istimewa dalam benak dan tapak pengalaman usia kecil saya; ruang berarsitektur unik dengan langit-langit bergambar wayang dengan riwayat Bima Surga. Dari narasi soal etik hidup, dan juga keindahan stilistik jagat wayang dapat dibaca di sini. Memori kecil saya dihiasi tutur dan gambar balai sidang Kertagosa, hingga tetap terbawa jauh, bahkan ketika saya menimba ilmu seni Barat di ASRI Yogyakarta/STSRI “Asri”.

Yogyakarta menjadi taman persemaian segala memori kecil saya tentang wayang. Interest dan kemampuan saya bertutur dengan bahasa wayang berkembang di sini. Mengapa? Karena di kampus kami dipaksa untuk mengenali dan mengangkat identitas dan kekhasan budaya kami masing-masing. Pertemuan saya dengan sejumlah tokoh penting nasional juga terjadi di Yogyakarta. Sebagai ilustrasi saya pernah memenangkan lomba disain mural Bali Beach Hotel di Sanur, yang diprakarsai oleh Presiden Soekarno pada tahun 1960-an. Pernah pula saya bersama-sama dalam satu acara dengan Sultan Hamengku Buwono IX, yang memberi saya sertifikat untuk acara itu. Saya pernah melukis secara langsung, dan mengenal secara pribadi dengan Presiden II RI, Soeharto, dan beberapa anggota keluarga beliau yang suka mengoleksi karya seni. Demikian pula dengan Presiden-Presiden RI selanjutnya, sampai yang sekarang ini; saya pernah secara pribadi berjumpa dan berinteraksi lantaran aktivitas seni dan kegiatan di bidang permuseuman. Saya bersyukur pernah tinggal di daerah yang tidak terlalu jauh dari Sentul, dimana Sanggar Pelukis Rakyat yang dipimpin oleh Hendra Gunawan, berlokasi. Dari Affandi pun saya belajar banyak hal tentang dunia seni lukis dan kiat-kiat survivalnya sebagai pelukis. Berkawan dan berinteraksi dengan para seniman atau orang besar secara langsung, merupakan cara belajar tersendiri, karena di situlah kita sering mendapatkan kiat-kiat yang tidak ditulis dalam buku teks.

Rapat Senat Terbuka ISI Yogyakarta yang Terhormat,

Pada pertengahan dekade 1960-an, seirama dengan apa yang terjadi di seluruh negeri, terjadilah konflik ideologi potitik yang berkepanjangan, yang secara umum disebut sebagai peristiwa ‘G30S/PKI’; menimbulkan berbagai persoalan pelik yang belum selesai hingga kini. Di tengah kondisi sosio-politik pasca 1965, saya lebih memilih berada di ‘jalan tengah’; yaitu jalan untuk menunjuk rasa dan identitas ke-Indonesia-an, yang berasal dari akar tradisi yang saya miliki. Saya tidak mau terjebak dalam polemik persaingan antara mazhab Yogyakarta dan mazhab Bandung. Maka pada akhir tahun 1970 di Yogyakarta, bersama-sama rekan-rekan asal Bali—Made Wianta, Pande Gde Supada, Wayan Sika—kami mendirikan Sanggar Dewata Indonesia (SDI). Sanggar ini bercita-cita meneguhkan pendirian tentang seni rupa Indonesia yang memberi ruang bagi akar budaya dan tradisi yang ada. Walau demikian SDI tidak mau terperangkap dalam tradisionalisme yang sempit. Sampai kini SDI, yang telah berusia lebih dari 40 tahun itu tetap eksis dengan aktivitas kesenian. Mayoritas anggotanya adalah alumni dan mahasiswa ISI Yogyakarta. (3)

