HOME     NEWS     EVENTS     ARTICLES     DIRECTORY     BOOKS     OPPORTUNITIES  
   
Rabu, 14 Maret 2012 - 08:30
Mengemas Panggung: Hidup, Keganjilan, dan Seni Hari Ini
oleh Sunlie Thomas Alexander
Salah satu adegan dalam dalam perhelatan “Bizarre on Stage: Jogja International Art Perfomance 2012”, 15-16 Maret 2012 di Auditorium Jurusan Teater ISI Yogyakarta. (foto: adel boros)
Bizarre: Etymology: French, from Italian Bizzarro
: being strikingly out of the ordinary or at variance with some standard real or implied: as a: not suited to the situation; especially: being at variance with good taste or accepted standards (as fashion, design, or color) a bizarre little house, fit home for a troll her bizarre hanging sleeves b: odd, extravagant, or eccentric in style or mode bizarre art forms the early 20th century he became increasingly bizarre in speech c: involving sensational contrasts or marked incongruities: FANTASTIC the bizarre assurance of this mousy little man d: not falling within the bounds of what is recognized as normal: ATYPICAL bizarre bone formation the bizarre test scores indicated a schizophrenic tendency.
(Merriam-Webster’s Unabridged Dictionary, 2000)

DALAM dimensi sosial, hidup memiliki aturan berupa seperangkat nilai yang telah disepakati berdasarkan kepentingan bersama. Entah itu atas nama norma, adat istiadat, etika-moral, agama, maupun hukum positif. Dari sinilah kemudian lahir rambu-rambu yang memberi manusia semacam kerangka sekaligus arahan untuk menentukan: mana yang layak dan tak layak, yang wajar dan tak wajar, normal dan abnormal.

Namun begitu, hidup bukanlah sepotong garis lurus dan manusia tidaklah serta merta dapat menjadi makhluk yang selalu manut. Manusia cenderung memiliki kehendak bebas dan ke-penasaran-an (baca: rasa ingin tahu) yang besar, serta perbedaan persepsi-pemikiran maupun kegemaran dan tendesi psikis-sosial-politik. Dari kecenderungan inilah lantas lahir beragam ‘pelanggaran’ dan ‘penyelewengan’, mulai dari yang rumit hingga kepada hal-hal paling sederhana dan remeh-temeh.

Tentunya tak semua ‘pelanggaran’ dan ‘penyelewengan’ ini sesuatu yang tabu, buruk, dan jahat tatkala berbenturan dengan nilai-nilai yang telah disepakati bersama itu. Kerap ia hanya dipandang sebagai hal aneh, tak lazim, dan eksentrik, sampai kepada anggapan ‘tak waras’ pada batas-batas tertentu yang lebih ekstrem—atau katakanlah, sebuah keganjilan yang melenceng dari kebiasaan umum (pakem); keluar dari bingkai kerangka normatif (sebagaimana coba divisualisasikan oleh desain poster Bizarre on Stage karya Gabriela Giegiel dan Ewa Smyk).

Toh, bagaimanapun keganjilan adalah bagian dari kehidupan itu sendiri. Bahkan kadangkala alam pun menyuguhkan potensi subur bagi tumbuh-kembangnya hal-hal ganjil ini melalui fenomena-fenomenanya. Selain persoalan setiap person memang pribadi yang unik, seringkali pula sebuah keganjilan tercipta di lingkungan manusia lantaran perkara momen, situasi, kebiasaan, norma dan adat yang tak terlepas dari karakteristik ruang-waktu. Tanpa pemahaman secara komprehensif dan holistik, cara makan orang China dan Jepang menggunakan sumpit contohnya, adalah satu hal yang ganjil untuk orang Inggris. Tanpa pengetahuan dan empati, pengaulan bebas dan cara berbusana di Barat bagi sebagian orang Indonesia akan menjadi sesuatu yang aneh dan tidak senonoh.

Maka dalam hal ini, globalisme terkadang menimbulkan benturan-benturan kebudayaan di antara masyarakat dunia. Jika dulu melalui kolonisasi, Barat mencoba membakukan Timur sebagai sesuatu yang eksotik, terbelakang, dan tak logis; pasca-kolonial yang terjadi adalah sebuah orientalisme terbalik di mana Timur mencoba melakukan pembakuan atas kebudayaan Barat sebagai ihwal yang tak luhur, materialistik, dan banal. Sehingga dengan demikian, menjelmalah menjadi apa yang dilambangkan sastrawan Indonesia Sanusi Pane: Timur sebagai Arjuna dan Barat sebagai Faust.

Untuk itulah, seni (baca: Bizarre on Stage) di sini seyogianya hadir sebagai dialektika. Ia menyediakan ruang bagi manusia untuk berdialog secara terbuka dan terus-menerus melalui pencarian dan pengumulan tanpa batas—di mana kita bebas bermain-main (tapi) serius sembari berupaya membangun jembatan menuju orang lain. Di atas panggung kesenian-lah, sebuah keganjilan semestinya dengan gampang dan aman bisa diterima, diapresiasi, dan dikritik dengan terhormat. Eksplorasi bukanlah hal tabu, dan kejanggalan secara sah menjadi kekayaan berkreasi yang ‘berusaha’ autentik.

Tanpa berhasrat memaksudkan diri sebagai suatu gerakan pembaharuan dalam seni, Bizzare on Stage justru ikut merayakan kecenderungan seni dekade muktahir, di mana—melalui supremasi abstrak-ekspressionis—seni secara umum kian kehilangan bentuk fisik/ bakunya tatkala situasi jaman yang dialami memang dipenuhi ketidakpastian, ambruknya tata nilai, kekosongan, paradoks dan kekonyolan.

