HOME     NEWS     EVENTS     ARTICLES     DIRECTORY     BOOKS     OPPORTUNITIES  
   
Kamis, 28 Juni 2012 - 10:45
Galeri Mingguan yang Kian Penting
oleh Kuss Indarto
Ilustrasi karya Henrycus Napit Sunargo yang menggarap cerpen "Kunang-kunang di Langit Jakarta" dan telah dimuat di harian "Kompas". (foto: bentara budaya)
ADA tiga komponen penting ketika menyimak cerita pendek Kompas sekarang: judul, tubuh cerpen, dan ilustrasi. Judul dapat diposisikan dalam berbagai kemungkinan, seperti sebagai jendela, kesimpulan, atau semacam “pemantik api” awal yang provokatif yang disodorkan oleh cerpenis untuk menggiring pembaca menelusuri teks-teks berikutnya yang lebih substansial. Sementara tubuh cerpen itu sendiri tentu saja adalah bangunan narasi yang mengintegrasikan dari berbagai unsur seperti alur cerita, penokohan, fragmen, suspence, klimaks, dan sebagainya. Dari dua komponen itulah kemudian ilustrasi dimungkinkan berposisi menjadi pengikat antar-keduanya. Ilustrasi hadir secara visual untuk memberikan “penjelasan, penerangan, atau penghiasan”—kalau mengacu pada pengertian kata “illustrate”—di tengah kepungan teks-teks judul dan tubuh cerpen. Ilustrasi juga dimungkinkan hadir untuk ulang-alik di antara judul dan tubuh cerpen: demi memberi penegasan, pencerminan, penyimbolan atau mencoba “menyarikan” judul dan tubuh cerpen.

Pada perkembangannya, ilustrasi mendapat porsi yang amat istimewa dalam rubrik “Seni”, khususnya pada cerpen Kompas edisi Minggu. Pada satu sisi, publik (seni) telah mulai bisa menengarai bahwa kapling ilustrasi cerpen Kompas telah berposisi sebagai ruang galeri, art space, outlet visual, atau apapun namanya—yang secara sadar menjadi ruang mediasi bagi seniman yang terundang untuk mengisinya. Praktik mediasi tentu begitu penting bagi seniman selain terlibat dan/atau bersinggungan dengan praktik produksi dan praktik konsumsi karya seni.

Pada sisi yang lain, bagi seniman—yang dalam konteks ini berposisi sebagai ilustrator, juga telah menempatkan kesempatan ini menjadi medan pertaruhan (dan pertarungan) estetik ketika sadar bahwa karya kreatifnya tersebut tampil dalam ruang mediasi bernama Kompas—dengan segala atribut, pencapaian, pangsa pasar, eksitensi, dan prestisenya di mata publik. Ini bisa dimungkinkan akan memberi imbas penaikan reputasi dan perluasan apresiasi—mulai dari apresiasi nilai-nilai hingga apresiasi transaksional.

Ilustrasi yang Subversif

Dengan kesadaran atas pentingnya ruang mediasi Kompas ini, kehadiran para seniman atau perupa yang tidak berbasis kreatif sebagai ilustrator (murni) diekspektasikan akan memberi warna, menyumbangkan titik beda karena memiliki intensi dan eksplorasi kreatif yang beragam. Apalagi pada perkembangan dunia seni rupa dewasa ini, termasuk di Indonesia, para perupa telah kenal bahkan karib dengan praktik kurasi atau kuratorial dalam sebuah perhelatan pameran seni rupa. Praktik pameran seni rupa dengan bingkai kuratorial memungkinkan para perupa terlatih untuk berdialog dengan teks dan kurator (sebagai partner kerja) demi mendiskusikan gagasan, rencana, dan artefak kreatifnya. Pada titik inilah ada keselarasan posisi antara “ilustrator yang menggauli cerpen Kompas” dan “perupa yang menyelami teks kuratorial”. Dan dalam konteks ini maka pihak redaksi Kompas berposisi seperti laiknya kurator, lalu seniman yang ditunjuk mengisi ilustrasi seperti memposisikan tubuh cerpen sebagai teks kuratorial atau intellectual framework, dan judul cerpen seperti laiknya judul atau tema pameran.