Di Yogyakarta, pergaulan multikultural telah tumbuh dan membuahkah toleransi yang dinamis, khusunya di bidang seni. Saya bertemu secara langsung dan berinteraksi dengan tokoh-tokoh seni yang kemudian menjadi ‘penghuni’ catatan sejarah Seni Modern Indonesia, di antaranya: Trubus, Suromo, Affandi, S. Batara Lubis, Joni Trisno, Isa Hasanda, Hariyadi, Amrus Natalsja, kritikus seni Kusnadi, dan juga sastrawan seperti Rendra, dan lain-lain. Sultan Hamengku Buwono IX pada waktu itu juga menjadi payung keharmonisan hidup multikultur, sehingga ide cemerlang seniman lahir dengan semarak dan beragam. Dari mereka dan lingkungan Yogyakarta, saya belajar untuk berfikir lateral, tidak linier, yaitu cara berfikir kembara dengan keterbukaan, guna menyerap dan merefleksi berbagai macam perspektif dan paradigma budaya. Hikmahnya adalah suatu pemahaman, bahwa tidak ada bentuk dan ajaran budaya yang secara absolut benar, dan tidak ada yang sepenuhnya keliru. Sejauh ingatan dan pengalaman saya, seni masih merupakan subjek utama dalam wacana keseharian dalam upaya pencarian karakter masyarakat Indonesia yang majemuk.

Rapat Senat Terbuka ISI Yogyakarta yang Terhormat,

Semasa saya menjadi staf pengajar di STSRI “ASRI” Yogyakarta/ISI Yogyakarta (1967-1994), saya sering mengajak mahasiswa untuk keluar dari ‘kotak budaya’ dan zona aman masing-masing, guna memasuki kantong-kantong budaya dan juga studio seniman yang punya karya dan konsep yang unik. Di Bali, para mahasiswa saya kenalkan kepada pelukis-pelukis Eropa, seperti: Le Mayeur, Hans Snel, Donald Friend, Antonio Blanco, Arie Smit, dan lain-lain. Bagaimana pun, cara dan gaya kesenimanan para pelukis manca negara ini, akan memberi referensi berbeda, sehingga menambah keberagaman pengalaman estetik.

Saya pun mengenalkan cara khas mempromosikan karya kami masing-masing, yaitu dengan cara yang khas, cerdas, disertai dengan keuletan; kalau perlu dengan cara door to door, sebab ini jauh lebih baik daripada menyerahkan marketingnya sepenuhnya pada pihak lain. (4) Yang penting dari semuanya itu adalah membuat bagaimana memprovokasi para mahasiswa agar mau berfikir bebas dan bereksplorasi seleluasa mungkin, guna menemukan ide-ide baru dan cara-cara yang pas untuk berkreasi seni.

Rapat Senat Terbuka ISI Yogyakarta yang Saya Hormati,

Dalam praktek berkesenian, proses mengamati, merasakan, dan melakukan seni tidak berjalan sendiri-sendiri secara jelas pilah, melainkan terjadi secara simultan. Ada energi spontan yang menyembul begitu saja ketika seniman mengamati objek secara mendalam. Melalui pengamatan, apa yang tadinya biasa-biasa saja, tak bermakna, menjadi absurd atau luar biasa, dan menyembulkan pertanyaan ‘mengapa demikian’. Inilah yang disebut momen estetik atau pencerahan, yang kerap menstimuli orang untuk bergerak dan berkarya. Pencerahan ini tidak bisa dipastikan bagaimana datangnya; pun tidak bisa ditentukan secara pasti seberapa waktu yang dibutuhkan untuk menggapainya. Inilah yang saya pahami sebagai kecakapan dan kepekaan estetik. Keadaan mental seperti itu bisa dikondisikan pemunculannya dengan berbagai cara, salah satunya dengan membuka seluas mungkin cara pandang untuk bebas menjelajah; membiarkan pikiran menyembulkan ide-ide segar tanpa direcoki dengan analisis dan evaluasi terlebih dahulu. Setelah tahap ini selesai, barulah sikap kritis, evaluasi, dan otorefleksi diaktifkan, guna melihat apa yang ada, atau yang telah dicapai. Kepekaan inilah yang tidak bisa diperoleh hanya dengan membaca formula baku, apalagi secara instan. Kepekaan mampu melihat momen-momen estetik dari hal-hal biasa keseharian, hanya muncul dan berkembang dalam proses niteni, ngrasake, dan nglakoni secara intens dan berkesinambungan.

