HOME     NEWS     EVENTS     ARTICLES     DIRECTORY     BOOKS     OPPORTUNITIES  
   
Sabtu, 18 Februari 2012 - 21:42
Indoscape: A “Geo-History”
oleh Jim Supangkat
Salah satu karya Aditya Novali yang dipamerkan di pameran tunggalnya, Indoscape: A "Geo-History"
Code 1

Sampai sekarang masih kuat persepsi yang memandang karya-karya di museum seni rupa sebagai benda-benda sakral. Padahal pada perkembangan seni rupa sekarang ini sudah muncul berbagai pandangan dan pemikiran yang kritis pada sakralisasi benda-benda museum. Sakralisasi ini tercermin pada berbagai aturan museum yang membuat karya yang dipajang menjadi punya jarak dengan publik. Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa karya-karya ini tidak boleh disentuh. Kendati harus diakui ada alasan keamanan—menghindari kerusakan—sakralisasi ini menjadi berlebihan. Pemasangan barikade membuat karya-karya yang dipajang di museum seperti terkucil karena tidak bisa didekati.


Ketika pemikiran kritis pada pengucilan benda-benda museum itu menjadi isu pada tahun 1970an muncul karya-karya seni rupa yang justru mengundang partisipasi publik. Bukan sekadar boleh menyentuh, karya-karya ini baru menjadi bermakna ketika terjadi intervensi publik, misalnya dengan menarik tuas pada karya yang membuat berbagai elemen pada karya ini menjadi bergerak. Sampai sekarang karya-karya seperti ini masih muncul pada perkembangan seni rupa kontemporer walau tidak lagi bertumpu pada penenentangan sakralisasi benda-benda museum. Kecenderungan ini sudah menjadi bahasa ungkapan.

Karya-karya Aditya Novali—sejak awal karirnya sampai pada pameran ini—menunjukkan gejala itu.  Dasarnya tidak sepenuhnya pengaruh perkembangan seni rupa kontemporer menentang sakralisasi benda-benda museum. Kecenderungan pada karya-karya Aditya Novali bertumpu pada konsep permainan. Aditya Novali seperti ingin mengajak publik bermain, seperti pada permainan ular tangga, monopoli, dam, halma, atau catur. Konsep permainan ini mempengaruhi proses pembentukan bahasa ungkapannya.
   
Pada mulanya karya-karyanya menyajikan konsep permainan yang kompleks. Karya-karya ini dilengkapi  semacam aturan bermain yang ditempelkan di sisi karyanya. Karya-karyanya menarik perhatian publik bukan karena boleh disentuh tapi karena tidak biasa dan teresan memperlihatkan pemikiran. Dengan karya-karya semacam ini nama Aditya Novali masuk nominasi Indonesia Art Award pada tahun 1997 dan 1999. Pada tahun 2003 karya-karyanya terpilih untuk tampil pada CP Open Biennalle I di Galeri Nasional.

Kerumitan permainan itu membuat karya-karya Aditya Novali memperlihatkan kecenderungan konseptual—walau tidak bertumpu pada conceptual art yang berkembang pada seni rupa kontemporer tahun 1970an.  Karyanya dicipatkan berdasarkan sesuatu konsep pemikiran dan pada prosesnya mengutamakan gagasan (ide).  Kecenderungan ini hampir berlawanan dengan cara berkarya yang mengutamakan emosi, perasaan dan pengolahan bahasa ungkapan yang prosesnya seringkali dimulai tanpa gagasan sama sekali.

Kecenderungan menampilkan karya yang konseptual itu bisa dilihat sebagai tanda perkembangan karya-karya  Aditya Novali.  Ia melukis sejak kecil dan di tahun 1980an ia menarik perhatian dunia anak-anak sebagai pelukis cilik dan dalang cilik—hasil didikan ibunya seorang perupa lulusan Institut Seni Indonesia, Yogyakarta. Kendati ia menempuh pendidikan di Fakultas Arsitektur, Universitas Parahyangan, Bandung—lulus pada 2002—Aditya Novali tidak pernah meninggalkan kegiatan melukis.  Sampai pertengahan 1990, lukisan-lukisannya ekspresif, mengutamakan pengolahan bahasa ungkapan dan dalam perkembangannya menjadi nyaris abstrak.
 
Karena itu pengutamaan gagasan dalam berkarya menunjukkan perubahan besar. Ia meninggalkan penjelajahan bahasa ungkapan berdasarkan emosi dan perasaan. Penjelajahan ini digantikan dengan penciptaan bentukan rupa (nyaris tidak bisa dibatasi) yang dasarnya mengandalkan pengalaman visual—di mana terkandung kepekaan arstistik. Seperti dalam proses disain, penciptaan bentukan rupa ini lebih terbuka bagi masuknya ide, konsep dan pemikiran.
 
Antara 2006 – 2008, Aditya Novali melanjutkan studinya di Design Academy Eindhoven di Belanda. Pendidikan tinggi ini dikenal mengutamakan pemikiran dan pemecahan persoalan dengan cara –cara yang tidak konvensional.  Kendati menggunakan label “design” pengajaran di akademi ini menerobos batas-batas art dan design. Aditya Novali lulus tes masuk akademi ini karena karya-karyanya berada di batas art dan design dan dinilai sebagai perupa yang menerapkan pemikiran pada pengembangan bahasa ungkapan. Setelah menjalani studi yang cukup berat—memang menjadi metode pada akademi ini—Aditya Novali berhasil meraih gelar master dalam kategori conceptual design.

Sekembalinya dari Belanda Aditya Novali mengembangkan konsep permainan pada karya-karyanya dan sampai pada konsep “lukisan-lukisan yang bisa diubah”—ia menyebutnya rotatable paintings. Lukisan semacam ini terdiri dari bilah-bilah papan yang dikontruksikan menjadi tabung segitiga yang mempunyai tiga permukaan. Tabung-tabung segitiga ini dikonstruksikan berjajar (horisontal atau vertikal) dan masing-masing bisa diputar secara independen. Dengan memutar tabung segitiga ini publik bisa menentukan pilihan gambaran pada tiga permukaan tabung segitiga ini dan memilih juga kombonasinya. Menghadapi pilihan publik, Aditya Novali memperhitungkan puluhan komposisi kombinasi yang semuanya harus bagus dan bermakna.
 
Code 2

Ketika mengikuti CP Biennale II, 2005 yang diselenggarakan di Museum Bank Indonesia, Jakarta, Aditya Novali menampilkan sebuah konstruksi besi berskala besar yang memperlihatkan susunan ruang.  Kendati telanjang konstruksi ini dengan kuat menunjukkan semacam himpunan bangunan apartemen.  Pada konstruksi ini Aditya Novali menempatkan ratusan lampu kecil dengan beberapa opsi.  Dengan menekan tombol publik bisa menjelajahi beberapa kombinasi pencahayaan. Penjelajahan ini membangkitkan kesan kuat, himpunan apartemen pada konstruksi besi berskala besar ini telah berkembang menjadi sebuah kota.


Karya itu menunjukkan kecenderungan lain pada karya-kjarya Aditya Novali, pada perkembangan 2000an. Ada ketertarikan padanya untuk mempersoalkan masalah urban. Secara khusus mengkaji masalah ruang dalam kehidupan urban; susunan ruang-ruang hidup, ruang di mana kehidupan berlangsung sehari-hari termasuk ruang-ruang publik.

Pada awal 2000an, sebelum belajar ke Belanda, Aditya Novali membuat sejumlah karya yang menampilkan ruang dengan bidang-bidang transparan. Pada karya-karya ini ia tidak menampilkan dwelling pada sebuah ruang kota tapi dwelling berskala rumah tinggal (apartemen).  Kendati ia tidak secara realistis membuat interior sebuah apartemen, karyanya terkesan mempersoalkan ruang tempat tinggal pada kehidupan urban di mana manusia harus menyesuaikan diri dengan menyempitnya ruang hidup, dan, terancamnya privacy.   

Karya itu tidak berhenti pada bentuk tiga dimensi. Aditya Novali memotret karya-karya itu dengan bantuan berbagai kemungkinan pencahayaan dan memperhitungkan efek bayangan. Hasilnya seri  foto, dan slides presentation yang menarik. Ketika itu sudah ada gagasan membuat video art, namun tidak sampai ia laksanakan.

Dalam perkembangan sekarang persoalan kehidupan urban pada karya-karya Aditya Novali menjadi semakin jelas. Ia menggunakan konsep rotatable painting untuk menampilkan susunan ruang. Bila pada perkembangan sebelumnya, rotatable paintings yang dibuatnya lebih banyak menampilkan landscape, pada perkembangan baru ini, rotatable painting digunakannya untuk menampilkan dimensi ruang pada bangunan rumah susun atau apartemen. Di sini masalah urban tampak jelas. Inilah karya-karya yang disajikan Aditya Novali pada pameran tunggalnya di Galeri Canna, Jakarta Art District ini.