Hasil karya ilustrasi perupa setelah proses ini adalah sintesa kreatif yang merupakan hasil pembacaan atas teks judul dan tubuh cerpen. Pada galibnya, karya-karya ilustrasi ini akan bisa ditengarai dalam tiga kerangka kemungkinan.

Kemungkinan pertama, judul dan tubuh cerpen dicermati oleh perupa secara “in version”, atau “taat tema”, yakni ketika para perupa berupaya untuk menetaskan karyanya “tepat” dan “lurus” dalam satu rel yang tersurat dalam judul dan tubuh cerpen sebagai teks kuratorial. Di sini, kemungkinan besar perupa mencerap teks kuratorial dan menyarikannya secara “harfiah”, sedikit pendalaman, dan sepi improvisasi kemudian muntahkan kembali dalam bentuk karya visual. Kata “ilustrasi” dalam konteks karya-karya semacam ini betul-betul hanya menerangkan dan menghias teks judul dan tubuh cerpen. Karya ilustrasi yang terjerembab pada pilahan semacam ini tampak pada hasil kreasi Dedy PAW yang “menghiasi” cerpen Tulang Belulang, I Putu Edy A. (Botol Kubur), Kadek Septa Adi (Hujan yang Indah), Lambok Hutabarat (Laron), Wara Anindya (Air Matamu, Air Mataku, Air Mata Kita), dan Wayan Wirawan (Payung).

Kemungkinan kedua, tafsir yang “out of version” atau “bias tema” yang mengindikasikan bahwa ada rentang jarak interpretasi yang berseberangan dengan gagasan dasar judul dan tubuh cerpen. Ini dimungkinkan ada karena minimalnya proses penghayatan dan pendalaman atas tema. Karya yang mulai terindikasi masuk dalam kerangka kemungkinan seperti ini tampak pada ilustrasi gubahan Gigih Wiyono (cerpen Burung Api Siti), I Nyoman Darya (Belati dan Hati), dan beberapa karya lainnya.

Kemungkinan ketiga, pembacaan secara “subversion”, atau kurang lebih “menukik pada inti tema”, yakni ketika judul dan tubuh cerpen sebagai teks awal dibedah dan dikuliti hingga kemudian menghasilkan sebuah interpretasi yang subversif, begitu tajam membongkar substansi persoalan tematik. Cara tafsir seperti ini tidak saja “tepat” dan “lurus” terhadap tema kuratorial, namun bahkan dimungkinkan melampaui hal yang tersurat dan tersirat dalam teks. Ini memberi pengayaan dan pendalaman atas gagasan awal pada judul dan tubuh cerpen, juga memberi perluasan ruang tafsir bagi pembaca. Dalam sebuah pameran seni rupa dengan landasan kuratorial, bentuk interpretasi visual yang “subversion” seperti ini tentu amat diidealkan karena dimungkinkan sangat inspiratif bagi penonton atau pembaca cerpen yang berkait. Di dalamnya, bisa jadi, teks-teks dalam tubuh cerpen akan menemukan konteks-konteks baru yang berelasi secara kuat dan menjadi kekayaan tafsir untuk menggagas sebuah persoalan. Tak jarang karya ilustrasi seperti ini tampil begitu enigmatic tatkala disandingkan dengan judul (dan tubuh cerpen) sekaligus menjadi karya yang mandiri (otonom) ketika karya tersebut hadir dalam ruang mediasi yang lain. Karya Moelyono yang memberi ilustrasi untuk cerpen Perpisahan, Krisna Murti untuk cerpen Cas Cis Cus, serta Henrycus Napit Sunargo yang menggarap ilustrasi cerpen Kunang-kunang di Langit Jakarta sudah mulai mendekat sebagai karya yang menyubversi teks judul dan tubuh cerpen.

