HOME     NEWS     EVENTS     ARTICLES     DIRECTORY     BOOKS     OPPORTUNITIES  
   
Sabtu, 23 Juni 2012 - 11:37
Repihan Republik ala Teater Epik
oleh Robertus Rony Setiawan
Sepotong scene dalam pementasan Teater Epik. (foto: robertus rony setiawan)
SEKOLOMPOK mahasiswa Institut Teknologi Bandung mementaskan rentetan realitas republik. Lewat perpaduan bentuk musikal, koreografi, dan seni akting, beragam masalah keindonesiaan aktual tampil dalam impresi satire nan menyentil.

Sekali waktu di Republik ini, rakyat dan penguasanya tengah menderita. Penyakit yang belum pasti namanya, namun menorehkan gejala dengan beragam rupa. Di sudut sebuah kedai kopi, sambil membaca surat kabar, dua mahasiswa membincangkan Indonesia hari ini. Keduanya sangat kesal dan jenuh dengan isi berita yang miring melulu. Sejenak kemudian mereka bercakap dengan pelayan kedai, Neng Alda. Dari situ muncul tuturan bernas.

“Zaman sekarang semua orang pada sakit. Udah bagus gak ada acara bunuh diri masal. Dijajah kok ya gak beres-beres,” Neng Alda mengeluh.

“Lho, jadi menurut Teteh kita masih dijajah? Belum merdeka?” mahasiswa heran.

Secuplik adegan itu tak urung memancing perhatian ratusan penonton dalam Gedung Teater Tertutup Taman Budaya Jawa Barat (Dago Tea House), Minggu malam, 27 Mei 2012 lalu. Teater Epik, grup seni pertunjukan yang digiatkan mahasiswa Institut Teknologi Bandung, malam itu mementaskan lakon bertajuk Mendiang Republik.

Mula-mula, Epik merupakan perkumpulan mahasiswa yang berkreasi menerbitkan majalah. Selanjutnya, usaha mereka merambah seni pertunjukan. Seperti pementasan tahun-tahun sebelumnya, Teater Epik menawarkan sebuah pertunjukan reflektif sekaligus menghibur. Selain itu, pentas ini bermaksud mempromosikan Majalah Epik kepada khalayak. Maka selain menyaksikan pertunjukan teater, hadirin juga memperoleh majalah yang disertakan dengan booklet pementasan.

Salah satu penulis naskah Mendiang Republik, Tri Adhi Pasha, mengungkapkan, ide cerita dipilih merespons kondisi sosial-politik Indonesia belakangan. Dilatari kesukaannya membaca biografi tokoh sejarah, Tri, yang juga mahasiswa Prodi Manajemen ITB 2009 ini, suatu kali tergelitik oleh sebuah lukisan jalan di Jalan Braga, Kota Bandung. Relevan dengan situasi politik yang riuh diberitakan, sosok Bapak Proklamator di lukisan itu tergambar berkata, “Apakah Anda ingin aku kembali?”

Bersama Sutansyah Marahakim, rekan satu prodinya, Tri menyusun naskah Mendiang Republik. Sejak Maret 2012 dimulailah persiapan pementasan yang didukung puluhan mahasiswa ITB dari beberapa fakultas. Melalui pengembangan ide cerita, pentas ini menyertakan unsur hiburan khas anak muda. “Kami mengumpulkan orang-orang yang meminati teater dan mengemasnya lebih modern,” kata Adryan Hafizh, produser Mendiang Republik.

Di awal, penonton disajikan kemeriahan gerak tari dalam nyanyian pembuka yang dikombinasi lagu daerah “Manuk Dadali”. Selama satu setengah jam, kita lalu diajak mengikuti jejak dinamika Indonesia dari perjuangan mencapai kemerdekaan, reformasi, hingga sekarang. Melalui penghadiran tokoh Kakek sebagai personifikasi Republik Indonesia, kesadaran kita diketuk untuk menilik—alih-alih merawat—tanah air dan negara yang sedang sakit. Dengan pengaturan babak sedemikan rupa, kita seperti menonton sebuah narasi besar bangsa dengan tapak-tapak perjalanannya.

Sepanjang rentetan alur cerita, perasaan kita diguncang untuk memaknai kembali teks sejarah dan falsafah bangsa. Pada penampilan manusia-manusia dengan tali menggantung di leher, misalnya, kita tertegun menyaksikan mereka mengucap Sumpah Pemuda dalam keadaan tercekik dan suara tercekat. Dalam intonasi keras, seorang tokoh pun menyerukan ikrar itu sambil merintih dan tertatih.