Karyanya Unrepresentable Freedom (2011) pada pameran ini memperlihatkan penggabungan itu yang tetap memerlukan intervensi publik  Karya ini menampilkan façade bangunan rumah susun bertingkat delapan—setiap bilah yang bisa diputar menggambarkan sebuah tingkat rumah susun. Muncul beberapa tampilan yang merupakan pilihan. Namun semua tampilan menyodorkan suasana kelam, karena diputar ke mana pun semua deretan jendela pada tingkatan rumah susun ini punya pola jeruji besi yang biasa terlihat pada bangunan penjara, atau, jendela bangunan militer di zaman kolonial.

Pada karya itu Aditya Novali menyodorkan dilema masyarakat.  Ada wacana di baliknya. Karya ini bisa dikaitkan dengan buku John Turner—pertama kali terbit pada awal 1970an—yaitu Freedom to Build yang mengeritik sistem pembangunan rumah murah (low housing) di seluruh dunia. Konsep low housing yang dikritik John Turner ditemukan pada 1915. Pada 1940 dikembangkan menjadi konsep pembangunan perumahan murah di seluruh dunia khususnya pembangunan low housing yang mendapat bantuan Bank Dunia.  Konsep ini masih diterapkan sampai sekarang. Di Indonesia mendasari pembangun rumah susun tipe S (sederhana) dan tipe SS (sangat sederhana)

Melalui sejumlah pengkajian John Turner menemukan bahwa konsep itu tidak efektif dalam mengangkat kualitas hidup dan kesejahteraan kalangan bawah. Ia mengemukakan konsep perumahan ini tidak membuka ruang bagi keterlibatan calon penghuninya yang dihitung hanya sebagai satuan ekonomi. Menurut  John Turner konsep ini mencerminkan rumah kelas menengah Amerika pada awal Abad ke 20 yang ternyata tidak sesuai dengan kebanyakan masyarakat di negara miskin. Secara budaya mau pun secara ekonomi.

Dalam pandangan John Turner, pembangunan low housing akan menjadi lebih efektif dan justru bisa lebih murah apabila memperhitungkan aspek budaya. Pendekatan budaya ini melibatkan masyarakat lokal dalam merencanakan dan membangun [sendiri] perumahan murah. Upaya ini membutuhkan kemauan untuk menyusun anggaran yang beragam—khususnya di tingkat Bank Dunia— dan bukan anggaran “pukul rata”.

Dalam Freedom to Build, John Turner mengemukakan dasar-dasar pemikirannya tentang perumahan murah itu. Ia mengingatkan bahwa kata “housing” yang sekarang dipahami sebagai “kata benda” (perumahan) sebenarnya berasal dari kata kerja “to house”. Maka pengertian housing sebenarnya adalah “kata kerja” (housing as a verb) yang menunjuk aktivitas membangun rumah dalam kaitan memenuhi kebutuhan azasi yang bersifat personal dalam kehidupan manusia pada tingkat sosial mana pun.

Karya-karya Aditya Novali yang lain pada pameran ini, Metropolitan Landscape (2011),  Silent Scream (2011), dan, Metropolitan Monument (2011) menegaskan pandangan John Turner itu. Pada karya-karya ini Aditya Novali menjelajahi ruang dalam perumahan pada kehidupan urban. Ia mengungkapkan berbagai perjuangan manusia menghadapi berbagai keterbatasan pada ruang hidup.  Simbol kehancuran dan kematian pada karya-karya ini menunjukkan visi Aditya Novali tentang berbagai kemustahilan aktualisasi diri dalam kehidupan urban. Ia menegaskan kesimpulan yang sudah umum dikenal yaitu munculnya sindrom alineasi pada kehidupan urban-metropolitan.

Realitas pada ungkapan Aditya Novali adalah realitas kehidupan urban di Indonesia yang muncul pada pada akhir abad ke-19 di masa kolonial.  Terjadi bersama perkembangan kota di zaman itu yang diikuti kemunculan civil society. Sejumlah sejarawan menyebutnya sebagai “zaman modal”. Ketika itu masyarakat swasta (keturunan Belanda dan pribumi) berhasil memperjuangkan hak-haknya. Berkembangnya perdagangan dan perkebunan-perkebunan swasta yang sebelumnya dimonopoli pemerintah kolonial, membuat civil society mempunyai kekuatan politis untuk mendesak pemerintah kolonial menyediakan fasilitas publik.

Di masa itu pula pegawai administrasi pribumi berkembang jumlahnya dan memasuki birokrasi pemerintah kolonial. Kelompok ini ikut membentuk masyarakat kelas menengah karena terdidik dan punya penghasilan lebih dari penghasilan rata-rata pribumi saat itu. Mereka memiliki kesadaran, keyakinan dan kemampuan berpikir yang sama dengan masyarakat kelas menengah berkebangsaan Belanda.

Keadaan seperti itu bertahan sampai awal 1950-an, ketika kota-kota di Indonesia belum banyak berubah. Di kota-kota di Indonesia masih bisa ditemukan berbagai permukiman dengan deretan rumah yang merepresentasikan urban planning. Terlihat rumah-rumah “biasa” untuk pegawai—ukurannya tidak terlalu besar— dibangun di dekat pusat-pusat kegiatan instiotsi publik, seperti jawatan-jawatan, rumah sakit dan jaringan kereta api. Terlihat juga rumah-rumah bergaya Art-Deco di lokasi up-town jauh dari kawasan perdagangan dan perkantoran pemerintahan di down-town. Penghuni rumah-rumah ini adalah pejabat-pejabat tinggi pemerintahan, hakim, jaksa, dan kaum profesional (dokter, sarjana hukum, arsitek, insinyur, ilmuwan, guru, dan akuntan). Mereka adalah masyarakat kelas menengah yang punya pengaruh dalam menentukan perkembangan politik Indonesia. Tercermin paling tidak pada Pemilihan Umum 1955.

Keadaan itu berubah ketika di tahun 1957, presiden waktu itu Soekarno, menjalankan demokrasi terpimpin yang sosialistis. Pemerintahan yang muncul kemudian menyingkirkan kritisisme dan suara oposisi; parlemen dibungkam dan tradisi intelektual “dibunuh”.  Sejak itu posisi kelas menengah dan civil society menjadi tidak jelas.  Perkembangan masyarakat di luar urusan politik—kesejahteraan, pendidikan, penataan pemukiman, pengembangan kota—ikut menjadi tidak jelas. Infrastruktur kota mulai menunjukkan tanda-tanda keruntuhan ketika terjadi krisis ekonomi yang memunculkan arus pindahnya masyarakat desa ke kota.

Perkembangan masyarakat tanpa arah itu tidak berubah ketika terjadi peralihan kekuasaan pada tahun 1966. Muncul pemerintahan baru di bawah Presiden Suharto yang memusatkan programnya pada persoalan ekonomi.  Perkembangan ekonomi terpusat di kota-kota besar.  Arus perpindahan masyarakat desa ke kota, semakin deras. Kerusakan infrastruktur kota terjadi di kota-kota besar maupun kota-kota berskala menengah. Kondisi ini mempengaruhi tingkat kesejahteraan masyarakat bila dilihat dari kondisi pemukiman, distribusi air bersih, dan, jalur transportasi yang merupakan nadi perekonomian. Urban planning yang masih bisa dirasakan hadir pada masa awal Republik, hilang sama sekali.    

Catatan sejarah itu yang berdampak pada masalah urban dan perkembangan civil society itu menunjukkan besarnya peran kenegarawan presiden dan penyusunan policy pemerintahan dalam menentukan perkembangan masyarakat yang tercermin pada lingkup kehidupannya. Aditya Novali mengungkapkan dilema itu melalui dua karya, Invisible Space (2011) dan Invisible Structure (2011).

Subject matter kedua karya ini adalah Istana Merdeka di Jakarta, bangunan kolonial yang menjadi pusat pemerintahan sejak zaman penjajahan. Istana Mereka merupakan bagian muka tempat tinggal resmi presiden yang menghadap ke Lapangan Monas. Di puncaknya, sang saka Merah Putih dikibarkan untuk pertama kalinya pada Desember 1949 setelah upacara penyerahan pemerintahan (Indonesia diwakili Sultan Hamengkubuwono IX) di mana Kerajaan Belanda  mengakui kedaulatan Indonesia (dinyatakan melalui rekaman suara pidato Ratu Belanda). Bagian belakang bagunan ini dikenal sebagai Istana Negara.

Pada karya-karyanya Aditya Novali menampilkannya Istana Merdeka dalam bentuk maket.  Invisible Space merupakan maket dari bidang-bidang transparan, sementara Invisible Structure merupakan outline Istana Negara yang dibentuk dengan batang-batang logam.  Kedua maket dipresentasikan di atas sebuah neon box yang cahayanya menyorot ke atas. Pencahayaan teatrikal ini dengan kuat memancing pertanyaan, ada apa dengan tradisi kepemimpinan politik Indonesia ?

Code 3

Aditya Novali mengemukakan bahwa dalam berkarya ia cenderung membuat seri karya. Karya-karyanya yang menampilkan persoalan urban melalui susunan ruang ia sebut, “A House is not a home Series”.  Karya-karya dengan subject matter Istana Merdeka—termasuk sebuah rotatable painting yang dilengkapi pencahayaan lampu LED berjudul The End One Day (2011)—disebutnya “Infinity Series”.  