Di luar tiga pilahan itu, aspek artistik dan estetik—mau tak mau—masih tetap layak untuk diperbincangkan. Saya melihat tidak sedikit perupa yang dengan serius menumpahkan gairah, intensitas dan eksplorasi artistiknya dalam ilustrasi cerpen, sama seperti ketika seniman bersangkutan menuntaskannya dalam medium dan medan ekspresi yang akrab digelutinya—seperti lukis, fotografi, dan lainnya. Sebut misalnya pada karya Agugn Nyerez, Dimas Arif Nugroho, Krisna Murti, I Made Somadita, Ipong Purnomo Sidhi, Sunaryo, Suprobo, Wimo Ambala Bayang, dan lainnya. Di seberang itu, ada pula perupa yang justru mengendur kesungguhan daya dan spirit pencarian kreatifnya, seperti tampak pada karya-karya Choirudin, Made Budhiana, Wayan Redika, Nyoman Sani, dan Kadek Sapto Adi, juga lainnya. Apakah ini terkendala pada keterbatasan waktu (deadline yang mepet), minimalnya penguasaan medium, atau cara pandang yang masih stereotipe bahwa karya ilustrasi bisa diciptakan dengan mereduksi keseriusan, bobot dan tensi artistik menjadi sekadarnya?

Kurasi dan Pemandu Bakat

Dari pekan ke pekan berikutnya, dari tahun menuju tahun selanjutnya, bentuk ungkap ilustrasi dengan tiga kemungkinan di atas niscaya akan terus bermunculan di Kompas. Tak bisa dipungkiri. Dari sini muncul pertanyaan: apakah redaksi Kompas ingin memiliki orientasi khusus untuk memberi penekanan pada kemunculan sebanyak mungkin karya-karya ilustrasi yang “subversion” atau subversif demi mempertimbangkan karakter masyarakat pembacanya?

Hasrat seperti bukan tidak mungkin dan sah untuk diberlakukan seperti halnya ketika Kompas juga menerapkan sistem seleksi yang relatif ketat pada hampir semua naskah cerpen atau artikel lain yang masuk pada redaksi. Menyangkut kemungkinan seperti ini, setidaknya redaksi Kompas dan pihak di sekitarnya yang terlibat bisa menempatkan diri dalam dua posisi, yakni sebagai (1) kurator dan (2) pencari/pemandu bakat (talent scouter).

Dalam posisi sebagai (tim) kurator, Kompas mesti meninggikan “antena” dan menguatkan sinyal kepekaan untuk seluas mungkin memantau gejala dan kemajuan kreatif para perupa paling mutakhir. Pantauan ini tentu saja mesti mencari titik beda dibanding dengan galeri komersial yang lebih menekankan pada orientasi pasar. Kompas tak perlu mengejar most wanted artist(s) yang tengah hot di pasar namun, sebaliknya, sebisa mungkin rajin menelusup mencari perupa (dari berbagai usia) dengan standar pencapaian kreatif visualnya sebagai parameter—tentu dengan standar tim kurator Kompas. Di luar soal di atas, posisi sebagai kurator ini juga bisa memberi otoritas untuk menekankan seleksi calon ilustrator yang akan ditentukan itu berdasarkan pada kecenderungan kreatif dan tema(tik) yang telah biasa dilakukan oleh sang perupa. Contohnya, apabila ada cerpen yang secara substansial berbicara tentang politik (praktis), maka sebaiknya kesempatan diberikan kepada perupa yang telah “basah” dan relatif paham dengan masalah politik, misalnya Misbach Thamrin, Amrus Natalsja, Djoko Pekik, Dadang Christanto, Agung Kurniawan, atau Yustoni Volunteero. Andai cerpen berbincang dan sepakbola berikut dinamikanya, maka tugas mengilustrasi bisa dilimpahkan kepada Tisna Sanjaya, Yerry Padang, Ronald Apriyan, dan sebagainya. Kepekaan dalam pencarian seperti ini diperlukan untuk menajamkan karakter ilustrasi, bukan sekadar melengkapi teks.