Tersirat sindiran di situ. Kennya Rizki Rinonce, sutradara Mendiang Republik, menjelaskan bahwa jiwa Sumpah Pemuda seakan nihil di masa kini. “Bahwa bahasa yang satu bahasa Indonesia! Bahasa Indonesia aja sekarang ujian akhir nasional pada hancur, yang bagus bahasa Inggris,” ungkap Kennya miris.

Kolaborasi Artistik

Dalam mengisahkan sejarah Republik Indonesia, pertunjukan ini tak tampak meniru penuh fakta sejarah. Narasi digelontorkan lewat seni akting, tata panggung, dan visualisasi dengan bermacam media. Dalam satu adegan, siluet tunggal garuda tersorong memenuhi panggung. Lihat pula saat cahaya mesin kardiograf terpantul pada ruas-ruas bambu, sementara terdengar bunyi tanda denyut jantung, “Tit, tit, tit…”

Rencana pendirian negara Indonesia oleh para Bapak Bangsa juga terwujud dalam perundingan empat karakter berseragam pejuang ’45. Di depan keempat tokoh itu menggantung bingkai-bingkai kosong. Cahaya lampu tersorot dari sisi belakang, menyembulkan bayangan wajah. Seorang dari mereka berembuk sembari menyetel radio tua. Lantas salah satu berseru, “Buku-buku sejarah nanti, akan menuliskan tujuh belas Agustus tahun empat lima! Di Papua? Sama saja!” Ingatan kita ditegur, mereka ialah Bung Karno, Bung Hatta, Sjahrir, dan Tan Malaka.

Perlawanan tentara rakyat vis a vis penjajah pun disajikan melalui tata gerak minus dialog. Namun tercerap kesan estetik yang menyentak saat pejuang-pejuang dengan bambu melawan prajurit bersenapan. Satu per satu tertembak. Tapi akhirnya seorang pejuang dapat mengibarkan Sang Merah Putih di antara barisan ruas-ruas bambu yang melatari panggung. Sebaris lalu, proklamasi dinyatakan perlahan.

Lewat penyusunan alur yang teratur, Teater Epik menggubah suasana kontemplatif tanpa selalu harus menyepi. Proporsi cukup imbang antara monolog Kakek dan visualisasi dinamika republik mampu menarik perasaan penonton masuk dalam realitas negeri. Kita juga segera mengerti kapan suatu babak berpindah dengan konteks situasi politik yang berbeda-beda berkat penyisipan kehadiran kakek.

Namun sebagai sebuah pertunjukan, sebenarnya akting dan pemanggungan cukup memadai menggambarkan persoalan bangsa. Pemunculan kakek yang agak berlebihan pada beberapa adegan terasa menjemukan. Berikan penonton kebebasan menyerap pesan tanpa harus terganggu tuturan kakek yang lebih berkesan sebagai curahan hatinya.

Meski demikian, tak jarang kita tersentil oleh ujaran kakek yang usil. “Sudah semestinya kita banyak bersyukur bahwa bapak Proklamator kita bernama Ahmad Sukarno, jadi republik kita namanya Republik Indonesia. Coba kalau Ahmad Dhani, mesti jadi Republik Cinta, tha?” kakek berseloroh. Tawa dan riuh penonton pun spontan terlontar.

Seperti Republik yang tampil dalam karakter kakek, tokoh-tokoh bersejarah hadir secara imajinatif. Sosok Sukarno, misalnya, ditampikan lewat dialog kuat tanpa memperlihatkan raut muka. “Kita enggak pengen menghadirkan Sukarno di sini, tapi menghadirkan ide Sukarno. Banyak kontroversinya kalau sosok Sukarno yang kita hadirkan,” tegas Tri.

Relevansi Pancasila sebagai buah pemikiran Sukarno, misalnya, tersaji secara kritis dan menggugah. Kita terhenyak melihat adegan anak sekolah dasar yang nyaring menirukan gurunya menyebutkan Pancasila. Tapi, pada sila keempat ia terbata, “Kerakyatan yang dipimpin… oleh hik-mat…keb…” Dengan tempo lebih cepat, keduanya lalu serempak mengucapkan kelima sila. Adapun bermacam representasi penduduk—pekerja kantor, penyanyi dangdut, penjual warung, hingga petani—menjerit-jerit di sekitarnya. Terlukiskan bahwa beratnya penderitaan rakyat kecil ternyata berseberangan dengan semangat Pancasila yang bermimpi “rakyat adil makmur sentosa”.

