HOME     NEWS     EVENTS     ARTICLES     DIRECTORY     BOOKS     OPPORTUNITIES  
   
Sabtu, 23 Juni 2012 - 11:37
Repihan Republik ala Teater Epik
oleh Robertus Rony Setiawan
Sepotong scene dalam pementasan Teater Epik. (foto: robertus rony setiawan)
SEKOLOMPOK mahasiswa Institut Teknologi Bandung mementaskan rentetan realitas republik. Lewat perpaduan bentuk musikal, koreografi, dan seni akting, beragam masalah keindonesiaan aktual tampil dalam impresi satire nan menyentil.

Sekali waktu di Republik ini, rakyat dan penguasanya tengah menderita. Penyakit yang belum pasti namanya, namun menorehkan gejala dengan beragam rupa. Di sudut sebuah kedai kopi, sambil membaca surat kabar, dua mahasiswa membincangkan Indonesia hari ini. Keduanya sangat kesal dan jenuh dengan isi berita yang miring melulu. Sejenak kemudian mereka bercakap dengan pelayan kedai, Neng Alda. Dari situ muncul tuturan bernas.

“Zaman sekarang semua orang pada sakit. Udah bagus gak ada acara bunuh diri masal. Dijajah kok ya gak beres-beres,” Neng Alda mengeluh.

“Lho, jadi menurut Teteh kita masih dijajah? Belum merdeka?” mahasiswa heran.

Secuplik adegan itu tak urung memancing perhatian ratusan penonton dalam Gedung Teater Tertutup Taman Budaya Jawa Barat (Dago Tea House), Minggu malam, 27 Mei 2012 lalu. Teater Epik, grup seni pertunjukan yang digiatkan mahasiswa Institut Teknologi Bandung, malam itu mementaskan lakon bertajuk Mendiang Republik.

Mula-mula, Epik merupakan perkumpulan mahasiswa yang berkreasi menerbitkan majalah. Selanjutnya, usaha mereka merambah seni pertunjukan. Seperti pementasan tahun-tahun sebelumnya, Teater Epik menawarkan sebuah pertunjukan reflektif sekaligus menghibur. Selain itu, pentas ini bermaksud mempromosikan Majalah Epik kepada khalayak. Maka selain menyaksikan pertunjukan teater, hadirin juga memperoleh majalah yang disertakan dengan booklet pementasan.

Salah satu penulis naskah Mendiang Republik, Tri Adhi Pasha, mengungkapkan, ide cerita dipilih merespons kondisi sosial-politik Indonesia belakangan. Dilatari kesukaannya membaca biografi tokoh sejarah, Tri, yang juga mahasiswa Prodi Manajemen ITB 2009 ini, suatu kali tergelitik oleh sebuah lukisan jalan di Jalan Braga, Kota Bandung. Relevan dengan situasi politik yang riuh diberitakan, sosok Bapak Proklamator di lukisan itu tergambar berkata, “Apakah Anda ingin aku kembali?”

Bersama Sutansyah Marahakim, rekan satu prodinya, Tri menyusun naskah Mendiang Republik. Sejak Maret 2012 dimulailah persiapan pementasan yang didukung puluhan mahasiswa ITB dari beberapa fakultas. Melalui pengembangan ide cerita, pentas ini menyertakan unsur hiburan khas anak muda. “Kami mengumpulkan orang-orang yang meminati teater dan mengemasnya lebih modern,” kata Adryan Hafizh, produser Mendiang Republik.

Di awal, penonton disajikan kemeriahan gerak tari dalam nyanyian pembuka yang dikombinasi lagu daerah “Manuk Dadali”. Selama satu setengah jam, kita lalu diajak mengikuti jejak dinamika Indonesia dari perjuangan mencapai kemerdekaan, reformasi, hingga sekarang. Melalui penghadiran tokoh Kakek sebagai personifikasi Republik Indonesia, kesadaran kita diketuk untuk menilik—alih-alih merawat—tanah air dan negara yang sedang sakit. Dengan pengaturan babak sedemikan rupa, kita seperti menonton sebuah narasi besar bangsa dengan tapak-tapak perjalanannya.

Sepanjang rentetan alur cerita, perasaan kita diguncang untuk memaknai kembali teks sejarah dan falsafah bangsa. Pada penampilan manusia-manusia dengan tali menggantung di leher, misalnya, kita tertegun menyaksikan mereka mengucap Sumpah Pemuda dalam keadaan tercekik dan suara tercekat. Dalam intonasi keras, seorang tokoh pun menyerukan ikrar itu sambil merintih dan tertatih.