Apabila seni pramodern dan modern cenderung melahirkan karya yang bersifat langgeng perenial, seni kontemporer merayakan realitas efemeral, real time, dan totalitas kesesaatan. Tidaklah mengherankan karenanya jika seringkali seni kontemporer berwajah patologis, konyol, tak senonoh, dan mengganggu, jauh dari citra keindahan. Kegilaan kesenian di sini adalah pantulan dari ketidakwarasan, kekonyolan, dan ketidaksenonohan kehidupan nyata itu sendiri. Dengan cara yang tak lazim itulah, seni kontemporer mengartikulasikan kenyataan yang kerap disembunyikan atau tak disadari.

Seni kontemporer juga tak lagi mesti berbentuk karya rupa, gerak, kata ataupun suara. Ia bisa hadir dalam bentuk apa saja; ungkapan bentuk pun menjadi semena-mena, tanpa rambu, tanpa tata cara. Ia tak lagi representasi beku dan baku dari denyut aliran kehidupan, tetapi presentasi denyut dan gerak aliran kehidupan itu sendiri.

“What if in fact it is not the painter who paints an imagined reality but the imagination is shaping, painting the painter...,” tukas Eva Bubla, salah seorang artis dalam event ini.

Tengoklah, bagaimana dalam seni tari dan seni rupa hari ini: dari olah gerak, olah rupa, olah garis, bentuk dan warna mengerut menjadi eksplorasi tubuh belaka (Yoko Ono, Vito Acconci). Atau musik: dari olah nada, olah harmoni, dinamik, dan ritme menjadi olah bunyi yang berujung pada olah sunyi (John Cage). Teater dari olah cerita, olah jiwa, olah kata, menjadi sekadar gerak keliaran rasa (Antonin Artaud). Begitupun film menghapus gambarnya sendiri menjadi tayangan seluloid kosong (Nam Jun Paik). Dengan demikian seni menjadi perkara esensi, atau dari sudut bentuk menjadi "minimalis". Sehingga pada giliran selanjutnya yang penting adalah "konsep" itu sendiri.

Kalaupun ada yang dianggap penting dalam seni kontemporer barangkali adalah intensionalitas, yang bisa bersifat konseptual-filsafati, sekadar menggedor sensasi, memancing partisipasi, membongkar kecenderungan bawah-sadar, merayakan fantasi, bermain dengan ironi, sekadar parodi, pastiche, dan sebagainya.

Karena itu, pertunjukan Bizarre on Stage pada dasarnya adalah sebuah ruang dan waktu di mana keganjilan dalam kehidupan sehari-hari coba dibaca dan diproduksi ulang secara estetis sebagai tontonan. Sekaligus menjadi parodi untuk panggung pertunjukan lain dan event-event seni internasional lain. Kendati parodi di sini tidaklah serta merta berarti ejekan melainkan lebih kepada ajakan untuk bersama-sama menimbang kembali konsep dan hakikat seni kontemporer pasca avantgardisme itu. Di mana tendensi kritis-dekonstruktif bermunculan dengan kecenderungan bermain-main dan pencampuradukan segala konsep dan bahan, seraya menekankan aspek ‘keperistiwaan’.

Seperti apa saja sesungguhnya karya-karya yang ditawarkan dalam pertunjukan Bizarre on Stage?

Mari kita mencoba mengapresiasi pergulatan para artis dalam event yang berlangsung dua hari, 15-16 Maret 2012 di Auditorium Teater Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta dan dibuka dengan Electronic Music oleh DJ Mateu B (Day #1) dan Sneaker DJ (Day #2) ini:

Sambutan ganjil ala si Tangan Reget

Aroma ganjil yang kental sudah terasa sejak Anda memasuki gedung pementasan di mana Tangan Reget (Graphic Art & Installation) mencoba meredesain pintu masuk Auditorium Teater ISI Yogyakarta dengan tempelan koran di semua dinding, atap, dan lantainya. Instalasi karya komunitas seni grafis ISI ini selain hendak menyampaikan kritik terhadap gedung-gedung pertunjukan Indonesia yang sering terkesan megah dari luar tapi melompong di dalam, juga berusaha mengingatkan kita kalau keganjilan memang merupakan bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan kita sehari-hari—begitu dekat dan berseliweran di sekitar kita.

Di mana melalui berita-berita di surat kabar, majalah, media online, dan televisi misalnya, setiap hari kita diserbu oleh beragam peristiwa ganjil, ajaib dan tak masuk di akal, bahkan sebagian di antaranya mengerikan: lihat saja di Makassar seorang ibu tega mengancam anak balitanya dengan pisau dapur gara-gara cemburu pada sang suami, atau bayangkan saja bagaimana di jaman modern ini masih ada manusia memakan daging manusia seperti Soemanto, sampai pada kasus-kasus anyar yang ironis-menggelikan seperti kasus Nunun Nurbaity tersangka korupsi yang divonis oleh dokter menderita penyakit lupa ingatan.

Dalam hal inilah, saya kira Tangan Reget bermaksud mengemas sebuah pertemuan (ucapan welcome) lewat sapaan ‘peristiwa dalam berita’—“sebuah keganjilan ala Indonesia sebagai bagian dari keganjilan dunia”. Selain itu, mereka juga terkesan mencoba bermain-main dengan ruang, terutama dalam hal menata karya-karya grafis yang mereka pamerkan. Tentu saja, ini merupakan sebuah siasat seni yang jitu sekaligus sebuah wacana: ruang pameran adalah seni itu sendiri.