Sementara dalam posisi sebagai talent scouter, Kompas bisa mencari dan menemukan nama-nama perupa “baru” dengan kemampuan teknik dan gagasan artistik yang memadai untuk dimunculkan sebagai ilustrator. Nama-nama “baru” ini tentu saja dilepaskan dari bursa nama-nama yang beredar di pusaran utama (mainstream) seni rupa yang sedang berkembang, bahkan sekaligus juga mengingkari keberadaan “pusat-pusat seni rupa” yang dewasa ini masih diyakini berada di kawasan-kawasan tertentu seperti Yogyakarta, Bandung, Bali dan Jakarta. Di sinilah peran lembaga Trienalle Seni Grafis dan Bentara Budaya—yang masih satu atap dengan Kompas—agar dapat dioptimalkan fungsi-fungsi scouting-nya untuk menjemput nama-nama perupa “baru” yang lebih segar dan potensial. Semua peserta perhelatan Trienalle Seni Grafis dan sekian banyak proposal pameran yang masuk di Bentara Budaya bisa dijadikan materi bank data seniman yang sewaktu-waktu bisa dibongkar untuk diketengahkan sebagai ilustrator cerpen. Saya yakin, masih ada perupa yang serius di dunianya yang bertebaran di Balikpapan, Medan, Padangpanjang, Batu, Wonosobo, Makassar dan kota lain yang layak diberi kesempatan dan apresiasi.

Poin-poin di atas tentu saja masih mentah sebagai sebuah usulan. Lebih dari itu, sudah selayaknya Kompas menentukan otoritasnya untuk mengkapling dan mendistribusikan dengan lebih jelas “target goal”-nya atas sekitar 50 ilustrasi cerpen kepada para perupa. Apakah, misalnya, 30% diberikan kepada seniman “bintang” (“bintang” versi Kompas, tentunya), 30% dijatahkan untuk seniman hasil talent scouting, dan selebihnya kesempatan untuk seniman yang ditengarai sebagai perupa yang rajin melakukan eksperimentasi estetik. Semuanya dikembalikan pada kebijakan redaksional (dan kebijakan artistik) Kompas. Dan jangan abaikan fakta bahwa (sebagian) masyarakat pembaca Kompas telah rajin menunggu kejutan visual-kreatif yang tiap hari Minggu terpampang di galeri penting itu. Semoga selalu keren, mengejutkan dan inspiratif! ***

Kuss Indarto, kurator seni rupa, ilustrator harian Bernas, Yogyakarta (1991-2001).