Bila dibandingkan, serial karya lebih sering digunakan seniman untuk melakukan penjelajahan bahasa. Seri karya Aditya Novali mencerminkan penjelajahan pemikiran. Pada serial karya Aditya Novali perbendaharaan bahasa ungkapan—yang dijelajahi secara terpisah—bercampur.  Pada kedua karya serialnya bisa ditemukan berbagai bahasa ungkapan—rotatable painting, konsep permainan, susunan ruang,dan, sistem pencahayaan—yang secara bersama mau pun sendiri-sendiri digunakan untuk menyampaikan massage.
    
Karya serial  Aditya Novali mencerminkan upayanya menghindari penyempitan persoalan (sesuatu masalah punya hanya satu persoalan di baliknya, dan, punya hanya satu pemecahan, kesimpulan atau jawaban). Karya-karya serial serial ini menunjukkan kepercayaannya bahwa sesuatu masalah mempunyai banyak dimensi persoalan.  Masalah pada karya-karya serial ini menjadi kompleks karena berhubungan.  A House is not a home Series, yang bisa dilihat membawa persoalan urban, dengan segera menjadi persoalan urban di Indonesia ketika dihubungkan dengan Infinity Series.

Paralel dengan kedua karya seri itu, Aditya Novali pada pameran ini membuat karya serial lain yaitu Identifyng Indonesia Series . Kembali terlihat karya seri ini berhubungan dengan  A House is not a home Series dan Infinity Series. Karya seri inilah yang menjadi dasar tajuk pameran tunggalnya di Galeri Canna, Jakarta Art District ini—Indoscape : A “Geo History”.  

Empat karya pada seri karya itu bermain-main dengan peta Indonesia—dasar istilah “Indoscape”. Judul empat karya ini menyugestikan sesuatu pemikiran: the proses, the chaos, the history dan the contemporary.  Pada The Proses (2011) peta Indonesia yang dibentuk dari batang-batang logam ditampilkan dalam sebuah kotak kaca tipis menyerupai akuarium. Pada mulanya peta Indonesia tidak terlihat karena keseluruhannya tertimbun lilin padat. Peta ini muncul sedikit demi sedikit setelah lilin yang menutupinya mencair.  Lilin meleleh setelah batang logam yang membentuk peta dipanaskan melalui aliran lisrtik. Pada The Chaos (2011) peta Indonesia ditampilkan mengambang pada kotak kaca yang kali ini benar-benar seperti akuarium karena diisi air. Komponen peta ini—Pulau Sumatera, Pulau Jawa, Pulau Kalimantan dan sebagainya—terjungkir balik karena pompaan udara ke air akuararium.

The History (2011) yang tampilannya sama dengan kedua karya tadi, lebih statis—tidak ada gerak, tidak ada proses. Pada kotak kaca ini ribuan tengkorak kecil-kecil berhimpitan seperti kacang dalam stoples. Menggunakan kontras warna hitam putih dan nuasa berbagai warna kulit manusia Adytia Novali menata susunan warna yang samar-samar menampilkan peta Indonesia. Sebaliknya dari The History, karya The Contemporary (2011) jauh dari statis karena memerlukan partisipasi publik. Peta Indonesia pada karya ini terbentuk dari ratusan titik-titik lampu LED yang aktivasinya dikendalikan sejumlah tombol di hadapan kotak kaca. Bila tombol tidak ditekan, kotak kaca terlihat seperi LCD yang tidak diaktifkan (gelap). Bila tombol ditekan akan muncul image Pulau Sumatera, Pulau Bali, Pulau Jawa dan sebagainya. Namun pada deretan tombol tidak ada keterangan sama sekali. Publik yang menekan tombol harus menerima saja pulau apa pun yang muncul pada tabir gelap tadi. Tidak mungkin mencari-cari misalnya, “Mana ya Pulau Sulawesi, tempat kelahiranku ?”
Realitas yang dipersoalkan Aditya Novali pada karya serial itu tidak terbatas pada realitas sosial-politik. Dari realitas yang dihadapinya sekarang ini ia mencoba melihat ke belakang ke proses pembentukan Indonesia. Di lihat dari sisi pemikiran karya-karyanya pada seri Identifyng Indonesia ini menunjukan  ia memperpanjang ruang  dan waktu pada realitas yang dihadapinya. Realitas yang dihadapi Indonesia, baginya  bukan sekadar realitasi masa kini.

Karena itu karya-karya Aditya Novali tidak bisa disebut memperlihatkan komentar sosial (social commentary).  Kendati karya-karyanya tidak bisa dilepaskan dari persoalan masyarakat  termasuk persoalan-persoalan sosial-politik yang aktual, persoalan realitas pada karya-karyanya adalah persoalan manusia yang berkaitan dengan sejarah.  

Peta Indonesia pada seri karyanya Identifying Indonesia memperlihatkan pendekatan “geo-history.”  Bila diparalelkan dengan istilah “geo-politic” makna istilah geo history ini adalah: “mengamati sejarah melalui geografi”.  Aditya Novali mengamati Indonesia tidak hanya sebagai Republik—negara post-kolonial yang wilayahnya sama dengan wilayah jajahan di masa kolonial. Ia mempersoalkan Indonesia sebagai kepulauan Nusantara (nusa antara) yang pernah disebut “Indos-nesos” . Dalam lmu bangsa-bangsa, Indos-nesos menunjuk bangsa-bangsa yang hidup di gugus kepulauan di antara daratan Asia dan Samudera Pasifik (jumlahnya mencapai 350 kelompok etnik) yang tidak jelas identitas dan asal-muasalnya.

Melihatnya dari sudut pandang sejarah, bisa ditemukan berbagai catatan yang menunjukkan berbagai pergolakan di kepluauan nusa-antara. Pada tahun 1 Masehi, Kerajaan Sriwijaya (terletak di Sumatera Selatan) telah melakukan ekspansi global dengan kekuatan maritim, mendahului penerapan kolonialisme di negara-negara Eropa. Pada tahun 1 itu, Sriwijaya menguasai sebagian Asia, batasnya sampai di Natrang, Vietnam. Pergolakan di dalam Nusantara sendiri dicatat kitab-kitab Pararaton yang ditulis pada Abad ke-12 dan Nagarakertagama yang ditulis pada Abad ke-14.  Kedua kitab mencatat tanda-tanda kemunculan dan keruntuhan kerajaan-kerajaan Hindu-Budha terakhir di Pulau Jawa, yaitu Singasari dan Majapahit. Kedua kitab yang ditulis pada zaman berbeda ini memperlihatkan kesamaan visi dalam mencatat ketegangan politik di kalangan raja-raja dan bangsawan yang diwarnai pengkhianatan,  pembunuhan, kudeta dan kebijakan politik yang berubah-ubah.

Menghubungan persoalan di balik ketiga karya serial Aditya Novali bisa dilihat ia memasalahkan “takdir dan nasib” kehidupan manusia di “Nusa Antara” dalam ruang dan waktu sepanjang dua puluh satu abad. Persoalan yang tidak memburu jawaban pasti ini memperlihatkan pemikiran pada tiungkat filosofis. Gejala ini tercermin pada karyanya Warrior of Change (2011) yang masuk dalam seri Identifyng Indonesia.  Karya ini merepresentasikan sebuah lapangan yang berisi tumpukan kerangka manusia yang menyerupai kuburan massal di atas permukaan tanah. pada karya ini Aditya Novali ingin mengungkapkan tidak ada kematian absolut pada perkembangan.  Bila diamati dengan cermat, ada gerak semacam kejutan (gerak kinetik) yang terus berulang pada tumpukan kerangka manusia ini. Melalui karya ini terkesan kuat Aditya Novali ingin menampilkan spirit survival manusia di geografi ini yang terus menerus berusaha mengubah nasib dan keadaan. Tercatat perubahan besar pada geo history Nusa Antara ini yaitu pemberian nama “Indonesia” dan pernyataan bahwa masyarakat dalam lingkup ini adalah sebuah bangsa.

Code 4

Pada Januari 2012 mendatang akan diselenggarkan, Art Stage Singapore 2012, di Marina Bay Sands, Singapura. Art Event yang dirintis tahun lalu ini adalah contemporary art fair yang di-claim bertumpu pada Asian Aesthetic yang dibedakan dari Western Aesthetic. Pemrakarsanya adalah Lorenzo Rudolf penyelenggara art fair yang tercatat membuat terobosan pada tradisi art fair pada awal 2000an dengan mengorganisasikan pameran seni rupa kontemporer di tengah Basel Art Fair. Konsep ini diterapkan Lorenzo Rudolf pada penyelenggaran Art Stage Singapore.  Pada pameran seni rupa kontemporer Art Stage Singapore 2012 Lorenzo Rudolf menyajikan sekitar 30 curated project presentations.


Aditya Novali terpilih untuk ikut pada pameran seni rupa kontemporer itu. Ia akan menampilkan empat karya yang merupakan perkembangan seri karya A House is not a home yang mengangkat persoalan urban—sebelum disajikan di Singapura karya-karya ini ikut ditampilkan pada pameran tunggalnya di Galeri Canna, Jakarta Art District ini. Keempat karya ini merupakan presentasi sebuah proyek real estate imajiner.

