HOME     NEWS     EVENTS     ARTICLES     DIRECTORY     BOOKS     OPPORTUNITIES  
   
Senin, 28 Mei 2012 - 08:56
Bumi yang Bertarung, Seni yang Berpihak
oleh Baskara T. Wardaya, Sj.
IBARAT sebuah perjalanan, membahas masa lalu itu seperti mengunjungi sebuah negeri asing. Sebelum berkunjung, mungkin saja kita telah memiliki keterangan mengenai negeri itu, namun biasanya kurang lengkap. Untuk itulah kita ingin bertandang, dan melihat sendiri seperti apa negeri itu. Ketika kemudian datang, kita lantas memerlukan seorang pemandu yang di harapkan akan dapat menjelaskan kepada kita tempat-tempat atau hal-hal yang akan kita jumpai berikut keterangan-keterangan yang ada di baliknya. Ketika berurusan dengan soal pemandu ini kita lantas memliki dua pilihan: mau pemandu resmi yang berasal dari pemerintah negeri itu, atau pemandu tak resmi yang berasal dari masyarakat setempat.

Sebagaimana dikatakan oleh Sutherland yang pernah menggunakan pengibaratan ini, jika pemandunya berasal dari pemerintah, tentu kita akan lebih banyak melihat tempat-tempat atau hal-hal uang dinilai penting bagi kacamata penguasa, atau ke uraian-uraian mengenai peristiwa-peristiwa yang kiranya akan mendukung kekuasaan yang ada. Sebaliknya jika pemandunya berasal dari kalangan masyarakat setempat, kita akan diantar ke tempat atau peristiwa-peristiwa yang dirasa memiliki kaitan dengan hidup dan perjuangan masyarakat (Steijlen: 2002). Cara pandang dan narasi yang dipakai pemandu dari masyarakat ini tentu akan berbeda dengan cara pandang dan narfasi yang dipakai oleh pemandu yang berasal dari penguasa.
 
Sangat Menarik

Selama kurun waktu yang panjang dalam sejarah pascaproklamasi bangsa ini, pemandu yang menuntun kita ke negeri asing masa lalu lebih banyak pemandu yang berasal dari penguasa atau dari mereka yang memiliki kepentingan pararel dengan kepentingan penguasa. Selama periode yang panjang itu dalam hal tempat dan peristiwa penting yang berkaitan dengan sejarah kita, penjelasan yang diberikan adalah penjelasan yang seturut dengan narasi dan kepentingan elit politik. Narasi-narasi yang berasal dari pemandu non-pemerintah biasanya di tekan atau bahkan disingkirkan sama sekali.
 
Dengan bergulirnya semangat reformasi sejak paro kedua tahun 1990-an mulai muncullah kesadaran akan pentingnya pemandu ke masa lalu yang berasal dari masyarakat. Alasannya belum tentu karena apa yang dinarasikan oleh pemandu resmi itu salah, melainkan lebih karena apa yang mereka sampaikan itu biasanya cenderung enggan mengakomodasi narasi-narasi yang berasal dari rakyat kebanyakan, khususnya warga masyarakat yang telah menjadi korban ketidakadilan di masa lalu. Dengan adanya semangat reformasi itu tuturan-tuturan tentang masa lalu mulai tampil ke permukaan, entah itu dalam bentuk diskusi publik, tulisan-tulisan pendek, biografi, buku-buku sejarah, film dokumenter, atau yang lain.
 
Namun demikian, semua itu tidak berarti tidak ada tantangan atas narasi-narasi yang berasal dari masyarakat. Narasi dari masyarakat mulai bermunculan, tetapi tekanan terhadap narasi masyarakat juga turut bermunculan. Menariknya tekanan tidak hanya datang dari kalangan resmi pemerintah, melainkan acapkali juga dari kelompok-kelompok tertentu dalam masyarakat yang merasa terancam eksistensi atau kepentingan mereka.
 