Tersirat sindiran di situ. Kennya Rizki Rinonce, sutradara Mendiang Republik, menjelaskan bahwa jiwa Sumpah Pemuda seakan nihil di masa kini. “Bahwa bahasa yang satu bahasa Indonesia! Bahasa Indonesia aja sekarang ujian akhir nasional pada hancur, yang bagus bahasa Inggris,” ungkap Kennya miris.

Kolaborasi Artistik

Dalam mengisahkan sejarah Republik Indonesia, pertunjukan ini tak tampak meniru penuh fakta sejarah. Narasi digelontorkan lewat seni akting, tata panggung, dan visualisasi dengan bermacam media. Dalam satu adegan, siluet tunggal garuda tersorong memenuhi panggung. Lihat pula saat cahaya mesin kardiograf terpantul pada ruas-ruas bambu, sementara terdengar bunyi tanda denyut jantung, “Tit, tit, tit…”

Rencana pendirian negara Indonesia oleh para Bapak Bangsa juga terwujud dalam perundingan empat karakter berseragam pejuang ’45. Di depan keempat tokoh itu menggantung bingkai-bingkai kosong. Cahaya lampu tersorot dari sisi belakang, menyembulkan bayangan wajah. Seorang dari mereka berembuk sembari menyetel radio tua. Lantas salah satu berseru, “Buku-buku sejarah nanti, akan menuliskan tujuh belas Agustus tahun empat lima! Di Papua? Sama saja!” Ingatan kita ditegur, mereka ialah Bung Karno, Bung Hatta, Sjahrir, dan Tan Malaka.

Perlawanan tentara rakyat vis a vis penjajah pun disajikan melalui tata gerak minus dialog. Namun tercerap kesan estetik yang menyentak saat pejuang-pejuang dengan bambu melawan prajurit bersenapan. Satu per satu tertembak. Tapi akhirnya seorang pejuang dapat mengibarkan Sang Merah Putih di antara barisan ruas-ruas bambu yang melatari panggung. Sebaris lalu, proklamasi dinyatakan perlahan.

Lewat penyusunan alur yang teratur, Teater Epik menggubah suasana kontemplatif tanpa selalu harus menyepi. Proporsi cukup imbang antara monolog Kakek dan visualisasi dinamika republik mampu menarik perasaan penonton masuk dalam realitas negeri. Kita juga segera mengerti kapan suatu babak berpindah dengan konteks situasi politik yang berbeda-beda berkat penyisipan kehadiran kakek.

Namun sebagai sebuah pertunjukan, sebenarnya akting dan pemanggungan cukup memadai menggambarkan persoalan bangsa. Pemunculan kakek yang agak berlebihan pada beberapa adegan terasa menjemukan. Berikan penonton kebebasan menyerap pesan tanpa harus terganggu tuturan kakek yang lebih berkesan sebagai curahan hatinya.

Meski demikian, tak jarang kita tersentil oleh ujaran kakek yang usil. “Sudah semestinya kita banyak bersyukur bahwa bapak Proklamator kita bernama Ahmad Sukarno, jadi republik kita namanya Republik Indonesia. Coba kalau Ahmad Dhani, mesti jadi Republik Cinta, tha?” kakek berseloroh. Tawa dan riuh penonton pun spontan terlontar.

Seperti Republik yang tampil dalam karakter kakek, tokoh-tokoh bersejarah hadir secara imajinatif. Sosok Sukarno, misalnya, ditampikan lewat dialog kuat tanpa memperlihatkan raut muka. “Kita enggak pengen menghadirkan Sukarno di sini, tapi menghadirkan ide Sukarno. Banyak kontroversinya kalau sosok Sukarno yang kita hadirkan,” tegas Tri.

Relevansi Pancasila sebagai buah pemikiran Sukarno, misalnya, tersaji secara kritis dan menggugah. Kita terhenyak melihat adegan anak sekolah dasar yang nyaring menirukan gurunya menyebutkan Pancasila. Tapi, pada sila keempat ia terbata, “Kerakyatan yang dipimpin… oleh hik-mat…keb…” Dengan tempo lebih cepat, keduanya lalu serempak mengucapkan kelima sila. Adapun bermacam representasi penduduk—pekerja kantor, penyanyi dangdut, penjual warung, hingga petani—menjerit-jerit di sekitarnya. Terlukiskan bahwa beratnya penderitaan rakyat kecil ternyata berseberangan dengan semangat Pancasila yang bermimpi “rakyat adil makmur sentosa”.