Rapat Senat Terbuka ISI Yogyakarta yang Terhormat,

Seniman dapat memperbesar kepekaan dengan cara merasa-rasakan pengalaman pribadi dan sosialnya, agar mampu melakukan hal-hal yang bisa memayungi kepentingan sosialnya. Sejak usia bangku sekolah saya telah memiliki kecintaan luar biasa pada karya seni, terutama pada artefak keindahan masa lalu. Setelah memperoleh penghasilan dari kerja kesenian, saya memutuskan untuk mengoleksi karya-karya seni modern, karya seni para leluhur, seperti: patung, keris, juga lukisan. Sebelum mendirikan Museum Seni Lukis Klasik Nyoman Gunarsa di Klungkung, saya pernah mendirikan Museum Seni lukis Kontemporer Indonesia 1987 di Papringan, Yogyakarta. Di situlah saya bisa memamerkan karya-karya para kolega, dan seniman-seniman yang punya prestasi baik di bidang seni dari beberapa pusat seni di Indonesia. Mahasiswa juga tertolong dengan berpameran di sana, image karya mereka meningkat. Sering pula diselenggarakan di sana berbagai kegiatan ilmiah tentang seni, dengan mengundang beberapa tokoh intelektual dan budaya. Aktivitas pameran dan diskusi di sana merangsang terjadinya booming seni lukis Indonesia pada akhir 1980-an, dan awal 1990-an. (5) Melalui kegiatan permuseuman naluri mengoleksi karya-karya unik terus berkembang, sehingga tanpa terasa saya telah mengoleksi ratusan item benda seni, baik yang diperoleh dari dalam, maupun luar negeri. Inilah manifestasi dari konsep nglakoni.

Jadi energi untuk berkarya (nglakoni) menurut hemat saya, harus selalu diperluas cakupannya, yakni dari lingkup pribadi ke ranah sosial. Karena bagaimana pun seni hidup bukan di ruang hampa sosial, dan kehebatan seni dapat dinilai dengan seluas apa jangkauan sosialnya mencakup. Pendirian museum oleh beberapa seniman, tentu mengakomodasi misi seni seperti ini. Begitu juga hadirnya seniman dalam berbagai ranah institusi publik, adalah seperangkat kerja sosial yang harus diberi apresiasi. Seniman memilih jalan sebagai dosen, atau pun sebagai perangkat struktural dunia pendidikan adalah dimensi lain dari kerja kesenian. Saya dengan sukarela menerima kepercayaan musyawarah para pemilik dan pengelola museum di Bali untuk menjadi Ketua Himpunan Museum se-Bali (Himusba). Harapannya dengan amanah ini, saya bisa menyumbangkan pemikiran dan laku duta budaya, seperti pada acara “Art, Ritual, Performance” yang diselenggarakan Asian Art Museum San Francisco, Amerika Serikat, di mana ‘Himusba’ diundang untuk turut-serta.

Kesadaran dan keberanian bagi seorang seniman untuk mendirikan museum baik museum pribadi maupun publik, harus terus didorong dan didukung oleh dunia seni Indonesia. Karena bagaimana pun, seniman yang telah mendapat penghasilan lebih dari kerja kesenian, memiliki kewajiban yadnya untuk menjaga kelanggengan karya seni yang telah dicipta. Affandi, Widayat, Dullah, Nasirun dan lain-lain telah memberi inspirasi betapa dedikasi seorang seniman melampaui kerja cipta-mencipta yakni dengan mendirikan museum untuk karya-karya mereka sendiri dan karya-karya bermakna dari orang lain.    