Tak kalah menarik, meskipun ada banyak tantangan, akhir-akhir ini tetap saja narasi-narasi masyarakat itu lahir dan berkembang, dengan segala kekuatan dan kelemahannya. Di antara warga masyarakat yang banyak melahirkan narasi-narasi itu adalah para pelaku sejarah, didukung oleh sejumlah sejarawan yang memiliki kepedulian terhadap suara mereka. Secara akademis, narasi yang berasal dari para pelaku sejarah itu bisa saja di nilai lemah, namun sebagai catatan peristiwa dan dan pengalaman masa lalu kiranya narasi itu tetap penting, setidaknya sebagai bahan kajian lebih lanjut dalam konteks sejarah dalam artian akademis. Para saksi dan pelaku sejarah itu laksana pemandu yang berasal dari masyarakat setempat dalam ibarat kita tadi. Mereka ingin menunjukan kepada kita berbagai sisi peristiwa di negeri asing masa lalu, yang entah sengaja atau tidak telah di abaikan oleh para penulis sejarah resmi yang berasal dari kalangan penguasa dan para pendukungnya.
 
Dalam kaca pandang seperti itulah buku Amrus Natalsya dan Bumi Tarung karya Miscbah Tamrin ini menjadi sangat menarik untuk disimak dan dikaji. Dari judulnya kita bisa menebak apa yang mau dinarasikan buku ini, yaitu kisah tentang seniman besar Amrus Natalsya dengan sanggar seni yang ia berikan dan perjuangkan, yakni Sanggar Bumi Tarung. Namun demikian buku ini sebenarnya lebih dari sekadar berkisah mengenai seorang seniman dengan sanggar seni yang ia dirikan.    

Banyak Perubahan

Dikisahkan oleh Misbach Tamrin dalam buki ini, Amrus adalah seorang pribadi yang “unik”, bahkan sejak masa remajanya. Lahir di Medan, Sumatera Utara, tanggal 21 Oktober 1933, Amrus lebih suka menyibukkan diri dengan berbagai kegiatan di luar dari pada tinggal di rumah menemani adik-adik dan keluarganya. Selepas SMA ia memutuskan diri untuk merantau dan belajar di Jawa, karena ia tertarik untuk memperdalam ilmu di bidang seni. Pada tahun 1954 sampailah ia di Yogyakarta, tepatnya di Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI), dimana ia belajar sekaligus membuka lembaran baru hidupnya.
 
Meskipun resminya kuliah, selama di Yogyakarta ini Amrus tidak hanya belajar tekun seorang mahasiswa. Ia lebih suka meneruskan kebiasaan lama untuk menyibukkan diri dengan kegiatan luar, dan dengan begitu ia belajar dari kehiduan masyarakat yang ia jumpai. Dalam perjumpaan dengan masyarakat itulah ia menyadari bahwa di Jawa berbagai penderitaan yang ada di masyarakat merupakan akibar dari sistem kekuasaan berkelas, dimana kelas atas rajin menghisap kelas bawah sehingga timbul kesengsaraan di kalangan rakyat jelata.
 
Sebagai seorang seniman “serba bisa”—ia menguasai tiga genre seni rupa sekaligus, yakni seni patung, seni lukis kanvas, dan seni lukis kayu—Amrus berusaha mengungkapkan apa yang ia amati dan refleksikan itu ke dalam karya-karyanya. Baginya, setelah mengamati dan mengalami kehidupan rakyat bawah seperti itu tak mungkin baginya untuk tinggal diam atau untuk membuat karya-karyanya “buta” terhadap apa yang di alami oleh rakyat kebanyakan.
 
Tak mengherankan, hanya setahun menetap di Yogyakarta, ia sudah mulai dikenal secara luas. Pada tahun 1955 salah satu karyanya yang berjudul “Orang Buta yang Dilupakan” telah mampu menarik perhatian Presiden Soekarno yang kemudian mengoleksinya. Pada tahun 1957, dalam usia 24 tahun, ia sudah mengadakan pameran tunggal di Jakarta.
 
Digambarkan, Amrus adalah seorang seniman yang cuek terhadap kalangan atas (termasuk Presiden Soekarno sekalipun), namun amat peduli dengan kalangan bawah, khususnya kaum buruh dan petani. Ia adalah seorang pelopor (avantgardis) yang dalam semangat revolusinya berusaha untuk mengibarkan semboyan “politik sebagai panglima” dalam pertarungan ideologi dan politik kebudayaan, khususnya melalu karya-karya seni yang bercirikan semangat “realisme revolusioner”.

Gagasan inilah yang kemudian mendorongnya untuk bersama sejumlah seniman muda lain yang memiliki pandangan dan semangat serupa mendirikan sebuah sanggar seni yang kemudian disebut sebagai bermarkas di Gampingan, Yogyakarta, dan berkiprah dari tahun 1961 hingga tahun 1965.
 