Karya yang ingin dikesankan sebagai obyek utama pada presentasi itu adalah The Wall : Asian (Un)Real Estate Project (2011).  Bentuknya sebuah maket berukuran besar.  Dekat dengan karya-karya Unrepresentable Freedom, Metropolitan Landscape, Silent Scream, dan, Metropolitan Monument, karya maket ini merupakan pengkonstruksian tabung segitiga yang dijajarkan vertikal. Satu sisinya menampilkan 160 ruang miniatur yang merepresentasikan 160 unit apartemen.    

Seperti karya-karyanya terahulu, tabung segi tiga itu mempunyai tiga sisi yang bila diputar menyajikan tiga opsi. Sisi pertama adalah susunan batu bata yang bila diratakan akan membuat karya maket  The Wall : Asian (Un)Real Estate Project, menjadi sebuah tembok tebal. Sisi kedua, menampilkan pintu penjara yang bila diratakan akan membuat karya maket ini menjadi sebuah “apartemen penjara.”  Sisi ketiga merupakan façade  sebuah apartemen dengan kaca lebar yang  memungkinkan publik mengamati ruang dalam.

Maket pada presentasi proyek real estate imajiner itu dilengkapi sebuah presentasi video, The End is The Beginning (2011), sebuah stop motion video, Inhabitant (2011), dan, sebuah presentasi foto, Postcard of Living (2011). Ketiga presentasi menyodorkan seluk beluk ruang dalam 160 unit apartemen pada The Wall : Asian (Un)Real Estate Project. Semuanya memperlihatkan keadaan kelam kondisi apartemen sempit berbentuk segitiga. Presentasi video The End is The Beginning, misalnya menampilkan tiga adegan kehancuran unit-unit apartemen ini. Adegan pertama, ketika unit apartemen ini terbakar, adegan kedua ketika terisi air, dan, adegan ketiga ketika terisi pasir.

Presentasi proyek real estate imajniner Aditya Novali itu memang sebuah parodi. Bukan sebuah promosi yang bertujuan menjual unit-unit apartemen tapi malah presentasi yang menakut-nakuti “calon pembeli”. Melalui karya ini Aditya Novali mempertanyakan apa latar belakang proyek-proyek real estate yang mempunyai dimensi sosial (meningkatkan kesejahteraan masyarakat). Pemikiran ini mempunyai scope global.    

Istilah “real estate” muncul dalam Bahasa Inggris pada Abad ke 15. Merupakan istilah hukum yang menunjuk tanah garapan yang sesungguh-sungguhnya ada (real) dan bukan hanya diperhitungkan ada, diperkirakan atau dibayang-bayangkan.  Di masa itu, tidak mudah untuk mengobservasi tanah-tanah garapan yang disebut-sebut punya prospek, karena perjalanan ke sana membutuhkan persiapan logistik dengan biaya besar. Karena itu bila seseorang menawarkan tanah yang punya prospek namun pada kenyataannya tidak berpenduduk sama sekali atau ternyata masih sulit digarap, penawaran ini dianggap melanggar hukum.

Ketika itu pengertian real estate tidak punya dimensi sosial sama sekali.  Ketika real estate dikembangkan menjadi tanah garapan, malah menyengsarakan masyarakat. Kendati sudah lepas dari Abad Kegelapan, dan pada Abad ke 12 sudah ada tanda-tanda membela masyarakat bawah,  kekuasaan di Eropa pada Abad ke-15 masih absolut—pemikiran tentang demokrasi baru muncul pada Abad ke 17.

Kekuasaan absolut itu tercermin pada struktur masyarakat yang memisahkan masyarakat atas dan masyarakat bawah.  Keluarga raja dan para bangsawan mengendalikan hampir semua aspek kehidupan. Mereka terpelajar, kaya, mengendalikan hampoir semua usaha dan pemiliki tanah garapan.  Persekutuan mereka dengan otoritas agama (gereja) yang menjalankan politik dogmatik membuat mereka punya kekuasaan absolut. Dalam struktur masyarakat seperti ini, masyarakat kebanyakan adalah kaum bawah yang dieksploitasi—tidak terkecuali pada pengembangan real estate. Mereka tidak terpelajar dan sama sekali tidak punya kesadaran tentang hak-hak mereka.  Mereka sengsara dalam ukuran kesejahteran fisik dan hidup dibayangi ketakutan karena tekanan politik dogmatik gereja.

Hingga kini, pengembangan real estate masih dikenal sebagai bisnis yang bisa mengeruk keuntungan besar. Namun, seperti dikemukakan John Turner, sejak tahun 1940, pengembangan real esate menampilkan pula dimensi sosial. Konsepnya digunakan untuk pengembangan low housing yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat bawah.  

Seperti John Turner, Aditya Novali mempertanyakan seberapa jauh perhitungan bisnis pada pengembangan real estate ini sesungguh-sungguhnya bisa dikeduakan demi menemukan konsep kesejahteraan rakyat ?  Pengalihan dana pinjaman dengan bunga lunak Bank Dunia yang jumlahnya sangat besar, penyusunan aggaran di sesuatu negara miskin untuk proyek-proyek ini, keterlibatan arsitek dan kontraktor, pembebasan tanah, dan, kebutuhan menjalankan proyek secara efisien, merupakan persoalan kompleks  yang membuat pengembangan real estate untuk tujuan sosial sulit menghindar dari perhitungan bisnis, dan korupsi. John Turner sudah melihat dampaknya di tahun 1970an, namun kritiknya nyaris tidak punya efek; program Bank Dunia, khususnya di Asia tidak berubah.  

Judul karya The Wall : Asian (Un)Real Estate Project, menandakan pemikiran pada karya-karya Aditya Novali tidak berhenti pada perdebatan tentang konsep low housing itu. Istilah paradoksal “(un)real” pada judul ini menunjukkan di bagian paling dasar masalah low housing punya kaitan dengan perbedaan pemahaman tentang “the real”.  Catatan : istilah real estate yang muncul duluan mempengaruhi pemahaman “the real” yang lahir kemudian.

Pada mulanya adalah peradaban occulocentric yang dikenalkan Plato pada zaman Yunani kuno.  Peradaban ini menempatkan mata—penglihatan—tidak hanya sebagai salah satu panca-indera, tapi sebagai dasar memahami the real; mata memimpin persepsi manusia dalam memahami kenyataan. Ketika pemahaman filosofis “the real” muncul pada Abad ke-19 pemahaman istilah “real estate” menambah secara signifikan pemahaman “the real” yang occulocentric ini.

“The real” bukan lagi cuma sesuatu yang terlihat tetapi sesuatu yang bersifat material dan kehadirannya bisa dibuktikan dan tidak hanya diperkirakan atau dibayangkan. Terjadi tidak hanya pada Bahasa Inggris. Pengertian “real” dalam Bahasa Prancis sebelum Abad ke 19 mengikuti pengertian dalam Bahasa Latin. Pengertian “real” ini dekat ke pengertian “things” yang tidak selalu bersifat obyektif—“seeing things” dalam Bahasa Inggris paralel dengan halusinasi. Namun sejak Abad ke-19 pengertian “real” dalam Bahasa Prancis sama dengan pengertiannya dalam Bahasa Inggris. Dalam pemahaman pengertian istilah “unreal” yang serba kebalikan dari makna “the real” bisa disamakan dengan “doesn’t make sense”.

Melihat persepsi itu bisa dipahami mengapa istilah housing menjadi “kata benda” dan pada maknanya terkandung sifat material. Melihatnya dari sisi arsitektur pengertian housing ini mengandung pengertian adanya orde, sistem dan keteraturan yang bisa dirancang. Persepsi ini melihat kesejahteraan pada low housing—ruang hidup minimal, kaitannya dengan penghasilan, efisiensi dalam ukuran ekonomi, privacy, hubungannya dengan komunitas—adalah gejala-gejala real yang terukur dan bisa diperhitungkan. Pada pemahaman ini “housing” yang tumbuh sendiri seperti terjadi pada berbagai masyarakat tradisional—Unesco pernah melihatnya sebagai architecture without architect—disebut “vernacular” yang tidak mengikuti kaidah-kaidah arsitektur. “Housing”  semacam ini tidak terencana dan tidak teratur. Ketika muncul di perkotaan membentuk slums.

Belum tentu masyarakat di Asia punya persepsi semacam itu. Menimbang populernya filosofi Yin dan Yang, samngat mungkin pemahaman the real di Asia tidak aboslut positif. Kehadiran “the real” dalam realitas punya perimbangan dinamis dengan dunia “unreal”. Dalam filosofi Yin dan Yang keseimbangan ini mendasari perubahan yang terus menerus pada realitas —seperti dalam keyakinan teori entropy yang dikenal juga sebagai teori khaos.  Karena itu dalam filosofi ini, “the unreal ” harus dipahami, disiasati relung-relungnya dan diyakini (sebagai kesadaran metafisis). Dengan keyakinan ini, disorde bahkan khaos di dunia real bisa diterima karena selalu punya perimbangan di dunia unreal.  Inilah spirit of survival yang membuat manusia mau dan bisa bertahan pada kondisi buruk.