Membaca (lagi) Indonesia yang ganjil

Keganjilan ala Indonesia ini juga dikemas cukup menarik oleh artis-artis lain, baik para seniman asing maupun lokal. Mereka mencoba memotret Indonesia lewat frame of view masing-masing dan menuangkan ‘pembacaan ulang’ itu secara estetis-kritis ke dalam karya.

Anna Pozzali, Magdalena Kubala & Alida Szabo (Instalation Art) contohnya, membuat pos ronda yang khas dan biasa kita temui di kampung-kampung di DIY dan daerah lain di pulau Jawa. Sesuatu yang tak mungkin bisa mereka temukan di negara mereka, di Eropa. Bagi Anna dan Magdalena, pos ronda adalah sesuatu yang ganjil dalam kehidupan di negeri asal mereka yang individualistik. Sehingga mereka pun merindukan kekariban khas Jawa ini. Karena itu, Pos Ronda boleh disebut sebuah karya instalasi yang mengapresiasi budaya Jawa secara positif. Meskipun saya ragu, apakah Anna & Magdalena mengetahui jika sebetulnya bagi orang Indonesia yang berasal dari luar Jawa, pos ronda juga merupakan sesuatu yang langka?

Lalu pertanyaannya berikutnya, benarkah budaya siskamling (ronda) di Jawa tak mengandung sisi negatif dari watak kebudayaan suatu masyarakat? Bukankah di balik spirit gotong-royong dan ihwal keintiman antarmanusia, pos ronda sesungguhnya juga mempresentasikan sifat masyarakat Jawa yang suka berbasa-basi dan memboloskan waktu sesuai dengan falsafah ‘mangan ora mangan kumpul’?

Keindonesiaan yang lain dipotret secara satir oleh Ida Lawrence & Darlane Litaay lewat karya perfomance-visual art-nya yang berjudul Bule. Keduanya mencoba mempertanyakan pandangan orang Indonesia tentang orang kulit putih (bule/ londo)—yang mana, secara tak langsung pandangan dan stigma ini tanpa disadari sesungguhnya berpotensi rasis-merendahkan. Di mata masyarakat Indonesia, ‘bule’ adalah the other, atau liyan dalam bahasa Jawa: Ia bukanlah kita, tapi orang asing yang aneh, banyak uang, tak punya tata krama, bahkan dalam lingkungan tertentu: kafir. Kasus ini ‘bisa jadi’ tak berbeda dengan persoalan rasisme di tempat lain: kasus negro (nigger) di Amerika misalnya, atau inlander dalam konteks jaman kolonial Belanda.

Perkara senada juga diungkapkan secara beramai-ramai oleh Engguh Patriantoro, Iris Schmidt, Nuno Barreira, Anna Pozzali, Magdalena Kubala, Monika Anna Proba, Dorota Proba, cs melalui karya happening art bertajuk Komodo Island—di mana dalam hal ini kehadiran ‘orang bule’ di Indonesia baik dalam kapasitas turis, pekerja, maupun mahasiswa yang seyogianya dapat menikmati obyek-obyek keindahan alam-budaya dan keramah-tamahan masyarakat Indonesia justru diperlakukan sebaliknya (sebagai obyek) oleh kenorakan masyarakat Indonesia. Contohnya, tak jarang terjadi kasus seorang turis diajak berfoto bersama.

Sedangkan happening art lain, Asongan, karya kolaborasi Alejandro Pino Rojas, Mathew Benuska & Ida Lawrence menggugat perlakuan diskriminatif para pedagang di Indonesia (baca: Jogja), terutama di sini para pedagang asongan yang sering menjual rokok dan lain-lain kepada orang asing (bahkan para perantau sesama orang Indonesia) dengan harga lebih mahal. Sesuatu yang seharusnya tak perlu terjadi di Ngayogyakarta yang selalu mengklaim ‘dirinya’ memiliki budaya luhur, elegan dan istimewa. Apakah hal ini bisa dikategorikan sebagai ‘kejahatan ala wong cilik’?; sehingga mall dan supermarket pun menjadi lebih manusiawi bagi kaum pendatang dan orang asing. Atau inilah salah satu bentuk orientalisme terbalik ala orang Indonesia?

Sementara itu, Adel Boros menyuguhkan kepada kita karya fotografinya: sebuah potret Indonesia yang menampilkan warna bendera Indonesia: merah dengan cabe dan putih dengan beras. Tak jelas di sini, apakah Adel hendak mengatakan bahwa ciri khas orang Indonesia adalah makan nasi dan suka lauk yang pedas?

Ada pula Michal Bielecki yang menceritakan sebuah sudut Indonesia lewat Bathup Singer. Dalam karya ini, ia tak lain mengemas ‘ritual’ menyanyi di kamar mandi yang sering dilakukan dengan riang gembira oleh perempuan Indonesia ke atas pentas, menjadi sebuah pementasan yang unik.

Masih dalam rangka membaca (ulang) Indonesia ini: tiga seniman Yogyakarta, Husni Wardhana, Aphit Chaniago & Nurul Hadi Koclok (Clown Serenade) mencoba menghadirkan sebuah dunia antahberantah dengan menuangkan nuansa gelap di atas panggung. Karya ini notabene adalah sebuah drama tragedi, di mana ironisnya kehidupan seorang pesulap amatir seolah-olah melebur dengan alam magis yang tidak riil.