(Tulisan ini dimuat dalam katalog
Pameran Ilustrasi "Kompas" 2012. Pameran ilustrasi ini dibuka hari Kamis, 28 Juni 2012 di Bentara Budaya Jakarta, Jl. Palmeran Selatan 17, Jakarta. Setelah itu, rencananya akan dipamerkan keliling di Bentara Budaya Yogyakarta, Bentara Budaya Bali, serta di Surabaya dan Bandung)
Leave a Comment
Please feel free to let us know your feeling about this
Your Name
Your Comment
Your Email
Utk ganti paragraf silakan klik
Comments:
Minggu, 29 Juli 2012 - 07:52
ReNabwXKYMOBOZP - jcoleman@gayusapages.com
(untuk yg nomer 4) setiap biagan dari suatu konstruksi benda mempunyai peran penting. Bagian kayu dari pensil (bagian luar) sangat penting untuk menjaga kekokohan arang di dalamnya, bila kualitas kayu tak baik maka arang di dalam bisa rapuh dan mudah patah saat di raut. Bila arang saja tanpa bungkus kayu, maka memegangnya akan sangat tidak nyaman karena seluruh tangan bisa tercoreng. Jadi menurutku, tidak ada istilah biagan terpenting' karena semuanya penting. Walau ada hal yg lebih penting lagi, yaitu bagaimana, untuk apa pensil itu digunakan.
Minggu, 01 Juli 2012 - 12:06
Fadjar Sutardi - fajarredisutta_bumipranata@yahoo.com
Kompas, memang menjadi koran yang cerdik ideal dan lengkap. Memang ditangan Bre Redana, illustrasi cerpen Kompas menjadi "ajang" silaturrahim batin para perupa. Dan terus terang mereka bangga ketika "diloloskan" karyanya di Kompas. Ide Kuss Indarto, untuk "mengakomodir" para perupa yang bertebaran dikota-kota, sebagai pemikiran yang cerdik juga....sehingga perupa "Indonesia" dapat ditangkap oleh Kompas dan tidak hanya Yogja,Jakarta...Saatnya suatu waktu perlu adanya Kompetisi Illustrasi Cerpen Kompas secara me-nasional. Mengingat dipeta seni rupa dewasa ini, mengalami "stagnasi kratif" utamanya dikota-kota yang menamakan kota seribu perupa...tetapi bagaimanapun, untuk urusan "saling menguntungkan" tetap prerogratif Redaktur. Namun, perlawanan kreatif, seperti dulu munculnya gerakan sastra pedalaman, pada akhirnya tak ada pusat tak ada daerah....nama-nama Kusprihyanto Namma,Sosiawan Leak,Beno Siang Pamungkas, menjadi bukti bahwa daerah sebenarnya juga "ada" termasuk seni rupa, saya yakin bila dijadikan sikap bagi Kompas dalam "menebar dan menaburkan nilai-nilai" dipastikan akan jadi "rame". Solo, Semarang,Madiun, Magetan, Klaten,Banyumas, Surabaya mungkin juga dapat dijadikan "hitungan" seperti diisyaratkan Kuss Indarto...Semoga.salut.
28-04-2014 s/d 03-05-2014
"Okomama: Bianglala Rupa Flobamorata", Pameran Keliling Koleksi Pilihan Galeri Nasional Indonesia dan karya seniman NTT
di Taman Budaya Nusa Tenggara Timur, Kupang
26-04-2014
Jagongan Wagen Edisi April 2014: NGGARAP(i) Kenyataan
di Padepokan Seni Bagong Kussudiardja. Dusun Kembaran RT 04/ RW 05 Bantul, DI Yogyakarta
23-04-2014
Useful Thinking: on Evaluating Community Arts for Social Change
di Indonesia Visual Arts Archive (IVAA) Jalan Ireda, Gang Hiperkes MG I/ 188 A-B Kampung Dipowinatan, Keparakan Yogyakarta 55152, Indonesia Tel./Fax: +62 274 375 262
23-04-2014
Pentas Wayang Manuk
di Balai Soedjatmoko, Jl. Slamet Riyadi, Solo.
22-04-2014 s/d 27-04-2014
Pameran Seni Rupa "PRASANGKA MEMBAWA NIKMAT"
di JOGJA GALLERY, Jl. Pekapalan, Alun-alun Utara no.7 Yogyakarta, Indonesia