Rapat Senat Terbuka ISI Yogyakarta,

Harapan publik bagi seniman memang tidak tunggal. Selain diharapkan terus berkarya dengan kualitas terjaga, juga selalu dimintai tanggungjawab sosial untuk menyangga keberlangsungan ekosistem budaya masyarakatnya. Memang ada beberapa kawan seniman yang lebih memilih kerja seni dan berjuang hanya untuk misi kesenian pribadinya. Hal itu tentu tidak salah sebagai pilihan pribadi. Namun demikian, pribadi yang berfaedah bagi lingkungan sosialnya justru menjadi idaman keidealan banyak seniman, dan juga harapan art world kita. Pengalaman dan sejarah seni rupa telah mencatat, betapa seniman yang berempati sosial untuk ikut berpartisipasi aktif secara kultural, mendapat apresiasi tersendiri. Karena memang, berkesenian bukan sekadar tradisi cipta-mencipta benda indah semata, melainkan turut memikul tanggung jawab sosio-kultural.

Seniman yang berjuang dalam medan demokrasi ekstra-parlemen juga wajib diberi apresiasi. Para penyair dan budayawan semacam Widji Tukul, WS Rendra, YB Mangunwijaya di masa kemerdekaan, wajib dipahami dalam konteks misi seni untuk sosial. Saya secara pribadi telah bergerak memperjuangkan hak cipta atas karya lukis seniman. Sebagai kasus, pada awal 2000-an saya dan istri menemukan bahwa karya lukis saya, berikut tanda-tangan dan kekhasan bingkai lukisan saya yang unik telah dipalsukan, namun tetap dinyatakan sebagai karya ‘I Nyoman Gunarsa’, dan diperjual-belikan di sebuah galeri seni komersial. Ada 6 lukisan palsu atas nama ‘I Nyoman Gunarsa’ yang berhasil kami (6) perkarakan di Pengadilan Negeri Denpasar, selama hampir 7 tahun sejak pertengahan 2000. Pertama kali kasus itu dilaporkan pada 17 Juni 2000, dan untuk kedua kalinya pada 13 Juli 2004. (7) Hasil penelitian forensik oleh pihak kepolisian menyatakan bahwa keenam karya yang dipermasalahkan itu memang bukan hasil karya I Nyoman Gunarsa. Namun hasilnya, Majelis Hakim justru menyimpulkan bahwa keenam karya yang jadi sengketa itu bukan karya saya, I Nyoman Gunarsa, konsekuensinya, saya tidak punya hak untuk mempermasalahkan karya palsu tersebut. Dengan demikian, pemilik galeri seni komersial yang memajang dan menawarkan secara komersial karya-karya palsu ‘I Nyoman Gunarsa’ dinyatakan tidak bersalah, dan oleh karenanya bebas dari hukuman. Dari peristiwa itu saya melihat adanya hal-hal yang harus ditanggapi dan diluruskan, yaitu relasi antara seni dan hukum. Saya memang terpukul oleh fakta pengadilan itu, namun saya akan selalu mencari tahu dan belajar, walau secara ‘agak berkelakar’ media menyebut saya sebagai martir atas perjuangan hak cipta ini. Untuk permasalahan khas itu saya tidak tinggal diam, dan terus melanjutkan perkara itu ke tingkat Mahkamah Agung, sebab saya melihat bahwa masalah ini bukan permasalahan pribadi saya saja, melainkan sebagai pesan kepada umum bahwa permasalahan hak cipta di negeri ini perlu ditanggapi serius. Juga kepada para seniman, ini merupakan imbauan agar seniman tidak boleh tinggal diam ketika hak ciptanya dirampas oleh para pemalsu dan juga broker yang terlibat di dalamnya.

Rapat Senat Terbuka ISI Yogyakarta Yang Terhormat,

Dari pengalaman saya sebagai seniman yang berasal dari tradisi budaya Kertagosa, yang studi dan berkarya serta mengajar seni di Yogyakarta sampai 1994, dan kini nglakoni sebagai pengelola museum, ada beberapa poin hikmah yang akan saya bagikan, sebagai berikut:

1. Pengalaman melihat benda-benda seni, mengalami seni secara langsung merupakan modal yang besar untuk menjadi seniman. Visual memori melihat artefak peningalan Kertagosa adalah modal kultural yang dan penting dalam saya menyerap ilmu seni dan estetika multikultural yang saya peroleh semasa studi dan berkarya di Yogyakarta,


2. Melalui seni dan aktivitas seni yang terbuka dan menyapa banyak orang, kita dapat meluaskan pergaulan dan menjalin persahabatan dengan orang-orang atau pihak dari berbagai latar-belakang. Melalui seni saya dapat berinteraksi secara luas dan intens dengan berbagai pihak, dari orang kebanyakan sampai kepala negara dan diplomat asing.