Membangun kesadaran transkultural: upaya menjembatani keganjilan budaya

Namun toh, berbagai persoalan sosial-budaya-politik yang dikritik oleh para seniman di atas, baik yang timbul akibat benturan karakteristik budaya, keangkuhan lokalitas yang rasis dan primordial, maupun romantisasi terhadap Barat yang berlebihan, tentunya merupakan persoalan dunia hari ini yang masih akan terus menghantui kita pada masa-masa mendatang.

Banyak orang menyangka pluralisme dan multikulturisme merupakan penawar yang manjur. Tetapi nyatanya tidak. Tengoklah bagaimana di tengah pesatnya migrasi manusia, benda dan tanda—etnosentrisme, nasionalisme, dan xenofobia justru bangkit secara membabi buta di banyak tempat.

Globalisme—proses penunggalan mendunia di bawah kepentingan ekonomi—bukannya tak mengundang resiko. Seringkali kenyataan menunjukkan alih-alih mempersatukan dunia, globalisasi justru meningkatkan fanatisme lokal, dan tidaklah selalu dengan cara yang baik.

Karena itu, tak heran jika dalam pengantar bukunya tentang kekuatan globalisasi dalam sepakbola, “How Soccer Explains the World: An Unlikely Theory of Globalization” (2004), sembari mengajukan pertanyaan perihal masa depan dunia, Franklin Foer pun menunjukkan betapa banyak orang memeluk erat tradisionalisme karena takut globalisasi akan menggerus budaya lokal (di Indonesia misalnya, kita  kerap mendengar anjuran “marilah kembali ke akar tradisi” atau istilah “kepribadian nasional”).

“Beredar di antara para penggemar edan, penguasa gangster, dan pencetak gol Bulgaria yang sinting, saya terus-terusan memperhatikan bagaimana globalisasi telah gagal melenyapkan kultur, pertumpahan darah, dan bahkan korupsi lokal..,” kata wartawan The New Republic ini.

Karena itu, kesadaran multikultural tidaklah cukup meskipun ia menjanjikan dialog dan usaha ke arah saling memahami. Begitu pula dengan pluralisme; sebab sebuah proses peleburan identitas di padang pasir yang melenyapkan orisinalitas suatu budaya sebagaimana terjadi pada tokoh utama novel “Lawrence of Arabia, The Seven Pillars of Wisdom” bukanlah jawaban yang tepat untuk persoalan-persoalan dunia hari ini yang telah sebegitu kompleks.

Di sini, yang diperlukan adalah suatu kesadaran transkultural: sebuah usaha keluar-masuk dengan bebas dan enjoy berbagai lingkungan kebudayaan. Di mana bukan saja sebuah saling pengertian yang akan terbangun tetapi juga saling menyerap dan menajamkan.

Transkulturalisme adalah sebuah ‘dunia-antar’: secara sederhana, ia bisa jadi adalah seorang Indonesia, makan di restoran Italia, mengenakan kemeja buatan Prancis, jeans made in Amerika, jam tangan produksi Jepang, dan sepatu kulit Jerman, namun tak gagap berbicara bahasa Madura. Kesadaran “transkulturalisme”—meminjam penyair dan kritikus/ kurator seni Indonesia Nirwan Dewanto—lahir dari reaksi seseorang yang menyadari keberagaman lingkungan budaya dan memilih merangkap sekian banyak lingkungan budaya itu untuk menguji lingkungan budaya dari mana ia berasal.

Pada pertunjukan Bizzare on Stage: Flamenpati, tarian flamengo yang dibawakan dengan mengenakan pakaian Bali oleh Angela Lopez Lara adalah salah satu karya seni panggung yang menurut saya mencerminkan kesadaran transkultural ini. Demikian pula lagu False Adress (‘Alamat Palsu’ dalam bahasa Inggris) yang dinyanyikan oleh trio electon Helena Dad’ova, Adam Malik, dan Yohanes Tri Fajar dalam format pengantin Indonesia, ataupun Sonata Javanica yang dibawakan secara keroyokan oleh sejumlah artis (Leinad, Monika Anna Proba, Dorota Proba, Eva Bubla, Magdalena Kubala, Anna Pozzali, Vaida  Kia, Suzanne, Ecaterina, Saori Yago, Angela Lopez Lara, dll).

Bahkan, betapa tampak pula bagi saya dalam karya-karya ini, usaha para artis membangun kesadaran transkultural lebih lanjut. Di mana berkesenian adalah sebuah usaha memproduksi sekaligus memparodikan diri. Karena bagaimanapun karya kepengrajinan seorang seniman tidaklah serta merta menjadi karya adiluhung yang lahir sebagai buah kreativitas menakjubkan individual. Melainkan akan selalu (dan pada akhirnya) merupakan: Pertama, buah modernisme artistik di belahan dunia mana pun. Kedua, hasil disiplin keilmuan di ruang studi yang telah berlangsung berabad-abad lamanya.

Seperti halnya karya-karya prosa sastrawan Argentina, Jorge Luis Borges yang menulis ulang kisah tokoh-tokoh masyhur sebagai parodi dengan adonan unik antara fakta, fiksi dan sikap yang seolah-olah ilmiah; Angela, Helena, Leinad, dll juga tak segan-segan memperolok proses kerja kreatif seniman: memalsu dan menyelewengkan karya orang lain secara kreatif tanpa hasrat mencari pengakuan. Sehingga di sini penciptaan seni bukanlah hal sakral yang lahir dari rahim inspirasi suci seorang artis yang bebas dari keterpengaruhan. Tetapi seni—seperti juga sastra—seyogianya adalah jalinan intertektualitas mahaluas, yang pada giliran berikutnya merupakan awal dari proses pemaknaan terus-menerus di ruang publik.

Karena itu, seniman seharusnya tidaklah canggung menerima seluruh khazanah dunia sebagai warisannya yang wajar.