Alih-alih berhenti pada kritik atas kondisi bangsa, Teater Epik menyodorkan pula refleksi kondisi bangsa dalam konteks kekinian. Keberagaman masyarakat yang diwakili penjual warung, mahasiswa, anak gaul, ustadz, dan hansip tersatukan dalam kedai Neng Alda. Dari situ, kita diminta berempati pada melonjaknya harga cabai sampai kisruh kenaikan BBM yang membuat nasib rakyat kecil menggantung seperti bandul. Kealpaan pemerintah dalam mengayomi warga pun tak ayal mengakibatkan keguncangan sosial. Tampak kesatuan dalam kebinekaan lahir dalam rupa baru: walau berbeda-beda latar sosial, budaya, dan ekonomi, rakyat bersama-sama mendambakan kemerdekaan hidup.

Pentas ini kemudian diakhiri dalam suasana mengharu lewat sosok Ibu Pertiwi yang lirih menggumamkan lantunan “Gugur Bunga”. Walau agak tergesa-gesa memungkasi pentas, pendar lilin-lilin di tengah panggung turut menyembulkan efek perenungan yang sunyi. Kita bertanya: Di manakah negara? Mengapa seolah rakyat berjuang sendirian menghidupi diri? Lantas, sudah merdekakah kita?

Kita pun nampaknya patut mempertanyakan makna kemerdekaan di hari ini, dengan tidak berdiam diri apalagi mendiamkan Tanah Air. Seperti terungkap dalam nyanyian di akhir pementasan, “Walau hidup sudah merdeka, tetap hidup dengan sekuat tenaga. Karena hari esok masih rencana, rencana orang bebas merdeka…” ***
*) Penikmat seni visual, sedang menulis penelitian semiotika fungsi komunikasi dalam pertunjukan teater, dan aktif dalam Komunitas Ketika (Karang Klethak Menulis Kreatif), Yogyakarta.
Leave a Comment
Please feel free to let us know your feeling about this
Your Name
Your Comment
Your Email
Utk ganti paragraf silakan klik
Comments:
Minggu, 24 Juni 2012 - 06:36
kaji karno - kajikarno@yahoo.com
Ketika saya melihat tata panggungnya (sebelum melanjutkan membaca artikel ini), dan ada bambunya, imaji saya berada di halaman belakang 'Salasar Kopi'-nya Bapak Sunaryo di Bukit Pakar Bandung, yang juga penuh dengan 'jejeran bambu'. Ternyata benar. Dari Bandung.
22-05-2013
Seminar Nasional "Pemuda dan Kebangkitan Kebudayaan Nasional"
di Gedung UC (University Club), Bulaksumur, UGM, Yogyakarta
22-05-2013
ANAK SABIRAN, DI BALIK CAHAYA GEMERLAPAN (SANG ARSIP) - AGENDA PENAYANGAN
di Kampus UIN Jakarta & Institut Kesenian Jakarta
22-05-2013
Pentas Wayang Golek Pesisiran
di Balai Soedjatmoko, Jl. Slamet Riyadi, Solo
22-05-2013
Recital Night "The Beauty of Classical Songs"
di Goethe-Institut Jakarta, Jalan Dr. Sam Ratulangi Nomor 9-15, Gondangdia Menteng, Jakarta Pusat
22-05-2013
Diskusi ”Bali dan Sampah Visual”
di Komunitas Lingkara PhotoArt, Jl. Merdeka IV No 2, Renon, Denpasar Timur, Telp 0361 9904000/7867108.
21-05-2013
Jagongan Wagen
di Padepokan Seni Bagong Kussudiardjo, Dusun Kembaran RT 04, Tamantirto, Kasihan, Bantul, Yogyakarta
