HOME     NEWS     EVENTS     ARTICLES     DIRECTORY     BOOKS     OPPORTUNITIES  
   
Sabtu, 18 Februari 2012 - 21:42
Indoscape: A “Geo-History”
oleh Jim Supangkat
Salah satu karya Aditya Novali yang dipamerkan di pameran tunggalnya, Indoscape: A "Geo-History"
Code 1

Sampai sekarang masih kuat persepsi yang memandang karya-karya di museum seni rupa sebagai benda-benda sakral. Padahal pada perkembangan seni rupa sekarang ini sudah muncul berbagai pandangan dan pemikiran yang kritis pada sakralisasi benda-benda museum. Sakralisasi ini tercermin pada berbagai aturan museum yang membuat karya yang dipajang menjadi punya jarak dengan publik. Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa karya-karya ini tidak boleh disentuh. Kendati harus diakui ada alasan keamanan—menghindari kerusakan—sakralisasi ini menjadi berlebihan. Pemasangan barikade membuat karya-karya yang dipajang di museum seperti terkucil karena tidak bisa didekati.


Ketika pemikiran kritis pada pengucilan benda-benda museum itu menjadi isu pada tahun 1970an muncul karya-karya seni rupa yang justru mengundang partisipasi publik. Bukan sekadar boleh menyentuh, karya-karya ini baru menjadi bermakna ketika terjadi intervensi publik, misalnya dengan menarik tuas pada karya yang membuat berbagai elemen pada karya ini menjadi bergerak. Sampai sekarang karya-karya seperti ini masih muncul pada perkembangan seni rupa kontemporer walau tidak lagi bertumpu pada penenentangan sakralisasi benda-benda museum. Kecenderungan ini sudah menjadi bahasa ungkapan.

Karya-karya Aditya Novali—sejak awal karirnya sampai pada pameran ini—menunjukkan gejala itu.  Dasarnya tidak sepenuhnya pengaruh perkembangan seni rupa kontemporer menentang sakralisasi benda-benda museum. Kecenderungan pada karya-karya Aditya Novali bertumpu pada konsep permainan. Aditya Novali seperti ingin mengajak publik bermain, seperti pada permainan ular tangga, monopoli, dam, halma, atau catur. Konsep permainan ini mempengaruhi proses pembentukan bahasa ungkapannya.
   
Pada mulanya karya-karyanya menyajikan konsep permainan yang kompleks. Karya-karya ini dilengkapi  semacam aturan bermain yang ditempelkan di sisi karyanya. Karya-karyanya menarik perhatian publik bukan karena boleh disentuh tapi karena tidak biasa dan teresan memperlihatkan pemikiran. Dengan karya-karya semacam ini nama Aditya Novali masuk nominasi Indonesia Art Award pada tahun 1997 dan 1999. Pada tahun 2003 karya-karyanya terpilih untuk tampil pada CP Open Biennalle I di Galeri Nasional.

Kerumitan permainan itu membuat karya-karya Aditya Novali memperlihatkan kecenderungan konseptual—walau tidak bertumpu pada conceptual art yang berkembang pada seni rupa kontemporer tahun 1970an.  Karyanya dicipatkan berdasarkan sesuatu konsep pemikiran dan pada prosesnya mengutamakan gagasan (ide).  Kecenderungan ini hampir berlawanan dengan cara berkarya yang mengutamakan emosi, perasaan dan pengolahan bahasa ungkapan yang prosesnya seringkali dimulai tanpa gagasan sama sekali.

Kecenderungan menampilkan karya yang konseptual itu bisa dilihat sebagai tanda perkembangan karya-karya  Aditya Novali.  Ia melukis sejak kecil dan di tahun 1980an ia menarik perhatian dunia anak-anak sebagai pelukis cilik dan dalang cilik—hasil didikan ibunya seorang perupa lulusan Institut Seni Indonesia, Yogyakarta. Kendati ia menempuh pendidikan di Fakultas Arsitektur, Universitas Parahyangan, Bandung—lulus pada 2002—Aditya Novali tidak pernah meninggalkan kegiatan melukis.  Sampai pertengahan 1990, lukisan-lukisannya ekspresif, mengutamakan pengolahan bahasa ungkapan dan dalam perkembangannya menjadi nyaris abstrak.
 
Karena itu pengutamaan gagasan dalam berkarya menunjukkan perubahan besar. Ia meninggalkan penjelajahan bahasa ungkapan berdasarkan emosi dan perasaan. Penjelajahan ini digantikan dengan penciptaan bentukan rupa (nyaris tidak bisa dibatasi) yang dasarnya mengandalkan pengalaman visual—di mana terkandung kepekaan arstistik. Seperti dalam proses disain, penciptaan bentukan rupa ini lebih terbuka bagi masuknya ide, konsep dan pemikiran.
 
Antara 2006 – 2008, Aditya Novali melanjutkan studinya di Design Academy Eindhoven di Belanda. Pendidikan tinggi ini dikenal mengutamakan pemikiran dan pemecahan persoalan dengan cara –cara yang tidak konvensional.  Kendati menggunakan label “design” pengajaran di akademi ini menerobos batas-batas art dan design. Aditya Novali lulus tes masuk akademi ini karena karya-karyanya berada di batas art dan design dan dinilai sebagai perupa yang menerapkan pemikiran pada pengembangan bahasa ungkapan. Setelah menjalani studi yang cukup berat—memang menjadi metode pada akademi ini—Aditya Novali berhasil meraih gelar master dalam kategori conceptual design.

Sekembalinya dari Belanda Aditya Novali mengembangkan konsep permainan pada karya-karyanya dan sampai pada konsep “lukisan-lukisan yang bisa diubah”—ia menyebutnya rotatable paintings. Lukisan semacam ini terdiri dari bilah-bilah papan yang dikontruksikan menjadi tabung segitiga yang mempunyai tiga permukaan. Tabung-tabung segitiga ini dikonstruksikan berjajar (horisontal atau vertikal) dan masing-masing bisa diputar secara independen. Dengan memutar tabung segitiga ini publik bisa menentukan pilihan gambaran pada tiga permukaan tabung segitiga ini dan memilih juga kombonasinya. Menghadapi pilihan publik, Aditya Novali memperhitungkan puluhan komposisi kombinasi yang semuanya harus bagus dan bermakna.
 
Code 2

Ketika mengikuti CP Biennale II, 2005 yang diselenggarakan di Museum Bank Indonesia, Jakarta, Aditya Novali menampilkan sebuah konstruksi besi berskala besar yang memperlihatkan susunan ruang.  Kendati telanjang konstruksi ini dengan kuat menunjukkan semacam himpunan bangunan apartemen.  Pada konstruksi ini Aditya Novali menempatkan ratusan lampu kecil dengan beberapa opsi.  Dengan menekan tombol publik bisa menjelajahi beberapa kombinasi pencahayaan. Penjelajahan ini membangkitkan kesan kuat, himpunan apartemen pada konstruksi besi berskala besar ini telah berkembang menjadi sebuah kota.


Karya itu menunjukkan kecenderungan lain pada karya-kjarya Aditya Novali, pada perkembangan 2000an. Ada ketertarikan padanya untuk mempersoalkan masalah urban. Secara khusus mengkaji masalah ruang dalam kehidupan urban; susunan ruang-ruang hidup, ruang di mana kehidupan berlangsung sehari-hari termasuk ruang-ruang publik.

Pada awal 2000an, sebelum belajar ke Belanda, Aditya Novali membuat sejumlah karya yang menampilkan ruang dengan bidang-bidang transparan. Pada karya-karya ini ia tidak menampilkan dwelling pada sebuah ruang kota tapi dwelling berskala rumah tinggal (apartemen).  Kendati ia tidak secara realistis membuat interior sebuah apartemen, karyanya terkesan mempersoalkan ruang tempat tinggal pada kehidupan urban di mana manusia harus menyesuaikan diri dengan menyempitnya ruang hidup, dan, terancamnya privacy.   

Karya itu tidak berhenti pada bentuk tiga dimensi. Aditya Novali memotret karya-karya itu dengan bantuan berbagai kemungkinan pencahayaan dan memperhitungkan efek bayangan. Hasilnya seri  foto, dan slides presentation yang menarik. Ketika itu sudah ada gagasan membuat video art, namun tidak sampai ia laksanakan.