Karya Aditya Novali The Wall : Asian (Un)Real Estate Project berikut tiga karya penunjangnya memperlihatkan kesangsian apakah housing dengan konsep sekarang, punya ruang untuk spirit of survival itu.  Pada masyarakat di negara-negara maju, di mana infrastruktur sosial-politik bisa menjamin kesejahteraan, spirit ini barangkali bukan persoalan besar. Tapi bagi masyarakat di negara-negara sedang berkembang, di mana sistem sosial politiknya tidak bisa menjamin keadilan, di mana kekuasan yang menentukan policy dasar cenderung korup, dan, kewajiban memenuhi kesejahteraan masyarakat miskin belum menjadi kesadaran etis, spirit of survival di kalangan bawah adalah persoalan hidup-mati. ***

Catatan: Teks ini merupakan naskah kuratorial pada pameran tungal Aditya Novelai di Jakarta Art District, 3-11 Desember 2011.
*) Kurator seni rupa
Leave a Comment
Please feel free to let us know your feeling about this
Your Name
Your Comment
Your Email
Utk ganti paragraf silakan klik
Comments:
Minggu, 23 Agustus 2015 - 05:08
Alberto - jeromygth@lycos.com
magic story very thanks http://redesaudedapopulacaonegra.org/participe retail cost cymbalta 60 mg Rogers and Birch Hill have done business together in thepast. In 2010, Birch Hill sold Kitchener, Ontario-based AtriaNetworks, the owner of fiber optic cable, to Rogers and it madesome C$355 million ($342.42 million) on the deal after debt.
Minggu, 23 Agustus 2015 - 05:08
Douglass - zackary4f@yahoo.com
How do you spell that? http://redesaudedapopulacaonegra.org/participe cymbalta 20 mg withdrawal If the White House vetos the bill then every single bill in Congress should be stopped and nothing should be passed. We have plenty of laws and if none of the funding is done for the federal government that would also be a good thing. Just look at how many people’s lives have been devastated because of the sequester? It is all a scam to get more of the people’s property for their own use.
Minggu, 23 Agustus 2015 - 05:08
Millard - daniel4h@lycos.com
What sort of music do you listen to? http://www.poly.ee/polygon/ bimatoprost online "We've had a successful Christmas shop within the cathedral for many years and we've found, oddly enough, that during the summer months when we get more visitors, people want to buy good quality Christmas products," he said.
Minggu, 23 Agustus 2015 - 05:08
Robert - nathanielxgr@gmail.com
Enter your PIN http://threesistersfarmtx.com/about/ accutane prescription expiration Sprint, which is working on a network upgrade aimed atcatching up with its bigger rivals, said it would have a 2013capital spending budget of about $8 billion, in line withprevious forecasts around the time of the SoftBank deal.
Minggu, 23 Agustus 2015 - 05:08
Cameron - gobiz@gmail.com
I hate shopping http://www.cresthillsuites.com/corporate-info/ amoxicillin price ireland As for the other hits on the now-defunct network, “Giuliana and Bill,” which averages 700,000 viewers per episode, will be moved to E!, where Giuliana Rancic is a popular host. Style’s hit “Tia & Tamera” will also move to E! in mid-October. “Jerseylicious,” which was scheduled to air this Sunday, has yet to find a home, even though Bravo airs reruns of the series.
Minggu, 23 Agustus 2015 - 05:07
Mikel - quincyevz@gmail.com
Jonny was here http://www.c5designs.com/about-c5/ purchase aldactone In 2011, during the last major battle over the debt limit, a deal was announced the night of July 31 of that year. By August 1, the House of Representatives had passed a bill; the next day the Senate went along and hours later, Obama had signed it into law.
Sabtu, 22 Agustus 2015 - 14:19
Quinn - tommygiv@aol.com
A Second Class stamp http://www.c5designs.com/about-c5/ purchase aldactone online Fed Chairman Ben Bernanke ha indicated in May that the U.S.central bank may start phasing out its bond-buying program inSeptember, which fueled a dollar rally, but he backpedaled a fewweeks ago, saying quantitative easing will stay as long as theeconomy remains weak and inflation low.
Sabtu, 22 Agustus 2015 - 14:18
Roderick - clinton9r@aol.com
We work together http://www.novasgz.com/html/hemeroteca.html lumigan eye drop (bimatoprost ophthalmic solution) - 0.03 (3ml) Mislaid goods are nothing new on the metro system but the cheque, post-dated to January next year, is the jewel in Madrid’s lost property crown. It is thought the wallet may have been snatched by a thief who discarded it after failing to spot its precious contents.
Sabtu, 22 Agustus 2015 - 14:17
Vanessa - zacharycrl@yahoo.com
Hold the line, please http://www.computerrepairleeds.co.uk/mac-repairs-leeds celebrex ibuprofen interaction The lone suspect entered Ronald E. McNair Discovery Learning Academy in Decatur, Ga., this afternoon carrying an AK-47 assault rifle and other weapons, said Chief Cedric Alexander of the Dekalb Police.
Jum'at, 21 Agustus 2015 - 23:11
Leonard - lifestile@msn.com
I want to make a withdrawal http://lauralippman.net//bio/ order topiramate "In vitro technology will spell the end of lorries full ofcows and chickens, abattoirs and factory farming," the Peoplefor the Ethical Treatment of Animals (PETA) campaign group saidin a statement. "It will reduce carbon emissions, conserve waterand make the food supply safer."
Jum'at, 21 Agustus 2015 - 23:11
Nolan - rollandujr@gmail.com
We need someone with qualifications http://www.mulotpetitjean.fr/htmlsite_fr/ buy tinidazole online If all these mouths, including the ones broadcasting the game (Howie Rose, Josh Lewin, Ed Coleman), are going to gush over the past and Sunday’s final curtain, they might want to remind listeners CBS didn’t give a spit about all those memories when they told the Mets to get lost.
Jum'at, 21 Agustus 2015 - 23:11
Cleveland - keenan8t@gmail.com
We went to university together http://www.mulotpetitjean.fr/htmlsite_fr/ tinidazole vs metronidazole In the filing, prosecutors lambasted Kilpatrick for having a criminal record, which includes his conviction in the text message scandal that cost the city of Detroit $8.4 million, drove him from office and landed him in jail three times, twice for probation violations.
Jum'at, 21 Agustus 2015 - 23:10
Gonzalo - demarcusy85@gmail.com
I was born in Australia but grew up in England http://201stanwix.com/faq/ 25 mg of zoloft In an interview later in the day, Santorum will say that he does not know whether he might have ultimately captured the Republican nomination in 2012 had he been able to ride the momentum of an undisputed first place finish in the caucuses. But it’s clear the thought has crossed his mind.
Jum'at, 21 Agustus 2015 - 23:10
Isaac - courtneyu20@aol.com
Cool site goodluck :) http://201stanwix.com/faq/ zoloft discount card Initial Pentagon cost estimates forecast the cost of those two satellites at $3.7 billion, although the projected cost had already dropped to nearly $3.1 billion after the Air Force decided to buy two satellites at the same time.
Jum'at, 21 Agustus 2015 - 23:09
Coolman - lawerence5k@lycos.com