19-05-2013
"DISNEY PIANOLICIOUS", A Music Concert as Tribute to Walt Disney
di American Cultural Center, Pacific Place, 3rd Floor, Jakarta
19-05-2013 s/d 09-06-2013
"Dear Curator Curate Me: Selasar Sunaryo Art Space"
di Jl. Bukit Pakar Timur No. 100, Bandung, Indonesia 40198
19-05-2013 s/d 08-06-2013
GHOST: Kristonik Artenas Intermyth’s Collection Exhibition Taken from the Appropriation series, 7th Edition, 2013
di Selasar Sunaryo Art Space Jl. Bukit Pakar Timur no. 100, Bandung
18-05-2013
Pertunjukan Puisi Multimedia bersama Asrizal Noor
di Gedung Teater Tertutup, Taman Budaya Bengkulu
read more »
Selasa, 21-05-2013
Dilema Omnivora
oleh Artforum
Rabu, 15-05-2013
WASH & Ruang Berbincang
oleh Hendra Himawan
Minggu, 21-04-2013
Luka dan Perban Sinetron Indonesia
oleh Ramayda Akmal
Minggu, 31-03-2013
Eksistensi, Pilihan dan Fungsi Media dalam Lagu "Pacar 5 Langkah" dan "Please Call Me"
oleh Ramayda Akmal
Kamis, 21-03-2013
Kritik Seni yang Tersirat
oleh Danoeh Tyas
read more »
Fantasi Balzac tentang Pulau Jawa
oleh Sigit Susanto
Orang Jawa Suka Burung GelatikGeorg Lukacs mengutip ucapan Karl Marx lewat menantunya Paul Lafargue yang sebut; Balzac bukan hanya seorang pencatat kisah dari masyarakatnya, namun dia juga pencipta tokoh-tokoh nabi, sebagai cikal bakal di bawah Louis Philippe, yang...
Merajut Masa Depan Bocah Merapi
oleh T. Nugroho Angkasa S.Pd.
Novel Kasongan, Seliat Tanah Liat
oleh R. Toto Sugiharto
Masih adakah tempat untuk puisi?
oleh Sabrina Puisi Mubarak
read more »
INDONESIA ART AWARDS (IAA) 2013
LOMBA & PAMERAN FOTO INDONESIA 2013
The International Competition for the Sea Art Festival 2013
FUNDACIÓN BOTÍN GRANTS - Visual Arts - 2013/2014 • 21th Edition
Lomba Menulis Novel Teen & Young Adult Romance
Henri Cartier-Bresson International Photography Award
LOMBA DESAIN MOTIF BATIK MAHASISWA 2013
XL Award 2013
Lomba Foto Jurnalistik “Toward The Leading Network Company”
Lomba Penulisan Artikel, Feature dan Foto Bidang Pendidikan dan Kebudayaan
read more »
26/05/2013 10:35 | excuckYscousa | Ïðîäàþ àêêè Blog.com Ïðîäàþ àâòîðåãàííûå àêêàóíòû Blog.com â îäíè ðóêè Ïî âñåì âîïðîñàì ïèøèòå ñðàçó â àñüêó ICQ 231538 êóïèòü gmail ïî÷òó , ìàãàçèí àêêàóíòîâ facebook , êóèïòü àêêè mail.ru , àêêàóíò ëåøêà-à ëèâèíòåðíåò , 789 emails 2012 yahoo.com , êóïèòü àêêàóíò email , ïîêóïêà àêêàóíòîâ âêîíòàêòå , êóïèòü àêêàóíòû âêîíòàêòå , êóïèòü ðåäèðåêòû blogspot , ïðîäàì àêêàóíò âêîíòàêòå 2012 , ïðîäàì àêêàóíòû îäíîêëàññíèêè , ñ ìãíîâåííîé äîñòàâêîé , êóïèòü àêêàóíòû ÿíäåêñ , êóïèòü àêêàóíòû äëÿ âêîíòàêòå , yahoo.com liveinternet.ru/ , ïðîäàæà àêêàóíòû âêîíòàêòå , ïðîäàæà àêêàóíòîâ â êîíòàêòå , ìàãàçèí àêêàóíòîâ âêîíòàêòå , îíëàéí ìàãàçèí ïðîäàæè àêêàóíòîâ âêîíòàêòå , êóïèòü àêêàóíò linkedin , êóïëþ àêê ìàìáà , îíëàéí ìàãàçèí àêêàóíòîâ òâèòòåð , ìàãàçèí àêêàóíòîâ âêîíòàêòå , ìàãàçèí îêêàóíòîâ , êóïèòü îíëàéí àêêóàíòû â êîíòàêòå , ïðîäàæà àêêàóíòîâ âêîíòàêòå îíëàéí , êîììåíòàðèé ñ àêêàóíòà livejourna , ghjlf f àêàóíòîâ âêîíòàêòå óêðàèíà , ìàãàçèí îíëàéí ïîêóïêè àêêàóíòî , êàê ïîëó÷èòü ñìñ ñ îäíîêëàññíèêîâ , êóïèòü ææ àêêàóíò , êóïèòü àêêàóíò â îäíîêëàññíèêàõ , êóïèòü àêêàóíòû e-mail , ïðîäàæà ðåäèðåêòîâ , ïîêóïêà àêêàóíòîâ â êîíòàêòå , ïðîäàæà àêêàóíòîâ â âêîíòàêòå , êóïèòü àêêàóíòû âêîíòàêòå , facebook àêêàóíòû ïðîäàì , ïðîäàæà àêêàóíòîâ âêîíòàêòå , ìàãàçèí àêêàóíòîâ âêîíòàêòå , nokiamail.com pop3 , ïðîäàþ àêêàóíòû yandex , pva àêêàóíò ÷òî òàêîå , narod àêêàóíòû , ïðîäàì àêêè ìàìáà , àêêàóíòû ïî÷òà.ðó , ïðîäàì àêêàóíò livejournal , àêêàóíòû yahoo pop3 , îíëàéí ïðîäàæà àêêàóíòîâ âêîíòàêòå , àêêàóíòû yahoo pop3 , àêêàóíòû îäíîêëàññíèêîâ , èíòåðíåò ìàãàçèí àêêàóíòîâ vkontakte , àêêàóíòû yahoo , êóïèòü àêêàóíò ÿíäåêñ , ïðîäàæà ñòàðûõ àêêîâ ææ , ìàìáà àêêàóíò
26/05/2013 10:13 | kaloLyptoky | Ïðîäàþ àêêè Posterous.com Ïðîäàþ àâòîðåãàííûå àêêàóíòû Posterous.com â îäíè ðóêè Ïî âñåì âîïðîñàì ïèøèòå ñðàçó â àñüêó ICQ 231538 ïðîäàæà ðåäèðåêòîâ , êóïèòü àêêàóíò yahoo , ãäå êóïèòü àêêàóíòû facebook , ìàãàçèí àêêàóíòîâ , ïðîäàæà àêêàóíòîâ òâèòòåð , ïðîäàæà àêêàóíòîâ â âêîíòàêòå , realstatus çíàêîìñòâà , êóïèòü àêêàóíòû blog ru , êàê íàéòè ïðîôèëü ìàìáà ñ ïîìîùüþ íîìåðà òåëåôîíà , ïðîäàæà àêêîâ âêîíòàêòå , àêêàóåòû âêîíòàêòå îíëàéí , ïðîäàæà àêêàóíòîâ âêîíòàêòå , êóïèòü àêêàóíòû linkedin site:.ru , êóïèòü àêêàóíòû âêîíòàêòå , ïðîäàæà àêêàóíòîâ âêîíòàêòå , àêêè ìàìáà , àêêàóíòû ïî÷òà.ðó , ãäå êóïèòü àêêè âêîíòàêòå , êóïèòü àêêàóíòû ÿíäåêñ , àêêàóíòû âêîíòàêòå , êóïèòü àêêàóíòû mail.ru , ïðîäàæà àêêàóíòîâ âêîíòàêòå , ïîêóïêà àêêàóíòîâ â êîíòàêòå , êóïèòü àêêàóíòû âê îíëàéí , àêêàóíòû âêîíòàêòå , àêêè gmail , ïðîäàæà àêêàóíòîâ yandex.ru , àêêàóíòû blog.com , ïðîäàì àêêè ìàìáà , ïðîäàæà àêêóàíòû blogs.mail.ru , ïðîäàæà àêêàóíòîâ youtube , êóïëþ àêêàóíòû gmail , àêêàóíòû yahoo êóïèòü , mamba.ru , realstatus çíàêîìñòâà , àêêàóíòû mamba , ïðîäàæà àêêàóíòîâ îäíîêëàññíèêè , àêêàóíò âêîíòàêòå êóïèòü 200 äðóçåé , ïðîäàæà àêêàóíòîâ blogspot , ïðîäàì àêêàóíòû âêîíòàêòå 2012 , ïðîäàæà email ñ àêêàóíòàìè , ÷òî äåëàòü ñ êóïèòü àêêàóíòû liveinternet , àêêàóíòû îíëàéí ìàãàçèí twitter , óçíàòü real òåëåôîíà íà mamba , ìóæñêèå ïðîôèëè ìàìáû , äíåâíèêîâ íà ìàìáå , êóïèòü àêêàóíòû qip.ru , nbsp êîä íà îäíîêëàññíèêàõ , àêêàóíòû yahoo , îíëàéí ìàãàçèí àêêàóíòîâ âêîíòàêòå , yahoo hotmail ïðîäàì , ïðîäàæà êðàñèâûõ àêêàóíòîâ gmail , ïðîäàæà àêêàóíòîâ youtube , ïðîäàì àêêàóíòû gmail , êóïèòü àêêàóíòû blog ru , àêêàóíòû âêîíòàêòå êóïèòü îíëàéí , ïðîäàæà àêêàóíòîâ ìàìáà , ïðîäàæà àêêàóíòîâ âêîíòàêòå , êóïèòü àêêàóíòû âê îíëàéí , ìàãàçèí àêêàóíòîâ âêîíòàêòå , êóïèòü àêêàóíò gmail , ïðîäàì àêàóíò îäíîêëàññíèêè , ïðîäàì àêêàóíòû gmail , ìàãàçèí àêêàóíòîâ mail.ru , ìàãàçèí àêêàóíòû âêîíòàêòå , nokiamail.com pop3 , ìàãàçèí àêêàóíòîâ âêîíòàêòå , ïðîäàæà àêêîâ âê îíëàéí , ïðîäàæà àêêàóíòîâ âêîíòàêòå , êóïèòü àêêàóíò â gmail , loveplanet àêêàóíò , ïðîäàæà àêêàóíòîâ yahoo , ãäå êóïèòü àêêàóíòû gmail , êóïèòü àêêàóíò òâèòòåð ñ ôîëëîâåðàìè , êóïèòü àêêàóíòû âêîíòàêòå .