Eksperimen-eksperimen rada nekat

Buat seorang Ewelina Eve Smereczyńska: Bizarre is free expression of our so-called ‘abnormalities’ through the act of exposing our true nature. It can take place when we, consciously or unconsciously, abandon all social and political boundaries and we are not afraid of being judged or insulted. Karena itu, demi karyanya yang berjudul Laboratorium, seniman ini pun nekat mengemas seni pertunjukan sendirian di lokasi lain di luar Auditorium Teater ISI yang menjadi tempat pentas Bizarre on Stage. Tak tanggung-tanggung ia akan bermain selama lima jam penuh dan yakin jika pertunjukannya tersebut tidaklah selalu membutuhkan penonton.

Upaya mengkawinkan seni rupa dengan musik juga dilakukan oleh Matilda Komodo (????), Bintang, dan Luqi yang mencoba menciptakan sebuah video instalasi dengan bunyi-bunyian magis.

Berikutnya Opera Jogja dari Michal Bielecki membawa pesan bahwa sebuah musik tidaklah mesti selalu membutuhkan panggung konvensional apalagi yang akbar seperti halnya sebuah panggung opera, tetapi semua tempat semestinya tak haram menjadi tempat pertunjukan, termasuk bangku penonton.

Perkara-perkara ganjil lainnya

Meneruskan pembahasan saya: karya-karya yang lain berupaya mengakomodasi keganjilan secara lebih umum. Nurul Hadi (Performance Art) berperan jadi pengemis di samping ticket box untuk meneror mentalitas para penonton yang sedang antri membeli tiket. Alejandro dalam ‘El Mercade De?: Break with Cellphone Ring’ tampil menggugat ketergantungan ponsel: di mana kemajuan teknologi saat ini membuat manusia tidak bisa lepas lagi dari penggunaan telepon genggam, kendati dering ponsel terkadang merupakan hal yang sangat mengganggu keseharian dan aktivitas kita.

Sementara itu, R.A Yopie berusaha meneror kesabaran penonton dengan menampilkan perfomance memancing di atas panggung, Sammi Rian Afanto berakting sebagai anak muda yang tidak memiliki kemampuan tetapi selalu kepingin tenar—sebuah kritik atas fenomena kaum muda Indonesia kontemporer yang tersihir oleh dunia entertainment dan ajang pencarian bakat yang serba instan.

Selanjutnya, karya perfomance Iris Schmidt, Nuno Barreira, Michal Bielecki bertajuk Yes, I Do! mengandung pesan bahwa sebagai manusia kita senantiasa memiliki pilihan untuk hidup kita, termasuk dalam hal ini pilihan untuk menikah dan tak menikah, sebagaimana juga halnya: ‘option for music”. Untuk ini Iris menyampaikannya lewat kata-kata sederhana: No matter if we want to marry or not, if music is our dream, or we want to celebrate our life in our own way because we love it. The most bizarre thing in this ONE life is if we not follow our dream.

Kangen Punk dari Cinemarebel mencoba memparodikan musik pop dengan video klip berisi anak-anak muda berpenampilan ala kaum punk yang sedang bermain musik pop. Unsur humanis yang ingin diangkat mereka di sini adalah bahwa kaum punk juga manusia. Namun untuk menghindarinya dari sebuah screening film, mereka membalut penayangan video klip tersebut dengan aksi perfomance di atas pentas yang melibatkan para aktor dalam video klip itu sendiri. Karya yang lain lagi dari mereka, The Artist berkisah tentang film maker yg perfeksionis. “Kita komunitas film maker, jadi ketika bikin pementasan, yang muncul tetap dalam koridor new media, setidaknya isu yang kami angkat adalah seputar itu…,” kata salah seorang dari mereka.

Sedangkan Angry Musician (Andreas Marcus Moses) mengemas kemarahan sebagai pertunjukan, seraya mengingat kita kembali betapa ganjilnya kejiwaan manusia sehingga kekerasan pun bisa menjadi satu tontonan yang menghibur (pertengkaran tetangga, berita televisi dan film action).

Terakhir, di samping Ofy Nuhansyah yang akan menampilkan happening art berjudul Tukang Foto, ada pula sebuah penampilan yang sangat biasa sekali, paling normal, wajar dan konvensional, yaitu persembahan Tarian Saman—sebuah tarian tradisional dari Aceh yang dibawakan oleh kelompok tari Samantraya (UGM Yogyakarta). Tapi dengan begitu, ia justru menjadi sebuah pertunjukan yang sangat bizarre (ganjil) di tengah karya-karya ganjil dalam Bizarre on Stage, karena ketidakganjilannya itu.

Ah, mari kita rayakan bersama!