Dalam perkembangan sekarang persoalan kehidupan urban pada karya-karya Aditya Novali menjadi semakin jelas. Ia menggunakan konsep rotatable painting untuk menampilkan susunan ruang. Bila pada perkembangan sebelumnya, rotatable paintings yang dibuatnya lebih banyak menampilkan landscape, pada perkembangan baru ini, rotatable painting digunakannya untuk menampilkan dimensi ruang pada bangunan rumah susun atau apartemen. Di sini masalah urban tampak jelas. Inilah karya-karya yang disajikan Aditya Novali pada pameran tunggalnya di Galeri Canna, Jakarta Art District ini.

Karyanya Unrepresentable Freedom (2011) pada pameran ini memperlihatkan penggabungan itu yang tetap memerlukan intervensi publik  Karya ini menampilkan façade bangunan rumah susun bertingkat delapan—setiap bilah yang bisa diputar menggambarkan sebuah tingkat rumah susun. Muncul beberapa tampilan yang merupakan pilihan. Namun semua tampilan menyodorkan suasana kelam, karena diputar ke mana pun semua deretan jendela pada tingkatan rumah susun ini punya pola jeruji besi yang biasa terlihat pada bangunan penjara, atau, jendela bangunan militer di zaman kolonial.

Pada karya itu Aditya Novali menyodorkan dilema masyarakat.  Ada wacana di baliknya. Karya ini bisa dikaitkan dengan buku John Turner—pertama kali terbit pada awal 1970an—yaitu Freedom to Build yang mengeritik sistem pembangunan rumah murah (low housing) di seluruh dunia. Konsep low housing yang dikritik John Turner ditemukan pada 1915. Pada 1940 dikembangkan menjadi konsep pembangunan perumahan murah di seluruh dunia khususnya pembangunan low housing yang mendapat bantuan Bank Dunia.  Konsep ini masih diterapkan sampai sekarang. Di Indonesia mendasari pembangun rumah susun tipe S (sederhana) dan tipe SS (sangat sederhana)

Melalui sejumlah pengkajian John Turner menemukan bahwa konsep itu tidak efektif dalam mengangkat kualitas hidup dan kesejahteraan kalangan bawah. Ia mengemukakan konsep perumahan ini tidak membuka ruang bagi keterlibatan calon penghuninya yang dihitung hanya sebagai satuan ekonomi. Menurut  John Turner konsep ini mencerminkan rumah kelas menengah Amerika pada awal Abad ke 20 yang ternyata tidak sesuai dengan kebanyakan masyarakat di negara miskin. Secara budaya mau pun secara ekonomi.

Dalam pandangan John Turner, pembangunan low housing akan menjadi lebih efektif dan justru bisa lebih murah apabila memperhitungkan aspek budaya. Pendekatan budaya ini melibatkan masyarakat lokal dalam merencanakan dan membangun [sendiri] perumahan murah. Upaya ini membutuhkan kemauan untuk menyusun anggaran yang beragam—khususnya di tingkat Bank Dunia— dan bukan anggaran “pukul rata”.

Dalam Freedom to Build, John Turner mengemukakan dasar-dasar pemikirannya tentang perumahan murah itu. Ia mengingatkan bahwa kata “housing” yang sekarang dipahami sebagai “kata benda” (perumahan) sebenarnya berasal dari kata kerja “to house”. Maka pengertian housing sebenarnya adalah “kata kerja” (housing as a verb) yang menunjuk aktivitas membangun rumah dalam kaitan memenuhi kebutuhan azasi yang bersifat personal dalam kehidupan manusia pada tingkat sosial mana pun.

Karya-karya Aditya Novali yang lain pada pameran ini, Metropolitan Landscape (2011),  Silent Scream (2011), dan, Metropolitan Monument (2011) menegaskan pandangan John Turner itu. Pada karya-karya ini Aditya Novali menjelajahi ruang dalam perumahan pada kehidupan urban. Ia mengungkapkan berbagai perjuangan manusia menghadapi berbagai keterbatasan pada ruang hidup.  Simbol kehancuran dan kematian pada karya-karya ini menunjukkan visi Aditya Novali tentang berbagai kemustahilan aktualisasi diri dalam kehidupan urban. Ia menegaskan kesimpulan yang sudah umum dikenal yaitu munculnya sindrom alineasi pada kehidupan urban-metropolitan.

Realitas pada ungkapan Aditya Novali adalah realitas kehidupan urban di Indonesia yang muncul pada pada akhir abad ke-19 di masa kolonial.  Terjadi bersama perkembangan kota di zaman itu yang diikuti kemunculan civil society. Sejumlah sejarawan menyebutnya sebagai “zaman modal”. Ketika itu masyarakat swasta (keturunan Belanda dan pribumi) berhasil memperjuangkan hak-haknya. Berkembangnya perdagangan dan perkebunan-perkebunan swasta yang sebelumnya dimonopoli pemerintah kolonial, membuat civil society mempunyai kekuatan politis untuk mendesak pemerintah kolonial menyediakan fasilitas publik.

Di masa itu pula pegawai administrasi pribumi berkembang jumlahnya dan memasuki birokrasi pemerintah kolonial. Kelompok ini ikut membentuk masyarakat kelas menengah karena terdidik dan punya penghasilan lebih dari penghasilan rata-rata pribumi saat itu. Mereka memiliki kesadaran, keyakinan dan kemampuan berpikir yang sama dengan masyarakat kelas menengah berkebangsaan Belanda.

Keadaan seperti itu bertahan sampai awal 1950-an, ketika kota-kota di Indonesia belum banyak berubah. Di kota-kota di Indonesia masih bisa ditemukan berbagai permukiman dengan deretan rumah yang merepresentasikan urban planning. Terlihat rumah-rumah “biasa” untuk pegawai—ukurannya tidak terlalu besar— dibangun di dekat pusat-pusat kegiatan instiotsi publik, seperti jawatan-jawatan, rumah sakit dan jaringan kereta api. Terlihat juga rumah-rumah bergaya Art-Deco di lokasi up-town jauh dari kawasan perdagangan dan perkantoran pemerintahan di down-town. Penghuni rumah-rumah ini adalah pejabat-pejabat tinggi pemerintahan, hakim, jaksa, dan kaum profesional (dokter, sarjana hukum, arsitek, insinyur, ilmuwan, guru, dan akuntan). Mereka adalah masyarakat kelas menengah yang punya pengaruh dalam menentukan perkembangan politik Indonesia. Tercermin paling tidak pada Pemilihan Umum 1955.

Keadaan itu berubah ketika di tahun 1957, presiden waktu itu Soekarno, menjalankan demokrasi terpimpin yang sosialistis. Pemerintahan yang muncul kemudian menyingkirkan kritisisme dan suara oposisi; parlemen dibungkam dan tradisi intelektual “dibunuh”.  Sejak itu posisi kelas menengah dan civil society menjadi tidak jelas.  Perkembangan masyarakat di luar urusan politik—kesejahteraan, pendidikan, penataan pemukiman, pengembangan kota—ikut menjadi tidak jelas. Infrastruktur kota mulai menunjukkan tanda-tanda keruntuhan ketika terjadi krisis ekonomi yang memunculkan arus pindahnya masyarakat desa ke kota.

Perkembangan masyarakat tanpa arah itu tidak berubah ketika terjadi peralihan kekuasaan pada tahun 1966. Muncul pemerintahan baru di bawah Presiden Suharto yang memusatkan programnya pada persoalan ekonomi.  Perkembangan ekonomi terpusat di kota-kota besar.  Arus perpindahan masyarakat desa ke kota, semakin deras. Kerusakan infrastruktur kota terjadi di kota-kota besar maupun kota-kota berskala menengah. Kondisi ini mempengaruhi tingkat kesejahteraan masyarakat bila dilihat dari kondisi pemukiman, distribusi air bersih, dan, jalur transportasi yang merupakan nadi perekonomian. Urban planning yang masih bisa dirasakan hadir pada masa awal Republik, hilang sama sekali.    