Could you give me some smaller notes? http://www.gleefulmusic.com/purchase/ vermox price I didn't actually realise I was depressive until a few years ago, when my wife was diagnosed with post-natal depression. I'd told her to 'get a grip' and reminded her that we had a great house, great car, lovely kids etc etc.
Jum'at, 21 Agustus 2015 - 10:43
Whitney - arturo8q@lycos.com
I live in London http://lauralippman.net//bio/ cheap topamax In the Gulf of Mexico, BP Plc, Marathon Oil Corp and Chevron Corp were returning workers tooffshore facilities by helicopter after earlier evacuations,while other companies were also working to restore operations.
Jum'at, 21 Agustus 2015 - 10:42
Jessica - earlel60@lycos.com
Sorry, you must have the wrong number http://www.mulotpetitjean.fr/htmlsite_fr/ fasigyn tinidazole A senior Fed official said on Monday that it will be "tough"for the Fed to have sufficient confidence in the strength of theU.S. recovery by its meeting in December to start reducing itsbond buying.
Jum'at, 21 Agustus 2015 - 10:41
Brock - darnell0z@aol.com
Could I order a new chequebook, please? http://201stanwix.com/faq/ generic zoloft online pharmacy no prescription If a stay on a superyacht does not float your boat, then we are offering you the chance to win one of 21 other incredible holidays, in partnership with THE luxury-travel PR consultancy PCC, collectively worth ÂŁ175,000.
Jum'at, 21 Agustus 2015 - 10:40
Joaquin - parisdwp@gmail.com
Through friends http://lauralippman.net//bio/ average cost topamax They said they were also working on a cost-saving multi-yearpurchase of 10 more Virginia-class ships with General Dynamicsand Huntington Ingalls Industries Inc, with a deal seenin the first quarter of fiscal 2014, which begins Oct. 1.
Jum'at, 21 Agustus 2015 - 01:41
Jozef - lavern3u@lycos.com
Can you hear me OK? http://www.theneonjudgement.com/shop/ non prescription erythromycin The Yankees? For one thing, the accounts payable office in the Bronx must continue with those biweekly payments to employee Alexander Emmanuel Rodriguez – at more than $2 million a pop. That will be as palatable as battery acid soup unless A-Rod immediately starts helping the undermanned Yankees erase a 9-1/2 game deficit in the American League East.
Jum'at, 21 Agustus 2015 - 01:40
Terrance - louie0g@lycos.com
Where do you study? http://denali2013.org/teachers-section/ cheap domperidone "He ... has been arrested by the police on charges ofalleged reckless homicide," Interior Minister Jorge FernandezDiaz said at the police headquarters of Santiago de Compostela,the northwestern city close to where the crash occurred.
Kamis, 20 Agustus 2015 - 17:39
Grover - thanhrxv@lycos.com
What line of work are you in? http://www.e-studio.ch/services/sites-internet retin a micro 0.025 Without warning, Reese walked over to first base from shortstop. He slung his glove hand around Robinson’s shoulders in a gesture of friendship — and glared at the hecklers inside the Cincinnati dugout and those filling the stands above.
Kamis, 20 Agustus 2015 - 17:38
Colton - michel6f@gmail.com
Could I have an application form? http://www.painttheparks.com/quest/ get prescription proscar online The future of the bank is in doubt after Pope Francis lastmonth set up a special commission to reform it. Vatican sourcessaid in April the pope, who has said he wants the Church to be amodel of austerity and honesty, could decide to radicallyrestructure the bank or even close it.
Kamis, 20 Agustus 2015 - 17:38
DE - dewayneeyo@gmail.com
Please wait http://www.lauraciuhu.ro/en/ proventil hfa As well as sharp variations in costs, it also found that about 40% of local authorities did not know if they had sufficient childcare for working parents, making childcare a postcode lottery for parents.
Kamis, 20 Agustus 2015 - 17:38
Wilbur - ramirou37@yahoo.com
An accountancy practice http://www.lauraciuhu.ro/en/ purchase albuterol inhaler However, this stuff is not the reason I’d take Russell Wilson over Colin. Both guys will be superstars, but I’d take RW any day. They both make equally great plays with their feet but Wilson throws a better ball, exudes leadership, and is more cerebral.
Kamis, 20 Agustus 2015 - 17:38
Derrick - thaddeus2b@gmail.com
I like it a lot http://www.e-studio.ch/services/sites-internet generic retin a for wrinkles This is one area where Mr Sobyanin has the upper hand. As the election has approached, a two-year city beautification program reached a fever pitch. Parks have been renovated, apartment blocks repainted, streets relaid. Parts of the city centre have been pedestrianised, and London-style “Boris-bikes” have appeared on the city’s boulevards. The city has, indeed, become much more pleasant.
Kamis, 20 Agustus 2015 - 17:37
Jordan - rickey2a@lycos.com
I was made redundant two months ago http://www.insolvencni-spravce.com/clanky/16_aktuality/ seroquel xr discount coupons Anderson said DiMaggio, 40, assured her that he would get her back home and that "everyone was going to live their normal lives and that his intention was that no one was going to be hurt. No one is going to die."
Kamis, 20 Agustus 2015 - 17:37
Morgan - bernardow31@aol.com
We used to work together http://www.vosburghhomedecor.com/products/brands/ rogaine proscar results Westpac Banking Corp was widely expected to put ina final bid. Australia and New Zealand Banking Group Ltd was also previously vying for the assets, but droppedout of the race, people familiar with the process said.
Kamis, 20 Agustus 2015 - 13:15
Ariana - randellprb@gmail.com
I really like swimming http://www.theneonjudgement.com/shop/ erythromycin ophthalmic ointment rxlist The Polish economy has seen two decades of uninterrupted growth but narrowly avoided recession at the start of the year. It has since shown signs of picking up but the recovery has been too weak to significantly bring down unemployment, especially among youths. The jobless rate stands at 13.1 percent, after hitting a six-year high of 14.4 percent in February.
Kamis, 20 Agustus 2015 - 13:14
Linwood - isaiahb97@gmail.com
Very interesting tale http://tandimwines.com/about/ finpecia online Parcells did mention personnel executives Mike Holovak and Bucko Kilroy, whom he worked with in New England, and former Cowboys vice president Gil Brandt, whom he never worked with. Parcells did have a frosty relationship with Young after he was nearly fired after his first season, but they did win two championships together.
Kamis, 20 Agustus 2015 - 13:14
Duncan - darrellr95@aol.com
I live here http://www.theneonjudgement.com/shop/ erythromycin price increase In the weeks that followed, Mr Obama wrestled with what to say when he accepted the prize in Oslo and how to at once address the internationalists in the hall and the sceptical American audience at home.
Kamis, 20 Agustus 2015 - 05:58
Chong - bertramwsu@gmail.com
Have you seen any good films recently? http://www.painttheparks.com/quest/ proscar online australia City council Speaker Christine Quinn, a Bloomberg ally running against de Blasio, said, "Too many young men of color are being stopped in the streets of New York in an unconstitutional manner and that must stop…as mayor, I intend to work with the federal monitor to help ensure these stops come down dramatically so that we can build stronger relationships between our communities of color and our police force. "