21-04-2014 s/d 30-04-2014
Pembukaan pameran karya seni untuk novel "NAWUNG: Putri Malu dari Jawa"
di Tirana Artspace. Jl Suryodiningratan 53-55 Yogyakarta
20-04-2014
Diskusi "DISCOURSE OF THE PAST"
di The READING ROOM, Jl Kemang Timur 57 Jaksel
19-04-2014
KONSER MUSIC BATAK " Di Jou Au Mulak"
di Pusat Kebudayaan Koesnadi Hardja Soemantri (Purna Budaya) UGM
15-04-2014
Simposium INISIATIF WARGA DALAM SENI DAN SAINS
di Auditorium Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada Jl. Flora, Bulaksumur, Yogyakarta
15-04-2014
Pembukaan NALARROEPA Ruang Seni dan Pameran Seni Rupa MJK club
di Karangjati RT.05, RW. XI. Tamantirto, Kasihan, Bantul, Yogyakarta
read more »
Sabtu, 19-04-2014
Dari Dunia Pengkoleksian Seni Rupa Indonesia
oleh Syakieb Sungkar
Minggu, 13-04-2014
Upacara Tradisional, Kohesi Sosial, dan Bangunan Kebangsaan
oleh Ayu Sutarto
Selasa, 01-04-2014
Membela dengan Sastra (Sebuah Pidato Kebudayaan)
oleh Ahmad Tohari
Rabu, 26-03-2014
Warisan Demokrasi Gorontalo
oleh Hasanuddin
Selasa, 18-03-2014
Demokrasi Berbudaya Minahasa
oleh Jultje Rattu
read more »
Merajakan Nalar di Tengah Kepungan Hedonisme
oleh Christian Heru Cahyo Saputro
Buku bertajuk: Acropolis (Kerajaan Nalar) yang merupakan kumpulan kolom karya wartawan SKH Lampung Post Heri Wardoyo (HRW) hadir meramaikan pasar wacana. Buku yang berisi kolom-kolom Heri Wardoyo ini pernah dimuat di rubrik ‘Nuansa’ Lampung Post bertitimangsa tahun...
Fantasi Balzac tentang Pulau Jawa
oleh Sigit Susanto
Merajut Masa Depan Bocah Merapi
oleh T. Nugroho Angkasa S.Pd.
Novel Kasongan, Seliat Tanah Liat
oleh R. Toto Sugiharto
read more »
Lomba Foto “Air dan Sanitasi untuk Kehidupan yang Lebih Baik”
6th Beijing International Art Biennale 2015
Sayembara Cipta Kreasi Motif Batik Seragam Dinas Harian RSUP Dr Kariadi 2014
Lomba Desain Sepatu Tingkat Nasional 2014
LOMBA DESAIN MURAL GALERI NASIONAL INDONESIA 2014
LOMBA CIPTA SENI BATIK NUSANTARA 2014
The 4th Bangkok Triennale International: Print and Drawing
Iver Jĺks Artist-In-Residency Program 2014
UNDANGAN Pameran Seni Rupa Karya Guru Seni Budaya “GURU SENI BERLARI” - GALERI NASIONAL INDONESIA
Grants for Media Art 2014 of the Foundation of Lower Saxony at the Edith-Russ-Haus, Germany
read more »
20/04/2014 09:31 | Syakieb Sungkar | terima kasih
20/04/2014 09:27 | Syakieb Sungkar |
07/04/2014 00:46 | abdul aziz | mohon bantuan untuk penerbitan buku topeng blantek
03/04/2014 21:13 | Aprimas | Selamat dan Sukses untuk "Guru" Seni Rupa di seluruh Indonesia, Smoga kedepan semakin kreatif, produktif dan inovatif, sehingga dapat sebagai acuan dan pacuan kreativitas bagi generasi masa epan,...Salam
15/03/2014 18:09 | Lilik Indrawati | Ok. I will tray... matur nuwun Pak Kuss.
read more »
About Us
Indonesia Art News merupakan media tentang dinamika seni yang berkait dengan aspek keindonesiaan. Media ini berusaha untuk mengedepankan segi informasi ihwal seni yang dikemas dengan cara pandang kritis dan muatan yang investigative. Indonesia Art News berkedudukan di Yogyakarta, Indonesia
Gabung di Facebook
Buku Tamu
Pengelola IAN
Editor in chief:Kuss Indarto
Editor:R. Toto Sugiarto
Designer:Andika Indrayana
Email - info@indonesiaartnews.or.id