Catatan sejarah itu yang berdampak pada masalah urban dan perkembangan civil society itu menunjukkan besarnya peran kenegarawan presiden dan penyusunan policy pemerintahan dalam menentukan perkembangan masyarakat yang tercermin pada lingkup kehidupannya. Aditya Novali mengungkapkan dilema itu melalui dua karya, Invisible Space (2011) dan Invisible Structure (2011).

Subject matter kedua karya ini adalah Istana Merdeka di Jakarta, bangunan kolonial yang menjadi pusat pemerintahan sejak zaman penjajahan. Istana Mereka merupakan bagian muka tempat tinggal resmi presiden yang menghadap ke Lapangan Monas. Di puncaknya, sang saka Merah Putih dikibarkan untuk pertama kalinya pada Desember 1949 setelah upacara penyerahan pemerintahan (Indonesia diwakili Sultan Hamengkubuwono IX) di mana Kerajaan Belanda  mengakui kedaulatan Indonesia (dinyatakan melalui rekaman suara pidato Ratu Belanda). Bagian belakang bagunan ini dikenal sebagai Istana Negara.

Pada karya-karyanya Aditya Novali menampilkannya Istana Merdeka dalam bentuk maket.  Invisible Space merupakan maket dari bidang-bidang transparan, sementara Invisible Structure merupakan outline Istana Negara yang dibentuk dengan batang-batang logam.  Kedua maket dipresentasikan di atas sebuah neon box yang cahayanya menyorot ke atas. Pencahayaan teatrikal ini dengan kuat memancing pertanyaan, ada apa dengan tradisi kepemimpinan politik Indonesia ?

Code 3

Aditya Novali mengemukakan bahwa dalam berkarya ia cenderung membuat seri karya. Karya-karyanya yang menampilkan persoalan urban melalui susunan ruang ia sebut, “A House is not a home Series”.  Karya-karya dengan subject matter Istana Merdeka—termasuk sebuah rotatable painting yang dilengkapi pencahayaan lampu LED berjudul The End One Day (2011)—disebutnya “Infinity Series”.  


Bila dibandingkan, serial karya lebih sering digunakan seniman untuk melakukan penjelajahan bahasa. Seri karya Aditya Novali mencerminkan penjelajahan pemikiran. Pada serial karya Aditya Novali perbendaharaan bahasa ungkapan—yang dijelajahi secara terpisah—bercampur.  Pada kedua karya serialnya bisa ditemukan berbagai bahasa ungkapan—rotatable painting, konsep permainan, susunan ruang,dan, sistem pencahayaan—yang secara bersama mau pun sendiri-sendiri digunakan untuk menyampaikan massage.
    
Karya serial  Aditya Novali mencerminkan upayanya menghindari penyempitan persoalan (sesuatu masalah punya hanya satu persoalan di baliknya, dan, punya hanya satu pemecahan, kesimpulan atau jawaban). Karya-karya serial serial ini menunjukkan kepercayaannya bahwa sesuatu masalah mempunyai banyak dimensi persoalan.  Masalah pada karya-karya serial ini menjadi kompleks karena berhubungan.  A House is not a home Series, yang bisa dilihat membawa persoalan urban, dengan segera menjadi persoalan urban di Indonesia ketika dihubungkan dengan Infinity Series.

Paralel dengan kedua karya seri itu, Aditya Novali pada pameran ini membuat karya serial lain yaitu Identifyng Indonesia Series . Kembali terlihat karya seri ini berhubungan dengan  A House is not a home Series dan Infinity Series. Karya seri inilah yang menjadi dasar tajuk pameran tunggalnya di Galeri Canna, Jakarta Art District ini—Indoscape : A “Geo History”.  

Empat karya pada seri karya itu bermain-main dengan peta Indonesia—dasar istilah “Indoscape”. Judul empat karya ini menyugestikan sesuatu pemikiran: the proses, the chaos, the history dan the contemporary.  Pada The Proses (2011) peta Indonesia yang dibentuk dari batang-batang logam ditampilkan dalam sebuah kotak kaca tipis menyerupai akuarium. Pada mulanya peta Indonesia tidak terlihat karena keseluruhannya tertimbun lilin padat. Peta ini muncul sedikit demi sedikit setelah lilin yang menutupinya mencair.  Lilin meleleh setelah batang logam yang membentuk peta dipanaskan melalui aliran lisrtik. Pada The Chaos (2011) peta Indonesia ditampilkan mengambang pada kotak kaca yang kali ini benar-benar seperti akuarium karena diisi air. Komponen peta ini—Pulau Sumatera, Pulau Jawa, Pulau Kalimantan dan sebagainya—terjungkir balik karena pompaan udara ke air akuararium.

The History (2011) yang tampilannya sama dengan kedua karya tadi, lebih statis—tidak ada gerak, tidak ada proses. Pada kotak kaca ini ribuan tengkorak kecil-kecil berhimpitan seperti kacang dalam stoples. Menggunakan kontras warna hitam putih dan nuasa berbagai warna kulit manusia Adytia Novali menata susunan warna yang samar-samar menampilkan peta Indonesia. Sebaliknya dari The History, karya The Contemporary (2011) jauh dari statis karena memerlukan partisipasi publik. Peta Indonesia pada karya ini terbentuk dari ratusan titik-titik lampu LED yang aktivasinya dikendalikan sejumlah tombol di hadapan kotak kaca. Bila tombol tidak ditekan, kotak kaca terlihat seperi LCD yang tidak diaktifkan (gelap). Bila tombol ditekan akan muncul image Pulau Sumatera, Pulau Bali, Pulau Jawa dan sebagainya. Namun pada deretan tombol tidak ada keterangan sama sekali. Publik yang menekan tombol harus menerima saja pulau apa pun yang muncul pada tabir gelap tadi. Tidak mungkin mencari-cari misalnya, “Mana ya Pulau Sulawesi, tempat kelahiranku ?”
Realitas yang dipersoalkan Aditya Novali pada karya serial itu tidak terbatas pada realitas sosial-politik. Dari realitas yang dihadapinya sekarang ini ia mencoba melihat ke belakang ke proses pembentukan Indonesia. Di lihat dari sisi pemikiran karya-karyanya pada seri Identifyng Indonesia ini menunjukan  ia memperpanjang ruang  dan waktu pada realitas yang dihadapinya. Realitas yang dihadapi Indonesia, baginya  bukan sekadar realitasi masa kini.

Karena itu karya-karya Aditya Novali tidak bisa disebut memperlihatkan komentar sosial (social commentary).  Kendati karya-karyanya tidak bisa dilepaskan dari persoalan masyarakat  termasuk persoalan-persoalan sosial-politik yang aktual, persoalan realitas pada karya-karyanya adalah persoalan manusia yang berkaitan dengan sejarah.  

Peta Indonesia pada seri karyanya Identifying Indonesia memperlihatkan pendekatan “geo-history.”  Bila diparalelkan dengan istilah “geo-politic” makna istilah geo history ini adalah: “mengamati sejarah melalui geografi”.  Aditya Novali mengamati Indonesia tidak hanya sebagai Republik—negara post-kolonial yang wilayahnya sama dengan wilayah jajahan di masa kolonial. Ia mempersoalkan Indonesia sebagai kepulauan Nusantara (nusa antara) yang pernah disebut “Indos-nesos” . Dalam lmu bangsa-bangsa, Indos-nesos menunjuk bangsa-bangsa yang hidup di gugus kepulauan di antara daratan Asia dan Samudera Pasifik (jumlahnya mencapai 350 kelompok etnik) yang tidak jelas identitas dan asal-muasalnya.