Kamis, 20 Agustus 2015 - 05:58
Gavin - randall3a@yahoo.com
I work here http://www.e-studio.ch/services/sites-internet retin a micro for wrinkles Looks like foreigners are already getting the benefits. Pity the AMA must deny those in America leading edge drugs. And harm our companies while doing so. If you need a hip replacement go offshore and get a hip resurfacing instead! There are a lot of new and exciting life saving technologies available overseas. Your doctor cannot tell you of course. If he did, you could sue him.
Rabu, 12 Agustus 2015 - 19:26
Bradley - djbrucho3@gmail.com
gbpH6M http://www.FyLitCl7Pf7kjQdDUOLQOuaxTXbj5iNG.com
Rabu, 12 Agustus 2015 - 18:24
Bradley - djbrucho3@gmail.com
nxvoGg http://www.FyLitCl7Pf7kjQdDUOLQOuaxTXbj5iNG.com
Rabu, 12 Agustus 2015 - 18:12
Bradley - djbrucho3@gmail.com
Z5j0pe http://www.FyLitCl7Pf7kjQdDUOLQOuaxTXbj5iNG.com
Rabu, 12 Agustus 2015 - 17:49
Bradley - djbrucho3@gmail.com
t0uPr2 http://www.FyLitCl7Pf7kjQdDUOLQOuaxTXbj5iNG.com
Rabu, 12 Agustus 2015 - 16:55
Bradley - djbrucho3@gmail.com
MTZSC7 http://www.FyLitCl7Pf7kjQdDUOLQOuaxTXbj5iNG.com
Rabu, 12 Agustus 2015 - 16:44
Bradley - djbrucho3@gmail.com
9Si9LD http://www.FyLitCl7Pf7kjQdDUOLQOuaxTXbj5iNG.com
Rabu, 12 Agustus 2015 - 16:39
Bradley - djbrucho3@gmail.com
RdOWZb http://www.FyLitCl7Pf7kjQdDUOLQOuaxTXbj5iNG.com
Rabu, 12 Agustus 2015 - 16:08
Bradley - djbrucho3@gmail.com
Jd72vQ http://www.FyLitCl7Pf7kjQdDUOLQOuaxTXbj5iNG.com
Rabu, 12 Agustus 2015 - 15:43
Bradley - djbrucho3@gmail.com
DqXyHV http://www.FyLitCl7Pf7kjQdDUOLQOuaxTXbj5iNG.com
Rabu, 12 Agustus 2015 - 15:38
Bradley - djbrucho3@gmail.com
7Ea10a http://www.FyLitCl7Pf7kjQdDUOLQOuaxTXbj5iNG.com
Rabu, 12 Agustus 2015 - 13:31
Bradley - djbrucho3@gmail.com
N8TYx5 http://www.FyLitCl7Pf7kjQdDUOLQOuaxTXbj5iNG.com
Rabu, 12 Agustus 2015 - 13:29
Bradley - djbrucho3@gmail.com
gi9Zz0 http://www.FyLitCl7Pf7kjQdDUOLQOuaxTXbj5iNG.com
Rabu, 12 Agustus 2015 - 13:08
Bradley - djbrucho3@gmail.com
qJIQB9 http://www.FyLitCl7Pf7kjQdDUOLQOuaxTXbj5iNG.com
Rabu, 12 Agustus 2015 - 12:50
Bradley - djbrucho3@gmail.com
QV6rg0 http://www.FyLitCl7Pf7kjQdDUOLQOuaxTXbj5iNG.com
Rabu, 12 Agustus 2015 - 10:06
Bradley - djbrucho3@gmail.com
BvlMC3 http://www.FyLitCl7Pf7kjQdDUOLQOuaxTXbj5iNG.com
Rabu, 12 Agustus 2015 - 09:08
Bradley - djbrucho3@gmail.com
ZO91nD http://www.FyLitCl7Pf7kjQdDUOLQOuaxTXbj5iNG.com
Rabu, 12 Agustus 2015 - 08:57
Bradley - djbrucho3@gmail.com
N3w83i http://www.FyLitCl7Pf7kjQdDUOLQOuaxTXbj5iNG.com
Rabu, 12 Agustus 2015 - 08:34
Bradley - djbrucho3@gmail.com
MzAenP http://www.FyLitCl7Pf7kjQdDUOLQOuaxTXbj5iNG.com
Rabu, 12 Agustus 2015 - 07:39
Bradley - djbrucho3@gmail.com
MngUW9 http://www.FyLitCl7Pf7kjQdDUOLQOuaxTXbj5iNG.com
Rabu, 12 Agustus 2015 - 06:09
Bradley - djbrucho3@gmail.com
U7bvJ6 http://www.FyLitCl7Pf7kjQdDUOLQOuaxTXbj5iNG.com
Rabu, 12 Agustus 2015 - 05:05
Bradley - djbrucho3@gmail.com
y1w2Sv http://www.FyLitCl7Pf7kjQdDUOLQOuaxTXbj5iNG.com
Rabu, 12 Agustus 2015 - 04:43
Bradley - djbrucho3@gmail.com
WJEvCA http://www.FyLitCl7Pf7kjQdDUOLQOuaxTXbj5iNG.com
Rabu, 12 Agustus 2015 - 03:17
Bradley - djbrucho3@gmail.com
B81yjV http://www.FyLitCl7Pf7kjQdDUOLQOuaxTXbj5iNG.com
Selasa, 11 Agustus 2015 - 18:18
Bradley - djbrucho3@gmail.com
StsZTX http://www.FyLitCl7Pf7kjQdDUOLQOuaxTXbj5iNG.com
Selasa, 11 Agustus 2015 - 17:05
gordon - darel233455@gmail.com
Z6PBsq http://www.FyLitCl7Pf7kjQdDUOLQOuaxTXbj5iNG.com
Selasa, 11 Agustus 2015 - 16:18
gordon - darel233455@gmail.com
yJfl1g http://www.FyLitCl7Pf7kjQdDUOLQOuaxTXbj5iNG.com
Selasa, 11 Agustus 2015 - 07:48
Bradley - djbrucho3@gmail.com
YclwCJ http://www.FyLitCl7Pf7kjQdDUOLQOuaxTXbj5iNG.com
Selasa, 11 Agustus 2015 - 07:23
Bradley - djbrucho3@gmail.com
yUlGCT http://www.FyLitCl7Pf7kjQdDUOLQOuaxTXbj5iNG.com
Selasa, 11 Agustus 2015 - 07:21
Bradley - djbrucho3@gmail.com
MCtaDg http://www.FyLitCl7Pf7kjQdDUOLQOuaxTXbj5iNG.com
Selasa, 11 Agustus 2015 - 07:21
Bradley - djbrucho3@gmail.com
HSHOJx http://www.FyLitCl7Pf7kjQdDUOLQOuaxTXbj5iNG.com
Selasa, 11 Agustus 2015 - 07:20
Bradley - djbrucho3@gmail.com
WGH2Kt http://www.FyLitCl7Pf7kjQdDUOLQOuaxTXbj5iNG.com
Selasa, 11 Agustus 2015 - 07:20
Bradley - djbrucho3@gmail.com
exFE4L http://www.FyLitCl7Pf7kjQdDUOLQOuaxTXbj5iNG.com
Selasa, 11 Agustus 2015 - 07:20
Bradley - djbrucho3@gmail.com
fPFeGr http://www.FyLitCl7Pf7kjQdDUOLQOuaxTXbj5iNG.com
Selasa, 11 Agustus 2015 - 03:29
Bradley - djbrucho3@gmail.com
3gIM0Z http://www.FyLitCl7Pf7kjQdDUOLQOuaxTXbj5iNG.com
Senin, 10 Agustus 2015 - 22:57
Bradley - djbrucho3@gmail.com
ren6x7 http://www.FyLitCl7Pf7kjQdDUOLQOuaxTXbj5iNG.com
Senin, 10 Agustus 2015 - 20:51
gordon - darel233455@gmail.com
53kl4J http://www.FyLitCl7Pf7kjQdDUOLQOuaxTXbj5iNG.com
Senin, 10 Agustus 2015 - 20:35
Bradley - djbrucho3@gmail.com
B3u5D2 http://www.FyLitCl7Pf7kjQdDUOLQOuaxTXbj5iNG.com
Senin, 10 Agustus 2015 - 20:03
Bradley - djbrucho3@gmail.com
pACGWb http://www.FyLitCl7Pf7kjQdDUOLQOuaxTXbj5iNG.com
Senin, 10 Agustus 2015 - 19:34
Bradley - djbrucho3@gmail.com
UADZVS http://www.FyLitCl7Pf7kjQdDUOLQOuaxTXbj5iNG.com
Senin, 10 Agustus 2015 - 19:30
Bradley - djbrucho3@gmail.com
C3J32W http://www.FyLitCl7Pf7kjQdDUOLQOuaxTXbj5iNG.com
Senin, 10 Agustus 2015 - 19:10
Bradley - djbrucho3@gmail.com
KVZtsB http://www.FyLitCl7Pf7kjQdDUOLQOuaxTXbj5iNG.com
Senin, 10 Agustus 2015 - 19:08
Bradley - djbrucho3@gmail.com
RaaTzn http://www.FyLitCl7Pf7kjQdDUOLQOuaxTXbj5iNG.com
Senin, 10 Agustus 2015 - 19:02
Bradley - djbrucho3@gmail.com
aR837y http://www.FyLitCl7Pf7kjQdDUOLQOuaxTXbj5iNG.com
Senin, 10 Agustus 2015 - 18:55
Bradley - djbrucho3@gmail.com
tOjVah http://www.FyLitCl7Pf7kjQdDUOLQOuaxTXbj5iNG.com
Senin, 10 Agustus 2015 - 18:51
Bradley - djbrucho3@gmail.com
9YYKNa http://www.FyLitCl7Pf7kjQdDUOLQOuaxTXbj5iNG.com
Senin, 10 Agustus 2015 - 18:46
Bradley - djbrucho3@gmail.com
eks1Qt http://www.FyLitCl7Pf7kjQdDUOLQOuaxTXbj5iNG.com
Senin, 10 Agustus 2015 - 17:18
poker online uang asli - blbomolrclk@gmail.com
Mari Bergabung dengan kontes SEO SMPPOker Situs Agen Judi Poker Online Uang Asli Terpercaya di Indonesia, Info lebih lanjut kunjungi http://goo.gl/9FG0oJ
Senin, 10 Agustus 2015 - 15:27
Bradley - djbrucho3@gmail.com
p5Ay2V http://www.FyLitCl7Pf7kjQdDUOLQOuaxTXbj5iNG.com
Senin, 10 Agustus 2015 - 15:24
Bradley - djbrucho3@gmail.com
1Pom1x http://www.FyLitCl7Pf7kjQdDUOLQOuaxTXbj5iNG.com
Senin, 10 Agustus 2015 - 11:53
Bradley - djbrucho3@gmail.com
D3Url4 http://www.FyLitCl7Pf7kjQdDUOLQOuaxTXbj5iNG.com
Senin, 10 Agustus 2015 - 11:50
Bradley - djbrucho3@gmail.com
F84qMC http://www.FyLitCl7Pf7kjQdDUOLQOuaxTXbj5iNG.com
Senin, 10 Agustus 2015 - 11:48
Bradley - djbrucho3@gmail.com
dYqFFN http://www.FyLitCl7Pf7kjQdDUOLQOuaxTXbj5iNG.com
Senin, 10 Agustus 2015 - 11:48
Bradley - djbrucho3@gmail.com
wvNdTF http://www.FyLitCl7Pf7kjQdDUOLQOuaxTXbj5iNG.com
Senin, 10 Agustus 2015 - 11:47
Bradley - djbrucho3@gmail.com
ExD8gA http://www.FyLitCl7Pf7kjQdDUOLQOuaxTXbj5iNG.com