Alih-alih berhenti pada kritik atas kondisi bangsa, Teater Epik menyodorkan pula refleksi kondisi bangsa dalam konteks kekinian. Keberagaman masyarakat yang diwakili penjual warung, mahasiswa, anak gaul, ustadz, dan hansip tersatukan dalam kedai Neng Alda. Dari situ, kita diminta berempati pada melonjaknya harga cabai sampai kisruh kenaikan BBM yang membuat nasib rakyat kecil menggantung seperti bandul. Kealpaan pemerintah dalam mengayomi warga pun tak ayal mengakibatkan keguncangan sosial. Tampak kesatuan dalam kebinekaan lahir dalam rupa baru: walau berbeda-beda latar sosial, budaya, dan ekonomi, rakyat bersama-sama mendambakan kemerdekaan hidup.

Pentas ini kemudian diakhiri dalam suasana mengharu lewat sosok Ibu Pertiwi yang lirih menggumamkan lantunan “Gugur Bunga”. Walau agak tergesa-gesa memungkasi pentas, pendar lilin-lilin di tengah panggung turut menyembulkan efek perenungan yang sunyi. Kita bertanya: Di manakah negara? Mengapa seolah rakyat berjuang sendirian menghidupi diri? Lantas, sudah merdekakah kita?

Kita pun nampaknya patut mempertanyakan makna kemerdekaan di hari ini, dengan tidak berdiam diri apalagi mendiamkan Tanah Air. Seperti terungkap dalam nyanyian di akhir pementasan, “Walau hidup sudah merdeka, tetap hidup dengan sekuat tenaga. Karena hari esok masih rencana, rencana orang bebas merdeka…” ***
*) Penikmat seni visual, sedang menulis penelitian semiotika fungsi komunikasi dalam pertunjukan teater, dan aktif dalam Komunitas Ketika (Karang Klethak Menulis Kreatif), Yogyakarta.
Leave a Comment
Please feel free to let us know your feeling about this
Your Name
Your Comment
Your Email
Utk ganti paragraf silakan klik
Comments:
Minggu, 24 Juni 2012 - 06:36
kaji karno - kajikarno@yahoo.com
Ketika saya melihat tata panggungnya (sebelum melanjutkan membaca artikel ini), dan ada bambunya, imaji saya berada di halaman belakang 'Salasar Kopi'-nya Bapak Sunaryo di Bukit Pakar Bandung, yang juga penuh dengan 'jejeran bambu'. Ternyata benar. Dari Bandung.
15-04-2014
Simposium INISIATIF WARGA DALAM SENI DAN SAINS
di Auditorium Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada Jl. Flora, Bulaksumur, Yogyakarta
15-04-2014
Pembukaan NALARROEPA Ruang Seni dan Pameran Seni Rupa MJK club
di Karangjati RT.05, RW. XI. Tamantirto, Kasihan, Bantul, Yogyakarta
04-04-2014
Presentasi dan pemutaran film "Rangsa ni Tonun"
di Auditorium Museum Sonobudoyo, Jl. Trikora 6, Yogyakarta
03-04-2014
Diskusi Publik "Open Source"
di Klinik Kopi. Jl. Affandi/Gejayan, (Belakang TB. Toga Mas Yogyakarta)
02-04-2014
Pemutaran Film: “David Wants to Fly”
di Ruang Pertunjukan (Lt. 2), Kedai Kebun Forum, Yogyakarta
01-04-2014
LAUNCHING LAGU "JOGED-E PENGUOSO"
di Kampung Edukasi, Watu Lumbung, Bukit Parangtritis
31-03-2014
Bedah Buku "Soeka-Doeka di Djawa Tempo Doeloe"
di Balai Soedjatmoko, Jl. Slamet Riyadi, Solo/Surakarta
30-03-2014 s/d 20-04-2014
Pameran “Tanah to Indai Kitai” (Tanah adalah Ibu Kita):
di ViaVia Café, Jl. Prawirotaman 30 Jogjakarta
30-03-2014 s/d 20-04-2014
Pameran “Tanah to Indai Kitai” (Tanah adalah Ibu Kita): Potret Kehidupan Dayak Iban Sui Utik, Kalbar
di ViaVia Café, Jl. Prawirotaman 30, Jogjakarta
29-03-2014