Di mata Amrus, aliran seni abstrak telah dimanfaatkan oleh kaum imperialis untuk mencapai tujuan mereka, yakni supaya para seniman tidak menaruh perhatian dan kepedulian kepada rakyat bawah. Untuk melawan upaya itu Amrus Natalsya bersama kawan-kawannya justru menekankan pentingnya kaitan antara karya seni dengan situasi konkret masyarakat bawah, berikut keinginan untuk terus menghidupi semangat revolusi guna mengubah masyarakat yang ada menjadi sebuah masyarakat yang tidak hanya makmur juga adil dan berperikemanusiaan. Untuk mendapatkan inspirasi bagi karya-karyanya Amrus sering mengadakan kegiatan “turun ke bawah” atau “turba”, yakni melakukan pengamatan langsung atas kehidupan sehari-hari di kalangan rakyat. Lukisan-lukisan seperti Peristiwa Djengkol (1960), Melepas Dahaga di Mata Air yang Bening (1960), atau Petani dan Laskar Rakyat (1961) dengan jelas mencerminkan kepeduliaan Amrus terhadap penderitaan, perjuangan dan harapan rakyat kecil di negeri ini.

Ketika pada tahun 1965 terjadi penangkapan dan pembunuhan massa terhadap mereka yang dianggap komunis, berhaluan kiri atau dekat dengan Bung Karno, banyak kawan sesama anggota Sanggar Bumi Tarung ditangkap, dipenjara bahkan dibunuh secara beramai-ramai. Amrus sendiri sempat lolos dari penangkapan, tetapi pada tahun 1968 dia terjaring dalam sebuah operasi militer yang dinamakan “Operasi Kalong”. Iapun ditahan di markas kalong di Jl. Gunung Sahari, Jakarta, lalu di RTC Salemba, dan kemudian dipenjara di Tanggerang, Jawa Barat. Selama lima tahun ia dipisahkan dari keluarganya, dipaksa mendekan di balik jeruji penjara, dan dirampas kebebasannya. Ketika pada tahun 1973 ia boleh kembali menghirup udara bebas, suasana sosial, politik dan kebudayaan di luar telah mengalami banyak perubahan. Iapun harus melakukan berbagai jenis penyesuaian diri agar bisa bertahan hidup.
 
Dikejar-kejar

Bersama dengan tuturan tentang Amrus Natalsya, buku ini juga berkisah tentang bagaimana Sanggar Bumi Tarung yang dimotori oleh Amrus itu lahir, berjuang dan kemudian secara tiba-tiba diberangus oleh penguasa. Seperti disinggung di depan, Sanggar Bumi Tarung lahir dari hasrat untuk menjadikan seni sebagai bagian dari hidup dan perjuangan rakyat, khususnya rakyat bawah. Dalam kaitan dengan ini para seniman SBT bermaksud mengangkat duka derita rakyat ke kesadaran umum, sehingga akan timbul usaha bersama untuk membebaskan rakyat negeri ini dari penderitaan, sehingga terciptalah masyarakat Indonesia yang adil, makmur, dan berperikemanusiaan.
 
Nama “Bumi Tarung” dipilih sendiri oleh Amrus Natalsya karena ia memahami kehidupan di bumi ini sebagai pertarungan tak kunjung henti antara berbagai unsur kekuatan, seperti antara kekuatan kebaikan dan kejahatan, antara kekuatan keadilan dan ketidakadilan, antara kebebasan dan penindasan, antara nefos (new emerging forces) dan oldefos (old-established forces). Di tengah pertarungan itu Amrus dan kawan-kawan merasa tak punya pilihan selain berpihak pada mereka yang lemah dan menjadi korban. Bagi mereka, di tengah dinamika pertarungan di bumi ini seni tidak oleh berpaku tangan apalagi memalingkan wajah. Seni dan para senimannya harus berpihak pada mereka yang terpinggirkan oleh berbagai bentuk ketidakadilan dan kesewenang-wenangan. Dalam perjuangan itu, selain Amrus sendiri, anggota-anggota Sanggar Bumi Tarung yang lain adalah Ng Sembiring, Sutopo, Isa Hasanda, Kuslan Budiman, Misbach Tamrin (penulis buku Amrus Natalsya dan Bumi Tarung), Djoko Pekik, Suhardjija Pudjanadi, Adrianus Gumelar dan lain lain. Semangat yang menjiwai para seniman ini adalah semangat realisme revolusioner guna menghidupkan kembali semangat revolusi 1945  dan mengembalikannya sebagai bagian dari perjuangan bersama rakyat Indonesia.