Melihatnya dari sudut pandang sejarah, bisa ditemukan berbagai catatan yang menunjukkan berbagai pergolakan di kepluauan nusa-antara. Pada tahun 1 Masehi, Kerajaan Sriwijaya (terletak di Sumatera Selatan) telah melakukan ekspansi global dengan kekuatan maritim, mendahului penerapan kolonialisme di negara-negara Eropa. Pada tahun 1 itu, Sriwijaya menguasai sebagian Asia, batasnya sampai di Natrang, Vietnam. Pergolakan di dalam Nusantara sendiri dicatat kitab-kitab Pararaton yang ditulis pada Abad ke-12 dan Nagarakertagama yang ditulis pada Abad ke-14.  Kedua kitab mencatat tanda-tanda kemunculan dan keruntuhan kerajaan-kerajaan Hindu-Budha terakhir di Pulau Jawa, yaitu Singasari dan Majapahit. Kedua kitab yang ditulis pada zaman berbeda ini memperlihatkan kesamaan visi dalam mencatat ketegangan politik di kalangan raja-raja dan bangsawan yang diwarnai pengkhianatan,  pembunuhan, kudeta dan kebijakan politik yang berubah-ubah.

Menghubungan persoalan di balik ketiga karya serial Aditya Novali bisa dilihat ia memasalahkan “takdir dan nasib” kehidupan manusia di “Nusa Antara” dalam ruang dan waktu sepanjang dua puluh satu abad. Persoalan yang tidak memburu jawaban pasti ini memperlihatkan pemikiran pada tiungkat filosofis. Gejala ini tercermin pada karyanya Warrior of Change (2011) yang masuk dalam seri Identifyng Indonesia.  Karya ini merepresentasikan sebuah lapangan yang berisi tumpukan kerangka manusia yang menyerupai kuburan massal di atas permukaan tanah. pada karya ini Aditya Novali ingin mengungkapkan tidak ada kematian absolut pada perkembangan.  Bila diamati dengan cermat, ada gerak semacam kejutan (gerak kinetik) yang terus berulang pada tumpukan kerangka manusia ini. Melalui karya ini terkesan kuat Aditya Novali ingin menampilkan spirit survival manusia di geografi ini yang terus menerus berusaha mengubah nasib dan keadaan. Tercatat perubahan besar pada geo history Nusa Antara ini yaitu pemberian nama “Indonesia” dan pernyataan bahwa masyarakat dalam lingkup ini adalah sebuah bangsa.

Code 4

Pada Januari 2012 mendatang akan diselenggarkan, Art Stage Singapore 2012, di Marina Bay Sands, Singapura. Art Event yang dirintis tahun lalu ini adalah contemporary art fair yang di-claim bertumpu pada Asian Aesthetic yang dibedakan dari Western Aesthetic. Pemrakarsanya adalah Lorenzo Rudolf penyelenggara art fair yang tercatat membuat terobosan pada tradisi art fair pada awal 2000an dengan mengorganisasikan pameran seni rupa kontemporer di tengah Basel Art Fair. Konsep ini diterapkan Lorenzo Rudolf pada penyelenggaran Art Stage Singapore.  Pada pameran seni rupa kontemporer Art Stage Singapore 2012 Lorenzo Rudolf menyajikan sekitar 30 curated project presentations.


Aditya Novali terpilih untuk ikut pada pameran seni rupa kontemporer itu. Ia akan menampilkan empat karya yang merupakan perkembangan seri karya A House is not a home yang mengangkat persoalan urban—sebelum disajikan di Singapura karya-karya ini ikut ditampilkan pada pameran tunggalnya di Galeri Canna, Jakarta Art District ini. Keempat karya ini merupakan presentasi sebuah proyek real estate imajiner.

Karya yang ingin dikesankan sebagai obyek utama pada presentasi itu adalah The Wall : Asian (Un)Real Estate Project (2011).  Bentuknya sebuah maket berukuran besar.  Dekat dengan karya-karya Unrepresentable Freedom, Metropolitan Landscape, Silent Scream, dan, Metropolitan Monument, karya maket ini merupakan pengkonstruksian tabung segitiga yang dijajarkan vertikal. Satu sisinya menampilkan 160 ruang miniatur yang merepresentasikan 160 unit apartemen.    

Seperti karya-karyanya terahulu, tabung segi tiga itu mempunyai tiga sisi yang bila diputar menyajikan tiga opsi. Sisi pertama adalah susunan batu bata yang bila diratakan akan membuat karya maket  The Wall : Asian (Un)Real Estate Project, menjadi sebuah tembok tebal. Sisi kedua, menampilkan pintu penjara yang bila diratakan akan membuat karya maket ini menjadi sebuah “apartemen penjara.”  Sisi ketiga merupakan façade  sebuah apartemen dengan kaca lebar yang  memungkinkan publik mengamati ruang dalam.

Maket pada presentasi proyek real estate imajiner itu dilengkapi sebuah presentasi video, The End is The Beginning (2011), sebuah stop motion video, Inhabitant (2011), dan, sebuah presentasi foto, Postcard of Living (2011). Ketiga presentasi menyodorkan seluk beluk ruang dalam 160 unit apartemen pada The Wall : Asian (Un)Real Estate Project. Semuanya memperlihatkan keadaan kelam kondisi apartemen sempit berbentuk segitiga. Presentasi video The End is The Beginning, misalnya menampilkan tiga adegan kehancuran unit-unit apartemen ini. Adegan pertama, ketika unit apartemen ini terbakar, adegan kedua ketika terisi air, dan, adegan ketiga ketika terisi pasir.

Presentasi proyek real estate imajniner Aditya Novali itu memang sebuah parodi. Bukan sebuah promosi yang bertujuan menjual unit-unit apartemen tapi malah presentasi yang menakut-nakuti “calon pembeli”. Melalui karya ini Aditya Novali mempertanyakan apa latar belakang proyek-proyek real estate yang mempunyai dimensi sosial (meningkatkan kesejahteraan masyarakat). Pemikiran ini mempunyai scope global.    

Istilah “real estate” muncul dalam Bahasa Inggris pada Abad ke 15. Merupakan istilah hukum yang menunjuk tanah garapan yang sesungguh-sungguhnya ada (real) dan bukan hanya diperhitungkan ada, diperkirakan atau dibayang-bayangkan.  Di masa itu, tidak mudah untuk mengobservasi tanah-tanah garapan yang disebut-sebut punya prospek, karena perjalanan ke sana membutuhkan persiapan logistik dengan biaya besar. Karena itu bila seseorang menawarkan tanah yang punya prospek namun pada kenyataannya tidak berpenduduk sama sekali atau ternyata masih sulit digarap, penawaran ini dianggap melanggar hukum.

Ketika itu pengertian real estate tidak punya dimensi sosial sama sekali.  Ketika real estate dikembangkan menjadi tanah garapan, malah menyengsarakan masyarakat. Kendati sudah lepas dari Abad Kegelapan, dan pada Abad ke 12 sudah ada tanda-tanda membela masyarakat bawah,  kekuasaan di Eropa pada Abad ke-15 masih absolut—pemikiran tentang demokrasi baru muncul pada Abad ke 17.

Kekuasaan absolut itu tercermin pada struktur masyarakat yang memisahkan masyarakat atas dan masyarakat bawah.  Keluarga raja dan para bangsawan mengendalikan hampir semua aspek kehidupan. Mereka terpelajar, kaya, mengendalikan hampoir semua usaha dan pemiliki tanah garapan.  Persekutuan mereka dengan otoritas agama (gereja) yang menjalankan politik dogmatik membuat mereka punya kekuasaan absolut. Dalam struktur masyarakat seperti ini, masyarakat kebanyakan adalah kaum bawah yang dieksploitasi—tidak terkecuali pada pengembangan real estate. Mereka tidak terpelajar dan sama sekali tidak punya kesadaran tentang hak-hak mereka.  Mereka sengsara dalam ukuran kesejahteran fisik dan hidup dibayangi ketakutan karena tekanan politik dogmatik gereja.

Hingga kini, pengembangan real estate masih dikenal sebagai bisnis yang bisa mengeruk keuntungan besar. Namun, seperti dikemukakan John Turner, sejak tahun 1940, pengembangan real esate menampilkan pula dimensi sosial. Konsepnya digunakan untuk pengembangan low housing yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat bawah.  