3. Sebagai mantan dosen, saya mau mengatakan bahwa proses belajar mengajar akan berlangsung dengan baik dan sukses kalau seorang dosen memberi contoh konkrit, dengan berkarya aktif dan menyosialisasikan karyanya.


4. Dari kasus HAKI yang menimpa diri saya, saya mau menyatakan pentingnya Mata Kuliah tentang HAKI diajarkan di sekolah tinggi seni, agar para peserta studi menyadari potensi dan problematika HAKI pada karya ciptanya.


5. Sebagai pengelola museum dan Ketua Perhimpunan Museum se-Bali, saya belajar banyak dari karya-karya klasik Bali, yang ternyata dari aspek media, materi dan ujud bentuk maupun visualnya, yaitu bahwa para seniman klasik Bali telah memiliki daya jelajah dan kreativitas yang tidak kalah eksploratifnya dibanding seniman-seniman moderen dan kontemporer. Sebagai contoh, seniman klasik di Bali telah berhasil membuat kertas media lukis dengan panjang dan lebar yang dalam ukuran sekarang pun, sangat luar biasa. Fakta-fakta ini perlu disosialisasikan secara terus-menerus, guna memotivasi generasi-generasi berikut agar tidak mau kalah dibandingkan orang-orang terdahulu.


6. Tentang lembaga pendidikan seni, dan permuseuman, saya melihat bahwa lembaga pendidikan seni dan museum seni ternyata saling membutuhkan. Jadi harus ada kesadaran makro secara nassional agar pembangunan dan pemeliharaan sekolah seni dan museum seni mendapat perhatian yang serius dan komprehensif dari Pemerintah.


7. Sebagai seniman, pengelola museum, dan alumnus ISI Yogyakarta, saya berharap agar ISI Yogyakarta di kemudian hari memiliki sebuah museum modern, tidak harus berukuran besar, namun benar-benar memenuhi standar minimal, bukan saja sebagai tempat penyimpanan karya-karya seni terpilih dari alumni dan seniman-seniman lain, namun juga sebagai satu wadah pembelajaran dan pelatihan multiguna secara akademik dan profesional.


Rapat Senat Terbuka ISI Yogyakarta, serta para hadirin yang saya hormati,

Demikianlah sharing pengalaman, insight serta harapan saya sebagai seniman, pengelola museum, alumnus dan mantan dosen ISI Yogyakarta. Maka pada kesempatan yang membahagiakan ini saya ingin mengucapkan banyak terimakasih dan penghargaan yang tinggi kepada Yang terhormat Rektor/Ketua Senat ISI Yogyakarta, Sekretaris dan Anggota Senat ISI Yogyakarta yang menyetujui Penganugerahan Gelar Doctor Honoris Kausa Bidang Seni Rupa kepada saya.

Demikian pula apresiasi dan terima kasih yang sama saya sampaikan kepada promotor Prof. Dr. M. Dwi Marianto, MFA, dan co-pomotor Dr. M. Agus Burhan, serta unsur-unsur lain di ISI Yogyakarta yang memungkinkan saya berada di mimbar ini, di hadapan Rapat Senat Terbuka ISI Yogyakarta Yang Terhormat.

Ucapan terimakasih yang sama saya sampaikan kepada Bapak, Ibu, Saudara Tamu Undangan yang saya hormati unuk kehadiran dan perhatian dalam mengikuti pidato ini. Kehadiran Bapak/Ibu/Saudara adalah energi dan kebahagian bagi saya beserta keluarga. Sekian, dan terima kasih.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.  
Santi Santi Santi Om
    
Klungkung, Juli 2012

Catatan Akhir:


(1) Yang dulu bernama Raden Mas Soewardi Dewantara (kelahiran Yogyakarta, 1889 dan wafat pada 1959, yang mendirikan Taman Siswa pada 1922, yang banyak menyerap pemikiran tentang pendidikan dari seorang pembaharu pendidikan Italia, bernama Maria Montessori, dan pemikiran dari penyair dan filsuf India, Rabindranath Tagore.