Dalam semangat “seni untuk rakyat” Amrus dan para anggota SBT yang lain memutuskan untuk secara tegas menyatakan diri menjadi bagian dari Lembaga Seni Rupa LEKRA (Lembaga Kebudayaan Rakyat milik para partai Komunis Indonesia) yang dalam kiprahnya selalu menekankan pentingnya keberpihakan kepada masyarakat bawah.

Hasrat para anggota Sanggar Bumi Tarung berpihak pada dan memperjuangkan rakyat bersama LEKRA itu ternyata mendapat perlawanan. Sejumlah pihak yang tidak ingin bahwa karya dan kegiatan seni memiliki kaitan dengan kehidupan masyarakat bawah mencoba memotong apa yang dilakukan oleh Sanggar Bumi Tarung. Blok kapitalis—misalnya melalui lembaga-lembaga seperti Rockefeller Foundation, USIS (United State Information Service) dan Asia Foundation-berusaha memisahkan seniman dari masyarakatnya dengan menekankan pentingnya karya-karya yang berciri abstrak. Di Yogyakarta, Jefferson Library—sebuah usaha perpustakaan milik pemerintah Amerika Serikat—berusaha mempengaruhi para seniman agar menjauhi karya-karya yang bercirikan realisme-sosialis dan mengutamakan karya-karya non-figuratif yang keberpihakannya kepada rakyat tidak jelas.
 
Apa  boleh buat, bersamaan dengan berlangsungnya tragedi 1965—dimana tujuh orang jendral tewas di tangan Gerakan Tiga Puluh September dan setengah juta rakyat sipil dibunuh secara masal oleh rekan-rekan sebangsanya—para seniman Sanggar Bumi Tarung ini dikejar-kejar, ditahan dan dibunuhi. Sebagaimana disinggung di depan, Amrus sendiri sempat lama mendekam di penjara, yakni selama 5 tahun, tapi dari segi waktu ia lebih beruntung dibanding teman-temannya yang dipenjara dalam waktu yang jauh lebih lama. Atau bahkan tewas secara menggenaskan karena dibunuh secara beramai-ramai itu misalnya Harmani dan Harjanto dari Tulungagung, Jawa Timur. Juga Mulawesdin Purba dari Siantar, Sumatera Utara. Sementara itu kawan-kawan Amrus yang lain seperti Sutopo, Djoko Pekik, Suroso dan Sudiono S.P. “diamankan” alias dimasukan penjara di Yogyakarta tanpa melalui proses hukum yang semestinya. Sejak itu banyak hasil karya seni para seniman Bumi Tarung hilang atau dimusnahkan secara bersamaan dengan itu hilang dan musnah pula tradisi seni yang berpihak kepada rakyat kebanyakan.
 
Menyesuaikan Diri

Walhasil, dari uraian Misbach Tamrin mengenai hidup Amrus Natalsya beserta Sanggar Bumi Tarung kita lantas bisa belajar banyak mengenai sejarah Indonesia, khususnya periode tahun 1960-an dan setelahnya. Sebagaimana kita lihat, buku ini tidak hanya mengenai pengalaman subjektif Amrus atau seputar sanggar yang ia dirikan semata, melainkan juga mengenai jatuh bangun Amrus dan para seniman lain dalam upaya menceburkan diri ke tengah kehidupan masyarakatnya, dan bagaimana mereka bermaksud mengangkat pengalaman hasil menceburkan diri itu dalam kesadaran publik melalui karya-karya seni yang mereka lahirkan.

Dengan demikian, buku ini merupakan sebuah catatan penting mengenai suatu masa dalam sejarah modern bangsa ini, ketika para senimannya memiliki kepedulian yang kuat terhadap perjuangan dan duka masyarakat dimana mereka hidup dan menjadi bagiannya. Anehnya, sebagaimana juga tergambar dalam jelas dalam buku ini, justru karena kepedulian pada rakyat itu secara tiba-tiba mereka dihabisi secara kejam dan berdarah, dan bersamaan dengan itu dihabisi pula generasi seniman yang memiliki keberpihakan, dan komitmen kepada lapisan bawah masyarakat. Kalaupun ada yang lolos, mereka terpaksa harus menyesuaikan diri dengan tuntutan keadaan. Amrus Natalsya adalah salah seorang saksinya.