Seperti John Turner, Aditya Novali mempertanyakan seberapa jauh perhitungan bisnis pada pengembangan real estate ini sesungguh-sungguhnya bisa dikeduakan demi menemukan konsep kesejahteraan rakyat ?  Pengalihan dana pinjaman dengan bunga lunak Bank Dunia yang jumlahnya sangat besar, penyusunan aggaran di sesuatu negara miskin untuk proyek-proyek ini, keterlibatan arsitek dan kontraktor, pembebasan tanah, dan, kebutuhan menjalankan proyek secara efisien, merupakan persoalan kompleks  yang membuat pengembangan real estate untuk tujuan sosial sulit menghindar dari perhitungan bisnis, dan korupsi. John Turner sudah melihat dampaknya di tahun 1970an, namun kritiknya nyaris tidak punya efek; program Bank Dunia, khususnya di Asia tidak berubah.  

Judul karya The Wall : Asian (Un)Real Estate Project, menandakan pemikiran pada karya-karya Aditya Novali tidak berhenti pada perdebatan tentang konsep low housing itu. Istilah paradoksal “(un)real” pada judul ini menunjukkan di bagian paling dasar masalah low housing punya kaitan dengan perbedaan pemahaman tentang “the real”.  Catatan : istilah real estate yang muncul duluan mempengaruhi pemahaman “the real” yang lahir kemudian.

Pada mulanya adalah peradaban occulocentric yang dikenalkan Plato pada zaman Yunani kuno.  Peradaban ini menempatkan mata—penglihatan—tidak hanya sebagai salah satu panca-indera, tapi sebagai dasar memahami the real; mata memimpin persepsi manusia dalam memahami kenyataan. Ketika pemahaman filosofis “the real” muncul pada Abad ke-19 pemahaman istilah “real estate” menambah secara signifikan pemahaman “the real” yang occulocentric ini.

“The real” bukan lagi cuma sesuatu yang terlihat tetapi sesuatu yang bersifat material dan kehadirannya bisa dibuktikan dan tidak hanya diperkirakan atau dibayangkan. Terjadi tidak hanya pada Bahasa Inggris. Pengertian “real” dalam Bahasa Prancis sebelum Abad ke 19 mengikuti pengertian dalam Bahasa Latin. Pengertian “real” ini dekat ke pengertian “things” yang tidak selalu bersifat obyektif—“seeing things” dalam Bahasa Inggris paralel dengan halusinasi. Namun sejak Abad ke-19 pengertian “real” dalam Bahasa Prancis sama dengan pengertiannya dalam Bahasa Inggris. Dalam pemahaman pengertian istilah “unreal” yang serba kebalikan dari makna “the real” bisa disamakan dengan “doesn’t make sense”.

Melihat persepsi itu bisa dipahami mengapa istilah housing menjadi “kata benda” dan pada maknanya terkandung sifat material. Melihatnya dari sisi arsitektur pengertian housing ini mengandung pengertian adanya orde, sistem dan keteraturan yang bisa dirancang. Persepsi ini melihat kesejahteraan pada low housing—ruang hidup minimal, kaitannya dengan penghasilan, efisiensi dalam ukuran ekonomi, privacy, hubungannya dengan komunitas—adalah gejala-gejala real yang terukur dan bisa diperhitungkan. Pada pemahaman ini “housing” yang tumbuh sendiri seperti terjadi pada berbagai masyarakat tradisional—Unesco pernah melihatnya sebagai architecture without architect—disebut “vernacular” yang tidak mengikuti kaidah-kaidah arsitektur. “Housing”  semacam ini tidak terencana dan tidak teratur. Ketika muncul di perkotaan membentuk slums.

Belum tentu masyarakat di Asia punya persepsi semacam itu. Menimbang populernya filosofi Yin dan Yang, samngat mungkin pemahaman the real di Asia tidak aboslut positif. Kehadiran “the real” dalam realitas punya perimbangan dinamis dengan dunia “unreal”. Dalam filosofi Yin dan Yang keseimbangan ini mendasari perubahan yang terus menerus pada realitas —seperti dalam keyakinan teori entropy yang dikenal juga sebagai teori khaos.  Karena itu dalam filosofi ini, “the unreal ” harus dipahami, disiasati relung-relungnya dan diyakini (sebagai kesadaran metafisis). Dengan keyakinan ini, disorde bahkan khaos di dunia real bisa diterima karena selalu punya perimbangan di dunia unreal.  Inilah spirit of survival yang membuat manusia mau dan bisa bertahan pada kondisi buruk.

Karya Aditya Novali The Wall : Asian (Un)Real Estate Project berikut tiga karya penunjangnya memperlihatkan kesangsian apakah housing dengan konsep sekarang, punya ruang untuk spirit of survival itu.  Pada masyarakat di negara-negara maju, di mana infrastruktur sosial-politik bisa menjamin kesejahteraan, spirit ini barangkali bukan persoalan besar. Tapi bagi masyarakat di negara-negara sedang berkembang, di mana sistem sosial politiknya tidak bisa menjamin keadilan, di mana kekuasan yang menentukan policy dasar cenderung korup, dan, kewajiban memenuhi kesejahteraan masyarakat miskin belum menjadi kesadaran etis, spirit of survival di kalangan bawah adalah persoalan hidup-mati. ***