WORKSHOP: PEMBINAAN KREATIVITAS DALAM PENDIDIKAN SENI DAN BERKENALAN DENGAN BAHASA RUPA
di Auditorium Lantai 6 Gedung B, Universitas Widyatama, Jl. Cikutra No. 204A Bandung 40125
read more »
Minggu, 13-04-2014
Upacara Tradisional, Kohesi Sosial, dan Bangunan Kebangsaan
oleh Ayu Sutarto
Selasa, 01-04-2014
Membela dengan Sastra (Sebuah Pidato Kebudayaan)
oleh Ahmad Tohari
Rabu, 26-03-2014
Warisan Demokrasi Gorontalo
oleh Hasanuddin
Selasa, 18-03-2014
Demokrasi Berbudaya Minahasa
oleh Jultje Rattu
Kamis, 13-03-2014
Mengejar Penonton Drama Musikal
oleh Sri Bramantoro Abdinagoro
read more »
Merajakan Nalar di Tengah Kepungan Hedonisme
oleh Christian Heru Cahyo Saputro
Buku bertajuk: Acropolis (Kerajaan Nalar) yang merupakan kumpulan kolom karya wartawan SKH Lampung Post Heri Wardoyo (HRW) hadir meramaikan pasar wacana. Buku yang berisi kolom-kolom Heri Wardoyo ini pernah dimuat di rubrik ‘Nuansa’ Lampung Post bertitimangsa tahun...
Fantasi Balzac tentang Pulau Jawa
oleh Sigit Susanto
Merajut Masa Depan Bocah Merapi
oleh T. Nugroho Angkasa S.Pd.
Novel Kasongan, Seliat Tanah Liat
oleh R. Toto Sugiharto
read more »
Lomba Foto “Air dan Sanitasi untuk Kehidupan yang Lebih Baik”
6th Beijing International Art Biennale 2015
Sayembara Cipta Kreasi Motif Batik Seragam Dinas Harian RSUP Dr Kariadi 2014
Lomba Desain Sepatu Tingkat Nasional 2014
LOMBA DESAIN MURAL GALERI NASIONAL INDONESIA 2014
LOMBA CIPTA SENI BATIK NUSANTARA 2014
The 4th Bangkok Triennale International: Print and Drawing
Iver Jåks Artist-In-Residency Program 2014
UNDANGAN Pameran Seni Rupa Karya Guru Seni Budaya “GURU SENI BERLARI” - GALERI NASIONAL INDONESIA
Grants for Media Art 2014 of the Foundation of Lower Saxony at the Edith-Russ-Haus, Germany
read more »
16/04/2014 22:51 | abercrombie deutschland | Apples iPad wird den Markt für Tablet Computer nach Expertenschätzungen noch auf Jahre beherrschen. Einzig das Google Betriebssystem Android werde sich als starker Wettbewerber etablieren, prognostizierten die Marktforscher von Gartner. abercrombie deutschland http://nanosmat.org/hifsxs/afde.asp
16/04/2014 17:06 | burberry handtaschen | ich kann mich auch garn nicht mer kontzentrieren, und schlaffen fellt mir schon laange sehr schwer burberry handtaschen http://www.handtaschendeutschlandshop.com/index.php?main_page=index&cPath=16_28
07/04/2014 00:46 | abdul aziz | mohon bantuan untuk penerbitan buku topeng blantek
03/04/2014 21:13 | Aprimas | Selamat dan Sukses untuk "Guru" Seni Rupa di seluruh Indonesia, Smoga kedepan semakin kreatif, produktif dan inovatif, sehingga dapat sebagai acuan dan pacuan kreativitas bagi generasi masa epan,...Salam
15/03/2014 18:09 | Lilik Indrawati | Ok. I will tray... matur nuwun Pak Kuss.
read more »
About Us
Indonesia Art News merupakan media tentang dinamika seni yang berkait dengan aspek keindonesiaan. Media ini berusaha untuk mengedepankan segi informasi ihwal seni yang dikemas dengan cara pandang kritis dan muatan yang investigative. Indonesia Art News berkedudukan di Yogyakarta, Indonesia
Gabung di Facebook
Buku Tamu
Pengelola IAN
Editor in chief:Kuss Indarto
Editor:R. Toto Sugiarto
Designer:Andika Indrayana
Email - info@indonesiaartnews.or.id