Tulisan ini merupakan catatan kuratorial untuk “Bizarre on Stage: Jogja International Art Perfomance 2012” yang berlangsung 15-16 Maret 2012 di Auditorium Jurusan Teater ISI Yogyakarta.
*) Sunlie Thomas Alexander adalah kurator event ini & pekerja sastra.
Leave a Comment
Please feel free to let us know your feeling about this
Your Name
Your Comment
Your Email
Utk ganti paragraf silakan klik
Comments:
Minggu, 23 Agustus 2015 - 05:30
Michel - adrian7a@usa.net
Could you ask her to call me? http://www.computerrepairleeds.co.uk/mac-repairs-leeds purchase celebrex online While the ceasefire held, the mission was never fully deployed. Nor was the transition period ever completed. A key sticking point was an "identification process", to decide who was eligible to vote.
Minggu, 23 Agustus 2015 - 05:30
Clarence - brendon8a@usa.net
Nice to meet you http://redesaudedapopulacaonegra.org/participe cymbalta order “The hunger is there,” he said, “because guys show up and work hard. Whenever there’s dark clouds, hopefully, there’s a sunny, clear day coming. And we take advantage of it. And hopefully we kind of take it and carry it for the rest of the season.”
Minggu, 23 Agustus 2015 - 05:30
Darius - daron4b@gmail.com
Your cash is being counted http://www.clsecurities.com/mutualfunds.html ciprofloxacin 500mg U.S. Trade Representative Michael Froman said on Tuesday that world trade ministers may discuss the TPP on the sidelines of a World Trade Organization meeting that starts on December 3, with a goal of reaching a deal by year-end.
Jum'at, 21 Agustus 2015 - 23:30
Jarod - sammy3b@yahoo.com
An envelope http://201stanwix.com/faq/ sertraline price without insurance And it prevents companies from being put in the awkwardposition of putting out some business information to somepotential investors and Wall Street analysts and then not beingable to publicly discuss it.
Jum'at, 21 Agustus 2015 - 23:30
Frank - dannienmj@lycos.com
Punk not dead http://201stanwix.com/faq/ does zoloft come 75 mg The measure passed by the legislature says that the Illinois authorities "shall issue" a permit to carry concealed guns to any applicant who passes a background check and takes required firearms training.
Jum'at, 21 Agustus 2015 - 23:30
Jefferson - johnathon2w@gmail.com
Accountant supermarket manager http://www.politicaltheology.com/blog/standinginwitness/ zopiclone 7.5 mg tablets The current numbers from Showtime and Golden Boy Promotions point to 2.2 million buys. The record? Mayweather vs Oscar De La Hoya from 2007, which had 2.52 million buying the right to watch the fight, and generated $136 million. In today’s money it would have been $153 after the inflation adjustment.
Jum'at, 21 Agustus 2015 - 23:30
Andre - carmine1z@aol.com
What sort of music do you like? http://201stanwix.com/faq/ how much does zoloft cost with insurance The company said it will perform an additional Phase II study utilizing 100 milligram and higher doses. Neurocrine said its timeline to an end-of-phase II meeting will be delayed by about one year.
Jum'at, 21 Agustus 2015 - 23:29
Ariel - staceyg47@usa.net
We used to work together http://201stanwix.com/faq/ zoloft vs paxil for premature ejaculation Among those who have given is Joseph Sitt, a partner at Thor Equities, one of five developers subpoenaed by the anti-corruption commission after the Daily News revealed the firms quietly received lucrative tax breaks in a housing bill passed in January.
Jum'at, 21 Agustus 2015 - 01:59
Jamey - dudleybpj@yahoo.com
Sorry, I ran out of credit http://sacraliturgia2013.com/program/ imovane tab 7.5mg The pilot was identified by the coroner Friday afternoon as 63-year-old Henry Skillern, from Humble, Texas. Skillern, who worked at the airline for 26 years, was unconscious when he arrived at the hospital, and died three hours later.  
Jum'at, 21 Agustus 2015 - 01:58
Joseph - dantem64@gmail.com
Do you know each other? http://www.cleansingwithfood.com/store/ methotrexate generic Allen shot two more of his former colleagues, David Griffis, 44, and Lewis Mabrey Jr., 68. Griffis was shot in the stomach and is in critical condition. Mabrey, hit in the arm and side, is in good condition.
Jum'at, 21 Agustus 2015 - 01:58
Nathanael - mathew0n@lycos.com
Very Good Site http://www.matrizdesenho.com.br/pt/matriz lasix on line People with cataract-related vision loss who have had cataract surgery to improve their sight are living longer than those with visual impairment who chose not to have the procedure, according to an Australian cohort study ...
Jum'at, 21 Agustus 2015 - 01:58
Eliseo - manual2f@yahoo.com
Very Good Site http://www.matrizdesenho.com.br/pt/matriz lasix water tablets “They apparently don't want to take the time to form a coalition, which I think is an error,” Heinbecker, now a fellow at the Waterloo, Ontario-based think tank, the Centre for International Governance Innovation, tells GlobalPost about America’s push for Western intervention.
Jum'at, 21 Agustus 2015 - 01:58
Loren - florenciogdj@lycos.com
I never went to university http://sacraliturgia2013.com/program/ imovane 7.5mg ingredients Asked whether it was the calf or hamstring – Rodriguez has played with injuries to his right calf and left hamstring recently – Girardi replied, “He just told me his legs weren’t great and he was going to go take care of them and I said, ‘OK, go take care of them.’”
