HOME     NEWS     EVENTS     ARTICLES     DIRECTORY     BOOKS     OPPORTUNITIES  
   
Selasa, 29 Mei 2012 - 09:42
Palsu
oleh Kuss Indarto
Sebentang lukisan yang ditandatangani sebagai karya Eddie Hara berjudul "Papua Ethnic" berukuran 85x110 dan bertengara tahun 1990. Seniman Eddie Hara (asli) menolak lukisan ini sebagai karyanya. (foto: dokumentasi kuss)
MEGA-FORGER atau raksasa-pemalsu lukisan Wolfgang Beltracchi (terlahir sebagai Wolfgang Fischer) telah menjadi narasi besar tentang pemalsuan lukisan di abad ini. Penghujung Oktober 2011 lalu, pengadilan Koln, Jerman telah memvonis Wolfgang dan istrinya, Helene Beltracchi masing-masing enam dan empat tahun penjara, setelah 14 lukisan yang diduga hasil pemalsuan dijadikan sumber kasus oleh pengadilan. Jumlah karya itu diduga telah menjadi tambang uang sebesar Rp 200 milyar bagi pasangan Beltracchi, namun merugikan pihak lain hingga menyentuh angka € 34 juta bila dihitung berdasarkan seluruh penjualan berantai dari karya-karya tersebut. Beltacchi masih beruntung karena baru 14 lukisan yang diduga palsu yang dikasuskan. Padahal para ahli dalam pemalsuan lukisan telah menyidik 55 lukisan palsu buatannya yang telah beredar di berbagai ajang seni sejak dasawarsa 1990-an. Beltracchi dengan piawai telah memiripkan lukisannya dengan karya-karya seniman besar dari periode klasik modern semacam karya André Derain, Max Ernst, Fernand Léger, Heinrich Campendonk, Max Pechstein, dan nama-nama besar lainnya.

Beltracchi tidak sendirian. Sebelumnya, ada nama Han van Meegeren dari Belanda yang lebih menghebohkan dan disebut-sebut sebagai forger terbesar di abad-20 setelah memalsukan karya Jan Vermeer pada dasawarsa 1930-an. Ada pula Elmyr de Hory dari Hungaria, yang memalsukan karya Matisse, Picasso juga Derain. Tahun 1976 Elmyr bunuh diri sebelum diserahkan kepada otoritas peradilan Perancis. Karya-karya seniman besar Max Beckmann, Marc Chagall dan Edvard Munch juga pernah dipalsukan oleh Lothar Malskat dari Königsberg, Prusia Timur, yang kini bernama Kaliningrad. Pada tahun 1955, Malskat diganjar hukuman 18 bulan penjara. Dari Inggris, ada pemalsu lukisan yang tak kalah heboh: Tom Keating. Dia mengklaim telah memalsu lebih dari 2.000 lukisan dalam gaya Old Masters sepanjang sepak terjangnya sebagai forger.

Apakah di Indonesia segera terbongkar praktik forger seperti contoh-contoh di atas?

Bisa iya, bisa tidak. Dugaan ke arah itu bisa muncul, setidaknya ketika publik mengikuti arus isu (issue, bukan rumour) yang berkembang hampir dua bulan terakhir ini yang menengarai bahwa beberapa koleksi lukisan dari kolektor kawakan Oei Hong Djien (OHD) di gedung terbaru OHD Museum disebut-sebut meragukan keasliannya. Ini tentu menghebohkan bagi publik seni rupa di Indonesia yang selama ini telah sangat percaya dengan kesungguhan sosok OHD sebagai kolektor seni rupa sejati dan integritas personalnya yang bahkan seolah telah menjelma sebagai institusi penting “penghimpun potongan sejarah seni rupa Indonesia”—yang tidak becus dilakukan oleh negara.

Lukisan-lukisan S. Sudjojono, Hendra Gunawan dan Soedibio koleksi OHD diragukan keasliannya. Adalah Amir Sidharta, kurator museum UPH sekaligus praktisi balai lelang, dan kolektor seni rupa Syakieb Sungkar yang membuka isu ini di media sosial Facebook lewat status-status dan notes-nya. Sebelum isu berkembang lebih jauh, kolektor Lin Che Wei mencoba menjernihkan lewat round table discussion.

Sayang, fine art round table discussion: “Seni Rupa Modern Indonesia” yang berlangsung di Galeri Nasional Indonesia, 24 Mei 2012 masih menggantung dan menyisakan banyak persoalan, meski beberapa cercah harapan berpotensi bisa ditangguk. Sayang juga pihak yang memunculkan isu tidak hadir (atau tidak dihadirkan?). Diskusi itu, bagi saya, belum menukik menjadi altar akademik bagi problem dasar yang diperbincangkan: apakah benar sebagian dari koleksi OHD bukan karya seniman sesungguhnya?