(2) Museum Seni Lukis Klasik Bali didirikan pada tahun 1994 di Klungkung, diresmikan oleh Prof. DR. Wardiman Djoyonegoro Mendikbud RI

(3) Keanggotaan Sanggar Dewata Indonesia terbuka bagi siapa saja, tidak eksklusif untuk mahasiswa dan seniman asal Bali.

(4) Saya dulu kerap mengajak mahasiswa ke Jakarta, untuk menawarkan karya seni kepada berbagai pihak, dengan naik kereta api kelas ekonomi. Agar terbentuk rasa survival dan keuletan.

(5) Pada 1992 saya dipilih sebagai bintang promosi kartu kredit Mastercard, sehingga lalu lintas pembayaran atas karya seni dengan mata uang asing terlancarakan.

(6) Kami di sini adalah saya sendiri dan istri saya Indrawati.

(7)
Yang melaporkan adalah istri saya sendiri yang kemudian secara janggal justru menjadi tersangka, dengan tuduhan memberikan kesaksian palsu.

Leave a Comment
Please feel free to let us know your feeling about this
Your Name
Your Comment
Your Email
Utk ganti paragraf silakan klik
Comments:
Jum'at, 10 Agustus 2012 - 09:40
Dewagung - dewagdepurwita@yahoo.co.id
seperti halnya yang dituliskan oleh pak Jokob Sumardjo yaitu "setiap seniman menjadi kreatif dan besar karena bertolak dari bahan yang telah tercipta sebelumnya"
Minggu, 29 Juli 2012 - 20:06
OlHWfdaLyN - baz@rt.fr
Mksh bang ron dah mengingatkan saya lagi , seulebmnya saya dah baca artikel seperti ini..Saya mau tanya donk bang ron , saya punya teman dia sering di marahin sama ayahnya.Dia anggap ayahnya itu terlalu keras sama dia sampai2 dia memaki keluarganya lewat status facebook dan sifat dia semakin keras terhadap keluarganya atau menentang..Mksh bang ron , maap klo kepanjangan^_^Yang saya tanyakan Gimana caranya saya sebagai temannya ngasih solusi untuk dia , bahwa yang di lakukan ayahnya tidak seperti yang dia fikirkan
19-09-2014 s/d 20-09-2014
Lauching Komik "SI KANCIL"
di Smesco Exhibition Hall Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12710
18-09-2014 s/d 09-10-2014
“Pra Event Geneng Street Art Project#2” Launching Film Dokumenter dan Pameran Karya Seni Rupa
di ViaVia Jogja Jalan Prawirotaman, Kota Yogyakarta 55153
15-09-2014 s/d 21-09-2014
PASAR YAKOPAN
di Bentara Budaya Yogyakarta, Jl. Suroto No. 2, Kotabaru, Yogyakarta
06-09-2014 s/d 28-09-2014
"Things Happen When We Remember" - Pameran Tunggal FX Harsono
di Jl. Bukit Pakar Timur No.100, Bandung, Indonesia 40198
06-09-2014 s/d 12-09-2014
Pameran Tunggal Faizal “The World of Faizal: Revival”
di Taman Budaya Yogyakarta, Jl. Sriwedani No. 1, Gondomanan, Yogyakarta
06-09-2014 s/d 05-10-2014
PLACE THE KING IN THE RIGHT POSITION, Solo Exhibition by Franziska Fennert
di Lawangwangi, Jl. Dago Giri 99, Bandung, INDONESIA
04-09-2014 s/d 07-09-2014
FESTIVAL MUSEUM 2014
di Pendopo Agung Taman Siswa, Jl. Taman Siswa, Yogyakarta
04-09-2014
MAEM MENDUT #4: WORO LEGI
di Teater Kebun, STSI Bandung, Jl. Buahbatu No. 212 Bandung
02-09-2014
Dialog Budaya & Gelar Seni “YogyaSemesta” Seri-70