Catatan: Teks ini merupakan naskah kuratorial pada pameran tungal Aditya Novelai di Jakarta Art District, 3-11 Desember 2011.
*) Kurator seni rupa
Leave a Comment
Please feel free to let us know your feeling about this
Your Name
Your Comment
Your Email
Utk ganti paragraf silakan klik
Comments:
Minggu, 18 Januari 2015 - 07:26
Pharmb710 - johnb846@aol.com
Very nice site! cheap goods http://oixypea2.com/oxovxar/4.html
Sabtu, 17 Januari 2015 - 01:04
Pharmf278 - johnf108@aol.com
Very nice site!
Sabtu, 17 Januari 2015 - 01:02
Pharma975 - johna162@aol.com
Very nice site! cheap goods http://oixypea2.com/qxqsavq/4.html
Rabu, 14 Januari 2015 - 12:47
Pharmg679 - johng437@aol.com
Very nice site!
Selasa, 13 Januari 2015 - 06:50
Pharme282 - johne701@aol.com
Very nice site!
Selasa, 13 Januari 2015 - 06:49
Pharmc534 - johnc759@aol.com
Very nice site! cheap goods http://aieypxo2.com/tovxxs/4.html
Senin, 12 Januari 2015 - 21:52
rodjer - gabahey25q@gmail.com
PjWFIp http://www.FyLitCl7Pf7kjQdDUOLQOuaxTXbj5iNG.com
Senin, 12 Januari 2015 - 17:53
samuel - klark2d4@gmail.com
PTz2h3 http://www.FyLitCl7Pf7kjQdDUOLQOuaxTXbj5iNG.com
Senin, 12 Januari 2015 - 14:46
sally - varlog255q@hotmail.com
bS5gi7 http://www.FyLitCl7Pf7kjQdDUOLQOuaxTXbj5iNG.com
Senin, 12 Januari 2015 - 14:33
rodjer - gabahey25q@gmail.com
i0Tj0e http://www.FyLitCl7Pf7kjQdDUOLQOuaxTXbj5iNG.com
Senin, 12 Januari 2015 - 14:16
rodjer - gabahey25q@gmail.com
oCwSgH http://www.FyLitCl7Pf7kjQdDUOLQOuaxTXbj5iNG.com
Senin, 12 Januari 2015 - 12:17
rodjer - gabahey25q@gmail.com
ZB6Shv http://www.FyLitCl7Pf7kjQdDUOLQOuaxTXbj5iNG.com
Senin, 12 Januari 2015 - 11:27
samuel - klark2d4@gmail.com
Mh6w4J http://www.FyLitCl7Pf7kjQdDUOLQOuaxTXbj5iNG.com
Senin, 12 Januari 2015 - 09:44
rodjer - gabahey25q@gmail.com
phYfoj http://www.FyLitCl7Pf7kjQdDUOLQOuaxTXbj5iNG.com
Senin, 12 Januari 2015 - 09:43
rodjer - gabahey25q@gmail.com
kEwZO3 http://www.FyLitCl7Pf7kjQdDUOLQOuaxTXbj5iNG.com
Minggu, 11 Januari 2015 - 23:42
sally - darel233455@gmail.com
5utEr2 http://www.FyLitCl7Pf7kjQdDUOLQOuaxTXbj5iNG.com
Minggu, 11 Januari 2015 - 17:39
varlog - varlog255q@hotmail.com
yHkDJt http://www.FyLitCl7Pf7kjQdDUOLQOuaxTXbj5iNG.com
Minggu, 11 Januari 2015 - 17:37
hoking - hoking1d7k@gmail.com
lgJQoI http://www.FyLitCl7Pf7kjQdDUOLQOuaxTXbj5iNG.com
Minggu, 11 Januari 2015 - 07:08
hoking - hoking1d7k@gmail.com
36ES2E http://www.FyLitCl7Pf7kjQdDUOLQOuaxTXbj5iNG.com
Minggu, 11 Januari 2015 - 06:00
hoking - hoking1d7k@gmail.com
OD77og http://www.FyLitCl7Pf7kjQdDUOLQOuaxTXbj5iNG.com
Sabtu, 10 Januari 2015 - 18:26
Pharmc975 - johnc360@aol.com
Very nice site!
Sabtu, 10 Januari 2015 - 18:22
Pharmb683 - johnb228@aol.com
Very nice site! cheap goods http://apeoixy2.com/tqsaav/4.html
Sabtu, 10 Januari 2015 - 09:34
varlog - varlog255q@hotmail.com
L5SwrI http://www.FyLitCl7Pf7kjQdDUOLQOuaxTXbj5iNG.com
Sabtu, 10 Januari 2015 - 05:34
zork - zork2j3he@gmail.com
cicmoe http://www.FyLitCl7Pf7kjQdDUOLQOuaxTXbj5iNG.com
Sabtu, 10 Januari 2015 - 05:26
sally - darel233455@gmail.com
QLhJll http://www.FyLitCl7Pf7kjQdDUOLQOuaxTXbj5iNG.com
Sabtu, 10 Januari 2015 - 05:26
sally - darel233455@gmail.com
YB1iFY http://www.FyLitCl7Pf7kjQdDUOLQOuaxTXbj5iNG.com
Sabtu, 10 Januari 2015 - 05:25
sally - darel233455@gmail.com
t2PG13 http://www.FyLitCl7Pf7kjQdDUOLQOuaxTXbj5iNG.com
Sabtu, 10 Januari 2015 - 05:25
sally - darel233455@gmail.com
iqykMq http://www.FyLitCl7Pf7kjQdDUOLQOuaxTXbj5iNG.com
Sabtu, 10 Januari 2015 - 00:29
Johnk418 - johnk551@gmail.com
Appreciate it for helping out, great information. ecdgbbakfkkk
Jum'at, 09 Januari 2015 - 15:30
zork - zork2j3he@gmail.com
WbI4Zh http://www.FyLitCl7Pf7kjQdDUOLQOuaxTXbj5iNG.com
Jum'at, 09 Januari 2015 - 15:26
klark - klark2d4@gmail.com
24gJlP http://www.FyLitCl7Pf7kjQdDUOLQOuaxTXbj5iNG.com
Jum'at, 09 Januari 2015 - 13:45
darel - darel233455@gmail.com
6rlvkY http://www.FyLitCl7Pf7kjQdDUOLQOuaxTXbj5iNG.com
Jum'at, 09 Januari 2015 - 11:28
klark - klark2d4@gmail.com
5pVm48 http://www.FyLitCl7Pf7kjQdDUOLQOuaxTXbj5iNG.com
Jum'at, 09 Januari 2015 - 11:21
zork - zork2j3he@gmail.com
bU9CHI http://www.FyLitCl7Pf7kjQdDUOLQOuaxTXbj5iNG.com
Jum'at, 09 Januari 2015 - 07:00
klark - klark2d4@gmail.com
1m4dnz http://www.FyLitCl7Pf7kjQdDUOLQOuaxTXbj5iNG.com
Kamis, 08 Januari 2015 - 23:16
klark - klark2d4@gmail.com
uTOmYy http://www.FyLitCl7Pf7kjQdDUOLQOuaxTXbj5iNG.com
Kamis, 08 Januari 2015 - 23:06
klark - klark2d4@gmail.com
CJO5Hr http://www.FyLitCl7Pf7kjQdDUOLQOuaxTXbj5iNG.com
Kamis, 08 Januari 2015 - 23:03
darel - darel233455@gmail.com
MrjsLc http://www.FyLitCl7Pf7kjQdDUOLQOuaxTXbj5iNG.com
Kamis, 08 Januari 2015 - 23:00
klark - klark2d4@gmail.com
CSHAEY http://www.FyLitCl7Pf7kjQdDUOLQOuaxTXbj5iNG.com
Kamis, 08 Januari 2015 - 20:47
klark - klark2d4@gmail.com
252AFN http://www.FyLitCl7Pf7kjQdDUOLQOuaxTXbj5iNG.com
Kamis, 08 Januari 2015 - 20:34
darel - klark2d4@gmail.com
kdIznL http://www.FyLitCl7Pf7kjQdDUOLQOuaxTXbj5iNG.com
Kamis, 08 Januari 2015 - 19:57
zork - zork2j3he@gmail.com
Tnrk6G http://www.FyLitCl7Pf7kjQdDUOLQOuaxTXbj5iNG.com
Kamis, 08 Januari 2015 - 17:45
marcus - marcus234@hotmail.com
JdpLSM http://www.FyLitCl7Pf7kjQdDUOLQOuaxTXbj5iNG.com
Kamis, 08 Januari 2015 - 17:43
klark - klark2d4@gmail.com
QTbeJv http://www.FyLitCl7Pf7kjQdDUOLQOuaxTXbj5iNG.com
Kamis, 08 Januari 2015 - 17:42
klark - klark2d4@gmail.com
RBSu57 http://www.FyLitCl7Pf7kjQdDUOLQOuaxTXbj5iNG.com
Kamis, 08 Januari 2015 - 14:37
darel - darel233455@gmail.com
3Ygw5u http://www.FyLitCl7Pf7kjQdDUOLQOuaxTXbj5iNG.com
Kamis, 08 Januari 2015 - 10:08
darel - klark2d4@gmail.com
wkyaoj http://www.FyLitCl7Pf7kjQdDUOLQOuaxTXbj5iNG.com
Kamis, 08 Januari 2015 - 09:49
klark - klark2d4@gmail.com
JD3ILu http://www.FyLitCl7Pf7kjQdDUOLQOuaxTXbj5iNG.com