Senin, 10 Agustus 2015 - 11:46
Bradley - djbrucho3@gmail.com
FH578t http://www.FyLitCl7Pf7kjQdDUOLQOuaxTXbj5iNG.com
Senin, 10 Agustus 2015 - 11:46
Bradley - djbrucho3@gmail.com
vSaN4M http://www.FyLitCl7Pf7kjQdDUOLQOuaxTXbj5iNG.com
Senin, 10 Agustus 2015 - 11:44
Bradley - djbrucho3@gmail.com
zkvHsl http://www.FyLitCl7Pf7kjQdDUOLQOuaxTXbj5iNG.com
Senin, 10 Agustus 2015 - 11:44
Bradley - djbrucho3@gmail.com
Zi1SGt http://www.FyLitCl7Pf7kjQdDUOLQOuaxTXbj5iNG.com
Senin, 10 Agustus 2015 - 11:44
Bradley - djbrucho3@gmail.com
1K4SjD http://www.FyLitCl7Pf7kjQdDUOLQOuaxTXbj5iNG.com
Senin, 10 Agustus 2015 - 11:43
Bradley - djbrucho3@gmail.com
Xq825G http://www.FyLitCl7Pf7kjQdDUOLQOuaxTXbj5iNG.com
Senin, 10 Agustus 2015 - 11:43
Bradley - djbrucho3@gmail.com
6gjMoS http://www.FyLitCl7Pf7kjQdDUOLQOuaxTXbj5iNG.com
Senin, 10 Agustus 2015 - 11:43
Bradley - djbrucho3@gmail.com
GxzcTd http://www.FyLitCl7Pf7kjQdDUOLQOuaxTXbj5iNG.com
Senin, 10 Agustus 2015 - 11:42
Bradley - djbrucho3@gmail.com
RHsuc4 http://www.FyLitCl7Pf7kjQdDUOLQOuaxTXbj5iNG.com
Senin, 10 Agustus 2015 - 11:41
Bradley - djbrucho3@gmail.com
mHMRWB http://www.FyLitCl7Pf7kjQdDUOLQOuaxTXbj5iNG.com
Senin, 10 Agustus 2015 - 11:41
Bradley - djbrucho3@gmail.com
dnAEBX http://www.FyLitCl7Pf7kjQdDUOLQOuaxTXbj5iNG.com
Senin, 10 Agustus 2015 - 11:40
Bradley - djbrucho3@gmail.com
f0JXLI http://www.FyLitCl7Pf7kjQdDUOLQOuaxTXbj5iNG.com
Senin, 10 Agustus 2015 - 11:40
Bradley - djbrucho3@gmail.com
vwsasu http://www.FyLitCl7Pf7kjQdDUOLQOuaxTXbj5iNG.com
Hlm. | 1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | Next | Last |
21-08-2016 s/d 28-08-2015
One for One: Sebuah Pameran Kolaborasi
di Paviliun 28 Jl. Petogogan No. 25 Kebayoran Baru, Jakarta Selatan
26-08-2015 s/d 06-09-2015
Pameran Tunggal Afriani: "Be the Winner"
di Galeri 678, Jl. Kemang Raya 125 A, Kemang, Jakarta Selatan
21-08-2015
Diskusi Biennale sebagai Branding Kota: Dilema infrastruktur budaya dan turisme
di Ruang Multimedia Kampus Pasca Sarjana ISI Jalan Suryodiningratan, Yogyakarta
19-08-2015 s/d 30-08-2015
Pameran Seni Rupa “Langkah Kepalang Dekolonisasi”
di Gedung A Galeri Nasional Indonesia Jln. Medan Merdeka Timur No. 14 Jakarta Pusat
19-08-2015 s/d 28-08-2015
Pameran seni rupa "Anggap Saja Rumah Sendiri"
di Bentara Budaya Yogyakarta Jl. Suroto 2 Kotabaru, Yogyakarta 55224
15-08-2015
Pembicaraan lintas disiplin melalui buku puisi "Berlin Proposal" karya Afrizal Malna
di Togamas Buah Batu, Jl. Buah Batu no. 178, Kota Bandung 40562
13-08-2015
Diskusi "Etnomusikologi: Oleh dan Untuk Siapa?"
di gedung jurusan Etnomusikologi, Institut Seni Indonesia Yogyakarta, Jl. Parang Tritis km 6,5 Sewon, Bantul, Yogyakarta
12-08-2015
"Vagabond", a film by Agnes Varda
di Ark Gallery, Jl. Suryodiningratan 36A, Yogyakarta
08-08-2015 s/d 09-08-2015
Festival Tlatah Bocah
di Dusun Klakah Tengah, Selo, Boyolali, Jawa Tengah
05-08-2015
Diskusi Kejahatan dalamnSeni Rupa: Pemalsuan Lukisan, Fakta dan Pembuktian
di Jogja Gallery, Jl. Pekapalan 2, Alun-alun Utara, Kraton, Yogyakarta
read more »
Minggu, 09-08-2015
Berkubu dengan Buku
oleh Kuss Indarto
Kamis, 30-07-2015
Jejaring Kerja Tanpa Negara
oleh Kuss Indarto
Minggu, 12-07-2015
Pelukis Dullah
oleh Fadjar Sutardi
Kamis, 23-04-2015
Seniman Karbitan
oleh Aris Setyawan
Minggu, 12-04-2015
Dinamika Seni Rupa (di) Pasuruan
oleh Wahyu Nugroho
read more »
Merajakan Nalar di Tengah Kepungan Hedonisme
oleh Christian Heru Cahyo Saputro
Buku bertajuk: Acropolis (Kerajaan Nalar) yang merupakan kumpulan kolom karya wartawan SKH Lampung Post Heri Wardoyo (HRW) hadir meramaikan pasar wacana. Buku yang berisi kolom-kolom Heri Wardoyo ini pernah dimuat di rubrik ‘Nuansa’ Lampung Post bertitimangsa tahun...
Fantasi Balzac tentang Pulau Jawa
oleh Sigit Susanto
Merajut Masa Depan Bocah Merapi
oleh T. Nugroho Angkasa S.Pd.
Novel Kasongan, Seliat Tanah Liat
oleh R. Toto Sugiharto
read more »
Call for Applications for the Artists in Residence Programme 2016 in Austria
Kompetisi UOB Painting of the Year 2015
BANDUNG CONTEMPORARY ART AWARDS (BaCAA) #04
KOMPETISI SENI LUKIS, MANDIRI ART AWARD 2015
GUDANG GARAM INDONESIA ART AWARD 2015
Dana SAM untuk Seni dan Lingkungan
LOMBA PENULISAN JURNALISTIK
Lomba Foto “Air dan Sanitasi untuk Kehidupan yang Lebih Baik”
6th Beijing International Art Biennale 2015
Sayembara Cipta Kreasi Motif Batik Seragam Dinas Harian RSUP Dr Kariadi 2014
read more »
01/09/2015 01:14 | Rico Stone | Hari yang baik, Apakah Anda dalam setiap jenis masalah pinjaman keuangan? atau Anda membutuhkan pinjaman cepat untuk membersihkan debit Anda dan kembali ke bisnis Pada tingkat bunga dari 2%. Jika ya hubungi kami melalui email kami di bawah ini: exxonmobil191@outlook.com Jangan memberikan kami berikut di bawah ini. 1) Nama Lengkap: ............ 2) Sex: ................. 3) Umur: ........................ 4) Negara: ................. 5) Nomor Telepon: ........ 6) Pekerjaan: .............. 7) Pendapatan Bulanan: ...... 8) Jumlah Pinjaman Dibutuhkan: ..... 9) Durasi Pinjaman: ............... 10) Tujuan Pinjaman: ........... Terima kasih.
19/08/2015 21:02 | Mrs Jennifer | Kami disetujui pemerintah dan pemberi pinjaman kredit bersertifikat Perusahaan kami tidak menawarkan pinjaman mulai dari pribadi untuk pinjaman industri untuk orang yang tertarik atau perusahaan yang mencari bantuan keuangan pada tingkat bunga dinegosiasikan 2% kesempatan untuk membersihkan dept Anda., Mulai atau meningkatkan bisnis Anda dengan pinjaman dari pinjaman perusahaan kami diberikan di Pounds (Ł), dollar ($) dan Euro. Jadi mengajukan pinjaman sekarang orang yang tertarik harus menghubungi kami untuk informasi lebih lanjut. Mengisi informasi data peminjam. Hubungi kami sekarang melalui: jenniferdawsonloanfirm20@gmail.com (2) Negara: (3) Alamat: (4) Kota: (5) Sex: (6) Status Pernikahan: (7) Bekerja: (8) Nomor Ponsel: (9) Penghasilan Bulanan: (10) Jumlah Pinjaman Dibutuhkan: (11) Jangka waktu pinjaman: (12) Tujuan Pinjaman: Terima kasih atas pengertian Anda karena kami berharap untuk mendengar dari Anda segera. E-Mail: jenniferdawsonloanfirm20@gmail.com
06/07/2015 12:26 | mardiyanto ghani art | Mardiyanto ghani art..ahmadghani2008@gmail.com Selalu semangat berkarya..!!
06/05/2015 16:11 | EkanantoBudiSantoso | to Pa Andre Galnas,kapan kita reuni mamer bareng temen2x? biar wacananya "dream come true gitu,art new biar juga makin seru kita undang konco2x sy nulis disini juga,thanks att.
06/05/2015 16:03 | EkanantoBudiSantoso | Sy butuh info lomba lukis Mandiri,sebenarnya kompetisi bukan untuk cari "jawara,jati diri dan silaturakhmi perupa sangat perlu"dikembangbiakan biar ngga ego,ah.
read more »
About Us
Indonesia Art News merupakan media tentang dinamika seni yang berkait dengan aspek keindonesiaan. Media ini berusaha untuk mengedepankan segi informasi ihwal seni yang dikemas dengan cara pandang kritis dan muatan yang investigative. Indonesia Art News berkedudukan di Yogyakarta, Indonesia
Gabung di Facebook
Buku Tamu
Pengelola IAN
Editor in chief:Kuss Indarto
Editor:R. Toto Sugiarto
Designer:Andika Indrayana
Email - info@indonesiaartnews.or.id