Kamis, 20 Agustus 2015 - 17:58
Clyde - nathanielxgr@gmail.com
Could I order a new chequebook, please? http://www.findagroomer.com/pet-owner-help.htm alli orlistat 60mg 170 c𴱞psulas glaxosmithkline His players have remained loyal throughout the turbulence. For all the criticism surrounding the Jets last season, Ryan’s players never quit on him. So the perception that Ryan is coaching for his job is nothing but white noise.
Kamis, 20 Agustus 2015 - 17:57
Jonathan - hershelf20@usa.net
perfect design thanks http://soappresentations.com/products/ avanafil 50 mg The study, he observes, takes note of a variety of existing cases of federal, state, and local government cooperation with private interests to solve complicated environmental problems, ranging from green urban planning in Philadelphia to the bi-national management with Canada of the Great Lakes. (None of these evolutionary developments, however, required the force of a National Sustainability Policy to bring them into existence.)
Kamis, 20 Agustus 2015 - 17:57
Razer22 - mohamed5e@lycos.com
Which year are you in? http://www.e-studio.ch/services/sites-internet retin a micro gel pump coupon "Ultimately his faint smirk is the giveaway, both that he was a knowing collaborator in the choice of composition, and that his mischievous sense of humour is never far from anything he does."
Kamis, 20 Agustus 2015 - 17:57
Reggie - darius6u@lycos.com
Is it convenient to talk at the moment? http://soappresentations.com/products/ buy avanafil online Earlier in the evening it was a rough start for The Money Team when IBF junior middleweight champion Ishe Smith lost his first title defense by split decision to Carlos Molina in a snoozefest. Molina (22-5-2, 6 KO) tapped out a lackluster victory over Smith (25-6, 11 KO) who seemed utterly disinterested in putting up much of a defense against a challenger who appeared less than excited about winning that title but in the end somebody had to leave with it.
Kamis, 20 Agustus 2015 - 17:57
Rigoberto - delmerl35@lycos.com
Can you hear me OK? http://www.painttheparks.com/quest/ proscar 5 mg no prescription “…those behind [losing that status] have enough money to where their lifestyles will suffer very little.” WHO, precisely are these unidentified entities or people that are “responsible” for WHAT? Globalization?
Kamis, 20 Agustus 2015 - 17:57
Eric - clevelanddxo@usa.net
Have you got any experience? http://iopb.eu/humanbrand/ buy domperidone “It’s just like any other racetrack — a half-mile oval that’s fast,” Larson said. “Knoxville is a half-mile. Eldora (Speedway, Ohio) is a half-mile. Each track is a little different. That one is a little bit flatter. It’s not like it’s a scary track or anything.
Kamis, 20 Agustus 2015 - 17:57
Willis - lucas0n@yahoo.com
Can I take your number? http://www.e-studio.ch/services/sites-internet buy tretinoin cream 0.025 German Bund futures rose 41 ticks on the day to142.99, with 10-year cash yields down 3 bps to1.61 percent. Rabobank market economist Emile Cardon said therewas limited room for yields to fall further.
Rabu, 19 Agustus 2015 - 08:16
Mitchel - willienwu@aol.com
Could you send me an application form? http://www.amhhouston.com//case-studies/ house elavil online pharmacy sheer The FBI went after Asch and Massachusetts police Chief Richard Meltz, 65, after arresting Michael Van Hise, a 23-year-old New Jersey man accused of conspiring with "Cannibal Cop" Gilberto Valle.
Rabu, 19 Agustus 2015 - 08:16
Homer - kenetho32@gmail.com
Very Good Site http://www.boatsim.com/maritime-consultancy slant megalis 10 use joyful graphic The international research team looked at whether native reef predators such as sharks and groupers could help control the population growth of red lionfish in the Caribbean, either by eating them or out-competing them for prey. They also wanted to evaluate scientifically whether, as some speculate, that overfishing of reef predators had allowed the lionfish population to grow unchecked.
Rabu, 19 Agustus 2015 - 08:16
Christopher - bonser@gmail.com
Thanks for calling http://paulwf.co.uk//facebook/photopopup/ syntax ventolin 0 4 mg/ml annostus assumed replace BEIJING/HONG KONG - China reiterated its opposition on Thursday to a European Union plan to limit airline carbon dioxide emissions and called for talks to resolve the issue a day after its major airlines refused to pay any carbon costs under the new law.
Rabu, 19 Agustus 2015 - 08:16
Crazyfrog - davidocd@gmail.com
How much were you paid in your last job? http://newaesthetics.ca//history/ cubic irresistible aldactone cost fencing Data from the Deepfield study is derived from anonymized info from "both browsers as well as all embedded devices (e.g. Apple TV, Roku, Xbox 360, mobile apps, etc.)." The company says this is the "largest ongoing study of its kind covering roughly 1/5 of the US consumer Internet."
Rabu, 19 Agustus 2015 - 08:16
Brianna - nigel8c@usa.net