Kamis, 08 Januari 2015 - 06:57
darel - darel233455@gmail.com
Wbb2jn http://www.FyLitCl7Pf7kjQdDUOLQOuaxTXbj5iNG.com
Kamis, 08 Januari 2015 - 06:10
chaba - darel233455@gmail.com
kLZDhZ http://www.FyLitCl7Pf7kjQdDUOLQOuaxTXbj5iNG.com
Kamis, 08 Januari 2015 - 04:40
darel - darel233455@gmail.com
MVKsFY http://www.FyLitCl7Pf7kjQdDUOLQOuaxTXbj5iNG.com
Rabu, 07 Januari 2015 - 15:30
zork - zork2j3he@gmail.com
YgvQQB http://www.FyLitCl7Pf7kjQdDUOLQOuaxTXbj5iNG.com
Rabu, 07 Januari 2015 - 13:36
zork - zork2j3he@gmail.com
AY8Eyx http://www.FyLitCl7Pf7kjQdDUOLQOuaxTXbj5iNG.com
Rabu, 07 Januari 2015 - 06:34
darel - darel233455@gmail.com
yZVS4V http://www.FyLitCl7Pf7kjQdDUOLQOuaxTXbj5iNG.com
Rabu, 07 Januari 2015 - 06:19
darel - darel233455@gmail.com
zuFqnp http://www.FyLitCl7Pf7kjQdDUOLQOuaxTXbj5iNG.com
Rabu, 07 Januari 2015 - 04:58
darel - darel233455@gmail.com
Z9QBSv http://www.FyLitCl7Pf7kjQdDUOLQOuaxTXbj5iNG.com
Selasa, 06 Januari 2015 - 07:33
gordon - john@hotmail.com
JE3QI3 http://www.QS3PE5ZGdxC9IoVKTAPT2DBYpPkMKqfz.com
Selasa, 06 Januari 2015 - 05:16
gordon - john@hotmail.com
CPtDrB http://www.QS3PE5ZGdxC9IoVKTAPT2DBYpPkMKqfz.com
Selasa, 06 Januari 2015 - 04:52
sammy - barny182@hotmail.com
lLBKtM http://www.QS3PE5ZGdxC9IoVKTAPT2DBYpPkMKqfz.com
Selasa, 06 Januari 2015 - 02:22
sammy - barny182@hotmail.com
jqnLIx http://www.QS3PE5ZGdxC9IoVKTAPT2DBYpPkMKqfz.com
Selasa, 06 Januari 2015 - 01:48
gordon - john@hotmail.com
coo5lE http://www.QS3PE5ZGdxC9IoVKTAPT2DBYpPkMKqfz.com
Selasa, 06 Januari 2015 - 01:08
gordon - john@hotmail.com
b7sh4i http://www.QS3PE5ZGdxC9IoVKTAPT2DBYpPkMKqfz.com
Senin, 05 Januari 2015 - 20:22
gordon - john@hotmail.com
xVHNT6 http://www.QS3PE5ZGdxC9IoVKTAPT2DBYpPkMKqfz.com
Senin, 05 Januari 2015 - 20:07
sammy - barny182@hotmail.com
ZA4Scd http://www.QS3PE5ZGdxC9IoVKTAPT2DBYpPkMKqfz.com
Senin, 05 Januari 2015 - 14:07
sammy - barny182@hotmail.com
Rn1bQq http://www.QS3PE5ZGdxC9IoVKTAPT2DBYpPkMKqfz.com
Minggu, 04 Januari 2015 - 08:31
horny - barny182@hotmail.com
e3MrsP http://www.QS3PE5ZGdxC9IoVKTAPT2DBYpPkMKqfz.com
Minggu, 04 Januari 2015 - 07:08
horny - barny182@hotmail.com
83Pi9h http://www.QS3PE5ZGdxC9IoVKTAPT2DBYpPkMKqfz.com
Jum'at, 02 Januari 2015 - 18:55
john - barny182@hotmail.com
7PhjDh http://www.QS3PE5ZGdxC9IoVKTAPT2DBYpPkMKqfz.com
Jum'at, 02 Januari 2015 - 18:55
john - barny182@hotmail.com
Vd4VDc http://www.QS3PE5ZGdxC9IoVKTAPT2DBYpPkMKqfz.com
Jum'at, 02 Januari 2015 - 18:50
john - barny182@hotmail.com
4ruuNt http://www.QS3PE5ZGdxC9IoVKTAPT2DBYpPkMKqfz.com
Jum'at, 02 Januari 2015 - 18:37
john - barny182@hotmail.com
1Kngc8 http://www.QS3PE5ZGdxC9IoVKTAPT2DBYpPkMKqfz.com
Jum'at, 02 Januari 2015 - 18:37
john - barny182@hotmail.com
oYIkF4 http://www.QS3PE5ZGdxC9IoVKTAPT2DBYpPkMKqfz.com
Jum'at, 02 Januari 2015 - 18:36
john - barny182@hotmail.com
sSTz4P http://www.QS3PE5ZGdxC9IoVKTAPT2DBYpPkMKqfz.com
Jum'at, 02 Januari 2015 - 18:32
john - barny182@hotmail.com
nJ1Agn http://www.QS3PE5ZGdxC9IoVKTAPT2DBYpPkMKqfz.com
Jum'at, 02 Januari 2015 - 13:13
john - barny182@hotmail.com
xe5Vys http://www.QS3PE5ZGdxC9IoVKTAPT2DBYpPkMKqfz.com
Jum'at, 02 Januari 2015 - 12:11
john - barny182@hotmail.com
6bK9q5 http://www.QS3PE5ZGdxC9IoVKTAPT2DBYpPkMKqfz.com
Jum'at, 02 Januari 2015 - 12:03
john - barny182@hotmail.com
dIzsnc http://www.QS3PE5ZGdxC9IoVKTAPT2DBYpPkMKqfz.com
Jum'at, 02 Januari 2015 - 11:39
john - barny182@hotmail.com
HbZ0ka http://www.QS3PE5ZGdxC9IoVKTAPT2DBYpPkMKqfz.com
Jum'at, 02 Januari 2015 - 11:38
john - barny182@hotmail.com
JecjLE http://www.QS3PE5ZGdxC9IoVKTAPT2DBYpPkMKqfz.com
Jum'at, 02 Januari 2015 - 11:36
john - barny182@hotmail.com
gPI0Yl http://www.QS3PE5ZGdxC9IoVKTAPT2DBYpPkMKqfz.com
Jum'at, 02 Januari 2015 - 10:52
john - barny182@hotmail.com
eGT4vD http://www.QS3PE5ZGdxC9IoVKTAPT2DBYpPkMKqfz.com
Jum'at, 02 Januari 2015 - 07:19
john - barny182@hotmail.com
UAdrRL http://www.QS3PE5ZGdxC9IoVKTAPT2DBYpPkMKqfz.com
Jum'at, 02 Januari 2015 - 07:12
john - barny182@hotmail.com
gv1YhF http://www.QS3PE5ZGdxC9IoVKTAPT2DBYpPkMKqfz.com
Jum'at, 02 Januari 2015 - 06:29
john - barny182@hotmail.com
ig5D8h http://www.QS3PE5ZGdxC9IoVKTAPT2DBYpPkMKqfz.com
Jum'at, 02 Januari 2015 - 06:28
john - barny182@hotmail.com
BuQqt6 http://www.QS3PE5ZGdxC9IoVKTAPT2DBYpPkMKqfz.com
Jum'at, 02 Januari 2015 - 06:24
john - barny182@hotmail.com
6tXzIH http://www.QS3PE5ZGdxC9IoVKTAPT2DBYpPkMKqfz.com
Jum'at, 02 Januari 2015 - 05:35
john - barny182@hotmail.com
NwibVI http://www.QS3PE5ZGdxC9IoVKTAPT2DBYpPkMKqfz.com
Jum'at, 02 Januari 2015 - 05:34
john - barny182@hotmail.com
WPIH6x http://www.QS3PE5ZGdxC9IoVKTAPT2DBYpPkMKqfz.com
Jum'at, 02 Januari 2015 - 04:02
john - barny182@hotmail.com
xmSzGM http://www.QS3PE5ZGdxC9IoVKTAPT2DBYpPkMKqfz.com
Kamis, 01 Januari 2015 - 23:05
john - barny182@hotmail.com
DhbBMd http://www.QS3PE5ZGdxC9IoVKTAPT2DBYpPkMKqfz.com
Kamis, 01 Januari 2015 - 23:05
john - barny182@hotmail.com
OgjQtz http://www.QS3PE5ZGdxC9IoVKTAPT2DBYpPkMKqfz.com
Kamis, 01 Januari 2015 - 23:05
john - barny182@hotmail.com
N0hpJn http://www.QS3PE5ZGdxC9IoVKTAPT2DBYpPkMKqfz.com
Kamis, 01 Januari 2015 - 23:05
john - barny182@hotmail.com
OkFgDl http://www.QS3PE5ZGdxC9IoVKTAPT2DBYpPkMKqfz.com
Kamis, 01 Januari 2015 - 23:04
john - barny182@hotmail.com
5i88Bb http://www.QS3PE5ZGdxC9IoVKTAPT2DBYpPkMKqfz.com
Kamis, 01 Januari 2015 - 23:04
john - barny182@hotmail.com
KFzgfL http://www.QS3PE5ZGdxC9IoVKTAPT2DBYpPkMKqfz.com
Kamis, 01 Januari 2015 - 23:03
john - barny182@hotmail.com
cLjAus http://www.QS3PE5ZGdxC9IoVKTAPT2DBYpPkMKqfz.com
Kamis, 01 Januari 2015 - 23:02
john - barny182@hotmail.com
seOUOp http://www.QS3PE5ZGdxC9IoVKTAPT2DBYpPkMKqfz.com
Kamis, 01 Januari 2015 - 23:02
john - barny182@hotmail.com
iFFxZ4 http://www.QS3PE5ZGdxC9IoVKTAPT2DBYpPkMKqfz.com