Namun, lepas dari benar-tidaknya isu tersebut, ada beberapa hal yang bisa dicermati dari kasus ini. Pertama, benarlah asumsi yang menelusup dalam telinga selama ini bahwa dalam dunia seni rupa Indonesia telah “kaya rupa/rupiah tapi miskin wacana”. Ada ketidakseimbangan yang cukup parah antara intensitas dunia-kreatif di satu sisi dan dunia-penalaran di sisi seberangnya.

Kita bisa menyimak begitu banyaknya presentasi karya para perupa Indonesia di dalam dan luar negeri, namun abai pada riset, pendokumentasian juga pencatatan, termasuk di dalamnya merawat detil sejarah yang terberai atau terserak dari ingatan kolektif. Kita begitu antusias untuk berkerumun dan bergunjing pada banyak hal yang menyangkut angka-angka (price) ketimbang mengapresiasi pada nilai-nilai (value). Jumlah balai lelang di Indonesia jauh lebih banyak daripada majalah (apalagi) jurnal seni rupa. Maka, bisa jadi, dugaan atas pemalsuan lukisan para maestro (atau karya most wanted artists) mampu begitu berkembang dengan cepat dan canggihnya di sini karena permisifnya situasi.

Kedua, praktik mafia pemalsuan lukisan semakin menguatkan struktur dan jejaring kerjanya dari level kecil hingga besar, dari hulu hingga hilir. Asumsi ini muncul demi melihat fakta bahwa seorang kolektor sekaliber OHD saja hingga hari ini masih belum selesai dipertanyakan keaslian karya-karya koleksinya. Apalagi para kolektor lain yang masih jauh di bawah kapasitas kapital, sistem pengetahuan hingga pengalamannya? Atau—jangan-jangan—diam-diam telah terjadi rivalitas yang kurang sehat antarkelompok kolektor atau pemilik modal kuat sehingga melakukan pembiaran atas gejala pemalsuan lukisan pada lingkar kelompok tertentu untuk menghantam kelompok kompetitornya? Di titik inilah struktur dan jejaring kerja para mafia ini dikukuhkan.

Ketiga, lagi-lagi terlihat di sini mangkirnya negara dalam mengurus dunia kesenian, mulai dari konsep, regulasi, hingga di ranah praktik dengan segala kompleksitasnya. Lembaga negara pengampu dunia seni belum mampu menyentuh titik persoalan hingga, misalnya, mengadvokasi kasus-kasus pemalsuan karya seni semacam ini. Pada titik ini, publik seni tentu menaruh ekspektasi besar agar sosok-sosok forger seperti Beltracchi dan para pengatur skenario di belakangnya bisa terkuak dan terperangkap seperti yang terjadi di Jerman atau negara lainnya.

Perihal koleksi memang masih tanda tanya. Hanya Tuhan yang tahu. Tentu Tuhan yang asli, bukan yang palsu. ***