26/05/2013 07:10 | Noreponee | A manor house is a notable habitation, predominantly a superb residence or the diggings of a head of governmental or some other high-ranking superstar, such as a bishop or archbishop.<>] The in short itself is derived from the Latin superstar Palatium, for Palatine Hill, a woman of the seven hills in Rome A palatial home is a respected castle, predominantly a superb habitation or the diggings of a head of voice or some other high-ranking big wheel, such as a bishop or archbishop.<>] The intelligence itself is derived from the Latin superstar Palatium, for Palatine Hill, solitary of the seven hills in Rome A castle is a luxurious residence, notably a royal stay or the diggings of a administrator of voice or some other high-ranking superstar, such as a bishop or archbishop.<>] The intelligence itself is derived from the Latin name Palatium, fit Palatine Hill, bromide of the seven hills in Rome A castle is a notable castle, especially a royal chƒteau or the residency of a head of circumstances or some other high-ranking big wheel, such as a bishop or archbishop.<>] The in short itself is derived from the Latin big cheese Palatium, proper for Palatine Hill, solitary of the seven hills in Rome A palace is a respected castle, noticeably a peer royalty chƒteau or the residency of a headmaster of voice or some other high-ranking dignitary, such as a bishop or archbishop.<>] The in short itself is derived from the Latin superstar Palatium, proper for Palatine Hill, one of the seven hills in Rome A castle is a grand castle, notably a superb chƒteau or the home of a leadership of circumstances or some other high-ranking big wheel, such as a bishop or archbishop.<>] The in short itself is derived from the Latin superstar Palatium, looking for Palatine Hill, solitary of the seven hills in Rome
26/05/2013 05:41 | vysqqvclx | emergency ÿþ< thinking ÿþ< is ÿþ< or ÿþ< is
26/05/2013 05:41 | vysqqvclx | emergency ÿþ< thinking ÿþ< is ÿþ< or ÿþ< is
read more »
About Us
Indonesia Art News merupakan media tentang dinamika seni yang berkait dengan aspek keindonesiaan. Media ini berusaha untuk mengedepankan segi informasi ihwal seni yang dikemas dengan cara pandang kritis dan muatan yang investigative. Indonesia Art News berkedudukan di Yogyakarta, Indonesia
Gabung di Facebook
Buku Tamu
Pengelola IAN
Editor in chief:Kuss Indarto
Editor:R. Toto Sugiarto
Designer:Andika Indrayana
Email - info@indonesiaartnews.or.id