Tongkat Estafet

Melalui buku ini kita disadarkan kembali, jangan-jangan penderitaan rakyat yang ada sekarang ini merupakan salah satu hasil dari pilihan elit politik kita di akhir 1960-an untuk banting stir dan berbelok kanan, dari pro-rakyat menjadi anti-rakyat. Tahun 1965 dan beberapa tahun berikutnya merupakan tahun-tahun dimulainya sebuah masa dimana politikus, budayawan, dan senimannya yang memiliki kepedulian pada dinamika dan perjuangan rakyat disirnakan, diganti oleh para pelaku sosial, politik dan budaya yang lebih suka merayakan kemenangan para kuat kuasa dari pada memahami dan memihak perjuangan kaum lemah para korban ketidakadilan yang terserak dimana-mana. Dengan begitu ini merupakan sarana yang penting untuk menyadarkan kembali masyarakat yang sekarang ini banyak dilanda oleh “amnesia sejarah” alias lupa akan masa lalu. Khususnya berkaitan dengan apa yang terjadi pada tahun 1965 dan setelahnya.

Sekaligus buku ini merupakan bagian dari kritik untuk para seniman yang pada satu sisi karyanya laku terjual dengan harga yang sangat tinggi dan menjadi incaran para kolektor besar (dari dalam maupun luar negeri), tetapi yang keberpihakannya kepada rakyat kecil belum terlihat. Padahal berbeda dengan seniman-seniman negeri maju, seniman-seniman yang berasal dari negeri ini hidup di tengah penderitaan begitu banyak warga masyarakat, khususnya mereka yang berada di lapisan bawah, disertai praktek-praktek ketidakadilan dan kekerasan yang terus berlangsung.
 
Itulah sebabnya sampai di sini dua buah pertanyaan menjadi penting untuk kita jawab bersama: akankah kita tinggal diam dan berpaku tangan sambil mengamati duka-derita dan perjuangan masyarakat dari ketinggian menara gading yang nyaman? Ataukah kita-seperti yang pernah coba dilakukan oleh Amrus Natalsya dan kawan-kawan mau berusaha menceburkan diri dan menyelami duka-derita dan perjuangan masyarakat untuk kemudian mengangkatnya ke kesadaran umum yang lebih luas.
 