di Bangsal Kepatihan, Danurejan, Yogyakarta
02-09-2014
Pameran Perupa Muda CUT n REMIX
di Jogja Gallery Jl. Pekapalan 7, Alun-alun Utara, Yogyakarta 55000
read more »
Senin, 13-10-2014
Menguji Kembali(nya) Faizal
oleh Oleh Kuss Indarto
Rabu, 01-10-2014
Kota Butuh Festival Seni
oleh Muchammad Salafi Handoyo
Rabu, 17-09-2014
Metafora Visual Kartun Editorial pada Surat Kabar Jakarta 1950-1957
oleh Priyanto Sunarto
Senin, 15-09-2014
Pelukis Faizal
oleh Mikke Susanto
Senin, 08-09-2014
Dari Ruang Tamu Seorang Seniman
oleh Ivan Sagita
read more »
Merajakan Nalar di Tengah Kepungan Hedonisme
oleh Christian Heru Cahyo Saputro
Buku bertajuk: Acropolis (Kerajaan Nalar) yang merupakan kumpulan kolom karya wartawan SKH Lampung Post Heri Wardoyo (HRW) hadir meramaikan pasar wacana. Buku yang berisi kolom-kolom Heri Wardoyo ini pernah dimuat di rubrik ‘Nuansa’ Lampung Post bertitimangsa tahun...
Fantasi Balzac tentang Pulau Jawa
oleh Sigit Susanto
Merajut Masa Depan Bocah Merapi
oleh T. Nugroho Angkasa S.Pd.
Novel Kasongan, Seliat Tanah Liat
oleh R. Toto Sugiharto
read more »
LOMBA PENULISAN JURNALISTIK
Lomba Foto “Air dan Sanitasi untuk Kehidupan yang Lebih Baik”
6th Beijing International Art Biennale 2015
Sayembara Cipta Kreasi Motif Batik Seragam Dinas Harian RSUP Dr Kariadi 2014
Lomba Desain Sepatu Tingkat Nasional 2014
LOMBA DESAIN MURAL GALERI NASIONAL INDONESIA 2014
LOMBA CIPTA SENI BATIK NUSANTARA 2014
The 4th Bangkok Triennale International: Print and Drawing
Iver Jåks Artist-In-Residency Program 2014
UNDANGAN Pameran Seni Rupa Karya Guru Seni Budaya “GURU SENI BERLARI” - GALERI NASIONAL INDONESIA
read more »
22/10/2014 14:34 | alfa poetra | salam semangart para karya indonesia. infonya untuk event or apapun itu tentang lukisan,.
02/10/2014 23:26 | Taink Takhril | ISTIMEWA, ak akan selalu belajar bareng Indonesia art news
01/10/2014 15:25 | Fatonah Winiarum | saya ingin bergabung
05/08/2014 18:31 | jupri abdullah | tururt bergabung sebagai media komunikasi seni rupa
04/07/2014 03:04 | Rev. Ana cole | Apakah Anda perlu bantuan keuangan/pinjaman untuk melunasi tagihan Anda, mulai atau memperluas bisnis Anda? Roya pinjaman perusahaan telah terakreditasi oleh kreditur Dewan memberikan pinjaman pinjaman persentase untuk klien lokal dan internasional. Mohon jawaban jika tertarik. Terima kasih. Wahyu Ana cole Telp: + 447012955490 Email:roya_loans@rocketmail.com
read more »
About Us
Indonesia Art News merupakan media tentang dinamika seni yang berkait dengan aspek keindonesiaan. Media ini berusaha untuk mengedepankan segi informasi ihwal seni yang dikemas dengan cara pandang kritis dan muatan yang investigative. Indonesia Art News berkedudukan di Yogyakarta, Indonesia
Gabung di Facebook
Buku Tamu
Pengelola IAN
Editor in chief:Kuss Indarto
Editor:R. Toto Sugiarto
Designer:Andika Indrayana
Email - info@indonesiaartnews.or.id