(Tulisan ini dimuat di Koran Tempo edisi Senin, 28 Mei 2012, halaman A18, dan telah disunting seperlunya)
*) Kurator seni rupa, dan editor in chief www.indonesiaartnews.or.id
Leave a Comment
Please feel free to let us know your feeling about this
Your Name
Your Comment
Your Email
Image Verification
Captcha Image Reload Image
Utk ganti paragraf silakan klik
Comments:
29-05-2016 s/d 02-06-2016
"Run: Embrace Diversity", pameran tunggal Nasirun
di Sportorium Univ. Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Ringroad Barat, Kasihan, Bantul, Yogyakarta
14-05-2016 s/d 21-05-2016
Pameran seni Rupa AFTER MOOI INDIE
di Galeri R.J. Katamsi Kampus ISI Yogyakarta, Jl. Parangtritis Km. 6,5 Yogyakarta
11-05-2016 s/d 19-05-2016
Pameran Seni Rupa "# Rupa Rajawali"
di Taman Budaya Yogyakarta, Jl. Sriwedani No. 1, Gondomanan, Yogyakarta
07-05-2016
Seminar dan Diskusi NOKEN: Sejarah dan Budaya
di Ark Galerie Jl. Suryodiningratan 36 A Yogyakarta
10-04-2016
Njoged Mbagong: Tubuh bagai mata air, kreativitas tetap mengalir
di Bangsal Diponegoro, Padepokan Seni Bagong Kussudiardja, Kembaran, Ngestiharjo, Kasihan, Bantul
03-04-2016 s/d 10-04-2016
Air Tanah, Respon Sumber Air Gemulo
di Sumber Air Gemulo, Jl. Bukit Berbunga, Bumiaji, Kota Batu
03-04-2016 s/d 09-04-2016
“RUANG KECIL BICARA”
di Galeri PRABANGKARA (DKJT) Kompleks Taman Budaya Jatim Jl. Gentengkali 85 Surabaya
31-03-2016 s/d 23-04-2016
Pameran Seni Rupa "Art Akulturasi"
di Galeri Seni House of Sampoerna Surabaya
31-03-2016 s/d 15-04-2016
Ketemu AJA: seniman asal Jembrana, Punia Atmaja
di KETEMU PROJECT SPACE Jl Batuyang, Perum Taman Asri 3A Batubulan, Bali
29-03-2016 s/d 11-04-2016
PELEBURAN RUPA, NADA, DAN KATA: A Solo Exhibition by Andra Semesta
di Cemara 6 Art Centre (Galeri) Jl.Hos.Cokroaminoto 9-11, Menteng, Jakarta
read more »
Rabu, 18-05-2016
Rajawali yang (Ingin) Menolak Takdir
oleh Kuss Indarto
Sabtu, 14-05-2016
Perspektif Beda Ihwal Mooi Indie
oleh Kuss Indarto
Jum'at, 08-04-2016
FBU 2015: Frankfurt Book Unfair 2015
oleh Sigit Susanto
Selasa, 16-02-2016
Tanda Rasa, Tanda Ada
oleh Kuss Indarto
Sabtu, 16-01-2016
Mengejar Hasrat, Menghajar yang Membebat
oleh Kuss Indarto
read more »
Merajakan Nalar di Tengah Kepungan Hedonisme
oleh Christian Heru Cahyo Saputro
Buku bertajuk: Acropolis (Kerajaan Nalar) yang merupakan kumpulan kolom karya wartawan SKH Lampung Post Heri Wardoyo (HRW) hadir meramaikan pasar wacana. Buku yang berisi kolom-kolom Heri Wardoyo ini pernah dimuat di rubrik ‘Nuansa’ Lampung Post bertitimangsa tahun...
Fantasi Balzac tentang Pulau Jawa
oleh Sigit Susanto
Merajut Masa Depan Bocah Merapi
oleh T. Nugroho Angkasa S.Pd.
Novel Kasongan, Seliat Tanah Liat
oleh R. Toto Sugiharto
read more »
Pameran Besar Seni Rupa Indonesia 2016
Kompetisi Karya Trimatra Salihara 2016
Call for Applications for the Artists in Residence Programme 2016 in Austria
Kompetisi UOB Painting of the Year 2015
BANDUNG CONTEMPORARY ART AWARDS (BaCAA) #04
KOMPETISI SENI LUKIS, MANDIRI ART AWARD 2015
GUDANG GARAM INDONESIA ART AWARD 2015
Dana SAM untuk Seni dan Lingkungan
LOMBA PENULISAN JURNALISTIK
Lomba Foto “Air dan Sanitasi untuk Kehidupan yang Lebih Baik”
read more »
02/05/2016 03:59 | Larry Fox | Apakah Anda mencoba untuk mendapatkan pinjaman dari bank tidak berhasil? Sangat membutuhkan uang untuk keluar dari utang? Butuh uang untuk ekspansi atau pembentukan bisnis Anda sendiri? Mendapatkan pinjaman dari salah satu perusahaan pinjaman terkemuka di Inggris. Untuk informasi lebih lanjut, silahkan hubungi via email: larryfox2016@gmail.com
05/01/2016 15:38 | Kareba Art | Salam, Kami dari Kareba Art Management ingi mengadakan pameran Drwaing. Bagaimana caranya agar kegiatan kami dipublikasikan di Indonesia Art News? Makasih....
06/05/2015 16:11 | EkanantoBudiSantoso | to Pa Andre Galnas,kapan kita reuni mamer bareng temen2x? biar wacananya "dream come true gitu,art new biar juga makin seru kita undang konco2x sy nulis disini juga,thanks att.
06/05/2015 16:03 | EkanantoBudiSantoso | Sy butuh info lomba lukis Mandiri,sebenarnya kompetisi bukan untuk cari "jawara,jati diri dan silaturakhmi perupa sangat perlu"dikembangbiakan biar ngga ego,ah.
10/02/2015 23:32 | icha | saya mw jual brang py kkek msa penjajahan di ambon.... samurai bs ditekuk pjang bget... ada belati kecil beserta bendera jepang msa lampau... ada tulisan di sebuah uukuran kertas seperti kulit binatang tpi tulisan jepang... mhon bntuan nya mau jual saja butuh ug urgent
read more »
About Us
Indonesia Art News merupakan media tentang dinamika seni yang berkait dengan aspek keindonesiaan. Media ini berusaha untuk mengedepankan segi informasi ihwal seni yang dikemas dengan cara pandang kritis dan muatan yang investigative. Indonesia Art News berkedudukan di Yogyakarta, Indonesia
Gabung di Facebook
Buku Tamu
Pengelola IAN
Editor in chief:Kuss Indarto
Editor:R. Toto Sugiarto
Designer:Andika Indrayana
Email - info@indonesiaartnews.or.id