Hadirin dan para pembaca yang terhormat, Amrus Natalsya dan kawan-kawannya dari Sanggar Bumi Tarung ingin menyerahkan tongkat estafet keberpihakan itu kepada kita. ***
*) Peneliti pada PusdEP (Pusat Sejarah dan Etika Politik), Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.
Leave a Comment
Please feel free to let us know your feeling about this
Your Name
Your Comment
Your Email
Utk ganti paragraf silakan klik
Comments:
15-12-2014 s/d 10-01-2015
Pameran Tunggal Angga Yuniar Santosa: “Holes Arround Me”
di Tembi Rumah Budaya Yogyakarta, Jl. Parangtritis Km 8.4 Tembi, Timbulharjo, Sewon. Bantul
13-12-2014
Seni Masa Kini: Catatan tentang “Kontemporer” oleh Mitha Budhyarto
di Langgeng Art Foundation jl. Suryodiningratan no 37 Yogyakarta
12-12-2014 s/d 12-12-2014
"Identity Parade", Pameran tunggal Maradita Sutantio
di ViaVia Café & Alternative Art Space, Jl. Prawirotaman 30 Yogyakarta
12-12-2014 s/d 13-12-2014
Gandari: Sebuah Opera Tari
di Teater Jakarta ,Taman Ismail Marzuki, Jl. Cikini Raya, Jakarta
11-12-2014
Anak Wayang (Belajar Memaknai Hidup)
di Gedung PKKH (Purna Budaya) UGM
07-12-2014
"CHEMISTRY" (Charity, Music and Art for Unity)
di Cafe Catherius, Jl. Sawojajar 38 Bogor (belakang Yogya Bogor Junction)
06-12-2014 s/d 07-12-2014
JATENG ARTFEST 2014: "KONSERVASI BUDAYA, MERAJUT KERAGAMAN"
di Wisma Perdamaian Tugu Muda Semarang
05-12-2014
"INFERNO", Visual Art Exhibition
di DANES ART VERANDA Jl. Hayam Wuruk No.159 Denpasar 80235 Bali Indonesia
05-12-2014 s/d 28-12-2014
“The 3rd Jakarta International Photo Summit 2014: City of Waves”
di Galeri Nasional Indonesia, Jl. Medan Merdeka Timur 14, Jakarta
25-11-2014 s/d 28-11-2014
Pameran Seni Rupa "Art/East/Ism"
di Gedung Sasana Krida, Kompleks Universitas Malang (UM)
read more »
Rabu, 03-12-2014
Upaya Menemu Kebaruan
oleh Kuss Indarto
Kamis, 06-11-2014
Street Art di Yogyakarta, sebagai Karya Kreatif dan Politis
oleh Oleh Michelle Mansfield dan Gregorius Ragil Wibawanto
Senin, 13-10-2014
Menguji Kembali(nya) Faizal
oleh Oleh Kuss Indarto
Rabu, 01-10-2014
Kota Butuh Festival Seni
oleh Muchammad Salafi Handoyo
Rabu, 17-09-2014
Metafora Visual Kartun Editorial pada Surat Kabar Jakarta 1950-1957
oleh Priyanto Sunarto
read more »
Merajakan Nalar di Tengah Kepungan Hedonisme
oleh Christian Heru Cahyo Saputro
Buku bertajuk: Acropolis (Kerajaan Nalar) yang merupakan kumpulan kolom karya wartawan SKH Lampung Post Heri Wardoyo (HRW) hadir meramaikan pasar wacana. Buku yang berisi kolom-kolom Heri Wardoyo ini pernah dimuat di rubrik ‘Nuansa’ Lampung Post bertitimangsa tahun...
Fantasi Balzac tentang Pulau Jawa
oleh Sigit Susanto
Merajut Masa Depan Bocah Merapi
oleh T. Nugroho Angkasa S.Pd.
Novel Kasongan, Seliat Tanah Liat
oleh R. Toto Sugiharto
read more »
LOMBA PENULISAN JURNALISTIK
Lomba Foto “Air dan Sanitasi untuk Kehidupan yang Lebih Baik”
6th Beijing International Art Biennale 2015
Sayembara Cipta Kreasi Motif Batik Seragam Dinas Harian RSUP Dr Kariadi 2014
Lomba Desain Sepatu Tingkat Nasional 2014
LOMBA DESAIN MURAL GALERI NASIONAL INDONESIA 2014
LOMBA CIPTA SENI BATIK NUSANTARA 2014
The 4th Bangkok Triennale International: Print and Drawing
Iver Jåks Artist-In-Residency Program 2014
UNDANGAN Pameran Seni Rupa Karya Guru Seni Budaya “GURU SENI BERLARI” - GALERI NASIONAL INDONESIA
read more »
22/10/2014 14:34 | alfa poetra | salam semangart para karya indonesia. infonya untuk event or apapun itu tentang lukisan,.
02/10/2014 23:26 | Taink Takhril | ISTIMEWA, ak akan selalu belajar bareng Indonesia art news
01/10/2014 15:25 | Fatonah Winiarum | saya ingin bergabung
05/08/2014 18:31 | jupri abdullah | tururt bergabung sebagai media komunikasi seni rupa
04/07/2014 03:04 | Rev. Ana cole | Apakah Anda perlu bantuan keuangan/pinjaman untuk melunasi tagihan Anda, mulai atau memperluas bisnis Anda? Roya pinjaman perusahaan telah terakreditasi oleh kreditur Dewan memberikan pinjaman pinjaman persentase untuk klien lokal dan internasional. Mohon jawaban jika tertarik. Terima kasih. Wahyu Ana cole Telp: + 447012955490 Email:roya_loans@rocketmail.com
read more »
About Us
Indonesia Art News merupakan media tentang dinamika seni yang berkait dengan aspek keindonesiaan. Media ini berusaha untuk mengedepankan segi informasi ihwal seni yang dikemas dengan cara pandang kritis dan muatan yang investigative. Indonesia Art News berkedudukan di Yogyakarta, Indonesia
Gabung di Facebook
Buku Tamu
Pengelola IAN
Editor in chief:Kuss Indarto
Editor:R. Toto Sugiarto
Designer:Andika Indrayana
Email - info@indonesiaartnews.or.id