I work here http://www.dropmetal.com//decor/ words excavator do i need a prescription for ventolin in australia irregular weapons Though there are nearly half a million pricey apartments which lie vacant as sellers look for rich buyers, millions of middle class residents get squeezed out to the suburbs and outskirts to live in these dodgy new buildings.
Rabu, 19 Agustus 2015 - 08:15
Chris - bryceuxi@aol.com
Could I make an appointment to see ? http://www.envi.info//?page_id=2087 kernel breeze generic provera medroxyprogesterone event barbed The handle @HillarysHair started July 9, the day the style first appeared at a charity event in Little Rock, Ark., with the anonymous account operator providing "hairy" insight into the top stories of the day.
Selasa, 11 Agustus 2015 - 23:52
Bradley - djbrucho3@gmail.com
sYL1L1 http://www.FyLitCl7Pf7kjQdDUOLQOuaxTXbj5iNG.com
Minggu, 09 Agustus 2015 - 14:48
Bradley - djbrucho3@gmail.com
xP1AES http://www.FyLitCl7Pf7kjQdDUOLQOuaxTXbj5iNG.com
Rabu, 20 Februari 2013 - 06:30
uiytourt - johnc483@aol.com
Very nice site!
Rabu, 20 Februari 2013 - 06:29
wweyupyi - johne157@aol.com
Very nice site!
05-09-2015 s/d 08-09-2015
Pameran Seni Rupa Kelompok Sekilas
di Taman Budaya Yogyakarta (TBY), Jl. Sriwedani 1, Gondomanan, Yogyakarta
05-09-2015 s/d 12-09-2015
Pameran Seni Gambar "Preheat Drawing Project 2015"
di Jogja National Museum (JNM), Jl. Prof. Ki Amri Yahya No. 1, Gmpingan, Yogyakarta
04-09-2015 s/d 06-09-2015
Pameran Seni Rupa "SEMU" Politeknik Seni Yogyakarta
di Jogja National Museum, Jl. Amri Yahya No. 1, Gampingan, Wirobrajan, Yogyakarta
03-09-2015 s/d 23-09-2015
GUGN PRABOWO: unguarded guards
di Jogja Contemporary Jl. Prof. Ki Amri Yahya no 1, Gampingan, Yogyakarta 55167
03-09-2015
Pembacaan Cerpen: Berbagi Cerita Cinta
di Kedai Kebun Forum Jl. Tirtodipuran no 3, Yogyakarta
03-09-2015
Seminar "Posisi Komik dalam Kajian sastra"
di Auditorium FIB, Gedung Purbatjaraka Lantai 3
02-09-2015
Seminar Sesrawung PKKH UGM Edisi #4: PERFORMANCE ART & EMBODIED COGNITION, “Ketubuhan dalam Perspektif Psikologi dan Praktik Performance Art”
di Hall PKKH UGM, Jln. Pancasila, Bulaksumur, Yogyakarta
26-08-2015 s/d 06-09-2015
Pameran Tunggal Afriani: "Be the Winner"
di Galeri 678, Jl. Kemang Raya 125 A, Kemang, Jakarta Selatan
21-08-2015 s/d 28-08-2015
One for One: Sebuah Pameran Kolaborasi
di Paviliun 28 Jl. Petogogan No. 25 Kebayoran Baru, Jakarta Selatan
21-08-2015
Diskusi Biennale sebagai Branding Kota: Dilema infrastruktur budaya dan turisme
di Ruang Multimedia Kampus Pasca Sarjana ISI Jalan Suryodiningratan, Yogyakarta
read more »
Sabtu, 05-09-2015
Seni Ruang Publik
oleh Rani Permatasari
Rabu, 02-09-2015
Anggur Merah Rasa Jeruk
oleh Yaksa Agus
Minggu, 09-08-2015
Berkubu dengan Buku
oleh Kuss Indarto
Kamis, 30-07-2015
Jejaring Kerja Tanpa Negara
oleh Kuss Indarto
Minggu, 12-07-2015
Pelukis Dullah
oleh Fadjar Sutardi
read more »
Merajakan Nalar di Tengah Kepungan Hedonisme
oleh Christian Heru Cahyo Saputro
Buku bertajuk: Acropolis (Kerajaan Nalar) yang merupakan kumpulan kolom karya wartawan SKH Lampung Post Heri Wardoyo (HRW) hadir meramaikan pasar wacana. Buku yang berisi kolom-kolom Heri Wardoyo ini pernah dimuat di rubrik ‘Nuansa’ Lampung Post bertitimangsa tahun...
Fantasi Balzac tentang Pulau Jawa
oleh Sigit Susanto
Merajut Masa Depan Bocah Merapi
oleh T. Nugroho Angkasa S.Pd.
Novel Kasongan, Seliat Tanah Liat
oleh R. Toto Sugiharto
read more »
Call for Applications for the Artists in Residence Programme 2016 in Austria
Kompetisi UOB Painting of the Year 2015
BANDUNG CONTEMPORARY ART AWARDS (BaCAA) #04
KOMPETISI SENI LUKIS, MANDIRI ART AWARD 2015
GUDANG GARAM INDONESIA ART AWARD 2015
Dana SAM untuk Seni dan Lingkungan
LOMBA PENULISAN JURNALISTIK
Lomba Foto “Air dan Sanitasi untuk Kehidupan yang Lebih Baik”
6th Beijing International Art Biennale 2015
Sayembara Cipta Kreasi Motif Batik Seragam Dinas Harian RSUP Dr Kariadi 2014
read more »
06/07/2015 12:26 | mardiyanto ghani art | Mardiyanto ghani art..ahmadghani2008@gmail.com Selalu semangat berkarya..!!
06/05/2015 16:11 | EkanantoBudiSantoso | to Pa Andre Galnas,kapan kita reuni mamer bareng temen2x? biar wacananya "dream come true gitu,art new biar juga makin seru kita undang konco2x sy nulis disini juga,thanks att.
06/05/2015 16:03 | EkanantoBudiSantoso | Sy butuh info lomba lukis Mandiri,sebenarnya kompetisi bukan untuk cari "jawara,jati diri dan silaturakhmi perupa sangat perlu"dikembangbiakan biar ngga ego,ah.
10/02/2015 23:32 | icha | saya mw jual brang py kkek msa penjajahan di ambon.... samurai bs ditekuk pjang bget... ada belati kecil beserta bendera jepang msa lampau... ada tulisan di sebuah uukuran kertas seperti kulit binatang tpi tulisan jepang... mhon bntuan nya mau jual saja butuh ug urgent
04/02/2015 09:50 | Anwar Sanusi | Artikel sangat membantu dalam membuka wawasan tentang Seni...
read more »
About Us
Indonesia Art News merupakan media tentang dinamika seni yang berkait dengan aspek keindonesiaan. Media ini berusaha untuk mengedepankan segi informasi ihwal seni yang dikemas dengan cara pandang kritis dan muatan yang investigative. Indonesia Art News berkedudukan di Yogyakarta, Indonesia
Gabung di Facebook
Buku Tamu
Pengelola IAN
Editor in chief:Kuss Indarto
Editor:R. Toto Sugiarto
Designer:Andika Indrayana
Email - info@indonesiaartnews.or.id