Kamis, 01 Januari 2015 - 23:02
john - barny182@hotmail.com
TK9UeB http://www.QS3PE5ZGdxC9IoVKTAPT2DBYpPkMKqfz.com
Kamis, 01 Januari 2015 - 23:01
john - barny182@hotmail.com
Ip1Xx9 http://www.QS3PE5ZGdxC9IoVKTAPT2DBYpPkMKqfz.com
Hlm. | 1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | Next | Last |
14-01-2015 s/d 11-02-2015
ARTGANIC, Pameran tunggal oleh Riski Januar
di ViaVia Café & Alternative Art Space, Jl. Prawirotaman 30 Yogyakarta
10-01-2015 s/d 15-01-2015
Pameran Tunggal Seni Rupa 'Jelang 10 tahun: Bintang Tanatimur"
di Rumah Seni Sidoarum, Jl. Garuda no. 563, Krapyak RT07 RW18, Sidoarum, Godean, Sleman, Yogyakarta
10-01-2015
PELUNCURAN NOVEL “STRAW” NOORCA MASSARDI & “LANGIT TERBUKA” RAYNI MASSARDI
di Bentara Budaya Bali, Jl. Prof. Dr. Ida Bagus Mantra 88A, Gianyar, Bali
09-01-2015
Resital Vokal Nisfulail Dwi: "Smaradhana"
di Tembi Rumah Budaya, Jl. Parangtritis Km 8.4 Tembi, Timbulharjo, Sewon, Bantul
29-12-2014
RAUNG JAGAT
di Kedai Kebun Forum Jl. Tirtodipuran No. 3, Kota Yogyakarta
28-12-2014 s/d 28-01-2015
Pameran "JAGA JAGAT"
di Shankara Art Space Jl. Danau Toba #7, Pantai Sanur, Bali
27-12-2014
Art Exhibition "Art Introspection"
di Pawon Art Space, Jln. Candi Pawon no. 18, Brojonalan, Wanurejo, Borobudur, Magelangan
26-12-2014
Orasi Budaya dan Pameran Arsip Jeprut
di Galeri Soemardja FSRD-ITB Jl. Ganesha 10 Bandung
15-12-2014 s/d 10-01-2015
Pameran Tunggal Angga Yuniar Santosa: “Holes Arround Me”
di Tembi Rumah Budaya Yogyakarta, Jl. Parangtritis Km 8.4 Tembi, Timbulharjo, Sewon. Bantul
13-12-2014
Seni Masa Kini: Catatan tentang “Kontemporer” oleh Mitha Budhyarto
di Langgeng Art Foundation jl. Suryodiningratan no 37 Yogyakarta
read more »
Selasa, 13-01-2015
Hidup Sebagai Cahaya
oleh Arahmaiani
Senin, 22-12-2014
Karya Kerja Memaksimalkan Panca Indera
oleh Oleh Palupi. S, M.A
Rabu, 03-12-2014
Upaya Menemu Kebaruan
oleh Kuss Indarto
Kamis, 06-11-2014
Street Art di Yogyakarta, sebagai Karya Kreatif dan Politis
oleh Oleh Michelle Mansfield dan Gregorius Ragil Wibawanto
Senin, 13-10-2014
Menguji Kembali(nya) Faizal
oleh Oleh Kuss Indarto
read more »
Merajakan Nalar di Tengah Kepungan Hedonisme
oleh Christian Heru Cahyo Saputro
Buku bertajuk: Acropolis (Kerajaan Nalar) yang merupakan kumpulan kolom karya wartawan SKH Lampung Post Heri Wardoyo (HRW) hadir meramaikan pasar wacana. Buku yang berisi kolom-kolom Heri Wardoyo ini pernah dimuat di rubrik ‘Nuansa’ Lampung Post bertitimangsa tahun...
Fantasi Balzac tentang Pulau Jawa
oleh Sigit Susanto
Merajut Masa Depan Bocah Merapi
oleh T. Nugroho Angkasa S.Pd.
Novel Kasongan, Seliat Tanah Liat
oleh R. Toto Sugiharto
read more »
LOMBA PENULISAN JURNALISTIK
Lomba Foto “Air dan Sanitasi untuk Kehidupan yang Lebih Baik”
6th Beijing International Art Biennale 2015
Sayembara Cipta Kreasi Motif Batik Seragam Dinas Harian RSUP Dr Kariadi 2014
Lomba Desain Sepatu Tingkat Nasional 2014
LOMBA DESAIN MURAL GALERI NASIONAL INDONESIA 2014
LOMBA CIPTA SENI BATIK NUSANTARA 2014
The 4th Bangkok Triennale International: Print and Drawing
Iver Jåks Artist-In-Residency Program 2014
UNDANGAN Pameran Seni Rupa Karya Guru Seni Budaya “GURU SENI BERLARI” - GALERI NASIONAL INDONESIA
read more »
10/01/2015 12:25 | Mr Johnson mark | halo juga, Apakah Anda membutuhkan pinjaman yang sah sebesar 3%? pribadi atau bisnis kredit jika ya, kembali ke kami di; Johnsonloanfirm02@live.com untuk info lebih lanjut.   PINJAMAN FORMULIR PENDAFTARAN MENGISI DAN RETURN nama === Jumlah yang dibutuhkan: === Durasi: == negara === Tujuannya: === seks ==== Ponsel Nomor: == pendapatan bulanan === pekerjaan ===== Dilaksanakan sebelum ya / tidak: i menunggu tanggap darurat .... Mr Johnson mark
10/01/2015 12:25 | Mr Johnson mark | halo juga, Apakah Anda membutuhkan pinjaman yang sah sebesar 3%? pribadi atau bisnis kredit jika ya, kembali ke kami di; Johnsonloanfirm02@live.com untuk info lebih lanjut.   PINJAMAN FORMULIR PENDAFTARAN MENGISI DAN RETURN nama === Jumlah yang dibutuhkan: === Durasi: == negara === Tujuannya: === seks ==== Ponsel Nomor: == pendapatan bulanan === pekerjaan ===== Dilaksanakan sebelum ya / tidak: i menunggu tanggap darurat .... Mr Johnson mark
10/01/2015 12:25 | Mr Johnson mark | halo juga, Apakah Anda membutuhkan pinjaman yang sah sebesar 3%? pribadi atau bisnis kredit jika ya, kembali ke kami di; Johnsonloanfirm02@live.com untuk info lebih lanjut.   PINJAMAN FORMULIR PENDAFTARAN MENGISI DAN RETURN nama === Jumlah yang dibutuhkan: === Durasi: == negara === Tujuannya: === seks ==== Ponsel Nomor: == pendapatan bulanan === pekerjaan ===== Dilaksanakan sebelum ya / tidak: i menunggu tanggap darurat .... Mr Johnson mark
10/01/2015 12:25 | Mr Johnson mark | halo juga, Apakah Anda membutuhkan pinjaman yang sah sebesar 3%? pribadi atau bisnis kredit jika ya, kembali ke kami di; Johnsonloanfirm02@live.com untuk info lebih lanjut.   PINJAMAN FORMULIR PENDAFTARAN MENGISI DAN RETURN nama === Jumlah yang dibutuhkan: === Durasi: == negara === Tujuannya: === seks ==== Ponsel Nomor: == pendapatan bulanan === pekerjaan ===== Dilaksanakan sebelum ya / tidak: i menunggu tanggap darurat .... Mr Johnson mark
22/10/2014 14:34 | alfa poetra | salam semangart para karya indonesia. infonya untuk event or apapun itu tentang lukisan,.
read more »
About Us
Indonesia Art News merupakan media tentang dinamika seni yang berkait dengan aspek keindonesiaan. Media ini berusaha untuk mengedepankan segi informasi ihwal seni yang dikemas dengan cara pandang kritis dan muatan yang investigative. Indonesia Art News berkedudukan di Yogyakarta, Indonesia
Gabung di Facebook
Buku Tamu
Pengelola IAN
Editor in chief:Kuss Indarto
Editor:R. Toto Sugiarto
Designer:Andika Indrayana
Email - info@indonesiaartnews.or.id